Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Penulisan


Kita sering melupakan lingkungan sekitar kita yang sebenarnya bisa menimbulkan berbagai masalah terutama bisa menyebabkan terjadinya alergi. Untuk itu kita sebagai profesi keperawatan harus menjaga lingkungan agar bisa tercapainya pelayanan kesehatan.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka cara dalam meningkatkan kesehatan untuk klien, keluaraga, masyarakat, lingkungan, dan negara yaitu dengan memahami bagaimana pentingnya seorang perawat mengenai lingkungan yang sehat dalam memberikan pelayanan kesehatan. Dengan ini akan di arahkan pada hal-hal sebagai berikut : 1. Sejauh mana perawat mengetahui mengenai lingkungan yang sehat sehingga klien terhindar dari alergi. 2. Sejauh mana perawat menciptakan lingkungan yang sehat untuk klien sehingga terhindar dari alergi. 3. Sejauh mana hubungan perawat dan masyarakat setelah terciptanya lingkungan yang sehat. 4. Sejauh mana pengaruh masyarakat setelah perawat menciptakan lingkungan yang sehat pada kilen dan masyarakat.

Maksud dan Tujuan Penulisan


Penulisan ini bermaksudkan untuk memberi gambaran tentang pentingnya menciptakan dan menjaga lingkungan yang sehat agar klien terhindar dari alergi, sehingga tercapainya pelayanan kesehatan. Di mana tujuan tersebut antara lain : 1. Mengetahui tindakan perawat dalam menciptakan yang sehat. 2. Mengetahui tanggapan masyarakat terhadap peran perawat setelah di ciptakannya lingkungan yang sehat. 3. Mengetahui hubungan pelayanan kesehatan dengan klien, keluarga, dan masyarakat setelah terciptanya lingkungan yang sehat. 4. Mengetahui pengaruh masyarakat terhadap peran perawat setelah terciptanya lingkungan yang sehat.

BAB II ALERGI

A. Pengertian
Alergi adalah reaksi berlebihan dari sistem pertahanan alami tubuh yang membantu melawan infeksi (sistem kekebalan). Sistem kekebalan tubuh biasanya melindungi tubuh dari virus dan bakteri dengan memproduksi antibodi biasanya menjadi penyebab alergi secara biologis. Pada reaksi alergi, sistem kekebalan tubuh mulai melawan zat-zat yang biasanya tidak berbahaya (seperti debu, serbuk sari, atau obat) seolah-olah zat ini mencoba untuk menyerang tubuh. Alergi ialah reaksi imunologis berlebihan dalam tubuh yang timbul segera atau dalam rentan waktu tertentu setelah eksposisi atau kontak dengan zat yang tertentu (alergen). Alergi dibagi menjadi 4 macam, macam I s/d IV berhubungan dengan antibodi humoral, sedangkan macam ke IV mencakup reaksi alergi lambat oleh antibodi seluler. Alergi atau hipersensitivitas adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya nonimunogenik. Dengan kata lain, tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing atau berbahaya. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut allergen.

B. Penyebab
a. Debu b. Makanan

c. Obat-obatan d. Zat-zat kimia e. Macam/Type I (reaksi anafilaktis dini): Setelah kontak pertama dengan antigen/alergen, di tubuh akan dibentuk antibodi jenis IgE (proses sensibilisasi). Pada kontak selanjutnya, akan terbentuk kompleks antigen-antibodi. Dalam proses ini zat-zat mediator (histamin, serotonin, brdikinin, SRS= slow reacting substances of anaphylaxis) akan dilepaskan (released) ke sirkulasi tubuh. Jaringan yang terutama bereaksi terhadap zat-zat tersebut ialah otot-otot polos (smooth muscles) yang akan mengerut (berkontraksi). Juga terjadi peningkatan permeabilitas (ketembusan) dari kapiler endotelial, sehingga cairan plasma darah akan meresap keluar dari pembuluh ke jaringan. Hal ini mengakibatkan pengentalan darah dengan efek klinisnya hipovolemia berat. Gejala-gejala atau tanda-tanda dari reaksi dini anafilaktis ialah: shok anafilaktis-urtikaria, edema Quincke-kambuhnya/eksaserbasi asthma bronchiale-rinitis vasomotorica. f. Macam/type II (reaksi imu sitotoksis): Reaksi ini terjadi antara antibodi dari kelas IgG dan IgM dengan bagian-bagian membran sel yang bersifat antigen, sehingga mengakibatkan terbentuknya senyawa komplementer. Contoh: reaksi setelah transfusi darah, morbus hemolitikus neonatorum, anemia hemolitis, leukopeni, trombopeni dan penyakit-penyakit autoimun. g. Macam/Type III (reaksi berlebihan oleh kompleks imun = immune complex = precipitate): Reaksi ini merupakan reaksi inflamasi atau peradangan lokal/setempat (Type Arthus) setelah penyuntikan intrakutan atau subkutan ke dua dari sebuah alergen. Proses ini berlangsung di dinding pembuluh darah. Dalam reaksi ini terbentuk komplemen-komplemen intravasal yang mengakibatkan terjadinya kematian atau nekrosis jaringan. Contoh: fenomena Arthus, serum sickness, lupus eritematodes, periarteriitis nodosa, artritis rematoida.
4

