Anda di halaman 1dari 15

Falsafah Poligami Dalam Perspektif Hukum Islam

Oleh : NURSIDIK *

I. PENDAHULUAN Allah SWT menciptakan manusia dan menjadikannya sebagai sebaik-baik makhluk dengan memberikan akal yang mampu membedakan baik dan buruk. Allah SWT juga menciptakan dalam diri manusia potensi kehidupan (thaqatu alhayawiyah) berupa kebutuhan naluri (gharaaiz) yang terdiri dari naluri beragama (gharizatu al-tadayyun), naluri mempertahankan diri (gharizatu al-baqa) serta naluri melangsungkan keturunan (gharizatu al-nau) dan kebutuhan jasmani (al-hajatu aludlawiyah) yang penampakannya berupa rasa lapar, haus, kantuk, bernafas, dan lainlain.1 Atas dorongan potensi kehidupan yang dimilikinya itulah manusia menjalani kehidupannya di dunia. Dengan kata lain, apapun yang dilakukan manusia dalam hidupnya di dunia adalah dalam rangka memenuhi kebutuhannya tersebut. Dan untuk itu, manusia menggunakan berbagai sarana yang ada. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan masalah etika (akhlak-agama), kultura (ilmu-iptek), dan profesi (amal sholeh-keahlian). Petunjuk Kitab Suci maupun Sunnah Nabi dengan jelas menjanjikan kepada pemeluk agama (Islam) untuk meningkatkan kesadaran beretika, berkultur, dan berprofesi.2

* Hakim pada Pengadilan Agama Slawi sejak 27 Agustus 2012, sebelumnya Hakim pada Pengadilan Agama Kajen. 1 M.Ismail Yusanto dan M.Sigit Purnawan Jati, Membangun Kepribadian Islam, Khairul Bayan Press,Jakarta, Agustus 2005, hal.239. 2 Said Agil Husin Al Munawar, Hukum Islan & Pluralitas Sosial , Penamadani, Jakarta, 2004, hal. 205.

Syariah dalam arti luas ajaran Islam, mencakup seluruh aspek kehidupan. Islam dengan syariatnya menunjukkan, mengarahkan, membimbing, mendidik, dan mengajak kepada keselamatan dunia dan akhirat. Keselamatan dunia tercermin

dalam keadaan, sikap dan perilaku hidup yang damai dan tenteram. Kedamaian dan ketenteraman hidup inilah yang menjadi fitrah dari tujuan manusia, tentu saja yang sehat akal budinya. Agar seluruh pemenuhan kebutuhan tersebut berjalan dengan baik dan menghasilkan ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan, manusia memerlukan

aturan yang menetapkan status hukum atau memberikan penilaian terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukannya (al-afaal) yang digunakan dalam rangka pemenuhan tersebut. Menurut Syatibi sebagaimana dikutip oleh Ahmad Ali MD,3 Islam melalui syariatnya, adalah agama yang mengevaluasi (menilai) kehidupan seksual secara positif. Pertautan hubungan yang integral antara spiritualitas dan seksualitas merupakan cara yang dilakukan Nabi Muhammad dalam membawa perubahan masyarakatnya. Syahwat seksual adalah bagian dari ciptaan dan ekspresi kebijaksanaan Tuhan. Ia membawa masyarakat secara bersama-sama, memberikan kekuatan kepada mereka untuk menghadapi kebenaran spiritualitas dan etis, dan memperbolehkan mereka melangsungkan keturunan (hifz al-nasl). Poligami, di mana seorang pria beristri lebih dari satu (poligini) dalam Islam merupakan praktek yang diperbolehkan (mubah, tidak dilarang, namun tidak
3

Ahmad Ali MD, Syariah dan Problematika Seksualitas , Majalah Mimbar Hukum Nomor 66, PPHI2M, Jakarta, 2008, hal.163.

