Anda di halaman 1dari 12

HUBUNGAN HASIL TERAPI AKTVIFITAS KELOMPOK SOSIALISASI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI VERBAL PASIEN SKIZOFRENIA MENARIK DIRI DI RSJ

dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT

Titin Andri Wihastuti, Lilik Supriati, Ardiansyah Isfanhari

ABSTRAK Skizofrenia adalah suatu gangguan psikosis fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala psikotik yang khas. Tanda dan gejala yang sering muncul adalah menarik diri yang salah satunya ditunjukkan dengan hampir tidak pernah berkomunikasi terutama secara verbal. Agar pasien skizofrenia menarik diri dapat bersosialisasi kembali, diperlukan kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam bersosialisasi yaitu kemampuan berkomunikasi secara verbal salah satunya terapi aktivitas kelompok sosialisasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan komunikasi verbal pasien skizofrenia menarik diri. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional terhadap 42 orang pasien skizofren menarik diri di RSJ Lawang. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan metode non probability. Variabel yang diukur adalah hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi dan komunikasi verbal pada pasien menarik diri. Didapatkan hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi 40.5% adalah kategori cukup, dan kemampuan komunikasi verbal 59.5% adalah cukup. Uji statistik menggunakan korelasi Spearman dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil analisa bivariat menunjukkan adanya hubungan antara hasil TAKS dengan kemampuan komunikasi verbal dengan kekuatan korelasi 0.654. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin baik hasil TAKS semakin baik juga kemampuan komunikasi verbal pasien. Sehingga perlu peningkatan TAKS untuk meningkatkan komunikasi verbal pasien. Kata kunci: terapi aktivitas kelompok sosialisasi, kemampuan komunikasi verbal ABSTRACT Schizophrenia is a psychotic disorder functional form of mental disorder characterized by recurrent typical psychotic symptoms. Signs and symptoms that often arises is withdraw, one of which was indicate almost never communicate especially in verbal. In order to withdraw schizophrenia patients can socialize again, the necessary basic skills needed to socialize that is ability to communicate verbally, one of which is socialization group activities therapy. This study aims to determine correlation among the Result Of Sosialization Group Activity Therapy with Verbal Communication Skills in Withdraw Schizophrenia Patients of RSJ Dr.Radjiman Wediodiningrat Lawang. This study used analytic observational with cross sectional methode conducted on 42 patient of RSJ dr Radjiman Wediodiningrat Lawang. Samples were selected using purposive sampling technique with non probability method. The variables measured in this study is Result Of Sosialization Group Activity Therapy and Verbal Communication Skills in Withdraw Schizophrenia Patients. The result showed Result Of Sosialization Group Activity Therapy at 40.5% that belong to enough categories, and Verbal Communication Skills showed 59.5% that belong to enough categories. The statistical test thats used Spearman Rho Correlation with confident interval 95%. The result of bivariat analysis showed that there is a significant relationship between Result Of Sosialization Group Activity Therapy and Verbal Communication Skills with strength of correlation amount 0.654. The conclusion of this study is the higher Result Of Sosialization Group Activity Therapy, the higher Verbal Communication Skills. There needs to increaseTAKS to improve patient verbal communication. Key Word: result of sosialization group activity therapy, verbal communication skills

PENDAHULUAN Kesehatan jiwa merupakan suatu

psikotik yang khas dan oleh kemunduran fungsi sosial, fungsi kerja, dan perawatan diri.Skizofrenia merupakan penyakit otak

kondisi sehat emosional, psikologi, dan social yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan

yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak.Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Tanda dan gejala yang sering dialami oleh pasien Skizoprenia adalah

kestabilan emosi. Upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan perorangan, lingkungan

keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan, lingkungan masyarakat yang

didukung sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lain seperti keluarga dan

lingkungan social.Lingkungan tersebut selain menunjang merupakan upaya kesehatan yang jiwa juga dapat

menarik diri yang ditunjukkan dengan data obyektif dan subyektif yaitu pasien sering menyendiri, tidak mau bergaul dengan dengan

stressor

mempengaruhi kondisi jiwa seseorang, pada tingkat tertentu dapat menyebabkan

teman-temanya,

bila

komunikasi

seseorang jatuh dalam kondisi gangguan jiwa (Videbeck,2008). Gangguan merupakan jiwa berat (psikosis) untuk

orang lain menunduk (tidak mau bertatap mata), jarang dan hampir tidak pernah berkomunikasi terutama secara verbal. .( Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, 2004) Menarik individu yang diri merupakan perilaku

ketidakmampuan

berkomunikasi atau mengenali realitas yang menimbulkan kesukaran dalam kemampuan seseorang mestinya untuk dalam berperan kehidupan sebagaimana sehari-hari.

menghindari

berhubungan

dengan orang lain.Bila perilaku ini tidak segera ditangani jiwa dapat yang mengakibatkan berat. (J.

