Anda di halaman 1dari 4

Sediaan emulsi

Definisi emulsi Emulsi adalah Sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok ( farmakope Indonesia III). Emulsi adalah Sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lain, dalam bentuk tetesan kecil (farmakope Indonesia IV). emulsi adalah suatu dispersi dimana fasa terdispersi terdiri dari bulatan bulatan kecil yang terdistribusi keseluruh pembawa yang tidak bercampur (ansel,1981). Menurut remington (pharmaceutical practice), emulsi adalah sistem heterogen yang terdiri dari tetesan-tetesan cairan yang terdispersi dalam cairan lain.

Keuntungan sediaan emulsi 1. Dapat membentuk sediaan yang saling tidak tercampur menjadi bersatu membentuk sediaan yang homogen dan stabil. 2. 3. 4. Bagi orang yang susah menelan tablet dapat menggunakan sediaan emulsi Dapat menutupi rasa tidak enak obat dalam bentuk cair. Ukuran partikel minyak yang diperkecil lebih mudah dicerna dan dapat mempermudah absorbsi 5. 6. Viskositas, penampilan dan banyaknya lemak dari emulsi kosmetik bisa di kontrol. Aksi dapat diperpanjang dan efek emolient lebih besar

Kerugian sediaan emulsi : 1. 2. Pembuatan sediaan emulsi lebih susah daripada sediaan tablet. Sediaan emulsi mempunyai stabilitas yang rendah daripada sediaan tablet, karena cairan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. 3. takaran dosis sediaan emulsi kurang teliti.

Teori pembentukan emulsi 1. Teori tegangan permukaan Daya kohesi suatu zat selalu sama sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan terjadi pada permukaan tersebut dinamakan dengan tegangan permukaan surface tension. Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang tidak dapat bercampur immicble liquid. Tegangan yang terjadi antara 2 cairan dinamakan tegangan bidang batas interface tension. 2. Teori orientasi bentuk baji Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi berdasarkan adanya kelarutan selektif dari bagian molekul emulgator yang mempunyai bagian yang hidrofilik dan lipofilik. 3. Teori film plastik (interfacial film) Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dengan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers atau fase internal. Dengan terbungkusnya partikel tersebut, usaha antar partikel sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain, fase dispers menjadi stabil. 4. Teori lapisan listrik rangkap (electric double layer) Jika minyak terdispersi ke dalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan di depannya. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh dua benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha partikel minyak yang akan melakukan penggabungan menjadi satu molekul yang besar, karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak yang mempunyai susunan yang sama. Dengan demikian, antara sesama partikel akan tolak menolak dan stabilitas akan bertambah. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ketiga cara di bawah ini: a. b. c. Terjadinya ionisasi molekul pada permukaan partikel. Terjadinya adsorpsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya. Terjadinya gesekan partikel dengan cairan di sekitarnya.

Tipe emulsi 1. emulsi minyak dalam air (m/a atau o/w) adalah sediaan emulsi dimana fasa minyak terdispersi dalam bentuk globul-globul didalam fasa air 2. emulsi air dalam minyak (a/m atau w/o) adalah sediaan emulsi dimana fasa air terdispersi dalam bentuk globul-globul didalam fasa minyak.

Komponen emulsi Digolongkan menjadi 2 macam yaitu : 1. Komponen Dasar Bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi, biasanya terdiri dari: a. Fase dispers / fase internal / fase diskontinyu Yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain. b. Fase kontinyu / fase eksternal / fase luar Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut. c. Emulgator Adalah zat yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. 2. Komponen Tambahan Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis,odoris, colouris, preservatif (pengawet), antoksidant. Preservatif yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol, dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetat dll. Antioksidant yang digunakan antara lain asam askorbat, L.tocoperol, asam sitrat, propil gallat dan asam gallat.

Jenis emulgator 1. golongan bahan alam : 2. polisakarida : akasia (gom arab), tragakan, Na-alginat, atarch/amilum, caragen, pektin, agar. senyawa yang mengandung sterol : beeswax, wool-fat.

golongan semisintetik : metil selulosa, dan CMC-Na (CarboxyMethylCelulosa-Na)

3.

golongan emulgator sintetik : surfaktan

Cara pembuatan emulsi


1.

metode kontingental (gom kering) : membuat emulsi primer atau korpus emulsi dengan perbandingan bahan minyak : air : emulgator (4:2:1)

2.

metode inggris (gom basah) : cocok untuk emulsi dengan bahan minyak yang kental, caranya dengan membuat mucilago yaitu 1 bagian gom dengan 2 bagian air, ditambah minyak sedikit demi sedikit lalu digerus cepat.

3.

metode botol : cocok pada bahan minyak atsiri maupun minyak dengan kekentalan yang rendah, caranya dengan mencampurkan 1 bagian emulgator dalam botol lalu tambahkan 2 bagian minyak atsiri, lalu kocok hingga terbentuk emulsi, kemudian tambahkan fasa luar sedikit demi sedikit.

4.

metode penyabunan : cara ini dengan menambahkan emulgator, minyak bereaksi dengan alkali/basa akan membentu emulsi.