Anda di halaman 1dari 21

AUTISME A.

PENGERTIAN Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. (Sacharin, R, M, 1996 : 305) Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum usia 30 bulan.(Behrman, 1999: 120) Autisme menurut Rutter 1970 adalah Gangguan yang melibatkan kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan), hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif.(Sacharin, R, M, 1996: 305) Autisme pada anak merupakan gangguan perkembangan pervasif (DSM IV, sadock dan sadock 2000) Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan pervasif, atau kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktivitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik berupa kegagalan mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan),hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif serta penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas. B.EPIDEMIOLOGI Prevalensi 3-4 per 1000 anak. Perbandingan laki-laki dari wanita 3-4:1. Penyakit sistemik, infeksi dan neurologi (kejang) dapat menunjukan gejala seperti austik. C.ETIOLOGI Penyebab Autisme diantaranya a.Genetik (80% untuk kembar monozigot dan 20% untuk kembar dizigot) terutama pada keluarga anak austik (abnormalitas kognitif dan kemampuan bicara). b.Kelainan kromosim (sindrom x yang mudah pecah atau fragil). c.Neurokimia (katekolamin, serotonin, dopamin belum pasti). d.Cidera otak, kerentanan utama, aphasia, defisit pengaktif retikulum, keadaan tidak menguntungkan antara faktor psikogenik dan perkembangan syaraf, perubahan struktur serebellum, lesi hipokompus otak depan. e.Penyakit otak organik dengan adanya gangguan komunikasi dan gangguan sensori serta kejang epilepsi f.Lingkungan terutama sikap orang tua, dan kepribadian anak Gambaran Autisme pada masa perkembangan anak dipengaruhi oleh Pada masa bayi terdapat kegagalan mengemong atau menghibur anak, anak tidak berespon saat diangkat dan tampak lemah. Tidak adanya kontak mata, memberikan kesan jauh atau tidak mengenal. Bayi yang lebih tua memperlihatkan rasa ingin tahu atau minat pada lingkungan, bermainan cenderung tanpa imajinasi dan komunikasi pra verbal kemungkinan terganggu dan tampak berteriak-teriak. Pada masa anak-anak dan remaja, anak yang autis memperlihatkan respon yang abnormal terhadap

suara anak takut pada suara tertentu, dan tercengggang pada suara lainnya. Bicara dapat terganggu dan dapat mengalami kebisuan. Mereka yang mampu berbicara memperlihatkan kelainan ekolialia dan konstruksi telegramatik. Dengan bertumbuhnya anak pada waktu berbicara cenderung menonjolkan diri dengan kelainan intonasi dan penentuan waktu. Ditemukan kelainan persepsi visual dan fokus konsentrasi pada bagian prifer (rincian suatu lukisan secara sebagian bukan menyeluruh). Tertarik tekstur dan dapat menggunakan secara luas panca indera penciuman, kecap dan raba ketika mengeksplorais lingkungannya. Pada usia dini mempunyai pergerakan khusus yang dapt menyita perhatiannya (berlonjak, memutar, tepuk tangan, menggerakan jari tangan). Kegiatan ini ritual dan menetap pada keaadan yang menyenangkan atau stres. Kelainann lain adalh destruktif , marah berlebihan dan akurangnya istirahat. Pada masa remaja perilaku tidak sesuai dan tanpa inhibisi, anak austik dapat menyelidiki kontak seksual pada orang asing. D.CARA MENGETAHUI AUTISME PADA ANAK Anak mengalami autisme dapat dilihat dengan: a.Orang tua harus mengetahui tahap-tahap perkembangan normal. b.Orang tua harus mengetahui tanda-tanda autisme pada anak. c.Observasi orang tua, pengasuh, guru tentang perilaku anak dirumah, diteka, saat bermain, pada saat berinteraksi sosial dalam kondisi normal. Tanda autis berbeda pada setiap interval umumnya. a.Pada usia 6 bulan sampai 2 tahun anak tidak mau dipeluk atau menjadi tegang bila diangkat ,cuek menghadapi orangtuanya, tidak bersemangat dalam permainan sederhana (ciluk baa atau kiss bye), anak tidak berupaya menggunakan kat-kata. Orang tua perlu waspada bila anak tidak tertarik pada boneka atau binatan gmainan untuk bayi, menolak makanan keras atau tidak mau mengunyah, apabila anak terlihat tertarik pada kedua tangannya sendiri. b.Pada usia 2-3 tahun dengan gejal suka mencium atau menjilati benda-benda, disertai kontak mata yang terbatas, menganggap orang lain sebagai benda atau alat, menolak untuk dipeluk, menjadi tegang atau sebaliknya tubuh menjadi lemas, serta relatif cuek menghadapi kedua orang tuanya. c.Pada usia 4-5 tahun ditandai dengan keluhan orang tua bahwa anak merasa sangat terganggu bila terjadi rutin pada kegiatan sehari-hari. Bila anak akhirnya mau berbicara, tidak jarang bersifat ecolalia (mengulang-ulang apa yang diucapkan orang lain segera atau setelah beberapa lama), dan anak tidak jarang menunjukkan nada suara yang aneh, (biasanya bernada tinggi dan monoton), kontak mata terbatas (walaupun dapat diperbaiki), tantrum dan agresi berkelanjutan tetapi bisa juga berkurang, melukai dan merangsang diri sendiri. E.MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis yang ditemuai pada penderita Autisme : a.Penarikan diri, Kemampuan komunukasi verbal (berbicara) dan non verbal yang tidak atau kurang berkembang mereka tidak tuli karena dapat menirukan lagu-lagu dan istilah yang didengarnya, serta kurangnya sosialisasi mempersulit estimasi potensi intelektual kelainan pola bicara, gangguan

