Anda di halaman 1dari 68

BAHAN AJAR SOSIOLOGI SMA KLS X

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU KEMASYARAKATAN Oleh : John Muli A. Pengantar Pada awal kelahirannya, sosiologi merupakan salah satu cabang ilmu filsafat yang dikembangkan oleh Auguste Comte dari Perancis di pertengahan abad ke-18. Comte mencetuskan suatu sistem ilmiah yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan baru yaitu sosiologi. Ia berpendapat bahwa sesungguhnya analisa untuk membedakan Statistika dan Dinamika sosial, serta analisis masyarakat sebagai suatu sistem yang saling tergantung haruslah didsarkan pada konsesnsus. Dalam perkembangannya, sosiologi membatasi kajiannya terhadap masyarakat sebagai ilmu pengetahuan murni. Ketika berbagai metode penelitian masyarakat mulai di kembangkan, sosiologi dapat diterapkan sebagai ilmu pengetahuan terapan atau priaktis. Misalnya sosiologi perkotaan, sosiologi pedesaan, sosiologi industri, sosiologi pendidikan, sosiologi agama, sosiologi politik dan lain-lain. Perkembangan sosiologi di Indonesia pada awalnya hanya dipelajari di tingkat perguruan tinggi sebagai ilmu pengetahuan murni. Namun saat ini sosiologi tidak hanya di ajarkan di perguruan tinggi saja, melainkan di ajarkan juga di sekolah menengah pertama (Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi IPS SMP). Tujuan sosiologi di berikan kepada siswa sekolah menengah adalah agar siswa sedini mungkin mampuh mengenal, menganalisis, dan memecahkan berbagai permasalahan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang masyarakat yang merupakan objek utamanya. Ilmu pengetahuan (Science) adalah suatu kerangka pengetahuan (Knowledge) yang tersusun dan teruji kebenarannya, dan di peroleh melalui suatu penelitian ilmiah. Sementara pengetahuan (Knowledge) adalah kesan yang timbul dalam pikiran manusia sebagai hasil dari penggunaan pancaindra. Kepercayaan (beliefs), takhayul (superstition), dan penerangan-penerangan yang keliru (misinformation) ataupun anggapan, tidak termasuk pengetahuan karena tidak dapat di buktikan kebenarannya. tidak semua pengetahuan merupakan suatu ilmu pengetahuan. pengetahuan yang termasuk ilmu hanyalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis. Maksudnya adalah adanya urutan-urutan tertentu yang teratur dari unsur-unsur yang merupakan suatu kebulatan sehingga tergambar jelas garis besar dari ilmu pengetahuan tersebut. Sistem dalam ilmu pengetahuan tersebut harus bersifat dinamis, artinya dapat terus berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan karena sosiologi mengembangkan suatu kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji yang didasarkan pada penelitian ilmiah, dan mendasarkan kesimpulannya pada bukti-bukti ilmiah. Semua jenis perilaku, misalnya perilaku remaja dapat di telaah secara ilmiah jika kita menggunakan metode ilmiah, yang salah satunya menggunakan metode sosiologi. Secara umum, dikenal adanya empat kelompok ilmu pengetahuan ditinjau dari objeknya, yaitu sebagai berikut : 1. Ilmu Matematika yang terdiri dari : aljabar, aritmatika, stereometri, statistik, geometri, dan kalkulus.

2. Ilmu Pengetahuan Alam, terdiri dari : kelompok ilmu pengetahuan yang mempelajari gejalah-gejalah alam baik yang bersifat hayati (Seperti biologi) maupun yang tidak hayati (seperti fisika, kimia). 3. Ilmu Pengetahuan Sosial, yang menyoroti perilaku manusia seperti : ilmu politik, ekonomi, sejarah, tata negara, psikologi, komunikasi, hukum, antropologi, sosiologi, geografi, dan arkeologi. 4. Ilmu Budaya (Humaniora) yang terdiri dari ilmu bahasa, filsafat, agama dan seni. Menurut sifatnya, ilmu pengetahuan dapat di bagi dua yakni : 1. Ilmu eksakta atau bisa disebut ilmu pasti, seperti matematika dan IPA 2. Ilmu Noneksakta atau disebut ilmu sosial. Misalnya : IPS, ilmu budaya, serta ilmu bahasa. Dari sudut penerapannya, ilmu pengetahuan dibedakan sebagai berikut. 1. Ilmu pengetahuan murni (pure science), yaitu ilmu pengetahuan yang sifatnya teoritis dan abstrak. Sumber ilmu pengetahuannya adalah salah satunya dari referensi buku. 2. Ilmu pengetahuan terapan (applied science), yaitu ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mempergunakan dan menerapkan ilmu pengetahuan tersebut dalam masyarakat dengan membantu kehidupan masyarakat. Teknologi merupakan hasil terapan ilmu pengetahuan murni. Kemajuan ilmu pengetahuan murni akan mendukung kemajuan dalam bidang teknologi. Sebaliknya, kemajuan dalam bidang teknologi akan memajukan ilmu pengetahuan murni. Ilmu pengetahuan murni terutama bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak, yaitu untuk mempertinggi mutunya. Adapun tujuan dari ilmu pengetahuan terapan bertujuan untuk menerapkan ilmu pengetahuan murni tersebut dalam masyarakat. Jadi, ada hubungan saling memengaruhi antara ilmu pengetahuan murni dan ilmu pengetahuan terapan. Berikut ini merupakan contoh ilmu murni dan ilmu terapan. ILMU MURNI Ekonomi Kimia Zoologi Botani Geologi Astronomi Hukum ILMU TERAPAN Perusahan Farmasi Peternakan Pertanian Pertambangan Navigasi Peradilan

B. Konsep Dasar Sosiologi 1. Konsep dan Definisi Sosiologi Berbicara mengenai konsep dasar sosiologi terdapat dua pengertian dasar, yaitu sosiologi sebagai ilmu pengetahuan dan sosiologi sebagai metode. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan berarti sosiologi merupakan kumpulan ilmu pengetahuan mengenai kajian masyarakat dan kebudayaan yang disusun secara sistematis dan logis. Dalam konteks ini, sosiologi memberikan pemecaham atas berbagai masalah dengan pendekatan kemasyarakatan. Sosiologi sebagai metode berarti sosiologi merupakan cara-cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosail dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat di pertanggungjawabkan secara ilmiah.

a)

b)

c)

d)

e) f) g)

Secara etimologi, sosiologi berasal dari kata socious dan logos. Socious (bahasa latin) artinya teman, dan logos (bahasa yunani) yang berarti kata, perkataan atau pembicaraan. Secara harfiah, sosiologi berarti berbicara mengenai masyarakat. Beberapa definisi mengenai sosiologi (dalam Sosiologi Suatu Pengantar, Soerjono Soekanto, 2002), diantaranya sebagai berikut : Sosiologi dapat didefinisikan sebagai studi ilmiah tentang masyarakat dan tentang aspek kehidupan manusia yang diambil dari kehidupan didalam masyarakat (Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial) Auguste Comte berpendapat bahwa : sosiologi adalah ilmu yang terutama mempelajari manusia sebagai makluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya. Artinya, sosiologi mempelajari segalah aspek kehidupan bersama yang terwujud dalam asosiasi-asosiasi, lembaga-lembaga dan peradaban. J.A.A Van Dorn dan C.J. Lammars, mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkof, mengemukakan bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial, dan hasilnya yaitu organisasi sosial. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara perorangan dengan perorangan, perorangan dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok. Roucek dan Warren mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan manusia dengan kelompok Selo Soemarjan dan Soelaiman Soemardi, mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial, proses sosial, dan perubahan sosial. Pitirim A. Sorokin mengemukakan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari Hubungan maupun pengaruh timbal balik antara gejalah sosial dengan gejalah nonsosial, seperti pengaruh iklim terhadap watak manusia, dan pengaruh kesuburan tanah terhadap pola migrasi penduduk. Ciri-ciri umum dari semua jenis gejalah atau fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat. Hubungan maupun pengaruh timbal balik antara berbagai gejalah sosial, seperti gejalah ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, dan gerakan masyarakat dengan politik.

2. Sifat Hakikat Sosiologi Sifat-sifat hakikat dari ilmu pengetahuan sosiologi adalah sebagai berikut : a) Sosiologi termasuk rumpun ilmu sosial, bukan ilmu pengetahuan alam ataupun imlu kerohanian. b) Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri dengan apa yang terjadi dan bukan apa yang seharusnya terjadi. c) Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni (pure science), bukan ilmu pengetahuan terapan (applied science) d) Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak, artinya yang diperhatikan adalah pola dan peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. e) Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum. Sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip atau hukum-hukum umum dari interaksi antar manusia dan periihal sifat, hakikat, isi, , dan struktur masyarakat.

f) g)

a) b) c)

d)

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang rasional, terikat dengan metode yang digunakan. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan umum, bukan ilmu pengetahuan yang khusus. Artinya sosiologi mengamati dan mempelajari gejalah-gejalah umum yang ada pada setiap interaksi dalam masyarakat secara empiris. Sebagai ilmu sosial yang objeknya masyarakat, sosiologi mempunyai ciri-ciri utama sebagai berikut (dalam Sosiologi Suatu Pengantar, Soerjono Soekanto, 1990). Sosiologi bersifat empiris karena didasarkan pada pengamatan (observasi) terhadap kenyataan-kenyataan sosial dan hasilnya tidak bersifat spekulatif. Sosiologi bersifat teoritis, artinya sosiologi selalu berusaha untuk menyusun kesimpulan dari hasil observasi untuk menghasilkan teori keilmuan. Sosiologi bersifat kumulatif, artinya teori-teori dalam sosiologi di bentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Kemudian di perbaiki, diperluas, serta di perdalam. Sosiologi bersifat non etis, artinya sosiologi tidak mempersoalkan baik buruknya fakta, tetapi yang lebih penting adalah menjelaskan fakta tersebut secara analitis dan apa adanya.

3. Objek Studi Sosiologi Objek studi sosiologi adalah masyarakat, dengan menyoroti hubungan antarmanusia dan proses sebab akibat yang timbul dari hubungan tersebut. 4. Kegunaan Sosiologi Sebagai ilmu pengetahuan sosial yang objeknya adalah masyarakat, sosiologi memiliki empat macam kegunaan, yaitu dalam bidang perencanaan sosial, penelitian, pembangunan, dan pemecahan masalah sosial. a) Perencanaan sosial Perencanaan sosial adalah kegiatan untuk mempersiapkan masa depan kehidupan masyarakat secara ilmiah dan bertujuan untuk mengatasi berbagai hambatan. Perencanaan sosial lebih bersifat prefentif. Oleh karena itu, kegiatan berupa pengarahan-pengarahan dan bimbingan sosial mengenai cara-cara hidup masyarakat yang lebih baik. Beberapa kegunaan sosiologi dalam perencanaan sosial adalah : 1) Sosiologi memahami perkembangan kebudayaan masyarakat, baik masyarakat tradisional maupun modern sehingga dalam proses pemasyarakatan suatu perencanaan sosial relatif mudah di lakukan. 2) Sosiologi memahami hubungan manusia dengan lingkungan alam, hubungan antar golongan, juga proses perubahan dan pebgaruh penemuan baru terhadap masyarakat. Ini berarti perencanaan sosial kedepan yang disusun atas dasar kenyataan yang faktual dalam masyarakat oleh sosiologi relatif bisa di percaya. 3) Sosiologi memiliki disiplin ilmiah yang didasarkan atas objektivitas. Dengan demikian, pelaksanaan suatu perencanaan sosial diharapkan lebih kecil peyimpangannya. 4) Dengan berpikir secara sosiologis, suatu perencanaan sosial dapat dimanfaatkan untuk mengetahui tingkat ketertinggalan dan tingkat kemajuan masyarakat yang di tinjau dari sudut kebudayaannya, seperti perkembangan IPTEK. Hal ini dilakukan agar dapat menyesuaikan dengan pertumbuhan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada. 5) Menurut pandangan sosiologi, perencanaan sosial merupakan alat untuk untuk mengetahui perkembangan masyarakat yang fungsinya untuk menghimpun kekuatan sosial guna menciptakan ketertiban masyarakat.

b) Penelitian Dalam bidang penelitian masyarakat, sosiologi memiliki kelebihan dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain, karena : 1) Memahami simbol kata-kata, kode, serta berbagai istilah yang digunakan oleh masyarakat sebagai objek penelitian empiris. 2) Pemahaman terhadap pola-pola tingkah laku manusia dalam masyarakat 3) Kemampuan untuk mempertimbangkan berbagai fenomena sosial yang timbul dalam kehidupan masyarakat, terlepas dari prasangka-prasangka subjektif. 4) Kemampuan melihat kecendrungan-kecendrungan arah perubahan pola tingkah laku anggota masyarakat atas sebab-sebab tertentu. 5) Kehati-hatian dalam menjaga pemikiran yang rasional sehingga tidak terjebak dalam pola pikir yang tidak jelas. c) Pembangunan Pembangunan merupakan suatu proses perubahan disegalah bidang kehidupan yang dilakukan secara sengaja berdasarkan suatu rencana tertentu. Proses pembangunan terutama ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat, baik secara material maupun secara spiritual. Peningkatan taraf hidup masyarakat mencakup suatu perangkat cita-cita yang meliputi hal-hal sebagai berikut : 1) Pembangunan harus bersifat rasionalitas. 2) Adanya perencanaan dan proses pembangunan. 3) Peningkatan produktivitas 4) Peningkatan standar kehidupan 5) Kesempatan yang sama untuk berpartisipasi. Kegunaan sosiologi dalam usaha-usaha pembangunan (dalam sosiologi suatu pengantar edisi kedua Soerjono Soekanto, 1986) adalah sebagai berikut : 1) Pada tahap perencanaan, sosiologi dapat berguna didalam mengadakan identifikasi-identifikasi terhadap berbagai kebutuhan masyarakat. Pada tahap ini diperlukan data yang relatif lengkap mengenai masyarakat yang akan dibangun. Data-data tersebut mencakup pola interaksi sosial, kelompok sosial, kebudayaan yang berintikan pada nilai-nilai, lembaga sosial, dan stratifikasi sosial. 2) Pada tahap pelaksanaan, pada tahap ini perlu diadakan identifikasi terhadap kekuatan yang ada dalam masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengadakan penelitian terhadap pola-pola kekuasaan dan wewenang yang ada dalam masyarakat. Disamping itu, juga harus diadakan pengamatan terhadap perubahan yang terjadi. 3) Pada tahap evaluasi, pada tahap ini diadakan analisis terhadap efek pembangunan. Keberhasilan pembangunan hanya dapat dinilai melalui evaluasi dan dapat diidentifikasi tentang adanya kekurangan, kemacetan, kemunduran, bahkan mungkin kemerosotan. Melalui evaluasi dapat dilakukan pengadaan, pembetulan, penambahan, dan peningkatan secara proporsional. d) pemecahan masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur sosial yang membahayakan kehidupan masyarakat. Dalam keadaan normal terdapat integrasi serta keadaan yang sesuai pada hubungan-hubungan antara unsur-unsur tersebut. Masalah sosial timbul dari kekurtangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada faktor-faktor berikut : 1) ekonomis, misalnya kemiskinan, pengangguran dan bencana alam. 2) Biologis, misalnya penyakit menular dan wabah.

3) Psikologis, misalnya penyakit syaraf, bunuh diri, dan disorganisasi jiwa. 4) Kebudayaan, misalnya kejahatan, perceraian, kenakalan remaja, konflik etnis, dan konflik agama. Disetiap masyarakat terdapat perbedaan persepsi tentang kepincangankepincangan yang dianggap masalah sosial. Akan tetapi, pada umumnya yang di anggap masalah sosial yaitu : kemiskinan, kejahatan, disorganisasi keluarga, masalah generasi muda, peperangan, pelanggaran terhadap norma masyarakat (seperti prostitusi, perjudian, narkoba, dan perilaku seks menyimpang), Masalah kependudukan, dan masalah lingkungan hidup. Didalam mengatasi masalah sosial juga harus melihat aspek sosiologis dengan tidak mengabaikan aspek lain. Sosiologi menyelidiki persoalan-persoalan umum dalam masyarakat dengan maksud untuk menemukan dan menafsirkan kenyataankenyataan kehidupan masyarakat. Jadi, diperlukan suatu kerjasama antar ilmu pengetahuan kemasyarakatan pada khususnya untuk memecahkan masalahmasalah sosial yang dihadapi secara interdisipliner. C. Metode-Metode Sosiologi Metode-metode yang sering di gunakan dalam penelitian sosiologi adalah sebagai berikut : 1) Metode Statistik. Metode ini banyak dipakai untuk menjukan hubungan atau pengaruh kausalitas serta memperkecil prasangka pribadi atau sepihak. Penerapan metode ini yang paling sederhana adalah teknik enumerasi (perhitungan). Jawaban pertanyaan responden dalam bentuk tabel sehingga diketahui hasilnya secara kuantitatif. 2) Metode Eksperimen (Percobaan). Metode ini dilakukan terhadap dua kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kedua sebagai kelompok kontrol. Metode ini membandingkan hasil percobaan kedua kelompok tersebut. Ada dua macam metode eksperimen, yaitu eksperimen laboratorium dan eksperimen lapangan. 3) Metode Induktif dan Deduktif. Metode induktif adalah metode yang digunakan untuk memperoleh kaidah umum dengan mempelajari gejalah yang khusus. Metode deduktif adalah metode yang digunakan untuk memperoleh kaidah khusus dengan mempelajari gejalah yang umum. 4) Metode Studi Kasus. Metode ini digunakan untuk meneliti kebenaran peristiwaperistiwa tertentu. Misalnya gerakan-gerakan buruh untuk menuntut kenaikan gaji, gerakan mahasiswa untuk memprotes kenaikan harha BBM, dan lain lain. 5) Metode Survei Lapangan. Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang hanya ada pada kehidupan masyarakat secara langsung. Data diperoleh melalui angket, wawancara, ataupun observasi secara langsung. Persiapan-persiapan yang dilakaukan adalah menentukan populasi yang hendak diteliti, sekaligus menentukan sampel objek penelitian, membuat instrumen (angket) dengan bahasa yang dapat di pahami objek, melakukan pendekatan sosial, dan persiapan lainnya. 6) Metode Partisipasi. Metode ini digunakan untuk mengadakan penelitian mendalam tentang kehidupan kelompok. Peneliti berbaur dalam kehidupan kelompok sambil melakukan pengamatan atau kegiatan penelitiannya tanpa mengungkapkan identitas sebagai peneliti. Peneliti tidak boleh secara emosional terhadap kelompok yang ditelitinya. Hal itu akan menyebabkan peneliti kehilangan jejak tentang apa yang dicari dalam penelitian itu. 7) Metode Empiris dan Rasionalitis. Metode empiris menyandarkan diri pada fakta yang ada dalam masyarakat melalui penelitian. Metode rasionalistis, mengutamakan

