Anda di halaman 1dari 98

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU POSTPARTUM DAN BAYI BARU LAHIR

Disusun oleh TUTOR 2

Anggota :

Claudia Selviyanti Asri Aqidah Monika Rohmatika M. Sandi Nizar Nisa Ikatania Anisya Virgi Sanjiwani Annisa Rahmah Risca Ayu Hidayat Lidya S. Ratih Herdina

220110100001 220110100013 220110100025 220110100037 220110100061 220110100073 220110100085 220110100097 220110100109 220110100121

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya yang telah diberikan, penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini. Adapun maksud tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar pembaca mampu memahami dan melaksanakan asuhan keperawatan. Penulis berharap dengan adanya makalah ini dapat memberikan kontribusi positif dan bermakna dalam proses kehidupan dan proses belajar, khususnya di bidang keperawatan. Penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun penulis harapkan. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada dosen koordinator mata kuliah dan dosen tutor yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk membuat makalah ini, serta semua orang yang telah membantu kelancaran pembuatan makalah ini.

Jatinangor, Juni 2013

Penulis

BAB 1 LAPORAN SGD

Chair Scriber 1 Scriber 2

: Annisa Rahmah : Lidya : Ratih H.

Ny. A, 20 tahun P1Ao hari ke 1 postpartum, klien mengeluh nyeri pada perineum, klien merasa takut jahitannya akan terbuka (lepas) jika mau berkemih. Sampai saat ini setelah 4 jam melahirkan belum berani berkemih. Merasa senang dengan kelahiran anak pertama ini, namun merasa bingung juga karena belum tahu cara merawat bayi dan cara menurunkan berat badan namun tetap ingin bisa menyusui. Hasil pemeriksaan fisik : keadaan umum baik, tingkat kesadaran compos mentis, tanda-tanda vital : tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 84 kali/menit, RR 20 kali/menit, berat badan 65 kg, tinggi badan 156 cm. Payudara : payudara simetris kanan dan kiri, putting inverted, hiperpigmentasi pada aerola mammae, pengeluaran kolostrum (+). TFU 1 jari di bawah pusat, kontraksi (-), diastasis rektus abdominalis 2 jari, lochea rubra, 1 pembalut penuh setelah 4 jam, jahitan, ruptur perineum grade 2, ektremitas : edema -/-, varises -/-, refleks patela +/+, homan sign -/-. Pengkajian terhadap bayi : laki-laki BB 3200 gr, panjang badan 50 cm, APGAR 9, reflek (+) (rooting,sucking,moro), dari hasil pemeriksaan maturitas bayi usia kehamilan 38 minggu. Nenek bayi mengoleskan madu dibibir bayi dengan keyakinan bayi kelak akan pandai berbicara dan disukai bila di olesi madu.

STEP 1 1. APGAR 2. Cholea Rubra 3. Diastasis 4. Putting inverted 5. Rooting, Moro reflex Jawaban: 1. penilaian terhadap kesehatan BBL 2. LO 3. LO 4. Putting masuk kearah dalam 5. LO

STEP 2 1. Rupture perineum grade 2 seerti apa? (Nisa) 2

2. Peran perawat pada ibu? (Sandi) 3. Pemeriksaan pada bayi selain APGAR? (Anisya V.) 4. Cara menghitung APGAR? (Risca) 5. Bagaimana penurunan BB secara normal? (Risca) 6. Fungsi madu pada bibir? (Anisya V.) 7. Tindakan untuk putting inverted? (Asri) 8. Lamanya masa nifas? (Annisa R.) 9. Manajemen BAK untuk menghindari terbukanya jahitan? (Lidya) 10. Pengeluaran darah normal pada ibu nifas? (Ratih) 11. Jarak antar anak normal apabila di SC? (Nisa) 12. Perawtan pada ibu PP? (Monika) 13. Perawtan BBL? (Risca) 14. Kelainan pada ibu PP? (Claudia) 15. Diagnosa keperawatan? (Asri) 16. Tingkatan rupture perineum sampai grade berapa? (Lidya) 17. Jika kolostrum (-), ASI (-), diberi apa? (Annisa) 18. Kolostrum keluar sekali waktu atau terus-meneus? (Risca) 19. Keadan hormon pada ibu PP? (Lidya)

STEP 3 1. Grade 1 Grade 2 : rupture mengikuti perineum dan mukosa vagina : mengenai otot perineum (belum terlalu parah, namun penyembuhannya lama karena mengenai otot) Grade 3 Grade 4 : menimbulkan defek spingter ani : mengenai mukosa anorektal

2. Sebagai educator yaitu member penkes tentang cara penurunan nyeri, cara penurunan cemas, cara menyusui. Sebagai kolabolator dengan tim kesehatan yang lain. 3. Pemeriksaan bilirubin dan penilaian mekonium. 4. Ada 5 kriteria yang masing-masing diberi score 0-2, lalu dijumlahkan. 5 Kriteria tersebut adalah penampilan, respirasi, DJJ, tonus otot, pergerakan. 5. 15 kg karena normalnya naik 15 kg dengan menyusui, jalan, yoga 6. Meningkatkan imun dan mencegah bibir pecah-pecah 7. Dengan teknik Hoffman, ditarik dengan spuit, massage oksitison, operasi pngeluaran putting memakai alat niplet. 8. Masa nifas adalah 40 hari. 9. LO 3

10. + 500 gram 11. Minimal 2 tahun. 12. LO 13. Suntik hepatitis B, kalium, vitamin K 14. Baby blues 15. Gangguan rasa nyaman : nyeri Ansietas 16. Ada 4 (di nomor 1) 17. Induksi ASI 18. Bisa berkali-kali (hamil 7 bulan sudah bisa keluar kolostrum) 19. LO

MIND MAP Mitos Peran Perawat

BBL

APGAR, Pemeriksaan lain pada BBL

BB meningkat

Persalinan

Cara menurunkan BB

Ibu PP

Belum tahu cara merawat bayi

Luka perineum Keadaan hormonal Nyeri

Kurang pengetahuan

Klasifikasi, grade rupture perineum

Takut berkemih

Peran perawat

Cemas BAB II TELAAH PUSTAKA POSTNATAL 4

1. Pengertian Masa nifas atau masa purpenium adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 8 minggu (Manjoer, A dkk, 2001). Akan tetapi seluruh alat genetal baruh pulih kembali seperti sebelumnya ada kehamilan dalam waktu 3 bulan (Ilmu kebidanan, 2007). Masa nifas adalah priode sekitar 6 minggu sesudah melahirkan anak, ketika alat-alat reproduksi tengah kembali ke kondisi normal (Barbara F. Weller,2005). Post partum adalah proses lahirnya bayi dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam (Saifuddin,2002). Masa purpenium dan masa nifas dimulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat genetal baru pulih kembali seperti sebelum ada kelahiran dalam waktu 3 bulan (Siswosudarmo,2008). Jadi dapat disimpulkan bahwa masa nifas atau post partum adalah masa setelah kelahiran bayi pervagina dan berakhir setelah alat-alat kandungan kembali seperti semula tanpa adanya komplikasi. 2. Adaptasi Anatomi dan Fisiologi Pada Periode Posnatal Adaptasi fisiologis Adaptasi atau perubahan yang terjadi pada ibu post partum normal yaitu: a. System reproduksi Uterus Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang nerkontraksi posisi fundus uteri berada kurang lebih pertengahan antara umbilicus dan simfisis, atau sedikit lebih tinggi. Dua hari kemudian, kurang lebih sama dan kemudian mengerut, sehingga dalam dua minggu telah turun masuk kedalam rongga pelvis dan tidak bisa diraba dari luar. Dalam keadaan normal, uterus mencapai ukuran besar pada masa sebelum hamil sampai dengan kurang 4 minggu, berat uterus setelah kelahiran kurang 1 kg sebagai akibat ivolusi. Satu minggu setelah melahirkan beratnya menjadi kurang lebih 500 gram, pada akhir minggu kedua setelah persalinan menjadi kurang lebih 300 gram, setelah itu menjadi 100 gram atau kurang. Otot-otot uterus segera berkontraksi setelah post partum.

Proses Involusi Proses involusi adalah proses kembalinya perut seperti normal, karena adanya kontraksi otot-otot uterus setelah proses melahirkan. Setelah 12 jam paska melahirkan TFU akan berada 1 cm diatas umbilicus dan setelah 24 jam a setelah melahirkan TFU akan turun secara perlahan 1-2 cm perharinya. Pada hari ke-6 pasca melahirkan Fundus akan teraba dianatar umbilicus dan pusar, dan pada hari ke 9 fundus tidak akan teraba lagi. Berat uterus saat hamil 9 bulan bisa mencapai 11 x lipat dari berat sebelum hamil. 1 minggu setelah melahirkan uterus akan mengalami penuruna sampai nilai 300 gr dan 350

gr pada 2 minggu pasca melahirkan. Pada minggu ke 6 pasca melahirkan berat uterus akan terus menurun sampai batas 50-60 gr Saat hamil tubuh akan memproduksi hormon-hormon tertentu yang mengakibatkan hipertropi dan hyperplasia, sehingga terjadinya pembesaran pada uterus. Namun setelah melahirkan hormon-hormon kehamilan tersebut akan kembali menurun; contoh estrogendan penurunan ini akan mengakibatkan luruhnya sel-sel hipertrpi tersebut, kejadian ini dinamakan autolysis. Yang luruh hanyalah sel-sel hipertopi yang berlebihan saja, sel-sel tambahan saat hamil tidak akan dihancurkan, sehingga menyebabkan uterus sedikit membesar. Kegagalan abdomen kembali ke keadaan semula dinamakan subinvolusi. Penyebab subinvlusis dapat berupa fragmen plasenta dan adanya infeksi pasca melahirkan. Kontraksi 1-2 jam pasca melahirkan kontraksi uterus akan menjadi tidak beraturan, oleh karena itu penting untuk memantau kontaraksi dan perdarahan dengan pemberian oksitosin IM/IV, atau setelah melahirkan membiarkan ibu menyusui bayi, karena akan merangsang pengeluaran oksitosin. Penuruna volume intrauterine akan membentu uterus berkontraksi secara bermakna, kontraksi ini akan mengakibatkan kompresi pembe=uluh dara di intramioma sehingga menghentikan perdarahan sampai pada tahap hemostasis. Afterpains Pada primipara, tonus otot uterus akan terus meregang dan fundus tetap kencang, sedangkan pada multipara akan erjadi kontraksi relaksasi yang secara periodic pasca melahirkan yang akan mengakibatkan nyeri pada abdomen ibu, terutama pada area uterus yang teregang, dan nyari ini akan semakin nyata pada saat ibu menyusui bayi nya dan saat diberikan oksitosin, karena saat itu kontraksi akan meningkat secara berkala, dan menyebabkan nyeri. Lochea Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Lochea dibagi menjadi 4 macam, yaitu: Lochea rubra atau cruenta. Berisi darah segar dan sisi-sisi selaput ketuban, sel-sel desidua, serviks kaseosa, lanugo han mekonium, selama dua hari post partum Lochea sanguinolenta Berwarnah merah kuning berisi darah dan lendir, selama hari ke 3 hingga hari ke 7 post partum. Lochea serosa.

Berwarna kuning, cair tidak berdarah lagi, pada hari ke 7 hingga hari ke 14 post partum. Lochea alba. Cairan putih selama dua minggu (Siswosudarmo, 2008) Endometrium Perubahan pada endometrium adalah timbunya trombosis, degenerasi, dan nekrosis di tempat implatasi plasenta. Pada hari pertama tebal endometrium 2,5 milimeter, mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua, dan slaput janin. Setelah tiga hari mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan parut pada bekas implantasi plasenta (Saleha,2009) Servik Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan, ostium sksterna dapat dimasuki oleh dua hingga tiga jari tangan. Setelah enam minggu post natal, serviks menutup. Karena robekan kecil-kecil yang terjadi selama dilatasi, serviks tidak pernah kembali ke keadaan sebelum hamil (nulipara) yang berupa lubang kecil seperti mata jarum. Serviks hanya kembali pada keadaan tidak hamil yang berupa lubang yang sudah sembuh. Tertutup tetapi terbentuk celah. Dengan demikian osservivis wanita yang sudah pernah melahirkan merupakan salah satu tanda yang menunjukkan riwayat kelahiran bayi lewat vagina (Farrer,2001) Vulva dan Vagina Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses persalinan. Dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vagina kembali pada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-ansur akan muncul kembali, sementara labia menjadi menonjol. Himen mengalami ruptur pada saat melahirkan bayi pervagina dan yang tersisa hanya sisa-sisa kulit yang disebut kurunkulae mirtiformis. Orifisium vagina biasanya tetap sedikit membuka setelah wanita tersebut melahirkan (Farrer 2001) Perineum Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari kelima, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur daripada keadaan sebelum melahirkan. Relaksasi dasar panggul dan otot-otot abdomen juga dapat bertahan (Farres,2001) Mamae

Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami. Selama sembilan bulan kehamilan, jaringan pyudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bayi baru lahir. Setelah melahirkan ketika hormon yang dihasilkan plasenta tidak ada lagi untuk menghambatnya, kelenjar pituitary akan mengeluarkan prolaktin. Sampai hari ke tiga setelah melahirkan, efek prolaktin payudara mulai bisa dirasakan (Saleha 2009). b. Sistem pencernaan Selama 2 jam pasca persalinan kadang dijumpai pasien yang merasa mual sampai muntah. Atasi hal ini dengan posisi tubuh yang memungkinkan dapat mencegah terjadinya aspirasi kedalam saluran pernafasan dengan setengah duduk atau tidur ditempat tidur. Perasaan haus pasti dirasakan pasien, oleh karena itu hidrasi sangat diperlukan untuk mencegah dehidrasi (Sulisyawanti, 2010) c. Sistem perkemihan Selama 2 sampai 4 jam pasca persalinan kandung kemih masih dalam keadaan hipotonik akibat adanya alotaksis, sehingga sering dijumpai kandung kemih dalam keadaan penuh dan mengalami pembesaran. Hal ini disebabkan oleh tekanan pada kandung kemih dan uretra selama persalinan. Kondisi ini dapat ringankan dengan selalu mengusahakan kandung kemih tetap kosong selama persalinan untuk mencegah trauma. Setelah melahirkan, kandung kemih sebaiknya tetap kosong guna mencegah uterus berubah posisi. Uterus yang berkontraksi dengan buruk meningkatkan perdarahan dan nyeri (Sulisyawati,2010). d. Sistem muskuloskletal Kadar MSH mengalami penurunan secara cepat setelah post partum. Linea nigra dan closma gravidarum menghilang setelah melahirkan. Striae gravidarum yang ada tumbuh pada abdomen, paha, payudara secara berangsur-angsur menjadi garis putih kurang nyata, tapi tidak hilang secara sempurna setelah post partum (Jansen, B.2005) e. Sistem endokrin Setelah plasenta lahir, estrogen dan progesteron mengalami penurunan. Pada wanita tidak menyusui, estrogen meningkat dan mencapai puncak follikuler pada minggu ketiga post partum yang mungkin kembali proses mensturasi. Sedang pada wanita menyusui, proses kembalinya kadar estrogen dan progesteron lebih lambat. Laktasi ditandai dengan adanya peningkatan kadar prolaktin yang cepat dengan adanya proses menyusui. Sedangkan pada wanita yang tidak menyusui kadar prolaktin akan ditekan dengan kembali pada keadaan normal seperti sebelum hamil. f. Perubahan tanda-tanda vital Dalam 2 jam pertama setelah persalinan, tekanan darah, nadi, pernafasan akan berangsur kembali normal. Suhu pasien biasanya akan mengalami sedikit peningkatan tapi masih dibawa 8

38 derajat celcius, hal ini disebabkan oleh kurangnya cairan dan kelelahan. Jika intake cairan baik, maka suhu akan berangsur normal kembali setelah 2 jam (Sulistywati,2010) g. Sistem kardiovaskuler Pada persalinan pervagina kehilangan darah sekitar 200 sampai 500 ml. Setelah persalian Shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah pasien akan relatif bertambah. Keadaan ini akan menjadikan beban pada jantung, dan akan menimbulkan dekompensasio cordis, keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan adanya hemo konsentrasi sehingga volume darah kembali seperti awal (Sulityawati,2010)

h. Sistem Neurologi Perubahan neurologis selama puerperium merupakan kebalikan adaptasi neurologis yang terjadi saat wanita hamil dan disebabkan trauma yang dialami wanita saat bersalin dan melahirkan. Rasa tidak nyaman neurologis yang diinduksi kehamilan akan menghilang setelah wanita melahirkan. Eliminasi edema fisiologis melalui dieresis setelah bayi lahir menghilangkan sindrom carpal tunnel dengan mengurangi kompresi saraf median. Rasa baal dan kesemutan (tingling) periodic pada jari yang dialami 5% wanita hamil biasanya menghilang setelah anak lahir, kecuali jika mengangkat dan memindahkan bayi memperburuk keadaan. Nyeri kepala memerlukan pemeriksaan yang cermat. Nyeri kepala pasca partum bias disebabkan berbagai keadaan termasuk hipertensi akibat kehamilan, sters, dan kebocoran cairan serebrospinalis ke dalam ruang ekstradural selam jarum epidural diletakkan di tulang punggung untuk anestesia. i. Sistem Integumen Kloasama yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Pada beberapa wanita, pigmentasi pada daerah tersebut akan menetap. Kulit yang meregang pada payudara, abdomen, paha, dan panggul mungkin memudar, tetapi tidak hilang seluruhnya., Kelainan pembuluh darah seperti spider angioma (nevi), eritema palmar, dan epulis, biasanya berkurang sebagai respons terhadap penurunan kadar estrogen setelah kehamilan berakhir. Pada beberapa wanita sidernevi menetap. Rambut halus yang tumbuh dengan lebat pada waktu hamil biasanya akan menghilang setelah wanita melahirkan, tetapi rambut kasar yang timbul sewaktu hamil biasanya akan menetap. j. Sistem Imun Kebutuhan ibu untuk mendapatkan vaksinasi rubella atau untuk mencegah isoimunisasi Rh diterapkan Adaptasi psikologis Priode ini terjadi dalam 3 tahap: 9

a. Taking in period Terjadi pada 1-2 hari setelah persalinan, ibu masih pasif dan sangat tergantung pada orang lain, fokus perhatian pada tubuhnya, itu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalian yang dialami, serta kebutuhan tidur dan nafsu makan meningkat. b. Taking hold period Berlangsung 3-4 hari post partum ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuannya dalam menerima tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu sangat sensitive, sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami ibu. c. Letting go period Dialami setelah ibu dan bayi dirumah. Ibu mulai secara penuh menerima tanggung jawab sebagai seorang ibu dan menyadari atau merasakan kebutuhan bayi sangat bergangtung pada dirinya. 3. Dinamika Keluarga Setelah Anak Lahir a. Adaptasi Psikologis Adaptasi Maternal Ada 3 fase penyesuaian ibu terhadap perannya sebagai orang tua. Fase-fase penyesuaian maternal ini ditandai oleh perilaku dependen, perilaku dependen-mandiri, dan perilaku interdependen. Fase Dependen Selama 1 sampai 2 hari pertama setelah melahirkan ketergantungan ibu menonjol. Pada waktu ini ibu mengharapkan segala kebutuhannya dapat dipenuhi oleh orang lain, ibu memindahkan energi psikologisnya kepada anaknya. Rubin (1961) menetapkan periode beberapa hari ini sebagai fase menerima (taking-in phase), sewaktu-waktu dimana ibu baru memerlukan perlindungan dan perawatan. Fase menerima yang kuat hanya terlihat pada 24 jam pertama setelah ibu melahirkan. Fase dependen ialah sewaktu-waktu yang penuh kegembiraaan dan kebanyakan orang tua sangat suka mengomunikasikannya. Mereka merasa perlu menyampaikan pengalaman mereka tentang kehamilan dan kelahiran dengan kata-kata. Kecemasan dan keasyikan terhadap peran barunya sering mempersempit lapangan persepsi ibu. Fase Dependen-Mandiri Dalam fase dependen-mandiri ibu, secara bergantian muncul kebutuhan untuk mendapat perawatan dan penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa segala sesuatu secara mandiri. Rubin (1961) menjelaskan keadaan ini sebagai fase taking-hold, yang berlangsung kira-kira 10 hari.

10

Dalam 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan, kemampuan ibu untuk menguasai tugastugas sebagai orang tua merupakan hal yang penting. Ibu yang kelihatannya memerlukan dukungan tambahan adalah sebagai berikut: Primipara yang belum berpengalaman mengasuh anak Wanita karir Wanita yang tidak punya cukup banyak teman atau keluarga untuk dapat berbagi rasa Ibu yang berusia remaja Wanita yang tidak bersuami

Keletihan setelah melahirkan diperburuk oleh tuntutan bayi yang banyak sehingga dengan mudah dapat timbul perasaan depresi. Keadaan fisiologis ini dapat menjelaskan depresi pascapartum ringan (baby-blues) keadaan depresif ini ditandai dengan menarik diri, kehilangan perhatian terhadap sekeliling dan menangis. Diharapkan bahwa pada akhir fase dependen-mandiri, tugas dan penyesuaian rutinitas sehari-hari akan mulai menjadi sesuatu pola yang tetap. Fase Interdependen Tuntutan utama ialah menciptakan suatu gaya hidup yang melibatkan anak, tetapi dalam beberapa hal tidak melibatkan anak. Kebanyakan suami istri memulai lagi hubungan seksualnya pada minggu ke-3 atau ke-4 setelah anak lahir. Fase interdependen (letting-go) merupakan fase yang penuh stres bagi orang tua. Pria dan wanita harus menyelesaikan efek dari perannya masing-masing dalam hal mengasuh anak, mengatur rumah, dan membina karir. Adaptasi Paternal Ayah menunjukkan keterlibatan yang dalam dengan bayi mereka. Greenberg dan Morris (1976) menyebut absorbs, keasyikan dan kesenangan ayah dengan bayinya sebagai engrossmen. Keinginan ayah untuk menemukan hal-hal yang unik maupun yang sama dengan dirinya merupakan karakteristik lain yang berkaitan dengan kebutuhan ayah untuk merasakan bahwa bayi ini adalah miliknya. Respon yang jelas ialah adanya daya tarik yang kuat dari bayi yang baru lahir. Suatu studi yang dilakukan oleh Henderson dan Browse (1991) tentang pengalaman beberapa ayah selama 3 minggu pertama kehidupan bayi menyatakan bahwa para ayah baru ini menjalani 3 tahap proses yang sudah bisa diperkirakan sebelumnya. Tahap pertama meliputi pengalaman prakonsepsi, yakni akan seperti apa rasanya jika mereka membawa bayi pulang ke rumah. Tahap kedua adalah realitas yang tidak menyenangkan tentang menjadi ayah baru. Perasaan sedih dan ragu seringkali menyertai realitas. Tahap ketiga

11

meliputi keputusan yang dilakukan dengan sadar untuk mengontrol dan menjadi lebih aktif terlibat dalam kehidupan bayi mereka. Bantuan yang dibutuhkan meliputi bantuan untuk ayah dalam meninjau kembali harapan pada saat menjadi ayah, memberi informasi yang realistis dan konsisten tentang tingkah laku bayi dan melibatkan ayah yang ingin mengetahui cara perawatan bayi. Adaptasi Sibiling Memperkenalkan bayi kepada suatu keluarga dengan satu anak atau lebih bisa menjadi persoalan bagi orang tua. Anak yang lebih tua harus menyusun posisi baru dalam hierarki keluarga. Anak yang tertua harus tetap berada dalam posisi sebagai pemimpin. Kelakuan mundur ke usia yang lebih muda bisa terlihat pada beberapa anak. Mereka bisa kembali mengompol, merengek, dan tidak mau makan sendiri. Reaksi kecemburuan dapat muncul ketika sukacita akan kehadiran bayi di rumah mulai pudar. Ibu dan ayah menghadapi sejumlah tugas yang terkait dengan penyesuaian dan permusuhan antar saudara. Tugas-tugas tersebut adalah: Membuat anak yang lebih tua merasa dikasihi dan diinginkan. Mengatasi rasa bersalah yang timbul dari pemikiran bahwa anak yang lebih tua mendapat perhatian dan waktu yang lebih sedikit. Mengembangkan rasa percaya diri dalam kemampuan mereka mengasuh lebih dari satu anak. Menyesuaikan waktu dan ruang untuk menampung bayi baru tersebut. Memantau perlakuan anak yang lebih tua terhadap bayi yang lebih lemah dan mengalihkan perilaku yang agresif. Penyesuaian awal anak yang lebih tua terhadap bayi baru lahir membutuhkan waktu. Kasih saudara kandung bertumbuh seperti juga kasih sayang yang lain yaitu melalui kebersamaan yang mereka jalani dan dengan berbagi pengalaman. Adaptasi Kakek-Nenek Nenek dari ibu ialah model yang penting dalam praktik perawatan bayi (Rubin, 1975). Ia bertindak sebagai sumber pengetahuan dan sebagai individu yang mendukung. Dukungan kakek dan nenek dapat menjadi pengaruh yang menstabilkan keluarga yang sedang mengalami krisis perkembangan seperti kehamilan dan menjadi orang tua baru (Newell, 1984). Kakek-nenek dapat membantu anak-anak mereka mempelajari keterampilan menjadi orang tua dan mempertahankan tradisi budaya. Salah satu cara untuk membantu kakek-nenek menjembatani perbedaan generasi ialah dengan menawarkan mereka untuk mengikuti kelas-kelas persiapan (Maloni, 1987). Kelas yang dimaksud meliputi pemberian informasi tentang praktik kehamilan yang baru, terutama cara merawat yang berpusat pada keluarga, perawatan bayi, pemberian makan, tindakan keselamatan dan penggalian peran yang dimainkan orang tua dalam unit keluarga. 12