kemampuan mempertahankan percakapan, permainan sosial abnormal, tidak adanya empati dan ketidakmampuan berteman. Dalam tes non verbal yang memiliki kemampuan bicara cukup bagus namun masih dipengaruhi, dapat memperagakan kapasitas intelektual yang memadai. Anak austik mungkin terisolasi, berbakat luar biasa, analog dengan bakat orang dewasa terpelajar yang idiot dan menghabiskan waktu untuk bermain sendiri. b.Gerakan tubuh stereotipik, kebutuhan kesamaan yang mencolok, minat yang sempit, keasyikan dengan bagian-bagian tubuh. c.Anak biasa duduk pada waktu lama sibuk pada tangannya, menatap pada objek. Kesibukannya dengan objek berlanjut dan mencolok saat dewasa dimana anak tercenggang dengan objek mekanik. d.Perilaku ritualistik dan konvulsif tercermin pada kebutuhan anak untuk memelihara lingkungan yang tetap (tidak menyukai perubahan), anak menjadi terikat dan tidak bisa dipisahkan dari suatu objek, dan dapat diramalkan . e.Ledakan marah menyertai gangguan secara rutin. f.Kontak mata minimal atau tidak ada. g.Pengamatan visual terhadap gerakan jari dan tangan, pengunyahan benda, dan menggosok permukaan menunjukkan penguatan kesadaran dan sensitivitas terhadap rangsangan, sedangkan hilangnya respon terhadap nyeri dan kurangnya respon terkejut terhadap suara keras yang mendadak menunjukan menurunnya sensitivitas pada rangsangan lain. h.Keterbatasan kognitif, pada tipe defisit pemrosesan kognitif tampak pada emosional i.Menunjukan echolalia (mengulangi suatu ungkapan atau kata secara tepat) saat berbicara, pembalikan kata ganti pronomial, berpuisi yang tidak berujung pangkal, bentuk bahasa aneh lainnya berbentuk menonjol. Anak umumnya mampu untuk berbicara pada sekitar umur yang biasa, kehilangan kecakapan pada umur 2 tahun. j.Intelegensi dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam retardasi secara fungsional. k.Sikap dan gerakan yang tidak biasa seperti mengepakan tangan dan mengedipkan mata, wajah yang menyeringai, melompat, berjalan berjalan berjingkat-jingkat.

