Anda di halaman 1dari 32

Suku Banjar Suku Banjar Urang Banjar Suku Banjar Urang Banjar Jumlah populasi Kurang lebih 5 juta

juta (2010) Kawasan dengan populasi yang signifikan Indonesia (sensus 2010) Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Riau Sumatera Utara Jambi Malaysia[2] Bahasa Banjar, Indonesia, dan Melayu Agama Islam[3] Kelompok etnik terdekat Melayu, Kutai, Jawa, Dayak (Bukit, Bakumpai, Ngaju, Maanyan Lawangan) 4.127.124 2.686.627

0,5 - 1 juta

Sketsa seorang pembesar Kerajaan Banjar sekitar tahun 1850 (koleksi Museum Lambung Mangkurat). Suku bangsa Banjar[4] (bahasa Banjar: Urang Banjar / ) atau Oloh Masih[5][6][7] adalah suku bangsa atau etnoreligius Muslim yang menempati sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, dan sejak abad ke-17 mulai menempati sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur terutama kawasan dataran rendah dan bagian hilir dari Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah tersebut.[8][9][10][11] Suku Banjar terkadang juga disebut Melayu Banjar, tetapi penamaan tersebut jarang digunakan.[12]

Suku bangsa Banjar berasal dari daerah Banjar yang merupakan pembauran masyarakat DAS Bahau (koreksi: DAS Bahan/DAS Negara), Das Barito, DAS Martapura dan DAS Tabanio.[13] Sungai Barito bagian hilir merupakan pusatnya suku Banjar. Kemunculan suku Banjar bukan hanya sebagai konsep etnis tetapi juga konsep politis, sosiologis, dan agamis. Sejak abad ke-19, suku Banjar mulai bermigrasi ke banyak tempat di Kepulauan Melayu dan mendirikan kantong-kantong pemukiman di sana. Daftar isi 1 Sejarah 1.1 Banjar Pahuluan 1.2 Banjar Batang Banyu 1.3 Banjar Kuala 1.4 Sosio-historis 2 Suku Banjar di berbagai daerah 2.1 Kalimantan Timur 2.2 Kalimantan Tengah 2.3 Jawa Tengah 2.4 Sulawesi 2.5 Sumatera dan Malaysia 3 Sistem kekerabatan 4 Islam Banjar 5 Bahasa 6 Kebudayaan 6.1 Keterampilan Mengolah Lahan Pasah laahan pasang surutSuru 6.2 Rumah Banjar 6.3 Tradisi lisan 6.4 Teater 6.5 Musik 6.6 Tarian 6.7 Kuliner 6.8 Senjata Tradisional 7 Populasi 8 Tokoh-tokoh Banjar 9 Lihat pula 10 Literatur

11 Referensi 12 Pranala luar Sejarah Mitologi suku Dayak Meratus (Dayak Bukit) menyatakan bahwa Suku Banjar (terutama Banjar Pahuluan) dan Suku Bukit merupakan keturunan dari dua kakak beradik yaitu Si Ayuh (Sandayuhan) yang menurunkan suku Bukit dan Bambang Basiwara yang menurunkan suku Banjar. Dalam khasanah cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Meratus ditemukan legenda yang sifatnya mengakui atau bahkan melegalkan keserumpunan genetika (saling berkerabat secara geneologis) antara orang Banjar dengan orang Dayak Meratus. Dalam cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Meratus dimaksud terungkap bahwa nenek moyang orang Banjar yang bernama Bambang Basiwara adalah adik dari nenek moyang orang Dayak Meratus yang bernama Sandayuhan. Bambang Basiwara digambarkan sebagai adik yang berfisik lemah tapi berotak cerdas. Sedangkan Sandayuhan digambarkan sebagai kakak yang berfisik kuat dan jago berkelahi. Sesuai dengan statusnya sebagai nenekmoyang atau cikal-bakal orang Dayak Maratus, maka nama Sandayuhan sangat populer di kalangan orang Dayak Meratus. Banyak sekali tempat-tempat di seantero pegunungan Meratus yang sejarah keberadaannya diceritakan berasal-usul dari aksi heroik Sandayuhan. Salah satu di antaranya adalah tebing batu berkepala tujuh, yang konon adalah penjelmaan dari Samaliing, setan berkepala tujuh yang berhasil dikalahkannya dalam suatu kontak fisik yang sangat menentukan.[14] Orang Banjar merupakan keturunan Dayak yang telah memeluk Islam kemudian mengadopsi budaya Jawa, Melayu, Bugis dan Cina.[15] Menurut Denys Lombard, pada jaman kuna sebagian besar penduduk Kalimantan Selatan (terutama daerah Batang Banyu) merupakan keturunan pendatang dari Jawa.[16] Pendapat lain menyatakan, suku Banjar jejak akarnya dari Sumatera lebih dari 1500 tahun yang lampau.[17] Djoko Pramono menyatakan bahwa suku Banjar berasal dari suku Orang Laut yang menetap di Kalimantan Selatan.[18] Suku bangsa Banjar diduga berasal mula dari penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan Tanah Banjar (sekarang wilayah provinsi Kalimantan Selatan) sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya,setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala). Banjar Pahuluan pada asasnya adalalah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus. Banjar Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar Kuala mendiami sekitar Banjarmasin dan Martapura. Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu Sumatera atau sekitarnya, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan Jawa. Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu (sebelum kesultanan Banjar dihapuskan pada tahun 1860) adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman (terakhir di Martapura), nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.[19] Sejak abad ke-19, suku Banjar migrasi ke pantai timur Sumatera dan Malaysia, tetapi di Malaysia Barat, suku Banjar digolongkan ke dalam suku Melayu, hanya di Tawau (Sabah, Malaysia Timur) yang masih menyebut diriya suku Banjar. Di Singapura, suku Banjar sudah luluh ke dalam suku Melayu. Sensus tahun 1930, menunjukkan banyaknya suku Banjar di luar Kalsel, tetapi sensus tahun 2000 terlihat jumlahnya mengalami penurunan.[rujukan?] Kesultanan Banjar sebelumnya meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah seperti saat ini, kemudian pada abad ke-16 terpecah di sebelah barat menjadi kerajaan Kotawaringin yang dipimpin Pangeran Dipati Anta Kasuma bin Sultan Mustain Billah dan pada abad ke-17 di sebelah timur menjadi kerajaan Tanah Bumbu yang dipimpin Pangeran Dipati Tuha bin Sultan Saidullah yang berkembang menjadi beberapa daerah: Sabamban, Pegatan, Koensan, Poelau Laoet, Batoe Litjin, Cangtoeng, Bangkalaan, Sampanahan, Manoenggoel, dan Tjingal. Wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur merupakan tanah rantau primer, selanjutnya dengan budaya maadam, orang Banjar merantau hingga ke luar pulau misalnya ke Kepulauan Sulu bahkan menjadi salah satu dari lima etnis yang pembentuk Suku Suluk (percampuran orang Buranun/Dayak Buranun, orang Tagimaha, orang Baklaya, orang Dampuan/Champa dan orang Banjar).[rujukan?] Hubungan antara Banjar dengan Kepulauan Sulu/Banjar Kulan terjalin ketika seorang Puteri dari Raja Banjar menikah dengan

penguasa suku Buranun. Salah satu rombongan suku Suluk yang menghindari kolonial Spanyol dan mengungsi ke Kesultanan Banjar adalah moyang dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Banjar Pahuluan

Orang Pahuluan Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga, tetapi setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur. Jadi, meskipun kelompok Suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan, atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri. Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya. Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak zaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya.[19] Banjar Batang Banyu

Perkampungan orang Batang Banyu Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbentuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Sebagai warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah. Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Maanyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta

membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar. Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.[19] Banjar Kuala Perkampungan orang Banjar Kuala Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar. Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju, yang seperti halnya dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau Lawangan, banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam. Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.[19] Berbeda dengan pendapat Alfani Daud, yang menyatakan bahwa inti suku Banjar adalah para pendatang Melayu dari Sumatera dan sekitarnya,[19] maka pendapat Idwar Saleh justru lebih menekankan bahwa penduduk asli suku Dayak adalah inti suku Banjar yang kemudian bercampur membentuk kesatuan politik sebagaimana Bangsa Indonesia dilengkapi dengan bahasa Indonesia-nya. Demikian kita dapatkan keraton keempat adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maanyan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maanyan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton. Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar, karena kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah grup atau kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan Banjar Pahuluan. Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang sungai Tabalong dari muaranya di sungai Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan-etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan-etnik Maanyan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, yaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya.[20] Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar, ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti Patih Belandean, Patih Belitung, Patih Kuwi dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Maanyan. Kelompok ini diberi agama baru yaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis tetapi kesatuan politik, seperti bangsa Indonesia.[21] Sosio-historis Secara sosio-historis masyarakat Banjar adalah kelompok sosial heterogen yang terkonfigurasi dari berbagai sukubangsa dan ras yang selama ratusan tahun telah menjalin kehidupan bersama, sehingga kemudian membentuk identitas etnis (suku) Banjar. Artinya, kelompok sosial heterogen itu memang terbentuk melalui proses yang tidak sepenuhnya alami (priomordial), tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang cukup kompleks. [22] Islam telah menjadi ciri masyarakat Banjar sejak berabad-abad yang silam. Islam juga telah menjadi identitas mereka, yang membedakannya dengan kelompok-kelompok Dayak yang ada di sekitarnya, yang umumnya masih menganut religi sukunya. Memeluk Islam merupakan kebanggaan tersendiri, setidak-tidaknya dahulu, sehingga berpindah agama di kalangan masyarakat Dayak dikatakan sebagai "babarasih" (membersihkan diri) di samping menjadi orang Banjar.[19]

Masyarakat Banjar bukanlah suatu yang hadir begitu saja, tapi ia merupakan konstruksi historis secara sosial suatu kelompok manusia yang menginginkan suatu komunitas tersendiri dari komunitas yang ada di kepulauan Kalimantan. Etnik Banjar merupakan bentuk pertemuan berbagai kelompok etnik yang memiliki asal usul beragam yang dihasilkan dari sebuah proses sosial masyarakat yang ada di daerah ini dengan titik berangkat pada proses Islamisasi yang dilakukan oleh Demak sebagai syarat berdirinya Kesultanan Banjar. Banjar sebelum berdirinya Kesultanan Islam Banjar belumlah bisa dikatakan sebagai sebuah ksesatuan identitas suku atau agama, namun lebih tepat merupakan identitas yang merujuk pada kawasan teritorial tertentu yang menjadi tempat tinggal[23]. Suku Banjar yang semula terbentuk sebagai entitas politik terbagi 3 grup (kelompok besar) berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk suku berdasarkan persfektif kultural dan genetis yang menggambarkan percampuran penduduk pendatang dengan penduduk asli Dayak: Grup Banjar Pahuluan adalah campuran orang Melayu-Hindu dan orang Dayak Meratus yang berbahasa Melayik (unsur Dayak Meratus/Bukit sebagai ciri kelompok) 2. Grup Banjar Batang Banyu adalah campuran orang Pahuluan, orang Melayu-Hindu/Buddha, orang Keling-Gujarat, orang Dayak Maanyan, orang Dayak Lawangan, orang Dayak Bukit dan orang JawaHindu Majapahit (unsur Dayak Maanyan sebagai ciri kelompok)
1.