Adaptasi Bayi-Orangtua Interaksi orangtua-bayi ditandai oleh suatu rangkaian irama, repertoar perilaku dan pola tanggung jawab (Field, 1978). Interaksi dapat diperbaiki dengan cara berikut : (1) modulasi ritme, (2) modifikasi repertoar perilaku dan (3) respons yang mutual. Ritme Untuk mengatur ritme, baik orang tua maupun bayi harus mampu untuk saling berinteraksi. Orang tua harus berusaha keras membantu bayi mempertahankan keadaan sadar penuh dalam waktu yang cukup lama dan cukup sering sehingga interaksi dapat terjadi. Ibu multipara menunjukkna rasa sensitif dan mampu memberi respons dengan sangat baik terhadap ritme makan bayinya. Ibu yang sensitif terhadap makan memberi kesempatan pada bayinya untuk berhenti mengisap. Semakin lama bayi dapat melakukan interaksi yang lebih lama menyesuaikan ritme aktivitas, yaitu gerakan anggota gerak, mengisap, mengubah arah pandang dan habituasi. Untuk sementara orang dewasa belajar memahami ritme ini, mengatur dan dengan demikian mempermudah interaksi yang ritmis (Field, 1978). Repertoar Repertoar bayi meliputi perilaku memandang, bersuara dan ekspresi wajah. Bayi mampu fokus dan mengikuti wajah manusia sejak lahir. Bayi juga mampu mengubah arah pandangnya. Kemampuan ini dikontrol secara volunter. Bayi tampak menjauhkan pandangannya dari wajah ibu saat diberi stimulus untuk mengatur tingkat kesadarannya dan memproses stimulasi yang ia terima (Field, 1978). Brazelton, dkk (1974) mengatakan bahwa salah satu kunci respon yang harus dipelajari orang tua adalah kesadaran akan kapasitas bayi untuk mendapatkan perhatian dan sebaliknya. Sikap tubuh membentuk sebagian bahasa awal bayi. Bayi memberi salam pada orang tua dengan melambaikan tangannya atau berusaha meraih tangan orang tua. Bayi dapat menaikkan alis untuk memperoleh perhatian sayang. Repertoar orang tua mencakup berbagai perilaku dalam berinteraksi dengan bayi mereka. Salah satu bentuk perilaku ini ialah memandang bayi secara konstan dan memperhatikan perilaku bayi tersebut. Orang tua juga menggunakan ekspresi wajah sebagai media dalam berinteraksi. Seperti ekspresi kejutan, kebahagiaan, dan kebingungan dalam mengomunikasikan hal tersebut pada bayi. Orang tua juga dapat meniru perilaku bayi. Apabila bayi tersenyum orang tua juga akan tersenyum. Respon Kesatuan respon ialah respon yang terjadi pada waktu tertentu dan bentuknya sama dengan perilaku stimulus. Dengan kata lain respon tersebut berfungsi sebagai umpan balik positif. Orang dewasa melihat perilaku bayi seperti tersenyum, bersuara dan melakukan kontak mata. Respon-respon ini berfungsi sebagai imbalan bagi individu yang memberi stimulus. Apabila orang dewasa meniru bayi, bayi tampak menikmati respon tersebut. 13

Faktor yang Mempengaruhi Respon Orangtua Cara orang tua berespon terhadap kelahiran anaknya dipengaruhi berbagai faktor, meliputi usia, jaringan sosial, budaya, keadaan sosial ekonomi dan aspirasi pribadi tentang masa depan. Usia maternal lebih dari 35 tahun. Masalah dan kekuatiran yang terkait dengan kelompok ibu berusia lebih dari 35 tahun semakin banyak muncul pada dekade terakhir ini. Penelitian menunjukkan beberapa faktor tertentu yang mempengaruhi respon orang tua pada kelompok yang lebih tua ini: keletihan dan kebutuhan untuk lebih banyak istirahat tampaknya telah menjadi masalah utama pada orang tua yang sudah berusia ini (Queenan, 1987). Tindakan yang bertujuan membantu ibu memperoleh kembali kekuatan dan vanus otot misalnya latihan senam prenatal dan pascapartum sangat dianjurkan. Jaringan Sosial Primipara dan multipara memiliki kebutuhan yang berbeda. Multipara akan lebih realistis dalam mengantisipasi keterbatasan fisiknya dan dapat lebih mudah beradapatasi terhadap peran dan interaksi sosial. Primipara mungkin memerlukan dukungan yang lebih besar dan tindak lanjut yang mencakup rujukan ke badan bantuan dalam masyarakat. Jaringan sosial memberi sistem dukungan, dimana orang tua dapat meminta bantuan (Crawfort, 1985). Jaringan sosial meningkatkan potensi pertumbuhan anak dan mencegah kekeliruan dalam perlakuan anak. Mercer (1982) dan Crawfort (1985) menemukan bahwa jaringan sosial memberi dukungan dan juga menjadi sumber persoalan. Kadang kala jaringan kekerabatan yang luas menimbulkan masalah karena nasihat yang diterima oleh orang tua baru saling bertentangan. Budaya Kepercayaan dan praktik budaya menjadi determinan penting dalam perilaku orang tua. Kedua hal tersebut mempengaruhi interaksi orang tua dan bayi. Pengetahuan tentang keyakinan budaya dapat membantu perawat membuat pengkajian yang lebih akurat dan menegakkan diagnosis tentang perilaku orang tua. Karena tidak semua orang selalu percaya pada praktik tradisional ini, sangat penting untuk memastikan praktik budaya yang masih dianggap penting pada setiap pasangan orang tua. Kondisi Sosial Ekonomi Kondisi sosial ekonomi seringkali menjadi jalan untuk mendapat bantuan. Keluarga yang menemukan kelahiran seorang bayi sebagai suatu beban finansial dapat mengalami peningkatan stres. Stres ini dapat mengganggu perilaku orang tua sehingga membuat masa transisi untuk memasuki masa menjadi orang tua jadi lebih sulit. Intervensi keperawatan yang dirancang untuk membantu individu yang mengalami stres karena keadaan ekonomi antara lain merujuk orang tua tersebut ke badan-badan bantuan ekonomi dan sosial dalam masyarakat atau badan-badan kesehatan. Aspirasi Personal 14

Beberapa wanita menjadi orang tua mengganggu kebebasan pribadi atau kemajuan karir mereka. Rasa kecewa yang tidak terselesaikan berdampak pada cara mereka merawat dan mengasuh bayinya dan bahkan mereka menelantarkan bayinya. Intervensi keperawatan dilakukan dengan memberi kesempatan pada orang tua untuk mengungkapkan perasaan mereka dengan bebas kepada seorang pendengar yang objektif, untuk membahas tindakan yang bisa memberi peluang untuk pertumbuhan pribadi.

b. Proses Menjadi Orangtua Selama periode prenatal ibu ialah salah satunya pihak yng membentuk lingkungan tempat janin berkembang dan bertumbuh. Tugas, tanggung jawab dan sikap yang membentuk peran menjadi orang tua dirumuskan oleh Steele dan Pollack (1968) sebagai fungsi menjadi ibu (mothering function). Ini merupakan proses orang dewasa (pribadi yang matang, penyayang, mampu dan mandiri) mulai mengasuh seorang bayi (kepribadian tidak matang, tidak berdaya, dependen). Steele dan Pollack (1968) menyatakan bahwa menjadi orang tua merupakan satu proses yang terdiri dari dua komponen. Komponen pertama bersifat praktis atau mekanis, melibatkan keterampilan kognitif dan motorik; komponen kedua, bersifat emosional, melibatkan keterampilan afektif dan kognitif. Kedua komponen ini penting untuk perkembamgan dan keberadaan bayi. Keterampilan Kognitif-Motorik Komponen pertama dalam proses menjadi orang tua melibatkan aktivitas perawatan anak, seperti memberi makan, menggendong, mengenakan pakaian, dan membersihkan bayi, menjaganya dari bahaya, dan memungkinkannya untuk bisa bergerak Steele dan Pollack (1968) kemampuan orang tua dalam hal ini dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dan budayanya. Keterampilan Kognitif-Afektif Komponen psikologis dalam menjadi orang tua, sifat keibuan atau kebapakan tampaknya berakar dari pengalaman orang tua di masa kecil saat mengalami dan menerima kasih sayang dari ibunya. Keterampilan kognitif-afektif menjadi orang tua ini meliputi sikap yang lembut, waspada dan memberi perhatian terhadap kebutuhan dan keinginan anak. Suatu hubungan orang tua anak yang positif ialah saling memberi satu sama lain. Konsep Ericson (1959, 1964) tentang dasar kepercayaan juga hampir sama. Ia mengatakan bahwa perkembangan rasa percaya ini akan menentukan respon baik selama hidupnya. Untuk orang yang mengalami hubungan orang tua anak yang positif cenderung lebih mudah bersosialisasi dan terbuka serta mampu meminta bantuan dan menerima bantuan dari orang lain. c. Perkenalan, Ikatan dan Kasih Sayang Dalam Menjadi Orangtua

15

Proses ini sering disebut attachment (kasih sayang) atau bonding (ikatan), istilah yang sering tertukar pemakaiannya walaupun sebenarnya memiliki definisi yang berbeda. Bonding, didefinisikan brazelton (1978) sebagai sesuatu ketertarikan mutual pertama antar individu. Attachment terjadi pada periode kritis seperti pada kelahiran atau adopsi. Proses kasih sayang dijelaskan sebagai sesuatu yang linear, dimulai saat ibu hamil, semakin menguat pada awal periode pascapartum dan begitu terbentuk akan menjadi konstan dan konsisten. Mercer (1982) menulis lima prakondisi yang mempengaruhi ikatan sebagai berikut: Kesehatan emosional orang tua (termasuk kemampuan untuk mempercaya orang lain). Sistem dukungan sosial meliputi pasangan hidup, teman dan keluarga. Suatu tingkat keterampilan dalam berkomunikasi dan dalam memberi asuhan yang kompeten. Kedekatan orang tua dengan bayi. Kecocokan orang tua bayi (termasuk keadaan, temperamen dan jenis kelamin bayi). Menurut Stainton (1983); ikatan ialah pertukaran perasaan karena adanya ketertarikan, respon, dan kepuasan dan intensitasnya bisa berubah bila kadar berubah seiring berjalan waktu. Ikatan berkembang dan dipertahankan oleh kedekatan dan interaksi. Mercer (1982) mencatat bahwa ikatan dipermudah oleh adanya umpan balik positif: umpan balik positif meliputi respon sosial, respon verbal dan bukan verbal, baik yang sejati atau bukan, yang menunjukkan penerimaan satu sama lain. Bayi menunjukkan perilaku penanda (signaling behaviour) seperti menangis, tersenyum dan mengeluarkan suara yang menginisiasikan kontak dan membuat ibu mendekati anaknya. Perilaku ini kemudian diikuti oleh perilaku eksekutif, seperti rooting, menggengam dan penyesuaian postur untuk mempertahankan kontak. Bagian penting dari ikatan ialah perkenalan (Klaus, 1982). Orang tua melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara, dan mengekplorasi segera setelah mereka mengenai bayinya. Komunikasi Orang tua-Anak Ikatan diperkuat melalui penggunaan respon sensual atau kemampuan oleh kedua pasangan dalam melakukan interaksi orang tua-anak. Respon dan kemampuan yang dipakai dalam komunikasi antara orang tua dan anak meliputi hal berikut: Sentuhan

Sentuhan atau indera peraba dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengaruh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir. Banyak ibu yang ingin segera meraih anaknya saat ia baru dilahirkan dan tali pusar dipotong. Mereka mengangkat bayi ke dada, merangkulnya ke dalam pelukan, dan mengayun-ngayunnya. Gerakan-gerakan lembut dipakai untuk menenangkan bayi. Ibu menepuk atau mengusap lembut bayi mereka di punggung 16

setelah menyusuinya. Bayi menepuk dada ibunya sewaktu menyusu. Orang tua dan bayi tampaknya senang dan saling menikmati kehangatan tubuh masing-masing. Kontak Mata

Kesenangan untuk melakukan kontak mata diperlihatkan berulang-ulang orang tua menghabiskan waktu yang lama untuk membuka mata dan melihat mereka. En face (bertatap muka) ialah suatu posisi dimana kedua wajah terpisah kira-kira 20 cm pada bidang pandang yang sama. Suara

Orang tua menunggu tangisan pertama bayi dengan tegang. Saat suara yamg membuat mereka yakin bayinya dalam keadaan sehat terdengar, mereka mulai melakukan tindakan untuk menghibur. Aroma

Ibu berkomentar terhadap aroma bayi mereka ketika baru lahir dan megetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (porter, 1983). Bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya (Stainton, 1985). Entraiment

Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa (Condon, 1974). Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki. Hal ini berarti bayi telah mengembangkan irama muncul akibat kebiasaan jauh sebelum ia mampu berkomunikasi dengan kata-kata. Entraimen terjadi saat anak-anak berbicara. Irama ini juga berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif. Bioritme

Setelah lahir bayi yang menangis dapat ditenangkan dengan dipeluk dalam posisi sedemikian sehingga ia dapat mendengar denyut jantung ibunya atau mendengar suara denyut jantung yang direkam. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Kontak dini

Keuntungan fisiologis kontak dini antara ibu dan bayi telah didokumentasikan (klaus, 1982). Pada ibu, kadar oksitosin meningkat; pada bayi refleks mengisap dialakukan dini. Kontak dekat yang dini bisa mempercepat proses ikatan antara oang tua dan anak. Kontak secara luas

Salah satu metode perawatan yang berpusat ialah memberi fasilitas rungan bagi perawatan ibu dan bayi. Ayah dianjurkan mengunjungi dan berpartisipasi dalm perawatan bayi. Saudara kandung dan kakek-nenek juga dianjurkan melakukan kunjungan dan mengenali bayi. Perawatan ibu-bayi merupakan bentuk lain perawatan ibu yang diberikan oleh perawatan yang 17

mendukung kesatuan keluarga. Orang tua lebih memiliki rasa percaya diri dalam merawat dan ikatan maternal serta peran maternal ditingkatkan (NAAGOC, 1989). d. Peran Orangtua Setelah Bayi Lahir Selama masa pascapartum, tugas dan tanggung jawab baru muncul dan kebiasaan lama perlu diubah atau ditambah dengan yang baru. Ibu dan ayah memberi respons terhadap terhadap peran orang tua melalui suau perjalanan waktu yang bisa diduga sebelumnya. Periode waktu berkonsolidasi ini meliputi peran bernegosiasi juga meliputi stabilisasi tugas-tugas seiring upaya untuk menetapkan komitmen. 4. Rawat Gabung Bayi dan ibu yang dapat dirawat gabung harus memenuhi syarat atau kriteria sebagai berikut : 1. Lahir spontan, baik presentasi kepala maupun bokong. 2. Bila lahir dengan tindakan, maka rawat gabung dilakukan setelah bayi cukup sehat, refleks mengisap baik, tidak ada tanda infeksi dan sebagainya. 3. Bayi yang lahir dengan sectio cesarea dengan anestesia umum, rawat gabung dilakukan segera setelah ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak ngantuk), misalnya 4-6 jam setelah operasi selesai. Bayi tetap disusukan meskipun mungkin ibu masih mendapat infus. 4. Bayi tidak asfiksia setelah lima menit pertama (nilai Apgar minimal). 5. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih. 6. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih. 7. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum. 8. Bayi dan ibu sehat. Bagi Ibu, perawatan rooming in akan memperkecil resiko mengalami depresi pasca melahirkan, karena ibu merasakan daya tarik tersendiri terhadap bayinya dan membuat rasa sayang kepadanya. Perawatan rooming in sangat memungkinkan sepanjang bayi tidak ada gangguan pernapasan, bisa mengisap dan menelan dengan baik, atau berat badannya di atas 2000-2500 gram. Bahkan bayi di dalam inkubator tetap bisa rawat gabung bersama ibunya. Pengertian Rawat gabung adalah suatu system perawatan ibu dan anak bersama-sama pada tempat yang berdekatan sehingga memungkinkan sewaktu-waktu, setiap saat ibu dapat menyusui anaknya. Rawat gabung adalah satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh seharinya. Ada dua jenis rawat gabung : a. RG kontinu : bayi tetap berada disamping ibu selama 24 jam\ b. RG parsial : ibu dan bayi bersama - sama hanya dalam beberapa jam seharinya. Misalnya pagi bersama ibu sementara malam hari dirawat di kamar bayi. Rawat gabung parsial saat ini tidak dibenarkan dan tidak dipakai lagi. 18

Tujuan a. Memberikan bantuan emosional Ibu dapat memberikan kasi sayang sepenuhnya kepada bayi Memberikan kesempatan kepada ibu dan keluarga untuk mendapatkan pengalaman dalam merawat bayi b. Penggunaan ASI Agar bayi dapat sesegera mungkin mendapatkan kolostrum/ASI Produksi ASI akan makin cepat dan banyak jika diberikan sesering mungkin c. Pencegahan infeksi : mencegah terjadinya infeksi silang d. Pendidikan kesehatan : Dapat dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan kesehatan pada ibu e. Memberikan stimulasi mental dini tumbuh kembang pada bayi Manfaat a. Bagi ibu Aspek psikologi Antara ibu dan bayi akan segera terjalin proses lekat (early infant-mother bonding) dan lebih akrab akibat sentuhan badan antara ibu dan bayi Dapat memberikan kesempatan pada ibu untuk belajar merawat bayinya Memberikan rasa percaya kepada ibu untuk merawat bayinya. Ibu dapat memberikan ASI kapan saja bayi membutuhkan, sehingga akan memberikan rasa kepuasan pada ibu bahwa ia dapat berfungsi dengan baik sebagaimana seorang ibu memenuhi kebituhan nutrisi bagi bayinya. Ibu juga akan merasa sangat dibutuhkan oleh bayinya dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Hal ini akan memperlancar produksi ASI. Aspek fisik Involusi uteri akan terjadi dengan baik karena dengan menyusui akan terjadi kontraksi rahim yang baik Ibu dapat merawat sendiri bayinya sehingga dapat mempercepat mobilisasi b. Bagi bayi Aspek psikologi Sentuhan badan antara ibu dan bayi akan berpengaruh terhadap perkembangan pskologi bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Bayi akan mendapatkan rasa aman dan terlindung, dan ini merupakan dasar bagi terbentuknya rasa percaya pada diri anak Aspek fisik

19

Bayi segera mendapatkan colostrum atau ASI jolong yang dapat memberikan kekebalan/antibodi Bayi segera mendapatkan makanan sesuai pertumbuhannya Kemungkinan terjadi infeksi nosokomial kecil Bahaya aspirasi akibat susu botol dapat berkurang Penyakit sariawan pada bayi dapat dihindari/dikurangi Alergi terhadap susu buatan berkurang c. Bagi keluarga Aspek psikologi : Rawat gabung memberikan peluang bagi keluarga untuk memberikan support pada ibu untuk memberikan ASI pada bayi Aspek ekonomi : Lama perawatan lebih pendek karena ibu cepat pulih kembali dan bayi tidak menjadi sakit sehingga biaya perawatan sedikit. d. Bagi petugas Aspek psikologi : Bayi jarang menangis sehingga petugas di ruang perawatan tenang dan dapat melakukan pekerjaan lainnya. Aspek fisik : Pekerjaan petugas akan berkurang karena sebagian besar tugasnya diambil oleh ibu dan tidak perlu repot menyediakan dan memberikan susu buatan. Pelaksanaan a. Di poliklinik kebidanan Penyuluhan tentang ASI Memutar film Melayani konsultasi masalah ibu dan anak b. Kamar persiapan Jika rumah sakit telah berfungsi sebagai RS sayang ibu, maka hampir semua ibu yang masuk kamar bersalin sudah mendapat penyuluhan manajemen laktasi sejak mereka berada di poliklinik. Kamar ini dipersiapkan bagi ibu yang tidak pernah melakukan ANC di RS dimana ia akan bersalin. Di dalam ruangan persiapan diperlukan gambar, poster, brosur dsb untuk membantu memberikan konseling ASI. Di ruangan ini tidak boleh terdapat botol susu, dot atau kempengan apalagi iklan susu formula yang semuanya akan mengganggu keberhasilan ibu menyusui. c. Kamar Persalinan Di ruangan ini dapat dipasang gambar, poster tentang menyusui yang baik dan benar. Serta menyusui segera setelah lahir. Dalam waktu 30 menit setelah lahir bayi segera disusukan. Rangsangan pada puting susu akan merangsang hormon prolaktin dan oksitosin untuk segera memproduksi ASI 20

d. Kamar perawatan Bayi diletakkan dekat dengan ibunya Awasi KU dan kenali keadaan-keadaan yang tidak normal Ibu dibantu untuk dapat menyusui dengan baik dan cara merawat payudara Mencatat keadaan bayi sehari-hari KIE tentang perawatan tali pusat, perawatan bayi, perawatan payudara, cara memandikan bayi, immunisasi dan penanggulangan diare Jika bayi sakit pindahkan ke ruang khusus Sasaran dan Syarat a. Bayi lahir dengan spontan , baik presentasi kepala atau bokong b. Jika bayi lahir dengan tindakan maka rawat gabung dapat dilakukan setelah bayi cukup sehat, reflek hisap baik, tidak ada tanda-tanda infeksi dsb c. Bayi yang lahir dengan Sectio Cesarea dengan anestesi umum, RG dilakukan segera stelah ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak ngantuk)misalnya 4-6 jam setelah operasi. d. Bayi tidak asfiksia setelah 5 menit pertama (nilai apgar minimal 7) e. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih f. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih

g. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum h. Bayi dan ibu sehat Kontra Indikasi Rawat gabung tidak dianjurkan pada keadaan : Ibu Penyakit jantung derajat III Pasca eklamsi Penyakit infeksi akut, TBC Hepatitis, terinfeksi HIV, sitimegalovirus, herpes simplek Karsinoma payudara Bayi Bayi kejang Sakit berat pada jantung Bayi yang memerlukan pengawasan intensif Catat bawaan sehingga tidak mampu menyusu Persyaratan yang Ideal Bayi Ranjang bayi tersendiri yang mudah terjangkau dan dilihat oleh ibu Bagi yang memerlukan tersedia rak bayi 21

Ukuran tempat tidur anak 40 x 60 cm Ibu Ukuran tempat tidur 90 x 200 cm Tinggi 90 cm Ruang Ukuran ruang untuk satu tempat tidur 1,5 x 3 m Ruang dekat dengan ruang petugas (bagi yang masih memerlukan perawatan) Sarana Lemari pakaian Tempat mandi bayi dan perlengkapannya Tempat cuci tangan ibu Setiap kamar mempunyai kamar mandi ibu sendiri Ada sarana penghubung Petunjuk/sarana perawatan payudara, bayi dan nifas, pemberian makanan pada bayi dengan bahasa yang sederhana Perlengkapan perawatan bayi Petugas Rasio petugas dengan pasien 1 : 6 Mempunyai kemampuan dan ketrampilan dalam pelaksanaan RG Model Pengaturan Ruangan Rawat Gabung a. satu kamar dengan satu ibu dan anaknya b. empat sampai lima orang ibu dalam 1 kamar dengan bayi pada kamar yang lain bersebelahan dan bayi dapat diambil tanpa ibu harus meninggalkan tempat tidurnya c. beberapa ibu dalam 1 kamar dan bayi dipisahkan dalam 1 ruangan kaca yang kedap udara d. model dimana ibu dan bayi tidur di atas tempat tidur yang sama e. bayi di tempat tidur yang letaknya disamping ibu Keuntungan dan Kerugian a. Keuntungan Menggalakkan penggunaan ASI Kontak emosi ibu dan bayi lebih dini dan lebih erat Ibu segera dapat melaporkan keadaan-keadaanbayi yang aneh Ibu dapat belajar merawat bayi Mengurangi ketergantungan ibu pada bidan Membangkitkan kepercayaan diri yang lebih besar dalam merawat bayi Berkurangnya infeksi silang Mengurangi beban perawatan terutama dalam pengawasan 22

b. Kerugian Ibu kurang istirahaDapat terjadi kesalahan dalam pemberian makanan karena oengaruh orang lain Bayi bisa mendapatkan infeksi dari pengunjung Pada pelaksanaan ada hambatan tekhnis/fasilitas

5. Penatalaksanaan Pada Periode Postnatal a. Mencegah Perdarahan Berlebih Penyebab perdarahan setelah melahirkan yang paling sering ialah atoni uterus, kegagalan otot rahim untuk berkontraksi dengan kuat. Pada palpasi rahim teraba lunak. Mempertahankan tonus rahim Intervensi utama untuk mempertahankan tonus yang baik ialah menstimulasi dengan pijatan lembut di bagian fundus rahim sampai rahim teraba keras. Pijatan pada fundus bisa menyebabkan perdarahan vagina meningkat untuk sementara. Perdarahan ini terlihat sebagai bekuan darah yang keluar dari rahim. Bekuan darah ini bisa didorong keluar. Pemberian pengajaran kepada pasien sangat penting untuk mempertahankan tonus rahim. Pijatan fundus bisa merupakan prosedur yang membuat pasien tidak nyaman. Pemahaman tentang penyebab dan bahaya atoni rahim dan tujuan pemijatan fundus dapat membuat ibu lebih bersedia untuk bekerjasama. Mengajarkan ibu melakukan pijatan fundus sendiri membuatnya mampu mempertahankan kendali dan megurangi rasa cemas. Rahim bisa tetap lunak walaupun sudah dipijat dan bekuan sudah dikeluarkan. Apabila hal ini terjadi, sangat penting bagi perawat untuk tetap bersama pasien dan memberi pertolongan. Dokter jaga harus segera diberitahu. Intervensi lain yang sangat dapat dilakuakn adalah memberikan cairan intravena dan obat-obat oksitosik (obat-obat yang meransang kontraksi otot polos rahim) Mencegah distensi kandung kemih Kandung kemih yang penuh membuat rahim terdorong ke atas umbilicus dan ke salah satu sisi abdomen. Keadaan ini juga mencegah uterus berkontraksi secara normal. Intervensi perawat difokuskan untuk membantu ibu mengosongkan kandung kemihnya secara spontan sesegera mungkin. Prioritas pertama ialah membantu ibu ke kamar kecil atau berkemih di bedpan jika ia tidak mampu berjalan. Membiarkan ibu mendengar bunyi air mengalir, merendam tangannya di dalam air hangat, atau memercik air dari botol ke perineumnya bisa meransang berkemih. Teknik lain dengan membantu ibu mandi atau melakukan sitz bath dan menganjurkan ibu berkemih atau meletakkan minyak peppermint di dalam bedpan di bawah ibu. Uap minyak ini dapat merelaksasi meatus urinarius dan membuat ibu berkemih secara spontan. Apabila tindakan ini tidak berhasil, sebuah kateter steril dimasukkan untuk mengeluarkan urin. b. Mencegah Infeksi