h. Macam/Type IV (Reaksi lambat type tuberkulin): Reaksi ini baru mulai beberapa jam atau sampai beberapa hari setelah terjadinya kontak, dan merupakan reaksi dari t-limfosit yang telah tersensibilisasi. Prosesnya merupakan proses inflamatoris atau peradangan seluler dengan nekrosis jaringan dan pengubahan fibrinoid pembuluh-pembuluh yang bersangkutan. Contoh: reaksi tuberkulin (pada tes kulit tuberkulosa), contact eczema, contact dermatitis, penyakit autoimun (poliarthritis, colitis ulcerosa), dll.). i. Risiko seseorang terkena alergi berhubungan dengan riwayat alergi dari orang tuanya. Jika tidak ada satupun orang tua yang mengalami alergi, kesempatan untuk menagalami alergi adalah kira-kira 15%. Jika satu orang tua alergi, risikonya meningkat sampai 30% dan jika keduaduanya alergi, risikonya lebih besar dari 60%. j. Hal lain yang mempengaruhi alergi adalah lingkungan. Seseorang harus mempunyai tendensi genetik dan terpapar pada alergen sehingga dapat terkena alergi. Sebagai tambahan, lebih hebat dan sering paparan terhadap alergen dan lebih awal terjadi didalam kehidupan, lebih mungkin alergi akan berkembang. Ada pengaruh-pengaruh penting lainnya yang dapat berkomplot untuk menyebabkan kondisi-kondisi alergi, di antaranya adalah merokok, polusi, infeksi, dan hormonhormon.

C. Jenis-jenis alergi
Ada banyak jenis alergi, beberapa yang lebih umum meliputi: 1. Alergi Pada Mata Alergi pada mata (conjunctivitis allergic) adalah peradangan dari lapisanlapisan jaringan yang menutupi permukaan dari bola mata dan permukaan bawah dari kelopak mata. Peradangan terjadi sebagai hasil dari reaksi alergi dan mungkin dapat menghasilkan gejala-gejala berikut:
5

Kemerahan dibawah kelopak dan mata keseluruhannya Mata menjadi berair dan gatal Terjadi pembengkakan

2. Alergi Pada Kulit Allergic eczema (atopic dermatitis) adalah alergi ruam yang umumnya disebabkan oleh kontak kulit dengan alergen. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan rhinitis alergi atau asma dan memiliki gejala-gejala sebagai berikut: Gatal, kemerahan, dan atau kekeringan dari kulit Ruam (Rash) pada muka, terutama anak-anak Ruam sekeliling dewasa. 3. Alergi Gatal Hives (urtikaria) adalah reaksi kulit yang timbul berupa pembengkakkan yang gatal dan dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja. Hives dapat disebabkan oleh reaksi alergi, seperti pada makanan atau obat-obatan, namun dapat juga terjadi pada orang-orang yang tidak alergi. Gejala-gejala hives yang khas adalah: Kulit kemerahan Gatal yang hebat mata-mata, pada lipatan-lipatan sikut, dan

dibelakang lutut, terutama pada anak-anak yang lebih tua dan orang

4. Allergic Shock

Allergic shock (anaphylactic shock) adalah reaksi alergi yang mengancam nyawa yang dapat mempengaruhi fungsi beberapa organ pada waktu yang bersamaan. Reaksi ini secara khas terjadi ketika alergen dimakan (contohnya obat) atau disuntikakan (contohnya obat injeksi). Beberapa atau seluruh dari gejala-gejala berikut dapat terjadi: Hives atau perubahan warna kemerahan dari kulit Hidung mampet Pembengkakkan dari tenggorokan Sakit perut, mual dan muntah Napas pendek, mencuit-cuit (wheezing) Tekanan darah rendah atau shock

