Anda di halaman 1dari 4

Program Mobil Rp 80 Jutaan, Regulasi Pemerintah Belum Final?

OTOMOTIFNET - Munculnya ide serta konsep dari pemerintah untuk membuat mobil murah atau low cost car disambut positif oleh industri otomotif tanah air. Namun teknisnya ternyata tidak mudah, banyak hal yang harus diperbaiki untuk membuat konsep ini bisa berjalan, salah satunya adalah konsistensi pemerintah.
Foto : Dok OTOMOTIFNET.com Dalam membuat dan merancang mobil murah, tidak sedikit pihak yang akan terlibat. Peran pemerintah pun menjadi pusat komando tentang apa saja yang harus ditetapkan.

Beberapa saat lalu, OTOMOTIFNET.com berbincang dengan Johnny Darmawan, Presiden Direktur, PT Toyota Astra Motor (TAM) seputar konsep mobil murah atau program 1 juta kendaraan. Dan TAM merupakan salah satu ATPM yang berminat mengembangkan low cost car. Program pemerintah tentang mobil murah tersebut, saya rasa sudah berada dalam garis yang benar. Tapi pemerintah harus konsisten, termasuk semua pihak yang akan terlibat di dalamnya. Dan bentuk konsistensi itu cukup banyak termasuk masalah insentif, pengawasan hingga regulasi pemasaran nantinya, papar Johnny Darmawan di sela-sela peluncuran New Vios TRD. Soal mobil murah, pemerintah sudah memberikan ketetapan harga yaitu berkisar Rp 80 juta. Tapi karena regulasi lengkap dari pemerintah belum final, maka ATPM masih kesulitan memperkirakan fitur dan teknologi apa yang kelak akan disematkan pada mobil murah tersebut.
http://mobil.otomotifnet.com/read/0000/00/00/10025/12/2/Program-Mobil-Rp-80-JutaanRegulasi-Pemerintah-Belum-Final

Peluncuran Program Mobil Murah Undang Perdebatan


Senin, 23/09/2013 - 13:55

JAKARTA, (PRLM).- Debat terus berlanjut terkait rencana pemerintah meluncurkan program mobil murah sekitar Rp 90 juta satu unit dan ramah lingkungan atau low cost green car. Rencana ini menurut pemerintah pusat, terutama Kementerian Perindustrian, merupakan strategi untuk memperkuat industri otomotif dalam negeri. Namun rencana tersebut ditentang oleh sejumlah kepala daerah, di antaranya Gubernur Jakarta Joko Widodo, atau Jokowi dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, yang menilai kebijakan mobil murah hanya akan menambah kemacetan. Jokowi mengatakan baru-baru ini bahwa yang seharusnya dilakukan saat ini adalah memperbaiki transportasi massal, karena masyarakat membutuhkan transportasi yang nyaman, aman dan murah. Sekarang ini, tambah Jokowi, pihaknya sedang berupaya mengatasi kemacetan di Jakarta, salah satunya dengan mendatangkan 1.000 bus baru ke ibukota pada November ini.

Jokowi mengatakan telah mengirim surat kepada Wakil Presiden Boediono perihal penolakannya itu. Ia menambahkan kebijakan pemerintah mengeluarkan izin mobil murah tidak sesuai dengan semangat pemeritah menyediakan transportasi massal seperti kereta bawah tanah, monorel, dan menambah unit bus Trans Jakarta. Karena kita dikejar untuk menyiapkan fasilitas infrastruktur, selesai ini, selesai itu tapi kemudian datang mobil murah, ujarnya. Sekali lagi mobil murah itu nggak bener. Yang bener itu transportasi yang murah, sudah. Lihat saja pelaksanaaNnya, siapa yang paling banyak beli, di Jabodetabek atau di tempattempat lain, ujarnya. Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Sambodo Purnomo Yogo mengungkapkan pertumbuhan kendaraan di jalanan Jakarta setiap tahunnya bertambah hampir 11,3 persen, sementara perkembangan ruas jalan hanya 0,01 persen per tahun. Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan mengatakan program mobil murah yang dikeluarkan pemerintah justru berpotensi menambah masalah baru bagi transportasi di Indonesia. Azas menambahkan, pernyataan pemerintah yang menyebutkan tidak boleh menghalangi masyarakat untuk memiliki mobil, juga dinilai sebagai pernyataan yang menyesatkan bagi masyarakat. Menurutnya, kebijakan mobil murah juga kontraproduktif dengan upaya mengajak masyarakat menggunakan moda transportasi massal. Ini tidak sesuai dengan kebutuhan keadaan terutama kalau dikaitkan dengan kebutuhan kota Jakarta saat ini, bukan mobil murah yang dibutuhkan tetapi seharusnya yang dibuat pemerintah bus murah, ujarnya. Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS. Hidayat mengatakan, pemerintah akan mengizinkan distribusi mobil murah ke berbagai wilayah di Indonesia sehingga ia tidak setuju jika keberadaan mobil murah dinilai akan membuat lalu lintas kota Jakarta bertambah padat. Nggak terkonsentrasi di suatu kota tertentu atau provinsi tertentu. Nanti dengan produsennya kita ajak bicara, kalau dari 33 provinsi katakanlah 10 kota ada traffic jam, sekian provinsi yang lain kan tidak, ujarnya. Sementara itu, Dirjen Industri Unggulan berbasis teknologi tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi justru menilai dengan adanya produsen mobil murah di Indonesia akan mendukung industri komponen lokal yang juga dapat membantu produsen lokal. Kita persyaratkan semuanya harus memakai komponen dalam negeri sehingga pada intinya membangun sebuah industri otomotif tidak bisa dalam semalam. Jika industri komponen kuat maka mobil-mobil merek lain bisa menggunakan itu, ujarnya. Menteri Perhubungan E.E Mangindaan mengatakan sebaiknya mobil murah tidak cepat dijual ke masyarakat sebelum infrastruktur jalan memadai. Pemerintah ditambahkan Menteri Mangindaan, saat ini sedang berupaya membuat jumlah kendaraan dan kebutuhan ruas jalan berimbang dan layak untuk keselamatan. Jangan nanti disalahkan kita terlalu obral. Itu kemajuan teknologi yang bagus karena termasuk yang energinya low green, eco green dan sebagainya, bagus sekali. Tetapi kalau macet terus...jangan sampai terlalu cepat di penjualannya, katanya. Menteri Koordinasi bidang Perekonomian Hatta Rajasa meminta seluruh pihak mendiskusikannya dengan baik dan terbuka. Yang harus diingat menurut Menko, Hatta Rajasa pemerintah akan selalu mengutamakan kepentingan masyarakat. Pak Jokowi memberi masukan itu didengarkan, tentu ada sisi baiknya sebagai gubernur dia capek ngurusin jalan yang macet luar biasa seperti ini. Menteri Perindustrian tidak