23

Salah satu cara penting untuk mencegah infeksi ialah mempertahankan lingkungan yang bersih. Penutup tempat tidur harus diganti setiap hari, tampon atau pelapis sekali pakai perlu diganti lebih sering. Pasien diusahakan untuk tidak berjalan di dalam rumah sakit tanpa menggunakan alas kaki untuk menghindari kontaminasi tempat tidur. Supervisi penggunaan fasilitas untuk mencegah kontaminasi silang juga diperlukan. Misalnya, tempat duduk untuk mandi atau lampu pemanas harus dicuci bersih sebelum digunakan oleh ibu yang lain. Tindakan pencegahan secara universal harus dilakukan. Anggota staf yang pilek, batuk, dan memiliki infeksi kulit, misalnya herpes di bibir harus mengikuti protocol RS jika kontak dengan pasien pascapartum. Perawatan tempat episiotomi dan setiap laserasi perineum dilakukan dengan baik mencegah infeksi pada dearah genitourinara dan mempercepat proses penyembuhan. Ajari ibu membersihkan perineum dari arah depan ke belakang (uretra ke anus) setelah berkemih atau defekasi. Dibanyak RS, dipakai botol percik yang diisi air hangat atau larutan betadin untuk membersihkan daerah perineum setipa kali selesai berkemih. Pasien juga perlu diajari mengganti pelapis perineumnya dari arah depan ke belakang setiap kali selesai berkemih atau defekasi dan untuk mencuci tangannya sampai bersih sebelum dan sesudah melakukan hal tersebut. c. Pemenuhan Kebutuhan Rasa Nyaman Kebanyakan ibu mengalami nyeri segera setelah memasuki masa nifas. Penyebab umum nyeri meliputi nyeri pasca melahirkan (afterbirth), episiotomy atau laserasi perineum, hemoroid, dan pembesaran (engorgement) payudara. Penjelasan ibu tentang jenis dan berat nyeri adalah pedoman terbaik bagi perawat untuk memilih intervensi yang harus dilakuakn. Untuk memastikan lokasi dan luas penyebaran nyeri, perawat bisa melakukan inspeksi dan palpasi di daerah nyeri, memperhatikan kemerahan, pembengkakan, adanya cairan dan panas, dan observasi posisi tubuh, gerakan, dan ekspresi wajah. Tekanan darah, nadi, dan pernapasan bisa meningkat sebagai respon terhadap nyeri akut. Intervensi keperawatan ditujukan untuk mengeliminasi sensasi nyeri secara keseluruhan atau menguranginya sampai pada tingkat yang dapat diterima ibu. Intervensi nonfarmakologis Nyeri postpartum dalah nyeri yang dirasakan seperti kram menstruasi oelh banyak ibu saat uterus berkontraksi setelah melahirkan. Kompres hangat, distraksi, membayangkan sesuatu, sentuhan terapeutik, relaksasi dan interaksi dengan bayi bisa mengurangi nyeri yang ditimbulkan kontraksi rahim. Intervensi sederhana untuk mengurangi nyeri akibat episiotomy atau laserasi pada perineum ialah endorong ibu berbaring pada salah satu sisinya dan menggunakan bantal saat duduk. Kompres es yang dikemas (ice pack), obat salep (jika diresepkan dokter), aplikasi panas kering, membersihkan dengan botol percik atau Surgi-Gator, dan sitz bath. 24

Rasa tidak nyaman akibat pembesaran payudara bisa dikurangi dengan kompres es atau panas pada payudara dan menggunakan bra yang menopang payudara dengan baik. Intervensi farmakologis Kebanyakan dokter secara rutin memprogramkan pemberian obat analgetik, jika diperlukan, termasuk obat narkotik dan bukan narkotik sekaligus dosis dan waktu penggunaannya. Upaya patient controlled analgesia (PCA) dan pemberian infus analgesic epidural secara kontiniu adalah dua teknologi baru yang sering digunakan. Apabila akan member analgesic, perawat harus melakukan pengkajian klinis tentang jeis, dosis, dan frekuensi pemberian obat yang diprogramkan. Ibu harus diberitahu tentang analgesic yang diberikan dan efek samping yang sering timbul. Apabila nyeri pada tingkat tertentu tidak juga dicapai dalam waktu satu jam dan pada pemeriksaan awal tidak ada suatu perubahan, perawat mugkin perlu menghubungi dokter untuk memperoleh obat penurun nyeri tambahan atau untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut. Nyeri yang tidak hilang akan menimbulkan keletihan, kecemasan, dan persepsi nyeri semkain memburuk. Keadaan ini juga menunjukkan adanya masalah sebelumnya yang tidak diobati atau tidak diketahui. Pemeriksaan dan pengobatan lebih lanut perlu dilakukan untuk menentukan penyebab nyeri dan upaya penanganan. d. Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Pendidikan untuk Ibu menyusui harus: Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui) Tablet zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin Minum kapsul vit. A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASInya. e. Pemenuhan Kebutuhan Istirahat- Tidur Kegembiraan yang dialami setelah melahirkan seorang bayi bisa membuat ibu sulit beristirahaat. Ibu baru seringkali cemas akan kemampuannya dalam merawat bayinya atau seering merasa nyeri. Hal ini bisa membuatnya sukar tidur. Ada hari-hari selanjutnya tuntutan dari bayi, pengaruh lingkungan, dan rutinitas di rumah sakit juga akan mengganggu pola tidur ibu tersebut. Intervensi harus direncanakan untuk memenuhi kebutuhan ibu akan tidur dan istirahat. Menggosok-gosok punggung, tindakan lain yang memmberi kenikmatan, dan pemberian obat tdur mugkin diperlukan selama beberapa malam pertama. Rutinitas rumah sakit dan perawat bisa juga disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan individu. Selain itu, perawat dapat membantu keluarga ini membatasi pengunjung dan memberi kursi yang nyaman atau tempat tidur untuk pasangan.

25

f. Pemenuhan Kebutuhan Ambulasi Ambulasi dini terbukti bermanfaat untuk mengurangi insiden tromboembolisme dan mempercepat pemulihan kekuatan ibu. Tirah baring tidak diperlukan oleh ibu yang mendapat anestesi umum, anestesi epidural atau spinal, atau mendapat anestesi local, seperti blok pudendal. Ibu dapat bergerak bebas setelah pengaruh anestesi hilang, kecuali bila ia diberi analgetik. Setelah periode istirahat vital pertama berakhir, ibu didorong untuk sering berjalanjalan. g. Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi Setelah melahitkan, ibu harus berkemih dengan spontan dalam 6 samai 8 jam post partum, kalau dalam 8 jam post partum belum dapat kencing atau sekali kencing belum melebihi 100 cc, maka dilakukan kateterisasi akan tetapi, bila kandungan kencing penuh, tidak usah menunggu sampai 8 jam untuk kateterisasi. Urin yang dikeluarkan dari beberapa perkemihan pertama harus diukur untuk mengetahui apakah pengosongan kandung kemih adekuat. Diharapkan setipa kali berkemih, urine yang keluar adalah 150 ml. Beberapa wanita mengalami kesulitan untuk mengosongkan kandung kemihnya. Sebab-sebab retensi urin post partum antara lain: Tekanan intra abdominal berkurang Otot-otot perut masih lemas Edema dari uretra Dinding kandung kencing kurang sensitif

h. Pemenuhan Kebutuhan Seksual Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap. Banyak budaya mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan tergantung pada pasangan yang bersangkutan 6. Nilai dan Keyakinan (budaya) Pada Periode Postnatal Meski masyarakat sudah semakin modern dengan gaya hidup yang semakin berkembang sesuai peradaban jaman, tetapi masih banyak mitos- tentang ibu nifas yang sudah menjadi kepercayaan bagi sebagian besar masyarakat. Kebanyakan mitos yang berkembang malah berdampak buruk bagi kesehatan ibu pada saat pasca melahirkan. Untuk, itulah perlu diungkap beberapa fakta tentang mitos yang sudah salah kapprah berkembang di masyarakat.

26

Mitos : Mobilisasi dini bagi ibu nifas dalam masyarakat awam masih merupakan hal yang tidak biasa dilakukan oleh ibu dalam masa nifas sebab rasa takut akan terjadinya perdarahan dan lepasnya jahitan pada perineum ibu dan rasa sakit yang ditimbulkan. Fakta : Ada banyak manfaat dari mobilisasi dini ini, yaitu ibu akan merasa lebih sehat dan kuat dengan early ambulation, dengan bergerak maka otot-otot perut dan panggul akan kembali normal sehingga otot perutnya menjadi kuat kembali dan dapat mengurangi rasa sakit, sirkulasi darah menjadi normal dan lancar sehingga risiko terjadinya thrombosis dan tromboemboli dapat dihindarkan. Mitos : Masyarakat Indonesia masih banyak yang mempercayai obat tradisional atau jamu daripada obat yang sudah melalui uji klinis. Fakta : Jamu-jamuan sebaiknya tidak dikonsumsi oleh ibu nifas karena dapat menimbulkan efek yang buruk bahkan dapat membahayakan ibu nifas karena jamu yang beredar kebanyakan telah banyak diberi campuran zat lain bahkan zat yang justru berbahaya bagi ibu nifas. Mitos : Di suatu daerah, minggu ke dua pasca melahirkan ibu pantang makan minum beberapa jenis makanan tertentu, biasanya berlansung selama lima bulan atau lebih. Misalnya pantang daging kerbau, daging bebek, dan semua jenis buah-buahan. Fakta : Kebutuhan gizi pada masa nifas meningkat 25% dari kebutuhan biasa karena untuk proses kesembuhan sehabis melahirkan dan untuk memproduksi air susu yang cukup sehingga daging dan buah-buahan sangat dianjurkan bagi ibu untuk kebutuhan protein, mineral, serta vitamin. Mitos : Selama minggu pertama ibu postpartum diurut oleh dukun beranak dengan menggunakan minyak kelapa pada daerah punggung serta bagian perut ibu yang dipercaya mempercepat penyembuhan. Fakta : Justru dengan pemijatan akan berdampak buruk pada ibu karena mengganggu kontraksi uterus sehingga terjadi perdarahan, menyebabkan disposisi uterus atau ruptur, dan

menyebabkan pemulihan (involusi) uterus terganggu. Mitos : Paradigma masyarakat menganggap bahwa berkemih dan defekasi dapat menghambat proses penyembuhan luka setelah melahirkan. Fakta : Kandung kemih harus dikosongkan setelah persalinan agar tidak mengganggu kontraksi uterus sehingga dapat mencegah terjadinya perdarahan. Sedangkan untuk defekasi, secara spontan memang biasanya tertunda selama 2-3 hari setelah ibu melahirkan dikarenakan tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan masa pospartum. Untuk itu perlu dilakukan diet teratur agar dapat memperlancar proses defekasi. Mitos : Budaya masyarakat tertentu mensugesti para wanita untuk menggunakan stagen karena dipercaya dapat mengecilkan perut.

27

Fakta

: Dari segi kesehatan tidak dianjurkan menggunakan stagen karena stagen tidak memberikan efek positif dalam mengecilkan atau mengencangkan perut karena sifatnya pasif.

Mitos :Masih banyak yang menganggap bahwa merawat bayi yang dipisahkan dari ibunya dianggap baik oleh sebagian besar orang. Fakta : Berdasarkan penelitian, disebutkan bahwa memisahkan ibu dan bayi setelah proses persalinan bisa memperbesar timbulnya infeksi nosokomial pada bayi dan mengurangi kontak batin antara ibu dan bayinya.

7. Discharge Planning Rencana Pemulangan (RP) merupakan bagian pelayanan perawatan, yang bertujuan untuk memandirikan klien dan mempersiapkan orang tua untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional bayi bila pulang. Waktu yang terbaik untuk memulai rencana pulang adalah hari pertama masuk rumah sakit. Klien belum dapat dipulangkan sampai dia mampu melakukan apa yang diharapkan darinya ketika di rumah. Oleh karena itu Rencana Pemulangan harus didasarkan pada : 1. Kemampuan klien untuk melakukan aktifitas sehari-hari dan seberapa jauh tingkat ketergantungan pada orang lain 2. Ketrampilan, pengetahuan dan adanya anggota keluarga atau teman 3. Bimbingan perawat yang diperlukan untuk memperbaiki dan mempertahankan kesehatan, pendidikan, dan pengobatan. Beberapa hal yang perlu dikemukakan berkenaan dengan proses berencana untuk memulangkan klien adalah : 1. Menentukan klien yang memerlukan rencana pulang. 2. Waktu yang terbaik untuk memulai rencana pulang. 3. Staf yang terlibat dalam rencana pulang. 4. Cara yang digunakan dan evaluasi efektifitas dari rencana pulang. Beberapa karakteristik yang harus dipertimbangkan dalam membuat Rencana Pemulangan (RP) adalah : 1. Berfokus pada klien. Nilai, keinginan dan kebutuhan klien merupakan hal penting dalam perencanaan. Klien dan keluarga harus berpartisipasi aktif dalam hal ini. 2. Kebutuhan dasar klien pada waktu pulang harus diidentifikasi pada waktu masuk dan terus dipantau pada masa perawatan 3. Kriteria evaluasi menjadi panduan dalam menilai keberhasilan implementasi dan evaluasi secara periodik. 4. Rencana pemulangan suatu proses yang melibatkan tim kesehatan dari berbagai disiplin ilmu. 28

5. Klien harus membuat keputusan yang tertulis mengenai rencana pemulangan. Rencana penyuluhan didasarkan pada : 1. Kebutuhan belajar orang tua. 2. Prinsip belajar mengajar. 3. Mengkaji tingkat pengetahuan dan kesiapan belajar. Metode belajar Kondisi fisik dan psikologis orang tua

4. Latar belakang sosial budaya untuk proses belajar mengajar Tekankan bahwa merawat bayi bukan hanya kewajiban wanita Early discharge 6 - 8 jam I, dimana informasi penting harus diberikan serta follow up. Cara-cara penyampaian Rencana Pemulangan adalah : 1. Gunakan bahasa yang sederhana, jelas dan ringkas. 2. Jelaskan langkah-langkah dalam melaksanakan suatu perawatan. 3. Perkuat penjelasan lisan dengan instruksi tertulis 4. Motivasi klien untuk mengikuti langkah-langkah tersebut dalam melakukan perawatan dan pengobatan. 5. Kenali tanda-tanda dan gejala komplikasi yang harus dilaporkan pada tim kesehatan. 6. Berikan nama dan nomor telepon yang dapat klien hubungi. Dasar-dasar rencana penyuluhan : 1. Cara memandikan bayi dengan air hangat (37 -38 celsius) a. Membersihkan mata dari dalam ke luar b. Membersihkan kepala bayi (bayi masih berpakaian lalu keringkan) c. Buka pakaian bayi, beri sabun dan celupkan ke dalam air. 2. Perawatan tali pusat / umbilikus a. Bersihkan dengan alkohol lalu kompres betadin b. Tali pusat akan tanggal pada hari 7 10 3. Mengganti popok dan pakaian bayi 4. Menangis merupakan suatu komunikasi jika bayi tidak nyaman, bosan, kontak dengan sesuatu yang baru 5. Cara-cara mengukur suhu 6. Memberi minum 7. Pola eliminasi 8. Perawatan sirkumsisi 9. Imunisasi

5. Lamanya bayi dan ibu tinggal di rumah sakit

29

10. Tanda-tanda dan gejala penyakit, misalnya : a. Letargi ( bayi sulit dibangunkan ) b. Demam ( suhu > 37 celsius) c. Muntah (sebagian besar atau seluruh makanan sebanyak 2 x) d. Diare ( lebih dari 3 x) e. Tidak ada nafsu makan. Rencana pemulangan ditujukan pada : IBU Dalam rencana pemulangan yang perlu dianjurkan antara lain : 1. Pernapasan dada 2. Bentuk tubuh, lumbal,dan fungsi otot-otot panggul 3. Latihan panggul, evaluasi, gambaran dan ukuran yang menyenangkan 4. Latihan penguatan otot perut 5. Posisi nyaman untuk istirahat 6. Permudahan gerakan badan dari berdiri ke jalan 7. Tehnik relaksasi 8. Pencegahan; jangan mengangkat berat, melakukan sit up secara berlebihan. Daftar kegiatan sangat membantu kondisi post partum kembali dalam keadaan sehat. Saat ibu kembali ke rumah, secara bertahap akan kembali melakukan aktivitas normal. Pekerjaan rumah akan membantu mencegah kekakuan otot-otot secara umum tetapi tidak akan melemahkan kekuatan otot (Blankfield, 1967). Ketika membantu klien untuk memilih program latihan perawat seharusnya memperingatkan akan perubahan muskuloskeletal yang akan kembali normal pada 6 - 8 minggu (Danforth,1967). Selama periode ini, ligamen-ligamen akan lunak dan saling terpisah oleh karena itu latihan-latihan memerlukan keregangan dan kekuatan otot-otot yang berlebihan seperti halnya aerobik, lari, dan lailain harus dihindari selama periode ini untuk mencegah ketegangan. Aktifitas yang aman seperti berjalan, berenang dan bersepeda sangat dianjurkan. Seorang wanita dapat memulai latihan atau Yoga 2 minggu setelah melahirkan pervaginam atau 4 - 6 minggu setelah mengalami operasi caesar. Secara ideal ini harus memiliki seorang instruktur yang berpengalaman yang bertanggung jawab selama melatih ibu post partum. Ibu biasanya mendapatlan kesulitan dalam mengatur waktu untuk latihan atau melakukan tehnik relaksasi di rumah. Perawat harus membantu mendorong ibu untuk istirahat ketika bayi sedang tidur dan mencoba untuk tidak melakukan pekerjaan selama waktu itu. Wanita biasanya kurang sabar dalam hal merawat tubuhnya . Perawat harus mengingatkan bahwa selama masa menyusui membutuhkan ekstra lemak dari tubuhnya, oleh karena itu nutrizi dan gizi yang baik sangat dibutuhkan. Perawat harus meyakinkan ibu bahwa waktu yang dibutuhkan seorang 30

wanita untuk kembali pada tubuh yang normal setelah persalinan sangan bervariasi dan prosesnya dapat berlangsung 6 - 12 bulan. Selama masa nifas ibu perlu memperhatikan : 1. Pemenuhan rasa nyaman a. Hari I Perineum kompres dingin. Posisi terlentang, Sim, telungkup; semua dengan bantal yang menyokong kepala, kedua lutut dan pelvis hanya untuk prone (telungkup) b. Hari II Gunakan BH yang menyangga, lakukan rendam hangat (daerah perineum), lanjutkan latihan Kegel, posisi berbaring atau telungkup (2x sehari selama 30 - 60 menit), ambulansi. 2. Pernapasan a. Latihan Hari I Permulaan Pernafasan ke arah dada dan toraks b. Hari II tambahan Pengembalian posisi pelvis : 1. Pengerutan dasar pelvis 1-3-5 detik 5 kali / jam 2. Pengerutan abdomen 5 - 10 detik 5 kali / 2 x sehari 3. Pergerutan abdomen dan dasar pelvis 3-5-10 detik 5 x / 2x sehari 4. Pengerutan abdominal,dasar panggul dan bokong 3 - 5- 10 detik 5 x /2x sehari c. Ekstremitas bagian bawah 1. Menutup dan membuka lutut 10 x / jam 2. Memutar lutut 10 x / jam 3. Mengaktifkan quatriseps 5 - 10 detik, 10 x / jam d. Abdominal / pelvis 1. Mengkaji dasar pelvis 1x tiap hari 2. Mengangkat pinggul 5 detik , 5 x / 2x sehari 3. Gerakan bersepeda dengan terus-menerus terlentang 5x / 2x sehari 4. Mengangkat bokong 5 detik, 5 x /2 x sehari 5. Mengangkat kepala 5 detik, 5 x / 2x sehari Instruksi masa nifas adalah : 1. Bekerja Ibu seharusnya menghindari kerja berat (misalnya mengangkat / membawa beban) pada 3 minggu pertama. Pada ibu-ibu yang mempunyai pengertian berbeda tengan kerja berat dapat mendiskusikan dengan ibu-ibu yang lain. Perawat dapat membantu mengidentifikasikan pengertian dari kerja berat. Biasanya dianjurkan tidak bekerja selama 3 minggu ( lebih baik 6 minggu), bukan saja untuk kesehatan tetapi juga untuk mendapatkan kesempatan lebih dekat dengan bayinya. 31

2. Istirahat Ibu sebaiknya mengusahakan bisa tidur siang dan tidur malam yang cukup. Ibu biasanya tidur siang selagi bayi tidur dan minta suami/keluarga menggantikan tugas-tugas yang ada. Mintalah keluarga / suami untuk membantu tugas-tugas rumah tangga. 3. Kegiatan / aktifitas / latihan Pada minggu pertama ibu seharusnya memulai latihan berjalan setahap demi setahap. Pada minggu ke dua, jika lokea normal dapat memulai latihan aktifitas lain yang akan direncanakan seperti mencuci popok setiap hari walaupun dengan memakai mesin cuci, naik turun tangga untuk melihat bayinya atau berada setiap saat disamping bayinya. Ibu seharusnya melanjutkan senam nifas di rumah seperti halnya sit up dan mengangkat kaki. 4. Kebersihan Ibu harus tetap bersih, segar dan wangi. Merawat perineum dengan baik dengan menggunakan antiseptik (PK / Dethol) dan selalu diingat bahwa membersihkan perineum dari arah depan ke belakang. 5. Coitus Coitus lebih segera setelah lokea menjadi alba dan bila ada episiotomi sudah membaik / sembuh ( minggu 3 setelah persalinan). Sel-sel vagina mungkin tidak setebal sebelumnya karena keseimbangan hormon prepregnansi belum kembali secara lengkap. Gunakan kontrasepsi busa atau jeli akan membantu kenyamanan dan pengaturan posisi yang bisa mengurangi penekanan atau dispariunia. 6. Kontrasepsi Jika ibu menginginkan memakai IUD, dapat dipasang segera setelah persalinan atau chekup post partum yang pertama. Jenis kontrasepsi yang memakai diafragma harus pada minggu ke 6 , kontrasepsi oral dimulai antara 2 -3 minggu post partum sampai kembali pada chekup berikutnya. Ibu dan pasangannya dapat menggunakan kombinasi antara jelly yang mengandung spermatid dengan kondom lebih dapat mencegah pembuahan. Konsultasi dalam memilih alat kontrasepsi harus kepada tenaga kesehatan yang berkopeten untuk mencegah kesalahan informasi. BAYI Pertumbuhan dan perkembangan serta perubahan kebutuhan bayi (seperti rangsangan, latihan, dan kotak sosial) selalu menjadi tanggung jawab orang tua dalam memenuhinya dengan mengikuti aturan dan gambaran yang diberikan selama perencanaan pulang. Yang perlu diperhatikan adalah : a. Temperatur / suhu Sebab-sebab penurunan suhu tubuh Catat gejala-gejala yang timbul seperti kelemahan, bersin, batuk dll.

32

b. c.

Cara-cara mengurangi / menurunkan suhu tubuh seperti kompres dingin, mencegah bayi terkena sinar matahari terlalu lama, dan lain-lain Gunakan lampu penghangat / selimut tambahan Ukur suhu tubuh

Pernapasan Perubahan frekwensi dan irama napas Refleks-refleks seperti; bersin, batuk. Pencegahan terhadap asap rokok, infeksi orang terkena infeksi saluran napas Gejala-gejala pnemonia aspirasi

Eliminasi Perubahan warna dan kosistensi feses Perubahan warna urin

d. Keamanan Mencegah bayi dari trauma seperti; kejatuhan benda tajam (pisau, gunting) yang mudah dijangkau oleh bayi / balita. Mencegah benda panas, listrik, dan lainnya Menjaga keamanan bayi selama perjalanan dengan menggunakan mobil atau sarana lainnya. 8. Home Visit Kunjungan pada masa nifas dilakukan minimal 4 x. Adapun tujuan kunjungan rumah untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir serta mencegah, mendeteksi dan menangani komplikasi pada masa nifas. Kunjungan rumah memiliki keuntungan sebagai berikut: bidan dapat melihat dan berinteraksi dengan keluarga dalam lingkungan yang alami dan aman serta bidan mampu mengkaji kecukupan sumber yang ada, keamanan dan lingkungan di rumah. Sedangkan keterbatasan dari kunjungan rumah adalah memerlukan biaya yang banyak, jumlah bidan terbatas dan

kekhawatiran tentang keamanan untuk mendatangi pasien di daerah tertentu. Jadwal kunjungan rumah pada masa nifas sesuai dengan program pemerintah meliputi: 1. Kunjungan I (6-8 jam postpartum) meliputi: a. b. Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri. Deteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta lakukan rujukan

bila perdarahanberlanjut. c. d. e. f. Pemberian ASI awal. Konseling ibu dan keluarga tentang cara mencegah perdarahan karena atonia uteri. Mengajarkan cara mempererat hubungan ibu dan bayi baru lahir. Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi. 33

2. Kunjungan II (6 hari postpartum) meliputi: a. Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi baik, tunggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal. b. c. d. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan. Memastikan ibu cukup istirahat, makanan dan cairan. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda

kesulitanmenyusui. e. Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir.

3. Kunjungan III (2 minggu postpartum) Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 haripost partum. 4. Kunjungan IV (6 minggu postpartum) 5. Kunjungan IV (6 minggu postpartum) meliputi: a. Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas. b. Memberikan konseling KB secara dini. Asuhan Lanjutan Masa Nifas Di Rumah Prinsip pemberian asuhan lanjutan pada masa nifas di rumah meliputi: 1. Asuhan postpartum di rumah berfokus pada pengkajian, penyuluhan dan konseling. 2. Pemberian asuhan kebidanan di rumah, bidan dan keluarga dilakukan dalam suasana rileks dan kekeluargaan. 3. Perencanaan kunjungan rumah. 4. Keamanan Perencanaan kunjungan rumah meliputi: 1. Kunjungan rumah tidak lebih 24-48 jam setelah pasien pulang. 2. Memastikan keluarga sudah mengetahui rencana kunjungan rumah dan waktu

kunjunganbidan telah direncanakan bersama. 3. Menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan. 4. Merencanakan tujuan yang ingin dicapai dan menyusun alat serta perlengkapan yang digunakan. 5. Memikirkan cara untuk menciptakan dan mengembangkan hubungan baik dengan keluarga. 6. Melakukan tindakan yang sesuai standar pelayanan kebidanan dalam pemberian asuhan. 7. Membuat pendokumentasian hasil kunjungan. 8. Meyediakan sarana telepon untuk tindak lanjut asuhan. Keamanan pada saat kunjungan rumah meliputi: 1. Mengetahui alamat lengkap pasien dengan jelas. 2. Menggambar rute alamat pasien. 3. Memperhatikan keadaan di sekitar lingkungan rumah pasien sebelum kunjungan. 4. Memberitahu rekan kerja ketika melakukan kunjungan. 34

5. Membawa telepon selular sebagi alat komunikasi. 6. Membawa cukup uang. 7. Menyediakan senter (kunjungan malam hari). 8. Memakai tanda pengenal dan mengenakan pakaian yang sopan. 9. Waspada pada bahasa tubuh yang diisyaratkan dari siapa saja yang ada selama kunjungan. 10. Menunjukkan perasaan menghargai di setiap kesempatan. 11. Saat perasaan tidak aman muncul, segeralah akhiri kunjungan. Pelaksanaan Asuhan Nifas Masa Nifas Di Rumah Pelaksanaan asuhan nifas meliputi: 1. Ibu baru pulang dari RS a. b. Keputusan bersama antara tenaga kesehatan dengan ibu/keluarga. Bidan memberikan informasi tentang ringkasan proses persalinan, hasil dan info lain yang

relevan. c. Mengulang kembali bilamana perlu.

2. Kunjungan postnatal rutin a. b. c. d. e. f. Kunjungan rumah dilakukan minimal 2x setiap hari. Mengajarkan ibu dan keluarga tentang perawatan bayi baru lahir. Mengajarkan ibu untuk merawat diri. Memberikan saran dan nasehat sesuai kebutuhan dan realistis. Bidan harus sabar dan telaten menghadapi ibu dan bayi. Melibatkan keluarga saat kunjungan rumah.