dianjurkan). Poligami merupakan topik kajian yang selalu sengit diperdebatkan dalam diskursus fiqh munakahat Islam. Tak jarang sejumlah sejarahwan melancarkan serangan telak bahwa Nabi Muhammad lah yang pertama kali memprakasai tradisi poligami, sampai-sampai ada yang berkesimpulan bahwa salah satu penyebab cepatnya penyebaran Islam karena penghalalan poligami, namun kemunduran dunia Islam disebabkan oleh poligami pula.4 Sepintas lalu, kesimpulan itu seolah-olah masuk akal, tapi bila ditelusuri lebih dalam, tudingan macam itu terlalu mengada-ada dan sukar dipertanggungjawabkan. Sebab, sejarah membuktikan bahwa tradisi poligami sudah ada dan berkembang pesat puluhan tahun sebelum Islam datang.5 II. PERMASALAHAN Dari uraian tersebut di atas, maka permasalahan yang akan menjadi obyek dalam pembahasan tulisan ini dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: 1. Bagaimana sejarah poligami tersebut ? 2. Bagaimana hukum melakukan poligami dalam perspektif hukum Islam ? 3. Apa falsafah atau hikmah yang terkandung dalam ajaran poligami tersebut ?

III. PEMBAHASAN A. Sejarah Poligami Sebenarnya sistem poligami sudah meluas berlaku pada banyak bangsa sebelum Islam sendiri datang. Di antara bangsa-bangsa yang menjalankan poligami, yaitu Ibrani, Arab Jahiliyah dan Cisilia, yang kemudian melahirkan sebagian besar

4 5

www.albahar wordpress.com, diakses tanggal 25 Mei 2009. Ibid,

penduduk yang menghuni Negara-negara : Rusia, Lituania, Polandia, Cekoslovakia (sekarang Ceko dan Slovakia) dan Yugoslavia, dan sebagian dari orang-orang Jerman dan Saxon yang melahirkan sebagian besar penduduk yang menghuni Negara-negara : Jerman, Swiss, Belgia, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia, dan Inggris.6 Poligami juga dikenal di kalangan bangsa Medes, Babilonia, Abbesinia, dan Persia. Bahkan poligami yang dipraktekkan bangsa Yunani terkesan sangat tidak manusiawi. Bangsa Yunani bukan saja memiliki seorang isteri yang dapat dipertukarkan dengan yang lain, tetapi juga dapat diperjualbelikan di antara mereka pada umumnya. Di kalangan bangsa Arab Jahiliyah, mengawini sejumlah wanita merupakan hal lumrah dan mereka menganggap wanita itu sebagai hak milik yang bisa dibawa-bawa dan diperjualbelikan.7 Dan tidak benar jika dikatakan bahwa Islamlah yang mula-mula membawa sistem poligami dan tidak benar juga bila dikatakan bahwa sistem ini hanya beredar di kalangan bangsa-bangsa yang beragama Islam saja. Karena sebenarnya sistem poligami ini hingga dewasa ini masih tetap tersebar pada beberapa bangsa yang tidak beragama Islam, seperti : orang-orang asli Afrika, Hindu India, Cina , dan Jepang. Hamdi Syafiq sebagaimana dikutip oleh Abu Salma al- Atsari 8 mengatakan : It is not Islam that has ushered in polygamy. As historically confirmed, polygamy has been known since ancient times a phenomenon as old as mankind itself with polygamy having been a commonplace practice since paranoiac times . ( Islam bukanlah yang pertama kali memperkenalkan poligami. Secara histories ditetapkan bahwa poligami telah dikenal semenjak masa lalu,sebuah fenomena yang usianya setua manusia itu sendiri dimana poligami telah menjadi sebuah praktek yang lazim semenjak masa Paranoiak)[Hamdi Syafiq, Wives Rather Than Mistress]. Hamdi Syafiq menjelaskan bahwa, Ramses II, Raja Firaun yang terkenal (berkuasa 1292-1225 SM) memiliki 8 orang isteri dan memiliki banyak selir dan

Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah , Terjemah ,Alih Bahasa oleh Drs. Moh. Thalib, Al-Maarif, Bandung, jilid 6, hal.169. 7 Syaifullah, Poligami dalam Struktur Keluarga Muslim, dalam Mimbar Hukum No. 51 Thn. XII 2001, Al Hikmah & DITBINBAPERA Islam, Jakarta, hal. 68. 8 www.hatibening.com, diakses tanggal 25 Juni 2009

budak wanita yang memberikannya 150 putra dan putri. Dinding biara pemujaan merupakan bukti sejarah terkuat, di mana tercantum nama-nama isteri, selir dan anakanak dari tiap wanita tersebut. Ratu cantik Neferteri merupakan isteri termansyhur Ramses II, yang terkenal berikutnya adalah Ratu Asiyanefer atau Isisnefer yang melahirkan puteranya, Raja Merenbatah, yang naik tahta setelah ayah dan kakaknya mangkat. Poligami juga sudah lazim dilakukan oleh masyarakat negeri Slavia yang sekarang menjadi Rusia, Serbia, Cechnia dan Slovakia, juga lazim dilakukan oleh penduduk negeri Lituania, Estonia, Macedonia, Rumania, dan Bulgaria. Jerman dan Sakson, yang merupakan dua ras utama mayoritas populasi di Jerman, Austria, Switzerland, Belgia, Belanda, Denmark, Swedia, Nirwagia dan Inggris, juga merupakan negeri yang melakukan praktek poligami secara meluas. Masyarakat paganis (watsaniy) di Afrika, India, Cina, Jepang dan Asia Tenggara juga banyak melakukan poligami. Bahkan sebenarnya agama Kristen tidaklah melarang poligami, sebab di dalam Injil tidak ada satu ayat pun dengan tegas melarang hal tersebut.Jika para pemeluk Kristen bangsa Eropa pertama dulu telah beradat istiadat dengan kawin satu perempuan saja, ini tidak lain disebabkan karena sebagian terbesar bangsa Eropa penyembah berhala yang didatangi oleh agama Kristen pertama kalinya adalah terdiri dari orang Yunani dan Romawi yang lebih dulu sudah punya kebiasaan yang melarang poligami. Setelah mereka memeluk agama Kristen, kebiasaan dan adat nenek moyang mereka ini tetap mereka pertahankan dalam agama mereka yang baru ini. Jadi, sistem monogami yang mereka jalankan ini bukanlah berasal dari agama Kristen yang mereka anut, akan tetapi merupakan warisan paganisme (agama berhala) dahulu kala. Dari sinilah kemudian gereja mengadakan bidah dengan menetapkan larangan poligami dan lalu digolongkan larangan tersebut sebagai aturan agama. Padahal kitab Injil sendiri tidak menerangkan sedikitpun tentang sesuatu ayat yang mengharamkan sistem ini.9
9

Ibid, hal. 169-170.

Sebenarnya sistem poligami ini tidaklah berjalan, kecuali di kalangan bangsabangsa yang telah maju kebudayaannya, sedangkan pada bangsa-bangsa yang masih primitif sangat jarang sekali, bahkan boleh dikatakan tidak ada. Hal ini diakui oleh para sarjana sosiologi dan kebudayaan, seperti : WESTERMARK, HOBBERS, HELER dan BOURGE.10 B. Poligami Dalam Islam Argumentasi yang sering dijadikan dasar kebolehan poligami dalam Islam adalah firman Allah SWT yang berbunyi :

