Anda di halaman 1dari 2

HARI RAYA NYEPI JATUH PADA HARI JUMAT

Hari Raya Nyepi yang bertepatan dengan hari Jumat sempat menimbulkan kekhawatiran bagi umat Muslim di Bali yang harus menunaikan ibadah shalat Jumat. Namun, umat Muslim di Bali dapat bernapas lega karena sesuai kesepakatan forum umat beragama di Bali, ibadah shalat Jumat tetap boleh dilaksanakan dengan catatan menyesuaikan situasi Nyepi. "Boleh keluar rumah menuju masjid atau mushala terdekat di sekitar lingkungan atau desa," ujar Ida Bagus Gede Wiyana, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Bali (Ketua FKUB Bali), kepada Kompas.com, Kamis (22/3/2012). Namun, saat menuju masjid atau mushala tidak diperkenankan menggunakan kendaraan bermotor dan harus berjalan kaki. Sementara itu, bagi yang tempat tinggalnya jauh dari masjid atau mushala bisa berkoordinasi dengan perangkat desa setempat untuk mendirikan tempat shalat Jumat darurat di fasilitas umum lingkungan setempat atau rumah salah seorang warga. "Bagi yang jauh dari masjid bisa mencari fasilitas umum untuk digunakan sebagai lokasi shalat sementara," imbuh Wiyana. FKUB juga menganjurkan kepada umat Muslim yang akan shalat Jumat di masjid untuk mengenakan pakaian Muslim yang biasa digunakan untuk shalat, seperti baju koko dan sarung. Hal ini supaya tidak menimbulkan kecurigaan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan momen ini untuk keluar rumah tanpa maksud yang jelas. "Kalau ke masjid mengenakan pakaian untuk ke masjid supaya nanti pecalangnya juga tahu," urainya. Kesepakatan bersama ini juga mengatur waktu yang diperbolehkan untuk keluar rumah. "Pukul 11.00 dipersilakan menuju masjid, dan pukul 14.00 harus kembali di rumah," ucapnya.

KETERBUKAAN BUDAYA Apabila pada masa lalu orang cenderung terkungkung dalam budayanya sendiri dan tidak acuh terhadap budaya orang lain, kini orang perlu hidup dan bertumbuh kembang dalam suatu budaya global tanpa perlu kehilangan jati diri merek sendiri. Di alam keterbukaan budaya, yang justru paling diperlukan adalah pengenalan dan keyakinan pada diri sendiri, termasuk budaya dan jati dirinya. Orang perlu yakin pada kebesaran budayanya tanpa perlu merendahkan budaya orang lain. Mereka perlu berkembang menjadi sosok yang lebih cosmopolitan, tetapi tetap menghargai tradisi. Mereka perlu mengaktualisasikan kembali budaya mereka dalam konteks dunia kontemporer. Di Indonesia, orang perlu mempertanyakan kembali praktik kebersamaan, kesetiaan, dan kekeluargaan yang selama beberapa tahun terakhir telah diintepretasikan secara menyimpang menjadi korupsi, kolusi, dan nepotisme negative dan merugikan masyarakat. Kita perlu mengartikulasikan kembali makna budaya yang selama ini dihayati. Kita perlu membuka diri untuk menerima bahwa bangsa lain bisa saja memiliki budaya yang berbeda, tetapi pada saat yang sama kita perlu menghargai budaya orang lain. Kita juga perlu menyadari bahwa berbagai unsure budaya kita perlu diselaraskan artikulasinya dengan perkembangan dunia, termasuk perkembangan dunia bisnis dan dunia kerja yang terjadi diseluruh dunia. Pada saat yang sama, kita juga perlu membiasakan diri bekerja di dalam tatanan budaya yang didasari oleh tata nilai yang universal, seperti keterbukaan, kejujuran, keadilan, dan nondiskriminasi, karena kerjasama internasional yang sangat dibutuhkan pada masa depan, didasarkan pada nilai nilai tersebut. Di tingkat perusahaan, budaya keterbukaan yang dialogic perlu menggantikan budaya petunjuk dan pengarahan yang merupakan perwujudan hubungan patron-klien di tempat kerja. Pekerja diharapkan patuh dan sepenuhnya percaya kepada pucuk pimpinan perusahaan, tanpa kehilangan sifatnya yang kritikal. Pada saat yang sama, mentalitas berlebih (abundance mentality) perlu menggantikan mentalitas keterbatasan (scarcity mentality) dengan cara mendorong kebiasaan berbagi (sharing) diantara sesame anggota perusahaan dan diantara perusahaan dengan mitra bisnisnya. Fokus manajemen orang (people management) yang semula ada pada peningkatan prestasi individu pekerja perlu pula digantikan dengan cara lebih memperhatikan prestasi tim. System imbalan perlu pula disesuaikan sehingga lebih mencerminkan pergeseran fokus pada kerja tim yang mampu memunculkan keberdayaan kolektifnya. System manajemen yang semula beroreintasi pada hasil dan keluaran, kini perlu lebih diorientasikan pada perbaikan proses dan penyesuaian perilaku. Untuk mewujudkan semua ini diperlukan budaya kerja transformasional yang dilandasi rasa saling percaya untuk melengkapi cara bekerja transaksional yang selama ini dipraktikkan.