5. Alergi makanan, yang lebih sering terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa. Alergi makanan biasanya terjadi pada orang-orang yang punya keturunan alergi dalam keluarganya. Orang-orang seperti ini juga memiliki kemungkinan besar terserang asma serta alergi lainnya. 6. Alergi obat. Banyak resep dan obat-obatan nonprescription dapat menyebabkan reaksi alergi. Reaksi alergi terhadap obat ini sangat umum dan kadangkala tak terduga. 7. Alergi terhadap racun serangga, bila Anda tersengat oleh serangga, racun dan toksin lainnya yang ada pada sengatan lebah yang mungkin masuk ke kulit. Normalnya Anda akan mengalami bengkak kemerahan, nyeri ataupun gatal-gatal pada tempat sengatan. Reaksi alergi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh Anda bereaksi berlebihan terhadap racun yang dihasilkan oleh sengatan serangga tersebut.

8. Alergi terhadap hewan. Alergi ini lebih banyak menyebabkan masalah pernapasan dari masalah kulit. Anda mungkin alergi terhadap kulit mati hewan peliharaan Anda (bulu), urin, air liur kering, atau rambut. 9. Alergi terhadap karet alam (lateks). Beberapa orang mengalami reaksi alergi setelah kontak berulang dengan lateks, terutama sarung tangan lateks. 10. Alergi yang berkembang dari paparan zat yang dihirup di tempat kerja. Ini disebut asma pekerjaan. 11. Alergi terhadap kosmetik, seperti kuku buatan, ekstensi rambut, dan tato henna. 12. Alergi musiman muncul pada waktu yang sama tahun setiap tahun dan disebabkan oleh paparan terhadap serbuk sari dari pohon, rumput, atau gulma.

D. Manifestasi Klinik
a. Mata gatal, bersin-bersin, mengeluarkan ingus, batuk, gejala nafas sesak sampai terjadi serangan asma. b. Sering pula muncul keluhan mual, muntah dan diare. c. Penyakit rinitis alergi biasanya ditandai dengan bersin-bersin, hidung terasa gatal, hidung berair atau tersumbat dan sukar bernapas, sedangkan pada mata akan terasa gatal, kemerahan dan berair. Bila penyakit ini dibiarkan, kemungkinan akan berkembang menjadi sinusitis.

E. Patofisiologi
Pada reaksi alergi dilepaskan berbagai zat mediator yang akan menimbulkan gejala klinis. Zat mediatior utama dan terpenting adalah
8

histamine yang memiliki efek dilatasi pembuluh darah, peningkatan permeabilitas kapiler, iritasi ujung-ujung saraf sensoris, dan aktivitas sel-sel kelenjar. Di dalam Udara Pernapasan Bernapas dapat penuh risiko jika anda alergi. Disamping oksigen, udara mengandung beberapa partikel tidak berbahaya termasuk alergen. Penyakitpenyakit yang umum yang berasal dari alergen udara adalah hay fever, asma, dan conjunctivitis. Alergen berikut umumnya tidak berbahaya, namun dapat memicu reaksi alergi ketika dihirup oleh individu-individu yang sensitif. Serbuk sari: pohon-pohon, rumput-rumput, dan/atau rumput-rumput liar Tungau Protein-protein binatang: bulu, kulit, dan/atau urin Spora-spora jamur Bagian-bagian tubuh serangga

Di dalam Yang Kita Makan Ketika makanan-makanan dan obat-obatan dicerna, alergen mungkin dapat masuk kedalam aliran darah dan menjadi terpasang pada IgE tertentu didalam sel-sel pada tempat-tempat yang jauh seperti kulit atau mukosa hidung. Kemampuan dari alergen tersebut menjelaskan bagaimana gejalagejala dapat terjadi pada area-area yang berlainan dari saluran pencernaan. Reaksi-reaksi alergi makanan dapat berupa pembengkakan lidah atau tenggorokan dan mungkin diikuti oleh mual, diare, atau kram perut. Kesulitan bernapas dengan hidung atau reaksi-reaksi kulit mungkin juga dapat terjadi. Dua kelompok utama alergen yang dicerna adalah:

