Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Hemoroid dikenal di masyarakat sebagai penyakit wasir atau ambeien merupakan penyakit yang sering dijumpai dan telah ada sejak jaman dahulu. Namun masih banyak masyarakat yang belum mengerti bahkan tidak tahu mengenai gejala-gejala yang timbul dari penyakit ini. Banyak orang awam tidak mengerti daerah anorektal (anus dan rektum) dan penyakit-penyakit umum yang berhubungan dengannya. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan dimana limbah berupa tinja keluar dari dalam tubuh. Sedangkan rektum merupakan bagian dari saluran pencernaan di atas anus, dimana tinja disimpan sebelum dikeluarkan dari tubuh melalui anus. Sepuluh juta orang di Amerika dilaporkan menderita hemoroid dengan prevalensi lebih dari 4 %. (Probosuseno, 2009). Hemoroid terkjadi akibat pembendungan struktur vaskuler normal selama mengejan. Gejalanya adalah perdarahan, rasa penuh, secret, gatal dan dapat mengalami thrombosis dengan nyeri hebat, kadang-kadang terkikis melalui kulit. (Seymour l. Schwartz, 2000:424) Gejala hemoroid dan ketidak nyamanan dapt dihilangkan dengan personel hygiene yang baik dan menghindari mengejan berlebihan selama defekasi. Diet tinggi serat yang mengandung buah. Bila tindakan ini gagal laktasif yang berfungsi mengabsorbsi air saat melewati usus dapat membantu, rendam duduk dengan salep dan supositor yang mengandung anestesi, astrigen da tirah baring adalah tindakan yang memungkinkan pembesaran berkurang. (Suzanne C. Smeltzer, dkk, 2002:1138). Kebanyakan penderita dalam jangka waktu lama dan mencari bantuan kesehatan bila menemukan perubahan pada kebiasaan defekasi atau perdarahn rektal. (Suzanne C. Smeltzer, dkk, 2002:1123).

1.2

Tujuan Teori yang telah dikaji dan dipahami dapat diimplementasikan dalam menangani kasus pasien dengan hemorroid. Dalam implementasi kasus diharapkan teori yang telah dikaji dan dipahami dapat mendapatkan hasil yang memuaskan.

1. Tujuan Umum:

2. Tujuan Khusus Mampu melakukan pemeriksaan dan menegakkan diagnosis terhadap pasien dengan hemoroid. Mampu menyusun rencana tindakan kegawat daruratan pada pasien hemoroid Mampu mengevaluasi hasil akhir dari tindakan yang telah dilakukan pada pasien hemoroid 1.3 Manfaat 1. Manfaat Teoritis Menambah ilmu terutama dalam kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan hemoroid dan memperbaharui teori yang ada tentang hemoroid (ambeien/ wasir). 2. Manfaat Praktis Untuk memperoleh pengalaman dalam hal mengadakan Karya Tulis Ilmiah (KTI) sehingga penulis terpacu untuk meningkatkan potensi diri sehubungan dengan pengetahuan tentang hemoroid.

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Anamnesa a. Identitas Pasien dan keluarga Dalam identitas pasien ini perlu ditanyakan antara lain adalah nama pasien, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaaan, status perkawinan dan alamat. b. Riwayat kesehatan 1) Riwayat kesehatan sekarang Pasien mengeluh BAB keras, tidak teratur dan bila mengedan terasa nyeri Perdarahan pada waktu defekasi berwarna merah segar yang disertai pengeluaran lendir Terasa gatal pada anus Pasien mengeluh adanya varises atau hemoroid yang keluar dari anus saat defekasi Pasien yang varises berat tidak dapat memasukan sendiri secara spontan tetapi harus didorong kembali sedangkan varises sedang bisa masuk sendiri, untuk yang tidak dapat masuk maka akan terjadi pembengkakan dan kemerahan pada anus. 2) Riwayat kesehatan dahulu Pasien tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya 3) Riwayat Kesehatan Keluarga Hemoroid bukanlah suatu penyakit menular tetapi ada juga dipengaruhi oleh faktor keturunan.