pemikiran yang sehat untuk mencapai pengertian tentang masalah-masalah kemasyarakatan. 8) Metode Fungsionalisme. Metode ini bertujuan untuk meneliti kegunaan lembagalembaga kemasyarakatan dan struktur sosial dalam masyarakat. 9) Metode Studi Pustaka. Metode ini merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mangambil data atau keterangan dari buku-buku literatur di perpustakaan. Kelebihan dari metode ini adalah dapat memperoleh banyak sumber tanpa memerlukan banyak biaya, tenaga dan waktu karena buku-bukunya terkumpul didalam ruangan perpustakaan. Akan tetapi, yang menjadi kelemahannya adalah dibutuhkan kepandaian peneliti untuk mencari buku-buku yang relevan agar dapat dipakai sebagai sumber perolehan data dalam penetian tersebut. Metode-metode sosiologi yang tersebut diatas bersifat saling melengkapi dan para ahli sosioloi sering kali menggunakan lebih dari satu metode untuk menyelidiki objeknya. D. Konsep-Konsep Tentang Realitas Sosial Budaya Realitas sosial budaya mengandung arti kenyataan-kenyataan sosial budaya disekitar lingkungan masyarakat tertentu. Kenyataan sosial budaya ini terjadi karena adanya pola-pola hubungan yang terjadi dalam masyarakat. Pola-pola hubungan tersebut dapat menciptakan kestabilan, tetapi dapat juga menimbulkan konflik. Misalnya kenaikan BBM baru-baru ini, menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Ada yang melalkuakn demo dijalan, tetapi ada pula yang menanggapinya dengan sikap pasrah. Realitas sosial ini akan selalu ada dalam masyarakat seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat. Berikut ini beberap realitas sosial budaya yang terdapat di masyarakat, yakni sebagai berikut : Masyarakat. Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang menempati wilayah tertentu dan membinah kehidupan bersama dalam berbagai aspek kehidupan atas dasar norma sosial tertentu dalam waktu yang cukup lama. Dari pengertian di atas, dapat dilihat bahwa masyarakat merupakan organisasi manusia yang selalu berhubungan satu sama lain dan memiliki unsur-unsur pokok sebagai berikut : Orang-orang dalam jumlah yang relatif besar yang saling berinteraksi, baik antara individu dengan kelompok maupun antar kelompok sehingga menjadi satu kesatuan sosial budaya. Adanya kerjasama secara otomatis terjadi dalam setiap masyarakat, baik dalam skala kecil (antar individu) maupun dalam skala besar (antar kelompok). Kerjasama ini meliputi berbagai aspek kehidupan , seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan. Berada dalam wilayah dengan batas-batas tertentu yang merupakan wadah tempat berlangsungnya suatu tata kehidupan. Ada dua macam wilayah yang dikemukakan oleh Robert Lawang (Konsep dasar Sosiologi 2004) disebut satuan administratif (desa-kecamatan-kabupaten-propinsi), dan satuan teritorial (kawasan pedesaanperkotaan). Berlangsung dalam waktu yang relatif lama, serta memiliki norma sosial tertentu yang menjadi pedoman dalam sistem tata kelakuan dan hubungan warga masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Konsep masyarakat tidak berdiri sendiri, tetapi erat hubungan dengan lingkungan. Hal tersebut berarti bahwa ketika seseorang berinteraksi dengan sesamanya, maka lingkungan menjadi faktor mempengaruhi sikap-sikap, perasaan, perlakuan, dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dilingkungannya. Misalnya : lingkungan keluarga,

1)

a.

b.

c.

d.

para remaja yang sebaya, lingkungan kerja, dan lingkungan kampus. Dimasingmasing lingkungan itulah ia akan masuk sebagai anggota kelompoknya. Oleh karena itu, ia dapat menyertakan , memainkan sifat dan kehendak anggota kelompoknya bahkan kadang-kadang menciptakan, meciptakan, meminjam, dan memperkenalkan perilaku yang berbeda dalam masyarakatnya. 2) Interaksi Sosial. Interaksi sosial adalah hubungan dan pengaruh timbal balik antar individu, antar individu dengan kelompok dan antar kelompok. 3) Status dan Peranan. Status adalah posisi seseorang dalam masyarakat. Status mewrupakan aspek masyarakat yang kurang lebih bersifat statis. Peran merupakan tindakan atau perilaku dari orang yang memiliki status tertentu. Peran merupakan aspek masyarakat yang kurang lebih bersifat dinamis. Status dan peran tidak dapat dipisahkan, keduanya saling beriringan. Misalnya : status seorang sultan mengharuskan ia berperan sebagai tokoh panutan masyarakat. 4) Nilai Sosial. Nilai sosial adalah segalah sesuatu yang dianggap baik dan benar oleh masyarakat dan merupakan sesuatu yang diidam-idamkan. Pergeseran nilai akan mempengaruhi kebiasaan (folkways) dan tata kelakuan (mores). 5) Norma Sosialnorma merupakan wujud konkret dari nilai sosial. Norma di buat untuk melaksanakan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat yang telah dianggap baik dan benar. Agar norma di patuhi oleh semua warga masyarakat, maka norma dilengkapi dengan sanksi. Sanksi adalah alat untuk menekan atau memaksa masyarakat untuk mematuhi nilai-nilai yang telah disepakati. Ada emapt macam norma yang ada dalam masyarakat, antara lain : a. Norma Agama, yaitu petunjuk hidup yang berupa perintah dan larangan agar manusia berada dalam jalan yang dikehendaki Tuhan. Misalnya : dilarang mencuri. b. Norma Adat atau kebiasaan, yaitu norma yang berkaitan dengan sistem penyelenggaraan hidup yang terjadi secara berulang-ulang karena dibakukan dan diyakini sebagai sebagai sesuatu yang baik. Contohnya : norma adat yaitu adat pembagian warisan. c. Norma Kesusilaan atau kesopanan, yaitu tuntutan perilaku yang harus di patuhi oleh setiap warga masyarakat. Norma ini memiliki substansi pokok mengenai penghargaan terhadap harkat dan martabat orang lain. Contohnya : cara berpakaian. d. Norma Hukum, yaitu norma masyarakat yang dibuat oleh lembaga-lembaga berwenang, seperti MPR,DPR,DPD, dan pemerintah. Di Indonesia norma hukum terdiri dari hukum perdata dan hukum pidana. Ciri-ciri norma hukum antara lain bersifat eksplisit, memaksa, dan dibuat oleh lembaga yang berwenang untuk mengatur perilaku sosial warga masyarakat. Norma ini dapat lebih menjamin tertib sosial yang ada dalam masyarakat dibandingkan dengan norma-norma lainnya. 6) Lembaga Sosial (Pranata Sosial). Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, lembaga adalah sistem hubungan sosial yang terorganisasi yang mewujudkan nilainilai dan tata cara umum tertentu dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Lembaga merupakan suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan yang oleh masyarakat di angga penting. Ada lima lembaga sosial yang terdapat di masyarakat, yaitu lembaga keluarga, lembaga keagamaan, lembaga pemerintah, lembaga perekonomian dan lembaga pendidikan. 7) Sosialisasi. Sosialisasi merupakan proses individu belajar berinteraksi di tengahtengah masyarakat. Melalui prose sosialisasi, seseorang individu akan memperoleh

pengetahuan-pengetahuan, nilai-nilai, norma-norma yang akan membekalinya dalam proses pergaulan. 8) Perilaku Menyimpang. Perilaku menyimpang merupakan bentuk perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat bersumber beberapa di bawah ini, antara lain : a. Tidak berfungsinya aparat hukum b. Memburuknya situasi sosial budaya masyarakat, seperti depresi dan resesi ekonomi, peperangan dan bencana alam. c. Tidak berhasilnya proses pewarisan budaya, misalnya melalui pendidikan didalam keluarga dan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah. d. Proses sosialisasi yang tidak sempurna atau tidak lengkap, serta karena proses sosialisasi terhadap sub-sub kebudayaan yang menyimpang. 9) Pengendalian Sosial. Setiap masyarakat menginginkan adanya suatu ketertiban agar tata hubungan antar warga masyarakat dapat berjalan secara tertib dan lancar. Untuk kepentingan ini, masyarakat menciptakan norma sebagai pedoman perilaku yang pelaksanaanya memerlukan suatu bentuk pengawasan dan pengendalian. Usaha yang dilakukan agar masyarakat berpeilaku sesuai dengan norma dan nilai yang belaku di masyarakat disebut pengendalian sosial.. dalam pelaksanaan pengendalian sosial diperlukan beberapa perangkat, antara lain norma, lembaga/institusi, dan personel-personel penegak hukum. 10) Proses Sosial. Proses sosial merupakan proses interaksi dan komunikasi antar komponen masyarakat dari waktu ke waktu sehingga mewujudkan suatu perubahan. Dalam suatu proses sosial terdapat komponen-komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu sebagai berikut : a. Struktur sosial, yaitu susunan masyarakat secara komprehensif yang menyangkut individu-individu, tata niali, organisasi sosial, dan struktur budayanya. Struktur sosial merupakan suatu bangunan masyarakat yang abstrak dan menentukan bagaimana corak gerakan masyarakat itu menuju suatu perubahan. b. Interaksi sosial, yaitu keseluruhan jalinan antar warga masyarakat, baik secara individu, maupun secara kelompok dalam menyelenggarakan kehidupannya. c. Struktur alam lingkungan yang meliputi aspek letak, bentang alam, iklim, flora, dan fauna. Komponen ini merupakan salah satu komponen yang turut serta dalam mempengaruhi bagaimana jalannya proses sosial dalam suatu masyarakat. Masyarakat yang kondisi alamnya tidak ramah akan memberikan dorongan yang kuat bagi warganya untuk berusaha secara maksimal dalam mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya, contohnya masyarakat Jepang. Sebaliknya, masyarakat yang di dukung oleh kondisi alam yang serba berlimpah dapat memberikan dorongan yang negatif, seperti malas dan apatis sehingga terbentuklah suatu etos kerja yang lamban dan formalistik. Contohnya masyarakat Indonesia. 11) Perubahan Sosial. Perubahan sosial budaya adalah perubahan struktur sosial budaya akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsurnya sehingga memunculkan suatu corak sosial budaya baru yang di anggap ideal. Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial budaya dalam suatu masyarakat adalah : a. Perubahan lingkungan alam b. Perubahan situasi kependudukan c. Perubahan struktur sosial dan budaya, dan d. Perubahan nilai dan sikap. 12) Kebudayaan. Kebudayaan adalah semua hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam hidup bermasyarakat. Dalam arti luas, kebudayaan merupakan segalah sesuatu yang berada di muka bumi ini yang keberadaanya diciptakan oleh manusia.

Wujud dari kebudayaan (Pengantar Antropologi I, Koentjaraningrat, 1996) itu dapat berbentuk : a. Artefak, yaitu benda-benda yang merupakan hasil karya manusia b. Sistem aktifitas, yaitu seperti berbagai jenis tarian, olah raga, kegiatan-kegiatan sosial, dan kegiatan ritual. c. Sistem ide atau gagasan, yaitu suatu pola pikir yang ada dalam pikiran manusia. Ide merupakan bentuk budaya abstrak yang mengawali suatu perilaku ataupun hasil perilaku bagi setiap bangsa. Sistem ide ini sangat mempengaruhi oleh nilai-nilai yang di anut oleh anggota masyarakat. Kebudayaan secara universal terdiri dari tujuh unsur utama, yaitu : a.Sistem komunikasi (bahasa) b.Sistem kepercayaan (religi) c. Sistem kesenian (seni) d.Sistem organisasi sosial (sistem kemasyarakatan) e.Sistem mata pencaharian (sistem ekonomi) f. Sistem ilmu pengetahuan g.Sistem peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi) E. Hubungan Antara Berbagai Konsep Realitas Sosial Budaya
1. Masyarakat dan Kebudayaan. Masyarakat dan kebudayaan seperti dua sis mata uang yang tak dapat dipisahkan. Berbicara tentang masyarakat tentu tak akan lepas dari konsep budaya. Karena kebudayaan adalah segalah sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh masyarakat. Dalam proses pergaulannya, masyarakat akan menghasilkan budaya yang selanjutnya akan dipakai sebagai sarana penyelenggaraan kehidupan bersama. Oleh sebab itu, konsep masyarakat dan konsep kebudayaan merupakan dua hal yang senantiasa berkaitan dan membentuk suatu sistem. Masyarakat dan Interaksi Sosial. Dalam kehidupan, manusia senantiasa membutuhkan pertolongan manusia yang lain (zoon politicon). Oleh sebab itu, masyarakat selalu melakukan interaksi sosial, baik antar individu, antara individu dan kelompok, maupun antar kelompok. Jadi masyarakat dan interaksi sosial tidak dapat di pisahkan. Status dan Peranan. Status sosial (kedudukan) merupakan posisi seseorang di tengah-tengah masyarakat. Status dan peranan selalu berkaitan. Peranan merupakan perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki status tertentu. Nilai, Norma dan lembaga Sosial. Untuk menciptakan keteraturan dalam masyarakat dibutuhkan suatu perangkat pengaturan tertib sosial yang dinamakan pranata sosial. Dalam pranata sosial ini norma-norma dan nilai-nilai sosial akan menjadi sebuah pedoman berperilaku dalam masyarakat. Pranata sosial ini di buat oleh lembaga sosial yang ada dalam masyarakat. Lembaga sosial dapat mengontrol apakah suatu norma berjalan dengan baik atau sebaliknya. Contohnya, lembaga peradilan dapat memberikan sanksi pada orang yang melanggar norma hukum. Perilaku Menyimpang dan Pengendalian Sosial. Adanya perilaku menyimpang akan mengancam keseimbangan dalam masyarakat. Oleh sebab itu, diperlukan pengendalian sosial. Dengan pengendalian sosial yang efektif, maka perilaku menyimpang akan mengalami penurunan. Selanjutnya, dengan menurunnya perilaku menyimpang, maka pengendalian sosial menjadi berkurang intentitasnya.. demikian terjadi terus

2.

3.

4.

5.

menerusmembentuk suatu korelasi sebab akibat antara perilaku menyimpang dan pengendalian sosial dalam suatu masyarakat.

F.

Data Tentang Realitas Sosial dan Permasalahan Sosial. Data merupakan fakta atau keterangan mengenai suatu fenomena yang terjadi di lapangan. Untuk meneliti atau mengetahui sebab terjadinya suatu fenomena sosial diperlukan data yang akurat. Data sosiologi dapat diperoleh melalui berbagai cara seperti wawancara dengan responden, dan melakukan pengamatan langsung terhadap pola kehidupan responden Adapun fenomena sosial adalah gejalah-gejalah yang terjadi dalam masyarakat yang sifatnya luar biasa. Fenomena-fenomena sosial merupakan bentuk-bentuk kenisbian dari tata pergaulan masyarakat majemuk seperti di Indonesia. Fenomena ini dapat berupa perubahan gaya hidup, tata cara pergaulan, perubahan sistem kemasyarakatan, maupun hal-hal yang dapat memicu terjadinya masalah-masalah sosial. Berikut ini ada beberapa fenomena-fenomena sosial di masyarakat berdasarkan hasil penelitian dan data statistik yang perlu mendapat perhatian dari keseluruhan komponen bangsa, yaitu antara lain : 1. Penurunan Kualitas Moral (Demoralisasi). Dewasa ini banyak di jumpai keadaan dimana kualitas moral yang terjadi di masyarakat mengalami penurunan. Hal inilah yang dinamakan demoralisasi. Brooks dan Gable (1997) mengatakan bahwa demoralisasi berhubungan dengan rendahnya standar moral dan penepatan nilai serta norma dalam masyarakat. Beberapa indikasi yang menunjukan suatu bangsa mengalami gejalah demoralisasi adalah sebagai berikut : a. Kuantitas dan kualitas kriminalitas sosial semakin meningkat, seperti pemerkosaan, pencurian, perampokan dan pembunuhan. b. Terjadinya kerusuhan yang bersifat anarkis, seperti pembakaran rumah, perusakan fasilitas umum, dan penjarahan. c. Konflik sosial semakin marak, baik vertikal maupun horisontal. d. Tindakan korupsi merajalela. e. Meningkatnya jumlah pemakai dan pengedar narkoba di kalangan masyarakat. f. Pergaulan bebas semakin merajalela. Beberapa hal yang dapat menyebabkan demoralisasi di kalangan masyarakat antara lain : a.krisis ekonomi yang berkepanjangan b.pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi sehingga mengakibatkan jumlah pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja. c. Menurunya kewibawaan pemerintah yang ditandai dengan tidak berhasilnya pemerintah memenuhi tuntutan rakyat. d.Meningkatnya angka kemiskinan. e. Menurunnya kualitas aparat penegak hukum, seperti kepolisisan, kejaksaan, dan kehakiman. f. Adanya sikap-sikap negatif seperti malas, boros, tidak disiplin, serta sikap apatis yang akhirnya untuk mencapai sesuatu dengan jalan pintas. g. Keengganan memahami dan medalami ajaran-ajaran agama. 2. Terorisme. Terorisme merupakan tindakan yang membuat kerusakan-kerusakan didalam masyarakat dengan tujuan menyebarkan rasa takut serta mengancam keselamatan publik. Tindakan ini muncul salah satunya akibat adanya rasa ketidakadilan dan pemahaman keagamaan yang sempit. Tidakan terorisme dapat dilakukan oelh siapa

pun tanpa mengenal suku, ras, dan agama. Motif yang digunakan pun bermacammacam. Contohnya aksi pelemparan bom molotof ke kantor DPD oleh satu partai poitik di kota Depok. Beberapa akibat yang timbul dari tindakan terorisme antara lain : a. Jatuhnya korban jiwa dan materi b. Menurunnya sektor pendapatan bidang pariwisata c. Adanya rasa takut akan keselamatan jiwa (trauma) 3. Merebaknya Kasus Perdagangan Anak. Aris Merdeka Sirait, sekjen Komnas Anak mengemukakan bahwa Indonesia merupakan pemasok perdaganagan anak dan wanita (trafficking) terbesar di Asia Tenggara. Berdasarkan penelitian yang dilakukan lembaganya, terdapat sekitar 200 sampai 300 ribu pekerja seks komersial (PSK) berusia di bawah 18 tahun. Terdakang ada rang tua yang menjual anaknya karena terhimpit beban eknomi. Adapula yang tertipu merelakan anak mereka untuk bekerja di luar kota, dengan harapan memperoleh masa depan yang lebih baik, padahal mereka dipekerjakan sebagai pekerja seks komesrsial. 4. Meningkatnya Angka Kemiskinan. Krisi multidimensional yang terjadi pada tahun 1997 menyebabkan jumlah penduduk miskin di Indonesia semakin bertambah. Mengutip data pusat statistik, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan maret 2006 sebesar 39,5 juta (17,75%). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97%), maka jumalah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya angka pengangguran, sementara harga barang-barang di pasaran terus meningkat. Krisis ekonomi yang berkepanjangan berpengaruh pada perekonomian negara sehimgga pemerintah mengambil kebijakansanaan, seperti menaikan harga BBM. Bagi penduduk miskin pemerintah memberikan dana kompensasi BBM, namun masi saja ada kesalahan teknis sehingga dana kompensasi tersebut tidak sampai pada sasaran. Beberapa akibat yang ditimbulkan dari meningkatnya angka kemiskinan antara lain : a. Penurunan tingkat kesehatan masyarakat akibat kekurangan gizi, contohnya kasus busung lapar di beberapa daerah yang akhir-akhir ini semakin meningkat, dan b. Munculnya demoralisasi yang ditandai dengan meningkatnya angka kriminalitas. 5. Kenakalan remaja (Delinkuensi). Kenakanlan remaja adalah semua perbuatan anak remaja (usia belasan tahun) yang berlawanan dengan ketertiban umum (nilai dan norma yang di akui bersama) yang ditujukan pada orang lain, binatang, dan barang-barang yang dapat menimbulkan bahaya atau kerugian pada pihak lain. Contohnya pemerkosaan dan kumpul kebo. Hai ini merupakan tindakan penyimpangan sosial yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN
A. IDENTITAS SEKOLAH Nama Sekolah Alamat Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester : SMA Negeri 1 Payakumbuh : Jl. Merapi 04 Payakumbuh : Sosiologi : X/2 (pertemuan 1-5)

B. STAN DAR KOMPETENSI Memahami Nilai Dan Norma Dalam Proses Pengembangan Kepribadian " C. KOMPETENSI DASAR "Menjelaskan Sosialisasi Sebagai Proses Dalam Pembentukan Kepribadian" D. INDIKATOR Menjelaskan pengertian sosialisasi berdasarkan pendapat para ahli Menjelaskan tujuan sosialisasi Menjelaskan tahapan proses sosialisasi dalam pembentukan kepribadian Menjelaskan agen sosialisasi Menjelaskan bentuk-bentuk sosialisasi Menjelaskan tipe-tipe sosialisasi Menjelaskan pengertian kepribadian. Menjelaskan faktor pembentuk kepribadian Menjelaskan unsur-unsur penyusun kepribadian. Menjelaskan hubungan sosialisasi dengan kepribadian. Menjelaskan pengertian kebudayaan Menjelaskan unsur-unsur kebudayaan. Menjelaskan hubungan kebudayaan dengan kepribadian.