Grup Banjar Kuala[24] adalah campuran orang Kuin, orang Batang Banyu, orang Dayak Ngaju (Berangas, Bakumpai)[25], orang Kampung Melayu[26], orang Kampung Bugis-Makassar[27], orang Kampung Jawa[28], orang Kampung Arab[29], dan sebagian orang Cina Parit yang masuk Islam (unsur Dayak Ngaju sebagai ciri kelompok). Proses amalgamasi masih berjalan hingga sekarang di dalam grup Banjar Kuala yang tinggal di kawasan Banjar Kuala - kawasan yang dalam perkembangannya menuju sebuah kota metropolitan yang menyatu (Banjar Bakula).
3.

Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya (Kelompok Barito Barat) yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya (Kelompok Barito Timur) seperti Dusun, Lawangan dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan. Berdasarkan sensus 1930, suku Banjar di Kalimantan Selatan terdapat di Kota Banjarmasin (89,19%), Afdeeling Banjarmasin tidak termasuk Kota Banjarmasin (94,05%), Afdeeling Hulu Sungai (93,75%), kota Kotabaru (69,45%), Pulau Laut tidak termasuk kota Kotabaru (48,96%), seluruh Tanah Bumbu (56,74%).[30][19] Sistem kekerabatan Waring Sanggah Datu Kai (kakek) + Nini (nenek) Abah (ayah) + Uma (ibu) Kakak < ULUN > Ading Anak Cucu Buyut

Intah/Muning Seperti sistem kekerabatan umumnya, masyarakat Banjar mengenal istilah-istilah tertentu sebagai panggilan dalam keluarga. Skema di samping berpusat dari ULUN sebagai penyebutnya. Bagi ULUN juga terdapat panggilan untuk saudara dari ayah atau ibu, saudara tertua disebut Julak, saudara kedua disebut Gulu, saudara berikutnya disebut Tuha, saudara tengah dari ayah dan ibu disebut Angah, dan yang lainnya biasa disebut Pakacil (paman) dan Makacil (bibi), sedangkan termuda disebut Busu. Untuk memanggil saudara dari kai dan nini sama saja, begitu pula untuk saudara datu. Disamping istilah di atas masih ada pula sebutan lainnya, yaitu: minantu (suami / isteri dari anak ULUN) pawarangan (ayah / ibu dari minantu) mintuha (ayah / ibu dari suami / isteri ULUN) mintuha lambung (saudara mintuha dari ULUN) sabungkut (orang yang satu Datu dengan ULUN) mamarina (sebutan umum untuk saudara ayah/ibu dari ULUN) kamanakan (anaknya kakak / adik dari ULUN) sapupu sakali (anak mamarina dari ULUN) maruai (isteri sama isteri bersaudara) ipar (saudara dari isteri / suami dari ULUN) panjulaknya (saudara tertua dari ULUN) pambusunya (saudara terkecil dari ULUN) badangsanak (saudara kandung) Untuk memanggil orang yang seumur boleh dipanggil ikam, boleh juga menggunakan kata aku untuk menunjuk diri sendiri. Sedangkan untuk menghormati atau memanggil yang lebih tua digunakan kata pian, dan kata ulun untuk menunjuk diri sendiri. Islam Banjar Istilah Islam Banjar menunjuk kepada sebuah proses historis dari fenomena inkulturisasi Islam di Tanah Banjar, yang secara berkesinambungan tetap hidup di dan bersama masyarakat Banjar itu sendiri (Tim Haeda, 2009:3). Dalam ungkapan lain, istilah Islam Banjar setara dengan istilah-istilah berikut: Islam di Tanah Banjar, Islam menurut pemahaman dan pengalaman masyarakat Banjar, Islam yang berperan dalam masyarakat dan budaya Banjar, atau istilah-istilah lain yang sejenis, tentunya dengan penekanan-penekanan tertentu yang bervariasi antara istilah yang satu dengan lainnya. Inti dari Islam Banjar adalah terdapatnya karakteristik khas yang dimiliki agama Islam dalam proses sejarahnya di Tanah Banjar. Menurut Alfani Daud (1997), ciri khas itu adalah terdapatnya kombinasi pada level kepercayaan antara kepercayaan Islam, kepercayaan bubuhan, dan kepercayaan lingkungan. Kombinasi itulah yang membentuk sistem kepercayaan Islam Banjar. Menurut Tim Haeda (2009), di antara ketiga sub kepercayaan itu, yang paling tua dan lebih asli dalam konteks Banjar adalah kepercayaan lingkungan, karena unsur-unsurnya lebih merujuk pada pola-pola agama pribumi pra-Hindu. Oleh karena itu, dibandingkan kepercayaan bubuhan, kepercayaan lingkungan ini tampak lebih fleksibel dan terbuka bagi upaya-upaya modifikasi ketika dihubungkan dengan kepercayaan Islam. Sejarah Islam Banjar dimulai seiring dengan sejarah pembentukan entitas Banjar itu sendiri. Menurut kebanyakan peneliti, Islam telah berkembang jauh sebelum berdirinya Kerajaan Banjar di Kuin Banjarmasin, meskipun dalam kondisi yang relatif lambat lantaran belum menjadi kekuatan sosial-politik. Kerajaan Banjar, dengan demikian, menjadi tonggak sejarah pertama perkembangangan Islam di wilayah Selatan pulau Kalimantan. Kehadiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjar lebih kurang tiga abad kemudian merupakan babak baru dalam sejarah Islam Banjar yang pengaruhnya masih sangat terasa sampai dewasa ini. Bahasa Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bahasa Banjar

Papan judul dalam Bahasa Banjar dengan huruf Jawi, di kantor Desa Lok Tamu, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Bahasa Banjar merupakan bahasa ibu Suku Banjar. Bahasa ini berkembang sejak zaman Kerajaan Negara Dipa dan Daha yang bercorak Hindu-Buddha hingga datangnya agama Islam di Tanah Banjar. Banyak kosakatakosakata bahasa ini sangat mirip dengan Bahasa Dayak, Bahasa Melayu, maupun Bahasa Jawa. Kebudayaan Keterampilan Mengolah Lahan Pasang Surut Salah satu keahlian orang Banjar adalah mengolah lahan pasang surut menjadi kawasan budi daya pertanian dan permukiman.[47] Kota Banjarmasin didirikan di atas lahan pasang surut. Rumah Banjar Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain mempunyai perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris. Rumah tradisonal Banjar adalah tipe-tipe rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai berkembang sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Dari sekian banyak jenis-jenis rumah Banjar, tipe Bubungan Tinggi merupakan jenis rumah Banjar yang paling dikenal dan menjadi identitas rumah adat suku Banjar. Tradisi lisan Tradisi lisan oleh Suku Banjar sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu, Arab, dan Cina. Tradisi lisan Banjar (yang kemudian hari menjadi sebuah kesenian) berkembang sekitar abad ke-18 yang di antaranya adalah Madihin dan Lamut. Madihin berasal dari bahasa Arab, yakni madah ( )yang artinya pujian. Madihin merupakan puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel. Sedangkan Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut berasal dari negeri Cina dan mulanya menggunakan bahasa Tionghoa.[48] Namun, setelah dibawa ke Tanah Banjar oleh pedagang-pedagang Cina, maka bahasanya disesuaikan menjadi bahasa Banjar.[48] Teater Satu-satunya seni teater tradisional yang berkembang di pulau Kalimantan adalah Mamanda. Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.[49] Bedanya, Kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang Mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan. Sebab pada kesenian Mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri dan Sandut (Putri).[49]

Tokoh-tokoh ini wajib ada dalam setiap Pementasan. Agar tidak ketinggalan, tokoh-tokoh Mamanda sering pula ditambah dengan tokoh-tokoh lain seperti Raja dari Negeri Seberang, Perompak, Jin, Kompeni dan tokoh-tokoh tambahan lain guna memperkaya cerita. Disinyalir istilah Mamanda digunakan karena di dalam lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamanda oleh Sang Raja. Mamanda secara etimologis terdiri dari kata "mama" (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa Banjar dan nda yang berarti terhormat. Jadi mamanda berarti paman yang terhormat. Yaitu sapaan kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.[49] Musik Salah satu kesenian berupa musik tradisional khas Suku Banjar adalah Musik Panting. Musik ini disebut Panting karena didominasi oleh alat musik yang dinamakan panting, sejenis gambus yang memakai senar (panting) maka disebut musik panting. Pada awalnya musik panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan. Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gabus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan secara perorangan atau secara solo. Karena semakin majunya perkembangan zaman dan musik panting akan lebih menarik jika dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya, maka musik panting sekarang ini dimainkan dengan alat-alat musik seperti babun, gong,dan biola dan pemainnya juga terdiri dari beberapa orang. Nama musik panting berasal dari nama alat musik itu sendiri, karena pada musik panting yang terkenal alat musik nya dan yang sangat berperan adalah panting, sehingga musik tersebut dinamai musik panting. Orang yang pertama kali memberi nama sebagai musik panting adalah A. SARBAINI. Dan sampai sekarang ini musik panting terkenal sebagai musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.[50] Selain itu, ada sebuah kesenian musik tradisional Suku Banjar, yakni Musik Kentung. Musik ini berasal dari daerah Kabupaten Banjar yaitu di desa Sungai Alat, Astambul dan kampung Bincau, Martapura. Pada masa sekarang, musik kentung ini sudah mulai langka. Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.[51] Tarian Seni Tari Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama "Baksa" yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu, namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan. Kuliner Masakan tradisional Banjar diantaranya: sate Banjar[52], soto Banjar, kue bingka dan lain-lain. Senjata Tradisional Berdasarkan hasil wawancara langsung dengan orang yang pernah memakainya, senjata tradisional suku banjar yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari antara lain :

1. Serapang

Serapang adalah tombak bermata lima mata dimana empat mata mekar seperti cakar elang dengan bait pengait di tiap ujungnya. Satu mata lagi berada di tengah tanpa bait, yang disebut besi lapar yang di percaya dapat merobohkan orang yang memiliki ilmu kebal sekuat apappun.

2. Tiruk

Tiruk adalah tombak panjang lurus tanpa bait digunakan untuk berburu ikan haruan (ikan gabus) dan toman di sungai.

3. Pangambangan

Pangambangan adalah tombak lurus bermata satu dengan bait di kedua sisinya.

4. Duha

Duha adalah pisau bermata dua yang sering digunakan untuk berburu babi. Populasi Pada sensus 1930 di Hindia Belanda, jumlah suku Banjar adalah 898.884 jiwa dimana 9,9% dari jumlah tersebut tinggal diluar daerah asal (Kalimantan Tenggara/Karesidenan Afdeling Selatan dan Timur Borneo).[53] Menurut sensus BPS tahun 2010 populasi suku Banjar berjumlah 4.127.124 dan terdapat di seluruh propinsi Indonesia, diantaranya sebagai berikut:[54] Tokoh-tokoh Banjar

Pangeran Antasari, Pahlawan Nasional Indonesia. Hasan Basry, Pahlawan Nasional Indonesia. Idham Chalid, Pahlawan Nasional Indonesia. Pangeran Hidayatullah, Pahlawan Perang Banjar. Pangeran Muhammad Noor, mantan menteri PU/Gubernur Kalimantan ke-1 Prof. Gusti Muhammad Hatta, menteri Riset dan Teknologi. Drs. Saadillah Mursjid, MPA, mantan Menteri Sekretaris Kabinet Pembangunan VII Djohan Effendi, mantan Menteri Sekretaris Kabinet era Gus Dur, penulis pidato Presiden Syamsul Mu'arif, mantan Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Kabinet Gotong Royong

Soeharto.