Makanan: Makanan yang paling umum yang menyebabkan reaksireaksi alergi adalah susu sapi, ikan, kerang-kerangan, telur, kacangkacangan, kedelai, dan gandum. Obat-obatan (ketika diminum), contohnya antibiotic, anti inflamasi, anti piretik (penurun panas), dll.

Menyentuh kulit Kita Allergic contact dermatitis adalah peradangan kulit yang disebabkan oleh reaksi alergi lokal. Mayoritas dari reaksi-reaksi kulit lokal ini tidak melibatkan IgE, namun disebabkan oleh sel-sel peradangan. Harus dicatat bahwa ketika beberapa alergen (contohnya, latex) bersentuhan dengan kulit, mereka diserap oleh kulit dan dapat juga berpotensi menyebabkan reaksireaksi keseluruh tubuh, tidak hanya pada kulit saja.. Contoh-contoh allergen yang mempengaruhi melalui kontak kulit adalah : Kain Tumbuh-tumbuhan Zat pewarna Kosmetik Logam Bahan-bahan kimia

Allergic contact dermatitis tidak melibatkan antibodi IgE, namun melibatkan sel-sel dari sistem imun yang diprogram untuk bereaksi ketika dipicu oleh alergen. Menyentuh atau menggosok unsur/bahan yang pernah membuat anda sensitif sebelumnya dapat memicu rash kulit (skin rash). Yang Disuntikkan Kedalam Tubuh Reaksi yang paling berat dapat terjadi ketika alergen disuntikan kedalam tubuh dan mendapat akses langsung ke dalam aliran darah. Akses ini membawa risiko dari reaksi umum, seperti anaphylaxis, yang dapat membahayakan nyawa. Berikut adalah alergen yang paling umum disuntikan yang dapat menyebabkan reaksi alergi yang berat:
10

Racun serangga Obat-obatan

Vaksin-vaksin Hormon-hormon (contohnya, insulin)

Untuk mengetahui seseorang apakah menderita penyakit alergi dapat kita periksa kadar Ig E dalam darah, maka nilainya lebih besar dari nilai normal (0,1-0,4 ug/ml dalam serum) atau ambang batas tinggi. Lalu pasien tersebut harus melakukan tes alergi untuk mengetahui bahan/zat apa yang menyebabkan penyakit alergi (alergen). Untuk mengetahui alergen penyebab alergi, kita bisa melakukan tes alergi.

F. Komplikasi
o o o o o o o

Polip hidung Otitis media Sinusitis paranasal. Anafilaksi Pruritus Mengi Edema

G. Penatalaksanaan
Terapi ideal adalah menghindari kontak dengan allergen penyebab dan eliminasi. Terapi simtomatis dilakukan melalui pemberian antihistamin dengan atau tanpa vasokonstriktor atau kortikosteroid per oral atau local.

11

Untuk gejala yang berat dan lama, bila terapi lain tidak memuaskan dilakukan imunoterapi melalui desensitisasi dan hiposensitisasi atau netralisasi

H. Pemeriksaan Penunjang
Tes IgE spesifik dengan RAST (radio immunosorbent test) atau ELISA (enzyme linked immuno assay). Secara in vivo dengan uji intrakutan yang tunggal atau berseri, uji tusuk (prick test), uji provokasi hidung/ uji inhalasi, dan uji gores. Dilakukan diet eliminasi dan provokasi untuk alergi makanan. I. Pencegahan Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya alergi: Jagalah kebersihan lingkungan, baik di dalam maupun diluar rumah. Hal ini termasuk tidak menumpuk banyak barang di dalam rumah ataupun kamar tidur yang dapat menjadi sarang bertumpuknya debu sebagai rangsangan timbulnya reaksi alergi.Usahakan jangan memelihara binatang di dalam rumah ataupun meletakkan kandang hewan peliharaan di sekitar rumah anda. Kebersihan diri juga harus diperhatikan, untuk menghindari tertumpuknya daki yang dapat pula menjadi sumber rangsangan terjadinya reaksi alergi.Untuk mandi, usahakan menggunakan air hangat, dan usahakan mandi sore sebelum pukul.17.00. Sabun dan shampoo yang digunakan sebaiknya adalah sabun dan shampoo untuk bayi. Batasi penggunakan pewangi ruangan ataupun parfum, juga obat-obat anti nyamuk. Jika di rumah anda terdapat banyak nyamuk, gunakanlah raket anti nyamuk.

