Anda di halaman 1dari 28

No. 100.

700 / 2008

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia

Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 05/K/I-XIII.2/5/2008

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia 2008

KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 05/K/1-III.2/5/2008

TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENETAPAN BATAS MATERIALITAS PEMERIKSAAN KEUANGAN

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia 2008

LAMPIRAN
KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSAAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 05/K/1-III.2/5/2008 Tanggal 30 Mei 2008

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................................................1 A. Latar Belakang........................................................................................................................1 B. Tujuan.....................................................................................................................................1 C. Lingkup...................................................................................................................................1 D. Dasar Hukum Penyusunan Juknis ..........................................................................................2 E. Sistematika Penulisan .............................................................................................................2 BAB II GAMBARAN UMUM MATERIALITAS .....................................................................3 A. Pengertian Materialitas ...........................................................................................................3 B. Jenis Materialitas ....................................................................................................................3 C. Materialitas dan Tolerable Error (TE) ...................................................................................4 BAB III TEKNIK PENETAPAN BATAS MATERIALITAS ..................................................5 A. Umum .....................................................................................................................................5 B. Penentuan Dasar Penetapan Materialitas................................................................................5 C. Penentuan Tingkat Materialitas ..............................................................................................6 D. Penetapan Nilai Materialitas Awal (PM)................................................................................7 E. Penetapan Tingkat Kesalahan yang Dapat Ditoleransi...........................................................7 F. Pertimbangan atas PM, TE, Bukti, dan Opini ........................................................................8 G. Pertimbangan Kualitatif atas Materialitas ..............................................................................9 H. Dokumentasi.........................................................................................................................10 BAB IV PENUTUP......................................................................................................................11 A. Pemberlakuan Petunjuk Teknis Penetapan Materialitas.......................................................11 B. Pemutakhiran Petunjuk Teknis Penetapan Materialitas .......................................................11 C. Pemantauan Petunjuk Teknis Penetapan Materialitas ..........................................................11 Referensi ... ...........12 Lampiran-lampiran

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 3.1 Penetapan PM Lampiran 3.2 Alokasi TE Lampiran 3.3 Perubahan PM Lampiran 3.4 Pertimbangan Kualitatif

Juknis Penetapan Batas Materialitas

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
01 Dalam melaksanakan pemeriksaan, pemeriksa selalu dihadapkan dengan berbagai keterbatasan seperti waktu, sumber daya manusia, dan biaya sehingga pemeriksa tidak mungkin melakukan pengujian atas seluruh transaksi dalam suatu entitas yang diperiksa. Keterbatasan-keterbatasan tersebut menimbulkan kebutuhan bagi pemeriksa untuk mempertimbangkan materialitas dalam pemeriksaan. 02 Standar Pemeriksan Keuangan Negara (SPKN) mensyaratkan pemeriksa untuk merencanakan pemeriksaan sebaik-baiknya, menguji pengendalian intern, dan memperoleh bukti kompeten yang cukup. Untuk melaksanakan SPKN tersebut dan mempertimbangkan keterbatasan-keterbatasan di atas, pemeriksaan dilakukan dengan mempertimbangkan konsep materialitas. 03 Konsep materialitas secara praktik telah banyak dilakukan dalam pemeriksaan keuangan. Hasil pemeriksaan keuangan mengungkapkan opini kewajaran suatu laporan keuangan terhadap standar akuntansi yang berlaku dalam segala hal yang material. Hasil pemeriksaan berupa opini tersebut diperoleh dari suatu reasonable assurance (keyakinan yang memadai) bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji yang material. 04 Dengan demikian, materialitas merupakan salah satu konsep penting dan mendasar di dalam pemeriksaan keuangan. Hal ini disebabkan penetapan materialitas mempengaruhi pemberian opini atas kewajaran suatu laporan keuangan. 05 Penetapan batas materialitas merupakan pertimbangan profesional pemeriksa. Namun, SPKN yang memberlakukan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) mengatur perencanaan pemeriksaan dengan mempertimbangkan materialitas. 07 Berdasarkan hal-hal di atas, penetapan materialitas dalam pemeriksaan perlu diatur dalam suatu petunjuk teknis sebagai penjabaran dari SPKN, SPAP, dan petunjuk pelaksanaan serta petunjuk teknis terkait lainnya sehingga pemeriksa memiliki dasar atau justifikasi serta keseragaman dan konsistensi dalam menetapkan materialitas.
Perlunya pedoman penetapan materialitas Keterbatasan dalam pemeriksaan

Perencanaan & bukti terkait dengan materialitas

Konsep materialitas dalam pemeriksaan

B. Tujuan
08 Tujuan petunjuk teknis penetapan batas materialitas adalah untuk memberikan pedoman secara teknis tentang cara penetapan batas materialitas dalam pemeriksaan.

C. Lingkup
09 Petunjuk teknis ini hanya mengatur penetapan batas materialitas dalam pemeriksaan keuangan dhi pemeriksaan laporan keuangan.
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan Lingkup juknis

hal 1 dari 12

Juknis Penetapan Batas Materialitas Keterkaitan dengan perangkat lunak lainnya

10 Petunjuk teknis ini merupakan penjabaran dari petunjuk pelaksanaan pemeriksaan keuangan terutama langkah ke-7 tahap perencanaan pemeriksaan keuangan, yaitu penetapan materialitas awal (PM) dan kesalahan tertoleransi (TE). Selain itu, juknis ini terkait dengan juknis pemahaman dan penilaian risiko, juknis uji petik dalam pemeriksaan keuangan, juknis pemeriksaan LKPP/LKKL, serta juknis pemeriksaan LKPD.