Taufiq Effendi, mantan menteri Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Kabinet Indonesia Bersatu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama Banjar. Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, ulama Banjar. Muhammad Zaini Abdul Ghani, ulama dan tokoh Islam Indonesia. K.H. Muhammad Arifin Ilham, Ketua Majelis Zikra. K.H. Muhammad Thoha Ma'ruf, Tokoh NU Fakhruddin, politisi dan mantan Bupati Hulu Sungai Utara Syeikh Husein Kedah Al Banjari, mantan mufti Kerajaan Kedah Dato Seri Harussani bin Haji Zakaria, mantan Mufti Kerajaan Negeri Perak Olla Ramlan, seorang model dan pemeran Indonesia. Ian Kasela, vokalis grup band Radja.

Potensi Wisata Budaya di Kota Banjarmasin obyek wisata yang terdapat di Kota Banjarmasin di antaranya:

- Pasar Terapung, adalah Pasar Tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah shalat Subuh sampai selepas pukul 07:00 pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya. - Kampung Sasirangan, adalah tempat pembuatan batik khas Banjarmasin yaitu kain sasirangan dimana pembuatan batik ini masih menggunakan cara tradisional seperti kerajinan batik di pulau jawa. Kampung Sasirangan terletak di Jalan Seberang Masjid Kelurahan Kampung Melayu, sejak 2010 telah dijadikan salah satu obyek wisata souvenir kerajinan kain dan busana sasirangan. - Masjid Jami, Sebagai salah satu yang tertua di Banjarmasin, Masjid Jami Sungai Jingah menjadi pusat kegiatan Islam di Banjarmasin. Bangunan masjid memiliki arsitektur campuran sehingga menyerupai masjid yang terdapat di Pulau Jawa. - Masjid Sabilal Muhtadin, SABILAL MUHTADIN, nama pilihan untuk Mesjid Raya Banjarmasin ini, adalah sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap Ulama Besar alm. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary (1710 1812 M) yang selama hidupnya memperdalam dan mengsmbangkan agama Islam di Kerajaan Banjar atau Kalimantan Selatan sekarang ini. Ulama Besar ini tidak saja dikenal di seluruh Nusantara, akan tetapi dikenal dan dihormati meliwati batas negerinya sampai ke Malaka, Philipina, Bombay, Mekkah, Madinah, Istambul dan Mesir. - Masjid Sultan Suriansyah, Sejarah Kota Banjarmasin tidak akan bisa dipisahkan dari Sultan Suriansyah, pendiri dan raja pertama kerajaan Banjar. Sultan Suriansyah merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Salah satu bukti peninggalannnya adalah Masjid Sultan Suriansyah. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin sekitar setengah jam perjalanan dari pusat Kota. Selain dengan angkutan darat, kita juga bisa mengunjungi masjid ini dengan menggunakan transportasi sungai karena masjid ini juga terletak di pinggir Sungai Kuin. - Makam Pangeran Antasari Pangeran Antasari adalah salah satu Pahlawan Nasional dari Kalimantan Selatan yang turut berperang melawan penjajah Belanda untuk membela wilayah Kalimantan Selatan. Pangeran Antasari lahir di Banjarmasin tahun 1809. Walau seorang ningrat, ia sangat merakyat. Karenanya, ia sangat paham penderitaan rakyat di bawah jajahan Belanda. - Festival Kuliner Khas Banjar Bagi anda yang belum pernah mencicipi makanan dan jajanan khas banjar, mungkin Festival Kuliner Khas Banjar adalah saat yang tepat untuk mencoba berbagai makanan dan kue khas banjar yang jarang sekali dijumpai pada hari-hari biasa. Anda bisa menikmati Soto Banjar, Ketupat Kandangan, Aneka Ikan Panggang, Nasi Kuning dan Lontong, dan puluhan jenis kue (wadai) khas banjar. Dan yang paling asyik adalah anda bisa menyantapnya langsung sambil menikmati suasana sungai dan ramainya Festival Budaya Pasar Terapung.

Seni Budaya

Hits: 179 Budaya Budaya pedagang Budaya dan Adat nampak dan tradisi orang Banjar adalah hasil asimilasi selama berabad-abad. tersebut dipengaruhi oleh kepercayaan Islam yang dibawa oleh Arab dan Persia. Banjar dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar khususnya dalam bentuk kesenian, tarian, musik, pakaian, permainan upacara tradisional. istiadat Banjar yang melekat dengan kehidupan sosial warga masyarakat yang bercirikan Islam terus terjaga dan dipertahankan, dari aktivitas kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini dapat juga disaksikan melalui berbagai pentas kesenian Banjar yang sering ditampilkan dalam acara-acara resmi, seperti tari-tarian dan lagu

Banjar. Demikian pula upacara adat khas Banjar yang biasanya dilaksanakan dalam rangka perkawinan, kelahiran, ataupun peringatan terhadap peristiwa penting lainnya. Dari banyaknya ragam kesenian tersebut yang terkenal adalah:

Madihin Mamanda Japen Balamut Hadrah Musik panting Upacara Maarak Penganten Bamandi-mandi Maayun Anak itu adalah kekayaan budaya yang sangat menarik

Kesemuanya

Tarian tradisional yang biasa ditampilkan pada upacara Tradisional seperti: tari "Baksa Kambang", "Baksa Lilin", "Kula Gepang", "Maiwak", dan lain-lain. Ada sekitar 76 Jenis tarian. Tari tradisional biasanya diiringi oleh alat musik tradisional seperti: babun, gambang, aron, salantang, kedernong, gong, suling, rehab dan dan lain-lain. MADIHIN Seni seniman gendang sindiran lucu. MAMANDA Seni Mamanda merupakan seni pentas teater tradisional Banjar. Menceritakan kisah-kisah kehidupan masyarakat perjuangan kemerdekaan serta kritik sosial dan politik yang berkembang. MUSIK PANTING Seni Musik Panting adalah paduan antara berbagai alat musik seperti Babun, Panting, Biola, Gong, yang menghasilkan irama khas, biasanya mengiringi lagu-lagu tradisional Banjar yang dinyanyikan, atau mengiringi tarian tradisional. Istilah panting diambil dari salah satu jenis alat musik utamanya Panting, yaitu alat musik petik yang mirip dengan Gitar Gambus berukuran kecil. KERAJINAN Salah satu macam tangan Kota Selatan, beragam yang manjadi daya tarik pengunjung Kota Banjarmasin adalah berbagai kerajinan tangan dan cinderamata yang ada di kota ini. Kerajinan yang ada di Kota Banjarmasin bukan hanya dihasilkan oleh penduduk Banjarmasin, tetapi juga dari kota dan kabupaten lain di Kalimantan sehingga dengan datang ke Banjarmasin wiastawan dapat mengenal kerajinan khas yang dihasilkan rakyat Kalimantan Selatan. Madihin adalah suguhan pentas monolog oleh satu atau dua orang tradisional yang merangkai syair dan pantun diiringi dengan musik khas Banjar. Sajian materi seni ini biasanya melemparkan sindiran dan pesan sosial dan moral dengan kosa kata yang menggelitik dan

Terdapat beragam jenis kerajinan tangan yang dihasilkan industri kecil rumah tangga mulai dari batu-batuan permata berbagai bentuk aksesoris dan peralatan rumah tangga khas suku asli Kalimantan Selatan. Kerajinan Tangan yang dihasilkan Kota Banjarmasin sendiri diantaranya berupa kain Sasirangan memiliki kombinasi warna dan tekstur sangan khas. Keindahan sasirangan sudah dikenal secara nasional, sebagai salah satu busana pria dan wanita. Kerajinan air guci, tangga bunga peralatan manca dibawa Kondisi Wilayah

industrihingga Banjar, warga yang bahan

khas lainnya adalah yaitu jenis sulaman khas banjar. Peralatan dan perabot rumah yang terbuat dari bahan rotan seperti lampit atau tikar, tas, pas dan bentuk-bentuk lainnya. Selain kerajinan yang berupa dan aksesoris, di Kota ini bisa didapatkan berbagai ramuan tradisional yang bahannya diperoleh dari pedalaman kalimantan, seperti pasak bumi yang sudah sangat terkenal di negara. Semua kerajinan tangan ini sangat menarik untuk sebagai oleh-oleh dari Kota Banjarmasin.

Hits: 89 Gambaran Umum 2.1. Kondisi Geografis

Kota Banjarmasin terletak diantara 3o 15 - 3o 22 Lintang Selatan dan 114o32 114o 38 Bujur Timur. Kota Banjarmasin terletak di bagian Selatan Propinsi Kalimantan Selatan pada ketinggian tempat rata-rata 0,16 meter dibawah permukaan laut dan kondisi wilayah relatif datar Kota Banjarmasin dengan wilayah seluas 72 Km2 atau 0,22% dari luas wilayah Propinsi Kalimantan Selatan memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut : Sebelah Utara : berbatasan dengan Kabupaten Barito Sebelah Timur : berbatasan dengan Kabupaten Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kabupaten Sebelah Barat : berbatasan dengan Kabupaten Barito Kuala. Kuala. Banjar. Banjar.

Kota Banjarmasin dengan kelerengan 0,13% dialiri sungai Martapura yang bermuara ke Sungai Barito, pasang surutnya kedua sungai tersebut berpengaruh terhadap drainasekota. Disisi lain, kedua sungai tersebut berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, khususnya dalam pemanfaatannya sebagai prasarana transportasi air, pariwisata, perikanan dan perdagangan. Kondisi yang demikian mencirikan kekhasanBanjarmasinsebagaikotaair, disamping letaknya yang strategis sehingga menjadikan Kota Banjarmasin sebagaikotaPelabuhan, Kota Perdagangan, Kota Pariwisata dan Ibu Kota Propinsi Kalimantan Selatan.