Ciri yang khas pada anak yang austik : a.Defisit keteraturan verbal. b.Abstraksi, memori rutin dan pertukaran verbal timbal balik. c.Kekurangan teori berfikir (defisit pemahaman yang dirasakan atau dipikirkan orang lain). Menurut Baron dan kohen 1994 ciri utama anak autisme adalah: a.Interaksi sosial dan perkembangan sossial yang abnormal. b.Tidak terjadi perkembangan komunikasi yang normal. c.Minat serta perilakunya terbatas, terpaku, diulang-ulang, tidak fleksibel dan tidak imajinatif. Ketiga-tiganya muncul bersama sebelum usia 3 tahun. F.PENGOBATAN Orang tua perlu menyesuaikan diri dengan keadaan anaknya, orang tua harus memeberikan perawatan

kepada anak temasuk perawat atau staf residen lainnya. Orang tua sadar adanaya scottish sosiety for autistik children dan natinal sosiety for austik children yang dapat membantu dan dapat memmberikan pelayanan pada anak autis. Anak autis memerlukan penanganan multi disiplin yaitu terapi edukasi, terapi perilaku, terapi bicara, terapi okupasi, sensori integasi, auditori integration training (AIT),terapi keluarga dan obat, sehingga memerlukan kerja sama yang baik antara orang tua , keluarga dan dokter. Pendekatan terapeutik dapat dilakukan untuk menangani anak austik tapi keberhasilannya terbatas, pada terapi perilaku dengan pemanfaatan keadaan yang terjadi dapat meningkatkan kemahiran berbicara. Perilaku destruktif dan agresif dapat diubah dengan menagement perilaku. Latihan dan pendidikan dengan menggunakan pendidikan (operant konditioning yaitu dukungan positif (hadiah) dan hukuman (dukungan negatif). Merupakan metode untuk mengatasi cacat, mengembangkan ketrampilan sosial dan ketrampilan praktis. Kesabaran diperlukan karena kemajuan pada anak autis lambat. Neuroleptik dapat digunakan untuk menangani perilaku mencelakkan diri sendiri yang mengarah pada agresif, stereotipik dan menarik diri dari pergaulan sosial. Antagonis opiat dapat mengatasi perilaku, penarikan diri dan stereotipik, selain itu terapi kemampuan bicara dan model penanganan harian dengan menggunakan permainan latihan antar perorangan terstruktur dapt digunakan. Masalah perilaku yang biasa seperti bising, gelisah atau melukai diri sendiri dapat diatasi dengan obat klorpromasin atau tioridasin. Keadaan tidak dapat tidur dapat memberikan responsedatif seperti kloralhidrat, konvulsi dikendalikan dengan obat anti konvulsan. Hiperkinesis yang jika menetap dan berat dapat ditanggulangi dengan diit bebas aditif atau pengawet. Dapat disimpulkan bahwa terapi pada autisme dengan mendeteksi dini dan tepat waktu serta program terapi yang menyeluruh dan terpadu. Penatalaksanaan anak pada autisme bertujuan untuk: a.Mengurangi masalah perilaku. b.Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan terutama bahasa. c.Anak bisa mandiri. d.Anak bisa bersosialisasi. G.PROGNOSIS Anak terutama yang mengalami bicara, dapat tumbuh pada kehidupan marjinal, dapat berdiri sendiri, sekalipun terisolasi, hidup dalam masyarakat, namun pada beberapa anak penempatan lama pada institusi mrp hasil akhir. Prognosis yang lebih baik adalah tingakt intelegensi lebih tinggi, kemampuan berbicara fungsional, kurangnya gejala dan perilaku aneh. Gejala akan berubah dengan pertumbuhan menjadi tua. kejang-kejang dan kecelakaan diri sendiri semakin terlihat pada perkembangan

ASKEP AUTIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Defenisi Istilah autis berasal dari kata autos yang berarti diri sendiri dan isme berarti aliran. Jadi autisme adalah suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri (Purwati, 2007). Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada bayi atau anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Gangguan autis adalah salah satu perkembangan pervasif berawal sebelum usia 2,5 tahun (Devision, 2006).