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2008 bahwa 10% dari populasi mengalami gangguan jiwa. Hal ini didukung oleh laporan dari hasil studi bank dunia dan hasil survey Badan Pusat Statistik yang melaporkan bahwa penyakit yang merupakan akibat masalah kesehatan jiwa mencapai 8,1% yang merupakan angka tertinggi

gangguan

lebih

Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol. I No. 4, Juni 2011). Perilaku menarik diri akan membuat individu selalu berusaha

menghindari komunikasi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya (Riyadi&Purwanto, 2009). Apabila tidak segera diatasi, maka dapat berakibat individu mengalami

dibidang prosentase penyakit lain (Pratiwi dkk, 2004). Skizofrenia adalah suatu gangguan psikosis fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala

gangguan jiwa yang lebih berat, seperti munculnya halusinasi, defisit perawatan diri, atau risiko menciderai diri sendiri maupun orang lain (Darsana, 2009), dan juga dapat menimbulkan akibat-akibat lainnya seperti

membuat individu bersikap kurang sopan, apatis, sedih, afek tumpul, kurang perawatan diri, serta kemampuan komunikasi verbal menurun. Oleh karena itu, pasien menarik diri perlu memulai kembali interaksi dengan orang lain maupun lingkungan sekitar secara bertahap guna mencegah akibat yang tidak diinginkan Agar bersosialisasi pasien menarik diri dapat

Kelompok (TAK). Jenis TAK yang diterapkan pada pasien dengan gangguan jiwa

bermacam-macam sesuai dengan masalah yang dialami pasien. TAK sudah sejak lama dimasukkan dalam program terapi

keperawatan di dunia yang merupakan salah satu dari intervensi keperawatan. Salah satu jenis TAK tersebut adalah terapi Aktifitas Kelompok Sosialisasi yang diprogramkan terhadap pasien gangguan jiwa Skizoprenia dengan masalah utama gangguan hubungan sosial menarik diri dan halusinasi.( Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, 2004) Dalam pelaksanaannya di RSJ dr. Radiman Wediodiningrat Lawang TAKS

kembali,

diperlukan

kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam bersosialisasi yaitu kemampuan

berkomunikasi secara verbal. Padahal di sisi lain, dampak perilaku menarik diri akan menghambat kemampuan komunikasi verbal dari individu karena individu tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan. Oleh karena itu, perilaku menarik diri memerlukan penanganan yang tepat, agar perilaku

adalah suatu program terapi yang rutin dilaksanakan setiap 1 minggu sebanyak 2 kali dalam 2 hari. Terapi aktivitas kelompok sosialisasi membantu kemampuan menarik diri itu dan sendiri berfungsi untuk kembali pasien rasa

tersebut tidak berdampak pada penurunan atau bahkan hilangnya kemampuan

mengembalikan khususnya

pasien untuk

komunikasi verbal pasien menarik diri (Keliat, 2005). Terapi aktivitas kelompok Sosialisasi (TAKS) adalah upaya memfasilitasi pasien

meningkatkan

percaya diri untuk dapat bersosialisasi atau berkumpul dan berinteraksi dengan

bercakap-cakap dan melakukan komunikasi setiap hari dengan perawat dan temantemannya disekitar lingkungan. Terapi aktivitas kelompok sosialisasi yang dilaksanakan di RSJ dr.Radjiman

kemampuan

sosialisasi

sejumlah

dengan masalah hubungan sosial, yang bertujuan untuk meningkat hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap (Keliat & Akemat, 2005). Untuk mengurangi

Wediodiningrat ini memiliki kekurangan dan kelebihan dalam pelaksanaannya dan

bertambahnya jumlah pasien gangguan jiwa di ruang rawat inap pada sebuah rumah sakit , diperlukan peran serta berbagai profesi, diantaranya adalah profesi keperawatan

hasilnya. Motivasi dan antusiasme yang dimiliki pasien untuk mengikuti kegiatan cukup tinggi. Tetapi masih ada juga beberapa kendala dan hambatan dalam mencapai hasil yang maksimal dari terapi aktivitas kelompok sosialisasi ini, yaitu ada sebagian pasien yang masih malu dan bersifat tertutup dan

dengan berbagai programnya, salah satu program keperawatan dalam untuk pemberian mendukung terapi tingkat

kesembuhan pasien adalah Terapi Aktifitas

sulit

untuk

mengikuti

kegiatan tersebut

sesuai tetap

cross

sectional.