hanya berpikir cuma Jakarta, dia berpikir orang Papua juga pengen punya mobil, orang dari Kalimantan juga pengen punya mobil, jalannya ada mobilnya cuma satu-dua yang lewat. Menteri Perindustrian berpikir dari sisi itu, jadi jangan dipertentangkan, semuanya baik, ujarnya.(voa/A-147)***
http://www.pikiran-rakyat.com/node/251928

Jokowi Harus Tetap Memandang Kebijakan Mobil Murah Bukan untuk Jakarta
OPINI | 23 September 2013 | 20:10 Dibaca: 232 Komentar: 10 0 Jokowi kelihatannya harus membuat prinsip; warga Jakarta tidak perlu mobil murah. Karena sebagaimana disampaikan Menteri Perindustrian, program ini konon skalanya nasional yang orientasinya masyarakat menengah ke bawah. Sehingga kemudian atas dasar prinsip ini Jokowi harus menyusun regulasi yang mendorong masyarakat Jakarta tidak punya manfaat apa-apa dengan mobil murah ini. Ini satu prinsip yang harus dipegang oleh Jokowi agar tidak terimbas dengan dampak program nasional soal mobil murah. Aplikasi prinsip ini juga bisa dengan tidak memberi izin penjualan kepada setiap distributor kendaraan ini. Atau bisa saja pengeluaran nomor kendaraan buat mobil murah ini memiliki biaya tinggi dan terbatas. Peraturan tegasnya begitu. Atau bila ingin lebih longgar adalah dengan pengalihan data nomor mobil untuk tahun keluaran tertentu, seperti yang terjadi pada regulasi penggantian angkot. Misalnya untuk membeli mobil murah di Jakarta, harus menutup data mobil tahun 2012 ke bawah. Sehingga lambat laun mobil tahun keluaran lama menghilang dari Jakarta. Apapun idenya, yang pasti ini menunjukkan warga Jakarta atau pemprov Jakarta tidak perlu ikut program mobil murah. Kecuali bila mobil murah ini menukar mobil-mobil tertentu yang kerap menjadi beban Jakarta. Jadi Jokowi harus mengesankan, bahwa berkendaraan di Jakarta itu memang mahal banget. Sekali lagi, ini akan selalu nampak kontradiktif dengan prinsip pengadaan mobil murah. Dari sisi apapun. Terkecuali ada kebijakan yang benar-benar cerdas sampai seorang yang biasa memakai mobil diatas 200 juta mau membeli dan memakai mobil murah ini di jalanan Jakarta. Dan mereka menggunakan mobil murah ini dengan biaya yang teramat tinggi. Otomatis pengguna mobil murah ini, sekali lagi; bukan orang sembarangan lagi. Dengan demikian mobil-mobil yang diatas 200 juta harus hilang dan berganti mobil-mobil murah. Sekali lagi saya ingin menggaris bawahi, bahwa secara prinsip kaidah mobil murah dan penanggulangan kemacetan itu memang tidak akan pernah sinkron, dengan utak-atik seperti apapun. Karena yang satu harus membuat fakta bermobil itu mahal yang satu malah membuat bermobil itu murah. Mana bisa disatukan. Hanya orang yang plintatplintut yang menyebutkan kedua hal itu sinkron. Saya pikir, warga Jakarta harus sadar juga akan itu. Kalau warga Jakarta yang cerdas ini merasa sayang kepada Jokowi sebagai pemimpin inspirasi bangsa ini, seharusnya dengan sadar mengurungkan niat berburu mobil murah ini. Kalau masih ingin sekedar memiliki mobil ini, persiapkan saja untuk digunakan di kota lain di negeri ini. Sesuai dengan kebijakan turunan dari program mobil murah seperti yang disampaikan pemerintah. Jangan untuk menambah beban Jakarta. Buat Jakarta sebenarnya harus dibuatkan program yang jitu dan menarik, bahwa dengan mobil murah ini membuat posisi Jokowi menjadi punya alasan kuat untuk mengurangi dengan signifikan jumlah kendaraan yang ada. Misalnya semua mobil dinas pemerintah,