Artinya : Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil (dalam hal yang bersifat lahiriyah jika menikahi lebih dari satu), maka (nikahilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.11 Imam Malik meriwayatkan dalam Kitab Al- Muwattha, Imam Nasaiy dan Imam Ad Daraquthni dalam masing-masing Kitab Sunannya sebagaimana dikutip oleh Sayyid Sabiq, 12 bahwa Nabi SAW bersabda : Artinya : Bahwa Nabi berkata kepada Ghailan bin Umayyah Attsaqafi yang masuk Islam, padahal ia mempunai sepuluh orang isteri. Beliau bersabda kepadanya : Pilihlah empat orang di antara mereka dan ceraikanlah yang lainnya. Dalam riwayat lain sebagaimana dalam Kitab Abu Daud dari Qais bin Harits13 disebutkan bahwa Qais bin Harits mempunyai delapan orang isteri yang
10 11

Ibid QS. An Nisa (4) : 3. 12 Sayyid Sabiq, Of.cit., hal. 150. 13 Ibid.

semuanya perempuan merdeka. Tetapi ketika turun ayat tentang poligami empat orang, maka Rasulullah menyuruhnya agar ia menceraikan empat orang dan mengambil empat lainnya. Artinya : Saya masuk Islam bersama-sama dengan delapan isteri saya, lalu saya ceritakan hal itu kepada Nabi SAW, maka sabda beliau : Pilihlah empat orang di antara mereka. Secara tekstual ayat 3 dalam Surat An Nisa dan hadits tersebut di atas, merupakan dasar hukum kebolehan poligami. Namun menurut M. Quraish Shihab sebagaimana dikutip oleh Syaifullah
14

bahwa makna ayat tersebut sering

disalahpahami. Lebih lanjut M. Quraish Shihab menguraikan bahwa ayat ini turun menyangkut sikap sebagian orang yang ingin mengawini anak-anak yatim yang kaya lagi cantik, dan berada dalam pemeliharaannya, tetapi tidak ingin memberinya mas kawin yang sesuai serta tidak memperlakukannya secara adil. Jadi pada dasarnya, ayat tersebut turun untuk menolak persepsi keliru sebagian umat Islam pada waktu itu. Penyebutan dua, tiga, atau empat secara esensial adalah penegasan dan tuntutan berlaku adil terhadap mereka (anak-anak yatim). Di sisi lain, secara historis poligami sudah dipraktekan dalam kehidupan masyarakat sebelum Islam dengan berpedoman pada syariat dan adat istiadat yang berlaku pada masa itu. Kitab suci Yahudi dan Nasrani tidak melarang praktek poligami. Mengawini lebih dari satu isteri sudah menjadi jalan hidup yang diakui keberadaannya. Semua Nabi yang disebutkan dalam Kitab Talmut dan Perjanjian Lama mempunyai lebih dari satu isteri. Demikian juga yang terjadi di kalangan bangsa Arab Jaliyah. Islam datang yang dibawa oleh Rasulullah al-Amin adalah untuk

menyampaikan rahmat bagi alam semesta, maka Islam tidak melarang poligami dengan begitu saja dan tidak pula membiarkan poligami secara bebas. Islam datang dan membatasi poligami maksimal hanya empat isteri saja. Jaman pra Islam telah mengenal poligami, bahkan poligami bukanlah suatu hal yang asing di mana ada seorang lelaki beristri puluhan, bahkan ratusan isteri. Datangnya Islam membawa rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin). Selain membatasi poligami, Islam
14

Syaifullah, Loc.cit

juga menjelaskan persyaratan dan kriteria dianjurkannya berpoligami yang sebelumnya tidak ada. Agaknya, karena kenyataan historis tersebut, maka Al Quran (QS : 4 : 3) tidak menetapkan suatu peraturan tentang poligami. Hal ini terlihat dari makna (kandungan) ayat tersebut yang tidak menyiratkan anasir perintah atau anjuran, tetapi kebolehan. Kebolehan itu pun bukan kebolehan mutlak, tetapi kebolehan bersyarat untuk memenuhi kebutuhan mendesak (sebagian anggota) masyarakat disertai

tanggungjawab berat bagi pria yang melakukannya. Suatu indikasi bahwa kebolehan berpoligami sangat sulit dipraktekan, karena tidak semua pria dapat memenuhi persyaratan keadilan, 15 sebagaimana dalam Al Quran16 sebagai berikut