2.1.1. Wilayah Administratif Luas wilayah Kota Banjarmasin 72 Km2 yang terbagi dalam 5 (lima Kecamatan dan 50 (lima puluh) Kelurahan yaitu : Kecamatan Banjarmasin Utara dengan Luas Wilayah 15,25 Km2 / 21,18 % yang terbagi dalam 9 (sembilan) Kelurahan dengan Pusat Kecamatan di Kelurahan Surgi Mufti, Kecamatan Banjarmasin Selatan dengan luas wilayah 20,18 Km2 / 28,03 % yang terbagi dalam 11 (sebelas) Kelurahan dengan Pusat Kecamatan di Kelurahan Kelayan Barat, Kecamatan Banjarmasin Barat dengan luas wilayah 11,66 Km2 / 18,57 % yang terbagi dalam 9 (sembilan) Kelurahan dengan Pusat Kecamatan di Kelurahan Pelambuan, Kecamatan Banjarmasin Tengah dengan luas wilayah 13,37 Km2 / 16,19 % yang terbagi dalam 12 (dua belas)

Kelurahan dengan pusat Kecamatan di Kelurahan Teluk Dalam, dan Kecamatan Banjarmasin Timur dengan luas wilayah 11,54 Km2 / 16,03 % yang terbagi dalam 9 (sembilan) Kelurahan dengan pusat Kecamatan di Kelurahan Kuripan. 2.1.2. Fungsi Dan Penggunaan Tanah Tanah alluvial yang didominasi struktur lempung adalah merupakan jenis tanah yang mendominasi wilayah Kota Banjarmasin. Sedangkan batuan dasar yang terbentuk pada cekungan wilayah berasal dari batuan metaforf yang bagian permukaan ditutupi oleh kerakal, kerikil, pasir dan lempung yang mengendap pada lingkungan sungai dan rawa. penggunaan tanah di Kota Banjarmasin Tahun 2003 untuk lahan pertanian seluas 2.962,6 Ha, Industri 278,6 Ha, Perusahaan 337,3 Ha, Jasa 486,4 Ha dan Tanah Perumahan 3.135,1 Ha. Dibandingkan dengan data tahun-tahun sebelumnya lahan pertanian cendrung menurun, sementara untuk lahan perumahan mengalami perluasan sejalan dengan peningkatan kegiatan ekonomi dan pertumbuhan penduduk. 2.1.3. Iklim Kota Banjarmasin termasuk wilayah yang beriklim tropis. Angin Muson dari arah Barat yang bertiup akibat tekanan tinggi di daratan Benua Asia melewati Samudera Hindia menyebabkan terjadinya musim hujan, sedangkan tekanan tinggi di Benua Australia yang bertiup dari arah Timur adalah angin kering pada musim kemarau. Hujan lokal turun pada musim penghujan, yaitu pada bulan-bulan November April. Dalam musim kemarau sering terjadi masa kering yang panjang. Curah hujan tahunan rata-rata sampai 2.628 mm dari hujan pertahun 156 hari. Suhu udara rata-rata sekitar 25o C - 38o C dengan sedikit variasi musiman. Fluktuasi suhu harian berkisar antara 74-91 % sedangkan pada musim kemarau kelembabannya rendah yaitu sekitar 52% yang terjadi pada bulan-bulan Agustus, September dan Oktober.

2.1.4. Hidrologi Kota Banjarmasin yang dialiri Sungai Martapura (bermuara ke sungai Barito) dan anak-anak sungainya dimusim kemarau airnya menjadi payau akibat masuknya air laut ke darat. Untuk memenuhi air tawar, sebagian penduduk mendapatkan jauh ke hulu sampai memasuki wilayah Kabupaten Banjar. Sungai Martapura bagian hulunya terletak di kaki Pegunungan Meratus di Wilayah Kabupaten Banjar memasuki Kota Banjarmasin dari arah Timur Laut menuju Barat Daya. Di bagian hulunya (dalam wilayah Kabupaten Banjar) Sungai Martapura beranak Sungai Riam Kanan dan Sungai Riam Kiwa. Air bendungan Riam Kanan adalah merupakan penggerak PLTA Ir. Pangeran Muhammad Noor dan sekaligus sebagai sumber irigasi yang sebagian diantaranya (dibagian hilirnya) dibutuhkan melindungi airbakuSistem Air Bersih Kota Banjarmasin terhadap intrusi air laut dan pencemarannya. Permukaan air tanahnya yang dangkal sangat dipengaruhi kondisi air permukaannya, tidak layak sebagai sumber air minum. Untuk penyediaan air bersih, air irigasi Riam Kanan dijadikan sumber airbakuoleh PDAM 2.1.5. Flora Dan Fauna Kota Banjarmasin masih cukup kaya akan sumber plasma nuftahnya. Wilayah rawanya ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan, diantaranya jenis rambai (Soneritia Alba), rangas (Gluta Rengas), bakau , panggang, pulatan (Alstonia Sp), api-api, waru tancang (Brugueiera Sp), belangiran (Shorea belangiran), jambu (Eugenia Sp), nipah, pandan, Bakung piai dan jeruju. Beberapa jenis satwa diantaranya : bekantan, lutung, kera abu-abu, musang dahan, elang dan raja udang. Habitat flora dan fauna tersebut terletak dikawasan pinggiran kota, berbatasan dengan Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar. Di setiap daerah di Indonesia, kain batik memiliki kekhasan tersendiri dengan corak dan motif yang berbeda. Nah,di Banjarmasin kalimantan selatan dikenal dengan kain batik Sasirangan. Motif kain khas Kalimantan Selatan ini kerap dipakai oleh semua lapisan masyarakat, mulai dari golongan ekonomi menengah kebawah, hingga golongan kelas atas untuk berbagai kesempatan.

Setidaknya ada belasan macam motif Sasirangan yang populer digunakan oleh masyarakat lokal. Diantaranya motif Sarigading, Naga Balimbur, Kambang Raja, Bintang Bahambur, Daun Jaruju, Iris Pudak, Kembang Kacang, Ombak Sinapur Karang dan Sisik Tanggiling. Motif batik ini disesuaikan dengan jenis kain yang dipakai, seperti kain katun, mori, polyester dan kain sutera. Pembuatan batik Sasirangan tidak diperlukan peralatan khusus, cukup dengan tangan saja untuk mendapatkan motif maupun corak tertentu, yakni melalui teknik jahitan tangan dan ikatan yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali rafia dan selanjutnya dicelup. Batik Sasirangan bisa digunakan dalam berbagai kesempatan. Bisa untuk kegiatan sehari-hari maupun menghadiri pesta perkawinan atau berbagai acara resmi lainnya. Coraknya yang beragam dan mencolok akan menambah cantik dan indah pemakainya. Harga kain Sasirangan bervariasi mulai Puluhan Ribu hingga Ratusan Ribu Rupiah per meter sesuai dengan motif, warna dan bahan kain yang digunakan. Batik Sasirangan adalah kain adat suku Banjar Kalimantan Selatan yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur, diikat benang, gelang karet atau tali rafia, dan kemudian dicelup kedalam air hangat yang diberi pewarna. Pewarna yang digunakan sebagian dari bahan pewarna alam, seprti kulit kayu ulin, jahe, air kulit pisang dan daun pandan. Pada zaman Kerajaan Banjar, batik Sasirangan digunakan sebagai ikat kepala atau laung, ikat pinggang untuk kaum lelaki dan selendang atau kemben untuk kaum perempuan. Bahkan kain Sasirangan dahulu kala juga dipakai untuk upacara adat dan alat penyembuhan orang sakit. Belakangan ini, Sasirangan terus berkembang menyebar ke berbagai daerah seiring dengan perkembangan dunia mode yang sering mengadaptasi pakaian-pakaian adat tradisional.(86) Kain Sasirangan merupakan kain khas dari daerah Kalimantan Selatan. Kain Sasirangan sudah ada sejak zaman Kerajaan dahulu kala di Kalimantan Selatan, yaitu sekitar abad ke-17. Masyarakat Banjar percaya bahwa kain Sasirangan tidak hanya sebatas pakaian atau kain biasa saja, namun memiliki nilai sakral dan nilai magis yang tinggi. Kata Sasirangan berasal dari kata sirang yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah menjahit disebut dengan dijelujur. Menurut cerita orang tua, dulunya Sasirangan digunakan sebagai pakain yang dipakai dalam upacara-upacara adat atau juga untuk menyembuhkan orang yang sakit. Menurut cerita rakyat masayarakat Banjar, kain Sasirangan yang pertama dibuat pada masa kerajaan Negara Dipa. Pada mulanya kain Sasirangan disebut dengan kain Langgundi, yaitu kain tenun yang berwarna kuning. Kain Langgundi merupakan kain yang digunakan sebagai bahan untuk membuat pakaian harian seluruh warga kerajaan Negara Dipa. Dikisahkan pada saat itu Patih Lambung Mangkurat sedang bertapa menggunakan lanting untuk mencari seorang raja untuk kerajaan Negara Dipa. Ketika sedang bertapa, Patih Lambung Mangkurat mendengar suara perempuan yang menanyakan maksudnya dan diapun menjelaskan maksud pertapaannya tersebut adalah untuk mencari seorang raja di kerajaanya. Suara perempuan itupun mengatakan bahwa raja yang sedang dicari oleh Patih Lambung Mangkurat itu adalah dirinya, namun perempuan itu mengatakan dia hanya akan menampkkan diri jika Patih Lambung Mangkurat memenuhi permintaanya. Perempuan itu meminta Patih Lambung Mangkurat untuk membuatkannya sebuah istana yang megah yang dibangun oleh 40 orang perjaka dan sehelai kain Langgundi yang ditenun oleh 40 orang perawan, yang keduanya itu harus selesai dalam waktu satu hari. Patih Lambung Mangkurat menyetujuinya dan langsung melaksanakanya. Pada saat yang telah ditentukan, maka perempuan itu menampakkan diri. Perempuan itu keluar dari dalam air dengan cantiknya dengan menggunakan kain Langgundi yang telah ditenun oleh 40 orang perawan. Perempuan

itu disebut oleh warga kerajaan Negara Dipa dengan sebutan Putri Junjung Buih,karena muncul dari d

alam air yang beriak/berbuih. Salah Satu Kelompok Pengrajin Kain Sasirangan di Kalsel Sejak saat itulah warga kerajaan Negara Dipa tidak berani lagi menggunakan kain Langgundi/Sasirangan karena takut kualat terhadap Putri Junjung Buih. Hal ini mengakibatkan banyak pengrajin kain Langgundi yang tidak lagi membuatnya. Meskipun demikian tidak semuanya berhenti membuat kain Langgundi ini. Masih ada beberapa yang tetap membuatnya, namun tidak untuk dijadikan sebagai pakaian sehari-hari melainkan untuk pengobatan bagi penyakit yang bersifat magis. Menurut keyakinan masayarakat Banjar yang [kadang-kadang] masih dipengaruhi oleh kepercayaan animisme dan dinamisme, maka banyak penyakit yang disebabkan oleh gangguan makhluk halus dan kain Langgundi/Sasirangan merupakan suatu media untuk penyembuhannya. Biasanya penyakit yang dapat disembuhkan oleh kain Langgundi ini adalah penyakit pingitan, yaitu penyakit yang berasal dari ulah para leluhur yang tinggal di alam roh. Dalam kurun waktu tertentu akan ada anak, cucu, buyut, intah, ataupun yang lain akan terkena penyakit pingitan ini dan untuk penyembuhannya mereka harus mengenakan kain Langgundi. Sebagai media penyembuhan, kain Langgundi bisa digunakan sebagai sarung, kemben, selendang, atau juga ikat kepala (laung). Corak dan warna kain Langgundi s angatlah beragam, karena setiap jenis penyakit pingitan memerlukan corak dan warna kain Langgundi tertentu juga. Sejak digunakan menjadi media pengobatan, maka kain Langgundi lebih dikenal dengan sebutan kain Sasirangan. Kain Sasirangan Dengan Pewarana Alami Yang Digunakan Untuk Pengobatan Selain kain Langgundi, kain Sasirangan juga disebut dengan kain Pamintan (permintaan) karena dibuat berdasaarkan permintaan. Sebelum adanya pewarana sintetik, kain Sasirangan dulunya menggunakan pewarna alami dari alam, misalnya dari pohon Karamunting, Mengkudu, Akar Kebuau, Gambir, Pinang, dan lain sebagainya. Selain pewarna-pewarana alami tersebut, kain Sasirangan biasanya juga menggunakan beberapa bahan dari alam untuk memperkuat ketahanan warnanya, misalnya seperti jeruk nipis, tawas, kapur, dan lain sebagainya. Seiring dengan perkembangan zaman, kain Sasirangan mulai kehilangan kesakralannya. Setiap orang bisa saja menggunakan kain Sasirangan dalam berbagai bentuk (baju, selendang, kerudung, dll) tanpa harus dibayangi rasa cemas akan kualat terhadap leluhur. Bahkan sekarang ini kain Sasirangan sudah banyak dijadikan sebagai pakaian seragam bagi instansi-instansi atau sekolah-sekolah di Kalimantan Selatan pada hari-hari tertentu. Akan tetapi ini sebenarnya juga merupakan suatu hal yang baik, karena dengan demikian maka kain Sasirangan akan menjadi lebih dikenal dan dengan sendirinya akan mengangakat nama Kalimantan Selatan dimata dunia. Namun ada satu hal yang cukup menyedihkan bagi masayarakat Kalsel khususnya, yaitu beberapa

motif kain Sasirangan telah dipatenkan oleh negara Jepang (mudah-mudan aset-aset yang lainnya tidak lagi). Meskipun demikian, jika orang menyebut kain Sasiranganmaka sudah pastilah diidentikkan dengan Kalimantan Selatan, bukan yang lain. Wilayah Kota Banjarmasin memiliki luas wilayah 72 Km dengan batas-batas berikut :

