Anda di halaman 1dari 5

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN STRATEGI KOPING STRESS PADA REMAJA

Kisi kisi Latar Belakang Remaja Remaja adalah masa Transisi perkembangan antara masa kanak-kanak menuju dewasa. Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanakkanak menuju dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun (Papalia dan Olds, 2001 dalam Puspita, 2011). Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian

perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan pada masa dewasa sudah tercapai (Hurlock, 2008). Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja tidak hanya menyangkut aspek fisik melainkan juga aspek psikis dan psikososial

(Papalia, et al., 2000; Turner & Helms, 1995 dalam Heydemans,2009). Biologis ditandai dengan tumbuh dan berkembangnya seks primer dan seks sekunder, sedangkan psikologis ditandai dengan sikap, perasaan, keinginan, dan emosi yang labil atau tidak menentu. Remaja memiliki ciri tertentu yang membedakannya dengan tahap dari periode perkembangan sebelum dan sesudahnya. Masa remaja dikenal sebagai masa yang penuh kegoncangan karena

mereka masih dalam taraf mencari identitas (Hurlock, 1973 ; Wraith dan Reed, 1992 dalam Irma dkk, 2008)

Menurut M. Ali & M. Asrori (2004), terdapat sejumlah sikap yang menunjukkan ciri-ciri remaja antara lain kegelisahan, pertentangan, mengkhayal, aktifitas berkelompok, keinginan mencoba segala sesuatu.

Remaja dikenal sebagai masa storm dan stress, yaitu suatu masa dimana emosi pada masa remaja menjadi mudah terangsang dan cenderung meledak ledak, diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan psikis yang bervariasi (Hurlock, 1980, Mu tadin, 2002 dalam Koni, 2008).

Remaja memiliki karakter ketidakstabilan emosi, sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku dan harapan sosial yang baru. Salah satu perubahan yang penting adalah perubahan emosi, umumnya seorang remaja memiliki tingkat stress yang tinggi (Spear,2000 dalam Casey et al.,2010) akibat terjadinya perubahan secara bersamaan, termasuk kematangan fisik, kemandirian, peningkatan interaksi dengan kelompok social dan teman sebaya, dan perkembangan otak (Blakemore, 2008; Casey, Getz, & Galvan, 2008; Casey, Jones, & Hare, 2008 dalam Casey et al.,2010). Remaja ditandai sebagai periode dengan meningkatnya masalah emosional seperti depresi dan ansietas, khususnya pada perempuan (Compas, Connor-Smith, & Jaser, 2004; Kim, 2003; Ranta et al., 2007 dalam Moksnes, 2011) Stress remaja Reamaja dapat mengalami stress yang bervariasi. Stress yang dialami oleh remaja dapat berupa depresi, ansietas, agresi, dan aksi anti-sosial (Moksnes, 2011 dan Compas et al,2001 dalam Zimmber-Gembeck & Skinner, 2008)

Stress pada remaja berhubungan dengan sekolah (bulliying, masalah dengan guru, kesulitan akademik), dan hubungan interpersonal (konflik atau masalah dengan orangtua, saudara kandung, teman sebaya) (Zimmber-Gembeck & Skinner, 2008).

Hasil penelitian Indri (2007) yang menyebutkan stress pada remaja diakibatkan oleh berbagai factor, tetapi factor yang paling banyak mempengaruhi remaja berhubungan dengan orang tua, akademik, dan teman sebaya.