mobil operasional perusahaan, mobil layanan hotel dan semua mobil layanan di Jakarta hanya boleh pakai mobil murah yang termasuk dalam program pemerintah ini. Itupun tetap dengan biaya tinggi dalam pemakaiannya di jalanan Jakarta. Hmmm Memang sulit kalau kebijakan dasarnya soal menambah dan mengurangi pemakaian kendaraan tidak bisa sinkron antar lapisan pemerintah. Tinggal bagaimana peran serta masyarakat untuk keberhasilan sang Jokowi ini. Sekali lagi, Anda yang merasa warga Jakarta; benar-benar fahami kondisi dilematis Jokowi untuk permasalahan mobil murah dan kemacetan ini. Saatnya menunjukkan kebesaran dan kebersamaan warga dan pemimpinnya dalam memecahkan masalah. Ini tentu akan juga mengganggu kebijakan dasar di beberapa daerah yang mencoba memakai prinsip penurunan penggunaan transportasi individu yang menyedot BBM ini. Seperti program One Day No Car yang dijalankan oleh pemerintah Depok. Termasuk untuk mengurai secara budaya, bahwa berkendaraan pribadi itu harus ditinggalkan. Gunakanlah transportasi umum. Juga bertolak belakang dengan semangat seorang Ridwan Kamil yang sejak pelantikannya menjadi Walikota Bandung langsung menggunakan sepeda untuk pergi ke kantor walikota dan menjalankan tugasnya. Padahal beliau sudah mengajak masyarakat dengan membentuk komunitas bersepeda sejak lama di Bandung. Sampai di kota Bandung ini sudah tersedia beberapa shelter sewaan sepeda yang dibuat dari pengumpulan dana masyarakat. Program mobil murah ini tentu mengganggu ruh pengalihan transportasi pribadi ber BBM kepada sepeda atau transporatsi masal. Dimana di Bandung Raya pun oleh Kang Aher Gubernur Jawa Barat bersama beberapa bupati termasuk walikota Bandung tengah dipersiapkan pembangunan monorel yang menghubungkan kota-kota diseputar kota-kota Bandung. Sehingga ini menjadi program andalan dalam mengkonversi pengguna kendaraan bermotor kepada penggunaan transportasi masal. Terus terang, disaat Ridwan Kamil menggunakan sepeda untuk bertugas sebagai walikota, saya dan beberapa teman sudah mencanangkan untuk kembali menggunakan sepeda untuk ke tempat kerja. Sebelumnya sepeda itupun pernah dipakai untuk ke kantor. Tapi karena jalanan tidak kondusif kebiasaan itu luntur. Apalagi kantor menyediakan kendaraan operasional. Membentuk budaya penggunaan transportasi masal atau sepeda itu terus terang bukan perkara mudah. Ini yang harus menjadi pemahaman semua pihak. Jadi godaan memiliki mobil murah ini secara diametral memang head to head dengan gencarnya perubahan budaya hidup lebih baik dengan transportasi bersama atau bersepeda. Sehingga bisa membuat kota lebih humanis dan nyaman. Humanisme yang tinggi itu terasa, karena dengan transportasi masal dan bersepeda; pola hubungan kemasyarakatan pun bisa lebih baik. Sehingga potensi konflik karena individualisme yang semakin menjadi-jadi akan berkurang. Sungguh bukan suatu kebetulan bila Mang Oded Wakil Walikota Bandung yang dihari pertama sebagai pejabat kota Bandung menggunakan sepeda ke balaikota, sampai sempat menyelamatkan korban tabrakan kendaraan bermotor. Berita lebih lengkap. Sehingga dengan penggunaan moda transportasi yang lebih humanis maka budaya yang lebih santun, kebersamaan dan saling menolong serta menghargai itu akan lebih mudah dihidupkan. Inilah yang akan dengan masiv akan mengembalikan jati diri kita sebagai bangsa yang memiliki kolektivisme yang tinggi, sebagaimana yang Anis Matta sampaikan dalam silaturahmi kebangsaan Partai Golkar.
http://politik.kompasiana.com/2013/09/23/jokowi-harus-tetap-memandang-kebijakan-mobilmurah-bukan-untuk-jakarta-592468.html