Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN Dalam pelaksanaan penelitian, banyak peneliti menganalisis objek penelitian dengan menggunakan sampel, dan bukan

populasi. Makalah ini akan menitikberatkan pada bagaimana cara untuk memilih sampel. Beberapa terminologi nya antara lain alasan penggunaan sampel, karakteristik sampel yang baik, proses pemilihan sampel, menentukan jumlah sampel dan bagaimana mendesain sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian. Terminologi yang sering digunakan, antara lain : 1) Elemen 2) Populasi 3) Unit pengambilan sampel 4) Kerangka sampel 5) Sampel 6) Parameter 7) Kesalahan sampel 8) Efisiensi Statistik dan sampel 9) Perencanaan Sampel

BAB II PEMBAHASAN Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan dapat mewakili populasi penelitian. Populasi adalah suatu kelompok dari elemen penelitian, dimana elemen penelitian adalah unit terkecil yang merupakan sumber dari data yang diperlukan. 2.1 Alasan Pemilihan Sampel Dalam penelitian, seorang peneliti seringkali menggunakan sampel dengan beberapa pertimbangan. Inilah yang disebut sampling, yaitu proses memilih sejumlah elemen dari populasi yang mencukupi untuk mempelajari sampel dan memahami karakteristik elemen populasi (Sekaran, 2000 : 268). Alasan utama penggunaan sampel adalah (Davis dan Cosenza, 1993 : 219220, Zikmund, 2000 : 339-340). Alasan utama pemilihan sampel adalah: 1. Kendala Sumberdaya Kendala waktu, dana, dan sumberdaya lain yang terbatas jumlahnya. Penggunaan sampel akan menghemat sumberdaya untuk menghasilkan penelitian yang lebih dapat dipercaya daripada sensus. 2. Ketepatan Melalui pemilihan desain sampel yang baik, peneliti akan memperoleh daya yang akurat, dengan tingkat kesalahan yang relatif rendah. 3. Pengukuran Destruktif Kadang-kadang pengukuran yang dilakukan merupakan pengukuran yang destruktif. 2.2 KARAKTERISTIK SAMPEL YANG BAIK Sampel yang baik umumnya memiliki beberapa karakteristik meliputi: 1. Sampel yang baik memungkinkan peneliti untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan besaran sampel untuk memperoleh jawaban yang dikehendaki.

2. Sampel yang baik mengidentifikasikan probabilitas dari setiap unit analisis untuk menjadi sampel. 3. Sampel yang baik memungkinkan peneliti menghitung akurasi dan pengaruh (misalnya kesalahan) dalam pemilihan sampel daripada harus melakukan sensus. 4. Sampel yang baik memungkinkan peneliti menghitung derajat kepercayaan yang diterapkan dalam estimasi populasi yang disusun dari sampel statistika. Dalam praktek, estimasi berdasarkan sampel memang tidak sama persis dengan perhitungan sensus. Oleh karena itu, cara-cara meminimalkan kesalahan dalam pengambilan sampel perlu diperhatikan. Kesalahan yang sering terjadi adalah (Zikmund, 2000 : 334-349).: a) Sampling frame error, yaitu kesalahan yang terjadi bila elemen sampel tertentu tidak diperhitungkan, atau bila seluruh populasi tidak diwakili secara tepat oleh kerangka sampel. b) Random sampling error (sampling error), yaitu kesalahan akibat adanya perbedaan antara hasil sampel dan hasil sensus yang dilakukan dengan prosedur yang sama. Kesalahan juga dapat muncul karena fluktuasi statistic yang terjadi karena variasi peluang dalam elemen sampel yang dipilih.kesalahn sampel semacam ini merupakan fungsi dari jumlah sampel. Bila jumlah sampel meningkat, maka kesalahan sampel menurun. c) Nonresponse error, yaitu kesalahan akibat perbedaan statistic antara survey yang hanya memasukkan mereka yang merespon dan juga mereka yang gagal (tidak merespon). 2.3 PROSES PEMILIHAN SAMPEL Agar informasi yang diperoleh dari sampel benar-benar mewakili populasi, sampel tersebut harus mewakili karakteristik populasi yang diwakilinya. Untuk memperoleh sampel yang dapat mewakili karakteristik populasi, diperlukan metode pemilihan sampel yang tepat. Informasi dari

sampel yang baik akan dapat mencerminkan informasi dari populasi secara keseluruhan. Proses pemilihan sampel merupakan suatu rangkaian kegiatan yang berurutan. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pemilihan sampel ditunjukkan dalam gambar berikut : Gambar 1 Tahapan Pemilihan Sampel

