Anda di halaman 1dari 4

FLUIDISASI

Bila zat cair atau gas dilewatkan melalui lapisan hamparan partikel padat pada kecepatan rendah, partikel-partikel itu tidak bergerak, dan penurunan tekanannya dapat ditentukan dengan persamaan ergun (7-20). Jika kecepatan fluida berangsur-angsur dinaikkan, partikel-partikel itu akhirnya akan mulai bergerak dan melayang didalam fluida. Istilah fluidisasi dan hamparan fluidisasi biasa digunakan untuk memeriksa keadaan partikel yang seluruhnya dalam keadaan melayang (suspensi), karena suspensi ini berprilaku seakan-akan fluida rapat. Jika hamparan itu dimiringkan, permukaan atasnya akan tetap horizontal dan benda-benda besar akan mengapung atau tenggelam di dalam hamparan itu bergantung pada perbandingan densitasnya terhadap suspensi. Zat padat yang terfluidisasi dapat dikosongkan dari hamparannya melalui pipa dan katup sebagaimana halnya suatu zat cair, dan sifat fluiditas ini merupakan keuntungan utama dari penggunaan fluidisasi untuk menangani zat padat. Kondisi fluidisasi. Perhatikan suatu tabung vertikal yang sebagian berisi dengan bahan butiran, misalnya katalis untuk proses perengkahan katalitik, sebagaimana terlihat pada skema gambar 7.8. Tabung itu turbulen pada bagian atas dan mempunyai plat berpori pada bagian bawah untuk mendukung katalis itu serta untuk menyebarkan aliran secara seragam pada keseluruhan penampang.

Gambar 7.8. Penurunan tekanan dan tinggi hamparan vs. Kecepatan semu di dalam hamparan zat padat.

Udara dimasukkan di bawah plat distribusi dengan laju lambat, dan naik ke atas mel;alui hamparan tanpa menyebabkan terjadinya gerakan pada partikel. Jika partikel itu cukup kecil, aliran di dalam saluran di antara partikel-partikel dalam hamparan itu akan bersifat laminer dan penurunan tekanan pada hamparan itu akan sebanding dengan kecepatan semu Vo [Pers. (7.23)]. Jika kecepatan itu berangsur-angsur dinaikkan, penurunan tekanan akan meningkat, tetapi partikel-partikel itu masih tetap tidak bergerak dan tinggi hamparanpun tidak berubah. Pada kecepatan tertentu, penurunan tekanan melintasi hamparan itu akan mengimbangi gaya gravitasi yang di alaminya, dengan kata lain mengimbangi bobot hamparan, dan jika keepatan masih dinaikkan lagi, partikel itu akan mulai bergerak. Titik ini digambarkan oleh titik A pada grafik. Kadang-kadang hamparan itu memuai sedikit, tetapi butiran-butiran itu masih tetap bersinggungan satu sama lain , karena kenaikan sedikit saja akan dapat mengimbangi kenaian beberapa % pada V 0, dan menyebabkan P tetap konstant. Jika kecepatan itu terus ditingkatkan lagi, partikelpartikel itu akan memisah dan menjadi cukup berjauhan satu sama lain sehingga dapat berpindah-pindah di dalam hamparan itu, dan fluidisasi sebenarnya pun mulai terjadi (titik B). Jika hamparan itu sudah terfluidisasi, penurunan tekanan melintasi hamparan tetap konstant akan tetapi tinggi hampaan bertambah terus jika aliran ditingkatkan lagi. Hamparan itu dapat dioperasikan pada kecepatan yang cukup tinggi tanpa menyebabkan kehilangan zat padat karena hamparan semu yang dibutuhkan untuk mendukung hamparan partikel itu jauh lebih kecil dari kecepatan terminal masing-masing partikel. Jika laju aliran ke hamparan fluidisasi itu perlahan-lahan diturunkan, penurunan tekanan tetap sama, tetapi tinggi hamparan berkurang, mengikuti garis BC yang diamati pada waktu penambahan kecepatan. Akan tetapi tinggi akhir hamparan akan lebih besar dari nilai hamparan diam semula. Jika fluidisasi dimulai kembali, penurunan tekanan akan mengimbangi bobot hamparan pada titik B, titik inilah yang akan kita anggap sebagai kecepatan fluiditas minimum V0M dan bukan titik A. Untuk mengukur V0M hamparan tersebut harus difluidisasikan terlebih dahulu, dibiarkan mengendap dengan mematikan aliran gas dan laju aliran dinaikkan lagi perlahan-lahan sampai hamparan itu mengembang. Nilai V0M yang dapat diproduksi (lebih mantap) bisa didapatkan dari titik potong grafik penurunan tekanan pada hamparan diam dan pada hamparan fluiditas. Kecepatan fluidisasi minimum. Persamaan mengenai kecepatan minimum fluidisasi bisa didapatkan dengan membuat penurunan tekanan melintasi hamparan itu sama dengan bobot hamparan persatuan luas penampang, dengan memperhitungkan gaya apung dari fluda yang di anjakkan:

P=

g ( 1 ) ( p ) L gc

Pada awal fluidisasi merupakan porositas minimum atau m. Jadi, P g = ( 1 ) ( p ) L gc (7.51)

Persamaan ergun untuk penurunan tekanan pada hamparan curah dapat disusun kembali menjadi;
2 P gc 150 Vo ( 1 ) 1,75 V o ( 1 ) = + L 2 D2 3 2 D2 3 2

(7.52) Untuk partikel yang sangat kecil, hanya suku laminer ada persamaan ergun yang signifikan dengan NRe,p < 1, persamaan fluidisasi minimum menjadi
V om g ( p ) 1 150

g ( p ) 3 m 2 2 V om D 150 1 m m 2 D2 (7.53)

Kebanyakan persamaan empiris menyatakan bahwa Vom berubah sedikit lebih kecil dari pangkat 2,0 ukuran partikel dan tidak persis menurut kebalikan viskositas. Penyimpanga keil dari eksponen yang di harapkan merupakan akibat dari kesalahan pada waktu mengabaikan suku ke dua persamaan Ergun, dan karena fraks kosong berubah menurut ukuran partikel . Untuk partikel yang dianggap berbentuk bola, biasanya berkisar antara 0,40 dan 0,45 . Untuk zat
m

padat yang bentuknya tidak beraturan, ketidakpastian dalam sumber utama kesalahan dalam meramalkan V0M.

merupakan

Kecepatan minimum fluidisasi partikel didalam udara ditunjukkan pada gambar 7.9. perlu dicatat bahwa ketergantungan terhadap Dp2 berlaku untuk partikel yang diameternya sampai 300, dalam berbagai penerapan fluidisasi, partikel itu berukuran antara 30 - 300m,

namun fluidisasi juga digunakan untuk partikel yang lebih besar dari 1 mm, sebagaimana dalam hal pembakaran batu bara dalam hamparan fluidisasi. Dengan partikel yang berukuran sangat besar, suku aliran laminer menjadi dapat diabaikan dan VoM berubah sesuai dengan akar pangkat dua ukuran partikel, Persamaan NRe,p > 103 adalah