Anda di halaman 1dari 4

Gender and Feminism Mainstream dalam hubungan internasional bersifat state-centric[1].

Oleh karena itu beberapa aliran pemikiran mencoba menggeser peranan negara kedalam unit satuan masyarakat yang lebih kecilyaitu masyarakat. Masyarakat dalam kenyataannya mengkonstruksikan pria sebagai individu yang bekerja dalam sektor pabrik sementara wanita bekerja dalam sektor domestik (Herwanto 2011) sehingga muncul perasaan ketidakadilan. Wanita merasa perannya terwakilkan oleh pria dan merasa termarjinalkan dan dijadikan subordinasi atas dasar apa yang dia miliki. Wanita juga merasa bahwa sudah seharusnya partisipasi politik yang ia miliki didengar dan adanya keinginan untuk berperan dalam pemerintahan, merumuskan strategi dan kebijakan suatu negara. Intinya wanita menginginkan adanya persamaan hak antara wanita dan priameskipundalamkapasitassex yang dimilikinya[2].

Feminisme memasuki ranah Hubungan Internasional pada tahun 1980an melalui perdebatanpedebatan yang terbuka; sebagai sebuah disiplin yang termarjinalkan. Dalam Hubungan Internasional, feminisme mengungkapkan bahwa telah terjadi diskriminasi atas posisi wanita dalam politik internasional. Beranjak dari semangat emansipatoris untuk menyeimbangkan posisi wanita dengan pria dengan memusatkan gender sebagai kategori analisis sentral tertentu yang berhubungan dengan power relation. Artinya bahwa gender adalah bagian dari tatanan internasional dan memandang dengan menggunakan lensa gender adalah hal penting untuk merevisi studi Hubungan Internasional sebagai upaya membawa diskursus ini ke dalam kerangka teori Hubungan Internasional.

Ada beberapa varian dari feminism. Steans, Pettiford, dan Diez (2005 p.157) menyatakan bahwa categorization which divides feminism into liberal, Marxist, Radical, standpoint, critical and post-structuralist strands. Menurut Elizabeth Cady Stanon sebagai seorang feminis liberalis, woman was not ordained by God or determined by nature but society. Partisipasi wanita dalam kehidupan publik adalah kunci untuk memajukan status wanita.Wanita tidaklah sepenuhnya berbeda dengan pria, memiliki kapabilitas dalam mengembangkan intelektualitas dan moral, memiliki sifat rasional dan oleh sebab itu, ia seharusnya memiliki hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik, misalnya berkontribusi dalam debat politik, sosial, dan isu moral. Aliran feminis yang kemudian menamakan dirinya dengan feminis-marxis, melihat ketimpangan pada emansipasi manusia semakin jelas dengan munculnya kapitalisme. Kapitalisme, malah menciptakan subordinasi sosial yang baru berdasarkan perbedaan sex. Selainitu, posisi wanita dipandang seakan-akan sudah berada pada posisi yang sama dalam istilah privat atau home, memberikan sense dalam setiap aktifitas pria sehingga berkaca pada hal tersebut, feminis marxis melihat bahwa terdapat campur tangan wanita didalamnya. Sehingga dalam kesadarannya, wanita selayaknya bisa melakukan hal yang dilakukan oleh pria.

Feminisme radikal mengatakan bahwa kebebasan wanita hanya akan dapat dicapai melalui transformasi terhadap ranah pribadi dalam hubungan manusia (Steans, Pettiford, dan Diez 2005 p.161). Feminis radikal melihat adanya konsep patriarki dalam hal dominasi pria atas

wanita. Oleh sebab itu, mereka melihat bahwa masalah sebenarnya ada pada masyarakat. Masyarakatlah yang sebenarnya mengkonstruksikan perbedaan tersebut dengan kultur yang ada pada masyarakat tersebut. Jadi dapat konklusikan bahwa argument tentang perbedaan gender kadangkala merefleksikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting untuk dipahami karena berfluktuasi dalam hal kultur, waktu dan masyarakat.

Feminis-kritikal juga berargumen bahwa isu gender merupakan sebuah konstruksi sosial yang dikonstruksikan sebagai menegaskan perbedaan perlakuan antara pria dan wanita (Steans,Pettiford, dan Diez 2005 p.162). Pandangan tentang konstruksi sosial tersebut juga dijadikan dasar untuk mengkonstruksikan kebebasan dan memperluas otonomi wanita dalam menjalankan kehidupannya. Identitas gender ditempa melalui proses sosialisasi menurut feminisme-standpoint. Mereka melihat bahwa pengetahuan masyarakat dapat dilihat dari sudut pandang wanita berbasis pada pengalaman wanita sehingga isu wanita bergeser dari yang termarjinalkan menjadi terpusat sebagai subjek dalam Hubungan Internasional. Posstrukturalis feminism memberikan kritik pada feminis-standpoint dengan berpendapat bahwa there is no authentic womens experience or standpoint from which to construct an understanding of social and political world, because womans lives are embedded in specific sosial and cultural relation (Steans,Pettiford, dan Diez 2005 pp.162-163). Gender dapat dipahami lebih pada bahasa, simbol dan penjelasan mengenai struktur wanita dalam kehidupannya sehari-hari dalam masyarakat yang berbeda-beda. Gender lebih kearah diskursus dan tidak memiliki esensi yang fix atau mengadopsi gender sebagai kategori analisis yang stabil, melainkandalam hal konteks historis, sosial, budaya dan institusional yang terhubung dengan gender.

