Anda di halaman 1dari 7

PENGGUNAAN INDACATEROL PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)

PENDAHULUAN Penyakit Paru Obstruktif kronis (PPOK) adalah penyakit paru yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara pada saluran pernafasan yang tidak sepenuhmya reversible. Saat ini PPOK menjadi penyebab kematian keempat terbanyak diseluruh dunia. Diperkirakan pada tahun 2020, akan menjadi penyebab kematian nomor 3 terbanyak diseluruh dunia. Beberapa penyakit yang termasuk didalam kelompok besar penyakit PPOKadalah emfisema, bronkitis kronik, dan penyakit saluran nafas kecil (small airway disease). Global initiative for chronic obstructive lung disease (GOLD) merekomendasikan penggunaan bronkodilator seperti golongan beta-2 agonis dan antikolinergik sebagai terapi simptomatik PPOK. Indacaterol sebagai bronkodilator inhalasi golongan beta-2 agonis mempunyai waktu kerja yang panjang mencapai 24 jam (ultra long acting bronchodilator) sehingga diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan berobat pasien PPOK.1 PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran nafas yang bersifat progresif nonreversible atau reversible parsial. PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan keduanya. Menurut guideline GOLD (global initiative for chronic Obstructive lung disease)baru (periode 2011), definisi COPD berubah menjadi penyakit yang bisa dicegah dan bisa diobati, yang dikarakterisasi oleh keterbatasan aliran udara persisten yang biasanya progresif dan berhubungan dengan peningkatan respon inflamasi kronis saluran nafas dan paru-paru terhadap partikel atau gas-gas berbahaya.

Gambar 1: Gambaran Radiologi PPOK

Bronkitis kronik Kelainan saluran nafas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut-turut, tidak disebabkan penyakit lainnya.

Gambar 2 : Gambaran Radiologis Bronkitis kronik

Emfisema Suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli. Pada prakteknya cukup banyak penderita bronkitis kronik memperlihatkan tanda-tanda emfisema, termasuk penderita asma persisten berat dengan obstruksi jalan nafas yang tidak reversible penuh dan memenuhi kriteria PPOK.2,3

Gambar 3 : Gambaran Radiologis Emfisema

PATOGENESIS DAN PATOLOGI Pada bronkitis kronik terdapat pembesaran kelenjar mukosa bronkus, metaplasia sel goblet, inflamasi, hipertrofi otot polos pernapasan serta distorsi akibat fibrosis. Emfisema

ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli. Secara anatomik dibedakan tiga jenis emfisema: Emfisema sentriasinar, dimulai dari bronkiolus respiratori dan meluas ke perifer, terutama mengenai bagian atas paru sering akibat kebiasaan merokok lama. Emfisema panasinar (panlobuler), melibatkan seluruh alveoli secara merata dan terbanyak pada paru bagian bawah. Emfisema asinar distal (paraseptal), lebih banyak mengenai saluran napas distal, duktus dan sakus alveoler. Proses terlokalisir di septa atau dekat pleura. Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat ireversibel dan terjadi karena perubahan struktural pada saluran napas kecil yaitu : inflamasi, fibrosis, metaplasi sel goblet dan hipertropi otot polos penyebab utama obstruksi jalan napas.2

Gambar 4 : Konsep Patogenesis PPOK

INDACATEROL DEFINISI Indacaterol merupakan bronkodilator golongan beta 2 agonis dengan waktu kerja 24 jam (ultra long acting bronchodilator) yang secara bermakna menurunkan volume ekspiratori paksa 1 detik pertama (FEV 1) pada penderita PPOK. 1 Agonis 2 Prinsip kerja agonis 2 adalah merelaksasi otot polos saluran pernafasan melalui stimulasi pada reseptotor 2 adrenergik, yang dapat meningkatkan siklik AMP sehingga terjadi

antagonis fungsional penyebab bronkokonstriksi. Agonis 2 berdasarkan kelarutan dan durasi kerjanya dibagi menjadi 3 bagian yaitu : 1. Agonis 2 kerja singkat (SABA) 2. Agonis 2 kerja lama (LABA) 3. Agonis 2 ultra long acting Agonis 2 kerja singkat baik yang dipakai secara regular maupun saat diperlukan dapat memperbaiki FEV1 dan gejala PPOK walopun pemakaian pada PPOK tidak dianjurkan apabila dengan dosis tinggi. Agonis 2 kerja lama, durasi kerja sekitar 12 jam atau lebih. Saat ini yang tersedia adalah formoterol dan salmeterol. Obat ini dipakai sebagai ganti Agonis 2 kerja cepat apabila pemakaiannya memerlukan dosis tinggi atau dipakai dalam jangka waktu lama. Efek obat ini dapat memperbaiki FEV 1 dan volume paru, mengurangi sesak nafas, memperbaiki kualitas hidup, dan menurunkan kejadian eksaserbasi, akan tetapi tidak dapat memperbaiki mortality dan besar penurunan faal paru.