3. Pengamatan pada psikologi ibu Bidan melakukan pengamatan pada psikologi ibu, meliputi: a. b. c. d. e. f. g. Memberikan pendidikan kesehatan tanda bahaya masa nifas. Bidan mengobservasi perilaku keluarga. Meluangkan waktu untuk sharing dengan ibu dan keluarga. Memberikan dukungan. Melakukan dokumentasi pasca kunjungan. Perencanaan skrining test. Memberikan penyuluhan sehubungan dengan kebutuhan pada masa nifas.

Pendidikan Kesehatan Masa Nifas Pendidikan kesehatan masa nifas meliputi: 1. Gizi Pendidikan kesehatan gizi untuk ibu menyusui antara lain: konsumsi tambahan 500 kalori setiap hari, makan dengan diet berimbang, minum sedikitnya 3 liter air setiap hari, tablet zat besi harus diminum selama 40 hari pasca bersalin dan minum kapsul vitamin A (200.000 unit). 2. Kebersihan diri 35

Pendidikan

kesehatan kebersihan diri

untuk

ibu nifas antara

lain

menganjurkan kebersihanseluruh tubuh; mengajarkan ibu cara membersihkan daerah kelamin; menyarankan ibu untuk mengganti pembalut; menyarankan ibu untuk cuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelamin; jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, menyarankan untuk menghindari menyentuh daerah luka. 3. Istirahat / tidur Pendidikan kesehatan untuk ibu nifas dalam hal istirahat/tidur meliputi: menganjurkan ibu untuk cukup istirahat; menyarankan ibu untuk kembali ke kegiatan rumah secara perlahan-lahan; menjelaskan pada ibu bahwa kurang istirahat akan pengaruhi ibu dalam jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan,

menyebabkandepresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayi serta diri sendiri. 4. Pemberian ASI Pendidikan kesehatan untuk ibu nifas dalam pemberian ASI sangat bermanfaat, karena pemberian ASI merupakan cara yang terbaik untuk ibu dan bayi. Oleh karena itu, berikan KIE tentang proses laktasi dan ASI; mengajarkan cara perawatan payudara. 5. Latihan/ senam nifas Pendidikan kesehatan tentang latihan/senam nifas meliputi: mendiskusikan pentingnya

pengembalian otot-otot perut dan panggul kembali normal;menjelaskan beberapa menit setiap hari dapat bantu mempercepat

bahwa latihan tertentu pengembalian otot-

otot perut dan panggulkembali normal. 6. Hubungan seks dan Keluarga Berencana Pendidikan kesehatan tentang seks dan keluarga berencana yaitu:hubungan seks dan KB dapat

dilakukan saat darah nifas sudah berhenti dan ibu sudah merasa nyaman; keputusan untuk segera melakukan hubungan seks dan KB tergantung pada pasangan yang bersangkutan; berikan KIE tentang alat kontrasepsi KB. 7. Tanda-tanda bahaya masa nifas Pendidikan kesehatan tanda-tanda bahaya masa nifas meliputi: berikan pendidikan kesehatantanda bahaya masa nifas untuk mendeteksi komplikasi selama masa nifas. Tanda bahaya berupa : perdarahan menerus sakit saat

dan pengeluaran abnormal, sakit daerah abdomen/punggung, sakit kepala terus /penglihatan kabur/nyeri ulu hati, bengkak pada ekstremitas, demam/muntah/

BAK, perubahan pada payudara, nyeri/ kemerahan pada betis, depresi postpartum.

36

ASKEP POSTNATAL a. Pengkajian I. BIODATA KLIEN Biodata klien berisi tentang : Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Suku Agama Alamat No. Medical Record Identitas Penanggungjawab Nama Suami Umur Pendidikan Pekerjaan Suku Agama Alamat,Tanggal Pengkajian II. KELUHAN UTAMA : :::::::: Ny.I : 27 Tahun ::::::-

Klien mengeluh nyeri pada perineum, klien merasa takut jahitannya akan terbuka jika mau berkemih. III. RIWAYAT HAID :-

(Umur Menarche pertama kali, Lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi, siklus haid, hari pertama haid terakhir, perkiraan tanggal partus.) IV. RIWAYAT PERKAWINAN :-

(Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah perkawinan sah atau tidak, atau tidak direstui orang tua?) V. RIWAYAT OBSTETRI 1. Riwayat kehamilan : P2

(Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, Hasil Laboratorium : USG, Darah, Urine, keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi, upaya mengatasi keluhan, tindakan dan pengobatan yang diperoleh). 37

2. Riwayat persalinan Data yang harus dilengkapi

:0 :

Riwayat persalinan lalu : Jumlah Gravida, jumlah partal, dan jumlah abortus, umur kehamilan saat

bersalin, jenis persalinan, penolong persalinan, BB bayi, kelainan fisik, kondisi anak saat ini. Riwayat nifas pada persalinan lalu : Pernah mengalami demam, keadaan lochia, kondisi

perdarahan selama nifas, tingkat aktifitas setelah melahirkan, keadaan perineal, abdominal, nyeri pada payudara, kesulitan eliminasi, keberhasilan pemberian ASI, respon dan support keluarga. Riwayat persalinan saat ini : Kapan mulai timbulnya his, pembukaan, bloody show,

kondisi ketuban, lama persalinan, dengan episiotomi atau tidak, kondisi perineum dan jaringan sekitar vagina, dilakukan anastesi atau tidak, panjang tali pusat, lama pengeluaran placenta, kelengkapan placenta, jumlah perdarahan. Riwayat New Born : apakah bayi lahir spontan atau dengan induksi/tindakan

khusus, kondisi bayi saat lahir (langsung menangis atau tidak), apakah membutuhkan resusitasi, nilai APGAR skor, Jenis kelamin Bayi, BB, panjang badan, kelainan kongnital, apakah dilakukan bonding attatchment secara dini dengan ibunya, apakah langsung diberikan ASI atau susu formula. VI. RIWAYAT KB & PERENCANAAN KELUARGA : Data yang harus dilengkapi : Kaji pengetahuan klien dan pasangannya tentang kontrasepsi, jenis kontrasepsi yang pernah digunakan, kebutuhan kontrasepsi yang akan datang atau rencana penambahan anggota keluarga dimasa mendatang. VII. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Data yang harus dilengkapi : Penyakit yang pernah diderita pada masa lalu, bagaimana cara pengobatan yang dijalani, dimana mendapat pertolongan. Apakah penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau kambuh berulangulang? VIII. RIWAYAT PSIKOSOSIAL-KULTURAL Data yang harus dilengkapi : Adaptasi psikologi ibu setelah melahirkan, pengalaman tentang melahirkan, apakah ibu pasif atau cerewet, atau sangat kalm. Pola koping, hubungan dengan suami, hubungan dengan bayi, hubungan dengan anggota keluarga lain, dukungan social dan pola komunikasi termasuk potensi keluarga untuk memberikan perawatan kepada klien. Adakah masalah perkawinan, ketidak mampuan merawat bayi baru lahir, krisis keluarga. Blues : Perasaan sedih, kelelahan, kecemasan, bingung dan mudah menangis. Depresi : Konsentrasi, minat, perasaan kesepian, ketidakamanan, berpikir obsesif, rendahnya emosi yang positif, perasaan tidak berguna, kecemasan yang berlebihan pada dirinya atau bayinya, sering cemas saat hamil, 38 : :-

bayi rewel, perkawinan yang tidak bahagia, suasana hati yang tidak bahagia, kehilangan kontrol, perasaan bersalah, merenungkan tentang kematian, kesedihan yang berlebihan, kehilangan nafsu makan, insomnia, sulit Kultur yang dianut termasuk kegiatan ritual yang berhubungan dengan budaya pada perawatan post partum, makanan atau minuman, menyendiri bila menyusui, pola seksual, kepercayaan dan keyakinan, harapan dan cita-cita. IX. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA Data yang harus dilengkapi : Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara genetic, menular, kelainan congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah diderita oleh keluarga. X. PROFIL KELUARGA ::-

(Kebutuhan informasi pada keluarga, dukungan orang terdekat, sibling, type rumah, community seeting, penghasilan keluarga, hubungan social dan keterlibatan dalam kegiatan masyarakat.) XI. KEBIASAAN SEHARI-HARI Data yang harus dilengkapi : Pola nutrisi : pola menu makanan yang dikonsumsi, jumlah, jenis makanan (Kalori, :

protein, vitamin, tinggi serat), freguensi, konsumsi snack (makanan ringan), nafsu makan, pola minum, jumlah, freguensi,. Pola istirahat dan tidur : Lamanya, kapan (malam, siang), rasa tidak nyaman yang

mengganggu istirahat, penggunaan selimut, lampu atau remang-remang atau gelap, apakah mudah terganggu dengan suara-suara, posisi saat tidur (penekanan pada perineum). Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah inkontinensia

(hilangnya infolunter pengeluaran urin), hilangnya kontrol blas, terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi urine karena rasa talut luka episiotomi, apakah perlu bantuan saat BAK. Pola BAB, freguensi, konsistensi, rasa takut BAB karena luka perineum, kebiasaan penggunaan toilet. Personal Hygiene Aktifitas Rekreasi dan hiburan fresh dan relaks. SEXUAL Data yang harus dilengkapi :: : Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut dan

kebersihan genitalia, pola berpakaian, tatarias rambut dan wajah : Kemampuan mobilisasi beberapa saat setelah melahirkan,

kemampuan merawat diri dan melakukan eliminasi, kemampuan bekerja dan menyusui. : Situasi atau tempat yang menyenangkan, kegiatan yang membuat

Bagaimana pola interaksi dan hubungan dengan pasangan meliputi freguensi koitus atau hubungan intim, pengetahuan pasangan tentang seks, keyakinan, kesulitan melakukan seks, continuitas hubungan seksual. 39

Pengetahuan pasangan kapan dimulai hubungan intercourse pasca partum (dapat dilakukan setelah luka episiotomy membaik dan lochia terhenti, biasanya pada akhir minggu ke 3). Bagaimana cara memulai hubungan seksual berdasarkan pengalamannya, nilai yang dianut, fantasi dan emosi, apakah dimulai dengan bercumbu, berciuman, ketawa, gestures, mannerism, dress, suara. Pada saat hubungan seks apakah menggunakan lubrikasi untuk kenyamanan. Posisi saat koitus, kedalaman penetrasi penis. Perasaan ibu saat menyusui apakah memberikan kepuasan seksual. Faktor-faktor pengganggu ekspresi seksual : bayi menangis, perubahan mood ibu, gangguan tidur, frustasi yang disebabkan penurunan libido. XII. KONSEP DIRI : Sikap penerimaan ibu terhadap tubuhnya, keinginan ibu menyusui, persepsi ibu tentang tubuhnya terutama perubahan-perubahan selama kehamilan, perasaan klien bila mengalami opresi SC karena CPD atau karena bentuk tubuh yang pendek. XIII. PERAN Pengetahuan ibu dan keluarga tentang peran menjadi orangtua dan tugas-tugas perkembangan kesehatan keluarga, pengetahuan perubahan involusi uterus, perubahan fungsi blass dan bowel. Pengetahan tentang keadaan umum bayi, tanda vital bayi, perubahan karakteristik faces bayi, kebutuhan emosional dan kenyamanan, kebutuhan minum, perubahan kulit. Ketrampilan melakukan perawatan diri sendiri (nutrisi dan personal hyhiene, payu dara) dan kemampuan melakukan perawatan bayi (perawatan tali pusat, menyusui, memandikan dan mengganti baju/popok bayi, membina hubungan tali kasih, cara memfasilitasi hubungan bayi dengan ayah, dengan sibling dan kakak/nenek). Keamanan bayi saat tidur, diperjalanan, mengeluarkan secret dan perawatan saat tersedak atau mengalami gangguan ringan. Pencegahan infeksi dan jadwal imunisasi. XIV. Mengidentifikasi periode dan perubahan klien post partum Periode Immediate PP, Early PP, Late PP Perubahan psikologi: fase taking in, fase taking hold, fase letting go, fase honey moon XV. PEMERIKSAAN FISIK TB LLA Tanda Vital Kepala Mata Kesimetrisan Keadaan Umum BB : Baik : 65kg : 156cm : : : : : 40

Sklera Konjungtiva Hidung

: :-

Lubang hidung : Ada dan kedua lubang hidung simetris( pada kasus tidak terkaji) Cuping hidung : Ada/tdk( pada kasus tidak terkaji) Mulut dan Lidah Palatum : Normal/tdk(tidak terkaji)

Warna palatum : Merah muda/tdk(tidak terkaji) Warna lidah Telinga Kesimetrisan Warna Daun telinga Lekuk telinga : Simetris antara kiri dan kanan(tidak terkaji) : Sama dengan kulit wajah(tidak terkaji) : ada (tidak terkaji) : ada (tidak terkaji) : Merah muda (tidak terkaji)

Cairan yang keluar: ada /tidak ada lesi(tidak terkaji) Leher Kelenjar Thyroid JVP KGB Dada DJA Gerakan Mamae :: : Pembesaran, simetris, pigmentasi, warna kulit, keadaan areola dan puting : ada/Tidak ada pembesaran(tidak terkaji)

: ada/Tidak ada peninggian(tidak terkaji) : ada/Tidak ada pembesaran(tidak terkaji)

susu, stimulation nepple erexi. Kepenuhan atau pembengkakan, benjolan, nyeri, produksi laktasi/kolostrum. Perabaan pembesaran kelenjar getah bening diketiak. Abdomen (kontraksi uterus, mengukur diastasis rektus abdominus, involusio uteri, distensi kandung kemih, after pains, observasi luka post SC. Anogenital : Keadaan luka episiotomy, echimosis, edema, kemerahan, eritema, drainage.

Lochia (warna, jumlah, bau, bekuan darah atau konsistensi , 1-3 hr rubra, 4-10 hr serosa, > 10 hr alba Muskoloskeletal : Tanda Homan, edema, tekstur kulit, nyeri bila dipalpasi, kekuatan otot.

XVI. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Darah : Hemoglobin dan Hematokrit 12-24 jam post partum (jika Hb < 10 g% dibutuhkan suplemen FE), eritrosit, leukosit, Trombosit. Klien dengan Dower Kateter diperlukan culture urine. b. Analisa Data 41

No 1

Data DS : Klien mengeluh nyeri pada perineum

Etiologi Robekan jalan lahir

Masalah Nyeri

Terputusnya kontinuitas jaringan

DO :Terdapat jahitan, Ruptur perineum grade 2

Robekan jalan lahir

Terputusnya kontinuitas jaringan

Jaringan melepaskan zat-at bradikinin dan histamin

Merangsang syaraf perifer

Dihantarkan melalui spinal cord menuju thalamus

Korteks cerebri

Nyeri dipersepsikan

Nyeri 2. DS : Bendungan ASI/Penyebab lain Proses menyusui DO : ASI (-) Payudara simetris kanan dan kiri, hiperpigmentasi pada aerola mammae, Proses menyusui terganggu Tidak bisa menyusui bayi ASI tidak keluar kurang efektif

puting exverted. Menyusui kurang efektif 3. DS : Klien merasa takut Robekan perineum Persalinan Gangguan eliminasi: retensi urin

jahitannya akan terbuka (lepas) berkemih. Sampai saat ini setelah 4 jam melahirkan klien jika mau

Perioneograhy

Kurang pengetahuan

belum berani berkemih. 42

Kekhawatiran untuk DO : Terdapat jahitan, ruptur Retensi urin Proses persalinan Risiko infeksi DO :Perlukaan jalan lahir tinggi Berkemih

perineum grade 2 4. DS :

Merupakan media berkembang-biaknya kuman phatogen

Risiko tinggi infeksi c. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat ruptur perineum ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada perineum, terdapat jahitan, dan ruptur perineum grade 2. 2. Proses menyusui kurang efektif berhubungan dengan tidak adanya air susu ibu yang keluar yang ditandai dengan keluaran ASI (-), payudara simetris kanan dan kiri, hiperpigmentasi pada aerola mammae, puting exverted. 3. Gangguan eliminasi: retensi urin berhubungan dengan trauma jalan lahir atau jaringan akibat luka episiotomi yang ditandai dengan klien merasa takut jahitannya akan terbuka (lepas) jika mau berkemih, sampai saat ini setelah 4 jam melahirkan klien belum berani berkemih, terdapat jahitan, ruptur perineum grade 2. 4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka pada perineum. d. Intervensi Keperawatan No Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat ruptur perineum ditandai dengan: DS: Klien Setelah dilakukan Observasi tingkat, lokasi dan sifat nyeri. Agar mengidentifikasikan kebutuhan Observasi vital. Observasi keadaan luka wajah perineum tanda-tanda perawatan dan dapat Tujuan Intervensi Keperawatan Rasional

asuhan keperawatan dalam x 24 jam, nyeri sampai hilang dengan kriteria hasil: Klien tidak mengeluh nyeri, berkurang dengan

pemberian as-kep yang tepat. Perubahan menunjukkan rangsangan nyeri. Dapat menunjukkan adanya trauma berlebihan/ komplikasi yang memerlukan intervensi tanda vital

terjadinya

mengeluh Ekspresi

43

nyeri perineum,

pada cerah, Tanda vital dalam batas normal. T: 110-120/80mmHg Anjurkan dengan ruptur S : 36 37 oC

lebih lajut. Dapat mengurangi tekanan

langsung pada perineum. untuk otot duduk gluteal ganjalan

DO:

Terdapat jahitan, N: 80 x /menit dan

terkontraksi dan gunakan bantal Beri lembab antara sebagai Meningkatkan sirkulasi pada perineum, panas duduk 42oC mening-katkan

perineum grade 2.

sewaktu duduk. kompres (rendam 38oC s/d

oksigenasi dan nutrisi pada jaringan menurunkan edema dan penyembuhan. Mengalihkan perhatian klien. meningkatkan

selama 20 menit setelah 24jam

Gunakan teknik distraksi, imagery, sentuhan Meningkatkan klien. kenyamanan

terapeutik, relaksasi dan interaksi dengan bayi. Berikan posisi yang

menyenangkan bagi klien, bila perlu posisi miring. 2. Proses menyusui Setelah kurang dilakukan Kaji pengetahuan klien tentang pengalaman Membantu mengidentifikasi dalam kebutuhan efektif perawatan dalam x 24 jam, klien bisa tidak memberikan ASI bayinya, sudah bisa Tentukan sistem

berhubungan dengan

menyusui sebelumnya.

saat ini dan mengembangkan rencana perawatan. Meningkatkan dukungan yang cukup untuk meningkatkan untuk bisa

adanya air susu untuk

ibu yang keluar dengan kriteria hasil: yang dengan: DS: DO: Keluaran ASI (-), Payudara simetris kanan dan kiri, ditandai Ibu

pendukung yang tersedia pada klien. Berikan informasi secara verbal, dan tertulis,

kesempatan

menyusui bayinya

menyusui dengan berhasil Agar klien bisa memahami pentinganya menyusui dan

berusaha untuk bisa menyusui bayinya.

mengenai fisiologi dan keuntungan dan menyusui puting

perawatan

44

Hiperpigmentasi pada aerola

payudara. Berikan informasi

mammae, puting exverted.

kepada klien tentang cara menyusui yang baik dan benar. Kaji puting klien. Untuk mengetahui tindakan

yang akan diberikan. Instruksikan klien untuk menghindari penggunaan pelindung puting kecuali secara diindikasikan. 3. Gangguan Setelah dilakukan Palpasi kandung kemih, pantau tinggi fundus dan lokasi serta jumlah aliran lochia. Berikan mengenai menahan berkemih. Berikan mengenai episiotomi informasi luka jahitan (cara Agar klien tidak merasa takut ketika ingin berkemih. tanda-tanda informasi akibat dari proses Agar klien memahami dan tidak menahan keinginan untuk berkemih. Untuk menegtahui apakah ada distensi atau tidak. eliminasi: retensi perawatan dalam x urin berhubungan 24 jam, klien mampu dengan trauma berkemih, dengan khusus

Diketahui

bisa

menambah

kegagalan laktasi

jalan lahir atau kriteria hasil: jaringan luka yang dengan: DS: Klien takut akan merasa jahitannya terbuka akibat Nyeri

episiotomi berkurang,tidak ditandai adanya infeksi,dan ibu sudah mau untuk berkemih

perawatan, pengaruhnya terhadap berkemih). Pantau intake dan output cairan. Stimulasi klien untuk bisa berkemih. Kaji tanda-tanda ISK. dengan kateter indwelling, Membantu pengeluaran urin Untuk mengetahui apakah

(lepas) jika mau berkemih, sampai saat ini setelah 4 jam klien melahirkan belum

output dengan intake sesuai. Meningkatkan keinginan klien untuk berkemih. Agar bisa mencegah secara dini

berani berkemih.

Kolaborasi Kateterisasi

DO: Terdapat jahitan, Ruptur perineum

menggunakan lurus atau

sesuai indikasi. 45

grade 2. 4. Resiko infeksi berhubungan dengan luka perineum. tinggi Setelah perawatan dilakukan selama Observasi infeksi. Ukur dan obser-vasi vital batas Lakukan perawatan luka episiotomi dengan tehnik septik dan anti septik. Kompres luka hecting dengan bethadine. HE kepada klien untuk menjaga hygiene. Kolaborasi Penatalaksanaan pemberian antibiotik. Dapat menghambat pempersonal Untuk mencegah terkon Lakukan vulva hygiene. tanda-tanda Untuk mengetahui tanda/ gejala awal terjadinya infeksi. Perubahan tanda vital dijadikan indikator peradangan. Vulva yang kotor dan lembab dapat dijadikan tempat adanya proses

x 24 jam, infeksi

adanya tidak terjadi dengan pada kriteria hasil: Luka kering. Tanda dalam normal. T : 110/70 mmHg S : 36.4 C N : 80 x /menit D : 20 x /menit Tidak ada tandatanda infeksi Rubor Color Dolor Fungsilesia
o

tanda-tanda vital nampak

berkembang biak-nya kuman. Bethdine dan membunuh kuman proses

mempercepat

penyembuhan,

taminasinya kuman pada klien. Untuk mempercepat luka proses atau

penyembuhan mencegah infeksi.

bentukan dinding sel bakteri dan membunuh kuman patogen.

46

Bayi Baru Lahir 1. Definisi Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan BB lahir 2500 gr sampai 4000 gr. Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 28 hari. 2. Adaptasi Bayi di Luar Kandungan a. Sistem Kardiovaskular Sistem kardiovaskuler mengalami perubahan yang mencolok setelah bayi lahir. Foramen ovale, duktus arteriosus, dan duktus venosus menutup. Arteri umbilikalis, vena umbilikalis, dan arteri hepatika menjadi ligamen. Napas pertama yang dilakukan bayi baru lahir membuat paru-paru berkembang dan menurunkan resistensi vaskuler pulmoner, sehingga sarah paru mengalir. Tekanan arteri pulmoner menurun. Rangsangan peristiwa ini merupakan mekanisme besar yang menyebabkan tekanan atrium kanan menurun. Aliran darah pulmoner kembali meningkat ke jantung dan masuk ke jantung dan masuk ke jantung bagian kiri, sehingga tekanan dalam atrium kiri meningkat. Perubahan tekanan ini menyebabkan foramen ovale menutup. Selama beberapa hari pertama kehidupan, tangisan dapat mengembalikan aliran darah melalui foramen ovale untuk sementara dan mengakibatkan sianosis ringan. Bunyi dan Denyut Jantung Frekuensi denyut jantung bayi rata-rata 140 kali/menit saat lahir, dengan variasi berkisar antara 120-160 kali/menit. Frekuensi saat bayi tidur berbeda dari saat bayi bangun. Pada usia satu minggu, frekuensi denyut jantung bayi rata-rata ialah 128 kali/menit saat tidur dan 163 kali/menit saat bangun. Pada usia satu bulan, frekuensi 138 kali/menit saat tidur dan 167 kali/menit saat bangun. Aritmia sinus (denyut jantung yang tidak teratur) pada usia ini dapat 47

dipersepsikan sebagai suatu fenomena fisiologis dan sebagai indikasi fungsi jantung yang baik (Lowrey, 1986). Bunyi jantung bayi setelah lahir terdengar sebagai suara lub, dub, lub, dub. Bunyi lub dikaitkan dengan penutupan katup mitral dan trikuspid pada permulaan sistol dan bunyi dub dikaitkan dengan penutupan katup aortik dan katup pulmoner pada akhir sistol. Bunyi jantung selama periode neonatal bernada tinggi (high pitch), lebih cepat (short in duration), dan memiliki intensitas yang lebih besar dari bunyi jantung orang dewasa. Volume dan Tekanan Darah Tekanan darah sistolik bayi baru lahir ialah 78 dan tekanan diastolik rata-rata ialah 42. Tekanan darah berbeda dari hari ke hari selama bulan pertama kehamilan. Tekanan darah sistolik bayi sering menurun sekitar (15 mmHg) selama satu jam pertama setelah lahir. Menangis dan bergerak biasanya menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik. Volume darah bayi baru lahir bervariasi dari 80-110 ml/kg selama beberapa hari pertama dan meningkat dua kali lipat pada akhir tahun pertama. Secara proporsional, bayi baru lahir memiliki volume darah sekitar 10% lebih besar dan memiliki jumlah sel darah merah hampir 20% lebih banyak dari orang dewasa. Akan tetapi, darah bayi baru lahir mengandung volume plasma sekitar 20% lebih kecil bila dibandingkan dengan kilogram berat badan orang dewasa. b. Sistem Hematopoiesis Saat bayi lahir, nilai rata-rata hemoglobin, hematokrit, dan SDM lebih tinggi dari nilai normal orang dewasa. Hemoglobin bayi baru lahir berkisar antara 14,5 sampai 22,5 g/dL. Hematokrit bervariasi dari 44% sampai 72% dan hitung SDM berkisar antara 5 sampai 7,5 juta/mm3. Secara berturut-turut, hemoglobin dan hitung SDM menurun sampai mencapai kadar rata-rata 11-17 g/dL dan 4,2-5,2/mm3 pada akhir bulang pertama. Leukosit janin dengan nilai hitung sel darah putih sekitar 18.000/mm3merupakan nilai normal saat
3

bayi

lahir.