D. Dasar Hukum Penyusunan Juknis


11 Dasar hukum penyusunan juknis penetapan batas materialitas adalah sebagai berikut: a. UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara b. UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan c. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara d. Keputusan BPK RI Nomor 1/K/1-XIII.2/2/2008 tanggal 19 Februari 2008 tentang Panduan Manajemen Pemeriksaan e. Keputusan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 34/K/I-VIII.3/6/2007 Tentang Struktur Organisasi Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia f. Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/K/IVIII.3/7/2007 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelaksana Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia g. Keputusan Kaditama Revbang No..... Tahun ..... tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Keuangan

E. Sistematika Penulisan
12 Petunjuk teknis ini disusun menurut sistematika sebagai berikut: Bab I : Pendahuluan Bab II Bab III Bab IV Referensi Lampiran-Lampiran : : : Gambaran Umum Materialitas Teknik Penetapan Batas Materialitas Penutup

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

hal 2 dari 12

Juknis Penetapan Batas Materialitas

BAB II GAMBARAN UMUM MATERIALITAS


A. Pengertian Materialitas
01 Materialitas adalah besarnya informasi akuntansi yang apabila terjadi penghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, mungkin dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan atas informasi tersebut1. Definisi materialitas tersebut mengakui pertimbangan materialitas dilakukan dengan memperhitungkan keadaan yang melingkupi dan perlu melibatkan baik pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif. Keadaan yang melingkupi yang harus dipertimbangkan pemeriksa dalam menetapkan materialitas di antaranya adalah sifat dan jumlah pos dalam laporan keuangan yang diperiksa. Sebagai contoh, suatu jumlah yang material bagi laporan keuangan suatu entitas mungkin tidak material bagi laporan keuangan entitas lain dengan ukuran dan sifat yang berbeda. Begitu juga, jumlah yang material bagi laporan keuangan entitas tertentu kemungkinan berubah dari satu periode ke periode yang lain. Pertimbangan kuantitatif dalam menetapkan materialitas biasanya disajikan dalam bentuk persentase atau angka tertentu yang ditetapkan pada tahap awal. Angka tersebut menjadi pedoman untuk menetapkan apakah suatu salah saji yang ditemukan dalam pemeriksaan merupakan salah saji yang material. Jumlah salah saji di bawah angka tersebut tanpa dilakukannya pengamatan lebih lanjut dapat dinyatakan tidak material. Pertimbangan kualitatif menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam hal tanggapan pemeriksa terhadap salah saji yang terdeteksi. Umumnya, kekeliruan pada suatu akun yang tidak mempengaruhi akun-akun lainnya dalam laporan keuangan (kekeliruan yang terisolasi), yang tidak material dalam pengolahan data akuntansi atau penerapan prinsip akuntansi dianggap tidak signifikan terhadap pemeriksaan. Sebaliknya, bila pemeriksa mendeteksi adanya kecurangan, pemeriksa harus mempertimbangkan pengaruh (implikasi) integritas manajemen atau karyawan dan kemungkinan dampaknya terhadap aspek pemeriksaan. Misalnya, suatu pembayaran yang melanggar hukum yang jumlahnya tidak material dapat menjadi material, jika kemungkinan besar hal tersebut dapat menimbulkan kewajiban bersyarat yang material atau hilangnya pendapatan yang material.
Keadaan yang melingkupi Pengertian materialitas

02

03

04

Pertimbangan kuantitatif dalam penetapan materialitas

05

Pertimbangan kualitatif dalam penetapan materialitas

B. Jenis Materialitas
06 Pertimbangan pemeriksa tentang materialitas merupakan pertimbangan yang bersifat profesional dan dipengaruhi oleh persepsi yang wajar tentang keandalan dan kepercayaan atas laporan keuangan yang diperiksa. Materialitas mengandung unsur subjektivitas tergantung pada sudut pandang, waktu, dan kondisi pihak yang berkepentingan. Namun, penilaian subjektivitas yang sama dari banyak pihak dapat mengarah pada suatu objektivitas.

Pernyataan Standar Auditing No. 25, Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit, Standar Audit Seksi 312 paragraf 10.
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan hal 3 dari 12

Juknis Penetapan Batas Materialitas

07

Konsep materialitas dapat dikelompokkan menjadi : a. Materialitas Kuantitatif; materialitas yang menggunakan ukuran kuantitatif tertentu seperti nilai uang, jumlah waktu, frekuensi maupun jumlah unit. b. Materialitas Kualitatif; materialitas yang menggunakan ukuran kualitatif yang lebih ditentukan pada pertimbangan profesional. Pertimbangan profesional tersebut didasarkan pada cara pandang, pengetahuan, dan pengalaman pada situasi dan kondisi tertentu.

08

Dalam menentukan materialitas, tidak terdapat kriteria yang baku, tetapi ada faktor yang harus dipertimbangkan pemeriksa dalam menentukan materialitas, yaitu : a. tingkat kepentingan para pihak terkait terhadap objek yang diperiksa, misalnya pada objek laporan keuangan pemerintah, pengguna laporan keuangan memiliki kepentingan yang tinggi terhadap masalah legalitas dan ketaatan pada ketentuan yang berlaku. b. batasan materialitas untuk penugasan pemeriksaan, misalnya batasan materialitas pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat cenderung konservatif karena sektor publik lebih mementingkan pengujian terhadap legalitas, ketaatan terhadap ketentuan yang berlaku.

C. Materialitas dan TE
09 Dalam pemeriksaan laporan keuangan, pemeriksa perlu menetapkan: a. Planning Materiality (materialitas tingkat keseluruhan laporan keuangan. awal), yaitu materialitas untuk

b. Tolerable Error/TE (tingkat kesalahan yang tertoleransi), yaitu materialitas terkait kelas-kelas transaksi, saldo akun, dan pengungkapan 10 Materialitas pada tingkat keseluruhan laporan keuangan merupakan salah saji agregat minimum dalam laporan keuangan yang dianggap dapat menyebabkan laporan keuangan tersebut tidak dapat disajikan dengan wajar. Materialitas pada tingkat akun (TE) merupakan salah saji minimum pada saldo akun yang dapat menyebabkan akun tersebut dianggap mengandung salah saji material.