E. TUJUAN PEMBELAJARAN
Siswa dapat menjelaskan pengertian sosialisasi berdasarkan pendapat para ahli Siswa dapat menjelaskan tujuan sosialisasi Siswa dapat menjelaskan tahapan proses sosialisasi dalam pembentukan kepribadian Siswa dapat menjelaskan agen sosialisasi Siswa dapat menjelaskan bentuk-bentuk sosialisasi Siswa dapat menjelaskan tipe-tipe sosialisasi Siswa dapat menjelaskan pengertian kepribadian. Siswa dapat menjelaskan faktor pembentuk kepribadian Siswa dapat menjelaskan unsur-unsur penyusun kepribadian. Siswa dapat menjelaskan hubungan sosialisasi dengan kepribadian. Siswa dapat menjelaskan pengertian kebudayaan

Siswa dapat menjelaskan unsur-unsur kebudayaan. Siswa dapat menjelaskan hubungan kebudayaan dengan kepribadian SOSIALISASI DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

A. Pengertian Sosialisasi Manusia berbeda dari binatang. Perilaku pada binatang dikendalikan oleh instink/naluri yang merupakan bawaan sejak awal kehidupannya. Binatang tidak menentukan apa yang harus dimakannya, karena hal itu sudah diatur oleh naluri. Binatang dapat hidup dan melakukan hubungan berdasarkan nalurinya. Manusia merupakan mahluk tidak berdaya kalau hanya mengandalkan nalurinya. Naluri manusia tidak selengkap dan sekuat pada binatang. Untuk mengisi kekosongan dalam kehidupannya manusia mengembangkan kebudayaan. Manusia harus memutuskan sendiri apa yang akan dimakan dan juga kebiasaan-kebiasaan lain yang kemudian menjadi bagian dari kebudayaannya. Manusia mengembangkan kebiasaan tentang apa yang dimakan, sehingga terdapat perbedaan makanan pokok di antara kelompok/masyarakat. Demikian juga dalam hal hubungan antara laki-laki dengan perempuan, kebiasaan yang berkembang dalam setiap kelompok menghasilkan bermacam-macam sistem pernikahan dan kekerabatan yang berbeda satu dengan lainnya. Dengan kata lain, kebiasaan-kebiasaan pada manusia/masyarakat diperoleh melalui proses belajar, yang disebut sosialisasi. Berikut beberapa definisi mengenai sosialisasi. Charlotte Buller sosialisasi adalah proses yang membantuk individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan berfikir kelompoknya agar dia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya. Peter l. Berger sosialisasi adalah suatu proses ketika seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Soerjono Soekanto sosialisasi merupakan proses mengkomunikasikan kebudayaan kepada warga masyarakat yang baru. Koentjaraningrat sosialisasi merupakan suatu proses, yaitu proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial. Dalam proses tersebut seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari. Irvin L. child dalam bukunya sosialization mengatakan bahwa sosialisasi adalah segenap proses individu yang dilahirkan dengan banyak sekali potensi tingkah laku. Dituntut untuk mengembangkan potensi tingkah laku aktualnya, yang dibatasi di dalam satu jajaran menjadi kebiasaannya dan bisa diterima olehnya sesuai dengan standar-standar dari kelompoknya. Hasan Shadily; Sosialisasi adalah proses di mana seseorang mulai menerima dan menyesuaikan diri terhadap adat istiadat suatu golongan. Di mana lambat laun ia akan merasa sebagian di golongan itu. Robert M.Z. Lawang: Sosialisasi adalah proses mempelajari nilai, norma, peran dan persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan seseorang dapat berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan sosial. Horton dan Hunt: Suatu proses yang terjadi ketika seorang individu menghayati nilai-nilai dan normanorma kelompok di mana ia hidup sehingga terbentuklah kepribadiannya. Sosialisasi mencakup beberapa hal sebagai berikut : Kegiatan belajar menurut Dimyati dan kawan-kawan, belajar adalah peristiwa komplek dan berkelanjutan yang berlangsung setiap hari. Penyesuain diri Pengalaman mental. Pengalaman seseorang sebagai hasil dari proses sosialisasi dan internalisasi nilai akan mengakibatkan terbentuknya sikap pada diri seseorang.

Dalam proses sosialisasi terjadi paling tidak tiga proses, yaitu: (1) belajar nilai dan norma (sosialisasi), (2) menjadikan nilai dan norma yang dipelajari tersebut sebagai milik diri (internalisasi), dan (3) membiasakan tindakan dan perilaku sesuai dengan nilai dan norma yang telah menjadi miliknya (enkulturasi). 1. Fungsi Sosialisasi 1) 2) Bagi individu: agar dapat hidup secara wajar dalam kelompo/masyarakatnya, sehingga tidak aneh dan diterima oleh warga masyarakat lain serta dapat berpartisipasi aktif sebagai anggota masyarakat Bagi masyarakat: menciptakan keteraturan sosial melalui / dengan memfungsikan sosialisasi sebagai sarana pewarisan nilai dan norma serta pengendalian sosial. 2. Tujuan Sosialisasi 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) sosialisasi nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dapat memberikan kepada si anak bekal untuk mampu berinteraksi dengan masyarakat. Supaya masyarakat tetap dengan semua nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. Memberi dan menambah kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien mengembangkan kemampuan membaca, menulis dan bercerita. Proses pembentukan sikap. Memberikan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan seorang individu untuk hidup bermasyarakat. Membantu pengandalian fungsi organik yang dipelajari melalui latihan mawas diri. Membiasakan individu dengan nilai-nilai kepercayaan pokok dan mendasar yang ada pada masyarakat dimana ia tinggal. 3. Proses Tahapan Sosialisasi a. Tahap Persiapan (Preparatory stage) Tahap persiapan adalah suatu tahap persiapan bagi seseorang dalam dalam mengenal dunia sosialnya, termasuk persiapan untuk memperoleh pemahaman tentang dirinya. Tahap ini di alami seseorang sejak ia dilahirkan ke dunia (1-5 tahun). Dalam tahap ini individu meniru perilaku orangorang yang ada di sekitarnya, tetapi belum mampu memberi makna apapun dari tindakan yang ditiru. (Merupakan peniruan murni.) Contonya ketika seorang anak balita belajar berbicara pertama kali la dikenalkan dengan kata-kata yang mudah ditirunya kata " minum" dengan kata "makan" dengan "mam-mam". b. Tahap meniru (play Stage) Play Stage, atau tahap permainan (usia 6 12 tahun), anak mulai memberi makna terhadap perilaku yang ditiru. Mulai mengenal bahasa. Mulai mendefinisikan siapa dirinya (identifikasi diri) sebagaimana definisi yang diberikan oleh significant other. Significant other merupakan orang yang secara nyata penting bagi seseorang dalam proses sosialisasi. Bagi anak-anak dalam tahap play stage, orangtua merupakan significant other. Bahkan, anak-anak tidak dapat memilih siapa significant other-nya! Ketika ada yang menyapa: Hi, Agus, maka anak mengerti: Oh aku Agus. Hi, Pintar. Oh, aku pintar. Bodoh banget kamu. Oh, aku bodoh banget, dan setertusnya. Definisi diri pada tahap ini sebagaimana yang diberikan oleh significant other. c. Tahap Siap Bertindak (Game Stega) Tahap ini berbeda dari tahap permainan, karena tindakan meniru digantikan dengan tindakan yang disadari. Tidak hanya mengetahui peran yang dijalankannya, tetapi juga peran orang lain dengan siapa ia berinteraksi.

Bisakah Anda membedakan antara bermain bola dengan pertandingan sepakbola? Bermain bola dapat dilakukan oleh anak-anak pada yang telah mengalami sosialisasi tahap play stage, tetapi bertanding sepakbola baru dapat dilakukan oleh anak-anak yang telah mengalami sosialisasi pada tahap game stage. Mengapa demikian? Karena dalam pertandingan sepakbola ada prosedur dan tatacara yang harus ditaati. Anak-anak akan memahami tentang prosedur dan tatacara apabila telah mengalami sosialisasi pada tahap game stage. ( 13 17 tahun). d. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (generalized Stage) ( 17 tahun keatas) Pada tahap ini individu telah mampu mengambil peran yang dijalankan oleh orang-orang dalam masyarakatnya, ia telah mampu berinteraksi dan memainkan perannya dengan berbagai macam orang dengan status, peran dan harapan yang berbeda-beda dalam masyarakatnya. Pada tahap ini seorang telah dianggap dewasa. Dia telah mampu menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dimana individu telah mampu mentaati nilai dan norma yang ada dalam mayarakat, mereka telah menjadi anggota masyarakat sepenuhnya. Menurur Charles H. Cooley m enekankan pentingnya peran interaksi dalam proses sosialisasi dimana seorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain yang terbentuk melalui tiga tahap : Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain. Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai diri kita. Bagaimana perasaan kita sebagai akibat penilaian tersebut. B. Agen Sosialisasi Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi. Dapat juga disebut sebagai media sosialisasi. Jacobs dan Fuller (1973), mengidentifikasi empat agen utama sosialisasi, yaitu: (1) keluarga, (2) kelompok pertemanan, (3) lembaga pendidikan, dan (4) media massa. Para ahli sosiologi menambahkan juga peran dan pengaruh dari lingkungan kerja. 1. Keluarga Keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap proses sosialisasi manusia karena keluarga mempakan kelompok primer yang selalu tatap muka diantara anggotanya, sehingga dapat selalu mengikuti perkembangan anggota-anggotanya, orang tua mempunyai kondisi yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya sehingga menimbulkan hubungan emosional yang kuat dalam proses sosialisasi dan adanya hubungan sosial yang tetap. Peran sosialisasi dalam keluarga rnempunyai 3 fungsi dominan dalam pembentukan keperibadian anak . Keluarga adalah ling bagi setiap lingkungan yang pertama dan utama bagi setiap individu. Dalam hal ini peran orang tua : Memberikan pengawasan dan pengendalian yang sewajarnya dengan tujuan agar jiwa anak tidak merasa tertekan. Mendorong agar anak bisa membedakan anatar perilaku yang baik dan buruk dan benar salah serta pantas dan tidak pantas dilakukan. Menjadi teladan dan memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya. Pola sosialisasi dalam keluarga Terdapatnya dua macam pola proses sosialisasi di lingkungan keluarga, yaitu sebagai berikut : a) Sosialisasi Represif (Repressive sicialization) Yaitu pola sosialisasi yang mengutamakan kepatuhan anak terhadap orang tua. Ciri -ciri yang lain dari pola sosialisasi seperti ini adalah menghukum prilkau yang keliru, hukuman dan imbalan berupa materi, menekankan komunikasi yang bersifat satu arah dan berisi perintah, berpusat pada orang tua, anak memperhatikan orang tua, serta keluarga merupakan dominasi orang tua. [dapat mengakibatkan anak cacat fisik...?], untuk lebih jelasnya sosialisasi Represif menekankan pada:

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

penggunaan hukuman, memakai materi dalam hukuman dan imbalan, kepatuhan anak pada orang tua, komunikasi satu arah (perintah), bersifat nonverbal, orang tua sebagai pusat sosialisasi sehingga keinginan orang tua menjadi penting. keluarga menjadi significant others.

b) Sosialisasi Partisipatoris (Partisipatory Sosialization) Yaitu pola pola sosialisasi yang mengutmnakan adanya partisipasi dari anak. Dalam pola sosialisasi seperti ini anak diberi kebebasan dimana anak -anak diberi imbalan ketika anak berperilaku baik dan diberi hukuman ketika ia berbuat kesalahan. Cirl -cirl yang , melekat pada sosialisasi pertisipatoris adalah penekanan pada interaksi dan komunikasi yang bersifat lisan dan dua arah, sehingga hukuman dan imbalan yang diperoleh anak bersifat simbolis. Sosialisasi partisipatoris menekankan pada (1) individu diberi imbalan jika berkelakuan baik, (2) hukuman dan imbalan bersifat simbolik, (3) anak diberi kebebasan, (4) penekanan pada interaksi, (5) komunikasi terjadi secara lisan/verbal, (6) anak pusat sosialisasi sehingga keperluan anak dianggap penting, dan (7) keluarga menjadi generalized others 2. Kelompok Bermain / teman sebaya

Agen sosialisasi bagi anak setelah keluarga adalah teman atau kelompok bermain yang dalam istilah sosiologi disebut peer group. Kelopok bermain pada usia anak--anak- meliputi teman-teman, tetangga, keluarga, dan kerabat yang sebaya dengannya. Dalam kelompok ini seorang anak mulai belajar aturan-aturan yang belum tentu sama dengan kebiasaan yang dilakukannya di dalam kelaurga. la dituntut untuk menghargai hak orang lain, toleran terhadap teman, serta memainkan suatu peran tertentu. Adapun peranan positif kelompok bermain sebagai berikut : Anak merasa aman dan nyaman karena dianggap penting dalam kelompoknya.. Kelompok persahabatan dapat mengembangkan sikap kemandirian remaja dengan baik Remaja dapat tempat yang baik untuk menyalurkan rasa kecewa, khawatir, takut, gembira, dan sebagainya yang mungkin tidak didapatkan dirumah. R e m a j a d a p a t m e n g e m b a n g k a n k e t e r a m p i l a n s o s i a l y a n g m u n g k i n b e r g u n a b a g i kehidupannya kelak melalui interaksi dalam kelompoknya. Kelompok persahabatan biasanya memiliki pola perilaku dan kaidah-kaidah tertentu yang dapat mendorong remaja untuk bersikap lebih dewasa. Setiap anggota kelompok dapat mengembangkan keterampilan berorganisasi. 3. Lembaga pendidikan / Sekolah Sekolah merupakan salah satu agen sosialisasi di dalam sistem pendidikan formal. Seseorang akan mempelajari hal-ahal yang baru yang belum pernah dipelajarinya di dalam keluarga maupun k e l o m p o k bermain melalui sekolah. Di lingkungan rumah, seorang a n a k menghargai. Dalam lembaga pendidikan sekolah seseorang belajar membaca, menulis, d a n b e r h i t u n g . A s p e k l a i n y a n g j u g a d i p e l a j a r i a d a l a h a t u r a n - a t u r a n m e n g e n a i kemandir ia n ( ind epe nde nc e ), pre st as i ( ach iev eme nt ) , un iv ers al ise , dan ke kha san ( specificity ) bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab. Sekolah sebagai agen sosialisasi dapat mempengaruhi perkembangan intelektual, disamping itu juga mempengaruhi perkembangan kepribadian.

a. b. c. d.

Sekolah sangat berperan untuk mengantarkan para pelajar agar menjadi dirinya sendiri dengan baik. Untuk itu sekolah mengemban beberapa fungsi seperti: Mengembangkan potensi para pelajar agar memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan dalam kehidupannya kelak. Mewariskan dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan yang telah terbina secara tradisional sehingga akan tetap terjaga kelestariannya. Membina para pelajar untuk menjadi warga negara yang baik, berjiwa demokratis, berwawasan kebangsaan. Membina para pelajar untuk menjadi manusia-manusia yang berjiwa religius, yakni manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Proses pendidikan yang diselenggarakan di sekolah akan berhasil secara maksimal apabila didukung oleh proses pendidikan yang berlangsung di dalam keluarga dan di masyarakat. Keluarga, masyarakat, dan sekolah merupakan tiga pusat pendidikan atau dikenal dengan istilah Tri Pusat Pendidikan yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan kepribadian seseorang. 4. Peran media massa Para ilmuwan sosial telah banyak membuktikan bahwa pesan-pesan yang disampaikan melalui media massa (televisi, radio, film, internet, surat kabar, makalah, buku, dst.) memberikan pengaruh bagi perkembangan diri seseorang, terutama anak-anak. Beberapa hasil penelian menyatakan bahwa sebagaian besar waktu anak-anak dan remaja dihabiskan untuk menonton televisi, bermain game online dan berkomunikasi melalui internet, seperti yahoo messenger, google talk, friendster, facebook, dll. Diakui oleh banyak pihak bahwa media massa telah berperan dalam proses homogenisasi, bahwa akhirnya masyarakat dari berbagai belahan dunia memiliki struktur dan kecenderungan cara hidup yang sama 5. Sistem/lingkungan kerja dan masyarakat Di lingkungan kerja seseorang juga belajar tentang nilai, norma dan cara hidup. Tidaklah berlebihan apabila dinyatakan bahwa cara dan prosedur kerja di lingkungan militer berbeda dengan di lingkungan sekolah atau perguruan tinggi. Seorang anggota tentara akan bersosialisasi dengan cara kerja lingkungan militer dengan garis komando yang tegas. Dosen atau guru lebih banyak bersosialisasi dengan iklim kerja yang lebih demokratis. Masyarakat Masyarakat memberikan pengaruh yang basar dalam proses sosialisasi seseorang. Pada masyarakat pedesaan yang bersifat homogen sehinnga. proses sosialisasi berjalan dengan lancar tetapi pada masyarakat perkotaan yang tingkat kemajemukannya sangat tinggi sehingga proses sosialisasi agak sulit terjadi.