Batas Utara : Kabupaten Barito Utara Batas Selatan : Kabupaten Banjar Batas Timur : Kabupaten Banjar Batas Barat : Kabupaten Barito Kuala

Kota Banjarmasin, dengan kondisi daerah yang berawa-rawa (perpaya-paya), tergenang air dan pengaruh dengan musim hujan dan musim kemarau dan memiliki Flora dan Fauna yang spesifik, juga cukup kaya akan sumber nutfahnya. Wilayah rawanya ditumbuhi berbagai jenis tanaman diantaranya jenis Rambai (soneritia Alba), Ranggas (Gluta Rengas), Bakau Panggang, Pulantan (Alstonia Sp) / api-api, Waru Tancang (Brueiera SP), Belangiran (Shorea belangiran) Jambu (Eugenia Sp), nipah, Pandan, Bakung piai dan Jeruju. Adapun Fauna yang hidup seperti mamalia Bekantan dan Kera. Jenis melata ; Biawak. Jenis Aves ; Ketilang. Jenis Ikan ; Gabus, Papuyu, Patin. Bekantan adalah kera spesial yang hanya ditemukan di sini, penampilan fisik dari Bekantan sangat lucu. Dengan bulu yang berwarna coklat kemerahan dan hidung yang panjang. Binatang ini dipercaya oleh sebagian warga bisa mendatangkan kebaikan dan keberuntungan. Seni tradisional Banjar Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (Dialihkan dari Seni Tradisional Banjar) Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Seni tradisional Banjar adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suku Banjar. Tradisional adalah aksi dan tingkah laku yang keluar alamiah karena kebutuhan dari nenek moyang yang terdahulu. Tradisi adalah bagian dari tradisional namun bisa musnah karena ketidamauan masyarakat untuk mengikuti tradisi tersebut. Kultur budaya yang berkembang di Banjarmasin sangat banyak hubungannya dengan sungai, rawa dan danau, disamping pegunungan. Tumbuhan dan binatang yang menghuni daerah ini sangat banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan mereka. Kebutuhan hidup mereka yang mendiami wilayah ini dengan memanfaatkan alam lingkungan dengan hasil benda-benda budaya yang disesuaikan. hampir segenap kehidupan mereka serba relegius. Disamping itu, masyarakatnya juga agraris, pedagang dengan dukungan teknologi yang sebagian besar masih tradisional. Ikatan kekerabatan mulai longgar dibanding dengan masa yang lalu, orientasi kehidupan kekerabatan lebih mengarah kepada intelektual dan keagamaan. Emosi keagamaan masih jelas nampak pada kehidupan seluruh suku bangsa yang berada di Kalimantan Selatan. Urang Banjar mengembangkan sistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang berkaitan dengan relegi, melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi dan assimilasi. Sehingga nampak terjadinya pembauran dalam aspekaspek budaya. Meskipun demikian pandangan atau pengaruh Islam lebih dominan dalam kehidupan budaya Banjar, hampir identik dengan Islam, terutama sekali dengan pandangan yang berkaitan dengan ke Tuhanan (Tauhid), meskipun dalam kehidupan sehari-hari masih ada unsur budaya asal, Hindu dan Budha.

Seni ukir dan arsitektur tradisional Banjar nampak sekali pembauran budaya, demikian pula alat rumah tangga, transport, tari, nyanyian dsb. Masyarakat Banjar telah mengenal berbagai jenis dan bentuk kesenian, baik Seni Klasik, Seni Rakyat, maupun Seni Religius Kesenian yang menjadi milik masyarakat Banjar Suku Banjar mengembangkan seni dan budaya yang cukup lengkap, walaupun pengembangannya belum maksimal, meliputi berbagai cabang seni. Daftar isi 1 Seni Tari 2 Seni Karawitan 2.1 Gamelan Banjar 3 Lagu Daerah 4 Seni Rupa Dwimatra 4.1 Seni Anyaman 4.2 Seni Lukisan Kaca 4.3 Seni Tatah/Ukir 4.4 Pencak Silat Kuntau Banjar 5 Seni Rupa Trimatra (Rumah Adat) 6 Jukung Banjar 7 Wayang Banjar 8 Mamanda 9 Tradisi Bananagaan 10 Seni Tradisonal Banjar Berbasis Sastra (Folklor Banjar) 10.1 Lamut 10.2 Madihin 10.2.1 Etimologi dan definisi 10.2.2 Bentuk fisik 10.2.3 Status Sosial dan Sistem Mata Pencaharian Pamadihinan 10.2.4 Keberadaan Madihin di Luar Daerah Kalsel 10.2.5 Datu Madihin, Pulung Madihin, dan Aruh 10.3 Peribahasa Banjar Berbentuk Puisi 10.3.1 Etimologi dan Definisi 10.3.2 Simpulan 10.4 Pantun Banjar

10.4.1 Etimologi, Definisi, dan Bentuk Fisik 10.4.2 Fungsi Sosial Pantun Banjar 10.4.3 Status Sosial Pamantunan 10.4.4 Datu Pantun, Pulung Pantun, dan Aruh Pantun 10.4.5 Pantun Banjar Masa Kini : Bernasib Buruk 11 Rujukan 12 Pranala luar Seni Tari Seni Tari Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama "Baksa" yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu, namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan. Seni tari daerah Banjar yang terkenal misalnya :

Tari Baksa Kembang, dalam penyambutan tamu agung. Tari Baksa Panah Tari Baksa Dadap Tari Baksa Lilin Tari Baksa Tameng Tari Radap Rahayu Tari Kuda Kepang Tari Japin/Jepen Tari Tirik Kuala Tari Gandut Tari Tirik Tari Babujugan Tari Jepen Lenggang Banua Tari Japin Hadrah Tari Kambang Kipas Tari Balatik Tari Parigal Amban Tari Tameng Cakrawati Tari Alahai Sayang

Seni Karawitan Gamelan Banjar

Gamelan Banjar Tipe Keraton

Gamelan Banjar Tipe Rakyatan

Lagu Daerah Lagu daerah Banjar yang terkenal misalnya :


Ampar-Ampar Pisang Sapu Tangan Babuncu Ampat Paris Barantai Lagu Banjar lainnya Daftar penyanyi lagu-lagu Banjar Daftar pencipta lagu-lagu Banjar Timang Banjar (Malaysia) Banjarmasin (Melayu Deli)

Seni Rupa Dwimatra Seni Anyaman Seni anyaman dengan bahan rotan, bambu dan purun sangat artistik. Anyaman rotan berupa tas dan kopiah. Seni Lukisan Kaca Seni lukisan kaca berkembang pada tahun lima puluhan, hasilnya berupa lukisan buroq, Adam dan Hawa dengan buah kholdi, kaligrafi masjid dan sebagainya. Ragam hiasnya sangat banyak diterapkan pada perabot berupa tumpal, sawstika, geometris, flora dan fauna. Seni Tatah/Ukir

Motif ukiran juga diterapkan pada sasanggan yang terbuat dari kuningan.

Motif jambangan bunga dan tali bapilin dalam seni tatah ukir Banjar Seni ukir terdiri atas tatah surut (dangkal) dan tatah babuku (utuh). Seni ukir diterapkan pada kayu dan kuningan. Ukiran kayu diterapkan pada alat-alat rumah tangga, bagian-bagian rumah dan masjid, bagian-bagian perahu dan bagian-bagian cungkup makam. Ukiran kuningan diterapkan benda-benda kuningan seperti cerana, abun, pakucuran, lisnar, perapian, cerek, sasanggan, meriam kecil dan sebagainya. Motif ukiran misalnya Pohon Hayat, pilin ganda, swastika, tumpal, kawung, geometris, bintang, flora binatang, kaligrafi, motif Arabes dan Turki. Pencak Silat Kuntau Banjar Pencak Silat Kuntau Banjar adalah ilmu beladiri yang berkembang di Tanah Banjar dan daerah perantaun suku kantut bau Seni Rupa Trimatra (Rumah Adat) Rumah adat Banjar ada beberapa jenis, tetapi yang paling menonjol adalah Rumah Bubungan Tinggi yang merupakan tempat kediaman raja (keraton). Jenis rumah yang ditinggali oleh seseorang menunjukkan status dan kedudukannya dalam masyarakat. Jenis-jenis rumah Banjar: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Jukung Banjar Rumah Bubungan Tinggi, kediaman raja Rumah Gajah Baliku, kediaman saudara dekat raja Rumah Gajah Manyusu, kediaman "pagustian" (bangsawan) Rumah Balai Laki, kediaman menteri dan punggawa Rumah Balai Bini, kediaman wanita keluarga raja dan inang pengasuh Rumah Palimbangan, kediaman alim ulama dan saudagar Rumah Palimasan (Rumah Gajah), penyimpanan barang-barang berharga (bendahara) Rumah Cacak Burung (Rumah Anjung Surung), kediaman rakyat biasa Rumah Tadah Alas Rumah Lanting, rumah diatas air Rumah Joglo Gudang Rumah Bangun Gudang

Miniatur jukung gundul suku Banjar Erik Petersen telah mengadakan penelitian tentang jukung Banjar dalam bukunya Jukungs Boat From The Barito Basin, Borneo. Jukung adalah transportasi khas Kalimantan. Ciri khasnya terletak pada teknik pembuatannya

yang mempertahankan sistem pembakaran pada rongga batang kayu bulat yang akan dibuat menjadi jukung. Jenis Jukung : 1. 1. 2. 3. 2. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 3. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Jukung Sudur (rangkaan) Jukung Sudur Biasa Jukung Sudur Bakapih Jukung Sudur Anak Ripang Jukung Patai Jukung Biasa Jukung Hawaian Jukung Kuin Jukung Pelanjan Jukung Ripang Hatap Jukung Pemadang Jukung Batambit Jukung Tambangan Jukung Babanciran Jukung Undaan Jukung Parahan Jukung Gundul Jukung Pandan Liris Jukung Tiung

Jenis perahu lainnya misalnya : 1. 2. Wayang Banjar Wayang Banjar terdiri dari : 1. 2. Mamanda Mamanda merupakan seni teater tradisonal suku Banjar. Tradisi Bananagaan 1. 2. 3. Naga Badudung Kepala Naga Gambar Sawit Kepala Naga Darat Wayang kulit Banjar Wayang gung/wayang Gong yaitu (wayang orang versi suku Banjar Penes Kelotok

Seni Tradisonal Banjar Berbasis Sastra (Folklor Banjar)