B. Etiologi Autisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di bawah ini adalah faktor faktor yang menyebabkan terjadinya autis menurut Kurniasih (2002) diantaranya yaitu: 1. Faktor Genetik Faktor pada anak autis, dimungkinkan penyebabnya adanya kelainan kromosom yang disebutkan syndrome fragile x (ditemukan pada 5-20% penyandang autis). 2. Faktor Cacat (kelainan pada bayi) Disini penyebab autis dapat dikarenakan adanya kelainan pada otak anak, yang berhubungan dengan jumlah sel syaraf, baik itu selama kehamilan ataupun setelah persalinan, kemudian juga disebabkan adanya Kongenital Rubella, Herpes Simplex Enchepalitis, dan Cytomegalovirus Infection. 3. Faktor Kelahiran dan Persalinan Proses kehamilan ibu juga salah satu faktor yang cukup berperan dalam timbulnya gangguan autis, seperti komplikasi saat kehamilan dan persalinan. Seperti adanya pendarahan yang disertai terhisapnya cairan ketuban yang bercampur feces, dan obat-obatan ke dalam janin, ditambah dengan adanya keracunan seperti logam berat timah, arsen, ataupun merkuri yang bisa saja berasal dari polusi udara, air bahkan makanan.

Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.

C. Patofisiologi Penyebab pasti dari autisme belum diketahui. Yang pasti diketahui adalah bahwa penyebab dari autisme bukanlah salah asuh dari orang tua, beberapa penelitian membuktikan bahwa beberapa penyebab autisme adalah ketidakseimbangan biokimia, faktor genetic dan gangguan imunitas tubuh. Beberapa kasus yang tidak biasa disebabkan oleh infeksi virus (TORCH), penyakit- penyakit lainnya seperti fenilketonuria (penyakit kekurangan enzim), dan sindrom X (kelainan kromosom). Menurut Lumbantobing (2000), penyebab autisme dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu 1. Faktor keluarga dan psikologi Respon anak-anak terhadap stressor dari keluarga dan lingkungan. 2. Kelainan organ-organ biologi dan neurologi (saraf) Berhubungan dengan kerusakan organ dan saraf yang menyebabkan gangguan fungsi-fungsinya, sehingga menimbulkan keadaan autisme pada penderita 3. Faktor genetik Pada hasil penelitian ditemukan bahwa 2 - 4% dari saudara kandung juga menderita penyakit yang sama. 4. Faktor kekebalan tubuh

D. Manisfestasi Klinik 1. Di bidang komunikasi : a. Perkembangan bahasa anak autis lambat atau sama sekali tidak ada. Anak nampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara lalu kemudian hilang kemampuan bicara. b. Terkadang kata kata yang digunakan tidak sesuai artinya. c. Mengoceh tanpa arti secara berulang ulang, dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain. Bila senang meniru, dapat menghafal kata kata atau nyanyian yang didengar tanpa mengerti artinya. f. Sebagian dari anak autis tidak berbicara (bukan kata kata) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa. g. Senang menarik narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang dia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu. 2. Di bidang interaksi sosial : a. Anak autis lebih suka menyendiri

d. Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi. Senang meniru atau membeo (Echolalia). e.

b. Anak tidak melakukan kontak mata dengan orang lain atau menghindari tatapan muka atau mata dengan orang lain. c. Tidak tertarik untuk bermain bersama dengan teman, baik yang sebaya maupun yang lebih tua dari umurnya. d. Bila diajak bermain, anak autis itu tidak mau dan menjauh. 3. Di bidang sensoris : a. Anak autis tidak peka terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk. Anak autis senang mencium cium, menjilat mainan atau benda benda yang ada disekitarnya. Tidak peka terhadap rasa sakit dan rasa takut.

b. Anak autis bila mendengar suara keras langsung menutup telinga. c.

4. Di bidang pola bermain : a. Anak autis tidak bermain seperti anak anak pada umumnya.

b. Anak autis tida suka bermain dengan anak atau teman sebayanya.

c.

Tidak memiliki kreativitas dan tidak memiliki imajinasi. Senang terhadap benda benda yang berputar seperti kipas angin, roda sepeda, dan sejenisnya. Sangat lekat dengan benda benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana mana.

d. Tidak bermain sesuai fungsinya, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar putar. e. f.

5. Di bidang perilaku : a. Anak autis dapat berperilaku berlebihan atau terlalu aktif (hiperaktif) dan berperilaku berkekurangan (hipoaktif). b. Memperlihatkan perilaku stimulasi diri atau merangsang diri sendiri seperti bergoyang goyang, mengepakkan tangan seperti burung. c. Berputar putar mendekatkan mata ke pesawat televisi, lari atau berjalan dengan bolak balik, dan melakukan gerakan yang diulang ulang. d. Tidak suka terhadap perubahan. e. Duduk bengong dengan tatapan kosong. Anak autis sering marah marah tanpa alasan yang jelas, tertawa tawa dan

6. Di bidang emosi : a.

b. Dapat mengamuk tak terkendali jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya. c. Kadang agresif dan merusak. d. Kadang kadang menyakiti dirinya sendiri. e. Tidak memiliki empati dan tidak mengerti perasaan orang lain yang ada disekitarnya atau didekatnya.