2.2

Patofisiologi Secara herediter dinding vena lemah, ini bisa ditimbulkan dari factor mengejan yang dapat meningkatkan tekanan intra abdomen. Hal ini dipengaruhi antara lain pekerjaan, misalnya mengangkat yang terlalu berat, batuk kronis, dan mengejan saat proses persalinan, makanan yang merangsang misalnya makanan yang pedas-pedas, diet rendah serat (selulosa). Letak plexus vena berada antara mukosa dan spingter ani. Pada kebiasaan berak yang terlalu lama dapat terjadi dilatasi spingter ani. Karena vena kurang penyangga maka spingter ani akan mengendor, dengan demikian lama kelamaan akan menimbulkan varises. Akibat vena yang melebar dan berkelok, maka akan menimbulkan gejala perdarahan. Karena dindingnya menonjol dan terlalu tipis, sehingga tinja akan menyebabkan perdarahan segar, setelah itu pada perkembangannya dapat timbul benjolan. (Darma Adji, 1991) Kolon sigmoid mulai setinggi krista illiaca dan berbentuk suatu lekukan berbentuk S, lekukan bagian bawah membelok ke kiri waktu kolon sigmoid bersatu dengan rectum, yang menjelaskan alasan anatomis meletakkan penderita pada sisi kiri bila diberi barium enema. Pada posisi ini, gaya berat membantu menyalinkan air dari rectum ke pleksura sigmoid. Bagian utama usus besar yang terakhir dinamakan rektum dan terbentang dari kolon sigmoid sampai anus( muara ke bagian luar tubuh). Satu inci dari rektum dinamakan kanalis ani dan dilindungi oleh spingter ani eksternus dan internus. Panjang rektum dan kanalis ani sekitar 5,9 inci (15cm). Suplai darah tambahan untuk rektum adalah melalui arteria sacralis media dan arteria hemorhoidalis inferior dan media yang dikembangkan dari arteria iliaka interna dan aorta abdominalis. Alur balik vena dari kolon dan rectum superior melalui vena mesenterika superior dan inferior dan vena hemorhoidalis superior, yaitu bagian dari system vorta yang menyalinkan darah ke hati.

Vena hemorhoidalis media dan inferior mengalirkan darah ke vena iliaka dan merupakan bagian dari sirkulasi sistemik. Terdapat anastomosik antara vena hemorhoidalis superior, media dan inferior, sehingga peningkatan tekanan vorta dapat mengakibatkan aliran balik ke dalam vena-vena ini dan mengakibatkan hemorrhoid. 2.3 Etiopatogenesa Teori pergeseran lapisan anus (sliding anal lining theory) merupakan teori yang paling tepat menjelaskan etiologi terjadinya penyakit hemoroid. Hemoroid terjadi karena gangguan pada Treitzs muscle dan jaringan ikat elastis. Hipertropi dan kongesti vaskular merupakan akibat sekunder. Hemoroid terjadi akibat sering mengedan dan BAB yang tidak teratur, yang merupakan gambaran yang cocok untuk teori pergeseran lapisan anus. Feses yang keras dan besar, serta tenesmus karena diare menyebabkan bantalan anal bergeser ke bawah anal kanal dan mukosa yang melapisinya akan menjadi tipis dan rapuh. Mengedan terus-menerus saat defekasi menyebabkan pengembangan dari bantalan anal lalu terjadi prolaps akibat regangan berlebihan dari submukosa Treitzs muscle. Jika prolaps tidak bisa direduksi kembali dan jaringan mengalami strangulasi serta nekrosis, penyakit sistemik dan sepsis pelvis melalui sistem portal akan terjadi. Teori ini juga didukung oleh penelitian histologis yang menunjukkan adanya penurunan jaringan penyokong anal pada dekade ketiga kehidupan. Pecahnya jaringan ikat yang mendukung bantalan anal kanal menyebabkan terjadinya penurunan bantalan. Hal ini terjadi seiring dengan umur yang menyebabkan kelemahan struktur jaringan ikat dan akibat mengedan karena feses yang keras. Mengedan menyebabkan peningkatan tekanan vena lalu menimbulkan prolaps bantalan anal. Pada bantalan yang mengalami prolaps terjadi gangguan venous return sehingga mengakibatkan dilatasi pleksus dan stasis vena. Inflamasi terjadi akibat erosi epitel bantalan yang pada akhirnya menimbulkan perdarahan.