Biasanya

kadar

sel

darah

putih

dipertahankan

sekitar

11.500/mm selama periode neonatal. Berlawanan dengan orang dewasa, hitung SDP pada bayi baru lahir tidak meningkat secara bermakna bila janin tersebut terinfeksi. Kecenderungan perdarahan pada bayi baru lahir jarang terjadi, pembekuan darah cukup untuk mencegah perdarahan hanya jika terjadi defisiensi vitamin K berat. Golongan darah bayi baru lahir ditentukan pada awal kehidupan janin. Akan tetapi, selama periode neonatal terjadi peningkatan kemampuan aglutinogen membran SDM secara bertahap. c. Sistem Pernapasan Penyesuaian paling kritis yang harus dialami BBL ialah penyesuaian sistem pernapasan. Paru-paru bayi cukup bulan mengandung sekitar 20 ml cairan/kg (Blackburn, Loper, 1992). Udara harus diganti oleh cairan yang mengisi traktus respiratorius sampai alveoli. Pada kelahiran per vaginam normal, sejumlah kecil cairan keluar dari trakea dan paru-paru bayi. 48

Dalam satu jam pertama kehidupan bayi, sistem limfatik paru secara kontinu mengeluarkan cairan dalam jumlah besar. Pengeluaran cairan ini juga diakibatkan perbedaan tekanan dari alveoli sampai jaringan interstisial dan sampai kapiler pembuluh darah. Penurunan resistensi mempermudah aliran cairan paru-paru ini. Pernapasan abnormal dan kegagalan paru untuk mengembang dengan sempurna mengganggu aliran cairan paru janin dari alveoli dan interstisial ke sirkulasi pulmoner. Retensi cairan ini akan menganggu kemampuan bayi memperoleh oksigen yang cukup. Tarikan napas pertama terjadi. Hal ini disebabkan oleh refleks yang dipicu oleh perubahan tekanan, pendinginan, bunyi, cahaya, dan sensasi lain yang berkaitan dengan proses kelahiran. Apabila perubahan yang terjadi sangat ekstrem, depresi pernapasan dapat terjadi. Pada kebanyakan kasus, timbul reaksi pernapasan yang berlebihan sehingga bayi mulai menarik napas yang pertama dan menangis. Pola pernapasan tertentu menjadi karakteristik BBL normal yang cukup bulan. Setelah pernapasan mulai berfungsi, napas bayi menjadi dangkal dan tidak teratur, bervariasi dari 30-60 kali per menit, disertai apnea singkat (kurang dari 15 detik). Periode apnea singkat ini paling sering terjadi selama siklus tidur aktif (rapid eye movement/REM). Durasi dan frekuensi apnea menurun seiring peningkatan usia. Periode apnea lebih dari 15 detik harus dievaluasi. Bayi baru lahir biasanya bernapas melalui hidung. Respons bayi terhadap obstruksi hidung ialah membuka mulut untuk mempertahankan jalan napas. Kebanyakan bayi tidak memiliki respons ini sampai berusia tiga minggu. Oleh karena itu, asfiksia dan sianosis dapat terjadi akibat obstruksi hidung. Lingkaran dada berukuran kurang lebih 30 sampai 33 cm saat bayi lahir. Auskultasi dada bayi baru lahir akan menghasilkan bunyi napas yang bersih dan keras dan bunyi terdengar sangat dekat karena jaringan pada dinding dada masih tipis. Tulang iga bayi berartikulasi dengan tulang dada secara horizontal, bukan membentuk sudut ke bawah. Akibatnya, rongga dada bayi tidak mengembang sebaik orang dewasa saat paru inspirasi. Fungsi pernapasan neonatus terutama terbentuk akibat kontraksi diafragma. Tekanan intratoraks negatif terjadi akibat penurunan diafragma. Hal ini hampir sama dengan tekanan negatif yang terjadi pada tabung suntikan ketika akan mengambil obat dari ampul. Dada dan abdomen pada BBL naik secara simultan saat inspirasi. d. Sistem Ginjal Pada BBL, hampir semua massa yang teraba di abdomen berasal dari ginjal. Fungsi ginjal yang mirip dengan fungsi orang dewasa belum terbentuk pada tahun kedua kehidupan. BBL memiliki rentang keseimbangan kimia dan rentang keamanan yang kecil. Infeksi, diare atau pola makan yang tidak teratur secara cepat dapat menimbulkan asidosis dan ketidakseimbangan cairan, seperti dehidrasi atau edema. Ketidakmaturan ginjal juga membatasi kemampuan BBL untuk mengekskresi obat. 49

Biasanya sejumlah kecil urine terdapat dalam kandung kemih saat lahir, tetapi bayi baru lahir mungkin tidak mengeluarkan urine selama 12 sampai 24 jam. Berkemih sering terjadi setelah periode ini. Berkemih enam sampai 10 kali dengan warna urine pucat menunjukkan masukan cairan yang cukup. Umumnya, bayi cukup bulan mengeluarkan urine 15 sampai 60 ml per kilogram per hari. Perbedaan keseimbangan cairan dan elektrolit BBL dari respons fisiologis orang dewasa ialah sebagai berikut : 1. Distribusi cairan ekstrasel dan intrasel bayi berbeda dari cairan ekstrasel dan intrasel orang dewasa. Sekitar 40% berat badan BBL terdiri dari cairan ekstrasel, sedangkan pada orang dewasa, angka tersebut 20%. 2. Kecepatan pertukaran cairan ekstrasel berbeda. Setiap hari BBL memasukkan dan mengeluarkan 600-700 ml air yang ekivalen dengan 20% total cairan tubuh atau 50% cairan ekstrasel. 3. Terdapat variasi komposisi cairan tubuh. Konsentrasi natrium, fosfat, klorida, dan asam organik lebih tinggi dan konsentrasi ion bikarbonat lebih rendah pada BBL. Data ini memiliki makna bahwa BBL berada dalam kondisi asidosis terkompensasi. 4. Kecepatan GFR ialah 30% pada BBL, sebaliknya pada orang dewasa, 50%. Hal ini menyebabkan kemampuan untuk mengeluarkan senyawa yang mengandung nitrogen dan sampah lain dari darah menurun. Akan tetapi, pencernaan BBL memetabolisme hampir semua protein pertumbuhan. 5. Penurunan kemampuan untuk mengeksresi kelebihan natrium menyebabkan urine hipotonik, bila dibandingkan dengan plasma. 6. Reabsorpsi natrium menurun akibat aktivitas sodium-potassium-activated

adenosinetriphosphatase (ATP-ase) rendah. 7. BBL dapat mengencerkan urine sampai 50 miliosmol (mOsm). Kapasitas untuk mengencerkan urine melampaui kapasitas untuk mengonsentrasinya. Terdapat keterbatasan kemampuan untuk meningkatkan volume urine. 8. BBL dapat mengonsentrasi urine dari 600-700 mOsm sedangkan kapasitas orang dewasa ialah 1400 mOsm. Ketidakmampuan mengonsentrasi urine tidak bersifat absolut, tetapi dibandingkan orang dewasa, kemampuan BBL terbatas. Berat jenis urin bayi baru lahir berkisar antara 1,005 sampai 1,015. 9. Bayi baru lahir memiliki ambang glukosa yang lebih tinggi. e. Sistem Pencernaan BBL cukup bulan belum mampu menelan, mencerna, memetabolisme, dan mengabsorpsi protein dan karbohidrat sederhana, serta mengemulsi lemak. Kecuali amilase pankreas, karakteristik enzim dan cairan pencernaaan bahkan sudah ditemukan pada bayi yang berat badan lahirnya rendah. 50

Suatu mekanisme khusus, yang terdapat pada BBL normal dengan berat lebih dari 1500 g, mengoordinasi refleks pernapasan, refleks menghisap, dan refleks menelan yang diperlukan pada pemberian makan pada bayi. BBL melakukan tiga sampai empat isapan kecil setiap kali mengisap. BBL tidak mampu memindahkan makanan dari bibir ke faring, sehingga putting susu (atau botol susu) harus diletakkan cukup dalam di mulut bayi. Saat bayi lahir, tidak terdapat bakteri dalam saluran cernanya. Segera setelah lahir, orifisium oral dan orifisium anal memungkinkan bakteri dan udara masuk. Bising usus bayi dapat didengar satu jam setelah lahir. Biasanya konsentrasi bakteri tertinggi terdapat di bagian bawah usus halus dan terutama di usus besar. Flora normal usus membantu sintesis vitamin K, asam folat, dan biotin. Kapasitas lambung bervariasi dari 30-90 ml, tergantung pada ukuran bayi. Waktu pengosongan lambung sangat bervariasi. Beberapa faktor, seperti waktu pemberian makan dan volume makanan, jenis dan suhu makanan, serta stress psikis dapat mempengaruhi waktu pengosongan lambung. Pencernaan Keasaman lambung bayi saat lahir umumnya sama dengan keasaman lambung orang dewasa, tetapi akan menrun dalam satu minggu dan tetap rendah selama dua sampai tiga bulan. Pencernaan dan absorpsi nutrien lebih lanjut berlangsung di usus halus. Sekresi pankreas, sekresi dari hati melalui saluran empedu, dan sekresi dari duodenum membaut proses yang kompleks ini dapat berlangsung. Kemamupuan bayi baru lahir untuk mencerna karbohidrat, lemak dan protein diatur oleh beberapa enzim tertentu. Kebanyakan enzim ini telah berfungsi saat bayi lahir, kecuali enzim amilase dan lipase. Oleh karena itu, BBL yang normal mampu mencerna karbohidrat sederhana dan protein, tapi terbatas dalam mencerna lemak. Tinja Saat lahir, usus bayi bagian bawah penuh dengan mekonium. Mekonium yang dibentuk selama janin dalam kadungan berasal dari cairan amnion dan unsur-unsurnya, dari sekresi usus dan dari sel-sel mukosa. Mekonium berwarna hijau kehitaman, konsistensinya kental, dan mengandung darah samar. Mekonium pertama yang keluar steril, tetapi beberapa jam kemudian semua mekonium yang keluar mengandung bakteri. Sekitar 60% bayi normal yang cukup bulan mengeluarkan mekonium dalam 12 jam pertama kehidupannya. Jumlah feses pada BBL cukup bervariasi selama minggu pertama dan jumlah paling banyak antara hari ketiga dan keenam. Feses transisi (kecil-kecil, berwarna coklat sampai hijau akibat adanya mekonium) dikeluarkan sejak hari ketiga sampai keenam. BBL yang diberi makan lebih awal akan lebih cepat mengeluarkan tinja daripada mereka yang diberi makan kemudian. Tinja dari bayi yang disusui ibunya dan tinja dari bayi yang minum susu

51

botol tidak sama. Tinja dari bayi yang disusui lebih lunak, berwarna kuning emas dan tidak mengiritasi kulit bayi. Distensi otot lambung menimbulkan relaksasi dan kontraksi otot kolon. Akibatnya, bayi sering buang air besar saat diberi makan atau segera setelah itu. Keadaan ini dikenal dengan refleks gastrokolik. Bayi mulai memiliki pola defekasi pada minggu kedua kehidupannya. Dengan tambahan makanan padat, tinja bayi secara bertahap mulai menyerupai tinja orang dewasa. Perilaku pemberian makan Selera makan, gejala lapar, dan jumlah makanan yang dikonsumsi bayi setiap kali makan berbeda-beda. Jumlah yang dapat dimakan pada setiap pemberian makan tentunya tergantung pada ukuran bayi, tetapi ada faktor lain yang juga menentukan. Misalnya, saat bayi didekatkan ke payudara ibu, beberapa bayi dapat dengan segera mengisap dengan baik, sedangkan bayi lain membutuhkan waktu sampai 48 jam untuk belajar mengisap susu dari payudara ibu dengan baik. Gerakan tangan ke mulut secara acak dan gerakan mengisap jari sudah terlihat saat janin masih dalam kandungan. Tindakan ini semakin berkembang saat bayi lahir dan semakin intensif saat bayi lahir.

f. Sistem Hepatika Penyimpanan besi Apabila ibu mendapat cukup asupan besi selama hamil, bayi akan memiliki simpanan besi yang dapat bertahan sampai bulan kelima kehidupannya di luar rahim. g. Sistem Imun Sel yang menyuplai imunitas bayi berkembang pada awal kehidupan janin. Namun, sel-sel ini tidak aktif selama beberapa bulan. Selama tiga bulan pertama kehidupan, bayi dilindungi oleh kekebalan pasif yang diterima dari ibu. Bayi mulai menyintesis IgG dan mencapai sekitar 40% kadar IgG orang dewasa pada usia 9 bulan. IgA, IgD, dan IgE diproduksi secara lebih bertahap dan kadar maksimum tidak dicapai sampai pada masa kanak-kanak dini. Bayi yang menyusui mendapat kekebalan pasif dari kolostrum dan ASI. Tingkat proteksi bervariasi tergantung pada usia dan kematangan bayi serta sistem imunitas yang dimiliki ibu. h. Sistem Integumen Semua struktur kulit bayi sudah terbentuk saat lahir, tetapi masih belum matang. Epidermis dan dermis tidak terikat dengan baik dan sangat tipis. Verniks Caseosa juga berfusi dengan epidermis dan berfungsi sebagai lapisan pelindung. Kulit bayi sangat sensitif dan dapat rusak dengan mudah. Kulit sering terlihat berbercak, terutama di daerah sekitar ekstremitas. Tangan dan kaki terlihat sedikit sianotik. 52

Kaput suksedanum Kaput suksedanum ialah edema pada kulit kepala, yang ditemukan dini. Tekanan verteks yang lama pada serviks menyebabkan pembuluh darah setempat mendapat penekanan, sehingga memperlambat aliran balik vena. Aliran balik vena yang melambat membuat cairan jaringan di kulit daerah kepala meningkat, shingga terjadi pembengkakan. Tonjolan edema, yang terlihat saat bayi lahit, memanjang sesuai garis sutura tulang tengkorank dan lenyap secara spontan dalam tiga sampai 4 hari. Kelenjar Lemak dan Kelenjar Keringat Kelenjar keringat sudah ada sejak bayi lahir, tetapi kelenjar ini tidak berespons terhadap peningkatan suhu tubuh. Terjadi sedikit hiperplasia kelenjar sebasea dan sekresi sebum akibat pengaruh hormon saat hamil. Walaupun kelenjar sebasea seuda terbentuk dengan baik saat bayi lahir, tetapi kelenjar ini tidak terlalu aktif pada masa kanak-kanak. Kelenjarkelenjar ini mulai aktif saat produksi androgen meningkat, yakni sesaat sebelum pubertas. i. Sistem Reproduksi Wanita Saat lahir ovarium bayi berisi beribu-ibu sel germinal primitif. Sel-sel ini mengandung komplemen lengkap ova yang matur karena tidak terbentuk oogonia lagi setelah bayi cukup bulan lahir. Korteks ovarium, yang terutama terdiri dari folikel promordial, membentuk bagian ovarium yang lebih tebal pada bayi baru lahir daripada oran dewasa. Jumlah ovum berkurang sekitar 90% sejak bayi lahir sampai dewasa. Genitalia eksterna biasanya edematosa disertai pigmentasi yang lebih banyak. Pada bayi baru lahir cukup bulan, labia mayora dan minora menutupi vestibulum. Pada bayi prematur, klitoril menonjol dan labia mayora kecil dan terbuka. Pria Testis turun ke dalam skrotum pada 90% BBL laki-laki. Walaupun presentasi ini menurun pada kelahiran prematur, pada usia satu tahun insiden testis tidak turun pada semua anak laki-laki berjumlah kurang dari 1%. Spermatogenesis tidak terjadi sampai pubertas. Prepusium yang ketat seringkali dijumpai pada bayi baru lahir. Muara uretra dapa tertutup prepusium dan tidak dapat ditarik ke belakang selama tiga sampai empat tahun. j. Sistem Skelet Kepala bayi cukup bulan berukuran seperempat panjang tubuh. Lengan sedikit lebih panjang daripada tungkai. Wajah relatif kecil terhadap ukuran tengkorak yang, jika dibandingkan, lebih besar dan berat. Ukuran dan bentuk kranium dapat mengalami distorsi akibat molase. Pada BBL, lutut saling berjauhan saat kaki diluruskan dan tumit disatukan, sehingga tungkai bawah terlihat agak melengkung. Saat baru lahir, tidak terlihat lengkungan pada telapak kaki.

53

Ekstremitas harus simetris. Harus terdapat kuku jari tangan dan kaki. Garis-garis telapak tangan sudah terlihat. Terlihat juga garis pada telapak kaki bayi cukup bulan. k. Sistem Neuromuskular Pertumbuhan otak setelah lahir mengikuti pola pertumbuhan cepat, yang dapat diprediksi selama periode bayi sampai awal masa kanak-kanak. Pertumbuhan ini menajdi lebih bertahap selama sisa dekade pertama dan minimal selama masa remaja. Pada akhir tahun pertama, pertumbuhan serebelum, yang dimulai pada usia kehamilan sekitar 30 minggu, berakhir. Mungkin inilah penyebab otak rentan terhadap trauma nutrisi dan trauma lain semasa bayi. Aktivitas motorik spontan dapat muncul dalam bentuk tremor sementara di mulut dan di dagu, terutama sewaktu menangis, dan pada ekstremitas, terutama pada lengan dan tangan. Tremor ini normal. Kontrol neuromuskular pada BBL, walaupun masih sangat terbatas, dapat ditemukan. Apabila bayi baru lahir diletakkan di atas permukaan yang keras dengan wajah menghadap ke bawah, bayi akan memutar kepalanya ke samping untuk mempertahankan jalan napas. Bayi berusaha mengangkat kepalanya supaya tetap sejajar dengan tubuhnya bila kedua lengan bayi ditarik ke atas hingga kepala terangkat. l. Sistem Termogenik Termogenesis berarti produksi panas. Perawatan neonatus yang efektif didasarkan pada upaya mempertahankan suhu optimum udara di ruangan. Suhu tubuh dipertahankan supaya tetap berada pada batas sempit suhu tubuh normal dengan memproduksi panas sebagai respons terhadap pengeluaran panas. Hipotermia akibat pengeluaran panas secara berlebihan adalah masalah yang membahayakan hidup BBL. Kemampuan BBL untuk memproduksi panasa seringkali mendekati kapasitas orang dewasa. Akan tetapi, kecenderungan pelepasan panas yang cepat pada lingkungan yang dingin lebih besar dan sering menjadi suatu keadaan yang membahayakan bayi baru lahir. Produksi Panas Mekanisme produksi panas dengan cara menggigil jarang terjadi pada bayi baru lahir. Termogenesis tanpa menggigil dapat dicapai, terutama akibat adanya lemak coklat yang unik pada BBL dan kemudian dibentuk akibat peningkatan aktivitas metabolisme di otak, di jantung, dan di hati. Lemak coklat terdapat dalam cadangan permukaan, yeitu di daerah interskapula dan di aksila, serta di bagian yang lebih dalam, yaitu di pintu masuk toraks, di sepanjang kolumna vertebralis dan di sekitar ginjal. Lemak coklat memiliki vaskularisasi dan persarafan yang lebih kaya daripada lemak biasa. Panas yang dihasilkan aktivitas metabolisme lipid di dalam lemak coklat dapat menghangatkan BBL dengan meningkatkan produksi panas sebesar 100%. Cadangan lemak coklat ini biasanya bertahan lama selama beberapa minggu setelah bayi lahir dan menurun dengan cepat jika terjadi stress dingin. Bayi yang tidak matur memiliki cadangan lemak coklat yang lebih sedikit saat lahir. 54

3. Penampilan Bayi Baru Lahir Pada dasarnya bayi baru lahir sudah memiliki penampilan atau ciri-ciri dan perilaku yang khusus. 1. Kebanyakan bayi baru lahir memiliki tubuh yang tidak proporsional. Ukuran kepala dan badannya tidak sebanding. Berbeda sekali dengan penampilan anak-anak dan orang dewasa pada umumnya. Perbedaan yang mencolok ini disebabkan oleh titik tengah tinggi badan bayi berada di pusat sedangkan orang dewasa berada di bagian kelamin. 2. Warna kulit kemerah-merahan dan terkadang terdapat lapisan berwarna putih keruh. Lapisan ini disebut vernik caseosa berfungsu untuk melindungi bayi dari infeksi saat ia berada dalam uterus dan untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat setelah keluar dari rahim ibu. 3. Tubuh bayi yang baru saja dilahirkan terbungkus kulit berwarna cyanosis dan berkeriput disebabkan karena masih sedikitnya jumlah jaringan lemak bawah kulit. Keriput akan hilang sesuai dengan bertambahnya berat badan bayi. 4. Lemak subkutan cukup tebal 5. Bentuk kepala cenderung kerucut disebabkan oleh gaya yang bekerja saat proses persalinan dan juga sebagai akibat tulang tengkoarak yang tumpang tindih (molase). 6. Ukuran lingkar kepala, antara lain: Fronto Oksipital 34 cm, Mento Oksipital 35 cm, Suboksipito Bregmatika 32 cm 7. Ubun-ubun berdenyut karena belahan-belahan tulang tengkorknya belum menyatu dan mengeras dengan sempurna. Seiring dengan semakin sempurnanya proses penyatuan tulangtulang tengkorak(kira-kira setelah 2 tahun) denyut di kepalanya akan hilang, yang bisa dilakukan adalah dengan membersihkan rambut dan kepalanya dengan shampo khusus bayi dan segera keringkan, hindari menyentuh dan menekan bagian kepalanya yang berdenyutdenyut itu, baik saat mencuci rambut atau menggendongnya. 8. Rambut lanugo dan rambut kepala tumbuh dengan baik 9. Mata bayi tampak keluar garis atau juling selama 2 -3 bulan pertama disebabkan karena pada beberapa saat setelah kelahiran, bayi baru membuka matanya dan melihat lingkungan disekitar. Penglihatannya baik namun belum terlalu fokus. 10. Wajah sembab, kelopak mata terlihat bengkak atau menggembung terjadi karena bendungan yang muncul karena tekanan jalan lahir. Dalam 1 atau 2 hari bengkak pada wajah akan hilang. Yang bisa dilakukan dengan menghindari posisi tidur telungkup atau menyamping untuk mengurangi tekanan pada wajah, bila ada benjolan atau bekas tekanan alat forcep pada kepala tampak sedikit bengkak, hindari menyentuh bagian tersebut sampai bengkaknya hilang. 11. Mata berair disebabkan karena saluran hidung belum sempurna sehingga mengakibatkan aliran air mata yang diproduksi menjadi tidak lancar. Keadaan seperti ini dapat diatasi 55

dengan mengurut kulit sepanjang saluran tersebut dimulai dari kulit pinggir mata ke arah pinggir hidung bagian bawah 12. Sensitif terhadap cahaya terang, yang menyebabkan mata bayi akan berkedip, dapat mengenali pola-pola hitam putih tang tercetak tebal dan bentuk wajah manusia. Jarak focus adalah sekitar 15-20 cm 13. Bayi akan bereaksi dengan menggerakan matanya bila mendengar suara-suara yang nyaring. Ia lebih menyukai suara yang lembut dengan pola yang sama. Jika mendengar suara yang tiba-tiba, bayi akan bereaksi dengan menggerakan anggota tubuhnya. 14. Kumisan, sisa lanugo (rambut janin) belum luruh semuanya. Selain kumis, bayi perempuan juga sering tampak berambut pada bahu dan punggungnya. Dalam beberapa minggu, kulit bayi akan tampak bersih dari rambut-rambut dan kumis itu. Yang bisa dilakukan dengan memandikan bayi untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kulitnya, tidak perlu repot mencukurnya karena rambut dan kumis tersebut akan rontok dengan sendirinya. 15. Aktifitas/gerakan aktif, ektremitas biasanya dalam keadaan fleksi 16. Kaki dan tangannya pucat dan dingin. Sistem sirkulasi dan peredaran darah bayi baru lahir belum berkembang sempurna, sehingga tubuhnya memprioritaskan mengalirakan darah ke organ-organ tubuh yang epnting seprti otak, paru-paru dan jantung. Tangan dan kaki adalah organ tubuh yang paling akhir dialiri darah. Kondisi ini berakhir edngan sendirinya secara bertahap sampai bayi berusia 1 tahun. 4. Penatalaksanaan BBL a. Suhu Perbedaan anatomi dan fisiologis antara BBL dan orang dewasa ialah : 1. Insulasi suhu pada BBL kurang, jika dibandingkan insulasi pada orang dewasa. Pembuluh darah lebih dekat ke permukaan kulit. Perubahan temperatur lingkungan akan mengubah temperatur darah, sehingga mempengaruhi pusat pengaturan suhu di hipotalamus. 2. Rasio permukaan tubuh BBL lebih besar terhadap berat badan. Posisi fleksi BBL diduga berfungsi sebagai sistem pengaman untuk mencegah pelepasan panas karena sikap ini mengurangi pemajanan permukaan tubuh pada suhu lingkungan. 3. Kontrol vasomotor BBL belum berkembang dengan baik, kemampuan untuk mengonstriksi pembuluh darah subkutan dan kulit sama baik pada bayi prematur dan pada orang dewasa. 4. BBL memproduksi panas terutama melalui upaya termogenesis tanpa menggigil. 5. Kelenjar keringat BBL hampir tidak berfungsi sampai minggu keempat setelah bayi lahir. Bayi normal mungkin mencoba untuk meningkatkan suhu tubuh dengan menangis atau meningkatkan aktivitas motorik dalam berespons terhadap ketidaknyaman karena suhu lingkungan lebih rendah. Menangis meningkatkan beban kerja, dan penyerapan energi mungkin berlebihan, terutama pad bayi yang mengalami gangguan. Mekanisme Kehilangan Panas pada BBL 56

Definisi

Implikasi Keperawatan Pertahankan suhu udara di ruang rawat sekitar

Konveksi

Aliran panas dari permukaan tubuh ke udara yang 24oC. Bungkus bayi untuk melindunginya dari lebih dingin

dingin. Letakkan tempat tidur bayi dan meja periksa jauh

Radiasi

Kehilangan pnas dari permukaan tubuh ke permukaan dari jendela padat lain yang lebih dingin tanpa kontak langsung satu sama lain, tetapi dalam kontak yang relatif dekat.