E. Klasifikasi Berdasarkan waktu munculnya gangguan, Kurniasih (2002) membagi autisme menjadi dua yaitu: 1. Autisme sejak bayi (Autisme Infantil) Anak sudah menunjukkan perbedaan-perbedaan dibandingkan dengan anak non autistik, dan biasanya baru bisa terdeteksi sekitar usia bayi 6 bulan. 2. Autisme Regresif

Ditandai dengan regresif (kemudian kembali) perkembangan kemampuan yang sebelumnya jadi hilang. Yang awalnya sudah sempat menunjukkan perkembangan ini berhenti. Kontak mata yang tadinya sudah bagus, lenyap. Dan jika awalnya sudah bisa mulai mengucapkan beberapa patah kata, hilang kemampuan bicaranya. (Kurniasih, 2002). Sedangkan Yatim, Faisal Yatim (dalam buku karangan purwati, 2007) mengelompokkan autisme menjadi : a. Autisme Persepsi Autisme ini dianggap sebagai autisme asli dan disebut autisme internal karena kelainan sudah timbul sebelum lahir b. Autisme Reaksi Autisme ini biasanya mulai terlihat pada anak anak usia lebih besar (6 7 tahun) sebelum anak memasuki tahap berfikir logis. Tetapi bisa juga terjadi sejak usia minggu minggu pertama. Penderita autisme reaktif ini bisa membuat gerakan gerakan tertentu berulang ulang dan kadang kadang disertai kejang kejang.

F. Faktor Resiko Karena penyebab Autis adalah multifaktorial sehingga banyak faktor yang

mempengaruhi.Sehingga banyak teori penyebab yang telah diajukan oleh banyak ahli. Hal ini yang menyulitkan untuk memastikan secara tajam faktor resiko gangguan autis. Faktor resiko disusun oleh para ahli berdasarkan banyak teori penyebab autris yang telah berkembang. Terdapat beberapa hal dan keadaan yang membuat resiko anak menjadi autis lebih besar. Dengan diketahui resiko tersebut tentunya dapat dilakukan tindakan untuk mencegah dan melakukan intervensi sejak dini pada anak yang beresiko. Adapun beberapa resiko tersebut dapat diikelompokkan dalam beberapa periode, seperti periode kehamilan, persalinan dan periode usia bayi PERIODE KEHAMILAN Perkembangan janin dalam kehamilan sangat banyak yang mempengaruhinya. Pertumbuhan dan perkembangan otak atau sistem susunan saraf otak sangat pesat terjadi pada periode ini, sehingga segala sesuatu gangguan atau gangguan pada ibu tentunya sangat berpengaruh. Gangguan pada otak inilah nantinya akan mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak kelak nantinya, termasuk resiko terjadinya autisme

PERIODE PERSALINAN Persalinan adalah periode yang paling menentukan dalam kehidupan bayi selanjutnya. Beberapa komplikasi yang timbul selama periode ini sangat menentukan kondisi bayi yang akan dilahirkan. Bila terjadi gangguan dalam persalinan maka yang paling berbahaya adalah hambatan aliran darah dan oksigen ke seluruh organ tubuh bayi termasuk otak. Organ otak adalah organ yang paling sensitif dan peka terhadap gangguan ini, kalau otak terganggu maka sangat mempengaruhi kualitas hidup anak baik dalam perkembangan dan perilaku anak nantinya. Gangguan persalinan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya autism adalah : pemotongan tali pusat terlalu cepat, Asfiksia pada bayi (nilai APGAR SCORE rendah < 6 ), komplikasi selama persalinan, lamanya persalinan, letak presentasi bayi saat lahir dan erat lahir rendah ( < 2500 gram) PERIODE USIA BAYI Dalam kehidupan awal di usia bayi, beberapa kondisi awal atau gangguan yang terjadi dapat mengakibatkan gangguan pada optak yang akhirnya dapat beresiko untuk terjadinya gangguan autism. Kondisi atau gangguan yang beresiko untuk terjadinya autism adalah prematuritas, alergi makanan, kegagalan kenaikan berat badan, kelainan bawaan : kelainan jantung bawaan, kelainan genetik, kelainan metabolik, gangguan pencernaan : sering muntah, kolik, sulit buang air besar, sering buang air besar dan gangguan neurologI/saraf : trauma kepala, kejang, otot atipikal, kelemahan otot.