Lamut Madihin Etimologi dan definisi Madihin berasal dari kata madah dalam bahasa Arab artinya nasihat, tapi bisa juga berarti pujian. Puisi rakyat anonim bergenre Madihin ini cuma ada di kalangan etnis Banjar di Kalsel saja. Sehubungan dengan itu, definisi Madihin dengan sendirinya tidak dapat dirumuskan dengan cara mengadopsinya dari khasanah di luar folklor Banjar. Tajuddin Noor Ganie (2006) mendefinisikan Madihin dengan rumusan sebagai berikut : puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel. Bentuk fisik Masih menurut Ganie (2006), Madihin merupakan pengembangan lebih lanjut dari pantun berkait. Setiap barisnya dibentuk dengan jumlah kata minimal 4 buah. Jumlah baris dalam satu baitnya minimal 4 baris. Pola formulaik persajakannya merujuk kepada pola sajak akhir vertikal a/a/a/a, a/a/b/b atau a/b/a/b. Semua baris dalam setiap baitnya berstatus isi (tidak ada yang berstatus sampiran sebagaimana halnya dalam pantun Banjar) dan semua baitnya saling berkaitan secara tematis. Madihin merupakan genre/jenis puisi rakyat anonim berbahasa Banjar yang bertipe hiburan. Madihin dituturkan di depan publik dengan cara dihapalkan (tidak boleh membaca teks) oleh 1 orang, 2 orang, atau 4 orang seniman Madihin (bahasa Banjar Pamadihinan). Anggraini Antemas (dalam Majalah Warnasari Jakarta, 1981) memperkirakan tradisi penuturan Madihin (bahasa Banjar : Bamadihinan) sudah ada sejak masuknya agama Islam ke wilayah Kerajaan Banjar pada tahun 1526. Status Sosial dan Sistem Mata Pencaharian Pamadihinan Madihin dituturkan sebagai hiburan rakyat untuk memeriahkan malam hiburan rakyat (bahasa Banjar Bakarasmin) yang digelar dalam rangka memperintai hari-hari besar kenegaraan, kedaerahan, keagamaan, kampanye partai politik, khitanan, menghibur tamu agung, menyambut kelahiran anak, pasar malam, penyuluhan, perkawinan, pesta adat, pesta panen, saprah amal, upacara tolak bala, dan upacara adat membayar hajat (kaul, atau nazar). Orang yang menekuni profesi sebagai seniman penutur Madihin disebut Pamadihinan. Pamadihinan merupakan seniman penghibur rakyat yang bekerja mencari nafkah secara mandiri, baik secara perorangan maupun secara berkelompok. Setidak-tidaknya ada 6 kriteria profesional yang harus dipenuhi oleh seorang Pamadihinan, yakni : (1) terampil dalam hal mengolah kata sesuai dengan tuntutan struktur bentuk fisik Madihin yang sudah dibakukan secara sterotipe, (2) terampil dalam hal mengolah tema dan amanat (bentuk mental) Madihin yang dituturkannya, (3) terampil dalam hal olah vokal ketika menuturkan Madihin secara hapalan (tanpa teks) di depan publik, (4) terampil dalam hal mengolah lagu ketika menuturkan Madihin, (5) terampil dalam hal mengolah musik penggiring penuturan Madihin (menabuh gendang Madihin), dan (6) terampil dalam hal mengatur keserasian penampilan ketika menuturkan Madihin di depan publik. Tradisi Bamadihinan masih tetap lestari hingga sekarang ini. Selain dipertunjukkan secara langsung di hadapan publik, Madihin juga disiarkan melalui stasiun radio swasta yang ada di berbagai kota besar di Kalsel. Hampir semua stasiun radio swasta menyiarkan Madihin satu kali dalam seminggu, bahkan ada yang setiap hari. Situasinya menjadi semakin bertambah semarak saja karena dalam satu tahun diselenggarakan beberapa kali lomba Madihin di tingkat kota, kabupaten, dan provinsi dengan hadiah uang bernilai jutaan rupiah. Tidak hanya di Kalsel, Madihin juga menjadi sarana hiburan alternatif yang banyak diminati orang, terutama sekali di pusat-pusat pemukiman etnis Banjar di luar daerah atau bahkan di luar negeri. Namanya juga tetap Madihin. Rupa-rupanya, orang Banjar yang pergi merantau ke luar daerah atau ke luar negeri tidak hanya

membawa serta keterampilannya dalam bercocok tanam, bertukang, berniaga, berdakwah, bersilat lidah (berdiplomasi), berkuntaw (seni bela diri), bergulat, berloncat indah, berenang, main catur, dan bernegoisasi (menjadi calo atau makelar), tetapi juga membawa serta keterampilannya bamadihinan (baca berkesenian). Para Pamadihinan yang menekuni pekerjaan ini secara profesional dapat hidup mapan. Permintaan untuk tampil di depan publik relatif tinggi frekwensinya dan honor yang mereka terima dari para penanggap cukup besar, yakni antara 500 ribu sampai 1 juta rupiah. Beberapa orang di antaranya bahkan mendapat rezeki nomplok yang cukup besar karena ada sejumlah perusahaan kaset, VCD, dan DVD di kota Banjarmasin yang tertarik untuk menerbitkan rekaman Madihin mereka. Hasil penjualan kaset, VCD, dan DVD tersebut ternyata sangatlah besar. Pada zaman dahulu kala, ketika etnis Banjar di Kalsel masih belum begitu akrab dengan sistem ekonomi uang, imbalan jasa bagi seorang Pamadihinan diberikan dalam bentuk natura (bahasa Banjar : Pinduduk). Pinduduk terdiri dari sebilah jarum dan segumpal benang, selain itu juga berupa barang-barang hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Keberadaan Madihin di Luar Daerah Kalsel Madihin tidak hanya disukai oleh para peminat domestik di daerah Kalsel saja, tetapi juga oleh para peminat yang tinggal di berbagai kota besar di tanah air kita. Salah seorang di antaranya adalah Pak Harto, Presiden RI di era Orde Baru ini pernah begitu terkesan dengan pertunjukan Madihin humor yang dituturkan oleh pasangan Pamadihinan dari kota Banjarmasin Jon Tralala dan Hendra. Saking terkesannya, beliau ketika itu berkenan memberikan hadiah berupa ongkos naik haji plus (ONH Plus) kepada Jon Tralala. Selain Jhon Tralala dan Hendra, di daerah Kalsel banyak sekali bermukim Pamadihinan terkenal, antara lain : Mat Nyarang dan Masnah pasangan Pamadihinan yang paling senior di kota Martapura), Rasyidi dan Rohana(Tanjung), Imberan dan Timah (Amuntai), Nafiah dan Mastura Kandangan), Khair dan Nurmah (Kandangan), Utuh Syahiban Banjarmasin), Syahrani (Banjarmasin), dan Sudirman(Banjarbaru). Madihin mewakili Kalimantan Timur pada Festival Budaya Melayu. Datu Madihin, Pulung Madihin, dan Aruh Madihin Pada zaman dahulu kala, Pamadihinan termasuk profesi yang lekat dengan dunia mistik, karena para pengemban profesinya harus melengkapi dirinya dengan tunjangan kekuatan supranatural yang disebut Pulung. Pulung ini konon diberikan oleh seorang tokoh gaib yang tidak kasat mata yang mereka sapa dengan sebutan hormat Datu Madihin. Pulung difungsikan sebagai kekuatan supranatural yang dapat memperkuat atau mempertajam kemampuan kreatif seorang Pamadihinan. Berkat tunjangan Pulung inilah seorang Pamadihinan akan dapat mengembangkan bakat alam dan kemampuan intelektualitas kesenimanannya hingga ke tingkat yang paling kreatif (mumpuni). Faktor Pulung inilah yang membuat tidak semua orang Banjar di Kalsel dapat menekuni profesi sebagai Pamadihinan, karena Pulung hanya diberikan oleh Datu Madihin kepada para Pamadihinan yang secara genetika masih mempunyai hubungan darah dengannya (hubungan nepotisme). Datu Madihin yang menjadi sumber asal-usul Pulung diyakini sebagai seorang tokoh mistis yang bersemayam di Alam Banjuran Purwa Sari, alam pantheon yang tidak kasat mata, tempat tinggal para dewa kesenian rakyat dalam konsep kosmologi tradisonal etnis Banjar di Kalsel. Datu Madihin diyakini sebagai orang pertama yang secara geneologis menjadi cikal bakal keberadaan Madihin di kalangan etnis Banjar di Kalsel. Konon, Pulung harus diperbarui setiap tahun sekali, jika tidak, tuah magisnya akan hilang tak berbekas. Proses pembaruan Pulung dilakukan dalam sebuah ritus adat yang disebut Aruh Madihin. Aruh Madihin dilakukan pada setiap bulan Rabiul Awal atau Zulhijah. Menurut Saleh dkk (1978:131), Datu Madihin diundang dengan cara membakar dupa dan memberinya sajen berupa nasi ketan, gula kelapa, 3 biji telur ayam kampung, dan minyak likat baboreh. Jika Datu Madihin berkenan memenuhi undangan, maka Pamadihinan yang mengundangnya akan kesurupan selama beberapa saat. Pada saat kesurupan, Pamadihinan yang bersangkutan akan menuturkan syairsyair Madihin yang diajarkan secara gaib oleh Datu Madihin yang menyurupinya ketika itu. Sebaliknya, jika Pamadihinan yang bersangkutan tidak kunjung kesurupan sampai dupa yang dibakarnya habis semua, maka hal itu merupakan pertanda mandatnya sebagai Pamadihinan telah dicabut oleh Datu Madihin. Tidak ada pilihan bagi Pamadihinan yang bersangkutan, kecuali mundur teratur secara sukarela dari panggung pertunjukan Madihin Peribahasa Banjar Berbentuk Puisi

Etimologi dan Definisi Secara etimologis, istilah peribahasa menurut Winstead (dalam Usman, 1954) berasal dari bahasa Sanksekerta pari dan bhasya, yakni bahasa (bhasya)yang yang disusun secara beraturan (pari). Etnis Banjar di Kalsel menyebut peribahasa dengan istilah paribasa (Hapip, 2001:137), istilah ini hampir sama dengan istilah paribasan dalam bahasa Jawa yang digunakan di DI Yogyakarta, Jateng, dan Jatim. Menurut Tajuddin Noor Ganie (2006:1) dalam bukunya berjudul Jatidiri Puisi Rakyat Etnis Banjar di Kalsel, peribahasa Banjar ialah kalimat pendek dalam bahasa Banjar yang pola susunan katanya sudah tetap dengan merujuk kepada suatu format bentuk tertentu (bersifat formulaik), dan sudah dikenal luas sebagai ungkapan tradisional yang menyatakan maksudnya secara samar-samar, terselubung, dan berkias dengan gaya bahasa perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan. Berdasarkan karakteristik bentuk fisiknya, peribahasa Banjar menurut Ganie (2006:1) dapat dipilah-pilah menjadi 2 kelompok besar, yakni : 1. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 2. 1. 2. 3. 4. 5. Peribahasa Banjar berbentuk puisi, terdiri atas : Gurindam Kiasan Mamang Papadah Pameo Huhulutan Saluka Tamsil Peribahasa Banjar berbentuk kalimat, terdiri atas : Ibarat Papadah Papatah-patitih Paribasa Paumpamaan.