2.4

Pemeriksaan Fisik Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan pada pasien hemoroid biasanya ditandai dengan: 1. Keadaan umum 2. Kesadaran : lemah dan gelisah sampai renjatan (stadium lanjut) : composmentis

3. Tanda-tanda vital : biasanya dalam batas normal jika ada kelainan maka akan terjadi peningkatan atau penurunan tanda-tanda vital 4. Rectum/anus : terjadi pembengkakan, kemerahan, varises satu atau lebih pada anus dan bila tertekan akan nyeri. 2.5 Pemeriksaan penunjang Dilakukan pemeriksaan: a. Darah Terjadi peningkatan leukosit, dimana normal leukosit 5000-10.000 mm juga ditemukan adanya peningkatan laju endapan darah yang normalnya adalah pada laki-laki 0-20, wanita 0-15. Serta pemeriksaaan agar diketahui apakah pasien mengalami anemia atau tidak. Normal HB laki-laki 14-16 gr%, wanita 12-14 gr%. b. Sigmoidoskopi Pemeriksaan lumen distal 25-30 cm kolorectum untuk memungkinkan inspeksi terjadi pada kolon. c. Kolonoskopi Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui area obstruksi atau lesi sesuai dengan penyakit peradangan atau neoplastik dapat diidentifikasi dengan foto yang dibuat dalam beberapa posisi.

BAB III PEMBAHASAN

1.1 Definisi Hemoroid adalah pelebaran vena didalam pleksus hemoroidalis yang tidak merupakan keadaan patologik. (R. Sjamsuhidajat- Wim De Jong, 2005:672) Lokasi terjadinya pelebaran hemoroid: Lateral kiri jam 3 Anterior kanan jam 11 Posterior kanan jam 7

Gambar 3.1 lokasi hemoroid (www.google.com) 1.2 Epidemiologi Hemoroid dialami 50% masyarakat berusia lebih dari 50 tahun tetapi hanya 5% yang menderita gejala yang dapat dikaitkan dengan hemoroid. Di Indonesia penyakit hemoroid sekitar 1/3 penderita lansia. Dengan frekuensi 0,2-5% prevalensinya mencapai 24-37% pada lansia wanita dibandingkan lansia pria. (William Skach,dkk, 1996:403)

1.3 Anatomi Bantalan anal (anal cushion) terdiri dari pembuluh darah, otot polos (Treitzs muscle), dan jaringan ikat elastis di submukosa. Bantalan ini berlokasi di anal kanal bagian atas, dari linea dentata menuju cincin anorektal (otot puborektal). Ada tiga bantalan anal, masing-masing terletak di lateral kiri, anterolateral kanan, dan posterolateral kanan. Hemoroid yang lebih kecil terdapat di antara ketiga letak primer tesebut.Otot polos (Treitzs muscle) berasal dari otot longitudinal yang bersatu. Serat otot polos ini melelui sfingter internal dan menempelkan diri ke submukosa dan berkontribusi terhadap bagian terbesar dari hemoroid. Beberapa dari strukur vaskular tidak memiliki dinding otot. Tidak adanya dinding otot menandai bahwa struktur vaskular ini lebih sebagai sinusoid bukan vena. Penelitian menunjukkan bahwa perdarahan hemoroid merupakan perdarahan dari arteri, bukan vena karena perdarahan dari hemoroid yang abnormal ini berasal dari arteriol presinusoid yang berhubungan dengan sinusoid di regio ini. Hal ini dibuktikan dengan warna darah yang merah cerah dan pH arterial dari darah.