G. Penatalaksanaan Terapi yang dilakukan untuk anak dengan autisme 1) Applied Behavioral Analysis (ABA) ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya . Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia. 2) Terapi Wicara Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.

Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang , namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong. 3) Terapi Okupasi Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot2 halusnya dengan benar. 4) Terapi Fisik Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang2 tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot2nya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya. 5) Terapi Sosial Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya. 6) Terapi Bermain Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu. 7) Terapi Perilaku. Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan

merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya, 8) Terapi Perkembangan Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik. 9) Terapi Visual Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambargambar, misalnya dengan metode . Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi. 10) Terapi Biomedik Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis). Tatalaksana autis dibagi menjadi 2 bagian 1. Edukasi kepada keluarga Keluarga memerankan peran yang penting dalam membantu perkembangan anak, karena orang tua adalah orang terdekat mereka yang dapat membantu untuk belajar berkomunikasi, berperilaku terhadap lingkungan dan orang sekitar, intinya keluarga adalah jendela bagi penderita untuk masuk ke dunia luar, walaupun diakui hal ini bukanlah hal yang mudah.

2. Penggunaan obat-obatan Penggunaan obat-obatan pada penderita autisme harus dibawah pengawasan dokter. Penggunaan obat-obatan ini diberikan jika dicurigai terdapat kerusakan di otak yang mengganggu pusat emosi dari penderita, yang seringkali menimbulkan gangguan emosi mendadak, agresifitas, hiperaktif dan stereotipik. Beberapa obat yang diberikan adalah Haloperidol (antipsikotik), fenfluramin, naltrexone (antiopiat), clompramin (mengurangi kejang dan perilaku agresif) H. Asuhan Keperawatan I. a. Pengkajian Identitas Klien Nama, umur, jenis kelamin, alamat, No. MR b. Riwayat Kesehatan Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD) Pada kehamilan ibu pertumbuhan dan perkembangan otak janin terganggu. Gangguan pada otak inilah nantinya akan mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak kelak nantinya, termasuk resiko terjadinya autisme Gangguan pada otak inilah nantinya akan mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak kelak nantinya, termasuk resiko terjadinya autisme. Gangguan persalinan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya autism adalah : pemotongan tali pusat terlalu cepat, Asfiksia pada bayi (nilai APGAR SCORE rendah < 6 ), komplikasi selama persalinan, lamanya persalinan, letak presentasi bayi saat lahir dan erat lahir rendah ( < 2500 gram) Riwayat Kesehatan Sekarang (RKK) Anak dengan autis biasanya sulit bergabung dengan anak-anak yang lain, tertawa atau cekikikan tidak pada tempatnya, menghindari kontak mata atau hanya sedikit melakukan kontak mata, menunjukkan ketidakpekaan terhadap nyeri, lebih senang menyendiri, menarik diri dari pergaulan, tidak membentuk hubungan pribadi yang terbuka, jarang memainkan permainan khayalan, memutar benda, terpaku pada benda tertentu, sangat tergantung kepada benda yang sudah dikenalnya dengan baik, secara fisik terlalu. Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK) Dilihat dari faktor keluarga apakah keluarga ada yang menderita autisme. c. Psikososial

e.