11

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

hal 4 dari 12

Juknis Penetapan Batas Materialitas

BAB III TEKNIK PENETAPAN BATAS MATERIALITAS

A. Umum
01 Penetapan materialitas awal meliputi lima tahapan kegiatan: 1. Penentuan Dasar Penetapan Materialitas; 2. Penentuan tingkat materialitas; 3. Penetapan Nilai Materialitas Awal; 4. Penetapan Kesalahan Yang Dapat Ditoleransi; 5. Pertimbangan atas Penetapan Materialitas Awal
4. Penetapan Kesalahan yang Dapat Ditoleransi 3. Penetapan Nilai Materialitas Awal 2. Penentuan Tingkat Materialitas 1. Penentuan Dasar Penetapan Materialitas

5. Pertimbangan atas PM, TE dan Opini

B. Penentuan Dasar Penetapan Materialitas


02 Langkah pertama yang harus dilakukan oleh pemeriksa adalah menentukan dasar penetapan materialitas. Dasar penetapan materialitas yang dapat digunakan oleh pemeriksa di antaranya adalah nilai laba bersih sebelum pajak, total aset, ekuitas, total penerimaan, atau total belanja/biaya. 03 Dalam memutuskan nilai yang akan dijadikan dasar, pemeriksa sebaiknya mempertimbangkan: a. karakteristik (sifat, besar dan tugas pokok) dan lingkungan entitas yang diperiksa; b. area dalam laporan keuangan yang akan lebih diperhatikan oleh pengguna laporan keuangan; c. kestabilan atau keandalan nilai yang akan dijadikan dasar. 04 Dasar penetapan materialitas yang dapat digunakan oleh pemeriksa adalah sebagai berikut: a. total penerimaan atau total belanja, untuk entitas nirlaba; b. laba sebelum pajak atau pendapatan, untuk entitas yang bertujuan mencari laba; dan c. nilai aset bersih atau ekuitas, untuk entitas yang berbasis aset. 05 Mengenai angka mana yang harus diambil, apakah angka tahun lalu, tahun berjalan, atau angka ekspektasi, tergantung pertimbangan reliabilitas atau keakuratan data. Praktik yang umum adalah dengan mengambil angka tahun lalu, kemudian disesuaikan dengan inflasi atau perkiraan anggaran. Cara lain adalah dengan mengambil angka aktual pada saat perencanaan, kemudian diiekstrapolasi ke dalam sejumlah periode.
1. Penentuan Dasar Penetapan Materialitas

2. Penentuan Tingkat Materialitas

3. Penetapan Nilai Materialitas Awal

4. Penetapan Kesalahan yang Dapat Ditoleransi

5. Pertimbangan atas PM, TE dan Opini

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

hal 5 dari 12

Juknis Penetapan Batas Materialitas

06 Misalnya, Departemen Kesehatan mengemban tugas untuk meningkatkan kesehatan di seluruh Indonesia sering melakukan proyek penelitian dan pengembangan mengenai masalah-masalah kesehatan dan mendirikan fasilitasfasilitas layanan kesehatan, seperti rumah sakit, puskesmas, dan sebagainya yang dibiayai oleh pemerintah. Nilai total belanja pada Laporan Realisasi Anggaran (LRA) Departemen tersebut cukup tinggi, dan pengguna laporan keuangan diperkirakan akan tertarik untuk mengetahui penggunaan dana dari pemerintah tersebut. Oleh karena itu, dasar penetapan materialitas yang paling sesuai untuk pemeriksaan laporan keuangan departemen ini adalah total belanja.

C. Penentuan Tingkat Materialitas


07 Setelah menentukan dasar penetapan, pemeriksa harus mempertimbangkan tingkat yang akan digunakan dalam menghitung materialitas awal. 08 Tingkat materialitas dapat ditetapkan sebagai berikut: a. untuk entitas nirlaba: 0,5% sampai dengan 5% dari total penerimaan atau total belanja; b. untuk entitas yang bertujuan mencari laba: 5% sampai dengan 10% dari laba sebelum pajak atau 0,5% sampai dengan 1% dari total penjualan/pendapatan; dan c. untuk entitas yang berbasis aset: 1% dari ekuitas atau 0,5% sampai 1% dari total aktiva. 09 Pedoman umum penerapan tingkat materialitas adalah sebagai berikut: a. 0,5% dari belanja atau pendapatan digunakan pada entitas nirlaba pada saat pemeriksaan yang baru pertama kali dilakukan atau pada kondisi Sistem Pengendalian Intern (SPI) entitas yang belum memadai. Pemeriksa dapat berangsur-angsur meningkatkan tingkat materialitas yang akan digunakannya pada pemeriksaan-pemeriksaan selanjutnya sampai dengan tingkat meaterialitas 5% dari total belanja atau pendapatan. b. 5% sampai 10% dari laba sebelum pajak. Tingkat materialitas 10% digunakan pada perusahaan nonpublik dan anak perusahaannya dan 5% digunakan pada perusahaan publik. c. 0,5% sampai 1% dari penjualan, apabila sebuah perusahaan telah beroperasi pada atau mendekati titik impas dan keuntungan atau kerugian bersih berfluktuasi dari tahun ke tahun. d. 1% dari ekuitas pada saat hasil dari operasi sangat rendah yang menyebabkan likuiditas sebagai perhatian utama, atau pada saat pengguna laporan keuangan lebih memfokuskan perhatian pada ekuitas dari pada hasil dari operasi.. e. 0,5% sampai 1% dari total aktiva pada saat ekuitas mengalami penurunan pada titik paling rendah. 10 Kepada pemeriksa dianjurkan untuk menggunakan tingkat materialitas yang paling rendah (paling konservatif) pada pemeriksaan atas laporan keuangan entitas yang baru kali pertama diperiksa. Selain itu, tingkat materialitas yang konservatif juga harus digunakan pada pemeriksaan atas laporan keuangan entitas-entitas yang mempunyai risiko pemeriksaan tinggi atau belum mempunyai sistem pengendalian intern yang memadai.
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan Konservatisme dalam penerapan tingkat materialitas
1. Penentuan Dasar Penetapan Materialitas

