Anda di halaman 1dari 6

Skenario 2 : Mendadak Lumpuh Seorang laki-laki 50 tahun datang ke IGD dengan digendong keluarganya karena kaki dan tangan

mendadak lumpuh. Dia mengeluhkan kaki dan tangan tiba-tiba tidak bisa digerakkan sama sekali, sehabis bangun tidur. Dari hasil pemeriksaan fisik, mulut penderita merot ke kiri, bicara pelo, kekuatan tangan dan kaki kanan = 1/1, kiri = 5/5. Refleks fisiologis tangan dan kaki (+). Reflek patologis Babinsky (+). Kesadaran baik, tekanan darah 140/90. Beberapa hari sebelumnya, penderita sering susah tidur dan sering melamun. STEP 1 Lumpuh : gangguan fungsi motorik karena adanya lesi pada susunan saraf pusat maupun pada susunan saraf tepi Refleks fisiologis : refleks normal dari anggota tubuh ketika menerima rangsangan Refleks patologis : refleks yang terjadi pada anggota tubuh dengan gangguan pada sistem sarafnya Bicara pelo Mulut merot : gangguan artikulasi yang terjadi karena gangguan pada N. XII (Hipoglossus) : terjadi kelumpuhan pada salah satu bagian wajah sehingga bagian lainnya tertarik ke yang tidak lumpuh, terjadi karena adanya gangguan pada N. VII (Fascialis) Refleks Babinsky : refleks patologis yang di periksa dengan penggoresan telapak kaki bagian lateral penderita, (+) jika didapatkan ibu jari dorsofleksi dan ekstensi dari jari-jari yang lainnya STEP 2 1. Mengapa kaki dan tangan pasien mendadak lumpuh saat bangun tidur? 2. Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik pasien? 3. Mengapa pasien sering susah tidur dan melamun? 4. Apa hubungan usia lanjut dan tekanan darah 140/90 dengan keluhan pasien?

STEP 3 1. Kaki dan tangan pasien mendadak lumpuh saat bangun tidur Kelumpuhan mendadak dapat disebabkan oleh: a. Adanya lesi pada Susunan Saraf Pusat (SSP) : Upper Motor Neuron (UMN) Letak di otak sampai medulla spinalis. Impuls dimulai dari dalam korteks di otak turun melalui kapsula internal menyilang ke sisi berlawanan di dalam batang otak turun melalui traktus kortikospinal berakhir di LMN (medulla spinalis) Macam penyakitnya seperti stroke, trauma kepala, tumor intrakranial, dll

b. Adanya lesi pada Susunan Saraf Tepi : Lower Motor Neuron (LMN) Letak di medulla spinalis sampai otot. LMN menerima impuls di bagian ujung saraf posterior berjalan ke mioneural junction berakhir di otot Macam penyakitnya seperti polio, mielitis transversa, Gullian Bare Syndrome (GBS), miastenia gravis, dll Perbedaan ciri klinis: UMN Sifat spastic (kaku) Tonus otot Atrofi otot (-) Refleks fisiologis atau (+) Refleks patologis (+) LMN Sifat flaccid (lemah) Tonus otot Atrofi otot (+) Refleks fisiologis atau (-) Refleks patologis (-)

Mekanisme lumpuh: Rangkaian sel saraf berjalan dari otak batang otak otot motor pathway. Jika terjadi kerusakan/lesi pada salah satu ujung sel saraf terjadi penurunan kemampuan otak untuk mengontrol pergerakan otot paresis (hilangnya kontraktilitas otot yang tidak total) dapat berkembang menjadi paralisis (hilangnya kontraktilitas otot secara total) 2. Interpretasi pemeriksaan fisik Mulut merot ke kiri