Menarik diri dan tidak responsif terhadap orang tua Memiliki sikap menolak perubahan secara ekstrem Keterikatan yang tidak pada tempatnya dengan objek Perilaku menstimulasi diri Pola tidur tidak teratur Permainan stereotip Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain Tantrum yang sering Peka terhadap suara-suara yang lembut bukan pada suatu pembicaraan Kemampuan bertutur kata menurun Menolak mengonsumsi makanan yang tidak halus

d. Neurologis Respons yang tidak sesuai dengan stimulus Refleks mengisap buruk Tidak mampu menangis ketika lapar Gastrointestinal Penurunan nafsu makan Penurunan berat badan

II. Diagnosa Keperawatan Kemungkinan diagnosa yang muncul 1. Hambatan komunikasi berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulus 2. Resiko membahayakan diri sendiri atau orang lain yang berhubungan dengan rawat inap di rumah sakit 3. Resiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan gangguan III. Intervensi

Diagnosa I Hambatan komunikasi yang berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulus Hasil yang diharapkan : Anak mengomunikasikan kebutuhannya dengan menggunakan kata-kata atau gerakan tubuh yang sederhana dan konkret. Intervensi 1. Ketika berkomunikasi dengan anak, 1. Rasional Kalimat yang sederhana dan diulang-

bicaralah dengan kalimat singkat ulang mungkin merupakan satu-satunya yang terdiri atas satu hingga tiga kata, cara berkomunikasi karena anak yang dan ulangi perintah sesuai yang autistik mungkin tidak tahap mampu pikiran

diperlukan. Minta anak untuk melihat mengembangkan

kepada anda ketika anda berbicara operasional yang konkret. Kontak mata dan pantau bahasa tubuhnya dengan langsung cermat. mendorong anak

berkonsentrasi pada pembicaraan serta menghubungkan pembicaraan dengan bahasa dan komunikasi. Karena

artikulasi anak yang tidak jelas, bahasa tubuh dapat menjadi satu-satunya cara baginya pengenalan untuk atau mengomunikasikan pemahamannya

terhadap isi pembicaraan 2. Gunakan irama, musik, dan gerakan 2. tubuh untuk Gerakan fisik dan suara membantu

membantu anak mengenali integritas tubuh serta sehingga

perkembangan komunikasi sampai batasan-batasannya anak dapat memahami bahasa

mendoronnya terpisah dari objek dan orang lain

3.

Bantu anak mengenali hubungan 3.

Memahami konsep penyebab dan efek anak membangun

antara sebab dan akibat dengan cara membantu menyebutkan khusus dan perasaannya

yang kemampuan untuk terpisah dari objek

mengidentifikasi serta orang lain dan mendorongnya mengekpresikan kebutuhan serta

penyebab stimulus bagi mereka

perasaannya melalui kata-kata 4. Ketika berkomunikasi dengan anak, 4. Biasanya anak austik tidak mampu

bedakan kenyataan dengan fantasi, membedakan antara realitas dan fantasi, dalam pernyataan yang singkat dan dan gagal untuk mengenali nyeri atau jelas sensasi lain serta peristiwa hidup dengan cara yang bermakna.

Menekankan perbedaan antara realitas dan fantasi membantu kebutuhan anak serta

mengekpresikan perasaannya.

Diagnosa II Resiko membahayakan diri sendiri atau orang lain yang berhubungan dengan rawat inap di RS. Hasil yang diharapkan Anak memperlihatkan penurunan kecenderungan melakukan kekerasan atau perilaku merusak diri sendiri, yang ditandai oleh frekuensi tantrum dan sikap agresi atau destruktif bekurang, serta peningkatan kemampuan mengatasi frustasi

Intervensi 1. Sediakan lingkungan kondusif dan 1. sebanyak mungkin

Rasional Anak yang austik dapat berkembang

rutinitas melalui lingkungan yang kondusif dan rutinitas, dan biasanya tidak dapat beradaptasi terhadap perubahan dalam hidup mereka. Mempertahankan

sepanjang periode perawatan di RS

program yang teratur dapat mencegah perasaan frustasi, yang dapat menuntun pada ledakan kekerasan 2. Lakukan intervensi keperawatan 2. Sesi yang singkat dan sering

dalam sesingkat dan sering. Dekati memungkinkan anak mudah mengenal anak dengan sikap lembut, bersahabat perawat serta lingkungan rumah sakit. dan jelaskan apa yang anda akan Mempertahankan sikap tenang, ramah

lakukan dengan kalimat yang jelas, dan mendemontrasikan prosedur pada dan sederhana. Apabila dibutuhkan, orang tua, dapat membantu anak

demontrasikan prosedur kepada orang menerima intervensi sebagai tindakan tua. yang tidak mengancam, dapat

