Anda di halaman 1dari 3

PEMERIKSAAN KLINIS Pemeriksaan klinis untuk pasien dengan kemungkinan gangguan fungsi / penyakit TMJ sebagian besar didasarkan

atas pengamatan/pemantauan, palpasi atau auskultasi (Pedersen 1996). Oklusi Pemeriksaan gigi secara menyeluruh dengan memperhatikan khususnya factor oklusi, merupakan awal yang tepat. Gangguan oklusi secara umum bisa langsung diperiksa, yaitu misalnya gigitan silang (crossbite), gigitan dalam (deep overbite), gigi supraerupsi dan daerah tak bergigi yang tidak direstorasi. Abrasi ekstrem dan aus karena pemakaian seringkali merupakan tanda khas penderita bruxism atau clenching, yang bisa langsung dikenali. Protesa yang digunakan diperiksa stabilitas, fungsi dan abrasi/aus pada oklusal. Perhatikan kemungkinan perbedaan oklusi/ relasi sentrik dan pergeseran (Pedersen 1996). Pembukaan antar insisal Luas pergerakan mandibula juga dievaluasi pada tahap selanjutnya. Pembukaan antar insisal bervariasi lebarnya, tetapi biasanya pada orang dewasa sekitar 40 hingga 50 mm. pembukaan antar insisal diukur dengan penggaris millimeter atau jangka, dengan memperhatikan overbite vertikalnya. Pada keadaan closed lock luas pergerakan berkurang, dan pemukaan sering terbatas hanya sekitar 25-30mm. spasme otot juga menyebabkan keterbatasan pembukaan antar insisal yang nyata, yang berkisar dari fiksasi total yakni penutupan mandibula dengan paksaan hingga pengurangan 10-30 persen. Spasme otot juga menyebabkan rasa sakit pada akhir pergerkan mandibula, yang terutama dirasakan pada insersio temporalis atau daerah persilangan pterygomasseter. Factor pembatas pergerakan mandibula pada kasus miospasme adalah gerak menahan akibat adanya sakit/tidak enak yang ditimbulkan. Untuk itu, lebih baik membuat dua pengukuran antar insisal, satu secara paksa dan satu tidak. Berkurangnya luas pergerakan mandibula juga terlihat pada kasus hipertrofi prosesus coronoideus bilateral yang jarang terjadi (Pedersen 1996). Pergerakan Lain Pergeseran lateral juga diukur, biasanya pada titik atau garis tengah, dan dibandingkan kesimetrisannya (Angka yang didapat biasanya 8 hingga 10 mm). Gangguan internal, misalnya dilokasi discus, akan membatasi pergeseran ke sisi yang berlawanan. Dengan adanya fraktur unilateral pada subcondylarys pergeseran ke sisi yang berlawanan tidak terjadi atau berkurang. Bila musculus pterygoideus lateralis inferior mengalami spasme, usaha menggeser ke samping, ke sisi berlawanan akan menimbulkan rasa sakit. Pergerakan protrusive diukur saat terjadi celah antara tepi insisal gigi-gigi anterior. Pergerakan protrusive (yang normalnya 6-10 mm) mungkin tidak terlalu terbatasi pada kasus spasme otot elevator, bahkan walaupun jarak antar insisal cukup banyak berkurang (Pedersen 1996).