Artinya : Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dengan demikian, Al Quran menggambarkan bahwa poligami

mengandung resiko besar terhadap keadilan sosial dan kebahagiaan hidup rumah tangga yang merupakan soko guru kebudayaan dan peradaban. Namun terkadang dalam kenyataan sosial, praktek poligami tidak didasari pada pertimbanganpertimbangan logis, tetapi justru lebih didorong oleh nafsu rendah kaum pria tanpa mengindahkan faktor keadilan sebagaimana disyaratkan dalam Al Quran.

15 16

Ibid, hal. 68-69. QS : 4 : 129

Dr. Abdurrahim Sayih, seorang dosen Akidah dan Falsafah Universitas AlAzhar, Kairo, bahwa hingga saat ini banyak kalangan yang memandang jika poligami, yang tidak dilandasi oleh alasan-alasan keagamaan- misal hanya karena dorongan hasrat seksual belaka- adalah boleh hukumnya menurut syariat Islam. Padahal model poligami yang demikian sama sekali bukan dari ajaran agama Islam, tetapi berasal dari ajaran-ajaran pra Islam yang menyebar di Timur Tengah 17. Bahasan di atas menunjukkan bahwa Al Quran hanya membolehkan poligami dalam kondisi tertentu (dharurah) sebagai solusi untuk mengatasi kebuntuan kehidupan keluarga ; misalnya jika isteri tidak sanggup menyalurkan kebutuhan biologis atau tidak mampu memberikan keturunan. Dalam kondisi seperti ini poligami merupakan solusi ideal, namun hal itu sangat tergantung pada pertimbangan setiap muslim. Artinya, poligami tidak merupakan anjuran, apalagi perintah. Al Quran hanya memberi wadah bagi mereka yang menghendaki solusi seperti itu. Dalam suatu permohonan judicial review terhadap Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang diajukan oleh M. Insa, bahwa pemohon judicial review UU Perkawinan, menilai bahwa UU itu telah melarang dirinya beribadah kepada Allah lewat poligami. Dalam permohonan judicial review-nya, M Insa, selaku pemohon, menganggap poligami adalah bagian dari tuntutan Islam. Namun ahli fiqih Quraish Shihab punya pendapat sendiri. Quraish Shihab18 menilai poligami bukan ibadah murni. Poligami tidak ada bedanya dengan makan. "Sama saja dengan dokter yang melarang makan demi kesehatan. Padahal kan makan itu juga hak asasi manusia, tapi tetap boleh dilakukan. Nah poligami sama dengan makan," kata mantan Menag itu saat menjawab pertanyaan majelis hakim Haryono dalam sidang judicial review UU Perkawinan di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (23/8/2007). Dijelaskan Quraish, Al Quran bukan hanya buku hukum, tapi juga sumber hukum. Soal poligami, dia mengakui ulama masih berbeda pendapat. Namun hampir semua ulama sependapat, poligami diizinkan bagi yang memenuhi syarat-syarat

17 18

www.Hidayatullah.com, diakses tanggal 9 Juni 2009. Dikutip dari DetikNews, Kamis, 23-08-07, yang diakses tanggal 19 Juni 2009.