2. Penentuan Tingkat Materialitas

3. Penetapan Nilai Materialitas Awal

4. Penetapan Kesalahan yang Dapat Ditoleransi

5. Pertimbangan atas PM, TE dan Opini

hal 6 dari 12

Juknis Penetapan Batas Materialitas

D. Penetapan Nilai Materialitas Awal (Planning Materiality/PM)


11 Nilai Materialitas Awal (PM) merupakan nilai materialitas awal untuk tingkat laporan keuangan secara keseluruhan. Nilai materialitas awal yang diperoleh merupakan besarnya kesalahan yang mempengaruhi pertimbangan pengguna Laporan Keuangan. 12 Ilustrasi penetapan nilai materialitas awal adalah sebagai berikut: Dasar penetapan materialitas Tingkat Materialitas Nilai Total Belanja pada LK PM : Total Belanja : 1% : Rp 12.260.000.
5. Pertimbangan atas PM, TE dan Opini 3. Penetapan Nilai Materialitas Awal 1. Penentuan Dasar Penetapan Materialitas

2. Penentuan Tingkat Materialitas

4. Penetapan Kesalahan yang Dapat Ditoleransi

: 1% X Rp 12.260.000 = Rp122.600

E. Penetapan Tingkat Kesalahan Yang Dapat Ditoleransi


13 Tingkat kesalahan yang dapat ditoleransi (TE) merupakan alokasi materialitas awal (PM) pada setiap akun atau kelompok akun. Alokasi materialitas pada setiap akun dilakukan dengan tujuan untuk menentukan akun/kelompok akun dalam laporan keuangan yang memerlukan tambahan prosedur pemeriksaan, memastikan adanya kemungkinan salah saji yang material yang berasal dari penggabungan salah saji yang jumlahnya lebih kecil daripada materialitas awal, dan mempertimbangkan risiko deteksi. 14 TE dapat dialokasikan sesuai dengan proporsi besaran nilai setiap akun, atau pemeriksa dapat menggunakan pertimbangan profesionalnya untuk menilai apakah ia perlu mengalokasikan TE yang lebih ketat atau cukup longgar untuk akun tertentu berdasarkan pengalamannya terutama mengenai kecenderungan terjadinya salah saji pada akun-akun tertentu tersebut. Aturan umum yang sering digunakan adalah bahwa alokasi pada satu akun tertentu tidak lebih dari 60% dari PM, dan jumlah dari seluruh TE tidak lebih dari dua kali nilai PM. 15 Langkah-langkah pengalokasian PM menjadi TE pada akun-akun laporan keuangan adalah sebagai berikut: tentukan nilai PM hitung total nilai seluruh akun pada laporan keuangan yang akan diperiksa, kecuali akun-akun yang bersifat residual, seperti SILPA/SIKPA, ekuitas dana, dan sebagainya. alokasikan nilai PM pada akun-akun utama dengan menggunakan rumus
1. Penentuan Dasar Penetapan Materialitas

2. Penentuan Tingkat Materialitas

3. Penetapan Nilai Materialitas Awal

4. Penetapan Kesalahan yang Dapat Ditoleransi

5. Pertimbangan atas PM, TE dan Opini

TE = PM *

N T

Dimana: TE = Tingkat kesalahan yang dapat ditoleransi PM = Materialitas awal N = Nilai akun T = Total nilai akun-akun pada laporan keuangan yang akan diperiksa
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan hal 7 dari 12

Juknis Penetapan Batas Materialitas

alokasikan kembali dengan menggunakan pertimbangan pemeriksa, di antaranya dengan mempertimbangkan risiko inheren, risiko pengendalian masing-masing akun, jumlah salah saji yang dapat mempengaruhi pengguna laporan keuangan, serta biaya pemeriksaan yang mungkin diperlukan untuk memverifikasi akun tersebut.

F. Pertimbangan atas PM, TE, Bukti, dan Opini


16 Penetapan materialitas awal (PM) pada tahap perencanaan pemeriksaan sangat dipengaruhi oleh tingkat risiko pemeriksaan. Besarnya batas materialitas berbanding terbalik dangan risiko pemeriksaan yang ditetapkan oleh pemeriksa. Pada entitas yang menurut pertimbangan pemeriksa memiliki risiko pemeriksaan lebih tinggi, pemeriksa dapat menetapkan batasan materialitas yang lebih rendah daripada batasan materialitas untuk entitas yang menurut pemeriksa memiliki risiko pemeriksaan lebih rendah. Langkah-langkah untuk melakukan analisis risiko pemeriksaan dapat dilihat pada juknis tentang analisis risiko. 17 Selain itu, PM dan TE pada tahap perencanaan pemeriksaan sangat berpengaruh terhadap banyaknya bukti pemeriksaan yang harus diperoleh atau ukuran sampel yang akan diuji. Tingkat materialitas berhubungan terbalik dengan banyak bukti/ukuran sampel. Semakin tinggi tingkat materialitas, semakin sedikit bahan bukti yang harus diperoleh sehingga semakin sedikit sampel yang harus diambil jika pemeriksa memutuskan untuk melakukan uji petik. 18 Hubungan antara materialitas dan risiko pemeriksaan serta banyaknya bukti yang harus diperoleh disajikan pada tabel berikut:
1. Penentuan Dasar Penetapan Materialitas

