Anda di halaman 1dari 4

GIZI BURUK, GIZI KURANG, DAN KEP

Gizi buruk
Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk 8 Fakta tentang Gizi Buruk: 1. Kondisi gizi buruk termasuk busung lapar dapat dicegah. 2. Gizi buruk adalah masalah yang bukan hanya disebabkan oleh kemiskinan, (masalah struktural) tapi juga karena aspek sosial dan budaya hingga menyebabkan tindakan yang tidak menunjang tercapainya gizi yang memadai untuk balita (masalah individual dan keluarga). Di Pidie Aceh, Dinas Kesehatan dan UNICEF menemukan 454 balita dari 45.000 balita mengalami gizi buruk akibat konflik dan tsunami. Di Gianyar, 80% balita yang mengalami gizi buruk bukan berasal dari keluarga miskin (gakin). 3. Diperkirakan bahwa Indonesia kehilangan 220 juta IQ poin akibat kekurangan gizi. Dampak lain dari gizi kurang adalah menurunkan produktivitas, yang diperkirakan antara 20-30%. 4. Anak yang kekurangan gizi pada usia balita akan tumbuh pendek, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak yang berpengaruh pada rendahnya tingkat kecerdasan, karena tumbuh kembang otak 80 % terjadi pada masa dalam kandungan sampai usia 2 tahun. 5. Risiko meninggal dari anak yang bergizi buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal. WHO memperkirakan bahwa 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh keadaan gizi anak yang jelek. 6. 6,7 juta balita atau 27.3% dari seluruh balita di Indonesia menderita kurang gizi akibat pemberian ASI dan makanan pendamping ASI yang salah. 1.5 juta diantaranya menderita gizi buruk. 7. Kurang Energi Protein (KEP) ringan sering dijumpai pada anak usia 9 bulan hingga 2 tahun, meskipun dapat juga dijumpai pada anak lebih besar.

8. Beberapa penelitian menunjukkan pada KEP berat resiko kematian cukup besar, yaitu sekitar 55%. Kematian ini seringkali terjadi karena penyakit infeksi (seperti Tuberculosis, Madang paru, infeksi saluran cerna) atau karena gangguan jantung mendadak

KEP
KEP merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. KEP disebabkan oleh defisiensi macro nutrient (zat gizi makro). Meskipun sekarang ini terjadi pergeseran masalah gizi dari defisiensi macro nutrient kepada defisiensi micro nutrient, namun beberapa daerah di Indonesia prevalensi KEP masih tinggi (> 30%) sehingga memerlukan penanganan intensif dalam upaya penurunan prevalensi KEP. Penyakit akibat KEP ini dikenal dengan Kwashiorkor, Marasmus, dan Marasmic Kwashiorkor. Kwashiorkor disebabkan karena kurang protein. Marasmus disebabkan karena kurang energi dan Marasmic Kwashiorkor disebabkan karena kurang energi dan protein. KEP umumnya diderita oleh balita dengan gejala hepatomegali Tanda-tanda anak yang mengalami Kwashiorkor adalah badan gemuk berisi cairan, depigmentasi kulit, rambut jagung dan muka bulan (moon face). Tanda-tanda anak yang mengalami Marasmus adalah badan kurus kering, rambut rontok dan flek hitam pada kulit. Adapun yang menjadi penyebab langsung terjadinya KEP adalah konsumsi yang kurang dalam jangka waktu yang lama. Pada orang dewasa, KEP timbul pada anggota keluarga rumahtangga miskin olek karena kelaparan akibat gagal panen atau hilangnya mata pencaharian. Bentuk berat dari KEP di beberapa daerah di Jawa pernah dikenal sebagai penyakit busung lapar atau HO (Honger Oedeem). Menurut perkiraan Reutlinger dan Hydn, saat ini terdapat 1 milyar penduduk dunia yang kekurangan energi sehingga tidak mampu melakukan aktivitas fisik dengan baik. Disamping itu masih ada 0,5 milyar orang kekurangan protein sehingga tidak dapat melakukan aktivitas minimal dan pada anak-anak tidak dapat menunjang terjadinya proses pertumbuhan badan secara normal. Di Indonesia masalah kekurangan pangan dan kelaparan merupakan salah satu masalah pokok yang dihadapi memasuki Repelita I dengan banyaknya kasus HO dan kematian di beberapa daerah. Oleh karena itu tepat bahwa sejak Repelita I pembangunan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk merupakan tulang punggung pembangunan nasional kita. Bahkan sejak Repelita III pembangunan pertanian tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi

pangan dan meningkatkan pendapatan petani, tetapi secara eksplisit juga untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat.

Besar dan Luas Masalah KEP


Dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa KEP merupakan salah satu bentuk kurang gizi yang mempunyai dampak menurunkan mutu fisik dan intelektual, serta menurunkan daya tahan tubuh yang berakibat meningkatnya resiko kesakitan dan kematian terutama pada kelompok rentan biologis.

Kekurangan vitamin, mineral dan elektrolit pada penderita KEP NO 1 2 3 4 PENYAKIT Buta senja (xeroftalmia) Beri-beri Ariboflavinosis Defisiensi Niasin DEFISIENSI Vitamin A Vitamin B1 Vitamin B2 Niasin GEJALA KLINIK Mata rabun atau buta Badan bengkak, rewel, gelisah, kardiomiopati Retak pada sudut mulut, lidah merah jambu dan licin Gejala 3 D (dermatitis, diare, dementia), nafsu makan turun, sakit lidah dan mulut, insomnia, 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Defisiensi Asam Folat Defisiensi B12 Defisiensi C Rakitis dan Osteomalacia Defisiensi K Anemia defisiensi besi Defisiensi Seng Defisiensi tembaga Hipokalemia Defisiensi klor Defisiensi fluor Asam Folat Vitamin B12 Vitamin C Vitamin D Vitamin K Zat Besi Seng Tembaga Kalium Klor Fluor bingung Anemia, diare Anemia, sel darah membesar, lidah halus mengilap, rasa mual, muntah, konstipasi Cengeng, mudah marah, nyeri tungkai bawah, pseudoparalisis, perdarahan Pembengkakan persendian, deformitas tulang, pertumbuhan gigi melambat, hipotoni, anemia Perdarahan Pcat, lemah, rewel Mudah sakit, pertumbuhan lambat, nafsu makan turun, dermatitis Gangguan perkembangan otak, rambut jarang dan mudah patah, kelainan tulang Lemah otot, gangguan jantung Lemah, cengeng Risiko caries dentis

16 17 18 19

Defisiensi krom Hipomagnesemia Defisiensi fosfor Defisiensi iodium

Krom Magnesium Fosfor Iodium

Gangguan pertumbuhan Defisiensi hormone paratiroid Nafsu makan turun, lemas Gangguan tiroid, gangguan funsi mental dan perkembangan fisik