Deviasi Deviasi mandibula baim pada saat membuka mulut atau protrusi akan terlihat jelas dan seringkali berhubungan dengan gangguan fungsi pasca-trauma atau gangguan kronis atau akut. Osteo arthritis akan menyebabkan deviasi kea rah sisi yang terkena pada sat membuka mulut. Jika terdapat dislokasi discus ke anterior, maka gerakan membuka mulut atau gerakan protrusive kadang dapat menyebabkan deviasi ke sisi yang mengalami disfungsi. Bila ada spasme unilateral pada musculus masseter atau temporalis, maka deviasi akan mengarah ke sisi yang terkena (Pedersen 1996). Palpasi Palpasi dilakukan perkuatan maupun peroral dan melibatkan jaringan lunak dank eras. Pada bagian fasial, mandibula dapat dipalpasi pada tepi posterior dan tepi bawah, dari symphisis hingga processus condylaris. Kutub lateral dari processus condylarys paling baik dideteksi melalui region subzygomatic/ preauricular. Palpasi bilateral pada saat pergeseran mandibula merupakan data yang paling utama, khususnya bila terdapat keterbatasan unilateral yang nyata. Aspek lateral posterior dari sendi bisa dipalpasi pada ujung endaural. Palpasi endaural pada kedua sisi secara bergantian pada saat pergeseran mandibula seringkali memberikan gambaran yang jelas. Karena bentuk palpasi langsung ini tidak menimbulkan tekanan pada otot yang terlibat, maka nyeri saat disentuh kemungkinan berasal dari intra-artikular, misalnya artritides, trauma, atau kapsulitis (Pedersen 1996). Palpasi otot Kombinasi palpasi bidigital/ bimanual perkuatan dan peroral pada musculus suprahyoideus dan sublingualis bisa dilakukan langsung. Palpasi otot yang berhubungan dengan sendi juga bisa dilakukan langsung. Palpasi otot yang berhubungan dengan sendi juga bisa dilakukan dengan mudah, kecuali untuk m. pterygoideus lateralis yang sulit dijangkau. Musculus masseter dan temporalis berada di superficial dan bisa langsung di palpasi pada wajah. Perlekatan musculus temporalis pada processus coronoideus dan tepi anterior musculus masseter juga bisa dievaluasi peroral. Musculus pterigoideus interna dapat di raba melalui rongga mulut dan wajah, pada aspek inferomedial ramus, yang merupakan tempat perlekatan otot tersebut (Pedersen 1996).. Palpasi Servikal Palpasi musculus sternocleidomastoideus, musculus trapezius, dan otot-ototo lain pada servikal posterior didindikasikan jika diduga terjadi sindrom MDP atau jika pasien menunjukkan penyebaran rasa nyeri pada daerah tersebut. Sekali lagi, di sini digunakan teknik bimanual bilateral. Pada palpasi akan teraba adanya muscle splinting (otot mengencang) dan kejang otot jika kondisi tersebut telah menimbulkan rasa sakit dan nyeri tekan pada otot. Penekanan otot

tehadap tulang dibawahnya digunakan untuk mendeteksi trigger point miofasial. Trigger point ini dikenali dengan adanya sakit/nyeri local dan nyeri yang menyebar (Pedersen 1996). Auskultasi Auskultasi stetoskop pada sendi memungkinkan penentuan sifat dan waktu timbulnya bunyi abnormal secara lebih tepat. Penentuan kliking dan besar pembukaan insisal dipermudah dengan auskultasi. Kliking yang terjadi pada awal fase membuka mulut menunjukkan dislokasi discus anterior ringan, sementara kliking yang terjadi atau timbul lebih lambat berkaitan dengan kelainan meniscus. Pada kasus kliking resiprokal, terjadi bunyi klik pada saat membuka dan memendekkan jarak antara kliking seringkali menunjukkan suatu pergeseran discus yang kronis dan sudah berlangsung lama, yang dapat berkurang denga sendirinya. Krepitus sendi yang ditunjukkan melalui bunyi kemeretak atau mencericit yang lebih sering timbul pada saat translasi dibandingkan dengan rotasi kemungkinan merupakan tanda-tanda DJD. Perforasi perlekatan posterior discus juga berkaitan dengan krepitus sendi. Pergerakan TMJ yang normal akan menimbulkan suara perlahan, sebagaimana pada sendi yang terkena penyakit ekstraartikular. Secara umum, sendi yang sehat tidak akan menimbulkan suara, sementara pada saat pergeseran atau ekskursi akan timbul suara fungsional (biasanya tidak ada suara kemeretak atau kliking). Yang menarik adalah terdapatnya sekelompok penderita yang asimtomatik, tetapi menunjukkan kliking pada sendi, yang harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding dari disfungsi TMJ (Pedersen 1996).