Anda di halaman 1dari 2

Degree of controllability

low

intern

extern

Intern Extern locus of control

Gambar IV-6.: locus of control dan tingkat kemampuan kontrol sebagai dua dimensi yang mempengaruhi persepsi kontrol, menurut Weiner Meskipun begitu, contoh sederhana mungkin dapat membantu. Menurut Wikan (1989), pada masyarakat Bali, kurang lebih 50% dari semua kematian dianggap sebagai disebabkan oleh ilmu hitam atau racun dari teman dekat (isteri, tetangga, dll). Pandangan bahwa kematian (dalam setengah kasus) tidak dipertimbangkan sebagai akibat dari perilaku mereka sendiri, dapat diartikan secara mudah sebagi locus of control eksternal. Meskipun begitu, masyarakat bali percaya bahwa tindakan pencegahan tertentu harus diambil untuk menghindari kematian: jika kekuatan hidup kita kuat, orang lain tidak dapat merugikan kita secara mudah. Lebih dari itu, untuk menghindari bahaya dari ilmu sihir melalui penyebab kejahatan dari orang lain, dan untuk mengolah kekuatan hidup dalam diri sendiri yang mereka lihat sebagai prasyarat kesehatan, masyarakat Bali menyatakan selalu memperhatikan kesehatan. Oleh karena itu, walaupun dengan locus of control yang eksternal, mereka masih memiliki kemampuan kontrol yang tinggi. Kesulitan lainnya sama dengan yang telah sebutkan untuk model kognitif. Banyak yang disebut dengan gagasan preventif hanyalah merupakan kebiasaan-kebiasaan yang dipelajari di awal kehidupan. Gosok gigi, olah raga dan makan adalah hal yang dikerjakan oleh kebanyakan orang, tapi alasan mengapa melakukannya sering tidak ada hubungannya dengan (persepsi kontrol pada) kesehatan. Ringkasnya, locus of control merupakan konsep kompleks dan memilliki hubungan yang sangat tidak jelas dengan kesehatan. Konsep ini mungkin merupakan prediktor bagus ketika (a) dibuat operasional sebagai konsep multi dimensional, dan (b) digunakan dalam kombinasi dengan variabel-variabel lain, seperti nilai kesehatan. Untuk alasan tersebut dan juga alasan lain, beberapa pengarang lebih suka berbicara tentang kontrol

yang dirasakan. Keduanya mengacu pada bagaimana seseorang dalam situasi tertentu, mengatur dunianya dan bagaimana berperilaku berikutnya. 3. Kontrol yang Dirasakan (perceived control) Beberapa contoh yang diambil dari tiga situasi yang sama sekali berbeda menunjukkan indikasi tentang dampak kontrol yang dirasakan. Contoh 1. Walaupun menggunakan anastetik lokal, dokter gigi pasti akan menyebabkan pasien sakit dan banyak antisipasi syaraf dan tensi. Bagaimana mungkin efek yang tidak menyenangkan dapat dikurangi dengan memperkenalka kontrol? Pasien diberi tombol untuk mengendalikan sinar yang bertindak sebagai suatu perintah absolut pada dokter gigi, yang menyebabkan dia sesaat untuk berhenti mengebor, mencabut, menekan, atau tindakan aversif lainnya. Pasien didorong untuk tidak menekan tombol sejauh rasa tidak nyaman pada akhirnya tidak dapat dihindari tetapi hal itu ditekankan. Apakah dia menekan atau tidak terserah pada dia. Tombol memberikan kepadanya kontrol perilaku absolut didalam pengertian bahwa dia percaya ada respon yang dapat dia buat yang akan mengurangi stimulus aversif.