12

Gunakan kasur atau bantal dari bahan busa, bukan kapuk. Gunakan sprei dari bahan katun dan cucilah minimal seminggu sekali dengan air hangat.

Hindari menggunakan pakaian dari bahan wool, gunakanlah pakaian dari bahan katun.

Pendingin udara (AC) dapat digunakan, tetapi tidak boleh terlalu dingin.

Awasi setiap makanan atau minuman maupun obat-obatan yang menimbulkan reaksi alergi. Hindarilah bahan manakan, minuman, maupun obat-obatan tersebut. Anda harus mematuhi aturan diet alergi anda.

Temui ahli. Konsultasikan dengan spesialis. Alergi yang muncul membutuhkan perawatan yang berbeda-beda pada masing-masing penderita alergi. Mintalah dokter anda untuk melakukan imunoterapi untuk menurunkan kepekaan anda terhadap bahan-bahan pemicu reaksi alergi.

J. Pengobatan
Salah satu pengobatan yang dianjurkan dalam penanganan alergi adalah dengan pemberian obat anti histamin dari generasi terbaru seperti cetirizine dihidroklorida. Berbeda dengan antihistamin generasi pertama, antihistamin generasi terbaru umumnya bersifat mengurangi rasa kantuk, dan sebagian lagi bersifat anti-inflamasi ringan. Saat ini, obat anti histamin cetirizine dihidroklorida telah masuk kedalam kategori Obat Wajib Apotek dari Badan POM sehingga dapat dibeli di apotek melalui resep dokter. (Berbagai sumber)

13

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENDERITA ALERGI

A. Pengkajian
( Data subjektif dan Data Objektif) a. Data dasar, meliputi : Identitas Pasien (nama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, diagnosa medis, sumber biaya, dan sumber informasi) Identitas Penanggung (nama, jenis kelamin, umur, status

perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan hubungan dengan pasien)

b. Riwayat Keperawatan, meliputi : Riwayat Kesehatan Sekarang Mengkaji data subjektif yaitu data yang didapatkan dari klien, meliputi: Alasan masuk rumah sakit:

14

Pasien mengeluh nyeri perut,sesak nafas, demam, bibirnya bengkak, timbul kemerahan pada kulit, mual muntah, dan terasa gatal. Keluhan utama 1. Pasien mengeluh sesak nafas. 2. Pasien mengeluh bibirnya bengkak. 3. Pasien mengaku tidak ada nafsu makan, mual dan muntah. 4. Pasien mengeluh nyeri di bagian perut. 5. Pasien mengeluh gatal-gatal dan timbul kemerahan di sekujur tubuhnya. 6. Pasien mengeluh diare. 7. Pasien mengeluh demam. Kronologis keluhan Pasien mengeluh nyeri perut,sesak nafas, demam,bibirnya

bengkak,tibul kemerahan pada kulit,mual muntah,dan terasa gatal tertahankan lagi sehingga pasien dibawa ke rumah sakit. Riwayat Kesehatan Masa Lalu Mengkaji apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit yang sama atau yang berhubungan dengan penyakit yang saat ini diderita. Misalnya, sebelumnya pasien mengatakan pernah mengalami nyeri perut,sesak nafas, demam,bibirnya bengkak,tibul kemerahan pada kulit,mual muntah,dan terasa gatal dan pernah menjalani perawatan di RS atau pengobatan tertentu. Riwayat Kesehatan Keluarga Mengkaji apakah dalam keluarga pasien ada/tidak yang mengalami penyakit yang sama.
15