2. Penentuan Tingkat Materialitas

3. Penetapan Nilai Materialitas Awal

4. Penetapan Kesalahan yang Dapat Ditoleransi

5. Pertimbangan atas PM, TE dan Opini

Tingkat materialitas berbanding terbalik dengan risiko pemeriksaan dan banyaknya bahan bukti yang harus diuji

Materialitas Tinggi Risiko Pemeriksaan Bukti Tinggi Rendah Banyak Sedikit X


PM dapat disesuaikan dengan kondisi yang ditemui pada tahap pelaksanaan

Rendah X

X X

19 Sepanjang tahap pelaksanaan, pemeriksa perlu terus menilai kesesuaian tingkat materialitas yang telah ditetapkan pada tahap perencanaan tersebut dan mengubah/memperbaharuinya jika memang diperlukan. 20 Materialitas awal dapat direvisi pada saat pengambilan kesimpulan pemeriksaan dan dalam mengevaluasi temuan pemeriksaan dengan alasan adanya: (1) perubahan ruang lingkup pemeriksaan; dan (2) informasi tambahan tentang entitas yang diperiksa selama berlangsungnya pekerjaan lapangan. 21 Perubahan tersebut harus disetujui oleh penanggung dikomunikasikan secara tertulis kepada pemberi tugas. jawab dan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

hal 8 dari 12

Juknis Penetapan Batas Materialitas

22 Contoh penerapan perubahan materialitas adalah adanya indikasi kecurangan dengan nilai di bawah materialitas awal. Misalnya, pada saat perencanaan pemeriksaan, ditetapkan perencanaan awal materialitas sebesar Rp 8 milyar. Sejalan dengan pemeriksaan yang dilakukan, ditemukan adanya kecurangan yang melibatkan manajemen entitas yang diperiksa sebesar Rp 5 milyar, maka dilakukan penambahan ruang lingkup pemeriksaan (ektensifikasi) dengan menurunkan batas materialitas menjadi Rp 5 milyar. 22 Pada tahap pelaporan, materialitas baik pada tingkat laporan keuangan maupun pada tingkat akun individual sangat berpengaruh pada opini yang akan diberikan oleh pemeriksa. 23 Jika total salah saji yang ditemukan pada tingkat laporan keuangan secara keseluruhan lebih kecil daripada PM, salah saji pada tingkat akun masingmasing tidak lebih besar daripada TE akun tersebut, dan pihak terperiksa tidak bersedia mengoreksi laporan keuangannya, maka pemeriksa dapat memberikan opini wajar tanpa pengecualian, kecuali ada pertimbangan kualitatif yang mengharuskan pemeriksa memberi opini lain. 24 Jika total salah saji yang ditemukan pada tingkat laporan keuangan secara keseluruhan lebih besar daripada PM dan pihak terperiksa tidak bersedia mengoreksi laporan keuangannya, maka pemeriksa harus memberikan pendapat tidak wajar. 25 Jika total salah saji yang ditemukan pada tingkat akun lebih besar daripada TE akun tersebut dan pihak terperiksa tidak bersedia mengoreksi laporan keuangannya, pemeriksa perlu mempertimbangkan untuk memberi opini wajar dengan pengecualian atas akun tersebut meskipun salah saji pada tingkat laporan keuangan secara keseluruhan masih di bawah PM, atau jika salah saji pada akun tersebut menurut pertimbangan pemeriksa mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan, pemeriksa dapat memberikan opini tidak wajar.
Hubungan antara materialitas dan opini

G. Pertimbangan Kualitatif atas Materialitas


26 Selain penetapan batas materialitas secara kuantitatif seperti telah diilustrasikan sebelumnya, pemeriksa juga perlu mempertimbangkan faktorfaktor kualitatif baik dalam menetapkan materialitas pada tingkat laporan keuangan maupun pada pada tingkat akun. 27 Faktor kualitatif yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan tingkat materialitas pada tingkat laporan keuangan di antaranya adalah pengendalian intern dan ketidakwajaran laporan keuangan. Adanya salah saji baik disengaja atau tidak merupakan dampak dari kelemahan pengendalian intern. Pemeriksa juga perlu menerapkan sikap skeptis yang profesional dalam menentukan apakah suatu salah saji yang tidak material sebenarnya merupakan praktikpraktik kecurangan dalam pelaporan keuangan. Pemeriksa harus menetapkan sikap skeptis yang profesional dalam menentukan apakah manajemen dengan sengaja menyajikan secara salah beberapa akun tertentu (yang mungkin dilakukan pada angka di bawah batas materialitas) untuk memanipulasi angka laba. Pemeriksa juga harus menaruh curiga apabila praktik akuntansi yang dilakukan oleh entitas yang diperiksa tampaknya bertentangan dengan standar akuntansi yang berlaku umum. 28 Faktor kualitatif yang harus dipertimbangkan oleh pemeriksa dalam menentukan tingkat materialitas pada tingkat akun adalah signifikansi kesalahan tersebut terhadap sebuah entitas yang diperiksa, hubungannya terhadap laporan keuangan (misalnya, kesalahan tersebut dapat mempengaruhi penyajian banyak hal dalam laporan keuangan), serta dampak dari kesalahan tersebut terhadap laporan keuangan.
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan Pertimbangan faktor kualitatif pada tingkat akun

Pertimbangan faktor kualitatif pada tingkat akun

hal 9 dari 12

Juknis Penetapan Batas Materialitas

29 Dengan kata lain, pemeriksa perlu waspada terhadap suatu salah saji yang secara kuantitatif mungkin tidak material, tetapi secara kualitatif menjadi material. Sebagai contoh, tingkat PM untuk pemeriksaan laporan keuangan BUMD adalah Rp15 milyar. Pada saat pemeriksa melakukan pekerjaan lapangan ditemukan adanya pendapatan yang kurang dicatat sebesar Rp14 milyar; secara kuantitatif hal ini tidak material. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kekurangcatatan tersebut disebabkan keinginan manajemen menangguhkan pengakuan pendapatan sebesar Rp14 milyar ke periode mendatang karena telah tercapainya target pendapatan yang telah ditetapkan pada periode berjalan. Hal tersebut secara kualitatif menjadi material karena manajemen dengan sengaja melakukan suatu manipulasi terhadap laporan keuangan untuk suatu tujuan tertentu.