Perbedaan bentuk fisik antara peribahasa Banjar yang berbentuk puisi dengan peribahasa Banjar yang berbentuk kalimat terletak pada jenis gaya bahasa yang dipergunakannya. Peribahasa berbentuk puisi mempergunakan gaya bahasa perulangan, sementara peribahasa berbentuk kalimat mempergunakan gaya bahasa perbandingan, pertautan, dan pertentangan. Simpulan Berdasarkan paparan dan contoh-contoh di atas, maka dapat disimpulkan semua ragam/jenis peribahasa Banjar berbentuk puisi, setidak-tidaknya memiliki salah satu dari 3 ciri karakteristik bentuk, yakni : 1. 2. adanya pengulangan atas kosa-kata yang sama, adanya kosa-kata yang hampir sama secara morfologis, dan

3. adanya kosa-kata yang saling bersajak a/a/a/a, a/b/a/b, dan a/b/b/a baik secara vertikal maupun secara horisontal di awal, di tengah, atau di akhir baris/larisk. Ciri-ciri karakteristik bentuk yang demkian itu identik dengan gaya bahasa perulangan (repetisi). Pantun Banjar

Etimologi, Definisi, dan Bentuk Fisik Pantun merupakan pengembangan lebih lanjut dari Peribahasa Banjar. Istilah pantun sendiri menurut Brensetter sebagaimana yang dikutipkan Winstead (dalam Usman, 1954) berasal dari akar kata tun yang kemudian berubah menjadi tuntun yang artinya teratur atau tersusun. Hampir mirip dengan tuntun adalah tonton dalam bahasa Tagalog artinya berbicara menurut aturan tertentu (dalam Semi, 1993:146-147). Sesuai dengan asal-usul etimologisnya yang demikian itu, maka pantun memang identik dengan seperangkat kosa-kata yang disusun sedemikian rupa dengan merujuk kepada sejumlah kriteria konvensional menyangkut bentuk fisik dan bentuk mental puisi rakyat anonim. Setidak-tidaknya ada 6 kriteria konvensional yang harus dirujuk dalam hal bentuk fisik dan bentuk mental pantun ini, yakni : (1) setiap barisnya dibentuk dengan jumlah kata minimal 4 buah, (2) jumlah baris dalam satu baitnya minimal 2 baris (pantun kilat) dan 4 baris (pantun biasa dan pantun berkait), (3) pola formulaik persajakannya merujuk kepada sajak akhir vertikal dengan pola a/a (pantun kilat), a/a/a/a, a/a/b/b, dan a/b/a/b (pantun biasa dan pantun berkait), (4) khusus untuk pantun kilat, baris 1 berstatus sampiran dan baris 2 berstatus isi, (5) khusus untuk pantun biasa dan pantun berkait, baris 1-2 berstatus sampiran dan baris 3-4 berstatus isi, dan (6) lebih khusus lagi, pantun berkait ada juga yang semua barisnya berstatus isi, tidak ada yang berstatus sampiran. Zaidan dkk (1994:143)mendefinisikan pantun sebagai jenis puisi lama yang terdiri atas 4 larik dengan rima akhir a/b/a/b. Setiap larik biasanya terdiri atas 4 kata, larik 1-2 merupakan sampiran, larik 3-4 merupakan isi. Berdasarkan ada tidaknya hubungan antara sampiran dan isi ini, pantun dapat dipilah-pilah menjadi 2 genre/jenis, yakni pantun mulia dan pantun tak mulia. Disebut pantun mulia jika sampiran pada larik 1-2 berfungsi sebagai persiapan isi secara fonetis dan sekaligus juga berfungsi sebagai isyarat isi. Sementara, pantun tak mulia adalah pantun yang sampirannya (larik 1-2) berfungsi sebagai persiapan isi secara fonetis saja, tidak ada hubungan semantik apa-apa dengan isi pantun di larik 3-4. Sementara Rani (1996:58) mendefinsikan pantun sebagai jenis puisi lama yang terdiri atas 4 baris dalam satu baitnya. Baris 1-2 adalah sampiran, sedang baris 3-4 adalah isi. Baris 1-3 dan 2-4 saling bersajak akhir vertikal dengan pola a/b/a/b. Hampir semua suku bangsa di tanah air kita memiliki khasanah pantunnya masing-masing. Menurut Sunarti (1994:2), orang Jawa menyebutnya parikan, orang Sunda menyebutnya sisindiran atau susualan, orang Mandailing menyebutnya ende-ende, orang Aceh menyebutnya rejong atau boligoni, sementara orang Melayu, Minang, dan Banjar menyebutnya pantun. Dibandingkan dengan genre/jenis puisi rakyat lainnya, pantun merupakan puisi rakyat yang murni berasal dari kecerdasan linguistik local genius bangsa Indonesia sendiri. Istilah pantun tidak ditemukan padanannya dalam bahasa Banjar, sehubungan dengan itu istilah ini langsung saja diadopsi untuk memberi nama fenomena yang sama yang ada dalam khasanah puisi rakyat anonim berbahasa Banjar (Folklor Banjar). Dalam definisi yang sederhana pantun Banjar adalah pantun yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar. Definisi pantun Banjar menurut rumusan Tajuddin Noor Ganie (2006) adalah puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi khusus yang berlaku dalam khasanah folklor Banjar. Fungsi Sosial Pantun Banjar Pada masa-masa Kerajaan Banjar masih jaya-jayanya (1526-1860), pantun tidak hanya difungsikan sebagai sarana hiburan rakyat semata, tetapi juga difungsikan sebagai sarana retorika yang sangat fungsional, sehingga para tokoh pimpinan masyarakat formal dan informal harus mempelajari dan menguasainya dengan baik, yakni piawai dalam mengolah kosa-katanya dan piawai pula dalam membacakannya. Tidak hanya itu, di setiap desa juga harus ada orang-orang yang secara khusus menekuni karier sebagai tukang olah dan tukang baca pantun (bahasa Banjar Pamantunan). Uji publik kemampuan atas seorang Pamantunan yang handal dilakukan langsung di depan khalayak ramai dalam ajang adu pantun atau saling bertukar pantun yang

dalam bahasa Banjar disebut Baturai Pantun. Para Pamantunan tidak boleh tampil sembarangan, karena yang dipertaruhkan dalam ajang Baturai Pantun ini tidak hanya kehormatan pribadinya semata, tetapi juga kehormatan warga desa yang diwakilinya. Status Sosial Pamantunan Pamantunan merupakan seniman penghibur rakyat yang bekerja mencari nafkah secara mandiri dengan mengandalkan kemampuannya dalam mengolah kosa-kata berbahasa Banjar sehingga dapat dijadikan sebagai sarana retorika yang fungional. Setidak-tidaknya ada 6 kriteria profesional yang harus dipenuhi oleh seorang Pamantunan, yakni : (1) terampil mengolah kosa-katanya sesuai dengan tuntutan yang berlaku dalam struktur bentuk fisik pantun Banjar, (2) terampil mengolah tema dan amanat yang menjadi unsur utama bentuk mental pantun Banjar, (3) terampil mengolah vokal ketika menuturkannya sebagai sarana retorika yang fungsional di depan khalayak ramai, (4) terampil mengolah lagu ketika menuturkannya sebagai sarana retorika yang fungsional, (5) terampil dalam hal olah musik penggiring penuturan pantun (menabuh gendang pantun), dan (6) terampil dalam menata keserasian penampilannya sebagai seorang Pamantunan. Datu Pantun, Pulung Pantun, dan Aruh Pantun Tuntutan profesional yang begitu sulit untuk dipenuhi oleh seorang Pamantunan membuatnya tergoda untuk memperkuat tenaga kreatifnya dengan cara-cara yang bersifat magis, akibatnya, profesi Pamantunan pada zaman dahulu kala termasuk profesi kesenimanan yang begitu lekat dengan dunia mistik. Dalam hal ini sudah menjadi kelaziman di kalangan Pamantunan ketika itu untuk memperkuat atau mempertajam kemampuan kreatif profesionalnya dengan kekuatan supranatural yang disebut Pulung. Pulung adalah kekuatan supranatural yang berasal dari alam gaib yang diberikan oleh Datu Pantun. Konon, berkat Pulung inilah seorang Pamantunan dapat mengembangkan bakat alam dan intelektualitasnya hingga ke tingkat yang paling kreatif (mumpuni). Faktor Pulung inilah yang membuat tidak semua orang Banjar di Kalsel dapat menekuni profesi sebagai Pamantunan, karena Pulung hanya diberikan kepada oleh Datu Pantun kepada Pamantunan yang secara genetika masih mempunyai hubungan darah dengannya (hubungan nepotisme). Datu Pantun adalah seorang tokoh mistis yang bersemayam di Alam Banjuran Purwa Sari, alam pantheon yang tidak kasat mata, tempat tinggal para dewa kesenian rakyat. Datu Pantun diyakini sebagai orang pertama yang secara geneologis menjadi cikal bakal pantun di kalangan etnis Banjar di Kalsel. Konon, Pulung harus diperbarui setiap tahun, jika tidak, maka tuah magisnya akan hilang tak berbekas lagi. Proses pembaruan Pulung dilakukan dalam sebuah ritus adat yang khusus digelar untuk itu, yakni Aruh Pantun. Aruh Pantun dilaksanakan pada malam-malam gelap tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29) di bulan Rabiul Awal atau Zulhijah. Datu Pantun diundang berhadir dengan cara membakar dupa dan memberinya sajen berupa nasi ketan, gula kelapa, 3 biji telur ayam kampung, dan minyak likat baboreh secukupnya. Jika Datu Pantun berkenan memenuhi undangan, maka Pamantunan yang bersangkutan akan kesurupan (trance) selama beberapa saat. Sebaliknya, jika Pamantunan tak kunjung kesurupan itu berarti mandatnya sebagai seorang Pamantunan sudah dicabut oleh Datu Pantun. Tidak pilihan baginya kecuali mundur secara teratur dari panggung Baturai Pantun (pensiun). Sasirangan : Sejarah, Motif, Arti Warna & Proses Sasirangan adalah kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan, yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali rafia dan selanjutnya dicelup. A. Sejarah Kain Sasirangan umumnya digunakan sebagai kain adat yang biasa digunakan pada acara-acara adat suku Banjar. Kata sasirangan berasal dari kata menyirang yang berarti menjelujur, karena dikerjakan dengan cara menjelujur kemudian diikat dengan tali raffia dan selanjutnya dicelup, hingga kini sasirangan masih dibuat secara manual.