mencegah perilaku destruktif 3. Gunakan restrain fisik selama 3. Restrain fisik dapat mencegah anak

prosedur ketika membutuhkannya, dari tindakan mencederai diri sendiri. untuk memastikan keamanan anak Biarkan anak terlibat dalam perilaku dan untuk mengalihkan amarah dan yang frustasinya, misalnya tidak terlalu membahayakan,

untuk misalnya membanding bantal, perilaku ini memungkinkan amarahnya, frustasinya serta dengan

mencagah anak dari membenturkan semacam kepalanya ke dinding berulang-ulang, menyalurkan

restrain badan anak pada bagian mengekpresikan atasnya, tetapi memperbolehkan anak cara yang aman untuk memukul bantal 4.

Gunakan teknik modifikasi perilaku 4. Pemberian imbalan dan hukuman dapat yang tepat untuk menghargai perilaku membantu mengubah perilaku anak dan positif dan menghukum perilaku yang mencegah episode kekerasan negatif. Misalnya, hargai perilaku yang positif dengan cara memberi anak makanan atau mainan

kesukaannya, beri hukuman untuk perilaku yang negatif dengan cara mencabut hak istimewanya 5. Ketika anak berperilaku destruktif, 5. tanyakan apakah ia Setiap peningkatan perilaku agresif

mencoba menunjukkan perasaan stres meningkat, misalnya kemungkinan muncul dari kebutuhan untuk untuk mengomunikasikan sesuatu.

menyampaikan apakah ia

sesuatu,

ingin

sesuatu

dimakan atau diminum atau apakah ia perlu pergi ke kamar mandi

Diagnosa III Resiko perubahan peran orang tua yang berhubungan dengan gangguan Hasil yang diharapkan Orang tua mendemontrasikan keterampilan peran menjadi orang tua yang tepat yang ditandai oleh ungkapan kekhawatiran mereka tentang kondisi anak dan mencari nasihat serta bantuan Intervensi 1. Anjurkan mengekpresikan orang tua Rasional untuk 1. Membiarkan orang tua mengekpresikan dan perasaan dan kekhawatiran mereka tentang kondisi kronis anak membantu mereka beradaptasi terhadap frustasi dengan lebih baik, suatu kondisi yang tampaknya cenderung meningkat 2. Rujuk orang tua ke kelompok 2. Kelompok pendukung

perasaan

kekhawatiran mereka

pendukung autisme setempat dan memperbolehkan orang tua menemui kesekolah khusus jika diperlukan orang tua dari anak yang menderita autisme untuk berbagi informasi dan memberikan dukungan emosioanl 3. Anjurkan orang tua untuk mengikuti 3. konseling (bila ada) Kontak dengan kelompok swabantu membantu orang tua memperoleh

informasi tentang masa terkini, dan perkembangan dengan autisme yang berhubungan

IV. Implementasi Setelah rencana disusun , selanjutnya diterapkan dalam tindakan yang nyata untuk mencapai hasil yang diharapkan. Tindakan harus bersifat khusus agar semua perawat dapat menjalankan dengan baik, dalam waktu yang telah ditentukan. Dalam implementasi keperawatan perawat langsung melaksanakan atau dapat mendelegasikan kepada perawat lain yang dipercaya

V. Evaluasi

Merupakan tahap akhir dimana perawat mencari kepastian keberhasilan yang dibuat dan menilai perencanaan yang telah dilakukan dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien teratasi. Disamping itu perawat juga melakukan umpan balik atau pengkajian ulang jika yang ditetapkan belum tercapai dalam proses keperawatan

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada bayi atau anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Gangguan autis adalah salah satu perkembangan pervasif berawal sebelum usia 2,5 tahun (Devision, 2006). Autisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di bawah ini adalah faktor faktor yang menyebabkan terjadinya autis menurut Kurniasih (2002) diantaranya yaitu : Faktor Genetik, Faktor Cacat (kelainan pada bayi), Faktor Kelahiran dan Persalinan

B. Saran Besar harapan kelompok agar makalah ini dapat dijadikan salah satu panduan memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan autisme

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Aris, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius : Jakarta Ngastiyah, 1997. Perawatan Anak Sakit. Buku Kedokteran EGC : Jakarta