H. Dokumentasi
30 Setiap langkah di dalam penetapan tingkat materialitas memerlukan pertimbangan profesional pemeriksa dan harus direviu dan disetujui oleh pengendali teknis dan penanggung jawab pemeriksaan. Untuk memudahkan proses reviu, pemeriksa perlu mendokumentasikan setiap pertimbangan profesional serta cara perhitungan yang dilakukannya dalam rangka menetapkan tingkat materialitas tersebut. 31 Contoh dokumentasi atau kertas kerja untuk penetapan materialitas awal (Planning Materiality), perhitungan alokasi penetapan TE (Tolerable Error), perubahan atas materialitas awal serta pertimbangan kualitatif atas PM dan TE masing-masing dapat dilihat pada lampiran 3.1 sampai dengan 3.4.
Pemeriksa perlu mendokumentasikan semua pertimbangan profesionalnya

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

hal 10 dari 12

Juknis Penetapan Batas Materialitas

BAB IV PENUTUP

A. Pemberlakuan Petunjuk Teknis Penetapan Materialitas


01 Petunjuk teknis penetapan materialitas ini mulai berlaku untuk setiap pemeriksaan atas Laporan Keuangan (pemeriksaan keuangan) Tahun 2008.
Juknis berlaku mulai tahun 2008

B. Pemutakhiran Petunjuk Teknis Penetapan Materialitas


02 Pemutakhiran petunjuk teknis penetapan materialitas dapat berupa perubahan petunjuk teknis dimaksud atau penjelasan atas substansi petunjuk teknis tersebut. Perubahan atas petunjuk teknis ini akan disampaikan secara resmi melalui surat keputusan tentang perubahan petunjuk teknis tersebut. Penjelasan atas substansi petunjuk teknis ini disampaikan secara tertulis dari tim pemantauan petunjuk teknis penetapan materialitas pada Subdirektorat Penelitian dan Pengembangan Pemeriksaan Keuangan dan Kinerja, Direktorat Penelitian dan Pengembangan, Direktorat Utama Perencanaan, Evaluasi, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan Pemeriksaan Keuangan Negara Badan Pemeriksa Keuangan.
Pemutakhiran dapat berupa perubahan dan tambahan penjelasan

C. Pemantauan Petunjuk Teknis Penetapan Materialitas


03 Petunjuk teknis ini merupakan dokumen yang dapat berubah sesuai dengan perubahan peraturan perundang-undangan, standar pemeriksaan, dan kondisi lain. Oleh karena itu, pemantauan atas juknis ini akan dilakukan oleh tim pemantauan juknis terkait. Selain itu, masukan atau pertanyaan terkait dengan petunjuk teknis ini dapat disampaikan kepada: Subdirektorat Litbang Pemeriksaan Keuangan dan Kinerja Direktorat Penelitian dan Pengembangan Ditama Revbang Lantai II Gedung Arsip, BPK-RI Jl. Gatot Subroto 31 Jakarta 10210 Telp. (021)-5704395 pesawat 104, 730 Email: litbang@bpk.go.id
Pemantauan dilakukan oleh tim pemantauan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

hal 11 dari 12

Juknis Penetapan Batas Materialitas

Referensi
Arens, A.A., Elder, R.J., dan M.S. Beasley (2006), Auditing and Assurance Services: An Integrated Approach 11th Edition, New Jersey: Pearson Prentice Hall Boynton, W.C., dan R. N. Johnson (2006), Modern Auditing: Assurance Services and the Integrity of Financial Reporting 8th Edition, Hoboken: John Wiley & Sons Inc Messier, W.F., Glover, S.M., Prawitt, D.F. (2006), Auditing & Assurance Services: A Systematic Approach 4th Edition, New York: McGraw-Hill Companies Subdirektorat Litbang Pemeriksaan Keuangan Kinerja, Konsep Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Keuangan, Belum dipublikasikan Wheeler, Stephen (1989), Auditing: of Various Materiality Rules of Thumb, The CPA Journal, Edisi Juni, 62-63 Zuber, G.R., Elliott, R.K., Kinney, W.R., dan J.J. Leisenring (1983), Using Materiality in Audit Planning, Journal of Accountancy, Edisi Maret, 42-54

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

hal 12 dari 12

Juknis Penetapan Batas Materialitas

Lampiran 3.1 Penetapan PM

KKP Indeks Disajikan oleh/Tgl Direviu oleh/Tgl Disetujui oleh

: : : : [Initial]1/[tgl/bln/tahun] [Initial]2/[tgl/bln/tahun] [Initial]3/[tgl/bln/tahun]

Pemeriksaan atas Laporan Keuangan [nama entitas] Tahun [tahun laporan keuangan] Perhitungan Materialitas Perencanaan (PM) Dasar Penetapan Materialitas : [dasar penetapan] ([alasan pemilihan dasar penetapan])

Nilai dalam Laporan Keuangan Tingkat

[nilai dasar penetapan dalam LK]

[persentase yang digunakan dalam menghitung PM]

Materilaitas Perencanaan (PM)

[persentase x nilai dasar penetapan]

1 2

Ketua Tim Pemeriksaan Pengendali Teknis 3 Penanggung Jawab


Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Penetapan Batas Materialitas