Riwayat Psikososial dan Spiritual Mengkaji orang terdekat dengan pasien, interaksi dalam keluarga, dampak penyakit pasien terhadap keluarga, masalah yang mempengaruhi pasien, mekanisme koping terhadap stres, persepsi pasien terhadap penyakitnya, tugas perkembangan menurut usia saat ini, dan sistem nilai kepercayaan. Dikaji berdasarkan 14 kebutuhan dasar menurut Virginia Handerson, yaitu : 1. Bernafas Dikaji apakah pasien mengalami gangguan pernafasan, sesak, atau batuk, serta ukur respirasi rate. 2. Makan Dikaji apakah klien menghabiskan porsi makan yang telah disediakan RS, apakah pasien mengalami mual atau muntah ataupun kedua-duanya. 3. Minum Dikaji kebiasaan minum pasien sebelum dan saat berada di RS, apakah ada perubahan (lebih banyak minum atau lebih sedikit dari biasanya). 4. Eliminasi (BAB / BAK) Dikaji pola buang air kecil dan buang air besar. 5. Gerak dan aktifitas Dikaji apakah pasien mengalami gangguan/keluhan dalam melakukan aktivitasnya saat menderita suatu penyakit (dalam hal ini adalah setelah didiagnosa mengalami alergi) atau saat menjalani perawatan di RS. 6. Rasa Nyaman

16

Dikaji kondisi pasien yang berhubungan dengan gejala-gejala penyakitnya, misalnya pasien merasa nyeri di perut bagian kanan atas (dikaji dengan PQRST : faktor penyebabnya, kualitas/kuantitasnya, lokasi, lamanya dan skala nyeri)

7. Kebersihan Diri Dikaji kebersihan pasien saat dirawat di RS 8. Rasa Aman Dikaji apakah pasien merasa cemas akan setiap tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya, dan apakah pasien merasa lebih aman saat ditemani keluarganya selama di RS. 9. Sosial dan komunikasi Dikaji bagaimana interaksi pasien terhadap keluarga, petugas RS dan lingkungan sekitar (termasuk terhadap pasien lainnya). 10. Pengetahuan Dikaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya yang diderita saat ini dan terapi yang akan diberikan untuk kesembuhannya. 11. Rekreasi Dikaji apakah pasien memiliki hobi ataupun kegiatan lain yang ia senangi. 12. Spiritual Dikaji bagaimana pendapat pasien tentang penyakitnya, apakah pasien menerima penyakitnya adalah karena murni oleh penyakit medis ataupun sebaliknya. Pemeriksaan fisik

Keadaan umum
17

Tingkat kesadaran CCS Tanda-tanda vital Keadaan fisik Kepala dan leher Dada Payudara dan ketiak Abdomen Genitalia Integument Ekstremitas Pemeriksaan neurologist Pemeriksaan Penunjang Uji kulit : sebagai pemerikasaan penyaring (misalnya dengan alergen hirup seperti tungau, kapuk, debu rumah, bulu kucing, tepung sari rumput, atau alergen makanan seperti susu, telur, kacang, ikan). Darah tepi : bila eosinofilia 5% atau 500/ml condong pada alergi. Hitung leukosit 5000/ml disertai neutropenia 3% sering ditemukan pada alergi makanan. IgE total dan spesifik: harga normal IgE total adalah 1000u/l sampai umur 20 tahun. Kadar IgE lebih dari 30u/ml pada umumnya menunjukkan bahwa penderita adalah atopi, atau mengalami infeksi parasit atau keadaan depresi imun seluler. Tes intradermal nilainya terbatas, berbahaya.

18

Tes hemaglutinin dan antibodi presipitat tidak sensitif. Biopsi usus : sekunder dan sesudah dirangsang dengan makanan food chalenge didapatkan inflamasi / atrofi mukosa usus, peningkatan limfosit intraepitelial dan IgM. IgE ( dengan mikroskop imunofluoresen ).

Pemeriksaan/ tes D Xylose, proktosigmoidoskopi dan biopsi usus.