Teknik

sampling

yang

prosedur.

Namun

pasien

digunakan dengan

adalah

purposive non

sampling yaitu yang

mengikuti terapi aktifitas kelompok sosialisasi dan jika pada proses tertentu tidak dapat mengikuti selanjutnya. penghambat tersebut. Berdasarkan yang peneliti survey pendahuluan masalahmaka Hal dalam dilompatkan ini jelas ke tahap menjadi terapi

metode

probability, kuota

mengambil

sampel

sesuai

diinginkan peneliti yang memenuhi kriteria inklusi pasien usia dewasa ( > 18 tahun ), non akut yang sedang rawat inap dengan diagnosa skizofrenia yang menarik diri,

pelaksanaan

pasien sudah mendapat TAKS 3 sesi penuh, pasien tidak dalam kondisi krisis, pasien memahami bahasa indonesiasejumlah 42 responden. Penelitian ini dilakukan di RSJ dr,Radjiman Wediodiningrat Lawang pada 6 14 Mei 2013. Variabel kelompok hasil terapi dilakukan observasi aktivitas dengan yang

lakukan tentang

masalah keperawatan pada pasien gangguan jiwa yang menjalani perawatan pada 3 bulan terakhir dari jumlah pasien 266 orang yang mengalami gaduh gelisah 89 orang,

halusinasi dengar 77 orang, waham 57 orang, dan menarikn diri 43 orang (rekam medis RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, 2009). Hasil survey yang peneliti lakukan di ruang perawatan usia dewasa usia lanjut (DUL) dari 17 ruangan pada 3 bulan terakhir (oktober, November, desember

sosialisasi lembar

menggunakan

diadaptasi dari buku Keliat Akemat yang lebih ditekankan pada konten atau isi per item dari proses kegiatan pelaksanaan TAKS sesi 1-3. Sedangkan variabel komunikasi verbal pada klien menarik diri menggunakan kuisioner terdiri dari 10 pertanyaan. Kuesioner telah diuji validitas menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dan uji reliabilitas menggunakan koefisien alpha cronbach.

2012), didapatkan sebanyak 390 pasien yang 208 diantaranya menderita menarik diri. Untuk menarik diri ini merupakan urutan tertinggi karena diakibatkan tekanan-tekanan. (catatan rekam medis dari perawat RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, 2012). Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian untuk

dengan tingkat signifikansi sebesar 0,06 dan perhitungannya dibantu dengan program

SPSS 16.0 for Windows. Untuk mengetahui adanya aktvifitas hubungan kelompok antara hasil terapi dengan pasien

mengetahui hubungan hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi dengan kemampuan komunikasi verbal pasien skizofrenia menarik diri di RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.

sosialisasi verbal

kemampuan

komunikasi

skizofrenia menarik diri menggunakan uji korelasi Spearman Rank dibantu dengan program SPSS 16.0 for Windows, dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05). Jika hasil statistik menunjukkan nilai p value < alpha 0,05, berarti terdapat hubungan yang

METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik korelatif dengan pendekatan

signifikan

antara

hasil

terapi

aktvifitas

Gambar 5.3 Karakteristik Pendidikan Responden

kelompok sosialisasi dengan kemampuan komunikasi verbal pasien skizofrenia menarik diri. HASIL PENELITIAN Setelah dilakukan pengumpulan data tentang hubungan hasil terapi aktivitas

Berdasarkan

data

hasil

penelitian

pada

gambar 5.3 di atas menunjukkan bahwa dari 42 responden didapatkan bahwa,

karakteristik pendidikan responden paling banyak adalah SMA sebanyak 18 orang (42.9%). d. Karakteristik Responden
31% 69% kawin