Lampiran 3.1 Penetapan PM

KKP Indeks Disajikan oleh/Tgl CONTOH Direviu oleh/Tgl Disetujui oleh

: : : : AA/31Mar 08 BB/1 Apr 08 CC/3 Apr 08

Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Departemen Kesehatan Tahun 2006 Perhitungan Materialitas Perencanaan (PM) Dasar Penetapan Materialitas : Total Belanja (Departemen Kesehatan yang bertugas meningkatkan kesehatan sering melakukan proyek penelitian dan pengembangan mengenai masalah-masalah kesehatan dan mendirikan fasilitas-fasilitas layanan kesehatan, seperti rumah sakit, puskesmas, dan sebagainya yang dibiayai oleh pemerintah. Nilai total belanja pada LRA Departemen tersebut cukup tinggi, dan pengguna laporan keuangan diperkirakan akan tertarik untuk mengetahui penggunaan dana dari pemerintah tersebut) Rp12.260.724,15 juta 1% Rp122.607,24 juta

Nilai dalam Laporan Keuangan Tingkat Materilaitas Perencanaan (PM)

: : :

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Penetapan Batas Materialitas

Lampiran 3.2 Alokasi TE


KKP Indeks : Disajikan oleh/tg : [Initial] /[tgl] Direviu oleh/tgl : [Initial] /[tgl] Disetujui oleh/tg : [Initial] /[tgl]

Laporan Keuangan Pemda Kabupaten A Tahun 20XX Worksheet penetapan Tolerable Error Perhitungan PM Jumlah yang mendasari : Tingkat Materialitas: Planning Materiality :

Total Belanja 1% -

Alokasi TE Nilai dalam Laporan Keuangan 1 NERACA ASET ASET LANCAR Kas Investasi Jangka Pendek Piutang Persediaan INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Nonpermanen Investasi Permanen ASET TETAP Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan, Irigasi dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Aset Tetap TOTAL DANA CADANGAN Dana Cadangan ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Perbendaharaan TOTAL TOTAL ASET KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Pihak Ketiga Utang Bunga Utang Pajak Bagian Lancar Hutang Jangka Panjang Dalam Negeri Pendapatan Diterima di Muka Utang Jangka Pendek Lainnya TOTAL KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri Utang Luar Negeri Utang Jangka Panjang Lainnya TOTAL TOTAL KEWAJIBAN EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR SAL Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Dana Yang Harus Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan Dalam Aset Tetap Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya Dana Yang Harus Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang EKUITAS DANA CADANGAN Diinvestasikan Dalam Dana Cadangan TOTAL EKUITAS TOTAL 2 Akun-akun yang diaudit 3 (dengan rumus) 4 IR 5 CR 6

Pertimbangan lain *) Catatan 7 Ukuran sampel 8

Alokasi TE Berdasarkan pertimbangan profesional pemeriksa 9

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Penetapan Batas Materialitas


Alokasi TE Nilai dalam Laporan Keuangan 1 LRA PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang Sah PENDAPATAN TRANSFER TRANSFER PEMERINTAH PUSATDANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus TRANSFER PEMERINTAH PUSATLAINNYA Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya TOTAL PENDAPATAN BELANJA BELANJA OPERASI Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial BELANJA MODAL Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya BELANJA TAK TERDUGA Belanja Tak Terduga TRANSFER TRANSFER BAGI HASIL KE KABUPATEN/KOTA/DESA Bagi Hasil Pajak Bagi hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya TOTAL BELANJA + TRANSFER SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN PENERIMAAN PEMBIAYAAN Penggunaan Silpa Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Piutang Daerah TOTAL PENGELUARAN PEMBIAYAAN Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Utang Pemberian Pinjaman Daerah TOTAL PEMBIAYAAN NETTO SILPA TOTAL 2 Akun-akun yang diaudit 3 (dengan rumus) 4 IR 5 CR 6 Pertimbangan lain *) Catatan 7 Ukuran sampel 8

Lampiran 3.2 Alokasi TE


Alokasi TE Berdasarkan pertimbangan profesional pemeriksa 9

*) : Pertimbangan lain diisi sesuai dengan hasil penilaian resiko, pemahaman pengendalian dan catatan lainnya Kolom Resiko diisi dengan T untuk tinggi, M untuk menengah, dan R untuk rendah

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Penetapan Batas Materialitas


KKP Indeks Disajikan oleh/t Direviu oleh/tgl Disetujui oleh/t Laporan Keuangan Pemda Kabupaten A Tahun 20XX Worksheet penetapan Tolerable Error Perhitungan PM Jumlah yang mendasari : Tingkat Materialitas: Planning Materiality :

Lampiran 3.2 Alokasi TE


: : AA/26-03-08 : BB/27-03-08 : CC/30-03-08

Total Belanja 1% 7,090

Alokasi TE Nilai dalam Laporan Keuangan 1 NERACA ASET ASET LANCAR Kas Investasi Jangka Pendek Piutang Persediaan INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Nonpermanen Investasi Permanen ASET TETAP Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan, Irigasi dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Aset Tetap TOTAL DANA CADANGAN Dana Cadangan ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Perbendaharaan TOTAL TOTAL ASET KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Pihak Ketiga Utang Bunga Utang Pajak Bagian Lancar Hutang Jangka Panjang Dalam Negeri Pendapatan Diterima di Muka Utang Jangka Pendek Lainnya TOTAL KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri Utang Luar Negeri Utang Jangka Panjang Lainnya TOTAL TOTAL KEWAJIBAN EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR SAL Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Dana Yang Harus Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan Dalam Aset Tetap Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya Dana Yang Harus Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang EKUITAS DANA CADANGAN Diinvestasikan Dalam Dana Cadangan TOTAL EKUITAS TOTAL 2 Akun-akun yang diaudit 3 (dengan rumus) 4 IR 5