Gambar 3.2 Anatomi rektum (www.google.com) Kembalinya darah dari anal kanal melalui dua sistem, yaitu melalui portal dan sistemik. Hubungan antara kedua sistem ini terjadi pada linea dentata. 2 Pleksus vena dan sinusoid di bawah

linea dentata membentuk hemoroid eksterna, mengalirkan darah melalui vena rektal inferior menuju vena pudendal yang merupakan cabang dari vena iliaka internal. Jaringan pada hemoroid eksterna ini sensitif terhadap nyeri, panas, regangan, dan suhu karena diinervasi secara somatik. Pembuluh darah subepitelial dan sinussinus di atas linea dentata membentuk hemoroid interna, dialiri darah dari vena rektal media menuju ke vena iliaka interna. Bantalan vaskular di dalam anal kanal berkontribusi terhadap kontinensi anal dan berfungsi melindungi sfingter anal. Bantalan ini juga membantu penutupan lengkap dari anus, yang lebih jauh akan membantu dalam kontinensia. Saat seseorang batuk, bersin, atau mengedan, bantalan ini akan mengembang dan menutupi anal kanal untuk mencegah kebocoran feses saat terjadi peningkatan tekanan intrarektal. Bantalan vaskular ini memberikan informasi sensoris yang memungkinkan seseorang membedakan cairan, benda padat, dan gas. Hal ini penting untuk disadari saat akan melakukan tindakan untuk penyakit hemoroid bahwa bantalan vaskular ini merupakan bagian normal anatomi anorektal yang memiliki fungsi penting. Pembedahan hemoroid bisa mengakibatkan terjadinya inkontinensia dalam berbagai derajat. 1.4 Etiologi a. Pengembangan pembuluh pada bagian terbawah dari poros usus, disebelah dalam maupun luar dan lubang dubur yang dikarenakan oleh hal-hal yang mengalami mengalirnya darah perut, terutama: 1) Gangguan limfa 2) Konstipasi yang menahun 3) Dalam rektum banyak kotoran 4) Pengaruh terlalu banyak duduk b. Kelainan klep vena karena faktor keturunan, sehingga tidak bisa menghambat aliran balik dari darah wasir. Semacam ini cendrung diturunkan dalam keluarga.

c. Peningkatan tekanan pada vena disekitar rektum dan anus disebabkan oleh mengejan saat buang air besar, batuk-batuk dan persalinan. ( Prayogo Utomo,2005: 83-84) 1.5 Manifestasi Klinis a. Perdarahan pada waktu defekasi b. Prolapsus suatu massa pada waktu defekasi c. Pengeluaran lendir d. Hygiene sering sukar diawasi bila komponen eksterna besar. e. Rasa sakit merupakan tanda hemoroid interna kecuali jika terjadi prolapsus dan thrombosis. (Theodore R. Schrock. MD, 1995: 271) 1.6 Klasifikasi Hemoroid interna : berada di atas linea dentata, ditutupi oleh epitel trasisional dan kolumnar Hemoroid interna diklasifikasikan menjadi 4 derajat yaitu : Derajat I : Tonjolan masih di lumen rektum, biasanya keluhan penderita adalah perdarahan Derajat II : Tonjolan keluar dari anus waktu defekasi dan masuk sendiri setelah selesai defekasi. Derajat III : Tonjolan keluar waktu defekasi, harus didorong masuk setelah defekasi selesai karena tidak dapat masuk sendiri.