Sumber : Mudrajad, Kuncoro, Phd. Metode Riset untuk Bisnis, 2003

2.4 PERTIMBANGAN PENENTUAN JUMLAH SAMPEL Jumlah sampel yang akan digunakan untuk suatu penelitian perlu dipertimbangkan dengan baik. Peneliti dapat mencari data dari seluruh elemen

yang ada dalam populasi yang diteliti melalui sensus Karena data yang dihasilkan lebih akurat. Namun, karena kendala waktu dan biaya penelitian, sensus tidak dilakukan untuk setiap penelitian bisnis maupun ekonomi. Tujuan penggunan sampel adalah peneliti dapat memperoleh data yang dapat mencerminkan keadaan populasi dengan biaya penelitian yang lebih murah dan waktu penelitian yang lebih cepat.jumlah sampel yang sangat sedikit menghemat biaya penelitian, namun data yang diperoleh belum tentu dapat mencerminkan keadaan populasi. Semakin banyak jumlah ampel yang digunakan semakin baik data yang dapat diperoleh, namun dengan biaya yang besar pula. Oleh karena itu, peneliti perlu menentukan jumlah sampel yang layak Ada dua macam mitos yang sering muncul berkaitan erat dengan penentuan sampel (Cooper & Schindler, 2001:389): 1) Sampel harus besar agar dapat mewakili populasi. 2) Sampel harus mengandung hubungan proporsional terhadap ukuran populasi. Dalam praktek, besarnya sampel tergantung dari variasi parameter populasi dan seberapa jauh presisi yang diperlukan oleh si peneliti. Zikmund (2000:389) mengusulkan formula menghitung sampel sebagai berikut:
ZS n= E
2

ZS n= E

n = jumlah sampel Z = nilai yang sudah distandardisasi sesuai derajat keyakinan. S = deviasi standar sampel/estimasi deviasi standar populasi E = tingkat kesalahan yang ditolerir Jumlah sampel yang sesuai untuk suatu penelitian dipengaruhi oleh beberapa factor (Davis dan Cozensa 1993 : 222-223), yaitu : 1. Homogenitas 2. Derajat Kepercayaan

3. Presisi 4. Prosedur analisis 5. Kendala Sumberdaya Secara umum jumlah sampel minimal yang dapat diterima untuk suatu studi tergantung dari jenis studi yang dilakukan.beberapa pedoman yang dianjurkan adalah (Gay & Diehi, 1996: 140-141) a) Untuk studi deskriptif, sampel 10% dari populasi dianggap merupakan jmlah amat minimal. Untuk populasi yang lebih kecil, setidaknya 20% mungkin diperlukan. b) Untuk studi korelasi, dibutuhkan minimal 30 sampel untuk menguji ada tidaknya hubungan. c) Untuk studi kausal komparatif, minimal 30 subjek per grup umumnya dianjurkan. d) Untuk studi eksperimen, minimal 15 subjek per grup umumnya dianjurkan. 2.5 DESAIN SAMPEL Secara umum desain sampel terdiri dari dua macam, yaitu desain probabilitas dan desain nonprobabilitas. Perbedaan keduanya antara lain : Tabel 1 Perbedaan sampel Probabilitas dan Non Probabilitas Pertimbangan Biaya Akurasi Waktu Penerimaan Hasil Kemampuan Generalisasi
Sumber: Dimodivikasi dari Davis & Cosenza (1993:226)

Jenis Desain Probabilitas Nonprobabilitas Lebih mahal Lebih murah Lebih tepat Kurang tepat Lebih lama Lebih cepat Penerimaan universal Penerimaan masuk akal baik Jelek

Sampel probabilitas mengandung arti bahwa setiap sampel dipilih berdasarkan prosedur seleksi dan memiliki peluang yang sama untuk dipilih. Ada 5 jenis desain sampel probabilitas : 1. Sampel Random Sederhana (Simple Random Sampling)

Kelebihan dari pemilihan random sederhana adalah: Prosedur pemilihan sampel sangat mudah Unit pemilihan sampel hanya satu macam Kesalahan klasifikasi dapat dihindarkan Cukup dengan gambaran garis besar dari populasi Merupakan desain sampel yang paling sederhana dan mudah. Kelemahan desain sampel random sederhana yaitu: Gambaran umum populasi yang mungkin sudah diketahui peneliti tidak dipergunakan seluruhnya Dengan menggunakan jumlah sampel yang sama, tingkat ketelitian dan kecermatan penelitian menjadi lebih rendah daripada pemilihan random stratifikasi 2. Sampel Sistematis Kelebihan dari desain sampel sistematis adalah: Apabila nomor urut elemen disusun berdasar kriteria tertentu, elemen yang terpilih menjadi sampel secara otomatis sudah mewakili setiap strata yang ada dalam populasi. Prosedur pemilihan sampel sangat mudah Unit pemilihan sampel hanya satu macam Kesalahan klasifikasi dapat terhindarkan. Kelemahan desain ini adalah apabila nomor urut elemen berdasar lokasi atau variabel lain yang tidak ada hubungannya dengan kriteria stratifikasi penelitian, dengan sampel yang sama akan mempunyai tingkat akurasi yang lebih rendah daripada random stratifikasi 3. Sampel Stratifikasi Kelebihan random stratifikasi adalah dengan digunakannya jumlah sampel yang proporsional dengan jumlah populasi pada masing-masing strata, sampel secara keseluruhan akan dapat mewakili populasi yang ada dengan baik.