Diit coba buta ganda ( Double blind food chalenge ) untuk diagnosa pasti Analisa Data

Data Subjektif Sesak nafas Mual, muntah Meringis, gelisah Terdapat nyeri pada bagian perut Gatal gatal Batuk Data objektif

Penggunaan O2 Adanya kemerahan pada kulit Terlihat pucat

Pembengkakan pada bibir Demam ( suhu tubuh

diatas 37,50C)

B. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnose keperawatan yang muncul : 1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan terpajan allergen 2. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi
19

3. .Kerusakan

integritas

kulit

berhubungan

dengan

infalamasi

dermal,intrademal sekunder 4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih 5. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi ( allergen,ex: makanan)

C. Intervensi dan Implementasi Keperawatan


1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan terpajan allergen Tujuan : setelah diberikan askep selama .x15 menit. diharapkan pasien menunjukkan pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman rentang normal. Kriteria hasil : Frekuensi pernapasan pasien normal (16-20 kali per menit) Pasien tidak merasa sesak lagi Pasien tidak tampak memakai alat bantu pernapasan Tidak terdapat tanda-tanda sianosis Intervensi : 1) Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan dan ekspansi paru. Catat upaya pernapasan, termasuk pengguanaan otot bantu/ pelebaran masal. Rasional: kecepatan biasanya meningkat. Dispenea dan terjadi peningakatan kerja napas. Kedalaman pernapasan berpariasi tergantung derajat gagal napas. Ekspansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis atau nyeri dada pleuritik.

20

2) Auskultasi bunyi napas dan catat adanya bunyi napas adventisius seperti krekels, mengi, gesekan pleura. Rasional: bunyi napas menurun/ tak ada bila jalan napas obstruksi sekunder terhadap pendarahan, bekuan/ kolaps jalan napas kecil (atelektasis). Ronci dan mengi menyertai obstruksi jalan napas/ kegagalan pernapasan. 3) Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Bangunkan pasien turun dari tempat tidur dan ambulansi sesegera mungkin. Rasional: duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan

memudahkan pernapasan. Pengubahan posisi dan ambulansi meningkatkan pengisian udara segmen paru berbeda sehingga memperbaiki difusi gas. 4) Observasi pola batuk dan karakter sekret. Rasional: kongesti alveolar mengakibatkan batuk kering atau iritasi. Sputum berdarah dapat diakibatkan oleh kerusakan jaringan atau antikoagulan berlebihan.

5) Berikan oksigen tambahan Rasional: memaksimalkan bernapas dan menurunkan kerja napas 6) Berikan humidifikasi tambahan, mis: nebulizer ultrasonic Rasional : memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran secret untuk memudahkan pembersihan.

2. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi

21

Tujuan : setelah diberikan askep selama .x.24 jam diharapkan suhu tubuh pasien menurun Kriteria hasil : Suhu tubuh pasien kembali normal ( 36,5 oC -37,5 oC) Bibir pasien tidak bengkak lagi

Intervensi : 1) Pantau suhu pasien ( derajat dan pola ) Rasional : Suhu 38,9-41,1C menunjukkan proses penyakit infeksius akut. 2) Pantau suhu lingkungan, batasi atau tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi Rasional: Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan mendekati normal 3) Berikan kompres mandi hangat; hindari penggunaan alcohol Rasional: Dapat membantu mengurangi demam 3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan infalamasi

dermal,intrademal sekunder Tujuan : setelah diberikan askep selama .x24 jam diharapkan pasien tidak akan mengalami kerusakan integritas kulit lebih parah Kriteria hasil : Tidak terdapat kemerahan,bentol-bentol dan odema

22

Tidak terdapat tanda-tanda urtikaria,pruritus dan angioderma Kerusakan integritas kulit berkurang Intervensi : 1). Lihat kulit, adanya edema, area sirkulasinya terganggu atau pigmentasi Rasional: Kulit berisiko karena gangguan sirkulasi perifer

2). Hindari obat intramaskular Rasional: Edema interstisial dan gangguan sirkulasi memperlambat absorpsi obat dan predisposisi untuk kerusakan kulit 4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih Tujuan : setelah diberikan askep selama .x24 jam diharapkan kekurangan volume cairan pada pasien dapat teratasi. Kriteria hasil : Pasien tidak mengalami diare lagi Pasien tidak mengalami mual dan muntah Tidak terdapat tanda-tanda dehidrasi Turgor kulit kembali normal Intervensi : 1) Ukur dan pantau TTV, contoh peningakatan suhu/ demam memanjang, takikardia, hipotensi ortostatik.