Status

Perawinan

kelompok sosialisasi dengan kemampuan komunikasi verbal pasien skizofrenia menarik diri di RSJ dr.Radjiman Wediodiningrat

dengan jumlah sampel 42 pasien sebagai responden, maka data yang diperoleh adalah sebagai berikut: a. Karakteristik Usia Responden
26.2% 14.3% 35.7% 23.8 % 18 - 25 tahun 26 - 35 tahun 36 - 45 tahun
Gambar 5.1 Karakteristik Usia Responden Gambar 5.4 Tingkat Pendidikan Responden

Berdasarkan

data

hasil

penelitian

pada

gambar 5.4 di atas menunjukkan dari 42 responden, didapatkan bahwa responden dengan status perkawinan belum/ tidak

menikah sejumlah 29 orang (69%). e. Diagnosa Medis Responden


Tabel 5.1 Tabel Distribusi Frekuensi Diagnosa Medis Responden Dx F.20.00 KETERANGAN Skizofrenia Paranoid Berkelanjutan F.20.03 Skizofrenia Paranoid Episodic Berulang F.20.3 F.20.13 Skizofrenia Tak Terinci Skizofrenia Hibefrenik Episodic Berulang F.20.60 Skizofrenia Simplek Berkelnajutan 4 9.5 3 2 7.1 4.8 10 23.8 JML 1 % 2.4

Berdasarkan

data

hasil

penelitian

pada

gambar 5.1 di atas menunjukkan dari 42 responden, didapatkan bahwa responden terbanyak berusia 26 35 tahun sejumlah 15 orang (35.7%). b. Karakteristik Jenis Kelamin Responden
Laki-Laki 100% Perempuan

Gambar 5.2 Karakteristik Jenis Kelamin

F.20.20

Skizofrenia Hibefrenik Berkelanjutan

13

31

Berdasarkan

data

hasil

penelitian

pada
F.20.23

gambar 5.2 di atas menunjukkan dari 42 responden, didapatkan bahwa responden berjenis kelamin laki-laki sejumlah 42 orang (100%). c. Karakteristik Pendidikan Responden
4.8 % 9.5 % 4.8 % 38.1% 42.9% SD SMP SMA DIPLOMA

Skizofrenia Katatonik Episodic Berulang

2.4

F.20.1 F.25 F.20 F.20.10

Skizofrenia Hibefrenik Gangguan Skizofektif Skizofrenia Skizofrenia Hibefrenik Berkelanjutan

5 1 1 1

11.9 2.4 2.4 2.4

Berdasarkan

data

hasil

penelitian

pada

gambar 5.5 di atas menunjukkan dari 42

responden, gangguan mempunyai

didapatkan skizofrenia distribusi

bahwa

untuk berulang jumlah

Aktivitas Kelompok Sosialisasi Kurang Cukup Baik Total 10 7 0 17 2 10 13 25 0 0 0 0 12 17 13 42 0.000 0.654 Kurang Cukup Baik

paranoid dengan

responden 13 orang (13.31%). f. Data Hasil Terapi Aktifitas Kelompok Sosialisasi


20 10 0 28.6% kurang 40.5% 31% baik

Hasil uji korelasi Spearman Rank menunjukkan bahwa antara variabel 1 dan 2 memiliki besar korelasi (r)= 0,654 bernilai positif, signifikansi (p) sebesar 0.000 yang berarti bahwa hasil terapi aktivitas kelompok

cukup

Gambar 5.6 Karakteristik Responden Mengikuti Pelatihan Manajemen Emosi

sosialisasi

dan

kemampuan

komunikasi

Berdasarkan gambar 5.9 didapatkan hasil bahwa sebagian besar hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi dengan hasil cukup sebanyak 17 orang (40.5%), g. Data Kemampuan Komunikasi Verbal
30 20 10 0

verbal memiliki hubungan searah dengan keeratan hubungan sedang dan bermakna. Dengan demikian hipotesa bahwa ada

hubungan antara bahwa hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi dengan kemampuan komunikasi verbal pasien skizofrenia menarik diri diterima pada selang kepercayaan 95%

40.5% kurang

59.5% 0% cukup baik

(p < 0.05) dan terdapat hubungan searah yang sedang antara kedua variabel yang diteliti. PEMBAHASAN Hasil Terapi Aktivitas Kelompok