4. Sampel Kluster (Cluster Sampling)

Alasan yang mendorong digunakannya sampel kluster adalah adanya kebutuhan efisiensi ekonomis yang tidak bisa diperoleh peneliti jika menggunkana sampel random sederhana, dan tidak tersedianya kerangka sampel untuk elemen tertentu. Kelemahan sebagian besar sampel kluster adalah efisiensi statistik yang lebih rendah dibandingkan dengan sampel random sederhana karena kluseter biasanya homogen. Tabel 2 Perbedaaan Sampel Kluster Dan Sampel Stratifikasi Sampel Stratifikasi 1. Peneliti membagi populasi menjadi beberapa subkelompok berdasar kriteria yang berhubungan dengan variabelbariabel dalam penelitian tersebut dan setiap subkelompok terdiri dari beberapa elemen. 2. Peneliti berusaha mempertahankan homogenitas dalam satu subkelompok dan heterogenitas antar subkelompok 3. Peneliti memilih elemen dari setiap subkelompok secara random.
Sumber : Cooper dan Schindler (2001 : 187)

Sampel Klutser 1. Peneliti membagi populasi menjadi beberapa subkelompok berdasar kriteria yang sederhana atau tersedia dalam data. 2. Peneliti berusaha menjaga heterogenitas dalam satu subkelompok dan homogenitas antar subkelompok. 3. Peneliti memilih jumlah subkelompok secara random.

5. Sampel Daerah Multitahap (Multistage Area Sampling) Multistage Area Sampling adalah prosedur pengambilan sampel melibatkan penggunaan kombinasi teknik sampel probabilitas. 2.6 DESAIN SAMPEL NONPROBABILITAS Perbedaan utama dengan sampel probabilitas, adalah bahwa sampel nonprobabilitas dipoilih secara arbitrer oleh peneliti. Ada empat kagegori sampel nonprobabilitas, yaitu: convenience, judgment quota, snowball sampling.

Tabel 3

Perbandingan Teknik Sampel Nonprobabilitas Jenis Sampel 1. Convenience Diskripsi Peneliti menggunakan sampel yang paling sederhana atau ekonomis. Kelebihan Tidak memerlukan daftar populasi yang panjang. Kekurangan Variabilitas dan estimsi yang bias tidak dapat diukur atau dikontrol. Proyeksi datadari sampel yang diperoleh tidak sesuai. Hasilnya biasa karena sampel tidak representatif. Proyeksi data dari sampel tidak cocok.

2.

3.

Judgement Peneliti ahli atau berpengalaman memilih sampel untuk memenuhi tujuannya, seperti meyakinkan bahwa semua opulasi mempunyai karakteristik Quota tertentu. Peneliti mengklasifikasikan populasi menurut kriteria tertentu (partinent properties), menentukan proporsi sampel yang dikehendaki untuk tiap kelas, Snowball menetapkan kuota untuk setiap pewawancara. Responden awal dipilih dengan sampel probabilitas sedangkan responden berikutnya diperoleh dari usulan/ masukan responden sebelumnya.

Bermanfaat untuk tipe-tipe estimasi tertentu. Biaya moderat. Sampel memastikan bahwa tujuan yang akan dicapai pasti tercapai. Mengenalkan beberapa stratifikasi populasi. Biaya moderat. Tidak memerlukan daftar populasi lagi.

4.

Biaya rendah. Bermanfaat dalam pengalokasian anggota dari populasi yang jumlahnya sedikit.

Memberikan hasil klasifikasi yang bias. Penyimpangan dari populasi tidak dapat diperkirakan karena pengguanaan seleksi yang nonrandom. Proyeksi data dari sampel tidak dapat dilakukan.

Hasilnya bias karena jumlah sampel tidak independen. Proyeksi data di luar sampel tidak sesuai.