Gambar 3.3 Hemoroid interna stadium III (www.google.com) Derajat IV : Tonjolan tidak dapat didorong masuk/inkarserasi

10

Gambar 3.4 Hemoroid interna stadium IV (www.google.com) Hemoroid eksternal berada di bawah linea dentata, ditutupi oleh epitel skuamosa. Hemoroid eksterna diklasifikasikan: akut : Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan hematoma, walaupun disebut hemoroid trombosis eksterna akut. Bentuk ini sangat nyeri dan gatal karena ujung-ujung syaraf pada kulit merupakan reseptor nyeri kroni/skin tag berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan penyambung dan sedikit pembuluh darah. Hemoroid campuran merupakan gabungan dari hemoroid internal dan eksterna (R. Sjamsuhidajat- Wim De Jong, 2005:672)

Gambar 3.5 Hemorrhoid interna dan eksterna(www.google.com)

11

Gambar 3.6 Hemorrhoid eksterna (www.google.com) Tabel 3.1 Perbedaan gejala hemoroid sesuai stadium Derajat I II III IV 1.7 Komplikasi Jarang terjadi anemia akibat perdarahan yang kronis dan perdarahan massif. Hemoroid yang prolapsus mungkin mengalami thrombosis peradangan dan meninmbulkan rasa sakit yang hebat. (Theodore R. Schrock, MD, 1995:271) 1.8 Penatalaksanaan 1.8.1 Penatalaksanaan medis Tujuan terapi bukan menghilangkan pleksus hemoroidal tetapi untuk menghilangkan keluhan kebanyakan pasien hemorrhoid. Derajat pertama dan kedua di tolong dengan tindakan lokal yang sederhana disertai nasehat tentang makanan yang sebaiknya berserat tinggi sehingga mempermudah defekasi dan mengurangi mengedan secara berlebihan. Anjuran perbaikan pola hidup, pola makan dan minum serta pola atau cara defekasi. Perbaikan defekasi disebut bowel management program (BMP) yang terdiri dari diet, cairan, serat tambahan dan perubahan prilaku buang air. Untuk memperbaiki defekasi dianjurkan menggunakan posisi jongkok sewaktu defekasi. a. Penatalaksanaan medis non farmakologis Berdarah + + + + Menonjol + + Tetap Reposisi _ Spontan Manual -

12

b. Penatalaksaanan medis farmakologis 1) Obat memperbaiki defekasi: Suplemen serat 2) : physillium atau hisphagu Husk

pelicin tinja(pencahar): natrium dioktil sulfosuksinat atau dulkolax Obat simptomatis

Bertujuan menghilangkan atau mengurangi rasa gatal, nyeri karen a kerusakan kulit didaerah anus. Obat pengurang keluhan sering kali di campur pelumas (lubricant), vasokontriktor, antiseptic lemah,dan penghilang nyeri. Penggunaan kortikosteiroid untuk mengurangi radang perdarahan hemoroid. Untuk hemoroid interna diberikan berupa sediaan berbentuk suposituria, sedangkan pada ointment/krem diberikan untuk hemorrhoid eksterna. 3) Obat menghentikan perdarahan: citrus bioflavonoids memperbaiki permeabilitas dinding pembuluh 4) 1.8.2 Obat pencegah serangan hemoroid: radium 500 dapat

Terapi invasif 1) Skleroterapi adalah penyuntikan larutan kimia yang merangsang Misalnya 5% fenol dalam minyak nabati. Penyuntikan diberikan kedalam submukosa jaringan areolar yang longgar dibawah hemorrhoid intern dengan tujuan menimbulkan peradangan streil menjadi fibrotic dan meninggalkan parut. 2) Ligasi dengan karet Hemorrhoid yang besar dapat mengalami prolap ditangani dengan ligasi menurut Barronn. Dengan bantuan anuskop mukosa di atas hemorrhoid yang menonjol dijepit dan ditarik atau dihisap kedalam tabung ligator khusus. Gelang karet didorong dan ditempatkan rapat disekililing mukosa pleksus hemorhoidalis nekrosis karena iskemia terjadi dalam beberapa hari mukosa bersama karet akan lepas sendiri.