Gambar 5.7 Karakteristik Status Pernikahan Responden

Berdasarkan gambar 5.10 didapatkan hasil bahwa sebagian besar kemampuan komunikasi verbal responden berkemampuan cukup sebanyak 25 orang (59.5%). ANALISA DATA
Tabel 5.1 Tabel Silang Hubungan Hasil Terapi Akfivitas Kelompok Sosialisasi dengan Kemampuan Komunikasi Verbal Pasien Skizofrenia Menarik Diri di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang Hasil Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi * Kemampuan Komunikasi Verbal Hasil Terapi Kemampuan Komunikasi Verbal Total Sig (p) Korel asi (r)

Sosialisasi Hasil analisis variable tentang hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi pada 42 pasien sebagai responden didapatkan hasil sebagai berikut, presentase hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi pada kategori baik yaitu dengan jumlah responden 13 orang (31%). Dimana jumlah responden tersebut dalam hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi adalah yang selalu mampu melaksanakan petunjuk dari semua item dalam setiap sesi TAKS. Presentase hasil terapi aktivitas

kelompok sosialisasi dengan kategori cukup dengan jumlah responden 17 orang (40.5%). Untuk kategori tersebut para responden hanya dapat melaksanakan petunjuk pada beberapa Sedangkan item untuk di sesi-sesi hasil terapi tertentu. aktivitas

adalah kemampuan dalam berkomunikasi secara verbal pada pasien yang mempunyai persentase paling tinggi adalah pada kategori cukup dengan jumlah responden 25 orang (59.5%). Sedangkan untuk persentase

kategori kurang dengan jumlah responden 17 orang (40.5%). Untuk responden yang

kelompok sosialisasi dengan kategori kurang dengan jumlah responden 12 orang (28.6%). Hal ini dimaksudkan karena responden tidak mau mengikuti petunjuk dari leader. Biasanya dikarenakan kurang terjalinnya trust dengan leader. Hal ini terjadi apabila yang

mempunyai kemampuan komunikasi verbal baik tidak ada, bahwa seperti teori yang sebagai

menunjukkan

skizofrenia

suatu penyakit otak persisten dan serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran kongkrit, dan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan interpersonal, serta

melaksanakan TAKS (leader) adalah yang belum mendapatkan pelatihan terapi

modalitas. Pada hasil TAKS terdapat responden dengan proses presentase pada kategori kurang. Hal tersebut disebabkan karena anggota dari responden TAKS tersebut

memecahkan masalah (Stuart, 2007). Selain itu terdapat gejala skizofrenia yang dalam disorganized

menunjukkan berkomunikasi

gangguan antara lain

speech yaitu pembicaraan yang kacau dan gejala negative seperti apatis, pembicaraan yang terhenti serta menarik diri dari

mengalami harga diri rendah yaitu tampak pada sikap pasien saat mengikuti TAKS dengan hilangnya rasa percaya diri, rasa malu terhadap diri sendiri, dan gejala yang nampak jelas yaitu gangguan hubungan social yang ditunjukkan dengan menunduk saat berinteraksi dengan orang lain. Untuk hasil TAKS kategori baik ini disebabkan responden yang ikut dalam penelitian adalah pasien pada fase rehabilitasi dan telah mengikuti TAKS beberapa kali dan juga merupakan pasien lama yang telah menjalani rawat inap sehingga mereka lebih koperatif dalam pelaksanaan TAKS tersebut. Kemampuan Komunikasi Verbal Pasien Skizofrenia Menarik Diri Hasil analisa bivariat untuk kemampuan komunikasi verbal pasien skizofrenia yang menarik diri dengan jumlah sampel 42 orang

pergaulan sosial (PPDGJ III, 2001). Kemampuan komunikasi verbal

adalah kapasitas seseorang individu untuk melakukan atau berkomunikasi secara lisan dalam sebuah penilaian terkini (Timothy , 2008). Kemampuan komunikasi verbal dapat dilakukan dengan cara wawancara dan

berdiskusi langsung dengan seseorang atau orang lain dalam suatu pertemuan atau kelompok tertentu (Keliat & Akemat, 2005). Diantara penyebab kurangnya

kemampuan komunikasi verbal pada pasien adalah faktor dari keluarga dan pasien itu sendiri. Keluarga adalah support system terdekat. Keluarga yang mendukung pasien secara konsisten akan membuat pasien mandiri dan patuh mengikuti program

perawatan maupun pengobatan. Salah satu tugas perawat adalah melatih keluarga untuk mampu merawat pasien menarik diri di rumah. pendidikan Perawat perlu memberikan keluarga