tertentu. Tujuan pernikahan, imbuh dia, membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warohmah. Sakinah artinya ketenangan yang didapatkan setelah seseorang mengalami suatu gejolak. Ketika orang sendiri, maka dia sering merasa asing. "Nah perkawinan itu menemukan seseorang yang cocok, maka yang didapat adalah ketenangan. Ini berarti setiap usaha yang tidak menciptakan ketenangan, maka bertentangan dengan perkawinan". Soal mawaddah yang berarti kosong, kata Quraish, maksudnya adalah kosongnya jiwa dari niat buruk pada pasangan. Dan yang kedua, tidak ingin ada yang lain selain pasangannya. "Jadi masih ada perasaan ingin memiliki yang lain, maka itu tidak mawaddah," ujarnya. Keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah, kata dia, tetap bisa bertahan meskipun sang suami berpoligami. Asalkan, sang istri rela berkorban demi suaminya yang ingin berpoligami dengan alasan-alasan tertentu. Terhadap Nabi, di mana beliau beristeri lebih dari empat orang, tidak berarti melanggar ayat (3) Surat An Nisa tersebut. Sebab untuk Nabi bukan ayat tersebut yang diberlakukan kepada beliau, melainkan ayat (50) Surat Al Ahzab berikut :
19

sebagai

19

Nur Chozin, Poligami dalam Al Quran ( dalam Mimbar Hukum Nomor 29 Tahun VII 1996), Al Hikmah & DITBINBAPERA Islam, Jakarta, 1996, hal. 84.

10

Artinya : Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mumin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mumin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 20 Menurut Ubay ibnu Kaab, Mujahid, al Hasan, Qatadah dan Ibnu Jarir seperti dikutip oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya sebagaimana dikutip Nur Chozin
21

, bahwa

yang dimaksud dengan potongan ayat tersebut yang artinya sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mumin, pen-) adalah batasan empat untuk umat Muhammad, sedang untuk Nabi Muhammad batasan tersebut tidak berlaku. C. Falsafah atau Hikmah dalam Poligami Beberapa hikmah atau falsafah yang terkandung dalam poligami antara lain : 1. Negara-negara dewasa ini benar-benar telah menyadari tentang nilai dari jumlah penduduk yang besar, pengaruhnya terhadap industri dan perang serta perluasan pembangunan. Seorang penyelidik bangsa Jerman telah membahas dengan tajam tentang suburnya keturunan di kalangan masyarakat Islam yang menurutnya dipandang sebagai salah satu unsur dari kekuatan masyarakat Islam. Dalam bukunya yang berjudul Islam suatu kekuatan di masa depan yang terbit tahun 1936 menulis bahwa sendi-sendi kekuatan Timur Islam ada tiga, yaitu : a. Kekuatan Islam sebagai suatu agama, baik dalam itikad, pedoman yang luhur, persaudaraan antar bangsa, warna kulit dan kebudayaan. b. Karena memiliki sumber-sumber kekayaan alam yang besar yang membentang dari Barat meliputi Samudera Atlantik dan Maroko sampai
20 21

QS :33 : 50 Nur Chozin, Of. Cit.

11

ke Timur yang meliputi Lautan Teduh dan Indonesia. Gambaran ini membentuk kesatuan ekonomi yang sehat, kuat , dan mencukupi dirinya sendiri, sehingga bagi kaum muslim sama sekali sebenarnya tidak memerlukan dunia Barat atau lain-lainnya bilamana sesama mereka mau bahu membahu dan tolong menolong. c. Suburnya keturunan di kalangan masyarakat Islam, sehingga tambah memperbesar kekuatan yang sudah besar tersebut. Selanjutnya penyelidik Jerman tersebut menyatakan bahwa bilamana ketiga faktor kekuatan tersebut menjadi satu, yaitu kaum muslimin bersaudara dalam satu aqidah, mentauhidkan Allah dan kekayaan alamnya yang besar, dapat memenuhi kebutuhan bertambahnya jumlah penduduk yang besar, maka Islam akan merupakan satu bahaya yang mengancam dunia Eropa dan menjadi Yang Dipertuan di alam ini dan menjadi pusatnya.22 Dari data tahun 2008,
23