13

Gambar 3.7 Ligasi dengan karet (www.google.com) 3) Cryotherapy/Cryosurgery Hemoroid dapat pula dibekukan dengan suhu yang rendah sekali. Jika digunakan dengan cermat, dan hanya diberikan ke bagian atas hemoroid pada sambungan anus rektum, maka krioterapi mencapai hasil yang serupa dengan yang terlihat pada ligasi dengan gelang karet dan tidak ada nyeri. Dingin diinduksi melalui sonde dari mesin kecil yang dirancang bagi proses ini. Tindakan ini cepat dan mudah dilakukan dalam tempat praktek atau klinik. Terapi ini tidak dipakai secara luas karena mukosa yang nekrotik sukar ditentukan luasnya. Krioterapi ini lebih cocok untuk terapi paliatif pada karsinoma rektum yang ireponibel 1.8.3 Tindakan bedah Terapi bedah dipilih untuk penderita yang mengalami keluhan menahun dan pada penderita hemoroid derajat III dan IV. Terapi bedah juga dapat dilakukan dengan perdarahan berulang dan anemia yang tidak dapat sembuh dengan cara terapi lainnya yang lebih sederhana. Penderita hemoroid derajat IV yang mengalami trombosis dan kesakitan hebat dapat ditolong segera dengan hemoroidektomi. 1) Hemorhoidektomi Terapi bedah dipilih utuk penderita yang mengalami keluhan menahun dan pada penderita hemoroid derajat III dan IV. Prinsip yang harus dipertahankan pada hemorhoidektomi adalah eksisi yang hanya dilakukan pada jaringan yang benar-benar berlebihan.

14

Gambar 3.8 Cara kerja hemoroidektomi (www.google.com) 2) Stapled Hemorrhoidectomy (Prosedure For Prolapsed and

Hemorrhoid = PPH ) Teknik ini mulai diperkenalkan pada tahun 1993 oleh dokter berkebangsaan Italia yang bernama Longo sehingga teknik ini juga sering disebut teknik Longo. Di Indonesia sendiri alat ini diperkenalkan pada tahun 1999. Alat yang digunakan sesuai dengan prinsip kerja stapler. Bentuk alat ini seperti senter, terdiri dari lingkaran didepan dan pendorong dibelakangnya.

Pada dasarnya hemoroid merupakan jaringan alami yang terdapat di saluran anus. Fungsinya adalah sebagai bantalan saat buang air besar. Kerjasama jaringan hemoroid dan m. sfinter ani untuk melebar dan mengerut menjamin kontrol keluarnya cairan dan kotoran dari dubur. Teknik PPH ini mengurangi prolaps jaringan hemoroid dengan mendorongnya ke atas garis mukokutan dan mengembalikan jaringan hemoroid ini ke posisi anatominya semula karena jaringan hemoroid ini masih diperlukan sebagai bantalan saat BAB, sehingga tidak perlu dibuang semua. Mula-mula jaringan hemoroid yang prolaps didorong ke atas dengan alat yang dinamakan dilator, kemudian dijahitkan ke tunika mukosa dinding anus. Kemudian alat stapler dimasukkan ke dalam dilator. Dari stapler dikeluarkan sebuah gelang dari titanium diselipkan

15

dalam jahitan dan ditanamkan di bagian atas saluran anus untuk mengokohkan posisi jaringan hemoroid tersebut. Bagian jaringan hemoroid yang berlebih masuk ke dalam stapler. Dengan memutar sekrup yang terdapat pada ujung alat , maka alat akan memotong jaringan yang berlebih secara otomatis. Dengan terpotongnya jaringan hemoroid maka suplai darah ke jaringan tersebut terhenti sehingga jaringan hemoroid mengempis dengan sendirinya.