23

Rasional: peningkatan suhu atau memanjangnya demam meningkatkan laju metabolic dan kehilangan cairan melalui evaporasi. TD ortostatik berubah dan peningkatan takikardia menunjukkan kekurangan cairan sistemik. 2) Kaji turgor kulit, kelembaban membrane mukosa (bibir, lidah). Rasional : indicator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membrane mukosa mulut mungkin kering karena napas mulut dan oksigen. 3) Monitor intake dan output cairan Raional : mengetahui keseimbangan cairan

4) Beri obat sesuai indikasi misalnya antipiretik, antiemetic. Rasional : berguna menurunkan kehilangan cairan 5) Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan Rasional : pada adanya penurunan masukan/ banyak kehilangan, penggunaan parenteral dapat memperbaiki atau mencegah kekurangan. 5. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi ( alergen,ex: makanan) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam diharapkan nyeri pasien teratasi kriteria hasil : Pasien menyatakan dan menunjukkan nyerinya hilang Wajah tidak meringis

24

Skala nyeri 0 Hasil pengukuran TTV dalam batas normal, TTV normal yaitu : Tekanan darah : 140-90/90-60 mmHg Nadi : 60-100 kali/menit Pernapasan : 16-20 kali/menit Suhu : Oral (36,1-37,50C) Rektal (36,7-38,10C) Axilla (35,5-36,40C)

Intervensi : 1) Ukur TTV Rasional : untuk mengetahui kondisi umum pasien 2) Kaji tingkat nyeri (PQRST) Rasional: Untuk mengetahui faktor pencetus nyeri 3) Berikan posisi yang nyaman sesuai dengan kebutuhanRasional : memberikan rasa nyaman kepada pasien 4) Ciptakan suasana yang tenang Rasional : membantu pasien lebih relaks 5) Bantu pasien melakukan teknik relaksasi Rasional : membantu dalam penurunan persepsi/respon nyeri. Memberikan kontrol situasi meningkatkan perilaku positif.
25

6) Observasi gejala-gejala yang berhubungan, seperti dyspnea, mual muntah, palpitasi, keinginan berkemih. Rasional : tanda-tanda tersebut menunjukkan gejala nyeri yang dialami pasien. 7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesic. Rasional : Analgesik dapat meredakan nyeri yang dirasakan oleh pasien.

D. Evaluasi
1. Pasien mengeluh tidak sesak lagi 2. Pasien mengatakan tidak demam lagi 3. Pasien mengatakan kulitnya sudah tidak merah-merah 4. Pasien mengatakan tidak merasa mual,muntah dan mencret lagi 5. Pasien mengatakan nyerinya sudah berkurang

26

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan
Dalam bab ini telah di kemukakan bahwa sebagai profesi keperawatan harus memahami dan mengerti mengenai alergi, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang sehat pada kilen dan masyarakat, sehingga dapat tercapainya pelayanan kesehatan.

Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka akan di kemukakan beberapa saran yang berkaitan dengan pembahasan dalam bab ini. Yaitu betapa pentingnya untuk memahami dan mengerti akan masalah alergi. Mempelajari benar-benar akan masalah alergi agar bisa memberikan pelayanan kesehatan dengan baik pada klien, keluarga, dan masyarakat.

27

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, volume 3. Jakarta : EGC. Carpenito LD. 1995. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinik. Jakarta : EGC. Price and Wilson.2003.Patofisiologi konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Vol 2, Edisi 6. Jakarta : EGC. Nanda. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Jakarta : EGC. Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta : EGC. Nanda. 2005 2006. Panduan Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Prima Medika : Jakarta Marilyn E, Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Pasien, Edisi 3. EGC : Jakarta www.medikaholistik.com
28

http://www.farmasiku.com/index.php? target=categories&category_id=168 http://blog-artikel.com/index.php/jenis-jenis-alergi.html http://aangcoy13.blogspot.com/2011/08/asuhan-keperawatanpada-pasien-dengan.html http://rastirainia.wordpress.com/2010/02/08/asuhan-keperawatanpada-pasien-dengan-alergi-makanan/

http://transferfactorimmune.com/website/StaticDetail.aspx?ID=47
http://indoroyal.com/info-medis/serba-serbi-alergi.html http://wahidnh.blogspot.com/2011/06/laporan-pendahuluan-lpalergi.html http://ericstikesnwu.blogspot.com/2008/06/asuhan-keperawatanalergi.html

29