Penyebab stress pada remaja Tekanan di sekolah dan tempat kerja Persahabatan Tekanan dalam memakai tipe baju, perhiasan, dan model rambut Tekanan yang berhubungan dengan bentuk tubuh. Perempuan lebih berfokus pada berat badan, sedangkan laki-laki lebih berfokus pada bentuk tubuh atletis. Gangguan kekerasan atau gangguan seksualitas Pemenuhan jadwal, antara sekolah, olahraga, aktifitas setelah sekolah, kehidupan social, dan keluarga (Clea & Jaine.2010)

Stress berhubungan dengan tekanan dalam teman sebaya, kehidupan di rumah, sekolah, respon orang tua dan tingginya emosional , usia dan harga diri (Personality and Individual Differences, 2010 dalam Moksnes, 2011)

Hasil penelitian Roeser, Eccles, & Sameroff (2000) dalam Davis (2012) memperkirakan bahwa 25% - 50% dari seluruh remaja berumur 10 17 tahun memiliki resiko penurunan prestasi belajar, ekonomi, dan kehidupan social dikarenakan tingginya tingkat stress yang merupakan

hasil dari mekanisme koping dan/atau manajement stress yang tidak tepat. Tingkat Kecerdasan Emosional Remaja perlu belajar berbagai keterampilan emosional yang akan membentuk kecerdasan emosional untuk mengatasi stress. Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengelola emosi dalam berinteraksi dengan orang lain atau menerima rangsangan dari luar (Goleman, 2000) Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk merasakan, mengerti dan mengekspresikan emosi (Montes-berges & Augustio, 2007). Kecerdasan emosional berhubungan dengan koping social yang sehat (Pertides dan Spencer-Bowdage, 2002 dalam Nutankumar, 2008) Menurut Yuniani dalam Renny (2013) seseorang yang tidak mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi dapat ditandai dengan hal-hal berikut: mempunyai emosi yang tinggi, cepat bertindak berdasarkan emosinya, dan tidak sensitif dengan perasaan orang lain. Orang yang tidak mempunyai kecerdasan emosional tinggi, biasanya mempunyai kecenderungan untuk menyakiti dan memusuhi orang lain. Kecerdasan emosional akan mempengaruhi perilaku tiap individu dalam mengatasi permasalahan yang muncul pada diri sendiri (Shapiro, 2008 dalam Renny, 2013), Strategi Koping Stress Remaja akan memiliki strategi koping terhadap stress yang dihadapi. Beberapa strategi koping yang digunakan untuk merespon stress antara lain : memperoleh dukungan social, menghindari stress, mencari dukungan

spiritual, mencari dan menerima bantuan, dan penilaian secara pasif (Mc Cubin, Larsen, dan Olson 1982 dalam Nutankumar, 2008) Strategi koping diasumsikan memiliki dua fungsi utama : mengelola masalah yang menyebabkan stress dan mengatur emosi yang berhubungan dengan stressor (Folkman & Lazarus, 1980, 1984; 1986, Lazarus, 1990 dalam Rukhsana, 2010) Mengelola emosi secara positif berhubungan dengan koping, seperti mencari dukungan social-emosional, mencari dukungan social-instrumental, dan koping bernilai religious (Nutankumar, 2008) Kebiasaan koping dapat dikelompokkan menjadi 1) lebih berhadapan dan berorientasi pada maslah 2) menghindari dan meminimalkan stress 3) mencari dukungan lain 4) menarik diri atau tidak mencari sumber dukungan (Ayers, Sandler, West, & Roosa, 1996, Seiffge-krenke, 1995, ZimmerGembeck & Locke, 2007 dalam Zimmber-Gembeck & Skinner, 2008) Analisis strategi koping pada sampel remaja menunjukkan kategori koping seperti mencari dukungan, mencari informasi, negosiasi, pengaturan emosi dan pelarian, atau menarik diri (Seiffge-Krenke 1995, Skinner and ZimmerGembeck 2007, Seiffge-Krenke et al. 2010; Skinner et al. 2003, Skinner and Zimmer-Gembeck 2007, Compas et al. 2001; Seiffge-Krenke and Klessinger 2000 dalam Malte & Inge, 2012). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa koping remaja bergantung pada tipe stressor. Misalnya, mencari dukungan berhubungan dengan stressor

akademik dan hubungan dengan teman sebaya, menarik diri digunakan pada koping stress yang berhubungan dengan orangtua (Seiffge-Krenke et al. 2009, Sentse et al. 2010 dalam Malte & Inge, 2012).

Anda mungkin juga menyukai