responden

hampir

setengahnya

berada

dalam rentang usia antara 25-36 tahun (35.7%) dan hampir setengahnya lagi

(26.2%) berada pada rentang usia 46-60 tahun. Hanya sebagian kecil (14.3%) dari responden yang berumur antara 35-45 tahun. Untuk tingkatan umur para responden yang cenderung ke arah perkembangan dewasa awal dan dewasa akhir menurut erikson merupakan fase perkembangan yang sangat krisis yaitu: keintiman (intimacy) vs isolasi (isolation) terjadi pada masa dewasa awal. Untuk mekanisme koping maladaptif adalah rasa cuek. Generativitas (generativity) vs stagnasi (stagnation) terjadi pada masa dewasa akhir (30-60 tahun) dimana pada fase tersebut hubungan yang signifikan ada pada keluarga dan tempat kerja. Untuk mekanisme koping maladaptifnya adalah

kesehatan

kepada

(Yosep I, 2009). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang kurang selalu mendapat mengalami verbal

dukungan gangguan

keluarga komunikasi

secara

disebabkan karena kurangnya interaksi antar anggota keluarga. Data tersebut dapat

ditunjukkan dari status pernikahan yang mana dari 42 orang responden yang turut dalam bahwa penelitian sebagian tersebut besar menunjukkan responden

mempunyai status tidak kawin yaitu 29 orang (69%) dan sebagian lagi adalah dengan status kawin yaitu 13 orang (31%). Disamping itu, untuk riwayat

terlalu perduli (Potter & Perry, 2001) Perilaku dan kemampuan kognitif

pendidikan rata-rata responden penelitian tersebut mempunyai riwayat pendidikan yang sedang yaitu SMA. Dimana seharusnya untuk pemecahan masalah yang mencakup

merupakan faktor yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan usia seseorang. Tugas perkembangan pada dewasa awal antara lain adalah fisiologis, kognitif, dan psikososial yang berupa tanggung jawab terhadap karir, pernikahan dan membuat atau membentuk tipe keluarga (sesuai dengan tugas

mekanisme koping tentunya mereka lebih mendapatkan bekal pada masa sekolah. Hal ini dapat ditunjukkan dengan data sebagai berikut: sebagian besar responden

mempunyai latar belakang pendidikan pada jenjang SMA yaitu 18 orang (42.9%).

perkembangan usia dewasa awal) tentunya pengalaman yang telah dilalui menjadikan seseorang perjalanan telah banyak belajar dalam

Sebagian besar lagi adalah pada jenjang SMP yaitu 16 orang (38.1%) dan SD yaitu 4 orang (9.5%). Untuk jenjang perguruan tinggi antara diploma dan sarjana mempunyai distribusi yang sama yaitu 2 orang (4.8%) Terkait dengan proses perkembangan untuk para responden didasarkan dari segi rentang umur, maka kebanyakan dari 42

kehidupannya.

Sehingga

kemampuan perilaku atau kebiasaan dapat diajarkan kembali dalam proses terapi

(Edelman & Manie 1994, dalam Potter, Patricia A, 2005)

Hubungan hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi komunikasi menarik diri Pemberian terapi psikofarmaka untuk pasien dengan psikosis harus dibarengi dengan pemberian terapi modalitas. Salah satu terapi modalitas yang menjadi suatu kegiatan wajib pada ruangan rawat inap di RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang adalah terapi dengan verbal pasien kemampuan skizofrenia

Dalam suatu teori operan conditioning suatu kegiatan yang terus menerus diberikan akan menjadi suatu hal yang akan menjadi kebiasaan (Skinner BF, 2001). Pada terapi aktivitas kelompok sosialisasi yang

berlangsung selama 3 sesi, klien secara terus dilatih untuk memperkenalkan nama lengkap, diri, nama dengan

menyebutkan panggilan, hobi,

asal,berkenalan

orang lain dan bercakap-cakap dan patuh untuk minum obat. Dengan dilatih

aktivitas kelompok sosialisasi. Pemberian terapi aktivitas kelompok sosialisasi dapat mempercepat pengembalian fungsi otak dan neurotransmitter pada otak sehingga mampu kembali berkomunikasi secara normal pada pasien menarik diri. Dari hasil data penelitian yang peneliti lakukan di 5 ruangan rawat inap RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang selama 1 minggu, didapatkan hasil melalui uji statistik non-parametric berupa uji corelations