jumlah penduduk dunia berjumlah sekitar 6,7 milyar

dan jumlah tersebut akan meningkat menjadi sekitar 7 milyar pada tahun 2012. Namun demikian jumlah penduduk muslim saat ini masih termasuk kelompok minoritas di dunia. Dengan adanya poligami, tak bisa tidak akan menyebabkan banyaknya anak keturunan yang merupakan suatu berkah dari Allah SWT . Jika seorang wanita memiliki seratus suami, darinya tidak akan dapat lahir seratus orang anak. Akan tetapi sebaliknya, jika seratus orang wanita memiliki seorang suami, maka lahirnya seratus anak tidak akan jauh dari kemungkinan. Jadi suatu cara yang melaluinya bisa diharapkan anak keturunan manusia bisa berkembang dan dengan demikian akan bertambah jumlahnya hamba-hamba Allah tersebut. 2. Bahwa adakalanya jumlah kaum wanita dalam suatu Negara lebih banyak dari laki-lakinya, seperti yang biasanya terjadi pada masa peperangan. Bahkan pada beberapa banyak bangsa, hampir selalu jumlah wanitanya lebih banyak sekalipun di masa damai, di samping memperhatikan bahwa pada umumnya laki-laki itu

22 23

Sayyid Sabiq, of. Cit, hal.160. www.pondok tadabbur.com, diakses tanggal 25 Juni 2009.

12

merupakan kerja-kerja yang berat, sehingga mengakibatkan panjangnya umur perempuan lebih besar daripada laki-laki. Keadaan umur yang lebih panjang dengan sendirinya akan menambah banyaknya jumlah perempuan. Karena itu ada keharusan untuk menanggung dan melindungi jumlah yang lebih, dan jika tidak ada yang melakukan tanggung jawab dan melindungi mereka,tentu mereka akan terpaksa berbuat menyeleweng dan rendah, sehingga masyarakat menjadi rusak dan moral yang runtuh, atau hidup mereka dihabiskan dalam penderitaan kesepian dan tak bersuami, sehingga kekuatan mereka menjadi habis dan menyia-nyiakan kekayaan potensi kemanusiaan yang dapat merupakan kekuatan bangsa dan memperbesar jumlah kekayaan yang sudah ada. Memang jika dilihat dari data tahun 2006,24 jumlah penduduk laki-laki di dunia (3.271.791.980) masih lebih banyak dibandingkan dari perempuan

(3.227.854.159), namun di tiga benua yakni Afrika (456.298.834 : 456.687.457), Eropa (353.617.630 : 379.914.466), dan Amerika (441.653.264 : 453.083.366) jumlah penduduk perempuan masih lebih banyak dari penduduk laki-laki. Begitupun untuk penduduk Indonesia, jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki, yakni 111.177.963 berbanding 110.873.335. 3. Bahwa kesanggupan laki-laki untuk mempunyai keturunan lebih besar daripada perempuan, sebab laki-laki telah memiliki persiapan kerja seksual sejak baligh sampai tua, sedangkan perempuan dalam masa haid tidak memilikinya, di mana masa haid ini datang setiap bulan yang temponya terkadang sampai sepuluh hari, dan begitu pula selama masa nifas (sehabis melahirkan anak) yang temponya terkadang sampai empat puluh hari, ditambah lagi dengan masa hamil dan menyusui. Kesanggupan perempuan untuk beranak berakhir sekitar umur 45 sampai 50 tahun, sedangkan di pihak laki-laki masih subur sampai dengan lebih dari 60 tahun. Keadaan dan kondisi seperti ini sudah tentu perlu diberi jalan pemecahan yang sehat. 4. Bahwa adakalanya isteri mandul atau menderita sakit yang tidak ada harapan sembuhnya, padahal masih tetap berkeinginan untuk melanjutkan hidup

24

www.statistik ptkpt. net, diakses tanggal 25 Juni 2009.