Dari beberapa varian feminism tersebut dapat dipahami beberapa hal: (1) feminis-liberalis, marxis, dan radikal tidak setuju mengenai bagaimana wanita menantang dan menyelesaikan masalah ketidaksamaan dan subordinasi, cenderung memakai pandangan optimis tentang perkembangan manusia. Postrukturalis-feminis melihat bahwa tidak ada sebuah grup yang mempengaruhi hasil yang universal yaitu emansipasi manusia. Mereka lebih melihat bahwa terdapat relasi power yang ikut campur tangan dalam pengkonstruksian gender dalam sebuah masyarakat.

Feminisme melihat bahwa manusia bukanlah sebuah entitas yang bersifat abadi, dan berdasarkan perspektif feminism, kita tidak dapat melihat perbedaan antara fakta dan nilai. Menurut feminisme, terdapat hubungan kuat antara pengetahuan dan power dan antara teori dan praktis mengenai bagaimana hubungan fisik manusia dengan lingkungan sekitarnya. Feminisme optimis memberikan komitmen dalam pencapaian perkembangan social dalam liberasi wanita.

Dalam melihat beberapa aspek dalam hubungan interanasional dengan esensi-esensi yang ada dalam hubungan internasional berazaskan persamaan gender. Dalam negara dan power, Feminism mencermati bagaimana cara meningkatkan status wanita di seluruh penjuru dunia,

meningkatkan partisipasi wanita dalam kehidupan publik, supaya memiliki akses yang sama terhadap power dalam hubungaan suatu Negara. Feminism juga mempertanyakan status wanita dan mempertanyakan posisi wanita dalam hubungan internasional, seberapa jauh wanita direpresentasikan atau tidak direpresentasikan dalam hubungan internasional, apa strategi terbaik untuk mengatasi diskriminasi yang terjadi terhadap wanita dan memberi wanita kontrol terhadap dirinya sendiri untuk mengatur kehidupannya secara independen. Mereka menginginkan agar wanita diikutsertakan dalam proses pengambilan kebijakan suatu negara, dalam artian wanita diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari kekuasaan yang tengah memerintah. Negara juga bisa membantu meningkatkan status wanita, yakni dengan cara memberlakukan pro-woman legislation dan melarang praktik diskriminasi yang merugikan kaum wanita. Identitas dan komunitas juga menjadi hal yang penting dalam hubungan internasional. Perang, kebijakan luar negeri, diplomasi, dan representasi lain atas identitas nasional dan kepentingan nasional merupakan pusat dalam komunitas.

Dan institusi dan tatanan dunia sebagai proyek pembangunan negara harus mengikutsertakan wanita sebagai bagian yang cukup signifikan. Keikutsertaan wanita dalam pembangunan negara menunjukkan bahwa wanita memiliki rasa nasionalisme/kecintaan terhadap negerinya. Institusi dan tatanan dunia dalam kaitannya dengan gender dianggap sebagai faktor sentral dalam memahami tatanan dunia. Gender juga dianggap sebagai suatu bentuk spesifik dari ketidaksetaraan yang didukung dan diabadikan oleh institusi-institusi sosial. Selainitu, tema yang diusung feminism adalah ketidaksetaraan dan keadilan. Keadilan merupakan sentral dari teori feminiskarenapadaawalnyamemang sejak abad 18, feminisme telah menegaskan bahwa telah terjadi ketidaksamaan nilai moral antara pria dan wanita. Kaum feminis menuntut adanya keadilan yang sama bagi wanita. Hal ini diperdebatkan secara aktif, agar segera dicanangkan sebagai hak asasi. Keadilan juga berkaitan dengan perdamaian dan keamanan. Sesungguhnya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keamanan dunia, yakni stabilitas ekonomi global, perubahan iklim, kemiskinan dan kelaparan, kekerasan HAM, dan sebagainya.Tetapi keterhubungan manusia, dialog dan kerjasama merupakan solusi terbaik dibandingkan dengan kekerasan. Intinya, perdamaian harus dicapai lewat cara yang lembut. Perdamaian dengan cara yang lembut ini bisa terjadi jika melibatkan unsur. Dalam kaitannya dengan konflik dan kekerasan, feminisme menolak untuk memandang kekerasan sebagai tindakan individu, justru mereka memandang bahwa negaralah yang melakukan tindak kekerasan.Kekerasan bukan merupakan fenomena endemik dalam Hubungan Internasional, oleh sebab itu perdamaian masih bisa dicapai.

referensi : Steans, Jill and Pettiford, Lloyd & Diez, Thomas, 2005. Introduction to International Relations, Perspectives & Themes, 2nd edition, Pearson & Longman, Chap. 6, pp. 155-180.

[1]Dikatakan bersifat state-centric karena pada awalnya kemunculan negara merupakan sebuah entitas yang melulu dibahas dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang bersifat problem solving. Individu bukan suatu entitas yang secara khusus dipandang sebelum

munculnya paham-paham baru mengenai pentingnya individu. Munculnya teori kritis telah membawa pemahaman bahwa terdapat pemahaman baru mengenai pemeran dalam hubungan internasional, masyarakat dan individu, pria dan wanita. [2]Wanita dalam masyarakat dikonstruksikan sesuai dengan apa yang dimilikinya. Wanita dengan sense yang lebih mengarah pada perasaan dan lembut, sementara pria yang lebih cenderung kearah rasionalitas dan cenderung highpolitics dan lain sebagainya.