C. Bentuk-Bentuk Sosialisasi 1. Sosialisasi Primer Menurut Peter L. Berger dan Luckman menyatakan bahwa sosialisasi primer adalah sosialisasi pertama yang dijalani individu dari masa anak-anak (kecil) melalui belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Proses sosialisasi primer berlangsung pada anak berusia 1-5 tahun ketika anak tersebut belum memasuki lingkungan pendidikan formal di sekolah. Pada tahap berlangsungnya sosialisasi primer peran orang-orang terdekat anak menjadi sangat panting, hal tersebut terjadi karena anak melakukan poly interaksi terbatas dalam komunitas tersebut, sehingga warna kepribadian anak akan banyak ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjalin antara si anak dengan orang-orang yang terdekat. Sosialisasi primer bukan hanya sekedar proses awal berlangsungnya sosialisasi, namun Iebih dari itu adalah dasar pembentukan karakter dan karakter anak. 2. Sosialisasi sekunder sosialisasi ini merupakan proses sosialisasi lanjutan dari sosialisasi primer dalam rangka memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Terdapatnya dua bentuk sosialisasi sekunder yaitu sebagai herikut : a. Resosialisasi yaitu proses sosialisasi di mana seseorang mendapat suatu identitas diri yang baru.

b.

Desosialisasi yaitu proses sosialisasi di mana seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang telah dimiliki. Menurut Goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja.

Tipe-Tipe Sosialisasi Tipe sosialisasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut 1. Sosialisasi formal adalah sosilisasi yang terjadi melaluai lembaga -lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, misaInya pendidikan di sekolah. 2. Sosialisasi informal adalah sosialisasi yang bersifat kekeluargaan, misalnya antar teman (sahabat), antar anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial, dan dalam keluarga. 3. Sosialisasi non formal Adalah sosialisasi yang berlangsung dalam masyarakat, misalnya bimbingan belajar, kursus-kursus. Ketiga tipe sosilisasi di atas pada dasamya tetap mengarah pada pertumbuhan kepribadian anak agar sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat di lngkungannya. D. Fungsi nilai dan norma sosial dalam proses sosialisasi Ada beberapa fungsi nilai sosial dalam proses sosialisasi o Sebagai pendorong. Nilai sosial yang berfungsi sebagai pendorong adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan citacita dan harapan. o Sebagai petunjuk arah. Nilai sosial memengaruhi cara berfikir, berperasaan, bertindak, dan menjadi panduan dalam menentukan pilihan. o Sebagai alat pengawas. Nilai sosial menuntun, mendorong, bahkan tidak jarang pula memaksa anggota masyarakat untuk bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Apabila ada seseorang yang melanggar nilai dan norma maka ia akan merasa bersalah dan tersiksa. o Sebagai alat solidaritas. Solidaritas dalam kelompok atau masyarakat akan terjaga dengan adanya nilai sosial. o Sebagai benteng perlidungan. Artinya dapat menjaga stabilitas budaya dalam suatu kelompok, maupun masyarakat yang bersangkutan. E. Desosialisasi dan Resosialisasi Beberapa lembaga yang ada dalam masyarakat berfungsi melaksanakan proses resosialisasi terhadap anggota masyarakat yang perilakunya tidak sesuai harapan sebagian besar warga masyarakat (baca: menyimpang), dari yang penyimpangannya berkadar ringan sampai yang berat. Lembaga yang dimaksud antara lain: penjara, rumah singgah, rumah sakit jiwa, pendiidkan militer, dan sebagainya. Di lembaga-lembaga itu nilai-nilai dan cara hidup yang telah menjadi milik diri seseorang, karena tidak sesuai dengan nilai dan norma serta harapan sebagian besar warga masyarakat, dicabut (desosialisasi) dan digantikan dengan nilai-nilai dan cara hidup baru yang sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat. Proses penggantian nilai dan cara hidup lama dengan nilai dan cara hidup baru ini disebut resosialisasi. SOSIO INFO SOSIALISASI

Menurut Hasan Mustafa, sosialisasi adalah sebuah proses di mana kita belajar melalui interaksi dengan orang lain, tentang cara berpikir, merasakan, dan bertindak, di mana kesemuanya itu merupakan hal-hal yang sangat penting dalam menghasilkan partisipasi sosial yang efektif. Peran sosialisasi dalam kehidupan manusia sangat penting, antara lain mampu memberikan dasar bagi manusia untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan mampu melestarikan kehidupan masyarakat itu sendiri. Tanpa adanya sosialisasi, mustahil manusia untuk mengembangkan kehidupan sosial dengan sesamanya. Sementara itu, tanpa adanya sosialisasi nilai-nilai budaya maka generasi penerus akan kesulitan menemukan identitas budayanya. Ada beberapa syarat terjadinya sosialisasi, antara lain sebagai berikut. Pertama, secara biologis memungkinkan manusia untuk selalu mengadakan pembelajaran. Ia lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan yang senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Sosialisasi manusia senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan biologisnya. Kedua, lingkungan yang baik juga akan mempermudah manusia dalam bersosialisasi. Sosialisasi dilakukan manusia sejak ia dilahirkan di dunia. Semenjak bayi, manusia telah hidup dalam lingkungan sosial. Oleh karena itu, fungsi sosialisasi adalah mengalihkan segala macam informasi yang ada dalam masyarakat tersebut kepada anggota-anggota barunya agar mereka dapat segera dapat berpartisipasi di dalamnya. Artinya, yang disosialisasikan oleh manusia adalah kebudayaan yang berintikan nilai yang berkaitan dengan hal baik dan buruk serta norma yang berkaitan dengan aturan baku yang harus dipatuhi manusia. Sosialisasi bisa berlangsung karena peran institusi, media massa, individu, dan kelompok. Ada tiga teori yang menjelaskan proses pembelajaran dalam sosialisasi. 1. Teori pembelajaran sosial (social learning theory) Menurut B.F. Skinner (1953), proses pembelajaran sosial bisa dilakukan dengan mengkondisikan. Orang tua yang menginginkan anaknya taat dan patuh, bisa mengkondisikan keadaan di lingkungan rumahnya dengan memberi contoh, menasihati, memuji, atau memberi hukuman. Menurut Albert Bandura, proses pembelajaran dalam sosialisasi bisa dilakukan dengan meniru perilaku orang lain. Anak bisa berperilaku disiplin dengan meniru kedisiplinan yang diterapkan kedua orang tuanya. 2. Teori perkembangan individu (developmental theory) Menurut Erik Ericson (1950), dalam sosialisasi ada delapan tahap perkembangan: rasa percaya pada lingkungan, kemandirian, inisiatif, kemampuan psikis dan pisik, identitas diri, hubungan dengan orang lain secara intim, pembinaan keluarga/keturunan, penerimaan kehidupan. 3. Teori interaksi simbolis (symbolic interaction theory) Inti dari teori ini adalah memusatkan pada kajian tentang bagaimana individu menginterpretasikan dan memaknakan interaksi-interaksi sosialnya. Menurut Herbert Mead (1934) ada tiga proses tahapan pengembangan diri: preparatory stage saat anak mencoba memberikan makna pada perilakunya, play stage saat anak mulai belajar berperan seperti orang lain, dan game stage saat anak melatih ketrampilan sosialnya.
Sumber: dikutip secara bebas dari tulisan Hasan Mustafa dalam http://home.unpar.ac.id/~hasan/SOSIALISASI.doc

A.

KEPRIBADIAN Pengertian Kepribadian Dalam penjelasan tentang agen-agen sosialisasi telah disinggung tentang pentingnya sosialisasi dalam membentuk karakter kepribadian seseorang. Bagaimana sosialisasi berjalan membentuk kepribadian yang unik karena setiap manusia mempunyai kepribadian yang berbeda walaupun hidup dalam lingkungan yang sama.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

1.

2.

3.
1)

Kepribadian merupakan gambaran secara umum dari perilaku seorang individu yang sangat khas yang dapat terlihat dari perilaku seharihari. Wujud nyata dari kepribadian dapat berupa banyak hal antara lain perangai, sikap, atau perilaku, tutur kata, persepsi, kegemaran, keimanan, dan sebagainya. Kepribadian merupakan perpaduan antara warisan biologis yang diterima seseorang dari leluhurnya dengan pengaruh lingkungan melalui proses interaksi dan proses sosialisasi sejak lahir hingga dewasa. Sebelum kalian mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya kepribadian maka terlebih dahulu kalian harus mengetahui apa yang dimaksud dengan kepribadian. Theodore M. Newcomb Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku. J. Milton Yinger K e p r i b a d i a n a d a l a h k e s e l u r u h a n p e r i l a k u d a r i s e s e o r a n g i n d i v i d u d e n g a n s i s t e m kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. Yang dimaksud dengan kecenderungan tertentu itu adalah bahwa setiap orang mempunyai cara berperilaku yang khas dan bertindak sama setiap hari. John F. Cuber Kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang. M.A. W Brower Keribadian adalah adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini, dan sikap-sikap seseorang. Horton Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, eksperesi, dan temperamen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika dihadapkan pada stuasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan berperilaku yang baku, atau berpola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya. Schaefer &, Lamm Kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri -ciri khas, dan perilaku seseorang. Pola berarti seseuatu yang sudah menjadi standar atau baku, berlaku terus- menerus secara konsisten dalam menghadapi stuasi yang dihadapi. Jadi berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kepribadian adalah keseluruhan tingkah laku,nilai,pola berfikir yang dinamis dan terintegrasi serta bersifat unik (khas) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kepribadian merupakan ciri -ciri watak yang khas yang dimiliki setiap individu yang berbeda satu sama lain dan menjadi identitas bagi dirinya B. Faktor-Faktor Penentu Pembentukan Kepribadian Warisan biologis, semua hal yang diterima seseorang sebagai manusia melalui gen kedua orang tuannya. Setiap manusia sehat dan normal memiliki kesamaan biologis tertentu seperti tubuh dengan dua tangan, dua kaki, lima indra dan otak yang komplek. Kesamaan biologis ini menjelaskan kemiripan kepribadian dan tingkah laku antarmanusia. misalnya bentuk tubuh, apakah endomorph/gemuk bulat, ectomorph/kurus tinggi, dan esomorph/atletis. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa mesomorph lebih berpeluang melakukan tindakan-tindakan, termasuk berperilaku menyimpang dan melakukan kejahatan) F a k t o r L i n g k u n g a n f i s i k ( f a k t o r g e o g r a f i s ) , s a n g a t m e m p e n g a r u h i p e r k e m b a n g a n kepribadian seseorang meskipun beberapa ahli sosiologi. berpendapat bahwa faktor lingkungan georafis tidak begitu penting pengaruhnya terhadap kepribadian seseorang dibandingkan dengan faktor -faktor yang lain. Contohnya beda kekayaan alam, dimana orang yang mempunyai kekayaan alam yang banyak mereka mudah untuk memenuhi kebutuhan hidup, berbeda dengan orang yang sumber kekayaannya rendah mereka harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Faktor lingkungan kultural (Kebudayaan khusus masyarakat), dapat berupa: Kebudayaan khusus kedaerahan atau etnis (Jawa, Sunda, Batak, Minang, dst.) Cara hidup yang berbeda antara desa (daerah agararis-tradisional) dengan kota (daerah industri-modern)

2)

Kebudayaan khusus kelas sosial (ingat: kelas sosial buka sekedar kumpulan dari Orang-orang yang tingkat ekonomi, pendidikan atau derajat sosial yang sama, Tetapi lebih merupakan gaya hidup) 3) Kebudayaan khusus karena perbedaan agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan lain-lain) 4) Pekerjaan atau keahlian (guru, dosen, birokrat, politisi, tentara, pedagang, Wartawan, dll.) 4. Faktor Pengalaman Kelompok, terdapat dua kelompok yang cukup berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seseorang yaitu sebagai berikut Kelompok acuan (Kelompok Reference), yang menjadi acuan adalah keluarga, teman sebaya. Kelompok. Majemuk, kelopok ini lebih menunjukkan kepada realita masyarakat yang lebih komplek dan beraneka ragam. Dimana dalam kelompok majemuk seorang anak akan menemukan ada banyak orang dengan karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. (LKS. Kelas X hal. 7-18). 5. Faktor Pengalaman yang unik (misalnya sensasi-sensasi ketika seseorang dalam situasi jatuh cinta) C. Faktor dasar yang mempengaruhi pembentukan kepribadian 1. Sifat dasar Sifat dasar merupakan keseluruhan potensi-potensi yang diwarisi oleh seorang dari ayah dan ibunya yangdiperoleh saat konsepsi (saat terjadinya hubungan suami istri ). sifat dasar yang masih merupakan potensi tersebut akan berkembang menjadi aktualisasi karena pengaruh faktor-faktor lain 2.. Lingkungan prenatal Lingkungan prenatal merupakan lingkungan dalam kandungan ibu. Pada periode ini individu mendapat pengaruh tidak langsung dari ibu. Pengaruh itu antara lain: a. struktur tubuh ibu merupakan kondisi yang mempengaruhi pertumbuhan bayi dalam kandungan b. beberapa jenis penyakit yang diderita ibu seperti diabetes, aid, secara langsung berpengaruh terhadap perkembangan mental, penglihatan dan pendengaran si bayi c. gangguan pada kelenjar endokrin yang dapat mengakibatkan keterbelakangan perkembangan anak d. shock pada saat melahirkan dapat mernpengaruhi kondisi anak. 3. Perbedaan individual (perorangan) Perbedaan individual meliputi perbedaan cirri-ciri fisik, seperti warna mata, kulit, rambut, bentuk badan. 4. Lingkungan Lingkungan adalah segala kondisi disekeliling individu yang mempengaruhi proses sosialisasi. Lingkungan dapat dibagi atas tiga bagia yaitu (lingkungan alam,lingkungan kebudayaan,dan lingkungan sosial) 5. motivasi Motivasi merupakan kekuatan dari dalam diri individu yang mendorong individu untuk berbuat sesuatu. Motivasi dibedakan menjadi dorongan dan kebutuhan. D. Unsur-unsur penyusun Kepribadian Ada beberapa unsur penyusun kepribadian

1. Pengetahuan
Pengetahuan individu terisi dengan fantasi, pemahaman, dan konsep yang lahir d a r i pengamatan dan pengalaman mengenai bermacam -macam hal yang berada dalam lingkungan individu tersebut. Semua itu direkam dalam otak dan sedikit demi sedikit diungkapkan oleh individu tersebut dalam bentuk perilaku. 2. Perasaan Adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif atau negatif terhadap sesuatu. Bentuk penilaian itu dipengaruhi oleh pengatahuannya.

3. Dorongan Naluri
Adalah kemauan yang sudah merupakan naluri pada setiap manusia. Ada tujuh macam dorongan naluri, yaitu : 1) Dorongan untuk mempertahankan hidup 2) Dorongan seksual 3) Dorongan untuk mencari makan 4) Dorongan untuk bergual dan berinteraksi dengan sesama manusia 5) Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya 6) Dorongan untuk berbakti 7) Dorongan untuk keindahan bentuk, warna, suara dan gerak. Beberapa karakteristik kepribadian Mampu menilai diri secara realistik Mampu menilai stuasi secara realistik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawab Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar Penerimaan sosial Memeiliki filsafat hidup Berbahagia

Sedangkan kepribadian yang tidak sehat ditandai dengan karakteristik sebagai berikut
o o o o o o o o Mudah marah Menunjukkan kecemasan Sering merasa tertekan bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya relatif lebih muda atau terhadap binatang Memiliki kebiasaan berbohong Hiperaktif Bersikap memusuhi segala bentuk otoritas. Gemar mengkritik atau mencemooh orang lain. Susah tidur E. Hubungan Kepribadian dengan sosialisasi Hubungan antara kepribadian dengan sosialisasi sangat erat dimana kalau sosialisasi seorang individu baik, maka kepribadiannya akan baik karena dia dibentuk oleh keluarga yang baik.

KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN 1. Pengertian Kebudayaan

1. Koentjaraningrat menyebutkan bahwa kata kebudayaan berasal dari kata sangserkerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi, bearti budi atau akal, dengan demikian, kebudayaan bisa diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. 2. E.B. Tylor (1871.) kebudayaan adalah komplek yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. 3. Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardei merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil, karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat. 4. Kluckhohn & Kelly kebudayaan adalah semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional yang ada pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia. 5. Menurut J.J Hoenigman wujud kebudayaan ada tiga yaitu a) Gagasan Merupakan wujud ideal kebudayaan yang berupa kumpulan ide-ide. nilai-nilai, norma-noma, peraturan, dan sebagainya. Sifatnya abstrak, tidak dapat diraba, dan disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam, kepala-kepala atau di dalam pikiran warga masyarakat. b) Aktivitas Merupakan wujud kebudayaan sebagai suatu kegiatan serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya bisa diamati, difoto, dan didokumentasikan. c) Artefak Merupakan wujud kebudayaan fisik yang bempa hasil dari aktivitas, perhuatan. dan karya manusia dalam masyarakat. Wujud artefak dapat herupa benda-benda atau hal yang dapat, dilihat, dan didokumentasikan. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan dari sistem gagasan, ide, tindakan dan hasil karya manusia yang diperoleh oleh manusia tersebut dari hasil belajar dalam masyarakatnya. 2. Unsur-unsur Kebudayaan Menurut Mellville J. Herskovirs mengajukan empat unsur pokok kebudayaan, yaitu Alat-alat teknologi Sistem ekonomi Keluarga Kekuasaan Politik Bronislaw malanowski, yang terkenal sebagai salah seorang pelopor teori fungsional dalam antropoiogi, menyebut unsurunsur pokok kebudayaan antara lain: Sistem norma yang memungkinkan kerjasama antara para anggota masyarakat di dalam upaya menguasai alam, sekelilingnya, Organisasi ekonomi Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan, perlu diingat bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang utama. Organisasi kekuatan Menurut Antropolog C. Kluckhohn dalam sebuah karyanya yang berjudul Universal Categories of culture ada tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal yaitu : Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, dan transport).

1) 2) 3) 4)

a) b) c) d)

1)

2) 3) 4) 5) 6) 7)

Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi dan sebagainya). Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan) Bahasa (lisan maupun tertulis) Kesenian (seni rupa, seni suara. seni gerak dan sebagainya) Sistem pengetahuan Religi (sistem kepercayaan).