Evaporasi

Keringkan bayi setelah lahir. Mandi dan keringkan

Kehilangan panas yang terjadi ketika cairan berubah dengan cepat dalam lingkungan udara yang hangat menjadi gas. Penguapan yang tidak terlihat disebut juga IWL

Konduksi Kehilangan panas dari permukaan tubuh

Begitu lahir, bungkus bayi dengan selimut hangat. ke Tempatkan di tempat tidur yang hangat.

permukaan yang lebih dingin melalui kontak langsung satu sama lain.

b. Menghangatkan Bayi Seorang bayi cukup bulan dalam keadaan sehat yang baik sekalipun dapat mengalami hipotermia. Bayi hipotermi dilakukan dengan hati-hati. Menghangatkan atau mendinginkan bayi dengan cepat dapat menyebabkan bayi mengalami apnea dan asidosis. c. Suplai Oksigen Kondisi yang mempertahankan suplai oksigen yang adekuat. -Jalan napas bersih -Usaha bernapas -Sistem kardiopulmoner berfungsi -Dukungan panas (pemaparan pada stress dingin meningkatkan kebutuhan oksigen). d. Menilai APGAR Klasifikasi klinik : 1. Nilai 7-10 : bayi normal 2. Nilai 4-6 : bayi dengan asfiksia ringan dan sedang 3. Nilai 1-3 : bayi dengan asfiksia berat APGAR ScoreTanda-tanda 0 1 2 A : Apperience (warna kulit) 0= Pucat atau biru 1= Tubuh merah 2 = Seluruh tubuh merah

57

P : Puls (frekuensi jantung), 0= Tidak ada detak jantung 1= Dibawah 100,lemah dan lamban 2= Diatas 100, detak jantung kuat G : Grimace (reaksi terhadapRangsangan) 0= Tidak ada respon 1= Menyeringi atau kecut 2 = Menangis A : Activity (tonus otot) 0 = Tidak ada gerakan 1 = Ada sedikit 2 = Seluruh ekstremitas bergerak aktif R : Respiration (pernapasan) 0 = Tidak ada 1 = Pernapasan perlahan, bayi terdengar merintih 2 = Menangis kuat NILAI Tanda Denyut jantung Pernapasan Tonus otot Refleks 0 Tidak ada Tidak ada Lemah Tidak ada respon Warna Biru, pucat Tubuh merah muda, ekstremitas biru. e. Profilaksis Mata Salep mata eritromisin atau tetrakain diteteskan dalam konjungtiva bawah pada setiap mata dalam dua jam setelah lahir untuk mencegah optalmia neonatorum, suatu infeksi yang disebabkan oleh nesisseria gonorrhoeae, dan konjungtivitis inklusi, suatu infeksi disebabkan oleh Chlamydia trachomatis. Bayi dapat terpapar pada bakteri ini ketika melewati saluran vagina. f. Imunisasi Anak-anak harus diimunisasi untuk melindungi mereka terhadap penyakit menular. Vaksin sangat aman dan efektif, walaupun beberapa anak bisa saja mengalami reaksi ringan setelah diimunisasi. Kebanyakan vaksin diberikan melalui suntikan dan beberapa melalui mulut, misalnya polio. Vaksin pertama yang diterima bayi adalah vaksin Hepatitis B, lalu dosis pertama vaksin ini diberkan selama minggu pertama kehidupan, kadang keitka bayi masih di rumah sakit. Imunisasi rutin lainnya dimulai pada minggu ke 6-8. Merah muda seluruhnya 1 Lambat (< 100) Lambat, menangis lemah. Ekstremitas sedikit fleksi Menyeringai (grimace) 2 Lebih dari 100 Mengis dengan baik Fleksi dengan baik Menangis

Imunisasi tidak boleh ditunda, meskipun bayi sedang mengalami demam ringan karena infeksi ringan biasa. Banyak vaksin memerlukan lebih dari satu dosis untuk memberikan perlindungan penuh. Jadwal imunisasi yang harus diberikan bukanlah jadwal yang kaku. Orang tua sebaiknya berusaha membawa anaknya untuk imunisasi sesuai jadwal, tapi bila terjadi penundaan, hasil

58

akhir kekebalan yang didapat tidak akan terpengaruh. Juga tidak diperlukan pengulangan serial vaksin dari awal.Beberapa vaksin dianjurkan diberikan pada keadaan tertentu. Misalnya, vaksin Hepatitis A diberikan kepada orang-orang yang melanjutkan sekolahnya atau bepergian ke luar negeri. Pada satu kali kunjungan ke dokter, mungkin diberikan lebih dari satu vaksin. Tetapi beberapa vaksin sering dicampurkan dalam satu suntikan, misalnya vaksin pertusis, difteri, tetanus dan Hemophilus influenzae tipe B. Suatu vaksin kombinasi mengurangi jumlah suntikan tetapi tidak menjamin kemanan dan efektivitas vaksinnya. Untuk membantu mencegah gastroenteritis berat karena infeksi rotavirus, bisa diberikan vaksin rotavirus per-oral (melalui mulut).

5. Karakteristik Perilaku Karakteristik perilaku membentuk dasar kemampuan social bayi baru lahir. Pada penelitian saat ini, bayi baru lahir telah dilengkapi dengan kemampuan untuk memulai interaksi social dengan orangtuanya segera setelah lahir. Karakteristik perilaku, misalnya, karakteristik fisik berubah selama periode transisi. Periode ini terdiri dari fase-fase stabil yang dilalui bayi dalam 6-8 jam pertama setelah lahir. Pengetahuan tentang fase-fase ini membantu meningkatkan ikatan dan keberhasilan dalam pemberian makan. Bayi baru lahir dapat berada dalam beberapa periode, diantaranya :
Periode pertama reaktivitas, bayi baru lahir berada dalam keadaan waspada-tenang. Mata terbuka

dan awas. Bayi baru lahir dapat memfokuskan perhatian pada wajah orangtuanya dan menyimak suara, terutama ibu. Fase ini berlangsung sekitar 15 menit.
Fase kesadaran aktif. Selama periode awas yang aktif ini, bayi baru lahir sering melakukan

gerakan mendadak aktif dan dapat juga menangis. Bayi memiliki refleks mengisap yang kuat dan dapat terlihat lapar. Ini adalah waktu yang baik untuk memulai pemberian ASI. Periode ini tersedia waktu untuk melakukan kontak mata agar bayi dapat berinteraksi dengan orangtuanya.
Periode tidak aktif ini bisa berlangsung selama 2-4 jam. Setelah 30 menit pertama, bayi akan

mengatuk dan tertidur. Bayi baru lahir ini terlihat rileks dan tidak memberi respon dan sulit dibangunkan pada periode ini.
Periode aktivitas kedua. Sekali lagi, bayi baru lahir terjaga dan waspada serta menunjukan keadaan

sadar dan tenang, aktif dan menangis. Periode ini dapat berlangsung selama 4-6 jam pada bayi normal. Bayi baru lahir menghisap, rooting, dan menelan serta menjadi tertarik untuk makan. a. Siklus Tidur-Terjaga Variasi tingkat kesadaran bayi baru lahir disebut siklus tidur-terjaga. Siklus ini membentuk siklus yang berkelanjutan, yang terdiri dari tidur yang dalam, narkosis, atau letargi di satu sisi dan iritabilitas di sisi lain. Ada 2 keadaan tidur, yaitu tidur yang dalam serta tidur yang tidak dalam dan ada 4 tahap terjaga, yakni keadaan mengantuk, waspada-tenang, waspada-aktif, dan menangis.

59

Bayi yang terorganisasi dapat memproses kejadian-kejadia eksternal tanpa menganggu fungsi fisiologis dan sistem perilaku bayi.

Respon Bayi yang Menggambarkan Organisasi dan Disorganisasi Organisasi Fungsi Fisiologis Fungsi Fisiologis denyut jantung dan pernapasan Disorganisasi

1. Frekuensi denyut jantung dan pernapasan stabil1. Frekuensi 2. Warna kulit stabil 3. Menoleransi pemberian makan

berfluktuasi, sehingga dapat menimbulkan apnea dan bradikardi 2. Perubahan warna kulit dari merah muda menjadi pucat atau gelap. 3. Banyak buang air besar dan tidak mampu

menoleransi 4. Cegukan atau bersin-bersin 5. Tersedak atau menguap 6. Tekanan darah tidak stabil Fungsi Perilaku 1. Gerakan tubuh sinkron dan lancar 2. Transisi antara keadaan tidur dan Fungsi Perilaku 1. gerakan tubuh kacau dan gelisah, perubahan tonus terjaga otot menjadi lemah 2. Tidak mampu mengatur keadaan, perubahan

berlangsung baik

3. Penggunaan perilaku menghibur sendiri, seperti keadaan mendadak, dan keadaan terjaga memanjang mengisap jari, gerakan tangan ke muka, mengubah 3. Penggunaan perilaku menenangkan diri sendiri posisi, dan menggerakan ekstremitas ke obyek terbatas hidup atau obyek tidak hidup 4. Tidak dapat ditenangkan

4. Dapat dihibur oleh sumber-sumber dari luar, 5. bila Tidak mampu menghindari atau mengurangi respon sedang kesal motorik dan respon terhadap bahaya atau stimulus 5. Kemampuan unutk menghindari bahaya atau berulang. stimulus berulang dengan mengurangi gerakan tubuh atau mengatur dari keadan terjaga ke keadaan tidur

Setiap tahap memiliki karakteristi keadaan dan perilaku terkait keadaan.tabel dibawah ini menunjukan keadaan perilaku dan perilaku menetap berdasarkan karakterisktik keadaan pada setiap tahapnya.

60

Keadaan

Tahap Aktivitas tubuh Gerak Mata

Karakterstik Keadaan Mimik Wajah Pola Napas Ambang terhadap stimulus Tingkat Respon

Keadaan Tidur Tidur dalam

Sangat nyenyak, tapi kadangkadang terkejut atau kedutan

Tidak ada Tanpa mimik Lancar

wajah, tetapi dan teratur sangat tinggi, sehingga hanya kadangkadang melakukan gerakan mengisap dengan interval teratur stimulus yang menganggu dan intensitasnya tinggi yang akan membangunkan bayi

Tidur ringan

Beberapa Gerakan gerakan tubuh mata cepat, mata

Dapat tersenyum dan mengeluarkan rewel

Tidak teratur

Lebih

responsif

terhadap

stimulus internal dan eksternal. Saat stimulus muncul, bayi dapat tetap berada dalam keadan tidur ringan, kembali ke tidur malam, atau terjaga sampai mengantuk

berkedut suara dibalik kelopak mata Keadaan MengTerjaga antuk Tingkat aktivitas Mata terbuka Dapat

atau menangis

Tidak

Bayi bereaksi terhadap stimulus walaupun Keadaan respon berubah tertunda. setelah

memperlihatk teratur an beberapa

bervariasi, dan diselingi keadaan terkejut kadangkadang tertutup,

mimik wajah; seringkali tidak ada

stimulasi diberikan sering

ringan dari kelopak waktu waktu. Gerakan biasanya halus Waspada- Minimal tenang Mata bersinar dan

mimik wajah tampak

ke mata berat, dan tampak berkacakaca.

tidur nyenyak

Wajah tampak cerah, bersinar

Teratur

Perhatian banyak lingkungan,

bayi

yang

paling pada

tercurah

memfokuskan

61

melebar

perhatian pada setiap stimulus yang ada. Keadaan terjaga

optimal. Waspada- Banyak aktif aktivitas tubuh; Mata terbuka tetapi Banyak Tidak Semakin peka terhadap stimulus yang mengganggu (rasa lapar, letih, ribut, penanganan yang berlebihan)

mimik wajah; teratur wajah tidak

memperlih tidak atkan periode rewel Mena-ngis Aktivitas Mata motorik tertutup atau terlalu cerah

secerah pada keadaan waspadatenang Menyeringai Lebih tidak teratur

Respon stimulus

ekstrim tidak

terhadap

menyenangkan

meningkat erat disertai perubahan warna kulit

yang berasal dari dalam atau luar

terbuka

b. Faktor Lain yang Mempengaruhi Perilaku Neonatus


Usia Gestasi bayi dan tingkat kematangan SSP akan mempengaruhi perilaku yang terlihat. Lama waktu untuk memulihkan diri akibat persalinan dan melahirkan akan mempengaruhi

perilaku bayi baru lahir saat mereka mulai terorganisasi


Kejadian di lingkungan dan stimulus Efek obat-obatan maternal yang diberikan selama persalinan kepada bayi baru lahir.

(masih kontroversi) c. Perilaku sensori 1. Penglihatan


Saat lahir, pupil bayi bereaksi terhadap rangsangan cahaya dan memperlihatkan refleks

mengedip dengan mudah.


Kelenjar air mata biasanya belum berfungsi sampai bayi berusia 2-4 minggu Jarak pandang yang paling jelas ialah 17-20 cm, kira-kira jarak wajah bayi ke wajah ibu

saat menyusui
Bayi baru lahir sensitif terhadap cahaya, bayi akan mengerutkan wajah bila suatu

cahaya terang diarahkan ke wajahnya dan akan memalingkan kepala ke cahaya yang teduh.
Respon terhadap gerakan dapat dilihat.

62

Ketajaman penglihatan sangat menakjubkan, bahkan pada usia 2 minggu bayi dapat

membedakan pola-pola garis yang berjarak 3 mm. Bayi biasanya menyukai melihat pola-pola berwarna hitam dan putih.
Sejak lahir, bayi telah mampu memusatkan pandangan dan memperhatikan secara

intensif suatu obyek. Sehingga kontak mata sangat penting dalam interaksi orangtuabayi. 2. Pendengaran
Segera setelah cairan amnion keluar dari telinga, pendengaran bayi sama dengan

pedengaran orang dewasa.


Bayi baru lahir berespon terhadap bunyi berfrekuensi rendah, seperti denyut jantung

atau suara yang meninabobokan mereka, dengan menurunkan aktivias motorik atau menangis.
Bayi berespon terhadap suara ibunya.

3. Sentuhan
Semua bagian tubuh bayi berespon terhadap sentuhan., reflek dapat dditunjukan dengan

memukul-mukul.
Respon bayi baru lahir terhadap sentuhan menunjukan bahwa sistem sensorinya telah

dipersiapkan untuk menerima dan memproses pesan-pesan taktil. 4. Pengecap


Bayi baru lahir mempunyai sistem kecap yang berkembang baik dan larutan yang

berbeda menyebabkan bayi memperlihatkan ekspersi wajah yang berbeda.


Bayi baru lahir dilaporkan lebih menyukai air gula daripada air steri. (Pete, 1989) perkembangan dini yang mencakup sensasi di sekitar mulut, aktivitas otot, dan

pengecapan tampaknya merupakan persiapan bayi agar dapat hidup diluar rahim. 5. Penciuman
Indera penciuman bayi baru lahir sudah berkembang baik saat bayi lahir. Bayi baru lahir tampaknya memberikan reaksi yang sama dengan reaksi orang dewasa,

bila diberi bau yang menyenangkan.


Bayi yang disusui mampu membaui ASI dan dapat membedakan ibunya dari ibu lain

yang juga menyusui. d. Respon terhadap Stimulus Lingkungan Tempramen Tiga gaya perilaku utama atau pola tempramen : 1. anak yang menunjukan keteraturan fungsi tubuh dan beradaptasi terhadap perubahan dengan mudah, pada umumnya memiliki mood yang positif, ambang sensori yang moderat, dan menghadapi situasi atau obyek baru dengan suatu respon yang berintensitas moderat. 63

2. anak yang lambat menjadi panas, yaitu anak yang memiliki tingkat aktivitas yang rendah, menarik diri ketika menjumpai stimulus baru untuk pertama kali, lambat beradaptasi, berespon dengan intensitas lambat, dan dalam beberapa hal memiliki mood yang negatif. 3. anak yang tidak tenang, yaitu anak yang fungsi tubuhnya tidak teratur, tegang dalam bereaksi, memiliki mood yang negatif, resisten terhadap perubahan atau stimulus baru, dan sering kali menangis keras selama waktu yang lama. Habituasi
Habituasi merupakan mekanisme proteksi. Habituasi membuat bayi terbiasa dengan stimulus lingkungan. Habituasi ialah suatu fenomena psikologis da fisiologis, dimana respon terhadap stimulus

yang tetap atau berulang menurun.


Contohnya, pola respon terhadap suara yang berasal dari mainan atau dari tusukan jarum

di tumit. Bayi baru lahir yang diberi stimulus baru akan membuka matanya lebar-lebar dan mengarahkan pandangannya untuk sesaat, tetapi pada akhirnya ia menjadi tidak tertarik lagi. Konsolasi
Variasi kemampuan bayi baru lahir dalam menghibur diri mereka. Contohnya, menangis merupakan salah satu inisiatif bayi dalam megurangi stres yang

dialaminya. Gerakan tangan ke arah mulut, dengan atau tanpa mengisap. Menggendong Bayi
Sangat penting bagi orangtua baru untuk menggendong bayi karena mereka dapat

mengukur kemampuan mereka dalam merawat bayi baru lahir dengan melihat respon bayi tersebut terhadap tindakan mereka. Iritabilitas
Beberapa bayi memiliki ambang sensori yang rendah. Mereka mudah marah akibat suara asing , rasa lapar, basah atau pengalaman baru, dan

mereka berespon dengan intens. Menangis


Menangis pada bayi berarti berkomunikasi dan bisa menunjukan rasa lapar, nyeri,

keinginan untuk diperhatikan, atau rasa tidak puas. 6. Pedoman Antisipasi Dalam Merawat BBL a. Temperatur / suhu 1. Sebab-sebab penurunan suhu tubuh 2. Catat gejala-gejala yang timbul seperti kelemahan, bersin, batuk dll. 3. Cara-cara mengurangi / menurunkan suhu tubuh seperti kompres dingin, mencegah bayi terkena sinar matahari terlalu lama, dan lain-lain 4. Gunakan lampu penghangat / selimut tambahan 64

5. Ukur suhu tubuh b. Pernapasan 1. Perubahan frekwensi dan irama napas 2. Refleks-refleks seperti; bersin, batuk. 3. Pencegahan terhadap asap rokok, infeksi orang terkena infeksi saluran napas 4. Gejala-gejala pnemonia aspirasi c. Eliminasi 1. Perubahan warna dan kosistensi feses 2. Perubahan warna urin d. Keamanan 1. Mencegah bayi dari trauma seperti; kejatuhan benda tajam (pisau, gunting) yang mudah dijangkau oleh bayi / balita. 2. Mencegah benda panas, listrik, dan lainnya 3. Menjaga keamanan bayi selama perjalanan dengan menggunakan mobil atau sarana lainnya. 4. Pengawasan yang ketat terhadap bayi oleh saudara - saudaranya. 7. Klasifikasi dan Tingkat Kematangan BBL (Ballard Score) Tes ini untuk menentukan usia gestasi bayi baru lahir melalui penilaian neuromuskular dan fisik. Penilaian neuromuskular meliputi postur, square window, arm recoil, sudut popliteal, scarf sign dan heel to ear maneuver. Penilaian fisik yang diamati adalah kulit, lanugo, permukaan plantar, payudara, mata/telinga, dan genitalia. Penilaian Maturitas Neuromuskular a. Postur Tonus otot tubuh tercermin dalam postur tubuh bayi saat istirahat dan adanya tahanan saat otot diregangkan. Ketika pematangan berlangsung, berangsur-angsur janin mengalami peningkatan tonus fleksor pasif dengan arah sentripetal, dimana ekstremitas bawah sedikit lebih awal dari ekstremitas atas. Pada awal kehamilan hanya pergelangan kaki yang fleksi. Lutut mulai fleksi bersamaan dengan pergelangan tangan. Pinggul mulai fleksi, kemudian diikuti dengan abduksi siku, lalu fleksi bahu. Pada bayi prematur tonus pasif ekstensor tidak mendapat perlawanan, sedangkan pada bayi yang mendekati matur menunjukkan perlawanan tonus fleksi pasif yang progresif. Untuk mengamati postur, bayi ditempatkan terlentang dan pemeriksa menunggu sampai bayi menjadi tenang pada posisi nyamannya. Jika bayi ditemukan terlentang, dapat dilakukan manipulasi ringan dari ekstremitas dengan memfleksikan jika ekstensi atau sebaliknya. Hal ini akan memungkinkan bayi menemukan posisi dasar kenyamanannya. Fleksi panggul tanpa abduksi memberikan gambaran seperti posisi kaki kodok. Square Window

65

Fleksibilitas pergelangan tangan dan atau tahanan terhadap peregangan ekstensor memberikan hasil sudut fleksi pada pergelangan tangan. Pemeriksa meluruskan jarijari bayi dan menekan punggung tangan dekat dengan jari-jari dengan lembut. Hasil sudut antara telapak tangan dan lengan bawah bayi dari preterm hingga posterm diperkirakan berturut-turut > 90 , 90 , 60 , 45 , 30 , dan 0 . Arm Recoil Manuver ini berfokus pada fleksor pasif dari tonus otot biseps dengan mengukur sudut mundur singkat setelah sendi siku difleksi dan ekstensikan. Arm recoil dilakukan dengan cara evaluasi saat bayi terlentang. Pegang kedua tangan bayi, fleksikan lengan bagian bawah sejauh mungkin dalam 5 detik, lalu rentangkan kedua lengan dan lepaskan. Amati reaksi bayi saat lengan dilepaskan. Skor 0: tangan tetap terentang/ gerakan acak, Skor 1: fleksi parsial 140-180 , Skor 2: fleksi parsial 110-140 , Skor 3: fleksi parsial 90-100 , dan Skor 4: kembali ke fleksi penuh Popliteal Angle Manuver ini menilai pematangan tonus fleksor pasif sendi lutut dengan menguji resistensi ekstremitas bawah terhadap ekstensi. Dengan bayi berbaring telentang, dan tanpa popok, paha ditempatkan lembut di perut bayi dengan lutut tertekuk penuh. Setelah bayi rileks dalam posisi ini, pemeriksa memegang kaki satu sisi dengan lembut dengan satu tangan sementara mendukung sisi paha dengan tangan yang lain. Jangan memberikan tekanan pada paha belakang, karena hal ini dapat mengganggu interpretasi. Kaki diekstensikan sampai terdapat resistensi pasti terhadap ekstensi. Ukur sudut yang terbentuk antara paha dan betis di daerah popliteal. Perlu diingat bahwa pemeriksa harus menunggu sampai bayi berhenti menendang secara aktif sebelum melakukan ekstensi kaki. Posisi Frank Breech pralahir akan mengganggu maneuver ini untuk 24 hingga 48 jam pertama usia karena bayi mengalami kelelahan fleksor berkepanjangan intrauterine. Tes harus diulang setelah pemulihan telah terjadi Scarf Sign Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu. Dengan bayi berbaring telentang, pemeriksa mengarahkan kepala bayi ke garis tengah tubuh dan mendorong tangan bayi melalui dada bagian atas dengan satu tangan dan ibu jari dari tangan sisi lain pemeriksa diletakkan pada siku bayi. Siku mungkin perlu diangkat melewati badan, namun kedua bahu harus tetap menempel di permukaan meja dan kepala tetap lurus dan amati posisi siku pada dada bayi dan bandingkan dengan angka pada lembar kerja, yakni, penuh pada tingkat leher (-1); garis aksila kontralateral (0); kontralateral baris puting (1); prosesus xyphoid (2); garis puting ipsilateral (3); dan garis aksila ipsilateral (4) Heel to Ear

66

Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang panggul dengan memberikan fleksi pasif atau tahanan terhadap otot-otot posterior fleksor pinggul. Dengan posisi bayi terlentang lalu pegang kaki bayi dengan ibu jari dan telunjuk, tarik sedekat mungkin dengan kepala tanpa memaksa, pertahankan panggul pada permukaan meja periksa dan amati jarak antara kaki dan kepala serta tingkat ekstensi lutut ( bandingkan dengan angka pada lembar kerja). Penguji mencatat lokasi dimana resistensi signifikan dirasakan. Hasil dicatat sebagai resistensi tumit ketika berada pada atau dekat: telinga (-1); hidung (0); dagu (1); puting baris (2); daerah pusar (3); dan lipatan femoralis (4) Penilaian Maturitas Fisik a. Kulit Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya bersamaan dengan hilangnya secara bertahap dari lapisan pelindung, yaitu vernix caseosa. Oleh karena itu kulit menebal, mengering dan menjadi keriput dan / atau mengelupas dan dapat timbul ruam selama pematangan janin. Fenomena ini bisa terjadi dengan kecepatan berbeda-beda pada masingmasing janin tergantung pada pada kondisi ibu dan lingkungan intrauterin. Sebelum perkembangan lapisan epidermis dengan stratum corneumnya, kulit agak transparan dan lengket ke jari pemeriksa. Pada usia perkembangan selanjutnya kulit menjadi lebih halus, menebal dan menghasilkan pelumas, yaitu vernix, yang menghilang menjelang akhir kehamilan. pada keadaan matur dan pos matur, janin dapat mengeluarkan mekonium dalam cairan ketuban. Hal ini dapat mempercepat proses pengeringan kulit, menyebabkan mengelupas, pecah-pecah, dehidrasi, sepeti sebuah perkamen. b. Lanugo Lanugo adalah rambut halus yang menutupi tubuh fetus. Pada extreme prematurity kulit janin sedikit sekali terdapat lanugo. Lanugo mulai tumbuh pada usia gestasi 24 hingga 25 minggu dan biasanya sangat banyak, terutama di bahu dan punggung atas ketika memasuki minggu ke 28. Lanugo mulai menipis dimulai dari punggung bagian bawah. Daerah yang tidak ditutupi lanugo meluas sejalan dengan maturitasnya dan biasanya yang paling luas terdapat di daerah lumbosakral. Pada punggung bayi matur biasanya sudah tidak ditutupi lanugo. Variasi jumlah dan lokasi lanugo pada masing-masing usia gestasi tergantung pada genetik, kebangsaan, keadaan hormonal, metabolik, serta pengaruh gizi. Sebagai contoh bayi dari ibu dengan diabetes mempunyai lanugo yang sangat banyak. Pada melakukan skoring pemeriksa hendaknya menilai pada daerah yang mewakili jumlah relatif lanugo bayi yakni pada daerah atas dan bawah dari punggung bayi. c. Permukaan Plantar Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian anterior ini kemungkinan berkaitan dengan posisi bayi ketika di dalam kandungan. Bayi dari ras selain kulit putih mempunyai sedikit garis telapak kaki lebih sedikit saat lahir. Di sisi lain pada bayi kulit hitam dilaporkan 67

terdapat percepatan maturitas neuromuskular sehingga timbulnya garis pada telapak kaki tidak mengalami penurunan. Namun demikian penialaian dengan menggunakan skor Ballard tidak didasarkan atas ras atau etnis tertentu. Bayi very premature dan extremely immature tidak mempunyai garis pada telapak kaki. Untuk membantu menilai maturitas fisik bayi tersebut berdasarkan permukaan plantar maka dipakai ukuran panjang dari ujung jari hingga tumit. Untuk jarak kurang dari 40 mm diberikan skor -2, untuk jarak antara 40 hingga 50 mm diberikan skor -1. Hasil pemeriksaan disesuaikan dengan skor di table d. Payudara Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang tumbuh akibat stimulasi esterogen ibu dan jaringan lemak yang tergantung dari nutrisi yang diterima janin. Pemeriksa menilai ukuran areola dan menilai ada atau tidaknya bintik-bintik akibat pertumbuhan papila Montgomer. Kemudian dilakukan palpasi jaringan mammae di bawah areola dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengukur diameternya dalam milimeter. e. Mata/ Telinga Daun telinga pada fetus mengalami penambahan kartilago seiring perkembangannya menuju matur. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri atas palpasi ketebalan kartilago kemudian pemeriksa melipat daun telinga ke arah wajah kemudian lepaskan dan pemeriksa mengamati kecepatan kembalinya daun telinga ketika dilepaskan ke posisi semulanya. Pemeriksaan mata pada intinya menilai kematangan berdasarkan perkembangan palpebra. Pemeriksa berusaha membuka dan memisahkan palpebra superior dan inferior dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. Pada bayi extremely premature palpebara akan menempel erat satu sama lain. Dengan bertambahnya maturitas palpebra kemudian bisa dipisahkan walaupun hanya satu sisi dan meningggalkan sisi lainnya tetap pada posisinya. Hasil pemeriksaan pemeriksa kemudian disesuaikan dengan skor dalam tabel. Perlu diingat bahwa banyak terdapat variasi kematangan palpebra pada individu dengan usia gestasi yang sama. Hal ini dikarenakan terdapat faktor seperti stress intrauterin dan faktor humoral yang mempengaruhi perkembangan kematangan palpebra. f. Genital (Pria) Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam scrotum kurang lebih pada minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun mendahului testis kanan yakni pada sekitar minggu ke 32. Kedua testis biasanya sudah dapat diraba di canalis inguinalis bagian atas atau bawah pada minggu ke 33 hingga 34 kehamilan. Bersamaan dengan itu, kulit skrotum menjadi lebih tebal dan membentuk rugae. Testis dikatakan telah turun secara penuh apabila terdapat di dalam zona berugae. Pada nenonatus extremely premature scrotum datar, lembut, dan kadang belum bisa dibedakan jenis kelaminnya. Berbeda halnya pada neonatus matur hingga posmatur, scrotum biasanya seperti pendulum dan dapat menyentuh kasur ketika berbaring. g. Genital (Wanita) 68

Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka neonatus harus diposisikan telentang dengan pinggul abduksi kurang lebih 45o dari garis horisontal. Abduksi yang berlebihan dapat menyebabkan labia minora dan klitoris tampak lebih menonjol sedangkan aduksi menyebabkankeduanya tertutupi oleh labia majora. Pada neonatus extremely premature labia datar dan klitoris sangat menonjol dan menyerupai penis. Sejalan dengan berkembangnya maturitas fisik, klitoris menjadi tidak begitu menonjol dan labia minora menjadi lebih menonjol. Mendekati usia kehamilan matur labia minora dan klitoris menyusut dan cenderung tertutupi oleh labia majora yang membesar. Labia majora tersusun atas lemak dan ketebalannya bergantung pada nutrisi intrauterin. Nutrisi yang berlebihan dapat menyebabkan labia majora menjadi besar pada awal gestasi. Sebaliknya nutrisi yang kurang menyebabkan labia majora cenderung kecil meskipun pada usia kehamilan matur atau posmatur dan labia minora serta klitoris cenderung lebih menonjol. 8. Perawatan BBL a. Memandikan Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya, sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering. Berat badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian/diselimuti dikurangi dengan berat pakaian/selimut. Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya enam jam setelah lahir. Praktik memandikan bayi yang dianjurkan adalah : Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama jika bayi mengalami asfiksia atau hipotermi) Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh stabil (suhu aksila antara 36,5 C 37 C). Jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5 C, selimuti kembali tubuh bayi secara longgar, tutupi bagian kepala dan tempatkan bersama ibunya di tempat tidur atau lakukan persentuhan kuli ibu bayi dan selimuti keduanya. Tunda memandikan bayi hingga suhu tubuh bayi tetap stabil dalam waktu (paling sedikit) satu 1 jam. Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami masalah pernapasan Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruangan mandinya hangat dan tidak ada tiupan angin. Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan siapkan beberapa lembar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti tubuh bayi setelah dimandikan. Memandikan bayi secara cepat dengan air bersih dan hangat Segera keringkan bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian selimuti tubuh bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik Bayi dapat diletakkan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti dengan baik Ibu dan bayi disatukan di tempat dan anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya 69

Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat Idealnya bayi baru lahir ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan ibunya, untuk menjaga bayi tetap hangat dan mendorong ibu untuk segera memberikan ASI. b. Perawatan Linen Bayi Umumnya, bayi memerlukan pakaian berlapis agar lebih nyaman. Untuk mengetahui apakah bayi cukup hangat atau tidak, sentuhlah tangan dan kakinya. Bila terasa dingin, tambahlah selimutnya. Tak cukup hanya mengutamakan kenyamanan, yang paling harus diperhatikan oleh ibu adalah menjaga kehegienisan pakaian bayi. Pakaian yang dikenakan harus bersih dan kering. Ganti pakaian basah sesegera mungkin karena bila tidak maka selain tidak nyaman bagi bayi juga dapat menyebabkan timbulnya jamur yang bisa membuat bayi gatal-gatal dan timbul biang keringat. Segeralah ganti popok yang basah bila bayi pipis atau buang air besar, karena bila tetap dipakai, popok yang basah tersebut dapat menyebabkan infeksi. Selain itu, ibu juga harus memperhatikan kebersihan tubuh bayi. Segera usap bila bayi terkena cairan susu atau yang lain dan pastikan kulit bayi kembali kering. Berikan bedak di setiap lipatan badan bayi untuk menghindarkan luka. Pastikan pakaian bayi anda cukup nyaman, tidak terlalu tebal namun juga tidak terlalu tipis. Pilihlah bahan katun yang dapat menyerap keringatnya dan juga menghindari gatal-gatal. Ibu juga dapat memakaikan pakaian dalam bayi seperti singlet atau kaus tambahan yang tipis untuk melindungi bayi dari masuk angin.Begitu juga untuk selimut, pilihlah bahan yang tidak terlalu tebal sehingga tidak membuat bayi terlalu panas. Untuk bayi yang sudah berumur lebih dari 3 bulan, ibu dapat memakaikan singlet karena bayi sudah mulai beradaptasi dengan suhu udara sekitar. Bayi cenderung tidak bisa diam, oleh karena itu pegang dia baik-baik pada saat bajunya diganti. Jangan sepelekan mobilitas bayi. Jangan pernah meninggalkannya seorang diri, walau hanya sekejap. Kalau akan memakaikan baju kaos dan sweater, gulung semua keatas sampai ke leher baju lalu masukkan belakang kepala bayi lebih dulu, lalu dahi dan hidungnya. Kemudian masukkan tangan bayi perlahan-lahan ke dalam lengan baju. Jikalau akan melepaskan sweater atau baju kaos, keluarkan dulu lengan bayi perlahan-lahan dari lengan baju. Renggangkan leher baju lalu angkat keatas melewati dagu, hidung dan dahi bayi. Sesudah itu, lepaskan melewati belakang kepala bayi. Dalam merawat bayi diperlukan perhatian ekstra dan juga tenaga ekstra. Untuk mencuci pakaiannya pun tak boleh sembarangan karena ia bisa menimbulkan alergi terhadap kulit yang disebabkan bahan kimia tertentu. Untuk itu ada beberapa trik yang harus diperhatikan orang tua saat mencuci pakaian bayi, diantaranya : Cuci Pakaian Bayi Baru sebelum Dipakai

70

Pakaian bayi baru harus terlebih dahulu dicuci sebelum dipakaikan ke bayi anda, agar pakaian lebih steril. Pilih Deterjen yang Aman bagi Bayi Waspadai jika bayi menunjukkan tanda alergi setelah memakai pakaian yang baru saja dicuci. Bisa jadi sebabnya adalah deterjen yang anda gunakan. Bila terjadi tanda alergi pada kulit, hentikan pemakaian deterjen dan segera konsultasikan ke dokter.

Hindari Pemutih Hindari penggunaan pemutih atau deterjen yang mengandung pemutih untuk mencuci Bahan kimia dalam pemutih pakaian bisa menyebabkan iritasi kulit pada bayi atau lebih parah bisa menyebabkan penyakit kulit. Hindari Penggunaan Softener Jika keadaan mengharuskan pemakaian softener pastikan kandungan softener tersebut aman bagi bayi anda. Pasalnya softener juga bisa menyebabkan iritasi dan alergi pada kulit bayi anda.

Penggunaan Pengering Gunakan temperatur paling rendah saat mengeringkan pakaian bayi dalam mesin pengering untuk menghindari baju menyusut, sekaligus membuat pakaian bayi terlihat lebih segar. c. Exercise Pada Bayi Jenis Stimulasi Yang Dapat Diberikan Stimulasi adalah perangsangan yang datang dari lingkungan luar bayi, sehingga bayi akan lebih mudah melakukan suatu gerakan. Stimulasi merupakan hal yang sangat penting dalam perkembangan anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah akan lebih cepat perkembangannya daripada anak yang kurang atau tidak mendapat stimulasi.

1. Tapping (Ketukan) adalah upaya untuk meningkatkan kekuatan (tonus) otot melalui stimulasi raba dengan ketukan lembut pada otot menggunakan bagian dalam jari-jari tangan. Contoh : melatih agar bayi pada posisi tengkurap dapat mengangkat kepala, maka diberikan ketukan pada daerah pangkal leher dan punggung atas.

2. Latihan Penumpuan Berat Badan yaitu upaya stimulasi pada sendi dengan menggunakan beban berupa berat badan atau anggota badan itu sendiri untuk menguatkan otot-otot sekitar sendi. Contoh : pada posisi tengkurap, bayi dilatih menumpu badanya pada kedua lengan. 3. Latihan Gerak adalah upaya merangsang kemampuan gerak bayi dengan cara anggota gerak (lengan dan tungkai) digerakkan. Contoh : melatih bayi agar mampu berguling, dilakukan gerak berupa salah satu tungkai bayi digerakkan menyilang tungkai yang lain. 1. Latihan Stimulasi Perkembangan Bayi Latihan mengangkat kepala pada posisi tengkurap: 71

Tengkurapkan bayi, ibu disamping bayi. Beri ketukan lembut pada punggung atas bayi hingga kepala bayi terangkat. Lakukan selama 2-3 menit, 2 kali sehari.

2. Latihan mempertahankan kepala tetap tegak: Bayi dipangku dengan dipegangi pada dadanya. Berikan tekanan ringan pada kepala bayi kearah leher (bawah). Lakukan selama 2-3 menit, 2 kali sehari. 3. Latihan menumpu badan dengan kedua lengan: Tengkurapkan bayi dengan lengan menyangga badan, pegangi pada kanan kiri bahunya. Beri tekanan ringan pada kedua bahu dengan arah menuju lengan. Lakukan 2-3 manit, 2 kali shari. 4. Latihan berguling dari posisi terlentang: Bayi terlentang, pegangi pada kaki kanan kirinya. Gerakkan salah satu kaki memutar menyilang kaki yang lain sehingga bayi tengkurap. Lakukan 2-3 menit, 2 kali sehari. 5. Latihan duduk dari tengkurap: Bayi tengkurap, pegangi dari kanan kiri panggulnya. Beri tarikan pada panggul kearah duduk. Lakukan 2-3 menit, 2 kali sehari.

6. Latihan mempertahankan posisi duduk tegak: Posisikan bayi duduk di depan ibu, pegangi pada kedua bahunya dari atas. Beri tekanan lembut pada kedua bahunya ke arah bawah.

7. Latihan keseimbangan pada posisi duduk tegak: Posisi bayi duduk, pegangi kedua lengannya. Beri dorongan lembut pada lengan bayi ke kiri kanan bergantian. Lanjutkan dengan dorongan lembut ke depan-belakang bergantian.

8. Latihan berdiri: Posisi bayi duduk, pegangi kedua lengannya dari depan. Beri tarikan pada kedua lengannya ke arah depan atas sehingga bayi berdiri.

9. Latihan keseimbangan pada posisi berdiri: Posisikan bayi berdiri dengan dipegangi panggulnya dari samping. Beri dorongan pada panggul secar lembut ke kanan kiri bergantian. Lanjutkan dengan dorongan lembut ke depan belakang.

Menurut Prawirohardjo (2008). Tujuan utama perawatan bayi segerasesudah lahir, yaitu : a. Pencegahan Infeksi Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkanoleh paparan atau kontaminasi mikroorganisme selama prosespersalinan berlangsung maupun beberapa saat 72

setelah lahir. Sebelummenangani bayi baru lahir penolong harus melakukan upayapencegahan infeksi berikut : 1. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi. 2. Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yangbelum dimandikan. 3. Memastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutamaklem, gunting, penghisap lender DeLee dan benang tali pusat telahdidesinfeksi tingkat tinggi atau steril. Gunakan bola karet yang baru dan bersih jika ingin melakukan penghisapan lendir denganalat tersebut. 4. Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakanuntuk bayi, sudah dalam keadaan bersih. Demikian pula halnyatimbangan, pita pengukur, thermometer, stetoskop dan benda lain yang akan bersentuhan dangan bayi juga bersih b. Penilaian Awal Biasanya untuk mengevaluasi bayi baru lahir pada menit pertama dan menit kelima setelah kelahirannya menggunakan sistim APGAR. Nilai APGAR akan membantu dalam, menentukan tingkat keseriusandari depresi bayi baru lahir yang terjadi serta langkah segera yang akan diambil. Hal yang perlu dinilai antara lain warna kulit bayi, frekuensi jantung reaksi terhadap rangsangan, aktivitas tonus otot, dan pernapasan bayi, masing-masing diberi tanda 0, 1 atau 2. Sesuai dengan kondisi bayi. c. Membersihkan Jalan Napas Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir. Apabila tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan napasdengan cara sebagai berikut : Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat. Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leherbayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diaturlurus lebih sedikit tengadah ke belakang. Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jaritangan yang dibungkus kasa steril. Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulitbayi dengan kain kering. Dengan rangsangan ini biasanya bayisegera menangis. Kekurangan zat asam pada bayi baru lahir dapatmenyebabkan kerusakan otak. Sangat penting membersihkan jalannapas, sehingga upaya bayi bernapas tidak akan

menyebabkanaspirasi lendir (masuknya lendir ke paru-paru). Alat penghisap lendir mulut ( DeLee) atau alat penghisap lainnyayang steril, tabung oksigen dengan selangnya harus telah siap ditempat. Segera lakukan usaha menghisap mulut atau hidung. Petugas harus memantau dan mencatat usaha napas yang pertama.

73

Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung ataumulut harus diperhatikan.Bantuan untuk memulai pernapasan mungkin diperlukan

untuk mewujudkan ventilasi yang adekuat. Dokter atau tenaga medis lain hendaknya melakukan resusitasisetelah satu menit bayi tak bernapas. d. Memotong dan Merawat Tali Pusat Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak begitu menentukan dan tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali padabayi kurang bulan. Apabila bayi lahir tidak menangis, maka tali pusatsegera dipotong untuk memudahkan melakukan tindakan resusitasipada bayi. Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengandibuat ikatan baru. Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat denganalkohol 70% atau povidon iodine 10% serta dibalut kasa steril.Pembalut tersebut diganti setiap hari atau setiap tali basah atau kotor. Sebelum memotong tali pusat, dipastikan bahwa tali pusat telahdiklem dengan baik untuk mencegah terjadinya perdarahan. Alat pengikat tali pusat atau klem harus selalu siap tersedia diambulans, di kamar bersalin, ruang penerima bayi, dan ruangperawatan bayi. Gunting steril juga siap Pantau kemungkinan terjadinya perdarahan dari tali pusat. Perawatan tali pusat adalah memberikan perawatan tali pusat pada bayi baru lahir sampai tali pusat mengering dan lepas dengan spontan. Tujuan : 1. Mencegah terjadinya infeksi 2. Mempercepat proses pengeringan tali pusat 3. Mempercepat terlepasnya tali pusat Persiapan : a. Persiapan Alat - Alkohol 70% dalam tempatnya - Kasa steril 1 buah b. Persiapan klien Setelah dimandikan dan dikeringkan, bayi dibaringkan diatas meja khusus atau tempat tidur. Pelaksanaan 1. Cuci tangan 2. Buka kasa pembungkus tali pusat, bila susah di buka, kasa pembungkus terlebih dahulu dibasahi dengan lidi waten alcohol 70%

74

3. Bila tali pusat masih basah/lembab bersihkan tali pusat dengan lidi waten alcohol 70% dari pangkal menuju ujung tali pusar sampai bersih. 4. Kemudian oleskan betadine 10% seperti cara diatas (dari pangkal ke ujung tali pusat) 5. Tali pusat kemudian di bungkus dengan kasa steril (Bentuk segitiga) dan ikatkan dengan cara lipatkan. 6. Kemudian pakaian bayi dikenakan dan dirapikan 7. Cuci tangan kembali. Hal-hal yang harus diperhatikan : 1. Perawatan tali pusat dilakukan secara rutin setiap selesai mandi dan sewaktu-waktu bila diperlukan. 2. Daerah sekitar tali pusat harus selalu dalam keadaan kering dan bersih untuk mencegah terjadinya infeksi. 3. Dilarang menggunakan plester untuk menguatkan ikatan karena bisa terjadi iritasi pada kulit bayi. Pencegahan infeksi pada tali pusat Merawat tali pusat berarti menjaga agar luka tersebut tetap bersih, tidak terkena air kencing, kotoran bayi atau tanah. Bila kotor, cuci luka tali pusat dengan air bersih yang mengalir dan segera keringkan dengan kassa kering dan dibungkus dengan kassa tipis yang steril dan kering. Dilarang membubuhkan atau mengoleskan ramuan, abu dapur, dan sebagainya pada luka tali pusat sebab akan menyebabkan infeksi dan tetanus yang dapat berakhir dengan kematian neonatal. Tanda- tanda infeksi tali pusat adalah: a. Kulit sekitarnya berwarna kemerahan. b. Ada pus atau nanah. e. Mempertahankan Suhu Tubuh Bayi. Pada waktu baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhubadannya dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnyatetap hangat. Bayi baru lahir harus dibungkus hangat. Suhu tubuh bayimerupakan tolak ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangatsampai suhu tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus dicatat. f. Memberi Vitamin K Kejadian perdarahan Karena defisiensi vitamin K pada bayi barulahir dilaporkan cukup tinggi, berkisar antara 0.25-0.5%. Untuk mencegah terjadinya perdarahan tersebut, diberi vitamin K parenteraldengan dosis 0.5-1 mg secara im. g. Memberi Obat Tetes atau Salep Mata

75

Di daerah di mana prevalensi gonorhoe tinggi, setiap bayi barulahir perlu diberi salep mata sesudah lima jam. bayi lahir. Pemberianobat mata cloramphenikol 0,5% dianjurkan untuk pencegahanpenyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual). h. Identifikasi Bayi Apabila bayi dilahirkan di tempat bersalin yang persalinannyamungkin lebih dari satu persalinan maka sebuah alat pengenal yangefektif harus diberikan kepada setiap bayi baru lahir dan harus ditempatnya sampai waktu bayi dipulangkan. Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia di tempatpenerimaan pasien, di kamar bersalin dan ruang perawatan bayi. Alat yang digunakan hendaknya kebal air dengan tepi yang halustidak mudah melukai, tidak mudah sobek dan tidak mudah lepas. Pada alas atau gelang identifikasi harus tercantum : Nama lengkap ibu Warna gelang sesuai jenis kelamin pada bayi Tanggal Nomor medical Jenis Unit/berat badan

Disetiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkannama, tanggal lahir, nomor identifikasi. Sidik telapak kaki bayi dansidik jari ibu harus di klip di catatan yang tidak mudah hilang.Sidik telapak kaki bayi harus dibuat oleh personil yangberpengalaman menerapkan cara ini, dan dibuat dalam catatanbayi. Bantalan sidik kaki harus disimpan dalam ruangan dengan suhu kamar. Ukurlah berat lahir, panjang bayi, lingkar kepala,lingkar dada dan catat dalam rekam medik i. Pemberian ASI Rangsangan hisapan bayi pada puting susu akan diteruskan olehserabut syaraf ke hipofisis anterior untuk mengeluarkan hormonprolaktin.Prolaktin inilah yang memacu payudara untuk menghasilkan ASI.Semakin bayi menghisap puting susu akan semakin banyak prolaktindan ASI dikeluarkan. Produksi ASI akan optimal setelah hari ke 1014usia bayi. Bayi sehat akan mengkonsumsi 700-800 ml ASI perhariuntuk tumbuh kembang bayi. Produksi ASI mulai turun 500-600 mlsetiap enam bulan pertama dan menjadi 300-500 ml pada tahun keduausia anak.Pastikan bahwa pemberian ASI mulai dalam waktu 30 menitsetelah bayi lahir. Anjurkan ibu untuk memeluk dan mencoba untuk menyusui bayi setelah tali pusat diklem dan dipotong. 1. Pemberian ASI memiliki beberapa keuntungan, antara lain: Memulai pemberian ASI secara dini akan merangsangproduksi ASI.

76

Memperkuat refleks menghisap (refleks menghisap awal padabayi paling kuat pada beberapa jam pertama setelah lahir) Memulai pemberian ASI secara dini akan memberikanpengaruh yang positif bagi kesehatan bayi. Mempromosikan hubungan emosional antara ibu dan bayi. Memberikan kekebalan pasif segera kepada bayi melaluicolostrum. Merangsang kontraksi uterus. 2. Pedoman Umum untuk Ibu saat Menyusui Mulai menyusui segera setelah bayi lahir dalam 30 menitpertama. Jangan memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi(misalnya air, madu, larutan gula atau pengganti susu ibukecuali pada indikasi yang jelas atas alasan-alasan mereka). Jarang sekali para ibu cukup memiliki ASI sehinggamembutuhkan asupan susu buatan tambahan. Berikan ASI saja selama enam bulan pertama kehidupannya. Berikan ASI kepada bayi sesuai dengan kebutuhannya, baik siang maupun malam (delapan kali atau lebih dalam 24 jam)selain bayi menginginkannya. 3. Refleks Laktasi Terdapat dua mekanisme refleks laktasi pada ibu yaitu refleksprolaktin don refleks oksitosin yang berperan dalam produksi ASIdan involutio uteri. Pada bayi terdapat tiga jenis refleks, yaitu: Refleks Mencari Puting Susu (rooting refleks)Rrefleks akan menoleh ke arah dimana terjadi sentuhan padapipinya. Bayi akan membuka membuka mulutnya apabilabibirnya disentuh dan berusaha untuk menghisap benda yangdisentuhkan tersebut. Refleks Menghisap (sucking refleks)Rangsangan puting susu pada langit-langit bayi menimbulkanrefleks menghisap. Hisapan ini akan menyebabkan areola danpunting susu ibu tertekan gusi, lidah dan langit-langit bayisehigga sinus laktiferus dibawah, areola dan ASI terpancarkeluar. Refleks Menelan (Swalowwing refleks)Kumpulan ASI didalam mulut bayi mendesak otot-ototdidaerah mulut dan faring untuk mengaktifkan refleks menelandan mendorong ASI kedalam lambung bayi. (AsuhanPersalinan Normal, Revisi 2007 ). j. Pemantauan Bayi Lahir

77

Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahuiaktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatanbayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan penolongpersalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan. 1. Dua jam Pertama Setelah LahirHal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertamasesudah lahir meliputi: Kemampuan menghisap kuat atau lemah Bayi tampak aktif atau lunglai Bayi kemerahan atau biru

2. Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya,penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaianterhadap ada atau tidaknya masalah kesehatan yang memerlukan tindak lanjut seperti : Bayi kecil untuk masa kehamilan bayi kurang bulan Gangguan pernapasan Hipotermia Infeksi Cacat bawaan dan trauma lahir

9. Nilai dan Keyakinan (budaya) Pada BBL dan Laktasi Para perawat berinteraksi dengan keluarga dari kebudayaan atau kelompok entis yang berbeda, dapat memberi asuhan keperawatan esensial sesuai dengan budaya dengan menguji secara teliti keyakinan-keyakinan budaya , mengidentifikasi bias, sikap, dan penilaian mempelajari praktek dari kebudayaan-kebudayaan yang penting . Beberapa kebudayaan memberikan prioritas tinggi untuk memiliki anak laki-laki, wanita yang melahirkan anak laki-laki menerima status yang lebih tinggi dalam keluarga, ini berlaku pada keluarga Cina tradisional. Dalam keluarga hispanic trdisional, nenek diharapkan memainkan peranan dalam merawat bayi baru lahir (Burrougs, A & Laifer, G 2001). Menurut galanti ( dikutip dari Bobak dkk, 2004) Orang Amerika-Meksiko memiliki beberapa tradisi seperti, menyusui pada bayi baru lahir dimulai pada hari keempat, karena kolostrum dianggap kotor atau tercemar . Minyak zaitun atau jarak diberikan pada bayi baru lahir karena dianggap dapat menstimulasi pengeluaran mekonium. Bayi laki-laki tidak disirkumsisi, dan telinga bayi laki- laki ditindik. Berbagai obat juga digunakan untuk mengatasi mal ajo dan fontanel yang cekung. Kebudayaan pada bayi baru lahir ini menyebabkan banyaknya mitos mengenai bayi baru lahir. Mitos-mitos yang lahir dimasyarakat ini kebenarannya kadang tidak masuk akal dan bahkan dapat berbahaya bagi ibu dan bayi. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang merawat bayi baru lahir. Ada pun mitos dan fakta merawat bayi baru lahir hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang cara merawat bayi antara lain : 78

Dibedong agar kaki tidak bengkok dikarenakan hampir setiap bayi memiliki kaki yang tampak bengkok, begitulah fisiologis kaki bayi. Ini disebabkan karena ia masih terbiasa dengan posisi meringkuk ketika masih berada didalam rahim. Beberapa ibu membedong bayi untuk melindungi dari dingin, baik karena faktor cuaca atau setelah mandi.

Hidung ditarik agar mancung. Tidak ada hubungannya menarik hidung dengan mancung tidaknya hidung, semua tergantung dari bentuk tulang hidungnya.

Bayi yang mengalami kuning beberapa hari pasca kelahirannya harus dijemur diruangan terbuka. Penyakit kuning yang diderita bayi merupakan proses alamiah dari pemecahan sel darah ibunya. Proses ini memang dapat terbantu oleh sinar matahari.

ASI pertama yang berwarna kekuningan merupakan asi yang sudah basi dan tidak baik dikonsumsi bayi. ASI pertama adalah kolostrum yang mengandung zat kekebalan tubuh dan kaya akan protein

Ketika bayi demam harus dikompres air dingin. Setelah dikompres, tubuh yang awalnya panas mungkin akan terasa dingin begitu diraba. Akan tetapi ini bukan pertanda bahwa si kecil membaik. Sebaliknya suhu dingin dari kompresan tersebut akan mengirim sinyal yang salah kepada tubuh anak. Dalam menghadapi suatu kebudayaan pada masa bayi baru lahir maka kita memerlukan suatu

perencanaan dan pemantauan kesehatan, salah satunya dengan penyuluhan agar kita dapat mengubah atau memperbaiki suatu keadaan dalam mitos yang dapat merugikan ibu, janin dan bayi. Tenaga kesehatan harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya, beradaptasi dengan budaya-budaya dominan yang ada di daerahnya, dan memberikan penyuluhan tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir agar para ibu dan masyarakat di lingkungannya dapat mengerti benar 10. Pendidikan Kesehatan yang Dibutuhkan Untuk Perawatan BBL Interaksi Sosial Aktivitas sehari-hari selama periode neonatal merupakan waktu terbaik bagi bayi dan keluaraga untuk melakukan interaksi. Sambil mengasuh bayi, ibu dan ayah dapat berbicara kepada bayinya, bermain dengan bayi, dan memeluk sambil mengusap-usap bayinya. Aktivitas mengasuh bayi baru lahir dibagi anatara perawat dan orangtua. Perawat bertindak sebagai guru pendukung. Pengjaran tentang mengasuh bayi bisa lewat film dan video. Memberi Makan Bayi Bayi dapat disusui setelah lahir atau sekurang kurangnya dalam empat jam setelah lahir. Apabila bayi akan diberi susu botol, perawat bisa menawarkan sedikit air steril untuk memastikan bahwa refleks menelan dan refleks menghisap bayi berfungsi dengan baik dan tidak ada anomali.kebanyakan bayi menuntut pemerian makan terjadwal dan dan dapat diberi makan setiap kali mereka bangun.