Gambar 5 : Rumusan Kimia Indacaterol 6

Agonis 2 dengan durasi kerja 24 jam, preparat yang ada adalah indacaterol. Walaupun salmeterol dan formoterol merupakan LABA dengan durasi kerja > 12 jam, kedua obat tersebut memiliki sifat farmakologi yang berbeda. Keduanya bersifat lipofilik yang menyebabkan durasi

kerja lama dan sangat selektif pada reseptor 2. Perbedaan sifat kedua obat tersebut adalah sebagai berikut : Formoterol memiliki omset kerja lebih cepat dibandingkan salmeterol. Onset yang cepat tersebut telah mendapat pengakuan yang kemudian direkomendasikan untuk dapat dipakai sebagai rescue atas gejala sesak nafas. 70% terjadi bronkodilatasi maksimum dalam waktu 5 menit setelah inhalasi, dibandingkan dengan salmeterol yang memerlukan waktu 1 jam. Dilihat dari potensinya, salmeterol merupakan agonis parsial sedangkan formoterol merupakan agonis penuh. Untuk mendapatkan efek bronkodilatasi yang sama bronkodilator parsial memerlukan ikatan dengan resptor yang lebih banyak. Efek samping agonis 2 diakibatkan oleh stimulasi reseptor 2 yang berlebihan sehingga dapat menimbulkan takikardi, kelainan irama jantung, khususnya pada pasien yang peka. Efek samping tremor bias menjadi masalah apabila terjadi pada orangtua terutama bila dipakai dosis yang lebih tinggi. Hipokalemia dapat terjadi terutama bila dikombinasi dengan pemakaian diuretika jenis tiazide. Konsumsi oksigen dapat meningkat pada keadaan istirahat, dampak metabolik tersebut berupa takipilaksis yang tidak sesuai dengan kerja bronkodilatasi.4 FARMAKOLOGI Indacaterol adalah 2 agonis adrenoreseptor ultra long acting bronchodilator. Obat ini merangsang adenyl siklase intraseluler, enzim ini mengkatalis konversi dari ATP menjadi siklik AMP. Hal ini menyebabkan relaksasi otot polos bronkus, sehingga indacaterol bertondak secara local sebagai bronkodilator ketika dihirup. 4,6
Calcium channel

indacaterol

2
SR Ca++

AT P
cAMp

Gs

MLC

MLCK
Phosphatase

Pi

abbreviations. SR. Sarcoplasmis reticulum: Gq. Gs-protein: MLC. Myosin light chain:MLCK. Myosin light chain kinase: Pi. myosin phosphorylation.

Gambar 2. Kerja Obat Indacaterol golongan 2 agonis

Indacaterol merangsang protein GS ( G stimulator ) yang mengaktifkan sistem cAMPadenil siklase. Hal ini mengakibatkan terjadinya katalisasi ATP menjadi AMP sehingga tidak terjadi ikatan aktin dan myosin pada otot. EFEK SAMPING Batuk Sakit Tenggorokan Sakit Kepala Takikardi Mual Selesma dll 5

KONTRAINDIKASI Indacaterol tidak boleh digunakan pada penderita asma, dan juga tidak dianjurkan pada penderita PPOK yang memburuk (eksaserbasi akut). Indacaterol juga tidak dianjurkan pada anak-anak. Bagi penderita penyakit tertentu perlu pertimbangan lebih lanjut dalam pemberian obat ini.5 DOSIS OBAT & CARA PAKAI Indacaterol merupakan bronkodilator golongan beta-2 agonis dengan waktu kerja 24 jam (ultra long acting bronchodilator) yang dikonsumsi sekali sehari. Dosis yang dianjurkan untuk obat ini adalah 75 g atau 150 g dalam bentuk kapsul yang dimasukkan kedalam alat inhaler kemudian dihirup dengan mulut.5

RUJUKAN
1. Indacaterol Sebagai Bronkodilator Kerja Panjang Untuk PPOK. Cermin Dunia Kedokteran 180. 2010;515-517 2. Perhimpunan Dokter PAru Indonesia. Penyakit PAru Obstruksi Kronis (PPOK)Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Di Indonesia. Jakarta. PPDI. 2003;1-32. 3. Wiyono W H. Position LABACS in New GOLD Guideline. The 10
th

Scientific

Respiratory Medicine Meeting PIPKRA 2012. Cermin Dunia Kedokteran 191 Volume 39 No 3. 2012;233-234 4. Amin M. LABACS Provide A simple Convenient And Effective COPD Therapy. Majalah Kedokteran Respirasi Volume 3. 2012. Diunduh dari :

http//www.pharmatimes.com//article 101103_indacaterol_in_COPD. 5. Abramovicz M, Zucootti G, Plofmm J M, Daron S M, Zanone C E, Shah BM, et al. The Medical Letter. 2012;33-36 6. Rajiv J, Suresh D, Akash G, REvindra T, Chetan C. indacaterol: A New Approved Molecule To Treat COPD. International Journal of Research in Ayuverda & Pharmacy. 2011;1518-1519