berkomunikasi dengan orang lain dalam suatu kelompok secara terus-menerus dan bertahap menjadikan suatu kebiasaan

rutinitas bagi pasien sehingga pasien dapat melakukannya dalam kebiasaan sehari-hari. Keberhasilan pelaksanaan TAKS

yang dikeluarkan melalui hasil TAKS dalam kaitannya dengan meningkatkan kemampuan komunikasi verbal pasien sangat dipengaruhi oleh berbagai hal antara lain: pemberi terapi atau leader harus minimal mempunyai D3 dengan riwayat telah

spearman rank didapatkan hasil nilai yang signifikasi sebesar 0.000 yang lebih kecil dari =0.05. Dimana hasil pengukuran hasil TAKS didapatkan dari studi dokumen rekam medis yang kemudian dilakukan pengukuran

pendidikan

mengikuti pelatihan terapi modalitas, proses seleksi pasien juga sangatlah penting, setting tempat yang tenang sangat dibutuhkan, keaktifan observer sangat diperlukan untuk menentukan pasien yang dapat meneruskan sesinya, jumlah anggota kelompok tidak boleh > 12 orang, waktu yang efektif adalah 45-60 menit, penekanan tujuan terapi sangat diperlukan, penggunaan teknik komunikasi focusing, clarification, listenign sangat

kemampuan komunikasi verbal pada pasien. Dari hasil tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan yang signifikan antara hasil terapi aktivitas

kelompok sosialisasi dengan kemampuan komunikasi verbal pasien skizofrenia menarik diri dengan arah korelasi positif yaitu 0.654. Adapun nilai positif (0.654) mempunyai

dibutuhkan (Keliat & Akemat, 2005). Untuk responden yang mempunyai kemampuan komunikasi verbal baik tidak ada, seperti teori yang menunjukkan bahwa skizofrenia sebagai suatu penyakit otak

makna bahwa hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi yang baik dapat menyebabkan kemampuan dalam berkomunikasi secara verbal dengan baik pula.

persisten dan serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran kongkrit, kesulitan dalam memproses informasi, berkomunikasi, dan hubungan interpersonal, serta

Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini, keterbatasan yang dihadapi oleh peneliti, diantaranya yaitu: 1. Karakteristik responden yang diteliti yang secara teori mampu mempengaruhi

memecahkan masalah (Stuart, 2007). Diantara penyebab kurangnya

variabel tidak seluruhnya dinilai dalam penelitian ini. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan waktu peneliti dan tenaga peneliti. 2. Beberapa karakteristik seperti suku dan kesertaan dalam pelatihan manajemen emosi didapatkan hasil yang homogen sehingga hubungannya dipengaruhi. 3. Penilaian terapeutik terhadap perawat komunikasi dilakukan tidak dengan dapat variabel dinilai yang

kemampuan komunikasi verbal pada pasien adalah faktor dari keluarga dan pasien itu sendiri. Keluarga adalah support system terdekat. Keluarga yang mendukung pasien secara konsisten akan membuat pasien mandiri dan patuh mengikuti program

perawatan maupun pengobatan. Salah satu tugas perawat adalah melatih keluarga untuk mampu merawat pasien menarik diri di rumah. pendidikan Perawat perlu memberikan keluarga

kesehatan

kepada

(Yosep I, 2009). Untuk hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi dengan kategori baik seluruhnya kemampuan komunikasinya cukup karena responden telah lama berada di ruang rawat inap sehingga mereka sering mengikuti TAKS secara reguler, namun disisi lain karena mereka menderita skizofrenia yang

menggunakan kuesioner yang diisi oleh perawat sendiri sehingga penilaian bisa jadi merupakan persepsi subyektif

terhadap dirinya sendiri. PENUTUP Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, maka peneliti menyimpulkan

menyebabkan

gangguan

neurotransmitter

pada otak sehingga kemampuan komunikasi verbalnya tidak dapat maksimal, selain itu keluarga yang menjadi support sistem paling utama juga dapat menyebabkan pasien tersebut tidak dapat berkembang dengan baik kemampuan komunikasi verbalnya. Untuk mendapatkan kemampuan

beberapa hal berikut : a. Hasil Terapi di Aktivitas RSJ Kelompok dr.Radjiman

Sosialisasi

Wediodiningrat masuk dalam kategori cukup (40.5%). b. Kemampuan komunikasi verbal pasien skizofrena dr.Radjiman menarik diri di RSJ masuk

komunikasi verbal pasien yang baik sangat dipengaruhi oleh hasil TAKS yang baik pula. Agar setiap evaluasi diakhir kegiatan pasien benar-benar tindakan. paham maksut dan tujuan