79

Dianjurakan setiap 3-4 jam sehari danselama beberapa hari setelah bayi lahir diberi makan hanya pada saat terbangun di malam hari. Posisi dan Teknik Menyusui Ada beberapa posisi yang digunakan dalam pemberian makan bayi. Bayi garus berada dalam posisi yang nyaman untuk mempermudahkan keadaan dan tidak harus memutar kepala atau

meregangkan lehernya untuk dapat menjangkau puting. Ketika ibu menyentuh lembut bibir bayi dengan putingnya, bayi akan memberi respon dengan refleks rooting alami dan berpaling ke puting dan membuka mulutnya. Puting dan sebagian areaola berada dalam mulut bayi apabila hidung bayi tertutp oleh payudara angkat panggul bayi. Ada beberapa posisi untuk membuat bayi bersendawa.

Menggendong dan Mengatur Posisi Bayi digendong dengan aman denagn menopang kepala karena bayi baru lahir tidak mampu mempertahankan posisi kepalanya tetap tegak selama beberapa detik. Setelah makan posisikan bayi miring kanan untuk mempercepat pengosongan lambung keusus kecil. Memposisikan bayi miring ditempat tidur membuat pengeluaran mukus dari mulut dan tidak menekan tali pusat atau penis yang baru disirkumsisi. Posisi bayi diubah dari satu sisi ke sisi lain untuk membantu mengembangkan kontur tubuh yang sama disis kiri dan kanan serta meredakan tekanan pada bagian tubuh. Punggung bayi membentuk seperti kurva sehingga mudah menggelinding. Selimut yang dilipat atau digulung yang mengganjal punggung akan akan mencegah bayi mengubah posisi menjadi supine dan membuat perasaan bayi tenang. Merawat Tali Pusat Perawatan tali pusat sama dengan perawatan luka operasi lain. Tujuanya adalah mencegah dan mengidentifikasi perdarahan atau infeksi secara dini. Petunjuk tentang teknik perawatan tali pusat , memebersihkan tali pusat dan kulit sekitar dengan obat yangs udah diresepkan dokter misalnya erotromisin, dan setiap hari melakukan pemeriksaan untuk menemukan tanda-tanda infeksi. Klem pada tali pusat dilepas setelah 24 jam ketika tali pusat mengering. Memandikan Bayi Mandi merupakan kesempatan untuk : membersihkan seluruh tubuh bayi mengobservasi keadaan memberi rasa nyaman 80

mensosialisasi anak-orangtua-keluarga. Mandi yang pertama ditunda sampai temperatur kulit bayi stabil apad 36,5o C atau sampai

temperatr tubuh stabil pada 37oC selama dua jam.pertamakali mandi bayi menggunakan sabun ringan untuk membersihkan darah dan cairan amnion. Membersihkan genitalia cukup tiga sampai 4 hari pertama. Mandi dengan air hangat baik pada minggu pertama kemudian dapat menggunakan sabun ringan. Bayi bar lahir tidak perlu mandi setiap hari. Daerah lipatan yang ditutupi popok perlu dibersihkan dan diperhatikan. Apabila terjadi infeksi stafilokokus pada kulit bayi dimandika dengan deterjen hexaclorophene. Sabun alkali seperti minyak bedak dan losion tidak boleh dipakia karena kan meningkatkan keasaman.sehingga bakteri mudah masuk. Ruam Pengobatan ruam akibat popok dilakukan dengan membiarkan ruam terkena panas dan udara. Membersihkan dan mengeringkan daerah yang terkena air kemih atau tinja dalam mengganti popok setiap kali bayi berkemih atau defekasi mencegah dan membantu mnegatasi ruam akibat popok. Hindari popok sekali pakai atau celana plastik. Panas yang didapat dari senuah lampu berkekuatan 25 watt diletakan sekitar 45 cm di daerah yang sakit. Pakaian Aturan pemakaian pakaian pada bayi sama seperti pada orang dewasa. Sebuah baju atas dan popok untuk bayi kecil cukup. Sebuah topi mngkin diperlukan untuk melindungi kulit epala bayi dari panas. Membungkus bayi dengan selimut, menjaga temperatur tubuh dan meningkatkan rasa aman. Jangan menggunakan baju yang terlalu banyak pada saat udara panas dapata menimbulkan biang keringat dan rasa tidak nyaman. Penggunaan baju yang terlalu tipis pada sat udara dingin juga menimbulkan rasa tidak nyaman. astikan pakaian bayi terbuat dari bahan alami, seperti katun 100%, yang menyerap keringat, mudah dicuci dan disetrika. Panduan berbusana untuk bepergian lain

lagi. Kenakan mantel atau cardigan, kaos kaki, sepatu dan topi pada bayi untuk mencegah dia masuk angin. Perawatan Linen Bayi Membersihkan pakain dilakuakn untuk mengurangi infeksi silang dan membuang sisa sabun. Dirumah, pakai bayi harus dicuci dengan detejen ringan dan air hangat. Membilas pakain dua kali biasanya menghilangkan sisa sisa air kemih atau tinja. Keringkan pakain atau linen di bawah sinar matahari langsung untuk menetralkan residu. Linen tempat tidur perlu sering diganti. Matras pelapis plastik yang biasa diletakan di lapisan paling atas harus sering dicuci, dan tempat tidur juga harus sering dibersihkan dari debu. Peralatan kamar mandi bayi disimpan dalam satu kotak tersendiri. ASKEP BBL I. IDENTITAS KLIEN Nama Umur Jenis Kelamin : Bayi Ny. I : 2 Hari :81

Alamat No. peneng Tanggal Masuk Tanggal Pengkajian : Biodata Penanggung jawab Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Hubungan dengan klien :-

:-

:-

: Ny. I : 27 tahun : perempuan ::: Ibu Bayi

II. RIWAYAT PRENATAL DAN INTRANATAL a. Riwayat Prenatal Masalah kehamilan selama kehamilannya, Memeriksa kehamilan yaitu pada : - Trimester I - Trimester II - Trimester III b.Riwayat Intranatal 1. Lamanya persalinan Kala I Kala II Kala III Kala IV 2. Ketuban Pecah sebelum lahir : . mnt Warna dan Bau 3. Pendarahan Jumlah Warna : . cc : Merah segar : jernih dan Amis :::::::-

4. Resusitasi pada bayi dilakukan dengan resusitasi pembersihan jalan nafas. c. Postnatal 1. Apgar Score 2. BB 3. TB 4. Lingkar Badan 5. Lingkar kepala : ::::82

6. Lingkar lengan atas 7. Mekonium III. PEMERIKSAAN FISIK 1.TTV DJA Suhu Respirasi 2.Kepala Cepal hematoma

::-

:::-

: tidak ada

Cepal succedenium : tidak ada Sutura 3.Mata Kesimetrisan Sklera Konjungtiva 4.Hidung Lubang hidung Cuping hidung 5.Mulut dan Lidah Palatum Warna palatum Warna lidah : Normal : Merah muda : Merah muda : Belum terlatih dengan baik : Ada dan kedua lubang hidung simetris : Ada : : Simetris antara mata kanan dan kiri : Putih tidak ada ikhterus :

Refleks hisap dan menelan 6.Telinga Kesimetrisan Warna Daun telinga Lekuk telinga Cairan yang keluar 7.Leher Kelenjar Tiroid JVP KGB 8.Dada DJA Gerakan 9.Mamae Putting Areola :-

: Simetris antara kiri dan kanan : : ada / tidak ada : ada / tidak ada :

: ada pembesaran atau tidak : ada peninggian atau tidak : ada pembesaran atau tidak

: Dapat mengembang dan mengempis : ada / tidak : 83

10.Abdomen Bentuk Bising usus Tali pusat : : ada / tidak :

11.Punggung, Pinggul, dan Bokong Tonjolan punggung : ada / Tidak Lipatan bokong Warna kulit bokong : 12.GenetaliaTestis Keluar cairan 13.Tangan Pergerakan Jari tangan kanan/kiri Reflek menggenggam 14.Kaki Pergerakan: baik Jari kaki kanan/kiri : Lengkap Refleks babinski 15.BadanAktivitas Warna kulit Lanugo Sianosis Tekstur : Ada : Baik : : : : : Baik : Lengkap : ada : ada / tidak : ada / tidak : Simetris / asimetris

IV. PENGKAJIAN REFLEK BAYI BARU LAHIR Refleks Pada Mata: 1. Berkedip atau Refleks korneal: Respon prilaku yang diharapkan: Bayi berkedip pada pemunculan sinar terang yang tiba-tiba atau pada pendekatan objek ke arah kornea: harus menetap sepanjang hidup. Deviasi: Tidak ada kedipan tidak simetris simetris menunjukkan adanya kerusakan pada syaraf kranial II, IV dan V. 2. Pupil: Pupil kontriksi bila sinar terang diarahkan padanya: reflek ini harus ada sepanjang hidup. Deviasi: Kontriksi tidak sama pupil dilatasi terfiksasi 3. Mata boneka: Ketika kepala digerakkan dengan perlahan ke kanan dan kekiri, mata normalnya tidak bergerak: reflek ini harus hilang sesuai perkembangan. Deviasi: Paralis abdusen asimetris Refleks Pada Hidung:

84

1. Bersin: Respon spontan saluran terhadap iritasi atau obstruksi: reflek ini harus menetap sepanjang hidup. Deviasi: Tidak ada bersin atau bersin terus menerus 2. Glabela: Ketukan halus pada glabela (bagian dahi antara dua alis mata) menyebabkan mata menutup dengan rapat. Deviasi: Tidak ada reflek Refleks Pada Mulut dan Tenggorokan 1. Menghisap: Bayi harus memulai gerakan menghisap kuat pada area sirkumolar sebagai respon terhadap rangsang: reflek ini harus tetap ada selama masa bayi, bahkan tanpa rangsangan sekalipun, seperti pada saat tidur. Deviasi: Menghisap lemah atau tidak ada 2. Muntah: Stimulasi faring posterior oleh makanan, hisapan, atau masuknya selang harus menyebabkan refleksi muntah: reflek ini harus menetap sepanjang hidup Deviasi: Tidak adanya reflek muntah menunjukkan adanya kerusakan pada syaraf glosoferingeal 3. Rooting: Menyentuh atau menekan dagu sepanjang sisi mulut akan menyebabkan bayi membalikan kepala ke arah sisi tersebut dan mulai menghadap: harus hilang kira-kira pada usia 3-4 bulan, tetapi dapat menetap selama 12 bulan. Deviasi: Tidak ada refleks, khususnya bila bayi tidak merasa kenyang 4. Ekstrusi: Bila lidah disentuh atau ditekan, bayi berespon dengan mendorongnya keluar: harus menghilang pada usia 4 bulan Deviasi: Protrusi konstan dari lidah dapat menunjukkan sindrom down 5. Menguap: Respon spontan terhadap penurunan oksigen dengan meningkatkan jumlah udara inspirasi, harus menetap sepanjang hidup. Deviasi: Tidak ada reflek 6. Batuk: Iritasi membran mukosa laring atau pohon trakeobronkial menyebabkan batuk: reflek ini harus tetap ada sepanjang hidup : biasanya ada setelah hari pertama kelahiran. Deviasi: Tidak ada reflek Refleks Pada Ekstremitas 1. Menggenggam: Sentuhan pada telapak tangan atau telapak kaki dekat dasar jari menyebabkan fleksi tangan dan jari kaki, genggaman telapak tangan harus berkurang setelah usia 3 bulan, digantikan dengan gerakan volunter, genggaman plantar berkurang pada usia 8 bulan. Deviasi: Fleksi asimetris dapat menunjukkan paralisis 2. Babinski:

85

Tekanan ditelapak kaki bagian luar ke arah atas dari tumit dan menyilang bantalan kaki menyebabkan jari kaki hiperekstensi dan halus dorsofleksi: reflek ini harus hilang setelah usia 1 tahun. Deviasi: Menetap setelah usia 1 tahun menunjukkan lesi traktur pyramidal 3. Klonus Pergelangan kaki: Dorsofleksi telapak kaki yang cepat ketika menopang lutut pada posisi fleksi parsial mengakibatkan munculnya satu sampai dua gerakan oskilasi (denyut). Akhirnya tidak boleh ada denyut yang teraba. Deviasi: Beberapa denyutan Refleks Pada Massa atau Tubuh 1. Moro: Denyutan atau perubahan tiba-tiba dalam ekuilibrium yang menyebabkan ekstensi dan abduksi ekstremitas tiba-tiba serta mengipaskan jari membentuk huruf C diikuti dengan fleksi lemah: bayi mungkin menangis: reflek ini harus hilang setelah usia 3-4 bulan, biasa paling kuat selama 2 bulan pertama Deviasi: Menetapnya reflek moro 6 bulan terakhir dapat menunjukkan kerusakan otak reflek moro asimetris atau tidak ada dapat menunjukkan cedera pada fleksus brakial, klavikula, atau humerus. 2. Startle: Suara keras yang tiba-tiba menyebabkan abduksi lengan dengan fleksi siku: tangan tetap tergenggam: harus hilang pada usia 4 bulan. Deviasi: Tidak adanya refleks ini menunjukkan kehilangan pendengaran 3. Perez: Saat bayi tertelungkup pada permukaan keras, ibu jari ditekan sepanjang medula spinalis dari sakrum ke leher: bayi berespon dengan menangis, memfleksikan ekstremitas dan meninggikan pelvis dan kepala:lordosis tulang belakang, serta dapat terjadi defekasi dan urinisasi, hilang padausia 4-6 bulan. Deviasi: Signifikasi hampir sama dengan reflek moro 4. Toknik leher asimetris (menengadah): Jika kepala bayi dimiringkan dengan cepat ke salah satu sisi, lengan dan kakinya akan berekstensi pada sisi tersebut dan lengan yang berlawanan dan kaki fleksi,harus hilang pada usia 3 -4 bulan,untuk digantikan dengan posisi simetris dari kedua sisi tubuh. Deviasi: Tidak adanya atau menetapnya reflek ini menunjukkan kerusakan sistem syaraf. 5. Neck-rigthting: Jika bayi terlentang, kepala dipalingkan ke satu sisi: bahu dan batang tubuh membalik ke arah tersebut, diikuti dengan pelvis: menghilang pada usia 10 bulan Deviasi: Tidak ada: signifikansinya hampir sama dengan reflek tonik pada leher asimetris 6. Otolith-rigthing: Jika badan bayi yang tegak ditengadahkan, kepala kembali tegak, posisi tegak. Deviasi: Tidak ada:signifikansinya hampir sama dengan tonikleher asimetris 7. Inkurvasi batang tubuh (Galant): 86

Sentuhan pada punggung bayi sepanjang tulang belakang menyebabkan panggul bergerak ke arah sisi yang distimulasi: refleks ini harus hilang pada usia 4 minggu. Deviasi: Tidak adanya refleks ini menunjukkan lesi medula spinalis. 8. Menari atau melangkah: Jika bayi dipegang sedemikian rupa hingga telapak kaki menyentuh permukaan keras, akan ada fleksi dan ekstensi resiprokal dari kaki, menstimulasi berjalan: harus hilang setelah usia 3-4 minggu, digantikan oleh gerakan yang dikehendaki. Deviasi: Langkah tidak simetris 9. Merangkak: Bayi bila ditempatkan pada abdomennya (tertelungkup),membuat gerakan merangkak dengan tangan dan kaki: harus hilang kira kira pada usia 6 minggu. Deviasi: Gerakan tidak simetris 10. Placing: Bila bayi dipegang tegak di bawah lengannya dan sisi dorsal telapak kaki dengan tibatiba ditempatkan diatas objek keras, seperti meja, kaki mengangkat seolah-olah telapak melangkah diatas meja, usia hilangnya refleks ini bervariasi Deviasi: Tidak ada reflek V. ANALISA DATA Data DS : Etiologi Bayi lahir Masalah Risiko perubahan DO : perbedaan suhu tubuh dalam perut ibu dan lingkungan luar tubuh: hipotermia/ Adaptasi hipertermia tinggi suhu

Bayi belum mampu mengatur suhu tubuh

Risiko tinggi perubahan suhu tubuh: hipotermia/ hipertermia DS : Bayi baru lahir Adaptasi DO:Pertahanan imunologi belum matur Faktor lingkungan Risiko infeksi tinggi

Bakteri mudah masuk kedalam tubuh bayi dan berkembang biak

Risiko tinggi infeksi 87

DS : Ibu memiliki

Faktor penyebab

Gangguan nutrisi: kurang dari

keinginan menurunkan berat tetapi badan, masih

ASI tidak keluar, ibu ada keinginan menurunkan berat badan tetapi masih ingin menyusui

kebutuhan

Asupan ASI tidak adekuat

ingin menyusui Bayi tidak mendapat nutrisi optimal DO : ASI (-) Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan

V. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan ASI tidak adekuat ditandai dengan ASI (-). 2. Risiko tinggi perubahan suhu tubuh: hipotermia/ hipertermia berhubungan dengan kontrol terhadap temperatur immatur dan perubahan suhu lingkungan. 3. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan kurangnya pertahanan imunologi dan faktor lingkungan. INTERVENSI KEPERAWATAN No Diagnosa Keperawatan Tinjau ulang riwayat prenatal ibu terhadap ada stressor berdampak simpangan neonatus. APGAR saal Stresor stress meningkatkanlaju metabolisme dan dengan cepat menurunkan kelahiran dan dingin kemungkinan yang pada glukosa Bayi cukup bulan yang khususnya hipoglikemia rentan pada Tujuan Intervensi Keperawatan Rasional

1.

Gangguan

Setelah

nutrisi: kurang dilakukan dari kebutuhan perawatan berhubungan dalam x 24 nutrisi cairan adekuat

dengan asupan jam, ASI adekuat ditandai dengan tidak dan BBL

mengalami

stress kronis dalam uterus.

dengan kriteria Perhatikan hasil : Bebas dari score lahir,

kondisi

tipe/waktu

DS: DO: ASI (-).

tanda-tanda hipoglikemia, dengan glukosa normal kadar darah

pemberian obat, dan suhu awal pada

penerimaan di ruang perawatan bayi. Turunkan stressor

simpanan glukosa. Hipotermi meningkatkan

88

Menunjukan penurunan berat sama atau dari berat lahir badan dengan kurang

fisik seperti dingin, pengerahan fisik, dan pemajanan berlebihan pada panas. pemancaran

konsumsi

energy

dan

penggunakan lemak coklat

simpanan yg tidak

dapat diperbaharui.

5%-10% Timbang berat badan badan pada bayi saat menerima di ruang perawatan Periksa hipoglikemia pada waktu usia 1 jam dengan menggunakan dextrostik, dan lebih sering sesuai dengan yang untuk diindikasikan bayi

waktu pulang.

setelah itu setiap hari. Menetapkan kebutuhan

kalori dan cairan sesuai dengan berat badan dasar yang menurun secara normal 5%-

sebanyak

10% dalam 3 sampai 4 hari. BBL mempertahankan dapat kadar

simptomatik/resiko tinggi. Observasi tremor, takipnea, terhadap iritabilitas, diaforesisi,

glukosa maternal sampai 1 jam setelah kelahiran,

tetapi setelah waktu ini, konsumsi oksigen dapat melebihi produksi masukan dan

sianosis, pucat, dan aktivitas kejang;

mengakibatkan

hipoglikemia.

Menandakan hipoglikemia berkenaan dengan kadar glukosa darah kurang dari

Pantau bayi baru lahir terhadap perhatikan peningkatan kadar kebiruan;

45 mg/dl. SDM glukosa mencetuskan polisitemia hipoglikemia. adalah consumer tertinggi, bayi terhadap

Hb/Ht (Hb >20g/dl, Ht >60%).

89

Auskultasi usus. adanya abdomen,

bising Perhatikan distensi adanya Indikator menunjukan yang neonates

lapar/siap untuk makan.

tangisan lemah yang diam oral bila rangsang dan

diberikan

perilaku rooting/menghisap. Lakukan makanan pemberian oral awal Pemberian bayi makan awal

dengan 5-15 ml air steril, dekstrosa kemudian dan air,

menyusi

biasanya

terjadi di ruang kelahiran. Sedangkan, air mungkin diberikan perawatan mengkaji bayi diruang utnuk

berlanjut pada formula

kefektifan

menghisap,menelanrefleks gag, Pantau konstentrasi, warna, dan dan kepatenan

esophagus. Kebutuhan cairan rentang dari 140 sampai 160 ml/24 jam, karena BBL secara proposional mempunyai

frekuensi berkemih.

cadangan cairan yang lebih sedikit dan kebutuhan

cairan lebih besar daripada anak KOLABORASI Dapatkan glukosa yang lebih tua

maupun orang dewasa. Pengukuran glukosa darah memastikan temuan

darah segera bila kadar dextrostix kurang dari 45mg/dl Berikan glukosa

dextrostix dan kebutuhan terhadap intervensi. Bayi memerlukan glukosa mungkin suplemen untuk

dengan segera per-oral

90

atau intravena. Diskusikan pentingnya termoregulasi bayi baru lahir. Pertahankan suhu suhu terjaga ruangan antara 24 25,5 derajat celcius. Demonstrasikan teknik yang tepat untuk pada

meningkatkan serum.

kadar

2.

Risiko

tinggi Setelah dilakukan selama x 24 jam, tubuh

Lingkungan rumah yang termonetral untuk dibutuhkan membantu

perubahan suhu

tubuh: perawatan

hipotermia/ hipertermia berhubungan

kemampuan termoregulasi bayi itu sendiri.

dengan kontrol dengan kriteria terhadap temperatur immatur perubahan suhu lingkungan. hasil: Dapat dan mempertahank an suhu

Teknik yang tidak tepat dapat menimbulkan

mengkaji suhu aksila. Perhatikan tanda iritablitas Observasi lingkungan terhadap termal, konduksi, kehilangan melalui konveksi, tanda

keidakakuratan hasil.

Menunjukkan atau hipertemia.

hipotermia

Suhu tubuh bayi baru lahir berfluktuasi dengan cepat sesuai dengan perubahan suhu lingkungan.

radiasi, dan evaporasi. Bantu orang tua dalam mempelajari tindakan yang tepat untuk

Informasi membantu orang tua menciptakan

mempertahankan suhu bayi membedong dengan meutup suhu rendah derajat. Tempatkan bayi pada lingkungan hangat Beri selimut, pakaian, dan popok Setelah mandi segera keringkan tubuh bayi yang tepat kepala kepala dari seperti bayi dan bila lebih 36,1

lingkungan optimal untuk bayi mereka. Membungkus bayi dan memberikan dikepalanya

penutup

membantu menahan panas tubuh.

Dapat

mempertahankan

suhu tubuh bayi

91

Hindari bayi kontak langsung dengan udara dingin, kipas angin, jendela terbuka, dan ventilasi berlebihan. 3. Risiko infeksi berhubungan dengan kurangnya pertahanan tinggi Setelah dilakukan perawatan selama x 24 jam, tidak Lap kulit dengan untuk setelah hindari secara Terjadinya ditingkatkan jumlah infeksi dengan bermakna masuk

perlahan mengeringkan mandi ;

merupakan jalan

menggosok berlebihan.

potensial untuk organisme infeksius, seperti

terjadi infeksi.

imunologi dan Meminimalisir faktor lingkungan. terjadinya resiko infeksi denga kriteria hasil : TTV normal. Tidak ada perdarahan. Tidak ada demam Gunakan krim eucerin pada area kulit yang kering, khususnya pada pergelangan kaki dan pergelangan tangan. Anjurkan dini bila menyusui tepat.

pembuluh darah & tali pusat Membantu mencegah kulti robek dan rusak,khususnya pada bayi dengan kulit kering.

Kolostrum mengandung IgA dalam

dan

ASI

sekretorius jumlah

tinggi,yang Kaji tali pusat dan area pada dasar tali pusat setiap hari dari adanya kemerahan, bau, atau rabas. imunitas. Meningkatkan pengeringan

memberikan

dan

pemulihan, meningkatkan nekrosis dan pengelupasan normal.

Inspeksi

mulut

bayi

Bercak putih yg tidak dapat dihilangkan dan

terhadap adanya plak putih pada mukosa lidah.

yang cenderung berdarah bila disentuh disebabkan oleh Candida albicans,

oral,gusi,dan

Bedakan antara bercak putih dari sariawan dan dadih susu

92

Perhatikan letargi, berat gelisah, suhu,

adanya penambahan

Tanda-tanda ini munjukan kemungkinan infeksi.

badan

buruk,

Infeksi yang didapat secara tranplasenta cenderung

penurunan ikterik, gejala

mempengaruhi hepar dan fungsi SSP. Mencegah infeksi terjadinya

pernapasan, atau lesi terlihat.

Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan pada bayi

KOLABIRASI Pantau pemeriksaan laboratorium, indikasi : Jumlah SDP Kadar serum sesuai Defisiensi neutrofil yang berperan dalam respons fagosit awal dan defisiensi immunoglobulin spesifik

membuat bayi cukup bulan cenderung terkena infeksi. Mencegah terjadinya

IgE,IgM,dan IgA Kultur lesi,pustule,atau drainase bila ada. Kultur darah antibiotic oral, atau

infeksi dari lingkungan. Peningkatan pada terjadi terhdapa kadar IgM dapat respon organism

kelahiran sebagai

Berikan topical, parental

infeksius dalam uterus. nistatin pada diatas Mengidentifikasi kemungkinan pathogen. Mendiagnosis adanya

Berikan (mycostatin) mulut, swab

mukosa oral, gusi, dan lidah.

bakterimia atau sepsis serta mengidentifikasi penyebab. Mengesampingkan agen

organisme patogenik Menghilangkan albicans, penyebab 93

Candida organism

sariawan stomatitis mikotik.

dan

Daftar Pustaka Varneys Midwifery, Ilmu Kebidanan, 2004 Bobak, L. Jensen, 2005,Buku Ajar Perawatan Maternitas,EGC,Jakarta hal 387-388 Doenges, Marlynn. 2001. Rencana Perawatan Maternal/ Bayi Edisi 2. Jakarta : EGC. http://erlitagustin04.blogspot.com/2010/11/aspek-sosial-budaya-pada-bayi-baru.html http://www.clubnutricia.co.id/my_baby/babys_immunity/article/immunization_schedule

94

http://www.jendelaanakku.net/index.php?option=com_content&view=article&id=88:pola-tidur-amasalah-yang-dihadapi-pada-bayi-0-6-bulan&catid=1:perkembangan-anak-a-perilakuanak&Itemid=74[akses 1april2011]

95

96

97