Anda di halaman 1dari 22

ASKEP BPH

Kel. 1

Pengertian
Hiperplasia prostat adalah pembesanan prostat yang jinak bervariasi berupa hiperplasia kelenjar atau hiperplasia fibromuskular. Namun orang sering menyebutnya dengan hipertropi prostat namun secara histologi yang dominan adalah hyperplasia (Sabiston, David C,1994) BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami pembesaran memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium uretra. (Smeltzer dan Bare, 2002)

Etiologi
Menurut Purnomo (2000), hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab prostat hiperplasi, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan.

Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasi prostat adalah : Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut; Peranan dari growth factor (faktor pertumbuhan) sebagai pemicu pertumbuhan stroma kelenjar prostat; Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati; Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan

Manifestasi Klinik
Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium : 1. Stadium I Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai habis. 2. Stadium II Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa ridak enak BAK atau disuria dan menjadi nocturia. 3. Stadium III Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc. 4. Stadium IV Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine menetes secara peri odik (over flow inkontinen).

komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain: sering dengan semakin beratnya BPH, dapat terjadi obstruksi saluran kemih, karena urin tidak mampu melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan apabila tidak diobati, dapat mengakibatkan gagal ginjal. (Corwin, 2000)

Penatalaksanaan
Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam penatalaksanaan pasien dengan BPH tergantung pada stadium-stadium dari gambaran klinis. Stadium I Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan pengobatan konservatif,

Stadium II Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra). Stadium III Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam. Stadium IV Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi.

Pemerikasaan penunjang
Menurut Doenges (1999), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada pasien dengan BPH adalah : Laboratorium 1). Sedimen Urin Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran kemih. 2). Kultur Urin Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan.

Pencitraan 1). Foto polos abdomen Mencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa prostat dan kadang menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi urin yang merupakan tanda dari retensi urin. 2). IVP (Intra Vena Pielografi) Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis, memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada buli-buli. 3). Ultrasonografi (trans abdominal dan trans rektal) Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur sisa urin dan keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor. 4). Systocopy Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra parsprostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam rektum.

Konsep Askep
1. Pengkajian Identitas a. Usia : Lebih dari 50 th b. Jenis kelamin : Laki-laki Riwayat kesehatan a. BPH dengan penyumbatan urinaria b. Kanker prostat

Perubahan pola fungsi


Sirkulasi Tanda : Peningkatan TD (Efek dari pembesaran ginjal) Eliminasi Gejala : Penurunan kekuatan/dorongan aliran urin,keraguraguan pada awal kemih, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih, disuria dan hematuria, duduk untk berkemih,ISK berulang,riwayat batu,konstipasi Tanda : Masa padat di abdomen bawah (distensi kandung kemih), nyeri tekan kandung kemih Makanan/cairan Gejala : Anoreksia,mual,muntah dan penurunan BB Nyeri dan kenyamanan Gejala : Nyeri suprapubis, panggul atau punggung kuat,tajam dan nyeri punggung bawah.

Keamanan Gejala : Demam Seksualitas Gejala : Masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksual,takut inkontinensia/menetes selama berhubungan intim dan penurunan kekuatan kontraksi ejakulasi Tanda : Pembesaran dan nyeri tekan prostat Penyulunhan dan pembelajaran Gejala : Riwayat keluarga kanker, hipertensi dan penyakit ginjal, penggunaan antihipertensi atau antidepresan, antibiotic urinaria atau antigen antibiotic, obat yang dijual bebas untuk flu/alergi obat mengandung simpatomimetik

Diagnosa Keperawatan
Gangguan rasa nyaman,nyeri berhubungan dengan distensi kandung kemih. Defisit volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan, ditandai dengan adanya tanda-tanda dehidrasi Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder. Disfungsi seksual berhubungan dengan hilangnya fungsi tubuh,inkontinensia Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan prosedur invasive

Rencana Keperawatan
Dx 1 Gangguan rasa nyaman,nyeri berhubungan dengan distensi kandung kemih. Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat. Kriteria hasil: a. Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang b. Pasien dapat beristirahat dengan tenang.

Intervensi:
Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri. R/ Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan. Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi) R/ Membantu untuk menentukan intervensi selanjutnya Beri kompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah R/ Meningkatkan relaksasi otot. Atur posisi klien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi dan distraksi. R/ Meningkatkan relaksasi dan kemampuan koping Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang) R/Agar tidak memperberat rasa nyeri Pertahankan tirah baring selama fase nyeri. R/ Memperbaiki pola berkemih normal dan menghilangkan nyeri kulit.

Dx 2 Defisit volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan, ditandai dengan adanya tanda-tanda dehidrasi Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi deficit volume cairan Kriteria Hasil : 1. Mempertahankan dehidrasi adekuat 2. Tanda-tanda vital stabil 3. Pengisian kapiler baik 4. Menunjukan tidak adanya perdarahan

Intervensi
Mengawasi intake dan output cairan R/ Indikator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggantian pada irigasi kanung kemih. Observasi drainase kateter R/ Perdarahan tidak umum terjadi pada 24 jam pertama Evaluasi warna,konsistensi urine R/ Untuk mengetahui perdarahan Inspeksi balutan/luka drain R/ Perdarahan dapat dibuktikan atau disingkirkan dalam jaringan perineum Memantau kegelisahan klien R/ Dapat menurunkan perfusi serebral Mendorong pemasukan cairan 3000ml R/ Membilas ginjal/ kandung kemih dari bakteri

Dx 3 Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam pasien tidak mengalami retensi urin Kriteria : Pasien dapat buang air kecil teratur bebas dari distensi kandung kemih.

Intervensi :
Dorong klien BAK tiap 2-4 jam. R/ Meminimalkan retensi urin, distensi berlebihan pada kandung kemih. Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih. R/ Retensi urin meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan atas, yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal. Lakukan irigasi kateter secara berkala / terus menerus dengan teknik steril. R/ Menurunkan resiko infeksi asenden. Observasi adanya tanda-tanda shock / hemorargi (hematuria, dingin, kulit lembab,takikardi, dispnea). R/ Kehilangan fungsi ginjal mengakibatkan penurunan eliminasi cairan dan akumulasi sisa toksik, dapat berlanjut ke penurunan ginjal total. Kolaborasi dengan dokter dalampemberian terapi anti posmodik sesuai indikasi. R/ Menghilangkan spasme kandung kemih sehubungan dengan iritasi oleh kateter.

Terima Kasih . . .