Wediodiningrat

dalam kategori cukup (59.5%). c. Ada hubungan hasil kelompok terapi aktivitas terhadap

sosialisasi

kemampuan komunikasi verbal pasien

skizofrenia dr.Radjiman

menarik

diri

di

RSJ dimana

c. Bagi penelitian selanjutnya untuk lebih memperhatikan faktor controlling terhadap

Wediodiningrat,

didapatkan nilai korelasi (r) = 0,654 yang berarti memiliki hubungan dengan kekuatan korelasi kuat dan nilai (0,000) < 0,05 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna. Saran Bagi Institusi Terkait/Perawat Melihat adanya hubungan hasil terapi aktivitas kelompok sosialisasi verbal dengan pasien

perancu

yang

dapat

mempengaruhi

tingkat

kemampuan

pasien seperti frekwensi pelaksanaan TAK, lama sakit, lama rawat dan riwayat pengobatan yang didapatkan pasien
d. Bagi penelitian selanjutnya agar lebih

memvariasikan

responden

menurut

jenis kelaminnya agar dapat diketahui perbedaannya


e. Bagi penelitian design selanjutnya penelitian untuk secaa membuat

kemampuan

komunikasi

skizofrenia menarik diri maka diharapkan dengan penelitian ini dapat menjadi wacana dan memberi masukan kepada institusi

observasional agar data yang diperoleh lebih valid lagi f. Bagi penelitian selanjutnya untuk

terkait / perawat untuk meningkatkan terapi aktivitas kelompok sosialisasi bagi dalam rangka meningkatkan kemampuan

memperhatikan diagnosa medis pasien yang akan dijadikan sebagai responden karena jika terlalu juga heretogen jenis

komunikasi verbal pasien skizofrenia menarik diri. Bagi Penelitian Selanjutnya a. Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi peneliti selanjutnya untuk

diagnosanya kerancuan.

menyebabkan

mengembangkan wawasan dan dapat digunakan sebagai dasar dalam

penelitian selanjutnya. b. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan

dapat mengadakan penelitian lanjutan mengenai terapi aktivitas kelompok

sosialisasi dan komunikasi verbal bagi klien skizofrenia menarik diri dengan meneliti faktor lain yang mempengaruhi derajat dapat komunikasi diketahui verbal. faktor Sehingga lain yang besar

mempunyai

hubungan

paling

terhadap pelaksanaan komunikasi verbal.

DAFTAR PUSTAKA Aziz Alimul Hidayat. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika. Carpenito, Lynda Juall, 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Jiwa. Edisi 6. Alih Bahasa Yasmin Asih. Jakarta: EGC. Doengoes, M.E., Moor House M.F dan Burley, J.T. 2000. Penerapan Proses Keperawatan dan Rencana Asuhan Keperawatan (Nursing Care Plants : Guidelines For Planning and Documenting Patient Care). Edisi 3. Jakarta: EGC. Hawari, D. 2006. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta: FKUI. Hidayat, A. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Edisi 2. Jakarta: Salemba.

Keliat, B. A. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2. Jakarta: EGC. Keliat dan Akemat. 2005. Keperawatan Jiwa Terapi Aktifitas Kelompok. Jakarta: EGC. Keliat dan Akemat. 2006. Modul IC CHMN Manajemen Kasus Gangguan Jiwa dalam Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. Jakarta: EGC. Nov. 2010. Prevalensi Gangguan Jiwa. http://bataviase.co.id/detailberita10496695.html. Diakses pada tanggal 6 november 2012 jam 19.00 WIB. Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Potter & Perry. 2002. Buku Ajar Fundamental KeperawatanKonsep, Proses dan Praktik. Jakarta: Buku Penerbit Kedokteran EGC. Stuart & Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. EGC: Jakarta. Stuart, GW. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Videbeck, L Sheila. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC. West, R & Turner, L. H. (2008). A First Look At Communication Theory. New York: Me Graw Hill. Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Cetakan 1. Bandung: PT Reflika Aditama.

Telah disetujui oleh, Pembimbing I

Titin Andri Wihastuti S.Kp., M.Kep. NIP.19770226 200312 2 001