PENGARUH SOSIALISASI NILAI (BUDAYA) TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

Kepribadian tidak akan tumbuh jika seorang individu tidak memiliki pengalaman- Pengalaman sosial. Di dalam kelompok sosial seorang individu akan mempelajari berbagai nilai, norma, dan sikap. Dengan mengetahui dari mana lingkungan sosial seseorang berasal, dapat diketahui kepribadian seseorang tersebut. Dengan kata lain, sosialisasi berperan dalam membentuk kepribadian seseorang. Jika proses sosialisasi berlangsung dengan baik, maka akan baik pula kepribadian seseorang. Begitu sebaliknya, jika sosialisasi berlangsung kurang baik, maka kurang baik pula kepribadian seseorang. Misalnya, seorang anak yang berasal dari keluarga yang broken home tentunya si anak mengalami sosialisasi yang kurang baik, akibatnya anak tersebut menjadi nakal. Dengan demikian, proses pembentukan kepribadian dimulai dari proses sosialisasi baik di lingkungan keluarga, teman sepermainan, lingkungan sosial, lingkungan kerja, maupun lingkungan masyarakat luas
Dari bagan di atas, kita bisa melihat bahwa kepribadian seseorang banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan media massa. Tidak aneh apabila ada anak yang telah dibekali oleh orang tuanya denganberagam nilai dan norma, menjadi berantakan karena bergaul dengan lingkungan yang tidak sehat. Apalagi di era globalisasi ditandai dengan pergaulan bebas. Nilai dan norma yang telah ditanamkan oleh kedua orang tua seakan-akan menjadi absurd dan ketinggalan zaman. Benarkah? Selain itu, kepribadian seseorang dipengaruhi pula oleh kebudayaan yang berlaku di lingkungan sekitar. Kebudayaan merupakan polapola tindakan yang sering diulang-ulang yang akhirnya menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan ini digunakan untuk memberikan arah kepada individu ataupun kelompok, bagaimana seharusnya ia berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain bahkan, telah menjadi tuntutan masyarakat di mana pun dan dalam kurun waktu kapan pun. Oleh karena itu, kebiasaan-kebiasaan melekat dalam diri masyarakat, diperkenalkan dan dipelajari oleh individuindivitu secara terus-menerus. Dalam proses yang panjang inilah, kepribadian terbentuk seiring dan sesuai dengan kebudayaan setempat. Oleh karena itu, kebudayaan antarsatu daerah dengan daerah lain berbeda, maka dapat dipastikan kepribadian dari dua kebudayaan tersebut berbeda pula. Misalnya, seorang yang berasal dari suku Jawa tentu memiliki kepribadian yang berbeda dengan seorang yang berasal dari suku Batak. Orang yang berasal dari suku Jawa terkesan lebih halus dan lembut. Namun, orang Batak terkesan tegas dan keras. Perbedaan ini menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan terhadap pembentukan kepribadian seseorang. AKTIVITAS KELOMPOK Selain proses sosialisasi, kebudayaan setempat dapat memengaruhi kepribadian seseorang. Misalnya, orang asing yang berasal dari budaya Barat akan memiliki kepribadian yang berbeda dengan orang yang berbudaya Timur. Sebagai tugas terakhirmu dalam bab ini, cobalah bersama teman sekelompokmu membuat sebuah kliping yang menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian individu. Selanjutnya, berikan kesimpulan sederhana mengenai isi kliping yang telah kalian buat. Hasilnya kumpulkan kepada guru tepat pada waktu yang telah ditentukan. Selamat bekerja RANGKUMAN

Sosialisasi merupakan suatu proses di mana individu mulai menerima dan menyesuaikan diri dengan unsur-unsur kebudayaan (adat istiadat, perilaku, bahasa, dan kebiasaan-kebiasaan) masyarakat, mulai dari lingkungan keluarga sampai pada masyarakat luas. Proses sosialisasi yang dialami oleh individu mampu membentuk kepribadian diri individu tersebut. Dengan kata lain, sosialisasi merupakan salah satu proses dalam pembentukan kepribadian. Untuk memahami lebih lanjut, salin dan lengkapilah beberapa pengertian di bawah ini ke dalam buku catatanmu dengan menggunakan beragam sumber pustaka Faktor yang Memengaruhi Pembentukan kepribadian a. Sifat dasar b. Lingkungan c. . . . . d. . . . . e. Motivasi 2. Media-Media Sosialisasi a. Keluarga b. Sekolah c. . . . . d. Media 3. Faktor-Faktor Pembentukan Kepribadian a. Warisan biologis b. . . . . c. Lingkungan sosial 4. Tahap Pengembangan Diri/Kepribadian Menurut Mead a. Imitation stage b. . . . . c. . . . . d. Generalized Others UJI KOMPETENSI A. Jawablah pertanyaan dengan tepat! 1. Jelaskan pengertian sosialisasi menurut Hasan Shadily! 2. Sebutkan dan jelaskan dua cara terjadinya sosialisasi! 3. Jelaskan fungsi umum sosialisasi! 4. Sebutkan faktor-faktor pembentuk kepribadian! 5. Jelaskan peranan sosialisasi dalam membentuk kepribadian! 6. Jelaskan mengapa keluarga disebut tempat pertama berlangsungnya sosialisasi! 7. Sebutkan fungsi penting sekolah dalam proses sosialisasi! 8. Sebutkan tujuan dari proses sosialisasi itu sendiri! 9. Bilamana proses sosialisasi dikatakan berhasil? 10. Jelaskan hubungan antara sosialisasi dengan kepribadian!

Sosiologi dalam Kurikulum SMA/MA 2013


AUGUST 15, 2013 LEAVE A COMMENT

Rate This

Akhirnya,

setelah

mengalami

revisi,

pembelajaran

sosiologi di SMA sesuai Kurikulum 2013 jelas sudah wujudnya. Kalau dalam draft terdahulu akan digabungkan dengan Antropologi, dan ini mendapatkan banyak reaksi dari para ahli Sosiologi di perguruan tinggi, karena perkawinan antara Sosiologi dengan Antropologi dalam pembelajarannya di SMA diprediksi akan melahirkan kekacauan konsep, mengingat ada beberapa perbedaan sudut pandang dan metodologi di antara keduanya dalam melakukan peng(k)ajian terhadap masyarakat. Walaupun di kalangan guru-guru SMA masih terjadi aneka macam penafsiran terhadap materi pembelajaran, tetapi yang sudah pasti adalah Sosiologi diajarkan tersendiri, terpisah dari Antropologi. Sosiologi diajarkan di program peminatan ilmu sosial, sedangkan Antropologi diajarkan di program peminatan Bahasa. Mengenai materi pembelajaran, sebenarnya tidak banyak perbedaan dengan yang ada di Kurikulum SMA sebelumnya, baik 1994, 2004, maupun KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang diterapkan sejak 2006. Perbedaan yang terjadi justru pada strategi pembelajaran. Berdasarkan KI dan KD yang ada, strategi pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru dalam mengajarkan Sosiologi di SMA adalah dengan pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah, mulai dari melakukan pengamatan atau obervasi terhadap gejala, menanya, mengeksperimenkan atau mengeksplorasi, melakukan asosiasi, dan akhirnya mengomunikasikan.

Sebenarnya, strategi serupa juga sudah dikenalkan pada kurikulum-kurikulum sebelumnya, seperti CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) pada Kurikulum 1984, pendidikan keterampilan proses pada Kurikulum 1994, maupun pembelajaran berbasis kompetensi pada Kurikulum 2004 yang kemudian disempurnakan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006. Subtstansi dari pembelajaran tersebut adalah lagi berorientasi pada guru sebagaiman kurikulum 1973, melainkan pada siswa atau peserta didik. Guru tidak lagi menjadi satusatunya sumber belajar, melainkan sebagai fasilitator, motivator, dan desainer pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa apa saja dan darimana saja, buku, majalah, dan berbagai dokumen tertulis, audio, bahan-bahan audio-visual, termasuk sumber-sumber belajar yang langsung dari masyarakat. Hanya, dalam Kurikulum 2013 ini guru tidak dibiarkan untuk merancang sendiri strategi mengajarnya, melainkan sudah dituntun melalui silabus yang diterbitkan secara nasional, menjadi bagian tak terpisahkan dari Kurikulum 2013. Selanjutnya, jika dalam kurikulum sebelumnya guru diwajibkan untuk menyisipkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran, dan pendidikan karakter itu harus tercantum dalam silabus serta rencana pembelajaran, maka dalam kurikulum baru, hal yang semacam dengan pendidikan karakter sudah masuk dalam Kompetensi Inti (KI) di setiap mata pelajaran, yaitu menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya (KI 1) dan menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia (KI 2). Kemampuan atau kompetensi ideal (KI 1 dan 2) tersebut, diharapkan dapat tercapai setelah guru membelajarkan para peserta didiknya dengan bahan ajar sesuai dengan disiplin ilmu atau mata pelajarannya dan menjadikan peserta didiknya mampu memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin-tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah (KI 3), dan mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan (KI 4). Semoga teman-teman guru tidak sekedar membaca KI 1 sampai dengan KI 4 yang tercantum dalam Lampiran Permendikbud Nomor 69 Tahun 2013 tersebut sebagai sekumpulan kata-kata mutiara yang seolah-olah ada di awang-awang, lengkap tak ada cela sebagai indikator manusia Indonesia yang seutuhnya. Apabila para peserta didik benar-benar dapat diantarkan kepada kompetensi sebagaimana tertulis di atas, jelas permasalahan bangsa dan negara kita akan selesai, dan tak perlu lagi ada KPK, atau bahkan lembaga kepolisian. Semua prosedur sosial, politik, kebudayaan, maupun ekonomi yang merupakan sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat akan terkendali dengan sendirinya, tanpa memerlukan lembaga-lembaga dan mekanisme pengendalian sosial. Agar kita para guru dan peminat Sosiologi SMA/MA, atau siapa saja, mendapatkan gambaran tentang bahan ajar dan prosedur yang dapat diterapkan dalam pembelajaran, maka marilah kita cermati Kompetensi Dasar Sosiologi dalam Kurikulum SMA/MA 2013 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Permendikbud Nomor 69 Tahun 2013, tentang Kerangka Dasar Dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Kelas X Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

1.

Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

1.1

Memperdalam nilai agama yang dianutnya

dan menghormati agama lain

1.

Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

2.1

Mensyukuri keberadaan diri dan

keberagaman sosial sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa 2.2 Merespon secara positif berbagai gejala

sosial di lingkungan sekitar

1.

Memahami ,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

3.1

Mendeskripsikan fungsi Sosiologi dalam

mengkaji berbagai gejala sosial yang terjadi di masyarakat 3.2 Menerapkan konsep-konsep dasar Sosiologi

untuk memahami hubungan sosial antar individu, antara individu dan kelompok serta antar kelompok 3.3 Menganalisis berbagai gejala sosial dengan menggunakan konsep-konsep dasar Sosiologi untuk memahami hubungan sosial di masyarakat 3.4 Menerapkan metode-metode penelitian sosial untuk memahami berbagai gejala sosial

1.

Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

4.1

Melakukan kajian, diskusi dan menyimpulkan

fungsi Sosiologi dalam memahami berbagai gejala sosial yang terjadi di masyarakat 4.2 Melakukan kajian, diskusi, dan menyimpulkan

konsep-konsep dasar Sosiologi untuk memahami hubungan sosial antar individu, antara individu dan kelompok serta antar kelompok 4.3 Melakukan kajian, diskusi dan mengaitkan konsep-konsep dasar Sosiologi untuk mengenali berbagai gejala sosial dalam memahami hubungan sosial di masyarakat 4.4 Menyusun rancangan, melaksanakan dan menyusun laporan penelitian sederhana serta mengkomunikasikannya dalam bentuk tulisan, lisan dan audio-visual

Kelas XI Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

1.

Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

1.1 Memperdalam nilai agama yang dianutnya dan menghargai keberagaman agama dengan menjunjung tinggi keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat

1.

Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

2.1 Menumbuhkan kesadaran individu untuk memiliki tanggungjawab publik dalam ranah perbedaan sosial 2.2 Menunjukkan sikap toleransi dan empati sosial terhadap perbedaan sosial

1.

Memahami ,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

3.1 Memahami tinjauan Sosiologi dalam mengkaji pengelompokkan sosial dalam masyarakat 3.2 Mengidentifikasi berbagai permasalahan sosial yang muncul dalam masyarakat 3.3 Memahami penerapan prinsip-prinsip kesetaraan dalam menyikapi keberagaman untuk menciptakan kehidupan harmonis dalam masyarakat 3.4 Menganalisis potensi-potensi terjadinya konflik dan kekerasan dalam kehidupan masyarakat yang beragam serta penyelesaiannya 3.5 Menerapkan metode penelitian sosial berorientasi pada pemecahan masalah berkaitan dengan konflik, kekerasan dan penyelesaiannya.

1.

Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

4.1 Melakukan kajian, pengamatan dan diskusi tentang pengelompokkan sosial dengan menggunakan tinjauan Sosiologi 4.2 Melakukan kajian, pengamatan dan diskusi mengenai permasalahan sosial yang muncul di masyarakat 4.3 Merumuskan strategi dalam menciptakan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat berdasar prinsip-prinsip kesetaraan 4.4 Melakukan kajian, pengamatan dan diskusi tentang konflik dan kekerasan serta upaya penyelesaiannya 4.5 Merancang, melaksanakan dan menyusun laporan penelitian sosial berorientasi pada pemecahan masalah berkaitan dengan konflik, kekerasan dan penyelesaiannya serta mengkomunikasikannya dalam bentuk tulisan, lisan dan audio-visual

Kelas XII

Kompetensi Inti

Kompetensi Dasar

1.

Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

1.1

Membuka wawasan terhadap berbagai

peradaban dunia untuk memperkuat nilai keagamaan dan mendorong penghormatan terhadap keragaman peradaban.

1.

Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

2.1

Mengembangkan kemampuan penyesuaian

diri terhadap perubahan sosial. 2.2 Menunjukkan rasa empati terhadap

ketimpangan sosial di masyarakat sekitar dan mendorong partisipasi dalam mengatasinya

1.

Memahami ,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

3.1

Menganalisis perubahan sosial dan akibat

yang ditimbulkannya dalam kehidupan masyarakat 3.2 Mendeskripsikan berbagai permasalahan

sosial yang disebabkan oleh perubahan sosial di tengah-tengah pengaruh globalisasi 3.3 Menganalisis ketimpangan sosial sebagai akibat dari perubahan sosial di tengah-tengah globalisasi 3.4 Menerapkan strategi pemberdayaan komunitas dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal di tengah-tengah pengaruh globalisasi 3.5 Mengevaluasi aksi pemberdayaan komunitas sebagai bentuk kemandirian dalam menyikapi ketimpangan sosial.

1.

Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

4.1

Melakukan kajian, pengamatan dan diskusi

dalam perubahan sosial dan akibat yang ditimbulkannya 4.2 Melakukan kajian, pengamatan dan diskusi

tentang berbagai permasalahan sosial yang disebabkan oleh perubahan sosial di tengah-tengah pengaruh globalisasi 4.3 Mengolah hasil kajian dan pengamatan tentang ketimpangan sosial sebagai akibat dari perubahan sosial di tengahtengah globalisasi 4.4 Merancang, melaksanakan dan melaporkan

aksi pemberdayaan komunitas dengan mengedepankan nilainilai kearifan lokal di tengahtengah pengaruh globalisasi 4.5 Memaparkan inisiatif, usulan, alternatif dan rekomendasi berdasarkan hasil evaluasi aksi pemberdayaan komunitas Yang pertama, marilah kita cermati tentang materi ajar atau topik-topik pembelajarannya, mulai dari kelas X, XI dan XII. Kelas X Agar peserta didik mampu memperdalam nilai agama yang dianutnya dan menghormati agama lain, menumbuhkan kesadaran individu untuk memiliki tanggungjawab publik dalam ranah perbedaan sosial, dan menunjukkan sikap toleransi dan empati sosial terhadap perbedaan sosial, para perserta didik kelas X akan dibelajarkan tentang 1. Fungsi Sosiologi dalam mengkaji berbagai gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Hal-hal yang akan dikaji dalam topik ini antara lain, pengertian tentang sosiologi, sejarah sosiologi, tokoh-tokoh yang berperan pada tahap awal/perintis atau founding fathers, pokok-pokok kajian sosiologi, dan manfaat sosiologi dalam kehidupan bermasyarakat. 2. Konsep-konsep dasar Sosiologi untuk memahami hubungan sosial antar individu, antara individu dan kelompok serta antar kelompok. Hal-hal yang dikaji dalam pembelajaran antara lain, tentang nilai dan norma sosial sebagai dasar interaksi sosial, pengertian interaksi sosial, macam-macam atau bentuk-bentuk prosesproses yang menjauhkan (disosiatif) atau mendekatkan (asosiatif), keteraturan atau ketertiban sosial 3. Berbagai gejala sosial dengan menggunakan konsep-konsep dasar Sosiologi untuk memahami hubungan sosial di masyarakat. Gejala-gejala sosial yang dikaji dalam bagian ini adalah proses-proses atau gejalagejala yang secara dasar harus diketahui oleh para peserta didik, seperti sosialisasi, pembentukan kepribadian, perilaku menyimpang, dan pengendalian sosial. 4. Metode penelitian sosial untuk memahami berbagai gejala sosial. Dalam hal ini peserta didik dibelajarkan dengan bagaimana menyusun rancangan penelitian, melaksanakan penelitian, dan menyusun laporan penelitian sederhana, serta mengkomunikasikannya dalam bentuk tulisan, lisan dan/atau audio-visual. Memperhatikan draft silabus yang beredar di teman-teman guru, pembelajaran sosiologi kelas X akan berlangsung kurang lebih 35 minggu, di mana 8 minggu pertama untuk kajian tentang fungsi sosiologi dalam mengenali gejala sosial dalam masyarakat, 9 minggu kedua untuk kajian tentang individu, kelompok, dan hubungan sosial, 9 minggu berikutnya tentan ragam gejala sosial dalam masyarakat (sosialisasi, kepribadian, penyimpangan, dan pengendalian sosial) dan 9 minggu terakhir untuk metode penelitian sosial sederhana. Kelas XI Untuk mencapai kemampuan atau kompetensi memperdalam nilai agama yang dianutnya dan menghargai keberagaman agama dengan menjunjung tinggi keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, menumbuhkan kesadaran individu untuk memiliki tanggungjawab publik dalam ranah perbedaan sosial, dan menunjukkan sikap toleransi dan empati sosial terhadap perbedaan sosial, peserta didik kelas XI akan dibelajarkan tentang 1. Tinjauan Sosiologi dalam mengaji pengelompokkan sosial dalam masyarakat. Dalam hal ini para peserta didik akan mempelajari tentang berbagai macam jenis kelompok dalam masyarakat, baik yang teratur maupun yang tidak teratur, baik yang relatif tetap maupun yang sementara. 2. Mengidentifikasi berbagai permasalahan sosial yang muncul dalam masyarakat, seperti masalah-masalah dalam hubungan antar-kelompok, seperti adanya streotipe, prasangka, perilaku kolektif, dan juga pola-pola hubungan antar-kelompok, seperti nasionalitas, pluralisme, integrasi, dan sebagainya.

3.

Memahami penerapan prinsip-prinsip kesetaraan dalam menyikapi keberagaman untuk menciptakan kehidupan harmonis dalam masyarakat. Dalam hal ini para peserta didik akan mempelajari tentang struktur dan proses-proses yang terjadi dalam struktus sosial masyarakat, seperti stratifikasi sosial, diferensiasi sosial, dan juga mobiitas sosial.

4.

Menganalisis potensi-potensi terjadinya konflik dan kekerasan dalam kehidupan masyarakat yang beragam serta penyelesaiannya. Secara khusus peserta didik akan mempelajari tentang berbagai macam bentuk konflik dan kekerasan yang terjadi dalam masyarakat, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung, baik yang bersifat verbal maupun non-verbal.

5.

Menerapkan metode penelitian sosial berorientasi pada pemecahan masalah berkaitan dengan konflik, kekerasan dan penyelesaiannya. Setelah di kelas X para peserta didik dibelajarkan tentang rancangan dan metode penelitian sosial sederhana, di kelas XI ini para siswa akan memraktekkannya untuk mengaji tentang konflik dan kekerasan yang terjadi dalam masyarakat.

Kelas XII Agar para peserta didik dapat mencapai kompetensi membuka wawasan terhadap berbagai peradaban dunia untuk memperkuat nilai keagamaan dan mendorong penghormatan terhadap keragaman peradaban, mengembangkan kemampuan penyesuaian diri terhadap perubahan sosial, dan menunjukkan rasa empati terhadap ketimpangan sosial di masyarakat sekitar dan mendorong partisipasi dalam mengatasinya, peserta didik kelas XII akan dibelajarkan tentang 1. Perubahan sosial dan akibat yang ditimbulkannya dalam kehidupan masyarakat, seperti konsep tentang perubahan sosial, faktor-faktor penyebab perubahan, faktor-faktor pendorong dan penghambat, bentukbentuk perubahan sosial, termasuk dalam hal ini industrialisasi, modernisasi, dan urbanisasi. 2. 3. 4. Berbagai permasalahan sosial yang disebabkan oleh perubahan sosial di tengah-tengah pengaruh globalisasi, seperti dampak positif, dampak negatif dari perubahan sosial. Ketimpangan sosial sebagai akibat dari perubahan sosial di tengah-tengah globalisasi. Strategi pemberdayaan komunitas dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal di tengah-tengah pengaruh globalisasi, yang antara lain meliputi cara berfikir, cara berperasaan, dan cara bertindak dalam masyarakat yang telah institutionalized. 5. Aksi pemberdayaan komunitas sebagai bentuk kemandirian dalam menyikapi ketimpangan sosial. Para siswa dapat mencermati langkah-langkah yang akan atau telah dilakukan oleh berbagai Lembaga Swadaya Masyaraka (NGO/LSM), dan juga strategi pembedayaan masyarakat melalui pembangunan. Demikian, semoga menjadi bahan awal diskusi dalam rangka berbagaipakai informasi tentang pelaksanaan Kurikulum SMA/MA 2013, khususnya dalam pembelajaran Sosiologi.

PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 1 PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE, DAN FUNGSI Oleh Agus Santosa, SMA Negeri 3 Yogyakarta A. Pendahuluan Manusia pada dasarnya hidup di dalam suatu lingkungan yang serba berpranata. Artinya, segala tindakan dan perilakunya senantiasa akan diatur menurut cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama. Dalam studi sosiologi dan antropologi, caracara tertentu yang telah disepakti bersama itu disebut sebagai pranata sosial, atau dalam istilah lain lembaga sosial, atau kadang juga disebut sebagai organisasi sosial atau lembaga kemasyarakatan. Apabila seseorang masuk di dalam suatu lingkungan sosial tertentu misalnya keluarga atau sekolah ia akan dilayani sekaligus terikat oleh seperangkat aturan yang berlaku di lingkungan tersebut sesuai dengan kedudukan/status dan perannya. Seseorang yang berkedudukan sebagai ayah dalam suatu keluarga akan dilayani sekaligus terikat oleh seperangkat aturan, misalnya setiap pagi akan disedikan minum teh atau kopi beserta kudapannya oleh seseorang yang berkedudukan sebagai isteri, sekaligus ia akan terikat oleh seperangkat aturan tertentu, misalnya harus melindungi keluarga, bertanggung jawab atas nafkah keluarga, bertindak mewakili keluarga terhadap keluarga atau pihak lain, dan seterusnya. Demikian juga seorang murid di suatu lingkungan sekolah, ia akan mendapatkan pelayanan tertentu, misalnya dalam hal pembelajaran, menerima informasi, dan sebagainya, tetapi sekaligus akan terikat oleh seperangkat norma yang berlaku, misalnya tentang prasyarat mengikuti pendidikan pada jenjang tertentu, untuk dapat mengikuti pendidikan di jenjang SMP harus lulus SD terlebih dahulu, untuk mengikuti pendidikan di jenjang SMA harus lulus SMP dulu, harus mengenakan seragam tertentu, harus mengikuti prosedur tertentu, misalnya dapat mengikuti ujian setelah mengikuti pendidikan dalam kurun

waktu tertentu, dan seterusnya. Di dalam kehidupan masyarakat, jumlah pranata sosial yang ada relatif beragam dan jumlahnya terus berkembang sesuai dengan dinamika perkembangan masyarakat itu sendiri. Selain pranata keluarga dan pendidikan seperti tersebut pada contoh di atas, masih banyak pranata sosial lain, yang secara umum memiliki fungsi yang sama, yaitu mengatur cara-cara warga masyarakat dalam memenuhi berbagai kebutuhan yang penting. Setidaknya di dalam masyarakat terdapat lima pranata atau lembaga sosial yang pokok, yaitu: (1) keluarga, (2) pendidikan, (3) ekonomi, (4) politik, dan (5) agama. Namun, menurut ahli antropologi seperti S.F. Nadel (1953) dan Koentjaraningrat (1979), di luar lembaga pokok yang telah disebutkan tadi, terdapat pranata lain, seperti: pranata ilmiah, pranata keindahan, dan juga pranata rekreasi. B. Pengertian Pranata Sosial Dalam kehidupan sehari-hari, pengertian pranata sosial sering bias atau rancu dengan pengertian kelompok sosial atau asosiasi. Apalagi kalau menggunakan istilah lembaga sosial, organisasi sosial, atau lembaga kemasyarakatan. Pada uraian ini akan PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 2 dijelaskan, bahkan ditegaskan, tentang pengertian pranata sosial, dan perbedaannya dengan kelompo sosial atau asosiasi. Horton dan Hunt (1987) mendefinisikan pranata sosial sebagai lembaga sosial, yaitu sistem norma untuk mencapai tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting. Di dalam sebuah pranata sosial akan ditemukan seperangkat nilai dan norma sosial yang berfungsi mengorganir (menata) aktivitas dan hubungan sosial di antara para warga masyarakat dengan suatu prosedur umum sehingga para warga masyarakat dapat melakukan kegiatan atau memenuhi kebutuhan hidupnya yang pokok.

Koentjarningrat (1979) menyatakan bahwa pranata sosial adalah sistem-sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat untuk berinteraksi menurut pola-pola atau sistem tatakelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitasaktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Terdapat tiga kata kunci dalam setiap pembahasan tentang pranata sosial, yaitu: (1) nilai dan norma sosial, (2) pola perilaku yang dibakukan atau yang disebut dengan prosedur umum, dan (3) sistem hubungan, yaitu jaringan peran serta status yang menjadi wahana untuk melaksanakan perilaku sesuai dengan prosedur umum yang berlaku. Pranata sosial pada dasarnya bukan merupakan sesuatu yang kongkrit, dalam arti tidak selalu hal-hal yang ada dalam suatu pranata sosial dapat diamati atau dapat dilihat secara empirik (kasat mata). Tidak semua unsur dalam suatu pranata sosial mempunyai perwujudan fisik. Bahkan, pranata sosial lebih bersifat konsepsional, artinya keberadaan atau eksistensinya hanya dapat ditangkap dan difahami melalui pemikiran, atau hanya dapat dibayangkan dalam imajinasi sebagai suatu konsep atau konstruksi yang ada di alam pikiran. Beberapa unsur pranata dapat diamati atau dilihat, misalnya perilaku-perilaku individu atau kelompok ketika melangsungkan hubungan atau interaksi sosial dengan sesamanya. Hal penting yang perlu ditegaskan di sini adalah bahwa seorang individu atau sekelompok orang dapat saja datang dan pergi dalam suatu lembaga, tetapi fungsi individu atau kelompok dalam pranata hanyalah sebagai pelaksana fungsi atau pelaksana kerja dari suatu unsur lembaga sosial. Kedatangan atau kepergian individu atau sekelompok individu tidak akan menganggu eksistensi dari suatu lembaga sosial. Individu atau sekelompok individu di dalam pranata sosial, kedatangannya atau kepergiannya hanyalah berfungsi saling menggantikan. Agar lebih jelas tentang pranata sosial, berikut disajikan tentang perbedaannya dengan kelompok sosial atau asosiasi.PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI

2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 3 Konteks perbandingan Lembaga/Pranata Sosial Asosiasi/kelompok/badan sosial Pengertian yang menata serangkaian tindakan berpola untuk keperluan khusus manusia dalam kehidupan bermasyarakat (Koentjaraningrat)

tersusun rapi dan secara relatif bersifat permanen, mengandung perilaku tertentu yang kokoh dan terpadu demi pemuasan kebutuhan pokok manusia (Bruce J. Cohen) Orang-orang yang berkumpul membentuk unit atau satuan sosial:

satuan sosial dan solidaritas

bersama yang melakukan suatu aktivitas untuk mencapai

tujuan tertentu

(disarikan dari beberapa pengertian) Komponen utamanya

aturan-aturan (sistem norma)

datang dan pergi tanpa menganggu eksistensi lembaga sosial, karena hanya melaksanakan fungsi dari suatu status atau kedudukan

orang-orang yang melakukan aktivitas dalam bidang tertentu

kelompok akan bubar apabila orang-orang yang menjadi anggotanya keluar dari kelompok Contoh bola Jurnalistik

Umum

PERSIJA, dst.

Republika

Yogyakarta/SMA Islam Terpadu Abu Bakar

Kecamatan Pakem/Keluarga Pak Yekti

2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 4 C. Proses Pelembagaan (Institusionalisasi) Proses pelembagaan atau institusionalisasi adalah suatu proses penggantian tindakantindakan spontan dan coba-coba (eksperimental) dengan perilaku yang diharapkan, dipolakan, diatur, serta dapat diramalkan. Tahapan-tahapan dalam proses pencapaian tujuan bukanlah sesuatu yang dibuat secara tiba-tiba, spontan ataupun eksperimental. Ia merupakan proses yang telah berlangsung lama, diketahui dan diterima oleh banyak orang dan mengikat kepada setiap warga masyarakat. Antisipasi terhadapnya adalah strategi, organisasi, stabilitas emosi dan, tentu saja, komitmen! Seperangkat hubungan sosial dinyatakan melembaga (institutionalized) apabila: 1. Berkembang sistem yang teratur berkenaan dengan status dan peran yang harus dilaksanakan oleh seseorang dalam melakukan aktivitas atau memenuhi kebutuhan hidup tertentu 2. Sistem harapan, status dan peran telah berlaku umum dan diterima sebagian besar

warga masyarakat. Proses berlangsungnya dapat digambarkan sebagai berikut. Orang mencari-cari cara untuk memenuhi kebutuhannya. Ditemukan cara yang terbukti mudah dilakukan dan berhasil baik. Selanjutnya cara tersebut diulang-ulang. Cara tersebut dibakukan sehingga mengikat para warga masyarakat untuk menggunakannya. Jika telah mengikat, artinya cara tersebut artinya telah melembaga. Ingat baik-baik tentang perkembangan norma mulai dari usage, folkways, mores, customs sampai dengan Law. D. Tujuan dan Fungsi Pranata Sosial Diciptakannya pranata sosial pada dasarnya mempunyai maksud serta tujuan yang secara prinsipil tidak berbeda dengan norma-norma sosial, karena pada dasarnya pranata sosial merupakan seperangkat norma sosial. Secara umum, tujuan utama pranata sosial, selain untuk mengatur agar kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi secara memadai, juga sekaligus untuk mengatur agar kehidupan sosial para warga masyarakat dapat berjalan dengan tertib dab lancar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Contoh: pranata keluarga mengatur bagaimana keluarga harus merawat (memelihara) anak. Pranata pendidikan mengatur bagaimana sekolah harus mendidik anak-anak sehingga dapat menghasilkan lulusan yang handal. Tanpa adanya pranata sosial, kehidupan manusia dapat dipastikan bakal porak poranda kaena jumlah prasarana atau sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia relatif terbatas, sementara jumlah orang yang membutuhkan justru semakin lama semakin banyak. Itulah mengapa semakin lama, seiring dengan meningkatkan jumlah penduduk suatu masyarakat, pranata sosial yang ada di dalamnya juga semakin banyak dan kompleks. Kompleksitas pranata sosial pada masyarakat desa akan lebih rendah daripada masyarakat kota.PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011

BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 5 Koentjaraningrat (1979) mengemukakan tentang fungsi pranata sosial dalam masyarakat, sebagai berikut: 1. Memberi pedoman pada anggota masyarakat tentang bagaimana bertingkah laku atau bersikap di dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Adanya fungsi ini kaena pranata sosial telah siap dengan bebagai aturan atau kaidahkaidah sosial yang dapat digunakan oleh anggota-anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. 2. Menjaga keutuhan masyarakat (integrasi sosial) dari ancaman perpecahan (disintegrasi sosial). Hal ini mengingat bahwa jumlah prasarana atau sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia terbatas adanya, sedangkan orang-orang yang membutuhkannya semakin lama justru semakin meningkat kualitas maupun kuantitasnya, sehingga memungkinkan timbulnya persaingan (kompetisi) atau pertentangan/pertikaian (konflik) yang bersumber dari ketidakadilan atau perebutan prasarana atau sarana memenuhi kebutuhan hidup tersebut. Sistem norma yang ada dalam suatu pranata sosial akan berfungsi menata atau mengatur pemenuhan kebutuhan hidup dari para warga masyarakat secara adil dan memadai, sehingga keutuhan masyarakat akan terjaga. 3. Berfungsi untuk memberikan pegangan dalam melakukan pengendalian sosial (social control). Sanksi-sanksi atas pelanggaran norma-norma sosial merupakan sarana agar setiap warga masyarakat konformis (menyesuaikan diri) terhadap norma-norma sosial itu, sehingga tertib sosial dapat terwujud. Dengan demikian, sanksi yang melakat pada setiap norma itu merupakan pegangan dari warga masyarakat untuk melakukan pengendalian sosial meluruskanwarga masyarakat yang perilakunya menyimpang dari norma-norma sosial yang berlaku. E. Karakteristik Pranata Sosial Dari uraian-uraian sebelumnya dapat ditemukan unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian atau konsep pranata sosial, seperti: (1) berkaitan dengan kebutuhan pokok

manusia dalam hidup bermasyarakat, (2) merupakan organisasi yang relatif tetap dan tidak mudah berubah, (3) merupakan organisasi yang memiliki struktur, misalya adanya status dan peran, dan (4) merupakan cara bertindak yang mengikat. Gillin dan Gillin mengemukakan ciri-ciri pranata sosial sebagaimana dikutip oleh Selo Soemadjan dan Soelaiman Soemardi (1964) dan Koentjaraningrat (1979) yang ringkasannya sebagai berikut: 1. Pranata sosial merupakan suatu organisasi pola pemikiran dan perilakuan yang terwujud sebagai aktivitas warga masyarakat yang berpijak pada suatu nilai tertentu dan diatur oleh: kebiasaan, tata kelakuan, adat istiadat maupun hukum. 2. Pranata sosial memiliki tingkat kekekalan relatif tertentu. Pranata sosial pada umumnya mempunyai daya tahan tertentu sehingga tidak cepat lenyap dari kehidupan bermasyarakat. Umur yang relatif lama itu karena seperangkat norma yang merupakan isi suatu pranata sosial terbentuk dalam waktu yang relatif lama dan tidak mudah, juga karena norma-norma tersebut berorientasi pada kebutuhan pokok, maka masyarakat berupaya menjaga dan memelihara pranata sosial tersebut sebaik-baiknya, apalagi kalau pranata tersebut berkaitan dengan nilainilai sosial yang dijunjung tinggiPRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 6 3. Pranata sosial mempunyai satu atau beberapa tujuan yang ingin dicapai atau diwujudkan. 4. Memiliki alat-alat perlengkapan baik keras (hardware) maupun lunak (soft ware) untuk mencapai atau mewujudkan tujuan-tujuan dari pranata sosial. Karena masing-masing pranata memiliki tujuan yang berbeda-beda, maka perlengkapannyapun berbeda antara satu pranata dengan pranata lainnya. Perlengkapan dalam pranata keluarga berbeda dari perlengkapan pada lembaga pendidikan, ekonomi, politik, maupun agama 5. Memiliki simbol atau lambang tersendiri. Lambang, di samping merupakan

spesifikasi dari suatu pranata sosial, juga sering dimaksudkan secara simbolis menggambarkan tujuan atau fungsi dari suatu pranata. Lambang suatu pranata sosial daat berupa gambar, tulisan, atau slogan-slogan, yang dapat merupakan representasi ataupun sekedar menggambarkan spesifikasi dari pranata sosial yang besangkutan. Misalnya Burung Garuda atau Bendera Merah Putih dapat merepresentasikan Indonesia, sedangkan gambar buku dan pena merupakan gambaran dari spesifikasi suatu lembaga pendidikan. 6. Memiliki dokumen atau tradisi baik lisan maupun tertulis yang berfungsi sebagai landasan atau pangkal tolak untuk mencapai tujuan serta melaksanakan fungsi. F. Unsur-unsur Pranata Sosial Menurut Horton dan Hunt (1987), setiap pranata sosial mempunyai unsur-unsur sebagai berikut. 1. Unsur budaya simbolik, misalnya cincin kawin dalam lembaga keluarga 2. Unsur budaya manfaat, misalnya rumah atau kendaraan dalam lembaga keluarga 3. Kode spesifikasi baik lisan maupun tertulis, misalnya akta atau ikrar nikah dalam lembaga keluarga 4. Pola perilakuan, misalnya pemberian perlindungan dalam lembaga keluarga 5. Ideologi, misalnya cinta dan kasih sayang dalam lembaga keluarga G. Tipe-tipe Pranata Sosial Sebagaimana telah disampaikan pada uraian terdahulu, pranata sosial mempunyai tujuan-tujuan umum yang sama, yakni mengatur warga masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi apabila dirinci lebih lanjut, karena kebutuhan hidup itu juga bermacam-macam, di dalam masyarakat dijumpai pranata sosial yang bermacammacam tipologinya. Gillin dan Gillin (1954) mengemukakan tipe-tipe pranata sosial (dikutip oleh Koentjaraningrat, juga oleh Soerjono Soekanto) sebagai berikut. 1. Menurut perkembangannya, dibedakan antara crescive dan enacted institutions, yakni pranata sosial yang tumbuh dengan sendirinya dan lembaga yang sengaja

dibentuk.PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 7 2. Berdasarkan orientasi nilainya, dibedakan antara pranata sosial dasar (basic institutions) dan subsider (subsidiary institutions), yakni lembaga sosial yang berdasarkan nilai dasar dan vital, misalnya keluarga, agama, dst., dan lembaga sosial yang dibangun di atas dasar nilai yang tidak penting, misalnya rekreasi. 3. Dari sudut penerimaan masyarakat, ditemukan lembaga sosial bersanksi dan tidak bersanksi, yakni lembaga sosial yang adanya diharapkan oleh masyarakat, misalnya perkawinan, dan lembaga sosial yang keberadaannya ditolak oleh masyarakat, misalnya kumpul kebo (cohabitation). 4. Dari sudut komppleksitas penyebarannya, dibedakan antara pranata sosial umum (general institutions) dan lembaga sosial terbatas (restricted instutions), yakni lembaga sosial yang ditemukan dalam setiap masyarakat, misalnya keluarga, dan lembaga sosial yang hanya ditemukan pada masyarakat yang terbatas, misalnya keluarga patrilineal. 5. Berdasarkan fungsinya, dibedakan antara pranata sosial operatif (operative institutions) dengan pranata sosial regulatif (regulative institutions), yakni lembaga sosial yang fungsinya memproduksi atau menghasilkan jasa atau barang kebutuhan masyarakat, dan lembaga yang fungsi utamanya menciptakan keteraturan (regulasi) dalam masyarakat. Bedakan antara lembaga pendidikan atau ekonomi/industri dengan lembaga kepolisian, kejaksaan, atau kehakiman. F. Pranata Sosial Pokok Sebagaimana telah disebut di bagian depan uraian ini, di dalam masyarakat dijumpai setidaknya lima pranata sosial pokok, yaitu: (1) keluarga, (2) agama, (3) ekonomi. (4) politik, dan (5) pendidikan, di samping adanya pranata-pranata yang berada di luar itu, seperti pranata ilmiah, pranata keindahan, dan pranata rekreasi. Berikut ini akan

diuraikan tentang lima lembaga pokok. 1. Pranata Keluarga Pranata keluarga adalah pranata yang berfungsi untuk menata atau mengatur aktivitas warga masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Keluarga merupakan pranata sosial dasar dan bersifat universal. Keluarga merupakan pusat terpenting dari pranata-pranata lainnya. Di masyarakat mana pun di dunia ini, akan selalu dijumpai pranata keluarga. Horton dan Hunt (1987) mengemukakan bahwa, istilah keluarga umumnya digunakan untuk menyebut: (1) suatu kelompok yang memiliki nenek moyang yang sama, (2) suatu kelompok kekerabatan yang disatukan oleh hubungan darah atau perkawinan, (3) pasangan perkawinan, dengan atau tanpa anak-anak, (4) pasangan perkawinan yang mempunyai anak, (5) satu orang dua atau jandadengan beberapa anak. Aktivitas warga masyarakat yang diatur oleh lembaga keluarga antara lain: (1) masalah kelangsungan keturunan hidup, hal ini menyangkut kebutuhan akan relasi PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 8 seksual antara pria dan wanita yang diatur oleh lembaga perkawinan, (2) masalah perawatan atau pemeliharaan anak-anak baik yang bersifat fisik, biologis, psikologis maupun sosial, dan (3) hubungan persaudaraan, darah, kekerabatan dan organisasi kekeluargaan. Berdasarkan orientasi atau proses pembentukannya, Horton dan Hunt (1987) membedakan antara keluarga konjugal (conjugal family) atau keluarga inti dengan keluarga konsanguinal (consanguine family) atau keluarga kerabat. Keluarga konjugal adalah keluarga yang dibentuk oleh perkawinan. Anggota keluarga ini adalah suami, isteri, dan anak-anak yang belum kawin. Kadang juga dinamakan sebagai the family of procreation. Dalam keluarga ini anggota keluarga lebih menekankan pada

pentingnya hubungan perkawinan dari pada hubungan darah. Keluarga konsanguinal adalah keluarga yang didalamnya seseorang dilahirkan. Sering disebut sebagai the family of orientation. Dalam keluarga jenis ini hubungan darah lebih dipentingkan dari pada hubungan perkawinan. Keluarga inti Keluarga inti (atau biasanya disebut dengan istilah keluarga saja) adalah keluarga yang terdiri atas ayah atau suami, ibu atau isteri dengan atau tanpa anak-anak baik yang dilahirkan maupun yang diadopsi (anak angkat). Istilah lainnya adalah: keluarga batih, somah atau nuclear family. Beberapa pranata sosial dasar yang berhubungan dengan keluarga inti adalah: (1) kencan (dating), (2) peminangan, (3) pertunangan, dan (4) perkawinan. Tidak semua pranata sosial dasar ini dijumpai pada suatu masyarakat atau sukubangsa. Pranata kencan atau dating mungkin banyak dijumpai pada masyarakat Eropa Barat dan Amerika Utara, tetapi tidak banyak dijumpai pada masyarakat Timur seperti Indonesia. Pranata kencan (dating) Kencan merupakan perjanjian sosial yang secara kebetulan dilakukan oleh dua individu yang berlainan jenis kelaminnya untuk mendapatkan kesenangan. Pada umumnya, kencan ini mengawali suatu perkawinan. Jadi fungsi kencan yang sebenarnya adalah memberi kesempatan bagi kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) untuk saling mengenal, atau bahkan saling menyelidiki kepribadian, sebelum mereka berdua mengikatkan diri dalam suatu perkawinan. Tidak semua keluarga dari berbagai bagian dunia ini mengikuti pranata sosial kencan ini. Dalam suatu masayarakat di mana jodoh itu ditentukan oleh orangtua, maka pranata kencan tidak dijumpai, atau bahkan dilarang. Dewasa ini, pada beberapa masyarakat, kencan tidak selalu diorientasikan kepada terbentuknya perkawinan atau keluarga, melainkan hanya untuk tujuan bersenangsenang, sehingga dapat dilakukan oleh orang-orang yang saling suka meskipun tidak

bermaksud membentuk suatu keluarga.PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 9 Pranata Peminangan (courtship) Apabila melalui pranata kencan hubungan antara dua individu berjenis kelamin berbeda itu telah mantap, maka dapat dilanjutkan dengan peminangan, yaitu permintaan untuk menjalin sebuah hubungan eksklusif (khusus dan tertutup) di antara dua orang berbeda jenis kelamin yang akan melangsungkan perkawinan. Peminangan dapat dilakukan oleh pihak laki-laki maupun pihak perempuan, sesuai dengan pranata sosial yang berlaku. Pada masyarakat Minangkabau, peminangan dilakukan oleh pihak perempuan. Pada banyak masyarakat dilakukan oleh pihak laki-laki. Pranata Pertunangan (mate-selection) Pertunangan dapat diartikan sebagai hubungan yang diumumkan secara resmi/formal di antara laki-laki dengan perempuan yang bermaksud untuk menikah. Pranata pertunangan ini lebih banyak dikenal di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Utara. Sementara di masyarakat Asia, pertunangan hanya dilakukan di kalangan tertentu, biasanya di kalangan menengah atas atau orang kota. Pranata Perkawinan (marriage) Pranata terakhir yang berkaitan dengan pembentukan keluarga inti adalah perkawinan, yang secara sosiologis dapat diartikan sebagai ikatan antara seorang laki-laki atau lebih dengan seorang perempuan atau lebih yang terbentuk atau berlangsung melalui persetujuan masyarakat. Konsekuensi dari suatu perkawinan adalah adanya status baru (suami dan isteri) yang diikuti dengan sederet hak dan kewajiban atau tanggung jawab baru. Horton dan Hunt (1987) memberikan batasan bahwa perkawinan merupakan pola sosial yang disetujui dengan cara mana dua orang atau lebih membentuk keluarga. Menurut UU Perkawinan RI, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang lakilaki dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga

(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Mahaesa (Pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1974). Definisi menurut undang-undang ini agak berbeda dengan definisi sosiologi, karena landasan berfikir yang berbeda. Definisi menurut undang-undang berpijak pada bagaimana sebaiknya suatu peristiwa sosial itu berlangsung, sedangkan definisi sosiologi lebih berdasarkan pada bagaimana suatu peristiwa sosial itu apa adanya (taken from granted). Sehingga dalam definisi sosiologi, perkawinan dapat diartikan sebagai ikatan antara seorang laki-laki atau beberapa laki-laki dengan seorang wanita atau beberapa wanita dalam suatu hubungan suami isteri dan diberi sanksi sosial. Definisi ini didasarkan pada kenyataan, bahwa perkawinan tidak selalu merupakan ikatan antara seorang wanita dengan seorang lakilaki (monogami), melainkan dapat berlangsung dalam bentuk poligami, dapat antara seorang laki-laki dengan lebih dari satu perempuan (poligini), seorang perempuan dengan beberapa laki-laki (poliandri), atau bahkan beberapa laki-laki dengan beberapa perempuan (conogami atau group marriage). Pijakan sahnya perkawinan dapat didasarkan pada ketentuan adat, agama, ataupun hukum negara, dan suatu perkawinan akan memiliki legalitas yang kuat apabila PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 10 dilangsungkan sesuai dengan tiga ketentuan tersebut, jadi sah secara adat, sah secara agama, dan sah secara hukum negara. Perkawinan siri merupakan contoh perkawinan yang sah menurut ketentuan agama, tetapi tidak menurut hukum negara. Keluarga Luas Keluarga luas lebih didasarkan pada pertalian atau ikatan darah atau ketutunan daripada ikatan perkawinan, sehingga sifatnya lebih stabil, karena eksistensinya tidak terganggu oleh adanya perceraian. Karena dasar utamanya adalah garis keturunan, maka dapat dibedakan antara keluarga luas parental (bilateral) yang menghitung garis keturunan melalui pihak laki-laki

(ayah) maupun perempuan (ibu), dan keluarga luas unilineal, yang menghitung garis keturunan berdasarkan keturunan ayah saja (patrilineal), atau ibu saja (matrilineal). Keluarga Luas Bilateral (Parental) Keluarga luas bilateral menentukan garis keturunan berdasarkan garis keturunan dua pihak, laki-laki (ayah) dan perempuan (ibu). Sehingga, dapat dipastikan dalam keluarga luas bilateral, semua kerabat biologis akan sekaligusmenjadi kerabat kultural. Seseorang akan mempunyai dua orang kakek, yaitu ayahnya ayah dan ayahnya ibu, dan dua orang nenek, yaitu ibunya ayah dan ibunya ibu. Keluarga jenis ini dijumpai pada banyak masayarakat, antara lain Jawa dan Sunda. Keluarga Luas Unilineal Pada keluarga luas unilineal garis keturunan ditentukan berdasarkan satu pihak, yaitu ibu saja atau ayah saja, sehingga tidak semua kerabat biologis otomatis menjadi kerabat kultural. Pada keluarga luas matrilineal, garis keturunan ditentukan berdasarkan garis ibu, sehingga ayahnya ibu, anak dari anak laki-laki, anaknya saudara laki-laki ibu, dan seterusnya, meskipun secara biologis adalah kerabat, tetapi secara kultural mereka bukanlah kerabat. Sebaliknya, pada keluarga luas patrilineal, garis keturunan ditentukan berdasarkan garis ayah, sehingga ibunya ayah, anak dari anak perempuan, anaknya saudara perempuan ayah, dan seterusbya, meskipun secara biologis adalah kerabat, tetapi secara kultural mereka bukanlah kerabat. Pola menetep setelah menikah Lingkup pranata keluarga juga meliputi Di dalam masyarakat terdapat beberapa pola menetap (residence pattern), seperti: a. Patrilokal (menetap di keluarga pihak suami) b. Matrilokal (menetap di keluarga pihak isteri) c. Ambilokal atau utrolokal (memilih di pihak suami atau isteri)

d. Natalokal (di tempat lahir masing-masing) e. Neolokal (menetap di tempat tinggal yang baru) f. Avunkolokal (di keluarga saudara laki-laki ibu)PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 11 Fungsi Keluarga Karena dalam banyak masyarakat, keluarga dianggap sangat penting dan menjadi pusat perhatian kehidupan individu, bahkan anggota keluarga yang satu memperlakukan anggota keluarga lain sebagai tujuan, maka fungsi keluarga dalam banyak masyarakat relatif sama. Secara rinci, beberapa fungsi dari keluarga adalah: a. Fungsi Reproduksi atau pengaturan keturunan Fungsi ini merupakan hakikat dari keluarga untuk menjaga kelangsungan hidup manusia dan sebagai dasar kehidupan sosial manusia dan bukan sekedar kebutuhan biologis saja. Fungsi ini didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sosial, misalnya melanjutkan keturunan, mewariskan harta kekayaan, ataupun jaminan di hari tua. b. Fungsi Afeksi atau kasih sayang Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan akan kasih sayang atau rasa dicintai. Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa kenakalan yang serius merupakan salah ciri khas anak-anak yang di keluarganya tidak merasakan kasih sayang. c. Sosialisasi atau pendidikan Fungsi ini adalah untuk mendidik anak mulai dari awal sampai pertumbuhan anak hingga terbentuk kepribadian atau personality-nya. Anak-anak itu lahir tanpa bekal keterampilan sosial, maka agar anak dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial, orangtua perlu mensosialisasikan tentang nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakatnya. Anak-anak harus dibelajarkan tentang suatu

hal, apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang pantas dan tidak pantas, apa yang baik dan tidak baik, sehingga si anak dapat hidup wajar dan diterima oleh sesama anggota masyarakat/kelompoknya. d. Fungsi Ekonomi atau produksi Suatu keluarga diharapkan menjalankan fungsi ekonomi, dalam arti dapat menjamin pemenuhan kebutuhan material para anggota keluarga. Fungsi ini harus berjalan, karena para anggota keluarga memiliki kebutuhan-kebutuhan yang bersifat material yang untuk memenuhinya harus ada pengorbanan-pengorbanan yang bersifat ekonomi. Dalam banyak masyarakat, seorang suami atau ayah dituntut untuk menjalankan fungsi produksi untuk menjamin nafkah bagi keluarganya. Dalam masyarakat yang telah menganut kesetaraan laki-laki perempuan, fungsi produksi dalam arti mencari nafkah tidak hanya merupakan beban laki-laki, tetapi dapat menjadi tugas bersama antara seorang suami dan isteri. Apabila fungsi ekonomi keluarga ini tidak terjamin, dapat menganggu pelaksanaan fungsi-fungsi lain dari keluarga, seperti afeksi dan sosialisasi. e. Pelindung atau proteksi Yang dimaksud adalah bahwa keluarga diharapkan menjalan fungsi sebagai pelindung bagi para anggota-anggotanya sehingga dapat menikmati keadaan yang dirasa aman dan tanpa ancaman dari pihak manapunPRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 12 . f. Penentuan status Pada masyarakat feodal atau berkasta, di mana status seseorang lebih banyak diberikan berdasarkan keturunan, keluarga berfungsi mewariskan status sosial kepada para anggotanya. Misalnya status sebagai bangsawan atau kedudukan

dalam kasta. g. Pemeliharaan Keluarga pada dasarnya memiliki fungsi memelihara anggota-anggotanya sehingga mereka dapat hidup dengan nyaman dan terbebaskan dari berbagai penderitaan, termasuk penyakit-penyakit. Fungsi pemeliharaan ini sangat dirasakan oleh para anggota keluarga yang masih di bawah usia lima tahun, juga bagi yang telah lanjut usia atau jompo. Dalam perkembangannya, sesuai dengan semakin kompleksnya lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat, beberapa fungsi keluarga dialihkan kepada lembaga lain, misalnya sebagian fungsi edukasi dialihkan ke lembaga pendidikan atau sekolah, pada golongan menengah ke atas atau masyarakat kota, pengalihan fungsi ini telah dilakukan sejak dini, misalnya anak usia 3 atau 4 tahun sudah disertakan dalam pendidikan usia dini atau play group. Kemudian fungsi perawatan anak sebagian dialihkan ke lembaga pentitipan anak, fungsi proteksi banyak diambil alih oleh negara melalui aparat kepolisian atau para petugas keamanan masyarakat, dan sebagainya. Tidak semua keluarga dapat menjalankan fungsi-fungsi di atas dengan baik. Kegagalan keluarga menjalankan fungsi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain: a. Faktor pribadi, misalnya suami-isteri kurang menyadari akan arti dan fungsi perkawinan yang sebenarnya. Misalnya egoisme, kurang mampu bertoleransi, kurang adanya saling-percaya, dan sebagainya b. Faktor situasi khusus dalam keluarga, seperti: pengaruh atau intervensi orangtua dari suami dan/atau isteri, isteri bekerja dan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari suaminya, tinggal bersama dengan keluarga inti lain dalam sebuah rumah tangga, suami dan atau isteri terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kariernya. Faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan disfungsi dalam keluarga, misalnya terganggunya fungsi biologis/reproduksi karena suami atau isteri jarang di rumah,

orangtua kurang mampu memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anakanaknya, orangtua tidak mampu menanamkan sense of value kepada anak-anaknya, dan sebagainya. Disfungsi dalam keluarga apabila dibiarkan dapat menyebabkan broken home atau disintegrasi keluarga. 2. Pranata Agama Kajian tentang agama dapat dibedakan menjadi dua dimensi, yaitu teologis dan sosiologis. Kajian agama dalam dimensi teologis berangkat dari adanya klaim tentang kebenaran multlak ajaran suatu agama bagi para pengikut atau pemeluknya. Doktrin-PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 13 doktrin agama yang diyakini berasal dari Tuhan, kebenarannya melampui kemampuan akal atau pikiran manusia, sehingga hanya dapat diyakini dengan dimilikinya sesuatu dalam hati/diri manusia yang disebut iman. Sedangkan dalam dimensi sosiologis, agama dipandang sebagai salah satu institusi atau pranata sosial. Karena posisinya sebagai sub dari sistem sosial, maka eksistensi dan peran agama dalam suatu masyarakat adalah sebagaimana eksistensi dan peran dari subsistem lainnya, misalnya politik, ekonomi, pendidikan, ataupun keluarga. Sosiologi memandang suatu agama bukan pada masalah kebenaran dari doktrin, keyakinan, atau ajaran-ajarannya, melainkan bagaimana doktrin, keyakinan atau ajaran-ajaran itu mewujud dalam perilaku para pemeluknya dalam kehidupan seharihari. Studi tentang perilaku keberagamaan manusia sebagai suatu realitas kehidupan sosial itu kemudian dikenal sebagai sosiologi agama. Dalam sosiologi agama, agama dan keberagamaan seseorang semata-mata dianggap sebagai salah satu dari berbagai gejala sosial. Definisi agama menurut pandangan sosiologi dapat dilihat antara lain pada definisi menurut Emmile Durkheim, bahwa agama adalah suatu sistem kepercayaan dan praktik-praktik (tingkah laku) yang berhubungan dengan hal-hal yang dianggap suci