Pertimbangan lain *) CR 6 Catatan 7 Ukuran sampel 8

Alokasi TE Berdasarkan pertimbangan profesional pemeriksa 9

100,000 131,000 25,000 256,000 20,000 159,000 179,000 130,000 145,000 170,000 169,000 45,000 160,000 (34,000) 785,000 66,000

100,000 131,000 25,000

168 220 42 -

T R M

M R M

1)

populasi 50 unsur 250 50

20,000 159,000 130,000 145,000 170,000 169,000 45,000 160,000 (34,000) 66,000 -

34 268 219 244 286 284 76 269 (57) 111 29 17 25 8 20 22 2 7 84 168 337 -

50 250

219 244 286 284 76 269 (57)

111

17,000 10,000 27,000 1,313,000

17,000 10,000

29 17

15,000 5,000 12,000 13,000 1,000 4,000 50,000 50,000 100,000 200,000 350,000 400,000

15,000 5,000 12,000 13,000 1,000 4,000

25 8 20 22 2 7

50,000 100,000 200,000

84 168 337

35,000 50,000 131,000 25,000 (35,000)

179,000 785,000 27,000 (350,000)

66,000 913,000 1,313,000

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Penetapan Batas Materialitas


Alokasi TE Nilai dalam Laporan Keuangan 1 LRA PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang Sah PENDAPATAN TRANSFER TRANSFER PEMERINTAH PUSATDANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus TRANSFER PEMERINTAH PUSATLAINNYA Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya TOTAL PENDAPATAN BELANJA BELANJA OPERASI Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial BELANJA MODAL Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya BELANJA TAK TERDUGA Belanja Tak Terduga TRANSFER TRANSFER BAGI HASIL KE KABUPATEN/KOTA/DESA Bagi Hasil Pajak Bagi hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya TOTAL BELANJA + TRANSFER SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN PENERIMAAN PEMBIAYAAN Penggunaan Silpa Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Piutang Daerah TOTAL PENGELUARAN PEMBIAYAAN Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Utang Pemberian Pinjaman Daerah TOTAL PEMBIAYAAN NETTO SILPA TOTAL 2 Akun-akun yang diaudit 3 (dengan rumus) 4 190,000 75,000 60,000 50,000 190,000 75,000 60,000 50,000 80,000 90,000 100,000 60,000 80,000 90,000 100,000 60,000 40,000 30,000 775,000 40,000 30,000 67 50 45,000 50,000 7,000 45,000 120,000 70,000 90,000 150,000 65,000 20,000 20,000 30,000 12,000 5,000 709,000 66,000 30,000 12,000 5,000 100,000 70,000 150,000 30,000 100,000 50,000 66,000 100,000 200,000 150,000 111 168 337 252 168 118 252 50 168 84 T 50 20 8 34 76 84 12 76 202 118 151 252 109 135 151 168 101 320 126 101 84 IR 5 Pertimbangan lain *) CR 6 Catatan 7 Ukuran sampel 8

Lampiran 3.2 Alokasi TE


Alokasi TE Berdasarkan pertimbangan profesional pemeriksa 9 320 126 100 85 135 160 170 100 67 50 70 100 20 80 200 150 170 250 120 50 50 20 10 170 125 250 50 170 100 100 170 350 250

45,000 50,000 7,000 45,000 120,000 70,000 90,000 150,000 65,000

100,000 70,000 150,000 30,000 100,000 50,000 500,000 66,000 100,000 200,000 150,000 516,000 (16,000) 50,000

4,213,000 7,090 7,090

1) saldo kas harus benar-benar akurat dan tidak dibenarkan ada salah saji sekecil apapun sehingga dialkukan pengujian secara populasi dan tidak ada alokasi TE untuk akun ini.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Penetapan Batas Materialitas

Lampiran 3.3 Perubahan PM

KKP Indeks Disajikan oleh/Tgl Direviu oleh/Tgl Disetujui oleh

: : : : [Initial]1/[tgl/bln/tahun] [Initial]2/[tgl/bln/tahun] [Initial]3/[tgl/bln/tahun]

Pemeriksaan atas Laporan Keuangan [nama entitas] Tahun [tahun laporan keuangan] Perubahan Perhitungan Materialitas (jika ada) Materilaitas Perencanaan (PM) : [batas materialitas yang ditetapkan pada tahap perencanaan]

Batas Materilaitas yang baru

[nilai materialitas baru yang disesuaikan dengan kondisi yang ditemukan pada tahap pelaksanaan pemeriksaan] [kondisi-kondisi yang ditemukan pada pelaksanaan pemeriksaan yang mengharuskan perubahan batas materialitas]

Alasan

1 2

Ketua Tim Pemeriksaan Pengendali Teknis 3 Penanggung Jawab


Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Penetapan Batas Materialitas

Lampiran 3.4 Pertimbangan Kualitatif

KKP Indeks Disajikan oleh/Tgl Direviu oleh/Tgl Disetujui oleh Pemeriksaan atas Laporan Keuangan [nama entitas] Tahun xxxx Pertimbangan Kualitatif atas PM/TE Penetapan PM/TE secara kuantitatif Jumlah salah saji yang ditemukan pada LK/Akun Pertimbangan-pertimbangan kualitatif :

: : : : [Initial]1/[tgl/bln/tahun] [Initial]2/[tgl/bln/tahun] [Initial]3/[tgl/bln/tahun]

[nilai PM/TE disertai dengan rujukan pada KKP penetapan PM atau TE secara kuantitatif] [nilai salah saji yang ditemukan pada LK atau akun]

[alasan-alasan kualitatif yang menjadi bahan pertimbangan untuk mengubah batas materialitas pada LK atau akun sehingga salah saji yang ditemukan dapat dianggap material]

1 2

Ketua Tim Pemeriksaan Pengendali Teknis 3 Penanggung Jawab


Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan