Anda di halaman 1dari 146

LAPORAN DASAR ILMU TANAH Konsistensi tanah BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Konsistensi adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antara partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah. Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu: basah, lembab, dan kering. Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field cappacity). Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara. B. Tujuan a. Untuk mengetahui definisi konsistensi tanah b. Untuk mengetahui macam macam konsistensi tanah c. Untuk mengetahui metode pengukuran konsistensi tanah d. Untuk megetahui faktor yang mempengaruhi konsistensi e. Untuk mengetahui faktor yang dipengaruhi konsistensi BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Konsistensi Tanah a. Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. (Hardjowigeno, 1992).

b. Konsistensi adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antara partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah. (Anonymous, 2010) c. Konsistensi tanah adalah suatu sifat tanah yang menunjukkan derajat kohesi dan adhesi diantara partikel parkikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk yang disebabkan oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengarui bentuk tanah. (Anonymous, 2010) 2.2 Macam macam Konsistensi Tanah a. Konsistensi Basah a.1 Tingkat Kelekatan, yaitu menyatakan tingkat kekuatan daya adhesi antara butirbutir tanah dengan benda lain, ini dibagi 4 kategori: (1) Tidak Lekat (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak melekat pada jari tangan atau benda lain. (2) Agak Lekat (Nilai 1): yaitu dicirikan sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain. (3) Lekat (Nilai 2): yaitu dicirikan melekat pada jari tangan atau benda lain. (4) Sangat Lekat (Nilai 3): yaitu dicirikan sangat melekat pada jari tangan atau benda lain. a.2 Tingkat Plastisitas, yaitu menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan, ini dibagi 4 kategori berikut: (1) Tidak Plastis (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak dapat membentuk gulungan tanah. (2) Agak Plastis (Nilai 1): yaitu dicirikan hanya dapat dibentuk gulungan tanah kurang dari 1 cm. (3) Plastis (Nilai 2): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut. (4) Sangat Plastis (Nilai 3): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan tekanan besar untuk merusak gulungan tersebut. b. Konsistensi Lembab Pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang, konsistensi dibagi 6 kategori sebagai berikut:

(1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan tanah tidak melekat satu sama lain atau antar butir tanah mudah terpisah (contoh: tanah bertekstur pasir). (2) Sangat Gembur (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas. (3) Gembur (Nilai 2): yaitu dicirikan dengan hanya sedikit tekanan saat meremas dapat menghancurkan gumpalan tanah. (4) Teguh / Kokoh (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan agak kuat saat meremas tanah tersebut agar dapat menghancurkan gumpalan tanah. (5) Sangat Teguh / Sangat Kokoh (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan berkali-kali saat meremas tanah agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut. (6) Sangat Teguh Sekali / Luar Biasa Kokoh (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan tidak hancurnya gumpalan tanah meskipun sudah ditekan berkali-kali saat meremas tanah dan bahkan diperlukan alat bantu agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut. c. Konsistensi Kering Penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara, ini dibagi 6 kategori sebagai berikut: (1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan butir-butir tanah mudah dipisah-pisah atau tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah bertekstur pasir). (2) Lunak (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah hancur bila diremas atau tanah berkohesi lemah dan rapuh, sehingga jika ditekan sedikit saja akan mudah hancur. (3) Agar Keras (Nilai 2): yaitu dicirikan gumpalan tanah baru akan hancur jika diberi tekanan pada remasan atau jika hanya mendapat tekanan jari-jari tangan saja belum mampu menghancurkan gumpalan tanah. (4) Keras (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan makin susah untuk menekan gumpalan tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya tekanan yang lebih kuat untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah. (5) Sangat Keras (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan yang lebih kuat lagi untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah makin sangat sulit ditekan dan sangat sulit untuk hancur. (6) Sangat Keras Sekali / Luar Biasa Keras (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan yang sangat besar sekali agar dapat menghancurkan gumpalan

tanah atau gumpalan tanah baru bisa hancur dengan menggunakan alat bantu (pemukul). 2.3 Metode Pengukuran Konsistensi Metode pengukuran konsistensi tanah ada 2 yaitu : a. Secara Kualitatif

Metode pengukuran konsistensi tanah secara kualitatif yaitu penentuan ketahanan massa tanah terhadap remasan, tekanan atau pijitan tangan pada berbagai kadar air tanah. b. Secara Kuantitatif

Metode pengukuran konsistensi tanah secara kuantitatif sering diistilahkan dengan angka Atterberg. 2.4 Faktor Mempengaruhi Konsistensi a. Kadar Air : Bila kadar air tinggi maka konsistensi tanah rendah. b. Tekstur Tanah : Bila tekstur tanah dominan pasir maka konsistensi tanah rendah. c. Porositas : Bila porositasnya tinggi maka konsistensi rendah. d. Bahan Organik : Bahan organik tinggi maka konsistensi rendah. e. Berat Isi 2.5 Faktor Dipengaruhi Konsistensi a. Struktur Tanah : Bila konsistensi tanah tinggi maka struktur mantap. b. Erosi : Bila konsitensi tanah tinggi maka erosi rendah. c. Pengolahan : Bila konsistensi tanah tinggi maka pengolahan semakin susah. BAB III METODOLOGI 3.1 Alat dan Bahan a. Alat

- Buku : untuk mencatat materi dan hasil - Bolpoint : untuk menulis hasil dan materi - 3 Ring - Oven b. Bahan - Tanah (pasir, liat, debu) : untuk pengamatan - Tanah dari Joyogrand : untuk pengamatan - Air : untuk membasahkan tanah 3.2 Alur Kerja Menyiapkan alat dan Bahan Mengambil contoh tanah dari tiap horizon tanah Mengamati Membasahi tanah agar mudah di bentuk Membentuk tanah tersebut menjadi lilitan bulat panjan Mengamati lagi konsisitensi atau kemampuan tanah tersebut untuk dibentuk lilitan Membuat Laporan 3.3 Analisis Perlakuan (Perbandingan Jurnal) o Semua tanah (kecuali pasir) jika dibasahi

menjadi liat Sifat liat dipengaruhi oleh kohesi & adhesi antara sesama molekul tanah dan molekul air. Zarah/partikel tanah yang semula lepas-lepas saat dibuat bentukkan tertentu dengan mencampurkan air. o Ciri-ciri tanah mempunyai sifat liat

Adalah jika bentukan tanah tersebut tidak rusak jika dikeringkan. o Tanah pasir mempuyai sifat tidak liat

Pada saat basah, pasir dapat dibentuk bola, tetapi bila dikeringkan maka butir-butir pasir akan terurai berai. o Kohesi dalam konsistensi tanah

Adalah gaya tarik menarik sesama zarah tanah akibat adanya selaput lengas pada permukaanzarah tersebut. Besar kecilnya gaya dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk zarah serta tebal tipisnya selaput lengas di antara zarah tersebut. o Adhesi dalam konsistensi tanah

Adalah gaya tarik menarik antara zarah tanah (fase padat) dengan molekul air (fase cair). o Kohesi tanah basah

Terjadi antara fase cair yang berperan sebagai sebagai jembatan antar fase padat. o Besar kecilnya kohesi berbanding lurus

dengan tegangan muka air (lengas tanah) dan berbanding terbalik dengan diameter zarah (kohesi meningkat jika kadar lempung meningkat dan kadar menurun jika kadar pasir meningkat) o o Contoh tanah halus kohesinya akan Meningkat jika ditetesi air sedikit demi sedikit mencapai maksimal pada kadar lengas 15% menurun jika kadar lengasnya > 15 % Pada tanah liat/plastic yang dibentuk bulat

Ternyata makin kuat kohesinya jika KL makin merosot karena makin tipis selaput lengas, tegangan muka makin kecil sampai batas tanah. Kohesi yang makin meningkat setelah titik patah bukan karena selaput lengas, melainkan karena kohesi molekuler tanah tersebut. o Titik Patah

merupakan batas awal masuknya udara ke dalam pori tanah dan menyebabkan warna tanah berubah dari gelap menjadi cerah dan mengerut disebut beerturutturutBatas Berubah Warna (BBW) dan Derajat Kerut (DK). (Anonymous, 2010) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tabel data hasil praktikum
Jenis Tanah Berat Ring (sebelum) 21,66 gr 22,85 gr 15,66 gr Berat Ring sesudah dimasukkan cincin 30,18 38,70 32,50 Berat sesudah di oven 27,25 32,94 27,25

Ring 1 Ring 2 Ring 3

Vertisol Andisol Sample

4.2 Pembahasan data hasil praktikum a.) Dalam kondisi basah Vertisol : -sangat lekat

-sangat plastis Andisol -plastis Entisol -tidak plastis Sampel -plastis b.) Dalam kondisi lembab sampel : -Teguh : -agak lekat : -agak lekat : -lekat

4.3 Perhitungan kadar air


Berat Basah Tanah

Ring 1 = 30,18 21,66 = 8,52 gram Ring 2 = 38,70 22,85 = 15,85 gram Ring 3 = 32,50 15,66 = 16,84 gram Berat Kering Oven Tanah

Ring 1 = 27,25 21,66 = 5,59 gram Ring 2 = 32,94 22,85 = 10,09 gram Ring 3 = 28,32 15,66 = 12,66 gram Kadar Air pada Tiap-Tiap Ring KA Ring 1 = 8,52 5,59 x 100% = 52,4% 5,59 KA Ring 2 = 15,85 10,09 x 100% = 57% 10,09 KA Ring 3 = 16,84 12,66 x 100% = 33%

4.4 Pengaruh kadar air dalam pengolahan tanah Pengolahan tanah seharusnya pada kandungan air tanah yang tepat, yaitu tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Faktor tumbuhan dan iklim mempunyai pengaruh yang berarti pada jumlah air yang dapat diabsorpsi dengan efisien tumbuhan dalam tanah. Kelakukan akan ketahanan pada kekeringan, keadaan dan tingkat pertumbuhan adalah faktor tumbuhan yang berarti. Temperatur dan perubahan udara merupakan perubahan iklim dan berpengaruh pada efisiensi penggunaan air tanah dan penentuan air yang dapat hilang melalui saluran evaporasi permukaan tanah. Diantara sifat khas tanah yang berpengaruh pada air tanah yang tersedia adalah hubungan tegangan dan kelembaban, kadar garam, kedalaman tanah, strata dan lapisan tanah. Banyaknya kandungan air tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air (moisture tension) dalam tanah tersebut. Kemampuan tanah dapat menahan air antara lain dipengaruhi oleh tekstur tanah. Tanah-tanah yang bertekstur kasar mempunyai daya menahan air yang lebih kecil dari pada tanah yang bertekstur halus. Pasir umumnya lebih mudah kering dari pada tanah-tanah bertekstur berlempung atau liat. (Hardjowigeno, S., 1992). 4.5 Kajian pengaruh konsistensi dalam usaha pertanian

Tanah sawah dalam kondisi plastis ata bahkan berlumpur karena berada diatas Batas Cair (BC) tidak menjadi masalah dalm pengolahan karena kondisi spesifik yang harus dipenuhi dalam penyiapan tanah sawah adalah pelukpuran lapisan olah. Pembangunan pertanian yang lebih berorientasi pada efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam dan aman lingkungan mendorong penyempurnaan konsep pengelolaan lahan sebagai sarana produksi pertanian. Keselarasan antara pendekatan pengelolaan lahan dengan dinamika ekosistem lahan menjadi faktor penting begitu pula konsistensi. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari hasil praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa konsistensi tanah ialah suatu sifat tanah yang menunjukkan derajat kohesi dan adhesi diantara partikel parkikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk yang disebabkan oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengarui bentuk tanah. a.) Dalam kondisi basah Vertisol -sangat plastis Andisol -plastis Entisol -tidak plastis Sampel -plastis b.) Dalam kondisi lembab sampel 5.2 Saran Ada ajahh.. : -Teguh : -agak lekat : -agak lekat : -lekat : -sangat lekat

DAFTAR PUSTAKA Anonymous. 2010. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2009/04/sifat-fisika-tanahbagian-5-konsistensi.html. 16 Oktober 2010. Anonymous. 2010. ilmutanahuns.files.wordpress.com//konsistensi -tanah.pdf. 16 Oktober 2010. Anonymous. 2010. ariyanto.staff.uns.ac.id/files/2010/04/kesuburan-05.pdf. 16 Oktober 2010. Hardjowigeno. S., 1987. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo : Jakarta.

UNIVERSITAS ISLAM MALANG FAKULTAS PERTANIAN PRODI AGRIBISNIS 2011-2011


BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengolahan tanah yang tepat sangat membantu keberhasilan penanaman yang diusahakan. Pengolahan tanah untuk media pertumbuhan dan perkembangan tanaman sebaiknya dilakukan pada keadaan air yang tepat, yaitu tidak terlalu kering dan tidak terlalu basah. Hal ini dimaksudkan agar tidak merusak struktur tanah. Untuk menyatakan derajat hubungan antara partikel-partikel tanah dengan kandungan air tanah digunakan angka-angka konsistensi. Berdasarkan hal tersebut diatas maka konsistensi tanah dapat didefinisikan sebagai : a. Suatu sifat yang menunjukkan derajat kohesi dan adhesi diantara partikel partikel tanah; b. Ketahanan massa suatu tanah terhadap perubahan bentuk yang diakibatkan oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah. Penetapan konsistensi tanah dilakukan 2 cara yaitu secara kualitatif dan secara kuantitatif. Prinsip penetapan secara kualitatif adalah penentuan ketahanan massa tanah terhadap remasan, tekanan atau pijitan tangan pada berbagai kadar air tanah. Penetapan konsistensi tanah secara kualitatif serimg diistilahkan sebagai penentuan angka Atterbeg karena Atterbeg adalah pelopor penetapan batas-batas konsistensi tanah yang dinyatakan dengan angka kandungan pada batas cair dan batas plastis (lekat) suatu tanah. Batas konsistensi dapat diketahui melalui suatu test laboratorium dimana akan didapat pula variasi berbagai keadaan konsistensi tanah. Peningkatan konsistensi tidak merupakan harga

mutlak dan sangat peka terhadap keadaan lingkungan, tekanan, serta berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah. Keadaan air terendah dimana tanah masih bersifat plastis (lekat) disebut batas plastis (plastis limit), dan batas tertinggi dimana tanah masih bersifat plastis disebut batas cair (Liquid limit). Sedangkan indeks plastisitas dapat didefenisikan : Ideks Plastisitas = Batas Cair Batas Plastis Jika pengolahan tanah dilakukan pada kandungan air dibawah batas plastis maka tanah akan bergumpal dan pecah. Sebaliknya jika diolah diatas batas cair maka tanah akan bersifat seperti benda cair. Jadi pengolahan tanah yang paling tepat adalah saat kadar air tanah berada diantara batas cair dan batas plastis.

1.2. Maksud dan Tujuan 1.2.1. Maksud diadakannya praktikum ini adalah : Mengetahui kadar air yang terkandung didalam tanah Mengetahui perhitungan konsistensi tanah 1.2.2. Tujuan diadakannya praktikum ini adalah : Agar mahasiswa dapat mengetahui konsistensi tanah tersebut layak untuk di usahakan pertanian. Agar mahasiswa dapat mengetahui keadaan lembab, kering dan basah dalam tanah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Menurut Hardjowigeno (1987) hal:31 bahwa tanah-tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah. Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu: basah, lembab, dan kering. Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field cappacity). Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara. Oleh karena itu pentingnya mengetahui konsistensi tanah untuk mengetahui tanah tersebut layak apa tidak untuk dikelola sebagai lahan pertanian. Konsistensi tanah menunjukkan derajat kohesi dan adhesi diantara partikel partikel tanah. Hal ini ditunjukkan oleh ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk yang diakibatkan oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah. Tanah tanah yang mempunyai konsistensi yang baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah. Oleh karena itu tanah dapat ditemukan dalam keadaan basah, lembab dan kering maka penyifatan konsistensi tanah harus disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut. Konsistensi tanah dapat ditentukan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif dilakukan

dengan cara memijat dan memirit atau membuat bulatan atau gulungan. Sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan cara penentuan angka Atterberg. Nurhidayati, 2006.Malang hal:56 Pada kondisi basah, konsistensi tanah dibedakan berdasarkan tingkat plastisitas dan tingkat kelekatan. Tingkatan plastisitas ditetapkan dari tingkatan sangat plastis, plastis, agak plastis, dan tidak plastis (kaku). Tingkatan kelekatan ditetapkan dari tidak lekat, agak lekat, lekat, dan sangat lekat. Pada kondisi lembab, konsistensi tanah dibedakan ke dalam tingkat kegemburan sampai dengan tingkat keteguhannya. Konsistensi lembab dinilai mulai dari: lepas, sangat gembur, gembur, teguh, sangat teguh, dan ekstrim teguh. Konsistensi tanah gembur berarti tanah tersebut mudah diolah, sedangkan konsistensi tanah teguh berarti tanah tersebut agak sulit dicangkul. Pada kondisi kering, konsistensi tanah dibedakan berdasarkan tingkat kekerasan tanah. Konsistensi kering dinilai dalam rentang lunak sampai keras, yaitu meliputi: lepas, lunak, agak keras, keras, sangat keras, dan ekstrim keras.

Konsistensi yang besar yaitu pada keadaan paling kering yang disebabkan oleh adanya gaya kohesi. Konsistensi sedang pada waktu keadaan lembab karena adanya gaya adhesi. Konsistensi rendah/sangat rendah apabila keadaan basah, sanagt basah atau jenuh air. (Syarief, S. 1994)
Cara penetapan konsistensi untuk kondisi lembab dan kering ditentukan dengan meremas segumpal tanah. Apabila gumpalan tersebut mudah hancur, maka tanah dinyatakan berkonsistensi gembur untuk kondisi lembab atau lunak untuk kondisi kering. Apabila gumpalan tanah sukar hancur dengan cara remasan tersebut maka tanah dinyatakan berkonsistensi teguh untuk kondisi lembab atau keras untuk kondisi kering. Penetapan konsistensi tanah dilakukan dengan dua cara yaitu secara kualitatif dan secara kuantitatif. Prinsip penetapan sucara kualitatif adalah penentuan ketahanan masa tanah terhadap remasan, tekanan atau pijitan tangan pada berbagai kadar air tanah.

(Anonymous. 2009)
Dalam keadaan basah ditentukan mudah tidaknya melekat pada jari, yaitu kategori: melekat atau tidak melakat. Selain itu, dapat pula berdasarkan mudah tidaknya membentuk bulatan, yaitu: mudah membentuk bulatan atau sukar membentuk bulatan; dan kemampuannya mempertahankan bentuk tersebut (plastis atau tidak plastis). Secara lebih terinci cara penentuan konsistensi tanah dapat dilakukan sebagai berikut: (I) Konsistensi Basah 1.1 Tingkat Kelekatan, yaitu menyatakan tingkat kekuatan daya adhesi antara butir-butir tanah dengan benda lain, ini dibagi 4 kategori: (1) Tidak Lekat (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak melekat pada jari tangan atau benda lain. (2) Agak Lekat (Nilai 1): yaitu dicirikan sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain. (3) Lekat (Nilai 2): yaitu dicirikan melekat pada jari tangan atau benda lain. (4) Sangat Lekat (Nilai 3): yaitu dicirikan sangat melekat pada jari tangan atau benda lain.

1.2 Tingkat Plastisitas, yaitu menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan, ini dibagi 4 kategori berikut: (1) Tidak Plastis (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak dapat membentuk gulungan tanah. (2) Agak Plastis (Nilai 1): yaitu dicirikan hanya dapat dibentuk gulungan tanah kurang dari 1 cm. (3) Plastis (Nilai 2): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut. (4) Sangat Plastis (Nilai 3): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan tekanan besar untuk merusak gulungan tersebut. (II) Konsistensi Lembab Pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang, konsistensi dibagi 6 kategori sebagai berikut: (1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan tanah tidak melekat satu sama lain atau antar butir tanah mudah terpisah (contoh: tanah bertekstur pasir). (2) Sangat Gembur (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas. (3) Gembur (Nilai 2): yaitu dicirikan dengan hanya sedikit tekanan saat meremas dapat menghancurkan gumpalan tanah. (4) Teguh / Kokoh (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan agak kuat saat meremas tanah tersebut agar dapat menghancurkan gumpalan tanah. (5) Sangat Teguh / Sangat Kokoh (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan berkalikali saat meremas tanah agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut (6) Sangat Teguh Sekali / Luar Biasa Kokoh (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan tidak hancurnya gumpalan tanah meskipun sudah ditekan berkali-kali saat meremas tanah dan bahkan diperlukan alat bantu agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut (III) Konsistensi Kering Penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara, ini dibagi 6 kategori sebagai berikut: (1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan butir-butir tanah mudah dipisah-pisah atau tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah bertekstur pasir). (2) Lunak (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah hancur bila diremas atau tanah berkohesi lemah dan rapuh, sehingga jika ditekan sedikit saja akan mudah hancur. (3) Agar Keras (Nilai 2): yaitu dicirikan gumpalan tanah baru akan hancur jika diberi tekanan pada remasan atau jika hanya mendapat tekanan jari-jari tangan saja belum mampu menghancurkan gumpalan tanah. (4) Keras (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan makin susah untuk menekan gumpalan tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya tekanan yang lebih kuat untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah. (5) Sangat Keras (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan yang lebih kuat lagi untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah makin sangat sulit ditekan dan sangat sulit untuk hancur.

(6) Sangat Keras Sekali / Luar Biasa Keras (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan yang sangat besar sekali agar dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah baru bisa hancur dengan menggunakan alat bantu (pemukul).

Konsistensi

Kohesi

Adhesi

Kering

Lembab

Basah

Sangat basah

Gambar I : Pengaruh kadar air terhadap kohesi dan adhesi Beberapa faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah adalah:

Tekstru tanah. Tekstur tanah yang kasar daya plastisnya akan rendah karena pada tanah yang teksturnya kasar sedikit mengandung liat sehingga menyebabkan daya plastisitasnya rendah, begitu pula sebaliknya. Kadar air tanah. Bila kadar air tanah tinggi, campuran tanah dan air akan menjadikan tanah lembek seperti cairan sehingga mempengaruhi batas cair dan batas plastisnya. Jenis liat. Ada banyak jenis liat, perbedaan kandungan jenis liat akan berpengaruh pada daya lekat tanah tersebut baok dalam keadaan kering, lembab maupun basah. Kandungan bahan organik. Kandungan bahan organik mempengaruhi day serap tanah akan air, apabila kandungan bahan organiknya sedikit maka kemampuan tanah untuk menyimpan air juga menjadi rendah begitu juga sebaliknya sehingga hal ini juga berpengaruh pada konsistensi tanah karena sebagai mana dijelaskan diatas, bahwa kandungan air tanah juga mempengaruhi konsistensi tanah.
Sumber : file:///E:/sifat-fisika-tanah-bagian-5-konsistensi.html

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan. Contoh tanah biasa.(Tanah yang telah hancurkan dan di ayak) Kaleng oven Air Alat konsistensi Pembuat alur. Beaker glass Oven Timbangan. Plastik Mortar. Ayakan.

3.1 Cara Kerja A. Penetapan Batas Cair. 1. Menimbang 100 gram tanah, menambahkan air, kemudian mengaduk secara merata, sehingga berbentuk pasta.

2. Menempatkan sebagian pasta pada alat penetapan batas cair. Meratakan permukaannya hingga tebal maksimum 1,27 cm. Kemudian mengoreskan alat pembuat alur tegak luruspada permukaan cawan hingga pasta tanah terbelah menjadi dua bagian. 3. Memutar alat dengan kecepatan 2 putaran per detik dan banyak ketukan hingga akan tertutup sejarak 1,27 cm. Alur harus tertutup karena aliran tanah. Bukan karena gesekan antara dengan permukaan cawan. 4. Mengambil 10 gram dari daerah alur tetutup untuk penentuan kadar air. Dengan mengubah ubah banyaknya airyang dicampurkan ke tanah dan mengulangi pekerjaan no. 2 dan no.5, dengan mengambil 4 kali penetapan kadar air didalam ketukan 10 hingga 40 kali. 5. Membuat grafik antara jumlah ketukan ( sumbu X ) dan kadar air ( sumbu Y ). Kemudian mencari kadar air tanah pada ketukan sebnyak 25 kali. Kadar air pada ketokan 25 kali menunjukkan batas cairdari tanah tersebut.

B. Penetapan Batas Plastis 1. Menimbang 15 gram tanah, menambahkan air kemudian campur hingga merata dan meletakkan di atas lempengan kaca. 2. Memisahkan sedikit lalu gosok dengan tanah sampai berbentuk benang berdiameter 3 mm. 3. Mengulangi pekerjaan no 2 sebanyak 2 kali sehingga akan didapat 3 keadaan ( kiri = lebih basah dan batas plastis, tengah = pada batas plastis, kanan = lebih kering dari batas plastis ). 4. Mengambil tanah yang remah pada pekerjaan no.2 hingga sebanyak 4 kali untuk mendapat harga tanah rata rata. 5. Mengulangi pakejaan pada nomor 2 dan 4 sebanyak 3 kali untuk mendapat harga rata rata.

BAB IV PENGAMATAN A. Tabel 1. Data Hasil Pengamatan Jumlah Ketukan Rentang Ketukan I II 1 10 2 3 11 20 20 17 21 30 29 23 31 40 32 36 41 50 43 45 BTSO I 9,54 4,82 3,75 3,98 II 6,14 4,09 19,69 6,14 I 7.49 3,86 2,47 2,67 Bkl (gr) I II 3,43 3,48 3,44 3,64 3,62 3,41 3,56 3,55 3,48 3,45 Bkl+tanah (SO) I II 12,97 9,62 8,262 7,73 7,37 23,10 7,54 9,69 14,52 14,07 Bkl tanah (KO) I II 10,92 6,32 7,30 6,62 6,09 16,22 6,23 7,65 9,90 10,61 KA % 27,36 24,87 51,82 49,06 79,51 37,24 53,70 49,75

BTKO II 2,84 2,98 12,81 4,10

BTSO-BTKO I II 2,05 3,30 0,96 1,11 1,28 6,88 1,31 2,04

11,04 No 1 2 3

10,62

6,42 kaleng 3.55 3.58 3.47

7,16 K + BTSO 11,65 11,43 13,20

4,62 K +BTKO 9,40 8,91 12,53 6,36 7,75 9,10

3,46

71,96 BTSO 8,10 7,85 9,73 4,32 5,62 7,13 BTKO 5,85 5,33 7,06 2,85 4,34 3,78

48,32 BTSO-BTKO 2,25 2,52 2,67 1,47 1,28 3,35

Bola basah batas plastis kering

Ka % 38,46 47,27 37,81

1 basah 3.51 7,83 2 batas plastis 3.41 9,03 3 kering 3.52 10,65 B. Tabel 2. Data penentuan batas plastis.

51,57 29,49 88,62

C. Keterangan : 1. BK : Berat Kaleng. TSO : Berat tanah

Kering Oven 2. BSO : Berat tanah + kaleng Sebelum Oven TKO : Berat tanah

Kering Oven 3. BKO : Berat tanah + kaleng Kering Oven BA : Berat Air & KA :

Kadar Air

PERHITUNGAN

Adapun cara perhitungan dari data yang tersaji diatas ialah sebagai berikut:
4.1 Batas Cair.

a. b. c. d. e. f.

TSO TKO BA KA xy

= BSO - BK = BKO - BK = TSO - TKO = BA / TKO x 100 (%) = x.y

xy / x2 ( x . y / n)

x2 ( x)2 / n

B = 5884,78/4876,50 ( 138,00 . 5884,78/5 ) 4876,50 ( 138,00 )2/5 B = -5,96

a.

b.

1. a. b. c. d.

e.

f.

A = ( y/n ) ( B . ( x/n) = (5884,78/n) (-5,96.(138,00/5 ) = 210,60 Y = A+(B.( x/n)) = 210,60 + ( -5,96.(138,00/5) ) = 46,12 Batas cair = Rata-rata kadar air = 46,11672 Batas Plastis. TSO = BSO BK TKO = BKO BK BA = TSO TKO KA = BA/TKO x 100% Kering 1 = 2/9,3658x 100% = 21,35429 g Kering 2 = 2/6,3218 x 100% = 31,63656 g Lembab 1 = 3/8,4313 x 100% = 35,5817 g Lembab 2 = 2/5,461 x 100% = 36,62333 g Basah 1 = 4/7,5702 x 100% = 52,83876 g Basah 2 = 4/5,5211 x 100% = 54,337 g Batas Plastis = rata-rata kadar air = ( 21,35429 + 31,63656 + 35,5817 + 36,62333 + 52,83876 + 54,337)/6 = 38,72861 IP = BC- BP = 46,1172 38,32861 = 7,38811

BAB V PEMBAHASAN Dari percobaan yang telah dilakukan didapatlah rata-rata kadar air tiap kelas ketukan sebagai berikut :

1 - 10 ketukan (9) 10 20 ketukan (17) 21 30 ketukan (24,5) 31 40 ketukan (37,5) 41 50 ketukan (50)

= 54,14 % = 51,07 % = 47,49 % = 42,26 % = 35,62 %

Hubungan antara kadar air dan jumlah ketukan,bahwa jumlah ketukan dan kadar air memiliki hubungan yang berkebalikan, dimana semakin besar kadar airnya maka jumlah ketukan akan semakin sedikit. Pada kadar air yang tinggi tanah akan berada pada kondisi yang basah atau bisa dikatakan konsistensinya basah. Beberapa faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah adalah:

Tekstur tanah. Tekstur tanah yang kasar daya plastisnya akan rendah karena pada tanah yang teksturnya kasar sedikit mengandung liat sehingga menyebabkan daya plastisitasnya rendah, begitu pula sebaliknya. Kadar air tanah. Bila kadar air tanah tinggi, campuran tanah dan air akan menjadikan tanah lembek seperti cairan sehingga mempengaruhi batas cair dan batas plastisnya. Jenis liat. Ada banyak jenis liat, perbedaan kandungan jenis liat akan berpengaruh pada daya lekat tanah tersebut baok dalam keadaan kering, lembab maupun basah. Kandungan bahan organik. Kandungan bahan organik mempengaruhi day serap tanah akan air, apabila kandungan bahan organiknya sedikit maka kemampuan tanah untuk menyimpan air juga menjadi rendah begitu juga sebaliknya sehingga hal ini juga berpengaruh pada konsistensi tanah karena sebagai mana dijelaskan diatas, bahwa kandungan air tanah juga mempengaruhi konsistensi tanah.
Dari data hasil pengamatan diketahui KA % sebagai berikut : Rentang No. kaleng KA % ketukan 1-10 11-20 21-30 31-40 41-50 I 44 28 48 46 29 II 51 52 24 35 31 I 10,92 7,30 6,09 6,23 9,90 II 6,32 6,62 16,22 7,65 10,61

Adapun grafik hubungan antara jumlah ketukan dan kadar air ialah sebagai berikut :

Hubungan antara kadar air dan jumlah ketukan,bahwa jumlah ketukan dan kadar air memiliki hubungan yang berkebalikan, dimana semakin besar kadar airnya maka jumlah ketukan akan semakin sedikit. Pada kadar air yang tinggi tanah akan berada pada kondisi yang basah atau bisa dikatakan konsistensinya basah. BAB VI KESIMPULAN Konsistensi tanah menunjukkan derajat kohesi dan adhesi diantara partikel partikel tanah. Hal ini ditunjukkan oleh ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk yang diakibatkan oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah.

Hubungan antara kadar air dan jumlah ketukan, bahwa jumlah ketukan dan kadar air memiliki hubungan yang berkebalikan, dimana semakin besar kadar airnya maka jumlah ketukan akan semakin sedikit. Pada kadar air yang tinggi tanah akan berada pada kondisi yang basah atau bisa dikatakan konsistensinya basah Nilai BC : 46,1172 Nilai BP adalah : 38,32861 Nilai IP : 7,38811 %.
Beberapa faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah adalah:

Tekstur tanah. Kadar air tanah. Jenis liat. Kandungan bahan organik.

DAFTAR PUSTAKA Nurhidayati, 2006. Bahan Ajar Dasar Dasar Ilmu Tanah.. Fakultas Pertanian Unisma. Malang Nurhidayati, 2006. Penuntun Praktikum Dasar Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Unisma. Malang

Yunus, Yuswar. 2006, Tanah Dan Pengolahan. CV Alfabeta. Bandung. (Harjowigeno.(1987) hal:31. . Weny. 2009:///E:/sifat-fisika-tanah-bagian-5-konsistensi.html akses 20 Maret 2011

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH Acara III. Pengamatan Tanah Dengan Indra
LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH Acara III. Pengamatan Tanah Dengan Indra

Oleh: Nama NIM Rombongan Reza Riski T Wefindria Afifah Nova Margareth : Arifin Budi Purnomo : A1C012025 : E1(Agribisnis) Asisten : Kristia D A

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Didunia pertanian, tanah mempunyai peranan yang penting, tanah sangat dibutuhkan tanaman. Dengan bertambah majunya peradaban manusia yang sejalan dengan perkembangan pertanian dan disertai perkembangan penduduk yang begitu pesat, memaksa manusia mulai menghadapi masalah-masalah tentang tanah, terutama untuk pertanian sebagai mata pencaharian pokok pada waktu itu. Tanah bersifat dinamis, dimana tanah mengalami perkembangan setiap waktunya. Karakteristik tanah di setiap daerah tentunya berbeda dengan daerah lainnya. Tanah dapat dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang dimilikinya. Ilmu yang mempelajari tentang proses-proses pembentukan tanah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya disebut genesis tanah. Tekstur tanah adalah pembagian ukuran butir tanah. Butir-butir yang paling kecil adalah butir liat, diikuti oleh butir debu, pasir, dan kerikil. Selain itu, ada juga tanah yang terdiri dari batu-batu. Tekstur tanah dikatakan baik apabila komposisi antara pasir, debu dan liatnya hampir seimbang. Tanah seperti ini disebut tanah lempung. Semakin halus butir-butir tanah (semakin banyak butir liatnya), maka semakin kuat tanah tersebut memegang air dan unsur hara. Tanah yang kandungan liatnya terlalu tinggi akan sulit diolah, apalagi bila tanah tersebut basah maka akan menjadi lengket. Tanah jenis ini akan sulit melewatkan air sehingga bila tanahnya datar akan cenderung tergenang dan pada tanah berlereng erosinya akan tinggi. Tanah dengan butir-butir yang terlalu kasar (pasir) tidak dapat menahan air dan unsur hara. Dengan demikian tanaman yang tumbuh pada tanah jenis ini mudah mengalami kekeringan dan kekurangan hara. Fungsi pertama tanah bagi tetanaman adalah sebagai media tumbuh adalah sebagai tempat akar berpenetrasi (sifat fisik) yang selama cadangan nutrisi (hara) masih tersedia di

dalam benih, hanya air yang diserap oleh akar-akar muda, kemudian bersamaan dengan makin berkembangnya perakaran cadangan makanan ini menipis, untuk melengkapi kebutuhannya mak akar-akar ini mulai pula menyerap nutrisi baik berupa ion-ion anorganik seperti N, P, K dan lain-lain, senyawa organik sederhana, serta zat-zat pemacu tumbuh seperti vitamin, hormon dan asam-asam organik (sifat fisik, kimia dan biologis tana). Kebutuhan suplai hara dari tanah ini makin meningkat selaras dengan menipisnya cadangandari benih, hingga 100% tergantung pada tanah(juga dari air hujan) pada saat habisnya cadangan ini. Bahkan untuk tanaman yang ditanam berupa bibit/anakan, ketergantungan ini mutlak sejak penanaman. Indikator kecukupan air dan nutrisi yang dapat disediakan tanah dicerminkan oleh kualitas pertumbuhan trubus dan priduksi tanaman yang tumbuh diatasnya. Sifat-sifat fisik, kimia dan biologis tanah memppengaruhi kualitas tanah sebgai media tumbuh. B. Tujuan 1. Menetapkan warna dasar beberapa jenis tanah dengan menggunakan buku Munsell Soil Color Chart. 2. Menetapkan tekstur dari beberapa jenis tanah 3. Menetapkan struktur dari beberapa jenis tanah. 4. Menetapkan konsistensi berbagai jenis tanah dalam keadaaan basah, lembab, dan kering.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tanah adalah suatu benda alami yang terdapat di permukaan kulit bumi, yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan sisa tumbuhan dan hewan, yang merupakan medium pertumbuhan tanaman dengan sifat-sifat tertentu yang terjadi akibat gabungan dari faktor-faktor iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu pertumbuhan(Bale, 2001) Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan

jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Berdasar definisi tanah, dikenal lima macam faktor pembentuk tanah, yaitu : 1. Iklim 2. Kehidupan 3. Bahan induk 4. Topografi 5. Waktu. Dari kelima faktor tersebut yang bebas pengaruhnya adalah iklim. Oleh karena itu pembentukan tanah kering dinamakan dengan istilah asing weathering. Secara garis besar proses pembentukan tanah dibagi dalam dua tahap, yaitu proses pelapukan dan proses perkembangan tanah (Hardjowigeno, 1992). Warna merupakan salah satu sifat fisik tanah yang lebih banyak digunakan untuk pendeskripsian karakter tanah, karena tidak mempunyai efek langsung terhadap tetanaman tetapi secara tidak langsung berpengaruh lewat dampaknya terhadap temperatur dan kelembapan tanah. Warna tanah dapat meliputi putih, merah, coklat, kelabu, kuning dan hitam, kadangkala dapat pula kebiruan atau kehijauan. Kebanyakan tanah mempunyai warna yang tidak murni, tetapi campuran kelabu, coklat dan bercak, kerapkali 2-3 warna terjadi dalam bentuk spot-spot, disebut karatan (Tan, 1995) Pengamatan warna tanah dengan indera menunjukkan warna tanah yang bervariasi, menggambarkan petunjuk tentang sifat-sifat tanah. Sifat tanah yang berkaitan dengan warna tanah kandungan bahan organic, kondisi drainase dan serasi. Warna tanah digunakan dalam menentukan klasifikasi tanah dan mencirikan perbedaan horizon-horizon tanah, atas dasar warnanya yang muncul sebagai akibat gaya-gaya aktif dalam proses pembentukan tanah. Warna tanah juga sangat dipengaruhi oleh kadar lengas di dalamnya. Tanah yang kering, warnanya lebih muda dibandingkan dengan tanah yang basah, hal ini karena bahan koloid yang kehilangan air. Intensitas warna tanah dipengaruhi tiga faktor berikut: (1) jenis mineral dan jumlahnya, (2) kandungan bahan organik tanah, dan (3) kadar air tanah dan tingkat hidratasi. Tanah yang mengandung mineral feldspar, kaolin, kapur, kuarsa dapat menyebabkan warna putih pada tanah. Jenis mineral feldspar menyebabkan beragam warna dari putih sampai merah. Hematit dapat menyebabkan warna tanah menjadi merah sampai merah tua. Makin tinggi kandungan bahan organik maka warna tanah makin gelap (kelam) dan sebaliknya makin sedikit kandungan bahan organik tanah maka warna tanah akan tampak lebih terang. Tanah dengan kadar air yang lebih tinggi atau lebih lembab hingga basah menyebabkan

warna tanah menjadi lebih gelap (kelam). Sedangkan tingkat hidratasi berkaitan dengan kedudukan terhadap permukaan air tanah, yang ternyata mengarah ke warna reduksi (gleisasi) yaitu warna kelabu biru hingga kelabu hijau (Madjid, 2009) Struktur tanah merupakan susunan ikatan partikel tanah satu sama lain. Ikatan tanah berbentuk sebagai agregat tanah. Apabila syarat agregat tanah terpenuhi maka dengan sendirinya tanpa sebab dari luar disebut ped, sedangkan ikatan yang merupakan gumpalan tanah yang sudah terbentuk akibat penggarapan tanah disebut clod. Untuk mendapatkan struktur tanah yang baik dan valid harus dengan melakukan kegiatan dilapangan, sedang laboratorium elatif sukar terutama dalam mempertahankan keasliannya dari bentuk agregatnya (Hardjowigeno, 1992). Pengamatan dilapangan pada umumnya didasarkan atas type struktur, klas struktur dan derajat struktur. Ada macam-macam tipe tanah dan pembagian menjadi bermacammacam klas pula. Di sini akan dibagi menjadi 7 type tanah yaitu : type lempeng ( platy ), type tiang, type gumpal ( blocky ), type remah ( crumb ), type granulair, type butir tunggal dan type pejal ( masif ). Dengan pembagian klas yaitu dengan fase sangat halus, halus, sedang, kasar dan sangat kasar. Untuk semua type tanah dengan ukuran kelas berbedabeda untuk masing-masing type. Berdasarkan tegas dan tidaknya agregat tanah dibedakan atas : tanah tidak beragregat dengan struktur pejal atau berbutir tunggal, tanah lemah ( weak ) yaitu tanah yang jika tersinggung mudah pecah menjadi pecahan-pecahan yang masih dapat terbagi lagi menjadi sangat lemah dan agak lemah tanah. sedang/cukup yaitu tanah berbentuk agregat yang jelas yang masih dapat dipecahkan, tanah kuat ( strong ) yaitu tanah yang telah membentuk agregat yang tahan lama dan jika dipecah terasa ada tahanan serta dibedakan lagi atas sangat kuat dan cukupan (Koorevaar, 1987) Struktur tanah adalah penyusunan (arrangement) partikel-partikel tanah primer seperti pasir, debu dan lempung membentuk agregat-agregat yang satu agregat denganagregat lainnya dibatasi oleh bidang belah alami yang lemah. Struktur horison-horison tanah sering berbeda satu dengan yang lainnya dan merupakan penciri yang penting darisifat tanah, sama halnya dengan tekstur dan warna tanah. Struktur dapat memodifikasikan pengaruh tekstur dalam hubungannya dengan porositas, tersedianya unsur hara kegiatan jasad hidup dan pertumbuhan. Struktur tanah yang sempurna mampu memperbaiki sistemaerasi dan gerakan air (Bale, 2001). Proses pelapukan adalah berubahnya bahan penyusun didalam tanah dari bahan penyusun batuan. Sedangkan proses perkembangan tanah adalah terbentuknya lapisan tanah yang menjadi ciri, sifat, dan kemampuan yang khas dari masing masing jenis tanah. Contoh proses pelapukan adalah hancurnya batuan secara fisik, sedangkan

contoh

untuk

peristiwa

perkembangan

tanah adalah terbentuknya horison tanah,

latosolisasi (Darmawijaya, 1990 ). Tekstur tanah di lapangan dapat dibedakan dengan cara manual yaitu dengan memijit tanah basah di antara jari jempol dengan jari telunjuk, sambil dirasakan halus kasarnya yang meliputi rasa keberadaan butir-butir pasir, debu dan liat, dengan cara sebagai berikut: 1. Pasir Apabila rasa kasar terasa sangat jelas, tidak melekat, dan tidak dapat dibentuk bola dan gulungan. 2. Pasir Berlempung Apabila rasa kasar terasa jelas, sedikit sekali melekat, dan dapat dibentuk bola tetapi mudah sekali hancur. 3. Lempung Berpasir Apabila rasa kasar agak jelas, agak melekat, dan dapat dibuat bola tetapi mudah hancur. 4. Lempung Apabila tidak terasa kasar dan tidak licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat sedikit dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat. 5. Lempung Berdebu Apabila terasa licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan gulungan dengan permukaan mengkilat. 6. Debu Apabila terasa licin sekali, agak melekat, dapat dibentuk bola teguh, dan dapat digulung dengan permukaan mengkilat. 7. Lempung Berliat Apabila terasa agak licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat dibentuk gulungan yang agak mudah hancur. 8. Lempung Liat Berpasir Apabila terasa halus dengan sedikit bagian agak kasar, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat dibentuk gulungan mudah hancur. 9. Lempung Liat Berdebu Apabila terasa halus, terasa agak licin, melekat, dan dapat dibentuk bola teguh, serta dapat dibentuk gulungan dengan permukaan mengkilat. 10. Liat Berpasir Apabila terasa halus, berat tetapi sedikit kasar, melekat, dapat dibentuk bola teguh, dan mudah dibuat gulungan. 11. Liat Berdebu

Apabila terasa halus, berat, agak licin, sangat lekat, dapat dibentuk bola teguh, dan mudah dibuat gulungan. 12. Liat Apabila terasa berat dan halus, sangat lekat, dapat dibentuk bola dengan baik, dan mudah dibuat gulungan (Hardjowigeno, 1992). Tanah berfungsi sebagai penunjuk dari sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan warna permukaan tanah umumnya dipengaruhi oleh perbedaan kandungan bahan organik. Makin tinggi kandungan bahan organik, warna tanah makin gelap. Sedangkan dilapisan bawah, dimana kandungan bahan organik umumnya rendah, warna tanah banyak dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe dalam tanah. Di daerah berdrainase buruk, yaitu di daerah yang selalu tergenang air, seluruh tanah berwarna abu-abu karena senyawa Fe terdapat dalam kondisi reduksi (Fe2+). Pada tanah yang berdrainase baik, yaitu tanah yang tidak pernah terendam air, Fe terdapat dalam keadaan oksidasi (Fe3+) misalnya dalam senyawa Fe2O3 (hematit) yang berwarna merah, atau Fe2O3. 3 H2O (limonit) yang berwarna kuning cokelat. Sedangkan pada tanah yang kadang-kadang basah dan kadangkadang kering, maka selain berwarna abu- abu (daerah yang tereduksi) didapat pula becakbecak karatan merah atau kuning, yaitu di tempat-tempat dimana udara dapat masuk, sehingga terjadi oksidasi besi ditempat tersebut. Keberadaan jenis mineral dapat menyebabkan warna lebih terang(Hardjowigeno, 1992) Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Konsistensi adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antara partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah. Konsistensi tanah adalah suatu sifat tanah yang menunjukkan derajat kohesi dan adhesi diantara partikel parkikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk yang disebabkan oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengarui bentuk tanah (Kohnke, , 1968) Macam macam Konsistensi Tanah a. Konsistensi Basah Tingkat Kelekatan, yaitu menyatakan tingkat kekuatan daya adhesi antara butir-butir tanah dengan benda lain, ini dibagi 4 kategori: (1) Tidak Lekat (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak melekat pada jari tangan atau benda lain.

(2) Agak Lekat (Nilai 1): yaitu dicirikan sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain. (3) Lekat (Nilai 2): yaitu dicirikan melekat pada jari tangan atau benda lain. (4) Sangat Lekat (Nilai 3): yaitu dicirikan sangat melekat pada jari tangan atau benda lain. Tingkat Plastisitas, yaitu menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan, ini dibagi 4 kategori berikut: (1) Tidak Plastis (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak dapat membentuk gulungan tanah. (2) Agak Plastis (Nilai 1): yaitu dicirikan hanya dapat dibentuk gulungan tanah kurang dari 1 cm. (2) Plastis (Nilai 2): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut. (3) Sangat Plastis (Nilai 3): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan tekanan besar untuk merusak gulungan tersebut. b. Konsistensi Lembab Pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang, konsistensi dibagi 6 kategori sebagai berikut: (1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan tanah tidak melekat satu sama lain atau antar butir tanah mudah terpisah (contoh: tanah bertekstur pasir). (2) Sangat Gembur (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas. (3) Gembur (Nilai 2): yaitu dicirikan dengan hanya sedikit tekanan saat meremas dapat menghancurkan gumpalan tanah. (4) Teguh / Kokoh (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan agak kuat saat meremas tanah tersebut agar dapat menghancurkan gumpalan tanah. (5) Sangat Teguh/Sangat Kokoh (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan berkali-kali saat meremas tanah agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut. (6) Sangat Teguh Sekali / Luar Biasa Kokoh (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan tidak hancurnya gumpalan tanah meskipun sudah ditekan berkali-kali saat meremas tanah dan bahkan diperlukan alat bantu agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut. c. Konsistensi Kering Penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara, ini dibagi 6 kategori sebagai berikut: 1. Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan butir-butir tanah mudah dipisah-pisah atau tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah bertekstur pasir). 2. Lunak (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah hancur bila diremas atau tanah berkohesi lemah dan rapuh, sehingga jika ditekan sedikit saja akan mudah hancur. Agar Keras (Nilai 2): yaitu dicirikan gumpalan tanah baru akan hancur jika diberi tekanan

pada remasan atau jika hanya mendapat tekanan jari-jari tangan saja belum mampu menghancurkan gumpalan tanah. 3. Keras (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan makin susah untuk menekan gumpalan tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya tekanan yang lebih kuat untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah. 4. Sangat Keras (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan yang lebih kuat lagi untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah makin sangat sulit ditekan dan sangat sulit untuk hancur. 5. Sangat Keras Sekali / Luar Biasa Keras (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan yang sangat besar sekali agar dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah baru bisa hancur dengan menggunakan alat bantu (pemukul) (Sarief, 1986) Penelitian mengenai sifat tanah bertujuan untuk meneliti sifat-sifat tanah di lapangan dan mengklasifikasikannya ke dalam suatu ordo, maka kita dapat melakukan suatu pengamatan melalui profil tanah, Dengan mengamati profil tanah, kita dapat menganalisa tekstur, struktur, konsistensi, warna tanah, bahan organik, aktivitas fauna, perakaran yang terdapat dalam tanah, dan sebagainya pada suatu wilayah.tentunya Pengamatan pada profil tanah tidak dapat dilakukan secara individual. Dikarenakan dalam suatu pengamatan, setiap orang akan berbeda dalam mengkelaskan (misal tekstur dan struktur), dibutuhkan sensitivitas/kejelian setiap orang dalam menginterpretasikan suatu sifat tanah (Pipit, 2011). Pengamatan tanah dengan indera memiliki fungsi agar kita dapat mengetahui dan merasakan struktur tanah, tekstur tanah maupun warna tanah. Dengan demikian, kita juga dapat membedakan jenis-jenis tanah tersebut.Peranan untuk kegiatan sehari-hari dapat diaplikasikan di bidang Pertanian, Sipil, Geologi, Geografi dan segala bidang yang berhubungan dengan tanah.

BAB III METODE PRAKTIKUM A. Alat dan Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah contoh tanah jenis tertentu dan air. Alat yang digunakan yaitu penggaris, botol semprot, buku munsell soil color chart, lembar pengamatan dan alat tulis.

B. Prosedur Kerja 1. Warna Tanah


a. Diambil sedikit tanah gumpal, lalu dilembabkan dengan air secukupnya (permukaannya tidak mengkilap) b. Diletakkan di bawah lubang kecil pada buku Munsell Soil Color Chart c. Dicatat notasi warna (Hue, Value, Chroma) dan nama warna. Pengamatan warna tanah tidak boleh terkena cahaya matahari langsung. 2. Tekstur Tanah a. Diambil sebongkah tanah kira-kira sebesar kelereng, kemudian dibahasi dengan air hingga tanah dapat ditekan. b. Contoh tanah dipijit kemudian dibuat benang sambil merasakan besar halusnya tanah. Jika : (a) Bentukan benang mudah dan membentuk pita panjang maka kemungkinan besar teksturnya LIAT (b) Mudah patah, kemungkinan tekstur tanahnya LEMPUNG BERLIAT (c) Tidak terbentuk benang, kemungkinan LEMPUNG atau PASIR (d) Jika terasa lembut dan licin berarti LEMPUNG BERDEBU (e) Jika terasa kasar berarti LEMPUNG BERPASIR 3. Struktur Tanah a. Sebongkah tanah diambil dari horison tanah, kemudian dipecah dengan cara menekannya dengan jari atau dijatuhkan dari ketinggian tertentu b. Pecahan tanah yang terbentuk secara alamimenjadi agregat mikro yang merupakan kelas struktur tanah 4. Konsistensi a. Contoh tanah dalam berbagai kandungan air (Konsistensi basah, konsistensi kering dan konsistensi lembab) diamati dengan cara dipijit dengan ibu jari dan telunjuk. b. Pengamatan dimulai dari konsistensi kering, lembab dan basah dengan cara menambah air dengan botol semprot pada contoh tanahnya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil pengamatan Warna dan Tekstur

Jenis Tanah Inceptisol Entisol Ultisol Andisol Vertisol

Warna Tanah Notasi Warna 7,5 yr 10 yr 7,5 yr 10 yr 10 yr Nama Warna Brown Dark Brown Strong Brown Very Dark Grey

Tekstur Tanah LempungBerpasir Lempung Berpasir Liat Berdebu Liat Berdebu

Dark YellowishBrown Pasir Berlempung

Struktur

Jenis Tanah Inceptisol Entisol Ultisol Andisol Vertisol

Struktur Tanah Tipe Renah Gumpal Tiang Lempeng Gumpal Kelas Halus Halus Sangat Halus Sedang Halus

Derajat 2 = Cukupan 1 = Lemah 2 = Cukupan 2 = Cukupan 3 = Kuat

Konsistensi

Jenis Tanah Inceptisol Entisol

Konsistensi Basah Kelekatan Ss (Agak Lekat) Ss (Agak Keliatan Po (Tidak Plastis) P(plastic)

Konsistensi Lembab F(Gembur) Vf (Sangat

Konsistensi Kering h (Keras) S(lunak)

Lekat) Ultisol Andisol Vertisol Ss (Agak Lekat) S (Lekat) Ss (Agak Lekat) P (Plastis) P (Tidak Plastis) Po (Tidak Plastis)

Gembur) T(teguh) Vt (Sangat Teguh) Vt (sangat teguh) h (Keras) Sh (Sangat Keras) Eh (SangatKerasSekali)

B. Pembahasan Warna tanah merupakan gabungan berbagai warna komponen penyusun tanah. Warna tanah berhubungan langsung secara proporsional dari total campuran warna yang dipantulkan permukaan tanah. Warna tanah sangat ditentukan oleh luas permukaan spesifik yang dikali dengan proporsi volumetrik masing-masing terhadap tanah. Makin luas permukaan spesifik menyebabkan makin dominan menentukan warna tanah, sehingga warna butir koloid tanah (koloid anorganik dan koloid organik) yang memiliki luas permukaan spesifik yang sangat luas, sehingga sangat mempengaruhi warna tanah (Poerwowidodo., 1991) Menurut Wirjodihardjo dalam Sutedjo dan Kartasapoetra (2002) bahwa intensitas warna tanah dipengaruhi tiga faktor berikut: 1. Jenis mineral dan jumlahnya. 2. Kandungan bahan organik tanah. 3. Kadar air tanah dan tingkat hidratasi Pada pengamatan tanah dengan indra, warna tanah mencerminkan beberapa sifat tanah, diantaranya yaitu kandungan bahan organic, drainase. Warna tanah sangat dipengaruhi oleh kadar lengas didalamnya. Tanah yang kering warnanya lebih muda dibandingkan dengan tanh yang basah, ini karena bahan koloid yang kehilangan air. (Kohnke, 1968) Warna tanah diatas ditetapkan menggunakan Munsell Soil Color Chart. Yaitu dimana dalam penetapan warna harus di catat HUE, VALUE, dan CHROMA. 1. HUE 2. VALUE 3. CHROMA : warna dominan sesuai dengan panjang gelombangnya, : merupakan kartu warna ke arah vertikal yang menunjukkan warna tua-muda : merupakan kartu warna yang disusun horizontal yang menunjukkan

atau hitam-putih, ditulis dibelakang nilai hue. intensitas cahaya. Ditulis dibelakang value yang dipisahkan dengan garis miring,

Warna tanah yang terdeteksi berbeda-beda karena mencerminkan sifat tanah, sedangkan diketahui jenis tanahnya berbeda, sehingga warnanya pun pasti berbeda (Pipit, 2011) Warna tanah akan berpengaruh pada keseimbangan panas dankelembaban tanah. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhantanaman, aktivitas organisme dan struktur tanah. Warna tanah digunakan jugadalam penaksiran : 1. Tingkat pelapukan atau proses pembentukan tanah, semakin merah berarti semakin lanjut pelapukannya. 2. Kandungan bahan organik tanah. 3. Drainase tanah, warna merah atau kecoklatan, berdrainase baik ; sedang warna kelabu menunjukan drainase yang buruk. 4. Horizon pencucian / pengendapan, warna putih mennunjukan horizon pencucian sedangkan warna gelap menunjukan horizon pengendapan. 5. Jenis mineral, warna gelap dimungkinkan mengandung kuarsa, kapur ; merah mengandung besi ; warna gelap mengandung boron atau mangan (Pipit, 2011) Tekstur tanah adalah pembagian ukuran butir tanah. Butir-butir yang paling kecil adalah butir liat, diikuti oleh butir debu (silt), pasir, dan kerikil. Selain itu, ada juga tanah yang terdiri dari batu-batu. Tekstur tanah dikatakan baik apabila komposisi antara pasir, debu dan liatnya hampir seimbang. Tanah seperti ini disebut tanah lempung. Semakin halus butirbutir tanah (semakin banyak butir liatnya), maka semakin kuat tanah tersebut memegang air dan unsur hara. Tanah yang kandungan liatnya terlalu tinggi akan sulit diolah, apalagi bila tanah tersebut basah maka akan menjadi lengket. Tanah jenis ini akan sulit melewatkan air sehingga bila tanahnya datar akan cenderung tergenang dan pada tanah berlereng erosinya akan tinggi. Tanah dengan butir-butir yang terlalu kasar (pasir) tidak dapat menahan air dan unsur hara. Dengan demikian tanaman yang tumbuh pada tanah jenis ini mudah mengalami kekeringan dan kekurangan hara. (Munir, 1996). Ada 3 macam tekstur tanah yang utama, yaitu 1. Pasir (sand) Tanah dikatakan pasir bila kandungan pasirnya lebih dari 70%. 2. Lempung (loam) Jika suatu fraksi tidak memenuhi fraksi liat ataupun fraksi pasir, maka itu adalah fraksi lempung. 3. Liat (clay) Apabila kandungan litanya lebih dari 35%.

Tekstur tanah di lapangan dapat dibedakan dengan cara manual yaitu dengan memijit tanah basah di antara jari jempol dengan jari telunjuk, sambil dirasakan halus kasarnya yang meliputi rasa keberadaan butir-butir pasir, debu dan liat, dengan cara sebagai berikut: Tekstur tanah di lapangan dapat dibedakan dengan cara manual yaitu dengan memijit tanah basah di antara jari jempol dengan jari telunjuk, sambil dirasakan halus kasarnya yang meliputi rasa keberadaan butir-butir pasir, debu dan liat, dengan cara sebagai berikut: 1. Pasir Apabila rasa kasar terasa sangat jelas, tidak melekat, dan tidak dapat dibentuk bola dan gulungan. 2. Pasir Berlempung Apabila rasa kasar terasa jelas, sedikit sekali melekat, dan dapat dibentuk bola tetapi mudah sekali hancur. 3. Lempung Berpasir Apabila rasa kasar agak jelas, agak melekat, dan dapat dibuat bola tetapi mudah hancur. 4. Lempung Apabila tidak terasa kasar dan tidak licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat sedikit dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat. 5. Lempung Berdebu Apabila terasa licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan gulungan dengan permukaan mengkilat. 6. Debu Apabila terasa licin sekali, agak melekat, dapat dibentuk bola teguh, dan dapat digulung dengan permukaan mengkilat. 7. Lempung Berliat Apabila terasa agak licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat dibentuk gulungan yang agak mudah hancur. 8. Lempung Liat Berpasir Apabila terasa halus dengan sedikit bagian agak kasar, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat dibentuk gulungan mudah hancur. 9. Lempung Liat Berdebu Apabila terasa halus, terasa agak licin, melekat, dan dapat dibentuk bola teguh, serta dapat dibentuk gulungan dengan permukaan mengkilat. 10. Liat Berpasir Apabila terasa halus, berat tetapi sedikit kasar, melekat, dapat dibentuk bola teguh, dan mudah dibuat gulungan. 11. Liat Berdebu

Apabila terasa halus, berat, agak licin, sangat lekat, dapat dibentuk bola teguh, dan mudah dibuat gulungan. 12. Liat Apabila terasa berat dan halus, sangat lekat, dapat dibentuk bola dengan baik, dan mudah dibuat gulungan (Dede, 2012) Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah. Gumpalan struktur ini terjadi karena butir-butir pasir, debu, dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik, oksida-oksida besi dan lain-lain. Menurut bentuknya struktur dapat dibedakan menjadi: 1. Bentuk Lempeng (platy): sumbu vertikal < sumbu horizontal, ditemukan di horison E atau pada lapisan padas liat 2. Prisma: Sumbu vertikal > sumbu horizontal bagian atasnya rata, di horison B tanah daerah iklim kering 3. Tiang: Sumbu vertikal > sumbu horisontal, bagian atasnya membulat, di horison B tanah daerah iklim kering 4. Gumpal bersedut: Seperti kubus dengan sudut-sudut tajam. Sumbu vertikal = sumbu horisontal, di horison B tanah daerah iklim basah 5. Gumpal membulat: Seperti kubus dengan sudut-sudut membulat. Simbu vertikal = sumbu horisontal, di horison B tanah daerah iklim basah 6. Granuler: Bulat-porous, di horison A 7. Remah: Bulat sangat porous, di horison A(Hardjowigeno, 1992) Konsistensi tanah adalah istilah yang berkaitan sangat erat dengan kandingan air yang menunjukkan manifestasi gaya-gaya fisika yakni kohesi dan adhesi yang berada didalam tanah pada kandungan air yang berbeda-beda. Setiap materi tanah mempunyai konsistensi yang baik bila massa tanah itu besar atau kecil (sedikit), dalam keadaan ilmiahataupun sangat terganggu, terbentuk agregat atau tanpa struktur maupun dalam keadaanlembab atau kering. Sekalipun konsistensi tanah dan struktur berhubungan erat satu samalain, struktur tanah menyangkut hasil dari bentuk ukuran gaya dan pendefinisian di dalam agregat massa alamiah tanah. yangmerupakan keragaman tarikan

Sebaliknyakonsistensi meliputi corak dan kekuatan dari gaya-gaya tersebut (Hakim, 1986). Daya kohesi dan adhesi pada berbagai tingkat kelengasan tanah terhadap tekanandari luar disebut konsistensi tanah. Hal ini diketahui karena mempunyai hubungan eratdengan sistem penggolongan tanah, efisiensi penggunaan air dan sifat perembesan air kedalam tanah dan sifat fisik lainnya (Foth, 1998).

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah ialah : 1. Kadar air tanah 2. Bahan bahan penyemen agregattanah 3. Bahan dan ukuran agregat tanah 4. Tingkat agregasi 5. Faktor-faktor penentu struktur tanah(tekstur, macam lempung, dan kadar bahan organik) (Notohadiprawiro, 2000) Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya tahan atau daya adhesi butir tanahdengan benda lain. Hal ini ditunjukkan oleh daya tahan terhadap gaya akan merubah bentuk atau gaya-gaya tersebut, misalnya pencangkokan, pembajakan dan sebagainya.Tanah-tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah oleh karena itu dapat ditemukan dalam keadaan lembab, basahatau kering maka penyifatan konsistensi tanah harus disesuaikan dengan keadaan tanahtersebut. Besarnya adhesi ditentukan oleh tegangan permukaan pada tiap satuan bidangsinggung dan luar bidang singgung. Akibatnya kekuatan adhesi menurun tajam pada keadaan jenuh air, kekuatan adhesi hilang dan tanah berubah menjadi Lumpur (Notohadiprawiro, 2000) Pengamatan warna tanah menggunakan buku Munsell Soil Color Chart diketahui warna tanah vertisol berada pada notasi warna 5 YR 3/1 yang berarti mempunyai warna Very Dark Grayish Gray, sementara teksturnya adalah liatberdebu. Tanah andisol berada pada notasi warna 10 YR 4/6 yang mempunyai warna Dark Yellowis Brown dan bertekstur pasir berlempung. Tanah inseptisol berada pada notasi warna 7,5 YR 5/4 yang mempunyai warna Brown dan bertekstur lempung berpasir. Tanah entisol berada pada nptasi warna 10R 3/3dan mempunyai warna Dark Brown dan bertekstur lempung berpasir. Tanah ultisol berada pada notasi warna 7,5 YR 4/6 mempunyai warna Strong Brownbertekstur liat berdebu. Praktikum pengamatan struktur tanah, didapatkan tanah vertisol yang mempunyai tipe gumpal, klas halus (F) serta derajat kuat :3. Tanah andisol mempunyai tipe lempeng dengan klas sedang dan derajat yang lemah :1. Tanah inseptisol mempunyai tipe remah, klasnya halus (F), serta derajatnyacukupan :2. Tanah entisol mempunyai tipe gumpal dengan klas halus dan derajatnya lemah :1. Tanah ultisol mempunyai tipe tiang dengan klas sangat halua dan derajatnya cukupan :2. Praktikum pengamatan konsistensi lembab dan kering tanah, keadaan didapatkan lembab konsistensi Vertisol, Entisol, Inceptisol, Ultisol, dan Andisol pada

yaitu berturut-turut F(Gembur), Vf (Sangat Gembur), T(teguh), Vt (Sangat Teguh) dan Vt (sangat teguh). Sedangkan konsistensi Vertisol,Entisol, Inceptisol, Ultisol, dan Andisol pada

keadaan

kering

yakni h

(Keras),

S(lunak), h

(Keras),

Sh

(Sangat

Keras)dan Eh (Sangat Keras Sekali) Tanah Inseptisol memiliki tekstur yang beragam dari kasar hingga halus, tergantung pada tingkat pelapukan bahan induknya. Kesuburan tanahnya rendah, jeluk efektifnya beragam dari dangkal hingga dalam, penyebaran liat ke dalam tanah tidak dapat diukur. Kisaran kadar C-Organik dan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dapat terbentuk hampir di semua tempat, kecuali daerah kering, mulai dari kutub sampai tropika (Munir, 1996) Tanah Entisol mempunyai ciri solumnya berkisar dari dangkal sampai dalam, berwarna kelabu hingga kuning, mempunyai horison (A)-C tetapi batasannya sangat tegas, bertekstur pasir hingga debu ( > 60% ), berstruktur butir tunggal, dan konsistensi gembur serta lepas (Munir, 1996) Sifat fisik Ultisol menurut Mohr dan Van Baren (1972) dalam Munir (1996) dapat dirinci : solum, kedalamannya sedang (moderat 1 sampai 2 meter), warna merah sampai kuning, chromameningkat dengan bertambahnya kedalaman, tekstur halus pada horison Bt (karena kandungan liat maksimal pada horison ini), struktur pada horison Bt berbentuk Blocky, konsistensi teguh, cutanliat terjadi pathite banyak ditemukan konkresi Tanah Andisol dicirikan sebagai tanah mineral yang mempunyai sifat andik dengan kriteria diantaranya adalah mempunyai berat isi tanah kurang dari 0.9 g/cc sampai kedalaman lebih dari 35 cm dan didominasi bahan amorf dan atau mengandung abu vulkan, abu apung, lapili dan sebangsanya lebih dari 60% sampai kedalaman 35cm atau lebih atau mempunyai pH NaF 1N lebih dari 9.4 (Munir, 1996) Andisol di Indonesia terletak pada daerah yang mempunyai ketinggian 0 (pantai) hingga 3500 meter (puncak gunung) di atas permukaan laut, dengan bentuk wilayah datar sampai bergunung serta di bawah kondisi iklim tropika basah dan pada landscape vulkanik muda (Djaenudin & Sujadi, 1988). Bahan induk andisol adalah berupa abu vulkanik yang dapat tersusun atas andesito-desitik, andesit , basalto andesitik dan basaltik (Tan, 1995) Pengamatan tanah dengan indera memiliki banyak tujuan dan kegunaan di berbagai bidanng salah satunya yaitu di bidang pertanian . pengamatan indra ini penting untuk memudahkan petani dalam nenentukan baik tidaknya lahan untuk ditanami tanaman serta tanaman apa yang baik untuk ditanam di lahan tersebut melalui pengamatan warna tanah, tekstur tanahnya, struktur tanahnya, serta konsistensi tanahnya.

BAB V KESIMPULAN 1. Pengamatan jenis suatu tanah dapat ditentukan dari 4 cara yaitu Warna tanah, Tekstur Tanah, Struktur Tanah dan Konsistensi. 2. Pengamatan warna tanah dan tekstur tanah diketahui warna tanah vertisol berada pada notasi warna 5 YR 3/1 yang berarti mempunyai warna Very Dark Grayish Gray, sementara teksturnya adalah liat berdebu. Tanah andisol berada pada notasi warna 10 YR 4/6 yang mempunyai warna Dark YellowisBrown dan bertekstur pasir berlempung. Tanah inseptisol berada pada notasi warna 7,5 YR 5/4 yang mempunyai warna Brown dan bertekstur lempung berpasir. Tanah entisol berada pada nptasi warna 10R 3/3 dan mempunyai warna Dark Brown dan bertekstur lempung berpasir. Tanah ultisol berada pada notasi warna 7,5 YR 4/6 mempunyai warna Strong Brown bertekstur liatberdebu. 3. Praktikum pengamatan struktur tanah, didapatkan tanah vertisol yang mempunyai tipe gumpal, klas halus (F) serta derajat kuat :3. Tanah andisol mempunyai tipe lempeng dengan klas sedang dan derajat yang lemah :1. Tanah inseptisol mempunyai tipe remah, klasnya halus (F), serta derajatnyacukupan :2. Tanah entisol mempunyai tipe gumpal dengan klas halus dan derajatnya lemah :1. Tanah ultisol mempunyai tipe tiang dengan klas sangat halus dan derajatnya cukupan :2. 4. Praktikum pengamatan konsistensi Inceptisol, lembab Ultisol, dan kering tanah, didapatkan lembab konsistensi Vertisol, Entisol, dan Andisol pada keadaan

yaitu berturut-turut F(Gembur), Vf (Sangat Gembur), T(teguh), Vt (Sangat Teguh) dan Vt (sangat teguh). Sedangkan konsistensi Vertisol,Entisol, Inceptisol, Ultisol, dan Andisol pada keadaan kering yakni h (Keras), S(lunak), h (Keras), Sh (Sangat Keras)dan Eh (Sangat Keras Sekali)

DAFTAR PUSTAKA Bale, A. 2001. Ilmu Tanah I . Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.

Dede, 2012. Pengamatan Tanah Dengan Indra. http://dedehouse.blogspot.com/2012/04/laporan-pengamatan-tanah-dengan-indra.html, diakses tanggal 12 April 2013 Foth, H.D. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta Hakim, Nurhajati dkk. 1986. Dasar-DasarIlmu Tanah. UNILA : Lampung. Hardjowigeno. S., 1992. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta. Kartasapoetra. 2002. PengantarIlmu Tanah. Jakarta: Rineka Cipta. Kohnke, H. 1968. Soil Physic. Tata Mc Graw- Hill Publishing. Company Ltd.: Bombay. Koorevaar, D.,G. Menelik and C. Dirksen. 1987. Element of Soil Physics. Development inSoil Science 13 (Anasir Fisika Tanah Perkembangan di Dalam Ilmu Tanah 13. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta. Madjid, Abdul. 2009. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Bahan Kuliah Online Fakultas Pertanian: Yogyakarta. Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia.. PT. Dunia Pusataka Jaya : Jakarta. Notohadiprawiro, T. 2000. Tanah dan Lingkungan. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta. Pipit. 2012. Ilmu Tanah (Struktur, tekstur dan warna tanah),http://pipitchan2905.blogspot.com/2011/11/laporan-praktikum-ilmu-tanahstruktur.html, diakses tanggal 12 April 2013 Poerwowidodo. 1991. Genesa Tanah, Proses Genesa dan Morfologi. Fahutan: Institut Pertanian Bogor Sarief, Saifuddin.1986. Ilmu Tanah Pertanian. PustakaBuana : Bandung. Tan, Kim. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Balai Penelitian The dan Kina : Bandung.

Laporan DDIT Sidik Cepat Penetapan Tekstur, Struktur dan Konsistensi Tanah di Laboratorium
BAB I PENDAHULUAN

1.1. TEKSTUR

1. Latar Belakang

Tekstur tanah adalah perbandingan relatif antara fraksi pasir (sand ), debu (silt), dan lempung (clay). Penentuan kelas tekstur dilapangan digunakan dengan rasa peraba yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori kasar ,licin, dan lekat. Kekasaran,kelicinan ,dan kelekatan tanah selanjutnya digunakan untuk menetukan kualitas proporsi pasir, debu dan lempung. Prinsip dalam penetapan proporsi kualitas fraksi penyusun tanah dengan metode rasa mengikuti beberapa definisi sebagai berikut : A. Pasir, adalah bahan yang terasa kasar apabila kita remas dengan jari . butir butir pasir juga dapat terlihat langsung oleh mata. B. Debu, adalah material yang tidak terasa kasar ataupun lekat, melainkan terasa licin seperti sabun bila dibasahi dan diremas dengan jari . C. Lempung, biasanya membentuk bongkahan tanah keras apabila kering , dan terasa lekat apabila salam keadaan basah ,dalam keadaan lembab ,lempung dapat dibuat pita dengan memilin diantara ibu jari dan jari telunjuk . D. Geluh, adalah campuran ketiga fraksi tersebut ( pasir, debu, lempung ). Tanah bertekstur halus (dominant liat) memiliki permukaan yang lebih halus dibanding dengan tanah bertekstur kasar (dominan pasir). Sehingga tanah tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas adsorpsi unsur unsur hara yang lebih besar. Dan umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karna banyak mengandung unsure hara dan bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman. Tanah bertekstur kasar lebih porus dan laju infiltrasinya lebih cepat. Walaupun demikian tanah bertekstur halus memiliki kapasitas memegang air lebih besar dari pada tanah pasir karna memiliki permukaan yang lebih luas. Tanah tanah berliat memiliki persentase porus yang lebih banyak yang berfungsi dalam retensi air (water retension). Tanah tanah bertekstur kasar memiliki makro porus yang lebih banyak, yang berfungsi dalam pergerakan udara dan air. 2. Tujuan Praktikum 1. Menentukan kelas tekstur dengan metode rasa perabaan di laboratorium 2. Melatih mahasiswa menguasai sidik cepat penetapan tekstur sebelum melakukan deskripsi profil di lapangan

1.2. STRUKTUR TANAH 1. Latar Belakang Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan ruangan partikelpartikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses pedogenesis. Struktur tanah berhubungan dengan cara di mana, partikel pasir, debu dan liat relatif disusun satu sama lain. Di dalam tanah dengan struktur yang baik, partikel pasir dan debu dipegang bersama pada agregat-agregat (gumpalan kecil) oleh liat humus dan kalsium. Ruang kosong yang besar antara agregat (makropori) membentuk sirkulasi air dan udara juga akar tanaman untuk tumbuh ke bawah pada tanah yang lebih dalam. Sedangkan ruangan kosong yang kecil ( mikropori) memegang air untuk kebutuhan tanaman. Idealnya bahwa struktur disebut granular. Sruktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan kecil dari butiran-butiran atanah. Gumpalan ini terjadi karena butir-butir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh perekat seperti : bahan organic, oksida besi dll. Didaerah curah hujan yang tinggi umumnya ditemukan struktur tanah remah atau gramuler dipermukaan dan gumpal dihorison bawah.

2. Tujuan praktikum Menentukan bentuk, ukuran dan kekuatan struktur tanah secara cepat Melatih mahasiswa dalam penetapan struktur berbagai macam tanah sebelum terjun ke lapangan

1.3. KONSISTENSI TANAH 1. Latar Belakang

Konsistensi tanah merupakan kekuatan daya kohesi butir butir tanah atau daya adhesi butir butir tanah dengan benda ain. Hal ini ditunjukan oleh daya tahan tanah terhadap gaya yang akan mengubah bentuk. Tanah yang memilki konsistensi yang baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah. Oleh karena tanah

dapat ditemukan dalam keadaan lembab, basah atau kering maka penyifatan konsistensi tanah harus disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut. Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu: basah, lembab, dan kering. Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field cappacity). Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara. Dalam keadaan lembab, tanah dibedakan ke dalam konsistensi gembur (mudah diolah) sampai teguh ( agak sulit dicangkul). Dalam keadaan kering tanah dibedakan kedalam konsistensi lunak sampai keras. Dalam keadaan basa dibedakan plastisitasnya yaitu dari plastis sampai tidak plastis atau kelekatannya yaitu dari tidak lekat sampai lekat. Dalam keadaan lembab atau kering konsistensi tanah ditentuka dengan meremas segumpal tanah. Bila gumpalan tersebut mudah hancur, maka tanah dikatakan berkonsistensi gembur bila lembab atau lunak bila kering. Bila gumpalan tanah sukar hancur dengan remasan tersebut tanah dikatakan berkonsistensi teguh (lembab) atau keras (kering).

2. Tujuan Praktikum Menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan basah, lembab dan kering Melatih mahasiswa alam penetapan konsistensi tanah sebelum terjun kelapangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Sifat fisik tanah mempunyai banyak kemungkinan untuk dapat digunakan sesuai dengan kemampuan yang dibebankan kepadanya. Kemampuan untuk menjadi lebih keras dan menyangga kapasitas drainase, menyimpan air, plastisitas, mudah untuk ditembus akar, aerase dan kemampuan untuk menahan retensi unsur-unsur haratanaman. Semuanya erat hubungannya dengan kondisi fisik tanah. Salah satu sifat fisik tanah yang terpenting adalah tekstur tanah.Tekstur tanah menunjukkan kasar atau halusnya suatu tanah. Teristimewatekstur merupakan perbandingan relatif pasir, debu dan liat atau kelompok partikeldengan

ukuran lebih kecil dari kerikil. Tekstur tanah sering berhubungan dengan permeabilitas, daya tahan memegang air, aerase dan kapasitas tukar kation serta kesuburan tanah. Walaupun faktor-faktor lainnya dapat mengubah hubungan tersebut.Dalam klasifikasi tanah (taksonomi tanah) tingkat famili, kasar halusnya tanahditunjukkan dalam sebaran besar butir (particle size distribution) yang merupakan penyederhanaan dari kelas tekstur tanah dengan memperhatikan pula fraksi tanahyang lebih besar / kasar dari pasar (Anonim, 2009) Struktur tanah adalah salah satu sifat dasar tanah yang sangat mempengaruhi sifat tanah yang lain serta besar pengaruhnya terhadap kemampuan tanah sebagai media pertanaman. Struktur digunakan untuk mendeskripsikan agregasi secara umum atau susunan bagian padat tanah. Suatu penampang tanah dapat didomonasi oleh suatu corak tanah tertentu. Kadang-kadang berbagai corak agregasi akan dijumpai ketika meneliti horizon demi horizon suatu profil tanah. Bentuk-bentuk struktur dalam keadaan tidak terganggu terjadi dari dua keadaad=n non structural, yaitu: zarah lepas dan masiv. Pasir merupakan contoh pertama bahan organic mengikat zarah lepas menjadi keolompok-kelompok atau agregat-agregat(Anonym, 2011) Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Keadaan tersebut ditunjukkan dari daya tahan tanah terhadap gaya yang akan mengubah bentuk. Gaya yang akan mengubah bentuk tersebut misalnya pencangkulan, pembajakan, dan penggaruan. Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa tanah-tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah. Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu:

1. basah 2. lembab 3. kering


Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field cappacity). Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara. Pada kondisi basah, konsistensi tanah dibedakan berdasarkan tingkat plastisitas dan tingkat kelekatan. Tingkatan plastisitas ditetapkan dari tingkatan sangat plastis, plastis, agak plastis, dan tidak plastis (kaku). Tingkatan kelekatan ditetapkan dari tidak lekat, agak lekat, lekat, dan sangat lekat. Pada kondisi lembab, konsistensi tanah dibedakan ke dalam tingkat kegemburan sampai dengan tingkat keteguhannya. Konsistensi lembab dinilai mulai dari: lepas, sangat gembur, gembur, teguh, sangat

teguh, dan ekstrim teguh. Konsistensi tanah gembur berarti tanah tersebut mudah diolah, sedangkan konsistensi tanah teguh berarti tanah tersebut agak sulit dicangkul. Pada kondisi kering, konsistensi tanah dibedakan berdasarkan tingkat kekerasan tanah. Konsistensi kering dinilai dalam rentang lunak sampai keras, yaitu meliputi: lepas, lunak, agak keras, keras, sangat keras, dan ekstrim keras (Yurike, 2011)

BAB III METODOLOGI A. Bahan dan Alat a) Tekstur Bahan yang digunakan berupa contoh tanah kering angin < 2mm , botol semprot dan akuades. Sedangkan alat yang digunakan terdiri dari cangkul ,pisau sekop, dan meteran b) Stuktur tanah Bahan yang digunakan berupa contoh bongkahan tanah dari berbagai lapisan dan jenis tanah ,sedangkan alat yang digunakan terdiri dari cangkul ,pisau,sekop dan meteran. c) Konsistensi tanah Bahan yang digunakan berupa contoh bongkahan tanah dari berbagai lapisan dan aquades,sedangkan alat yang digunakan terdiri dari cangkul ,pisau,sekop dan meteran.

B. Cara Kerja

a) Tekstur Penetapan kelas tekstur denagn metode rasa perabaan mengikuti bagian alir yang dikemukakan oleh Notohadiprawiro(1985) pada gambar 1.1 b) Struktur Tanah Penetapan struktur dengan metode langsung melihat di lapangan

c) Konsistensi Tanah Tanah basah

Kelekatan (stickiness) ditentukan dengan menekan gumpalan kecil tanah diantara ibu jari dan jari telunjuk . Nilai kelekatan dibagi menjadi: tidak lekat . setelah ditekan tidak ada tanah yang menempel pada ibu jari/ jari telunjuk agak lekat. Setelah ditekan tanah menempel pada kedua jari tetapi akan lepas dan tidak meninggalkan bekas pada salah satu jari tersebut. Lekat . setelah ditekan tanah menempel di kedua jari . saat jari lepas tanah cenderung streched dan tetap menempel pada kedua jari. Sangat lekat . setelah ditekan tanah menempel erat di kedua jari , streched dan tidak lepas dari kedua jari

Keliatan = plastisitas (plasticy) ,ditentukan dengan membuat tanah stik diantara ibu jari dan jari telunjuk . nilai plastisitas tanah dibagi menjadi: tidak plastis . gelintir tanah tidak dapat dibentuk . agak plastis gelintir tanah dapat dibentuk tetapi tmudah berubah bentuk. plastis . gelintir tanah dapat dibentuk untuk mengubah bentuknya dibutuhkan tekanan sedang . sangat plastis gelintir tanah dapat dibentuk dengan baik dan sangat tahan terhadap tekanan. Tanah Lembab Untuk penentuan konsistensi dipilih tanah yang lembab lalu diremas remas dengan tangan . nilai konsistensi ditentukan sebagai berikut : Lepas (loose).tanah tidak dapat berbentuk gumpalan

Sangat gembur (very friable)tanah sangat mudah hancur oleh sedikit tekanan ,tetapi dapat disatukan lagibila kita kepal. Gembur (friable) tanah mudah hancur dengan tekanan lemah sampai sedang diantara ibu jari dengan telunjuk dan dapat disatukan lagi bila dikepal Teguh (firm).tanah dapat dihancurkan dengan tekanan sedang pada ibu jari dan jari telunjuk Sangat teguh (very firm) .tanah hanya hancur dengan tekanan kuat . Luar biasa teguh (extremely firm). Tanah tidak dapat dihancurkan diantara ibu ibu jari dan jari telunjuk ,dan hanya dapat dipecahkan sedikit demi sedikit. Tanah Kering Untuk mengevaluasi konsistensi tanah kering dipilih tanah kering angin dan dihancurkan dengan tangan .nilai konsistensi ini adalah : Lepas (loose) tanah tidak saling menempel Lunak (soft). Masa tanah sangat mudah dihancurkan dan mudah hancur menjadi tepung atau butir butir tunggal Agak keras . tanah mudah dipecahkan demgan menekan ibu jari dan jari telunjuk. Keras . tanah mempunyai resistensi sedang dan sulit dipecahkan diantara ibu jari dan jari telunjuk. Sangat keras .tanah sangat resisten terhadap tekanan,dapat dipecahkan dengan tangan tapi tidak pecah dengan ibu jari dan telunjuk Luar biasa keras . tanah luar biasa ini resisten terhadap tekanan dan tidak dapat dipecahkan dengan tangan.

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHSAN

4.1 Hasil Pengamatan Kedalaman (cm) 3cm 16cm 34cm 88cm Tekstur Pasir berdebu Liat berdebu Liat berdebu Liat berdebu Struktur Granular Crumb(remah) Crumb(remah) Tidak berstruktur Konsistensi 1 lunak 2 agak keras 2 agak keras 2 agak keras

4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil pengamatan dapat dilihat disetiap lapisan memiliki karakteristik tersendiri.

Horison O memiliki kedalaman 3 cm dengan tekstur pasir berdebu dengan struktur granular dan konsistensi Lunak. Horison A dengan kedalaman 16 cm memilki tekstur liat berdebu, struktur Crumb dan konsistensi agak keras. Horison B dengan kedalaman 34 cm memilki tekstur liat berdebu, struktur Crumb dan konsistensi agak keras. Horison C dengan kedalaman 88 cm memilki tekstur liat berdebu, struktur Crumb dan konsistensi agak keras.

Dari keempat karakteristik tanah diatas terlihat bahwa horizon O memiliki unsure hara lebih banyak dibandingkan dengan horizon yang lain karena dari tekstur pasir berdebu menyimpan unsure hara lebih banyak dari pada liat berdebu karena liat susah untuk mengikat unsure hara. Dilihat dari horizon A, B dan C mhampir memiliki karakteristik yang sama yaitu memiliki tekstur, struktur dan konsistensi yang sama. BAB V KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan :

1. Horison O memiliki unsure hara yang lebih banyak dibandingkan dengan Horison yang lain. 2. Tekstur dan Struktur tanah pada horizon A, B dan C hampir memiliki kesamaan. 3. Beberapa jenis tekstur tanah yaitu : Pasir, Debu, Lempung dan geluh.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,

2009. http://lingkungangeografi.blogspot.com/2009/02/tekstur-dan-struktur-

tanah.html diakses tanggal 8 Oktober 2012 Anonym, 2011. http://nabilussalam.wordpress.com/2011/09/30/struktur-tanah/ Diakses pada tanggal 8 oktober 2012. Yurike, 2011. http://blog.ub.ac.id/yurike/2011/05/01/konsistensi-tanah/. Di akses pada tanggal 8 Oktober 2012.

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR DASAR ILMU TANAH

Acara 1
Sidik Cepat Penetapan Tekstur, Struktur dan Konsistensi Tanah di Laboratorium

Oleh: RAHMADANI E1J011010

LABORATORIUM ILMU TANAH


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2012

KONSISTENSI TANAH
KONSISTENSI TANAH A. Latar Belakang Konsistensi tanah adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antar partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah.

B. a. b. c. d. e.

Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu: basah, lembab, dan kering. Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field capacity). Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering merupakan penetan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara Dalam keadaan basah ditentukan mudah tidaknya melekat pada jari (melekat atau tidak melekat) atau mudah tidaknya membentuk bulatan dan kemampuannya mempertahankan bentuk tersebut (plastis atau tidak plastis). Dalam keadan lembab, tanah dibedakan kedalam konsistensi gembur (mudah diolah) sampai teguh (agak sulit dicangkul). Dalam keadaan kering , tanah dibedakan ke dalam konsistensi lunak sampai keras. Tujuan Untuk mengetahui definsi kosistensi tanah Untuk mengetahui macam-macam konsistensi tanah Untuk mengetahui metode pengukuran konsistensi tanah Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi konsistensi Untuk mengetahui faktor yang dipengaruhi konsistensi

Macam-macam Konsistensi Tanah a. Konsistensi Basah 1 Tingkat Kelekatan, yaitu menyatakan tingkat kekuatan daya adhesi antara butir-butir tanah dengan benda lain, ini dibagi 4 kategori: (1) Tidak lekat (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak melekat pada jari tangan atau benda lain (2) Agak lekat (Nilai 1): yaitu dicirikan sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain (3) Lekat (Nilai 2): yaitu dicirikan melekat pada jari tangan atau benda lain (4) Sangat lekat (Nilai 3): yaitu dicirikan sangat melekat pada jari tangan atau benda lain 2 Tingkat Plastisitas, yaitu menunjukan kemampuan tanah membentuk gulungan, ini dibagi 4 kategori berikut: (1) Tidak plastis (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak dapat membentuk gulungan tanah (2) Agak plastis (Nilai 1): yaitu dicirikan hanya dapat dibentuk gulungan tanah kurang dari 1 cm (3) Plastis (Nilai 2): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut (4) Sangat plastis (Nilai 3): yaitu icirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan tekanan besar untuk merusak gulungan tersebut b. Konsistensi Lembab

Pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang, konsistensi dibagi 6 kategori sebagai berikut: (1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan tanah tidak melekat satu sama lain atau antar butir tanah mudah terpisah (contoh: tanah bertekstur pasir) (2) Sangat gembur (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas (3) Gembur (Nilai 2): yaitu dicirikan dengan hanya sedikit tekanan saat meremas dapat menghancurkan gumpalan tanah (4) Teguh/Kokoh (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan dperlukan tenaga agak kuat saat meremas tanah tersebut agar dapat menghancurkan gumpalan tanah (5) Sangat teguh/kokoh (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan berkali-kali saat meremas tanah agar dapat menghancurkan gumpalan tersebut (6) Sangat teguh sekali (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan tidak hancurnya gumpalan tanah meskipun sudah ditekan berkali-kali saat meremas tanah dan bahkan diperlukan alat bantu agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut c. Konsistensi Kering Penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara, ini dibagi 6 kategori sebagai berikut: (1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan butir-butir tanah mudah dipisah-pisah atau tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah bertekstur tanah) (2) Lunak (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah hancur bila diremas atau tanah berkohesi lemah dan rapuh, sehingga jika ditekan sedikit saja atau mudah hancur (3) Agak keras (Nilai 2): yaitu dicirikan gumpalan tanah baru akan hancur jika diberi tekanan pada remasan atau jika hanya mendapat tekanan jari-jari tangan saja belum mampu menghancurkan gumpalan tanah (4) Keras (Nilai 3): yaitu dengan makin susah untuk menekan gumpalan tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya ekanan yang lebih kuat untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah (5) Sangat keras (Nili 4): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan yang lebih kuat lagi untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah makin sangat sulit ditekan dan sangat sulit untuk hancur (6) Sangat keras sekali (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan di pelukannya tekanan yang sangat besar sekali agar dapat menghancurkn gumpalan tanah atau gumpalan tanah baru bisa hancur dengan menggunaka alat bantu (pemukul) Metode Pengukuran Konsistensi Metode pengukuran konsistensi tanah ada 2 yaitu:

a.

Secara kualitatif Metode pengukuran kuonsistensi tanah secara kualitatif yaitu penentuan ketahanan massa tanah terhadap remasan, tekanan atau pijitan tangan pada berbagai kadar air tanah b. Secara kuantitatif Metode pengukuran konsistensi tanah secara kuantitatif sering diistilahkan dengan angka Atterberg.

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR DASAR ILMU TANAH Acara 1 Sidik cepat penetapan tekstur,struktur,dan konsistensi tanah di laboratorium Acara 2 Pengamatan morfologi profil,pengambilan contoh dan pembuatan preparat tanah

Disusun oleh : Nama : HENGKI HARIADI NPM : E1D011056

LABORATORIUM ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU 2012


BAB 1
I.PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG Acara 1 Sidik cepat penetapan tekstur,struktur,dan konsistensi tanah di laboratorium

Tekstur tanah adalah perbandingan relatif antara fraksi pasir,debu dan lempung. Pengelompokkan kelas tekstur dapat dibagi menjadi beberapa penggolongan,tergantung pada tujuannya. Struktur tanah adalah gumpalan dari partikel-partikel primer tanah yang terpisahkan dari gumpalan tanah yang lain oleh bidang-bidang lemah tanah.Dalam deskrifsi tanah,struktur tanah dinyatakan menurut bentuk,ukuran,dan kekuatannya. Konsistensi tanah adalah ketahanan tanah terhadap gaya-gaya yang bekerja padanya untuk mengubah bentuk atau untuk memecah bongkahan.konsistensi tanah dapat diterapkan dalam keadaan basah,lembab dan kering. Acara 2 Pengamatan morfologi profil,pengambilan contoh dan pembuatan preparat tanah Profil tanah merupakan penampang tegak tanah yang memperlihatkan berbagai lapisan tanah. Pengamatan profil sangat penting dalam mempelajari sifat-sifat tanah secara cepat dilapangan, terutama yang berkaitan dengan genetis dan klasifikasi tanah. Sidik cepat beberapa sifat fisik, kimia dan biologi tanah juga biasanya dilakukan dengan bersamaan dan merupakan bagian pengamatan profil tanah. Evaluasi terhadap sifat-sifat tanah ini kemudian dilanjutkan secara lebih rinci di laboratorium dengan menggunakan contoh tanah. Contoh tanah dibedakan atas beberapa macam tergantung pada tujuan dan cara pengambilan. Bila contoh tanah diambil pada setiap lapisan untuk mempelajari perkembangan profil menetapkan jenis tanah maka disebut contoh tanah satelit. Contoh tanah yang diambil dari beberapa tempat dan digabung untuk menilai tingkat kesuburan tanah disebut contoh tanah komposit. Pengambilan contoh tanah secara komposit dapat menghemat biaya analisis bila dibandingkan dengan pengambilan secara individu ( Peterson dan calvin, 1986 ).Adalagi contoh tanah yang diambil dengan pengambilan sampel (care) dan disebut dengan contoh tanah utuh, yang biasanya digunakan untuk menetapkan sifat tanah disebut contoh tanah utuh karena strukturnya asli seperti apa adanya di lapangan sedangkan contoh tanah yang sebagian atau seluruh strukturnya telah rusak disebut contoh tanah terganggu. I.2 TUJUAN PRAKTIKUM Adapun tujuan dari kedua acara praktikum ini adalah : Acara 1 1.Menentukan kelas teksturdengan metode rasa perabaan dilaboratorium. 2.Menentukan bentuk,ukuran dan kekuatan struktur tanah secara cepat. 3.Menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan basah,kering dan lebab. 4.Melatih mahasiswa dalam penetapan tekstur,struktur dan konsistensi tanah sebelum terjun ke lapangan. Acara 2 1.Untuk mempelajari sifat-sifat dari beberapa jenis tanah pada setiap lapisan atau horison. 2.Mengambil contoh tanah di lapangan untuk dianalisis di laboratoirum. 3.Menyiapkan contoh tanah sebelum dianalisis.

BAB II
II.1 TINJAUAN PUSTAKA Penetapan kelas tekstur akan mengikuti bagian air,yaitu suatu metode yang dikembangkan oleh Notohadiprawiro(1985). Ada beberapa macam definisi tanah, menurut Joffe dan Marbut ( ahli ilmu tanah dari USA ), tanah adalah tubuh alam (natural body) yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam atau natural forces terhadap bahan-bahan alam (natural material ) dipermukaan bumi.Tanah tersusun atas : bahan mineral, udara dan air tanah. Susunan utama tanah berdasarkan volume dari jenis tanah dengan tekstur berlempung, berdebu dengan catatan tanaman dapat tumbuh dengan baik yaitu udara 25 %, air 25 %, mineral 45 % dan bahan organik 5%. Horison adalah lapisan-lapisan tanah yang terbentuk karena hasil dari proses pembentukkan tanah. Horison-horison yang menyusun profil tanah dari atas ke bawah adalah : a.Horison O Horison ini diketemukan pada tanah di dalam hutan yang belum terganggu dan merupakan horison organik yang terbentuk di atas lapisan mineral. Horison ini terdiri dari horison O1 yang mana bentuk asli sisa-sisa tanaman masih dapat dibedakan dengan jelas dan O2 dimana sisa-sisa tanaman tidak dapat dibedakan dengan jelas. b.Horison A Horison ini merupakan horison yang berada di permukaan tanah yang terdiri atas campuran antara bahan organik dan bahan mineral dan merupakan horison pencucian atau eliviasi dari bahan-bahan seperti liat, asam-asam organik serta kation-kation terutama Ca, K, Na dan Mg. c.Horison C Horison ini merupakan lapisan bahan induk tanah yang telah mengalami pelapukan.Proses pelapukkan yang terjadi pada horison ini baru pada tahap pelapukan fisik dan belum mengalami perubahan secara kimiawi. Pengaruh mahluk hidup belum mencapai horison ini. d.Horison D atau R Horison merupakan sumber bahan penyusun tanah yang sangat menentukan sifat-sifat tanah yang terbentuk. Tanah yang berkembang dengan berbagai proses tersebut memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda. Perbedaan itu meliputi : perbedaan sifat profil tanah seperti dan susunan horison, kedalaman solum tanah, kandungan bahan-bahan organik dan liat, Kandungan air dan sebagainya. Batas suatu horison dengan horison lain dalam suatu profil tanah dapat dilihat dengan jelas atau baur. Disamping itu bentuk topografi dan batas horison dapat rata, berombak. Tidak teratur dan terputus. Warna tanah merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah, penyebab perbedaan warna pada umumnya karena perbedaan

kandungan bahan organik. Makin tinggi kandungan bahan organik maka warna tanah akan semakin gelap, warna tanah ditentukan dengan menggunakan warna baku dalam buku Munsell Soil Color Chart dalam warna baku disusun oleh 3 variabel yaitu Hue, Value dan Chroma.Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah.Berdasarkan perbandingan butir pasir, debu dan liat maka tanah dikelompokkan ke dalam beberapa macam kelas tekstur yaitu: Kasar terdiri dari pasir dan pasir berlempung Agak kasar terdiri dari lempung berpasir dan lempung berpasir halus. Sedang: lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung bedebu dan debu Agak halus: lempung liat, lempung liat berpasir, dan lempung liat berdebu. Halus: liat berpasir, liat berdebu dan liat.Untuk mengukur baisanya digunakan segitiga tekstur tanah. Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir tanah. Gumpalan struktur terjadi karena butir-butir pasir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh perekat seperti bahan organik, oksidasi dan lain-lain. Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya kohesi butir tanah atau daya adhesi butir tanah dengan benda lain.Bulk density, menunjukkan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah termasuk volume pori tanah. Pori tanah adalah bagian yang tidak terisi bahan padat tanah ( terisi oleh udara dan air ). Terbagi atas pori makro dan mikro. Cole merupakan sifat mengembang ( bila basah ) dan mengerut ( bila kering ). NilaiNematoda merupakan nilai untuk menunjukkan tingkat kematangan tanah. Sifat sifat lain dari tanah yaitu keadaan batuan pada ( pan ), kedalaman efektif dan lereng.