Keuntungan teknik ini yaitu mengembalikan ke posisi anatomis, tidak mengganggu fungsi anus, tidak ada anal discharge, nyeri minimal karena tindakan dilakukan di luar bagian sensitif, tindakan berlangsung cepat sekitar 20 45 menit, pasien pulih lebih cepat sehingga rawat inap di rumah sakit semakin singkat

Gambar 3.9 Alat stapler (www.google.com)

16

(a)

(b)

(c) Gambar3.10 (a), (b),dan (c): Cara kerja Stapled hemorrhoidektomi (www.google.com)

(a) (www.google.com) 1.9 Diagnosa Banding Diagnosa banding dari hemoroid adalah: Karsinoma rectum Karsinoma anus Fisura ani Amubiasis Polip rectum 17

(b)

Gambar3.11: (a) sebelum operasi (b) hasil dari tindakan stapler

1.10 Pencegahan Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hemoroid antara lain: 1. Jalankan pola hidup sehat 2. Olah raga secara teratur (ex.: berjalan) 3. Makan makanan berserat 4. Hindari terlalu banyak duduk 5. Jangan merokok, minum minuman keras, narkoba, dll. 6. Hindari hubunga seks yang tidak wajar 7. Minum air yang cukup 8. Jangan menahan kencing dan berak 9. Jangan menggaruk dubur secara berlebihan 10. Jangan mengejan berlebihan 11. Duduk berendam pada air hangat 12. Minum obat sesuai anjuran dokter 1.11 Prognosis Dengan terapi yang sesuai, semua hemoroid simptomatis dapat dibuat menjadi asimptomatis. Pendekatan konservatif hendaknya diusahakan terlebih dahulu pada semua kasus. Hemoroidektomi pada umumnya memberikan hasil yang baik. Sesudah terapi penderita harus diajari untuk menghindari obstipasi dengan makan makanan serat agar dapat mencegah timbulnya kembali gejala hemoroid.

18

BAB IV KESIMPULAN
Hemoroid adalah vena-vena yang berdilatasi, membengkak dilapisan rectum. Pengkajian Hemoroid merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat yang sampai saat ini masih banyak orang yang salah mengerti tentang hemoroid dan masalah-masalah kesehatan yang berhubungan dengan hemoroid. Pengkajian yang dalam dapat mendekatkan mahasiswa dengan Perencanaan Merupakan penyusunan rencana tindakan untuk mengatasi masalah pasien dan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan prioritas masalah. Rencana tindakan sesuai teori dan penekanan pada tindakan kedaruratan medis, sehingga masalah dapat teratasi dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Implementasi Teori yang telah dikaji dan dipahami dapat diimplementasikan dalam menangani kasus pasien dengan hemorroid. Dalam implementasi kasus diharapkan teori yang telah dikaji dan dipahami dapat mendapatkan hasil yang memuaskan. Evaluasi Pengevaluasian teori yang telah dipahami dan diimplementasikan perlu bagi mahasiswa kedokteran agar penanganan dalam kasus ini dapat ditangani dengan baik dan memuaskan.

19

BAB V SARAN

Agar Mahasiswa mengetahui penanganan kedaruratan medik untuk kasus hemoroid. Agar penanganan yang tepat dan efisien. Agar teori yang telah dikaji dan dipahami agar dapat diimplementasikan dan dievaluasi dengan hasil yang memuaskan.

20

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif, dkk.2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius. Sjamsuhidajat, R, Wim de jong.2004. Buku-Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC Sudoyo, Aru W. 20006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: FKUI Schwartz, Seymour l. 1994. Principles of Surgery Jilid 2 Edisi 6. New York: McGraw-Hill Company www.medicastore.com www.scribd.com

21

Anda mungkin juga menyukai