Menurut sejarahnya, Sasirangan merupakan kain sakral warisan abad XII saat Lambung Mangkurat menjadi patih Negara Dipa. Awalnya sasirangan dikenal sebagai kain untuk batatamba atau penyembuhan orang sakit yang harus dipesan khusus terlebih dahulu (pamintaan) sehingga pembutan kain sasirangan seringkali mengikuti kehendak pemesannya. Oleh karena itu, Urang Banjar seringkali menyebut sasirangan kain pamintaan yang artinya permintaan. Selain untuk kesembuhan orang yang tertimpa penyakit, kain ini juga merupakan kain sakral, yang biasa dipakai pada upacara-upacara adat. Pada zaman dahulu kala kain sasirangan diberi warna sesuai dengan tujuan pembuatannya, yakni sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan suatu jenis penyakit tertentu yang diderita oleh seseorang. Arti Warna Sasisangan : 1. Kain sasirangan warna kuning merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit kuning (bahasa Banjar kana wisa) 2. Kain sasirangan warna merah merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit sakit kepala, dan sulit tidur (imsonia) 3. Kain sasirangan warna hijau merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit lumpuh (stroke) 4. Kain sasirangan warna hitam merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit demam dan kulit gatal-gatal 5. Kain sasirangan warna ungu merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit sakit perut (diare, disentri, dan kolera) 6. Kain sasirangan warna coklat merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit tekanan jiwa (stress) Dahulu kala kain sasirangan diberi warna dengan zat pewarna yang dibuat dari bahan-bahan yang bersifat alami, yakni dibuat dari biji, buah, daun, kulit, atau umbi tanaman yang tumbuh liar di hutan atau sengaja ditanam di sekitar tempat tinggal para pembuat kain sasirangan itu sendiri. Ada 6 warna utama kain sasirangan yang dibuat dari zat pewarna alami dimaksud, yakni : 1. Kuning, bahan pembuatnya adalah kunyit atau temulawak 2. Merah, bahan pembuatnya adalah gambir, buah mengkudu, lombok merah, atau kesumba (sonokeling, pen) 3. Hijau, bahan pembuatnya adalah daun pudak atau jahe 4. Hitam, bahan pembuatnya adalah kabuau atau uar 5. Ungu, bahan pembuatnya adalah biji buah gandaria (bahasa Banjar Ramania, pen) 6. Coklat, bahan pembuatnya adalah uar atau kulit buah rambutan Supaya warnanya menjadi lebih tua, lebih muda, dan supaya tahan lama (tidak mudah pudar), bahan pewarna di atas kemudian dicampur dengan rempah-rempah lain seperti garam, jintan, lada, pala, cengkeh, jeruk nipis, kapur, tawas, cuka, atau terusi. B. Proses Pembuatan Secara garis besar urutan proses pembuatan kain sasirangan adalah sebagai berikut :

C. Motif Kain Sasirangan Motif-motif kain sasirangan banyak sekali jumlahnya. Motif yang umum diketahui yaitu beberapa motif berikut ini : 1. Iris Pudak 2. Kambang Raja 3. Bayam Raja 4. Kulat Kurikit 5. Ombak Sinapur Karang 6. Bintang Bahambur 7. Sari Gading 8. Kulit Kayu 9. Naga Balimbur 10. Jajumputan 11. Turun Dayang 12. Kambang Tampuk Manggis 13. Daun Jaruju 14. Kangkung Kaombakan 15. Sisik Tanggiling 16. Kambang Tanjung Pestival Budaya Pasar Terapung

Hits: 64 Pestival Budaya Pasar Terapung adalah Festival multi event yang digelar 1 tahun sekali di Banjarmasin. Dinamakan Festival Budaya Pasar Terapung karena festival ini dimaksudkan untuk lebih mensosialisasikan Pasar Terapung pada Wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Festival Budaya Pasar Terapung dilaksanakan di pertengahan tahun bertempat di Jl. Sudirman dan Sungai Martapura. Festival ini juga ramai dikunjungi oleh warga kota dan wisatawan lokal maupun asing. Festival ini biasanya digelar selama 3 atau 4 hari. Berbagai kegiatan yang digelar antaranya :

Pasar Terapung Buatan Pasar Terapung ditengah Kota Banjarmasin, mungkin itu yang terlitas dibenak anda. Ya, Pada pagi hari, di hari pertama Festival Budaya Pasar Terapung kita akan melihat puluhan bahkan ratusan pedagang Pasar Terapung ada di Sungai Martapura tepatnya di depan Kantor Gubernur Kalsel. Pasar Terapung yang biasanya hanya bisa dilihat dimuara sungai kuin bisa anda lihat disini, suasana jual beli diatas sungai khas pasar terapung dapat anda rasakan. Beberapa pengunjung yang ingin merasakan langsung belanja di pasar terapung, bisa berinteraksi langsung dengan para penjual. Festival Kuliner Khas Banjar Bagi anda yang belum pernah mencicipi makanan dan jajanan khas banjar, mungkin Festival Kuliner Khas Banjar adalah saat yang tepat untuk mencoba berbagai makanan dan kue khas banjar yang jarang sekali dijumpai pada hari-hari biasa. Anda bisa menikmati Soto Banjar, Ketupat Kandangan, Aneka Ikan Panggang, Nasi Kuning dan Lontong, dan puluhan jenis kue (wadai) khas banjar. Dan yang paling asyik adalah anda bisa menyantapnya langsung sambil menikmati suasana sungai dan ramainya Festival Budaya Pasar Terapung. Kampung Banjar Kampung Banjar adalah area Pameran di Festival Budaya Pasar Terapung dari setiap kabupaten/Kota yang ada di Kalimantan Selatan. Disini pengunjung dapat melihat produk unggulan dari kabupaten/Kota tersebut. Pagelaran Seni Budaya Dalam 3 hari Festival Budaya Pasar Terapung, para pengunjung dapat menyaksikan atraksi dan gelar seni budaya dari 11 kabupaten kota di Kalimantan Selatan. Baik yang di tampilkan di atas panggung maupun yang diadakan di lapangan. Contoh atraksi itu antara lain : balogo, madihin, sinoman haderah, tarian tradisional dan lain- lain. Lomba Jukung Hias dan Tanglong Lomba Jukung Hias dan Tanglong adalah event utama yang ditunggu tunggu oleh masyarakat Banjarmasin. Puluhan Jukung (Perahu) hias akan mewarnai sungai Martapura dengan berbagai macam bentuk dan ornamen yang indah. Pada siang hari, kita bisa melihat jukung-jukung hias itu hilir mudik di sungai sambil memamerkan keindahan masing-masing. Dan pada malam hari jukung-jukung itu akan menjadi lebih indah lagi dengan lampu hias (tanglong) yang berwarna warni. Lomba Dayung Tradisional Para pengunjung juga bisa melihat lomba dayung tradisional yang mengandalkan kecepatan dari para peserta lomba. Cukup menarik karena mereka masing-masing akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi juara dan suasana akan tambah ramai lagi ketika para penonton ikut menyoraki perahu-perahu yang sedang berlomba Sejarah Pemerintahan Sejarah Pemerintahan di Kalimantan Selatan diperkirakan dimulai ketika berdiri Kerajaan Tanjung Puri sekitar abad 5 - 6 Masehi. Kerajaan ini letaknya cukup strategis yaitu di Kaki Pegunungan Meratus dan ditepi sungai besar sehingga dikemudian hari menjadi bandar yang cukup maju. Kerajaan Tanjung Puri bisa juga disebut Kerajaan Kahuripan, yang cukup dikenal sebagai wadah pertama hibridasi, yaitu percampuran antar suku dengan segala komponennya. Setelah itu berdiri kerajaan Negara Dipa yang dibangun perantau dari Jawa. Tanggal 19 Agustus 1945Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan untuk membagi wilayah Indonesia menjadi 8 Propinsi, ketetapan ini dikukuhkan dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1945 dan

Maklumat Wakil Presiden RI Nomor X tanggal 16 Oktober 1945. Salah satu dari Propinsi tersebut adalah Propinsi Borneo dengan ibukotanya Banjarmasin. Tanggal 2 September 1945 Ir. Pangeran Muhammad Noor dilantik oleh Presiden RI sebagai Gubernur Borneo. Tanggal 10 Oktober 1945 Demontrasi rakyat Kalimantan Selatan di halaman kantor Governor menuntut diturunkannya Bendera Belanda dan digantikan dengan Bendera Merah Putih, bendera Republik Indonesia. Tanggal 9 Nopember 1945 Rakyat Kalimantan mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan yang legal dengan bergerilya di pedalaman dan berhasil menggagalkan rencana Belanda untuk mendirikan Negara Kalimantan. Tahun 1946 Pemerintah Belanda membagi Kalimantan menjadi 3 keresidenan dengan Stb.1946 Nomor 64 yaitu:

Residentis Zuid Borneo, meliputi afdeling-afdeling Banjarmasin, Hulu Sungai dan Kapuas Residentis Oost Borneo, meliputi afdeling-afdeling Samarinda dan Bulungan Residentis West Borneo, dengan nama Daerah Istimewa Kalimantan Barat

Barito

Di daerah-daerah yang diduduki Belanda membentuk Neo-Landschappen yang dalam perkembangannya selanjutnya Neo-Landschap tersebut mengadakan gabungan dan membentuk Federasi Kalimantan Barat, Federasi Kalimantan Timur dan Federasi Kalimantan Tenggara. Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) Pada waktu pembentukan Negara Republik Indonesia Serikat, Kalimantan tidak dibentuk Negara Bagian tersendiri, tetapi berupa satuan-satuan kenegaraan yaitu :

Dayak Besar (Stb. 1946 Nomor 134) Kalimantan Tenggara, sebagai penggabungan 3 Neo-landschap (Stb. 1947 Nomor 3) Daerah Banjar (Stb. 1948 Nomor 14) Kalimantan Timur Daerah Istimewa Kalimantan Barat (Stb. 1948 Nomor 58)

Tanggal 17 Mei 1949 Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang merupakan puncak manifestasi Perjuangan Rakyat Kalimantan, dibacakan dan ditandatangani oleh Bapak Gerilya Kalimantan, Brigjen H. Hassan Basry atas nama Rakyat Kalimantan Selatan, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Wilayah Republik Indonesia. Tanggal 4 April 1950 Pemerintah Republik Indonesia Serikat dengan Keputusan Presiden Nomor 137/8/9 tanggal 4 April 1950 menetapkan penghapusan daerah-daerah Banjar, Dayak Besar dan Kalimantan Tenggara sebagai Bagian Republik Indonesia Serikat dan memasukkannya kedalam Wilayah Republik Indonesia Yogyakarta. Tanggal 14 Agustus 1950 Pemerintah Republik Indonesia mengadakan penataan kembali pemerintahan di Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Propinsi (Lembaran Negara 1950 Nomor 59) Dan membagi wilayah Republik Indonesia atas 10 Propinsi, dan satu diantaranya adalah Propinsi Kalimantan. Gubernur Kalimantan pada waktu itu dr. MURJANI mengeluarkan Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor 186/OPB/92/14 tentang Pembentukan beberapa Kabupaten, Daerah Istimewa dan Kotapraja, pada tanggal 14 Agustus 1950. Tanggal 7 Januari 1953 Dikukuhkan keputusan Gubernur Kalimatan Nomor 186/OPB/92/14 tanggal 14 Agustus 1950 dengan Undangundang Darurat Nomor 2 Tahun 1953 (Lembaran Negara 1953 Nomor 8) dan Undang-undang Darurat Nomor 3

Tahun 1953 (Lembaran Negara 1953 Nomor 9) tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten/Daerah Istimewa Tingkat Kabupaten dan Kota Besar dalam lingkungan Daerah Propinsi Kalimantan. Tanggal 29 Nopember 1956 Presiden RI mengesahkan Undag-undang Nomor 25 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Tanggal 31 Mei 1989 Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan dengan Surat Keputusan DPRD Propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan Nomor 02 Tahun 1989 menetapkan tanggal 14 Agustus 1950 telah diselenggarakan pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan yang berkedudukan di Banjarmasin sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1950 dan pembentukan daerah-daerah otonom Kabupaten dan setingkat Kabupaten berdasarkan Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor 186/OPB/92/14 tanggal 14 Agustus 1950 dan selanjutnya dikukuhkan dengan Undang-undang Darurat Nomor 2 dan 3 Tahun 1953. Dan pada saat ini wilayah Propinsi Kalimantan Selatan dengan ibukotanya Banjarmasin hanya tinggal wilaya