Sumber : Zikmund (2000: 362)

1. Convenience Sampling

Convenience sampling adalah prosedur untuk mendapatkan unit sampel menurut keinginan peneliti. Sampel convenience paling sesuai digunakan untuk penelitian eksploratif sebagai pendahuluan sebuah penelitian yang menggunakan desain sampel probabilitas. Kelemaan pengambilan sampel dengan metode ini adalah sering kali menghasilkan output penelitian dengan tingkat objektivitas yang rendah. 2. Judgment Sampling Judgment sampling adalah salah satu jenis purposive sampling selain quota samlping dimana peneliti memilih sampel berdasarkan penilaian terhadap beberapa karakterisitik anggota sampel yang disesuaikan dengan maksud penelitian. 3. Quota Sampling Quota sampling adalah jenis kedua dari purposive sampling. Metode ini digunakan untuk memastikan bahwa berbagai subgrup dalam populasi telah terwakili dengan berbagai karakteristik sampel sampai batas tertentu seperti yang dikehendaki oleh peneliti. Keunggulan sampel kuota adalah memungkinkan pengumpulan data dengan cepat, dan biaya yang rendah. Kelemahannya adalah adanya kemungkinan bias karena responden dipilih berdasarkan prosedur convenience sampling dan bukan berdasarkan metode probabilitas. 4. Snowball Sampling Snowball sampling yaitu sebuah prosedur pengambilan sampel dimana responden pertama dipilih dengan metode probabilitas, dan kemudian responden selanjutnya deperoleh dari informasi yang diberikan oleh responden yang pertama. Keuntungan dari metode ini adalah memungkinkan ditekannya ukuran sampel dan biaya. Kelemahannya adalah bias karena orang yang direkomendasan oleh responden yang terahulu untuk diwawancarai memiliki kemungkinakn kemiripan.

BAB III PENUTUP 3.1 Alasan Pemilihan Sampel Kendala Sumberdaya Ketepatan Pengukuran Destruktif 3.2 KARAKTERISTIK SAMPEL YANG BAIK Sampel yang baik memungkinkan peneliti untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan besaran sampel untuk memperoleh jawaban yang dikehendaki, Sampel yang baik mengidentifikasikan probabilitas dari setiap unit analisis untuk menjadi sampel, Sampel yang baik memungkinkan peneliti menghitung akurasi dan pengaruh (misalnya kesalahan) dalam pemilihan sampel daripada harus melakukan sensus.. 3.3 PROSES PEMILIHAN SAMPEL Proses pemilihan sampel merupakan suatu rangkaian kegiatan yang berurutan. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pemilihan sampel ditunjukkan dalam gambar berikut : 3.4 PERTIMBANGAN PENENTUAN JUMLAH SAMPEL Sampel harus besar agar dapat mewakili populasi, sampel harus mengandung hubungan proporsional terhadap ukuran populasi. 3.5 DESAIN SAMPEL Sampel Random Sederhana (Simple Random Sampling) Sampel Sistematis Sampel Stratifikasi Sampel Kluster (Cluster Sampling) Sampel Daerah Multitahap (Multistage Area Sampling)

3.6 DESAIN SAMPEL NONPROBABILITAS Convenience Sampling, adalah prosedur untuk mendapatkan unit sampel menurut keinginan peneliti. Judgment Sampling, salah satu jenis purposive sampling selain quota samlping dimana peneliti memilih sampel berdasarkan penilaian terhadap beberapa karakterisitik anggota sampel yang disesuaikan dengan maksud penelitian. Quota Sampling, Metode ini digunakan untuk memastikan bahwa berbagai subgrup dalam populasi telah terwakili dengan berbagai karakteristik sampel sampai batas tertentu seperti yang dikehendaki oleh peneliti. Snowball Sampling, sebuah prosedur pengambilan sampel dimana responden pertama dipilih dengan metode probabilitas, dan kemudian responden selanjutnya deperoleh dari informasi yang diberikan oleh responden yang pertama.

DAFTAR PUSTAKA Kuncoro, Mudrajat, Ph.D. Metode Riset Untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta. Penerbit Erlangga, April 2003 Hague, Paul dan Jackson, Peter, Riset Pemasaran Dalam Praktek. Jakarta. Pustaka Binaman Pressindo, Maret 1999 www.google.com www.wikipedia.com

MAKALAH RISET PEMASARAN

PEMILIHAN SAMPLE PENELITIAN Nama Kelompok: 1. Milliya Subiantoro 3. Ramadhianti Rachman 4. Wahyu Al Ihsan (0503200634-61) (0503200639-61) (0503201257-61)

2. Ninis Dwi Wahyuni(0503200622-61)

JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA POLITEKNIK NEGERI MALANG 2007