atau sakral (sacred), dan menyatukan semua penganutnya ke dalam satu komunitas moral yang disebut umat (church). Sebagai suatu sistem keyakinan, agama berbeda dengan isme-isme yang lain. Agama diyakini oleh para penganutnya sebagai hal yang berpijak pada: (1) sesuatu yang dianggap sacred (suci), (2) bersifat supranatural, dan (3) ajaran bersumber dari Tuhan yang diturunkan melalui para Nabi atau Rasul, sedangkan isme-isme lainnya: (1) didasarkan pada hal-hal yang bersifat profane (biasa), (2) bersifat natural, dan (3) bersumber dari gagasan/idea tokohnya. Sesuatu yang dianggap suci dan sacral pada umumnya disebut Tuhan. Istilah lain: Allah, Illah, Elly, Ellyas, Dewa, Deva, Dewi, Devi, dan sebagainya. Menurut Rudolf Otto (antropolog) sesuatu yang dinyatakan sebagai Tuhan oleh berbagai masyarakat memiliki tiga ciri, yaitu: (1) mysterious (tidak terjawab oleh jangkauan pemikiran manusia), (2) tremendous (tidak terkalahkan), (3) fascination (mempesona). Pranata agama mempunyai fungsi utama mengatur aktivitas warga masyarakat dalam memenuhi kebutuhan berhubungan dengan sesuatu yang dianggap suci atau sacral tersebut. Pranata agama berhubungan dengan segenap komponen yang berkaitan dengan kehidupan beragama, yaitu: (1) sistem keyakinan, (2) emosi keagamaan, (3) sistem ritus atau upacara keagamaan, (4) alat-alat ritus, (5) umat, yakni satuan sosial yang terdiri atas orang-orang yang memiliki sistem keyakinan (agama) yang sama. Fungsi nyata (manifest) lembaga agama: a. Menyangkut pola keyakinan (doktrin) yang menentukan sifat dan mekanisme hubungan antara manusia dengan TuhannyaPRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 14 b. Ritual yang melambangkan doktrin dan mengingatkan manusia pada doktrin tersebut serta seperangkat perilaku yang konsisten dengan doktrin tersebut

c. Menyatukan pemeluknya ke dalam satu komunitas moral yang disebut umat d. Dalam beberapa negara lembaga agama melaksanakan fungsi pengendalian Negara Fungsi laten lembaga agama: a. Menciptakan lingkungan kehidupan beragama, misalnya masjid, di samping yang utama sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi medium pergaulan sosial dan komunikasi di antara para penganut agama Islam, termasuk penentuan dan pemilihan jodoh b. Menciptakan lingkungan kebudayaan (musik, seni baca, lagu-lagu, kitab, dan seterusnya) c. Tumbuhnya bangunan-bangunan sebagai tempat ibadah dengan arsitektur yang indah dan megah, misalnya masjid agung, gereja, dan seterusnya. d. Menjalankan fungsi pendidikan dan pewarisan pengetahuan 3. Pranata Ekonomi Pranata ekonomi lahir ketika orang-orang mulai mengadakan pertukaran barang secara rutin, membagi-bagi tugas, dan mengakui adanya tuntutan dari seseorang terhadap orang lain (Horton dan Hunt, 1987). Ketika manusia masih hidup pada taraf yang sangat sederhana (primitive) dengan cara mengumpulkan biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, kebutuhan akan adanya pranata ekonomi belum mendesak dan tidak penting. Tiap-tiap keluarga akan menjalankan fungsi ekonomi secara subsisten, keluarga-keluarga tersebut memproduksi sesuatu yang dikonsumsi sendiri, tidak ada pasar, sehingga tidak memerlukan penataan tentang perdagangan (pertukaran barang dan jasa). Masalahnya berubah ketika orang-orang mulai memerlukan barang yang diproduksi oleh orang lain, para tetanga atau kerabatnya. Kebutuhan akan pranata yang mengatur mengenai distribusi atau pertukaran barang dan jasa mulai dirasakan. Proses pertukaran itu mukai ditata dengan kaidah-kaidah atau norma-norma tertentu yang

disepakati bersama. Proses-proses itu kemudian distandardisasi sehingga membentuk pola dan keajegan tertentu yang mengikat dan dapat diramalkan. Lahirlah pranata ekonomi, yang menata aktivitas masyarakat berkaitan dengan kebutuhan akan barangbarang dan jasa-jasa yang diproduksi oleh pihak lain. Kegiatan yang diatur oleh lembaga ekonomi meliputi produksi, distribusi, dan konsumsi. Elemen dasar pranata ekonomi Struktur pranata ekonomi pada dasarnya bervariasi dalam berbagai masyarakat, ada yang sederhana ada yang rumit, tergantung pada: (1) elemen dasar proses ekonomi yang ada, apakah gathering, produksi, distributing, ataukah servicing, dan (2) faktorfaktor yang menentukan struktur ekonomi, misalnya tanah, tenaga kerja, modal, teknologi, dan kewiraswastaan. Kompleksitas pranata ekonomi akan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan tipe pranata ekonomi yang berlaku. Masyarakat berburu dan meramu akan memiliki kompleksitas pranata yang berbeda dari masyarakat pertanian, apalagi kalau PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 15 dibandingkan dengan masyarakat industri maju. Sistem ekonomi yang berlaku, apakah sosialis, kapitalis, atau lainnya, juga mempengaruhi pranata sosial yang berlaku. Sistem Ekonomi Campuran Terkait dengan sistem ekonomi masyarakat, Horton dan Hunt (1987) menyatakan bahwa dewasa ini tidak ada masyarakat yang sepenuhya kapitalis. Masyarakat yang dikenal sebagai masyarakat kapitalis, sesungguhnya menerapkan sistem ekonomi campuran, di mana harta milik pribadi dan sistem keuntungan digabungkan dengan sejumlah campur tangan dan intervensi pemerintah. Sistem ekonomi campuran memberikan peluang adanya inisiatif individu yang lebih besar daripada sistem komunis dan fasis. Pada sistem komunis dan fasis, kontrol negara terhadap aktivitsa ekonomi sangat dominan. Pada sistem komunis, segenap

regulasi ekonomi, termasuk tingat harga, tingkat gaji serta jenis barang yang diproduksi ditentukan oleh badan pusat perencanaan. Di negara-negara fasis, meskipun pemilikan perusahaan secara pribadi diperkenankan, tetapi keuntungan yang diperoleh lebih diutamakan untuk kepentingan negara. Dalam perkembangan terakhir, sejak era 1990-an telah ada tanda-tanda keruntuhan masyarakat ekonomi sosialis. Diterapkannya perestroika dan glasnost oleh Gorbachev di Uni Soviet serta runtuhnya tembok Berlin merupakan awal keruntuhan masyarakat sosialis dan pelan-pelan bergeser ke tipe masyaraat kapitalis. Fungsi Pranata Ekonomi Lepas dari masalah kompleksitas pranata, fungsi utama pranata ekonomi adalah mengatur kegiatan atau aktivitas warga masyarakat yang berkaitan dengan: a. Kegiatan produksi, meliputi berbagai aktivitas produksi baik yang tradisional seperti berburu dan meramu, ladang berpindah (shifting cultivation), bercocok tanam menetap di ladang, di sawah, beternak, perikanan, maupun aktivitas produksi modern yakni industri yang menghasilkan barang, jasa-jasa, maupun informasi. b. Kegiatan distribusi, meliputi berbagai pertukaran barang dan jasa (resiprositas), berbagai bentuk mekanisme pemerataan (leveling mechanism), berbagai macam redistribusi, berbagai bentuk pertukaran di pasar baik yang secara tunai maupun berdasarkan kepercayaan (berbagai macam kredit) c. Kegiatan konsumsi, meliputi aktivitas mengkonsumsi barang dan jasa yang diproduksi sendiri (subsistence economic) maupun aktivitas memperoleh barang dan jasa di pasar. Fungsi laten lembaga ekonomi: a. Mengubah dan kadang-kadang merusak lingkungan, misalnya sebagai dampak dari penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas b. Mengubah pola penggunaan waktu. Hal ini berkaitan dengan kecenderungan

warga masyarakat untuk mengejar efisiensi dan produktivitas.PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 16 4. Pranata Politik Sejak Adam dan Hawa mempunyai keturunan, dan keturunannya itu melipatganda, maka muka bumi ini mulai dipadati oleh manusia. Sebagai mahluk yang bersifat sosial, manusia hidup berkelompok pada daerah-daerah yang subur, berdasarkan keturunan, ras, etnisitas, agama, ataupun matapencaharian. Sepanjang masing-masing pihak yang hidup bersama tersebut dapat saling tenggangrasa (toleransi) dan sumbersumber pemenuhan kebutuhan hidup dapat mencukupi, sebanyak apapun manusia yang hidup bersama tidaklah menjadi masalah, Masalah menjadi lain, kalau masingmasing yang hidup mendiami daerah-daerah tersebut mempunyai kepentingan dan kebutuhan yang sama, sementara hal yang menjadi pemenuh kebutuhan atau kepentingan tersebut terbatas adanya, mereka akan terlibat persaingan, pertikaian, bahkan harus berperang untuk memperebutkannya. Thomas Hobbes memberikan ilustrasi sederhana mengenai hal ini, jika ada dua orang membutuhkan hal yang sama, akan tetapi hanya satu orang yang akan memperolehnya, maka mereka akan saling bermusuhan masing-masing pihak akan menganggu dan menindas pihak lain untuk mencapai tujuannya, yaitu kelangsungan hidupnya. Sementara itu, pihak yang tertindas akan membalasnya sebab hal itu menyangkut hidup dan mati. Maka, perang tidak dapat dihindarkan. Menyadari bahwa hidup bersama tanpa aturan akan bisa menjadi boomerang yang memusnahkan kelangsungan hidup manusia, maka lahirlah pranata politik. Kornblum mendefinisikan pranata politik sebagai seperangkat norma dan status yang mengkhususkan diri pada pelaksanaan kekuasaan dan wewenang, termasuk kewenangan menggunakan paksaan fisik. Di masyarakat manapun, kalau tidak ada pranata politik yang diberi kewenangan untuk melaksanakan hukuman atau paksaan fisik, maka negara akan hilang dan yang terjadi adalah anarkhi.

Disamping mengatur siapa yang berwenang untuk menggunakan paksaan fisik, pranata politik juga berfungsi untuk mencapai kepentingan bersama dari anggotaanggota kelompok/masyarakat. Sampai di sini, akhirnya bisa disimpulkan bahwa kebutuhan akan pranata politik, adalah karena kelompok-kelompok dalam masyarakat memerlukan adanya asosiasi atau kelompok tertentu yang dapat menguasai kelompok-kelompok lainnya, karena kepada kelompok atau asosiasi tersebut diberikan wewenang untuk menggunakan hukuman dan paksaan fisik karena didukung oleh adanya aparat (tentara, kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan). Asosiasi dan nilai-nilai yang mendasarinya tersebut kemudian dilembagakan (institutionalized) dan secara riil diterima sebagai pola-pola perilaku dalam masyarakat, demi kelanggengan masyarakat. Asosiasi itu kemudian disebut negara, yang dilengkapi dengan aparat pemerintahan, nilai-nilai bersama yang dijunjung tinggi serta diwujudkan dalam konstitusi, berupa undang-undang dasar, undang-undang, peraturan pemerintah, dan seterusnya.PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 17 Pengertian dan ciri pranata politik Dalam berbagai literature sosiologi, terdapat berbagai istilah yang digunakan untuk menyebut pranata politik. McIver menyebutnya sebagai negara, Zanden menyebutnya sebagai perilaku politik, sedangkan Gillin dan Gillin menyebutnya institusi politik. Apapun istilahnya, pranata yang dimaksud mempunyai dua ciri utama, yaitu: (1) mempunyai kewenangan untuk menggunakan kekuatan fisik, dan (2) mampu memenuhi kebutuhan hidup sendiri (self sufficient). Berdasarkan hal tersebut, pranata politik akan menyangkut masalah negara, pemerintahan, kekuasaan, partai politik, kebijakan, dan sebagainya. Hanya perlu ditekankan, istilah negara tidak sama dengan pemerintahan. Pemerintahan adalah aparatnya negara yang melaksanakan fungsi-fungsi dan kekuasaan negara. Jadi,

pemerintahan hanyalah salah satu unsur negara. Karakteristik pranata politik adalah: (1) adanya suatu komunitas manusia yang secara sosial bersatu atas dasar nilai-nilai yang disepakati bersama, (2) adanya asosiasi politik, yaitu pemerintahan yang aktif, (3) asosiasi tersebut melaksanakan fungsifungsi untuk kepentingan umum, dan (4) asosiasi tersebut diberi kewenangan dalam luas jangkauan dalam territorial tertentu. Fungsi pranata politik James W. Vender Zanden menyebutkan bahwa pranata politik di masyarakat manapun pada dasarnya memiliki empat fungsi, yaitu: a. Pemaksaan norma (enforcement norms) b. Merencanakan dan mengarahkan perubahan c. Menengahi pertentangan kepentingan (arbritasi) d. Melindungi masyarakat dari serangan musuh yang berasal dari luar masyarakatnya, baik dengan diplomasi maupun kekerasan (perang). Dalam rumusan lain, pranata politik berfungsi: a. Memelihara ketertiban di dalam (internal order) b. Menjaga keamanan dari luar (external security) c. Melaksanakan kesejahteraan umum (general welfare) Di samping itu, terdapat fungsi laten lembaga politik, yaitu: a. Menciptakan stratifikasi politik, yakni munculnya penguasa dan yang dikuasai. Bahkan dalam suatu masyarakat sering muncul jenjang atau rentang stratifikasi politik yang jauh, yakni penguasa absolut di satu pihak dan tuna kuasa (power less) di pihak lain. b. Partai politik sebagai social elevator (saluran mobilitas sosial vertikal), misalnya yang terjadi pada para pemimpin partai pemenang pemilihan umum (pemilu).PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 18

5. Pranata Pendidikan Lembaga pendidikan mempunyai fungsi utama menata tentang proses sosialisasi ilmu pengetahuan, teknologi, seni (IPTEKS) maupun kebudayaan kepada para generasi penerus. Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia merujuk pada UU Sistem Pendidikan Nasional (UU Nomor 20 Tahun 2003). Poin-poin penting mengenai sistem pendidikan di Indonesia antara lain a. Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 b. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. c. Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. . Pendidikan formal a. Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. b. Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. d. Jalur, jenjang, dan jenis pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. Pendidikan Nonformal

a. Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat b. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. c. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. d. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. e. Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 19 diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. f. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. (7) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur lebih

lanjut dengan peraturan pemerintah. Pendidikan Informal a. Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. b. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini a. Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar b. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. c. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanakkanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. d. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. e. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan Pendidikan Kedinasan a. Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. b. Pendidikan kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. c. Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. Pendidikan Keagamaan a. Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. b. Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota

masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama. c. Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 20 d. Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis. Pendidikan Jarak Jauh a. Pendidikan jarak jauh diselenggarakan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan b. Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. c. Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan. Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. a. Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. b. Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi. Bahasa Pengantar a. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional.

b. Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan apabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau keterampilan tertentu. c. Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik. Wajib Belajar a. Setiap warga negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar b. Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. c. Wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Pendidikan Multikulturalisme Sesuai dengan realitas objektif masyarakat Indonesia sebagai sebuah masyarakat bangsa dan plural, dalam rangka mewujudkan etika berbangsa dan visi Indonesia masa depan menuntut dilaksanakannya pendidikan yang bersifat multikultural. Mengikuti Bikhu Parekh (2001) dalam Rethinking Multiculturalism, Harvard University Press, bahwa istilah multikulturalisme mengandung tiga komponen, yakni: (1) terkait dengan kebudayaan, (2) merujuk kepada pluralitas kebudayaan, dan (3) cara tertentu untuk merespons pluralitas itu. PRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 21 Pendidikan multikulturalisme membelajarkan para warga masyarakat terutama cara merespon pluralitas. Fungsi nyata (manifes) lembaga pendidikan: a. Membantu orang untuk sanggup mencari nafkah bagi kehidupannya kelak b. Menolong orang untuk mengembangkan potensi diri untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya c. Melestarikan kebudayaan

d. Mengembangkan kemampuan berfikir dan berbicara secara rasional e. Meningkatkan cita rasa keindahan f. Meningkatkan taraf kesehatan dengan cara melatih jasmani melalui olah raga dan pengetahuan tentang kesehatan g. Menciptakan warga negara yang cinta tanah air melalui pelajaran kewarganegaraan Fungsi laten lembaga pendidikan: a. Menunda masa kedewasaan dan memperpanjang ketergantungan b. Menjadi saluran mobilitas sosial vertikal c. Memelihara integrasi sosial maupun politik dalam masyarakat, melalui penggunaan Bahasa Indonesia, pelajaran kewarganegaraan, sejarah perjuangan maupun kebudayaan. G. Hubungan antar-Pranata Sosial Tidak ada satupun pranata sosial yang otonom, dalam arti dapat menghindari pengaruh dari pranata sosial lain. Terjadi hubungan yang saling mempengaruhi di antara lembaga-lembaga sosial yang ada dalam masyarakat. Hubungan tersebut dapat digambarkan dalam bagan berikut: Bagan tentang hubungan antar-pranata sosial Dalam konteks hubungan antar-pranata sosial, Erving Goffman mengemukakan konsep tentang pranata total (total institution), yakni pranata yang memisahkan pengikutnya dari masyarakat umumnya. Misalnya: pendidikan militer atau kedinasan Lembaga Ekonomi Lembaga Keluarga Lembaga Politik Lembaga

Pendikan Lembaga AgamaPRANATA SOSIAL: PENGERTIAN, TIPE DAN FUNGSI 2011 BAHAN AJAR SOSIOLOGI KELAS XII IPS SMAN 3 YK 2011-2012 Page 22 tertentu, lembaga pemasyarakatan (penjara), rumah sakit jiwa, dst. Seluruh aktivitas pengikut lembaga sosial harus dilakukan di dalam lembaga yang dimaksud. Sedikit berbeda dengan Goffman, Lewis Coser mengemukakan tentang pranata tamak (Greedy Institution), yakni pranata yang memonopoli loyalitas dan kesetiaan individu pengikutnya. Misalnya negara dan agama. Daftar Pustaka 1. Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L. 1999. Sosiologi; Edisi Keenam Jilid I. Jakarta: PT Erlangga. 2. J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (ed.). 2006. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 3. Kamanto Soenarto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI. 4. Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta 5. Masri Singarimbum dan Sofian Effendi.1989. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES. 6. Mohammad Nazir. 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. 7. Soerjono Soekanto. 1990. Sosiologi Suatu Pantantar; Edisi Baru Keempat, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 8. Soerjono Soekanto. 1985. Kamus Sosiologi; Edisi Baru. Jakarta: Rajawali Pers. 9. Soerjono Soekanto. 2002. Mengenal Tujuh Tokoh Sosiologi. Jakarta: PT RajaGrafiondo Persada

10. Tim Sosiologi. 2004. Sosiologi Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas 1 SMA. Jakarta: PT Yudhistiransert contents 11. Nasikun. 1996. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT Rajawali Pers. 12. Dyole Paul Johnson. 1981. Teori-teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia. 13. Margaret M. Poloma. 1998. Sosiologi Kontemporer. Terjemahan dari Contemporary Sociological Theory. Jakarta: PT Rajawali Pers. 14. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi. 1986. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Yasbit FE UI.