13

bersuami isteri, sedangkan suami menginginkan mempunyai anak-anak dan seorang isteri yang dapat mengurus keperluan rumah tangganya. 5. Bahwa ada segolongan laki-laki yang mempunyai dorongan seksual

besar, yang merasa tidak puas dengan seorang isteri saja. Karena itu, daripada orangorang tersebut hidup dengan teman perempuan yang rusak akhlaknya, maka akan lebih baik diberikan jalan yang halal untuk dapat memuaskan tuntutan nafsunya. IV. KESIMPULAN Dari pembahasan tersebut di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Dari sejarahnya, tidak benar jika dikatakan bahwa Islamlah yang mulamula membawa sistem poligami, karena sebenarnya sistem poligami sudah meluas berlaku pada banyak bangsa sebelum Islam datang, dan tidak benar juga bila dikatakan bahwa sistem ini hanya beredar di kalangan bangsa-bangsa yang beragama Islam saja. Karena sebenarnya sistem poligami ini hingga dewasa ini masih tetap tersebar pada beberapa bangsa yang tidak beragama Islam, seperti : orang-orang asli Afrika, Hindu India, Cina , dan Jepang. Bahkan sebenarnya agama Kristen juga tidaklah melarang poligami, sebab di dalam Injil tidak ada satu ayatpun yang dengan tegas melarang hal tersebut. 2. Bahwa kebolehan poligami dalam Islam adalah apabila dalam kondisi tertentu (dharurah) sebagai solusi untuk mengatasi kebuntuan kehidupan keluarga. Dalam kondisi seperti ini poligami merupakan solusi ideal, namun hal itu sangat tergantung pada pertimbangan setiap muslim. Artinya, poligami tidak merupakan anjuran, apalagi perintah. Al Quran hanya memberi wadah bagi mereka yang menghendaki solusi seperti itu dengan berbagai syarat-syaratnya, agar benar-benar tercapai tujuan pernikahan yang diharapkan, yakni sebuah keluarga yang bahagia, kekal, sakinah, mawaddah, dan rahmah. 3. Bahwa ada beberapa hikmah atau falsafah yang terkandung dalam ajaran poligami menurut Islam, baik yang berkenaan dengan politik Islam seperti untuk meningkatkan kekuatan Islam itu sendiri dengan memperbanyak jumlah pemeluknya, dan juga karena adanya keadaan fitrah manusia, seperti ada segolongan laki-laki yang

14

mempunyai dorongan seksual besar, yang merasa tidak puas dengan seorang isteri saja dan juga keinginan untuk mempunyai keturunan, tetapi isteri dalam keadaan mandul atau sakit.

DAFTAR PUSTAKA Al Quran: --------------,Al Quran dan Terjemahnya, CV. Toha Putra, Semarang, Edisi Revisi, 1989 Buku dan Majalah : Ahmad Ali MD, Syariah dan Problematika Seksualitas , Majalah Mimbar Hukum Nomor 66, PPHI2M, Jakarta, 2008. M.Ismail Yusanto dan M.Sigit Purnawan Jati, Membangun Kepribadian Islam, Khairul Bayan Press,Jakarta, Agustus 2005. Said Agil Husin Al Munawar, Hukum Islam & Pluralitas Sosial , Penamadani, Jakarta, 2004. Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah , Terjemah ,Alih Bahasa oleh Drs. Moh. Thalib, AlMaarif, Bandung, jilid 6. Nur Chozin, Poligami dalam Al Quran ( dalam Mimbar Hukum Nomor 29 Tahun VII 1996), Al Hikmah & DITBINBAPERA Islam, Jakarta, 1996, Syaifullah, Poligami dalam Struktur Keluarga Muslim, dalam Mimbar Hukum No. 51 Thn. XII 2001, Al Hikmah & DITBINBAPERA Islam, Jakarta,2001. Internet : www.albahar wordpress.com. www.DetikNews. www.hatibening.com. www.Hidayatullah.com. www.pondok tadabbur.com. www.statistik ptkpt. Net.

15