Mulut merot terjadi lesi pada susunan saraf pusat (SSP) yang terjadi ipsilateral terjadi gangguan pada nervus kranialis terutama N. VII (Fascialis) Bicara pelo Bicara pelo terjadi gangguan pada susunan saraf pusat (SSP) yang mengontrol aktivitas otot-otot yang berperan dalam proses artikulasi terjadi gangguan pada nervus kranialis terutama N. XII (Hipoglossus) Kekuatan otot Pemeriksaan dilakukan dengan pasien diminta menahan tekanan yang diberikan pemeriksa. Penilaiannya: 5 : kekuatan penuh 4 : dapat melawan gravitasi dan tahanan ringan 3 : dapat melawan gravitasi namun tidak dapat melawan tahanan ringan 2 : tidak dapat melawan gravitasi, hanya dapat menggerakkan ke kanan/kiri 1 : tidak bisa digerakkan, hanya bisa berkontraksi otot saja 0 : tidak bisa berkontraksi sekalipun Pada kasus didapatkan kekuatan tangan dan kaki kanan 1/1 dan kiri 5/5 menunjukkan bahwa terjadi kelumpuhan hanya di sisi kanan hemiparesis Refleks fisiologis (+) dan refleks patologis Babinsky (+) Merupakan ciri klinis yang terjadi apabila terjadi kerusakan/lesi di susunan saraf pusat (SSP) / UMN Kesadaran baik Menunjukkan tidak adanya gangguan pada pusat kesadaran, kondisi ini sering ditemukan pada stroke non-hemoragik Terjadi pada saat bangun tidur Kelumpuhan saat bangun tidur berarti kelumpuhan terjadi saat fase istirahat, sering ditemukan pada stroke non-hemoragik. Sedangkan kelumpuhan saat aktivitas sering ditemukan pada stroke hemoragik 3. Pasien sering susah tidur dan melamun Keadaan susah memulai tidur dan sering melamun menunjukan gangguan anxietas sedangkan sering terbangun saaat tidur menunjukan gangguan depresi.

Susah tidur sering disebut insomnia. Faktor yang mempengaruhi, yaitu: a. Faktor psikologis b. Faktor medis c. Faktor lingkungan Mekanisme: Gangguan pola tidur diatur oleh sistem ARAS (Ascending Reticulary Activity System) Kerja sistem ARAS meningkat ketika seseorang sedang terjaga/dalam keadaan bangun, sedangkan kerja sistem ARAS menurun ketika seseorang tidur. Sistem ARAS dipengaruhi oleh aktivitas neurotransmittter kerja sistem neurotrasmitter diatur oleh kelenjar pituitari anterior melalui hipotalamus. Kekacauan sekresi kelenjar pituitari terjadi gangguan pengaturan mekanisme tidur insomnia 4. Hubungan usia lanjut dan tekanan darah 140/90 dengan keluhan pasien Usia lanjut Pada usia lanjut, terutama usia >45 tahun, terjadi penurunan fungsi dan kerja dari organ-organ tubuh beserta komponen-komponennya. Pembuluh darah merupakan komponen penting. Pada usia lanjut, elastisitas pembuluh darah/vaskuler menjadi berkurang sehingga pembuluh darah menjadi kaku terjadi atherosklerosis Tekanan darah 140/90

Menurut klasifikasi hipertensi diatas, pasien menderita Hipertensi Tahap 1 yaitu dengan tekanan sistole 140 mmHg dan tekanan diastole 90 mmHg. Hipertensi

berhubungan dengan gangguan pembuluh darah/vaskuler, semakin tinggi hipertensi maka semakin terjadi penyempitan pembuluh darah yang signifikan.

STEP 4 GANGGUAN UMN CIRI KLINIS Sifat spastic (kaku) Tonus otot Atrofi otot (-) Refleks fisiologis (+)/ Refleks patologis (+)
PADA KASUS Mulut merot ke kiri Bicara pelo

LUMPUH MENDADAK
PEMERIKSAAN FISIK

GANGGUAN LMN CIRI KLINIS Sifat flaccid (lemah) Tonus otot Atrofi otot (+) Refleks fisiologis (-)/ Refleks patologis (-)

DD Stroke Trauma Kepala Tumor Intrakranial

DD Polio Gullian Bare Syndrome (GBS) Miastenia Gravis

PEMERIKSAAN PENUNJANG

DIAGNOSIS KERJA Stroke Non-Hemoragik

PENATALAKSANAAN

PENGOBATAN

EDUKASI

PENCEGAHAN

STEP 5 1. DD: Stroke hemoragik Stroke non-hemoragik 2. Pemeriksaan refleks fisiologis dan refleks patologis

STEP 7