BAB III
METODELOGI III.1 Bahan dan alat Adapun bahan dan alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah : parang, cangkul, meteran, pisau lapang, buku standar warna, daftar isian alat tulis, aquades, kantong plastik, ring sampel, lem, lebel, kertas koran, tampir atau nyiru, lumpang dan ayakan 2 dan 0,5 mm. III.2 Metode dan cara kerja Metode yang digunakan adalah terjun langsung ke lapang.Adapun cara kerja adalah: 1.Dipilih tempat yang sesuai untuk pembuatan profil,dibersihkan dari vegetasi yang menutupi permukaan. 2.Dibuat lubang profil. Penampang pengamatan sebaiknya sebelah atas lereng sinar matahari. 3.Pengamatan jangan dilakukan pada waktu hujan, disemprotkan bagian kering dengan aquades dan terkena Menentukan batas lapisan (horison ) dengan menusuk profil pada sisi pengamatan dengan pisau lapang dambil meremas gumpalan tanah ditangan kiri atau dengan cara memukul-mukul untuk mengetahui perbedaan bunyinya.

4.Diperhatikan perbedaan warna, tekstur dan kepadatan lapisan kemudian diukur kedalaman masing-masing horison dari atas ke bawah. 5.Digunakan kriteria penilaian kemudian diisi tabel isian di buku penuntun praktikum. 6.Untuk pengambilan contoh tanah dilakukan dengan pisau lapang sebanyak 2 kg pada masing-masing horison dan dimasukkan ke dalam kantong plastik,diberi label dan keterangan lalu ikat dengan karet. 7.Untuk pengambilan contoh tanah utuh dilakukan dengan bantuan ring sampel. .Dimasukkan ring sampel pelan-pelan, ditekan dengan menggunakan papan datar lalu dikeluarkan. Masukkan ke dalam plastic dan diberi label. 9.Untuk persiapan preparat, kita keringkan udara tanah terganggu diatas tanpir yang telah dialasi dengan koran. Bongkah tanah yang besar dikecilkan, sisa tumbuhan, akar dan batuan dipisahkan lalu tata dengan baik. 10.Dikering dan di anginkan selama2-3hari. 11.Setelah kering tanah ditumbuk dan diayak dengan ayakan. Tanah ini disimpan dalam kantong plastik yang telah diberi label, sisanya dalam kantong plastik dengan kode yang sama. Tanah ini digunakan untuk analisis berat jenis, kadar air, kering angin, tekstur dan DHL. 12.Diambil contoh tanah secukupnya lalu diayak dengan ayakan. Disimpan dalam kantong plastik dan diberi label.Tanah ini digunakan untuk analisis bahan organik 13.Disimpan tanah dalam ring sampel analisis bahan organik.Pengukuran tanah ini digunakan untuk konduktivitas hidrolika, tanah jenuh, berat volum dan kadarlengas.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil Pengamatan Adapun hasil praktikum yang saya dapat adalah: Lokasi Pengamatan : Samping TIP Profil nomor : 1 Bahan induk : Tupa Masam Tumbuhan : Hutan sekunder Posisi tanah : Ideslope Kelembaban : Lembab . Kelerengan : 0 % Drainase : Bururk Tingkat erosi : Besar Pemerian oleh : Senin, pukul 10 : 00 IV.2 Pembahasan Pada pembahasan ini, dapat diuraikan dari hasil praktikum yang telah dilakukan dilokasi antara samping TIP bahwa horison O jeluknya 1 cm,warnanya very dark gray dan perakarannya 60%,horison A jeluknya 25 cm,berwarna weok red,perakarannya

50%,horison E jeluknya 45 cm,berwarna red ,perakaran 30 % dab pada horison B jeluknya 50 cm,berwarna red dan perakarannya 0%. Pada pemberian profil tanah yang dilakukan pada sabtu kemarin yang tidak memiliki perakaran yaitu pada horison B dan jeluk yang paling rendah pada horison O.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


V.1 kesimpulan Kesimpulan dari pembahasan diatas adalah profil tanah disusun oleh lapisan-lapisan tanah atau lebih dikenal dengan horison-horison. Horison yang menyusun solum tanah adalah horison A ( A1, A2, A3 ) dan horison Bahan-bahan ( B1, B2, B3 ) serta ditambah dengan horison C dan horison Reaksi yang kedua horison ini tidak kami ketemukan dalam praktikum dan tanah terdiri dari hasil pelapukkan batuan yang bercampur dengan bahan organik. Proses perkembangan atau penyusunan tanah yang berbeda akan mengakibatkan perbedaan sifat-sifat tanah pada suatu daerah. Sifat fisik tanah pada setiap lapisan / horison dipengaruhi oleh tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi tanah, porositas tanah, warna tanah, drainase tanah,Bulk density cole serta keadaan perakaran dan lingkungan. V.2 Saran Seharusnya mahasiswa ditunjuk satu persatu untuk melihat keadaan tanah dan membedakan antara horison tanah,agar mahasiswa lebih mengetahui horison horison yang ada didalam tanah.

DAFTAR PUSTAKA
Abdula. 2006.Ilmu Tanah.Swadaya;Jakarta. 2. Hakim, Nurhayati, dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung. 3. Harejowigeno, Sarwono. 1995. Ilmu Tanah. Cv. Akademika Pressindo. Jakarta.
1.

Ilmu Tanah.Lab. Ilmu Tanah. Fakultas pertanian . Universitas Bengkulu. Bengkulu.


4. 5.

Soeparti, Goeswono. 1983. Sifat Dan Ciri Tanah. IPB. Bogor. 6. Tim pengasuh Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 2002. Petunjuk Praktikum Dasar-Dasar.

catatanku
SUNDAY, JUNE 17, 2012

Laporan Praktikum Ilmu Tanah

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Antara manusia dengan tanah terdapat saling ketergantungan satu sama lain, kita tergantung dari tanah dan sebaliknya tanah-tanah yang baik dan subur tergantung dari cara manusia menggunakan tanah tersebut. Dengan bertambah majunya peradaban manusia dan sejalan dengan perkembangan pertanian yang juga disertai perkembangan penduduk yang sangat pesat maka memaksa manusia mulai menghadapi masalah-masalah tentang tanah, terutama untuk pertanian sebagai mata pencaharian misalnya adalah makin banyaknya tanah kritis yang dulunya subur. Semuanya ini adalah tanah tanpa memperhatikan pedoman pengolahan tanah maupun karena kesewenang-wenangan manusia terhadap tanah. Kerusakan tanah yang terjadi diseluruh Indonesia terjadi seringkali karena ulah manusia itu sendiri. Misalnya penebangan hutan yang menyebabkan terjadinya erosi sehingga terjadi pengurangan unsure hara dalam tanah, karena telah terjadi pelindian oleh air hujan yang tidak tertahan oleh tanaman, akibat vegetasi yang ada telah habis dibabat. Sehingga kesuburan tanah hilang. Dengan banyaknya permasalahan yang muncul, maka orang mulai mengadakan suatu perbaikan kesuburan tanah. Hal ini dapat dilakukan dengan mempelajari dan mengadakan penelitian tentang tanah secara lebih dekat sehingga kita dapat mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan tanah dan kesuburan tanah yang meliputi faktor fisika, kimia dan biologi. Hubungan antara faktor - faktor tersebut harus diperhatikan serta memperhatikan kaidah penggunaan dan pengolahan tanah sehingga kelestarian tanah dapat terjaga.

Oleh karena itu, para mahasiswa fakultas pertanian mengikuti praktikum Ilmu Tanah untuk menambah pengetahuan tentang tanah dalam ilmu pedologi maupun edapologi. Dengan mempelajari tanah kita dapat menentukan jenis tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman serta dapat menanggulangi kerusakan tanah sehingga dapat dimanfaatkan untuk pertanian.

B. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Ilmu Tanah pada semester ini adalah untuk : 1. Mengenal dan mengetahui morfologi dari suatu lahan. 2. Mengenal dan mengetahui profil tanah. 3. Menganalisa sifat fisika dan kimia tanah. C. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu pada tanggal 1213November 2011 . Pada hari Sabtu praktikum pertama dilaksanakan di Jumantonopada pukul 15.00 17.00 WIB. Praktikum kedua dilaksakan di dua tempat pada hari Minggu, pertama di Jatikuwung pada pukul 07.00 09.00 WIB, kedua dilaksanakan di kampus FP UNS pada pukul 10.00 11.00 WIB.

II. A. Pencandraan Bentang Lahan

TINJAUAN PUSTAKA

Tanah adalah benda alami yang terdapat di permukaan bumi yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil alam tanaman dan hewan, yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat tertentu akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak sebagai atau terhadap batuan induk dalam keadaan wilayah tertentu selama jangka waktu tertentu (Anonim, 2007). Tanah merupakan suatu tubuh alam yang mempunyai arti kedalaman dan daerah permukaan sebagai hasil dari gaya desdruktif dan sintetik seperti pelapukan dan perapuhan mikribia sisa organik, serta pembentukan mineral baru. Ada lima faktor yang menjadi pembentuk tanah yaitu iklim, kehidupan, bahan induk, topografi, dan waktu. Dari kelima itu, yang berpengaruh paling besar adalah iklim. Sehingga proses pembentukan tanah sering disebut weathering (Buckman dan Brady, 1982). Erosi adalah pengikisan / kelonggaran atau merupakan proses penghanyutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air dan angin, baik yang berlangsung secara alamiah atau sebagai akibat tindakan atau perbuatan manusia. Sehubungan dengan itu, maka kita akan mengenal normal atau geologikal erosion dan acceleration erosion (Kartosapoetro, 1991).

Tanah Alfisol memiliki struktur tanah yang liat. Liat yang tertimbun di horizon bawah ini berasal dari horizon diatasnya dan tercuci ke bawah bersama dengan gerakan air. Dalam banyak pola Alfisol digambar adanya perubahan tekstur yang sangat jelas dalam jarak vertikal yang sangat pendek yang dikenal Taksonomi Tanah (USDA, 1985) sebagai Abrupat Tekstural Chage (perubahan tekstur yang sangat ekstrim). (Buchman dan Brady, 1982). Tanah Vertisol memiliki kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang tinggi. Reaksi tanah bervariasi dari asam lemah hingga alkaline lemah; nilai pH antara 6,0 sampai 8,0. pH tinggi (8,0-9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi.Vertisol menggambarkan penyebaran tanah-tanah dengan tekstur liat dan mempunyai warna gelap, pH yang relatif tinggi serta kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang juga relatif tinggi. Vertisol tersebar luas pada daratan dengan iklim tropis dan subtropis (Anonim, 2010). Tanah Vertisol memiliki kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang tinggi. Reaksi tanah bervariasi dari asam lemah hingga alkaline lemah; nilai pH antara 6,0 sampai 8,0. pH tinggi (8,0-9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi.Vertisol menggambarkan penyebaran tanah-tanah dengan tekstur liat dan mempunyai warna gelap, pH yang relatif tinggi serta kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang juga relatif tinggi. Vertisol tersebar luas pada daratan dengan iklim tropis dan subtropis (Munir, 1996). Tanah Entisol merupakan tanah yang relatif kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman, sehingga perlu upaya untuk meningkatkan produktivitasnya dengan jalan pemupukan. Sistem pertanian konvensional selama ini menggunakan pupuk kimia dan pestisida yang makin tinggi takarannya. Peningkatan takaran ini menyebabkan terakumulasinya hara yang berasal dari pupuk/pestisida di perairan maupun air tanah, sehingga mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan. Tanah sendiri juga akan mengalami kejenuhan dan kerusakan akibat masukan teknologi tinggi tersebut. Atas latar belakang tersebut mulai dikembangkan sistem pertanian organik yang dahulu telah lama dilakukan oleh nenek moyang kita.Beberapa petani di Sleman dan Magelang telah melakukannya, sementara yang lain belum tertarik karena belum mengetahui manfaatnya terutama terhadap perbaikan sifat tanah (Anonim, 2010).

Erosi dari air dibagi menjadi empat kategori, yaitu : splas (cipratan), sheet (permukaan), riil (alur) dan gully (parit). Erosi permukaan berhubungan dengan pepindahan tanah yang sama dari permukaan suatu area pada lapisan yang tipis. Untuk erosi permukaan brhubungan dengan suatu permukaan tanah yang lunak (Foth, 1994). Fisiografi adalah pencandraan tentang genesis tanah dan evolusi bentuk wilayah. Bentuk wilayah diklasifikasikan atas dasar agensia pembentuknya, yaitu fluvial, marine, lacustrin, eolin, biotika, glacial, orogen, dan vulkanisme atau bentuk lisin yang terjadi dari kerja gabungan dua atau lebih agensia (Anonim, 2007). Alfisol secara potensial termasuk tanah yang subur, meskipun bahaya erosi perlu mendapat perhatian. Untuk peningkatan produksi masih diperlukan usahausaha intensifikasi antara lain pemupukan dan pemeliharaan tanah serta tanaman yang sebaik baiknya (Anonim, 2003). Proses pelapukan adalah berubahnya bahan penyusun tanah dari bahan pemyusun batuan. Sedangkan proses perkembangan tanah adalah terbentuknya lapisan tanah yang menjadi ciri, sifat dan kemampuan khas masing-masing jenis tanah. Proses pelapukan mengandung arti geologis destruktif dan proses perkembangan tanah mengandung arti pedologis kreatif. Contoh proses pelapukan adalah hancuran batuan secara fisik dan proses berubahnya felspat menjadi lempung kimia. Contoh proses perkembangan tanah adalah terbentuknya horison tanah, latosolisasi, podsolisasi, dan lainnya (Darmawijaya, 1990).

B. Penyidikan Profil Tanah


Profil tanah adalah urutan susunan horison yang tampak dalam anatomi tubuh tanah. Profil tanah mempunyai tebal yang berlainan, mulai dari yang setipis selaput sampai setebal 10 m. Pada umumnya tanah makin tipis makin mendekati kutub dan makin tebal makin mendekati khatulistiwa (Darmawijaya, 1990). Profil tanah itu merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah yang dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran panjang dan lebar tertentu dan kedalaman yang tertentu pula sesuai dengan keperluan genesa tanah. Pembuatan profil tanah dapat mencapai kedalaman sekitar 3-3,5 meter. (Anonim,2006).

Profil tanah yang diamati, ciri-cirinya harus memenuhi syarat-syarat : tegak (vertikal), baru artinya belum terpengaruh keadaan luar, dan juga tidak memantulkan cahaya (profil tanah pada waktu pengamatan tidak langsung terkena cahaya matahari). Pengamatan dimulai dengan pengukuran dalamnya dari batasbatas horizon yang dapat diketahui. Batas horizon tidak selalu lurus. Oleh karena itu diamati pula jelas tidaknya dan bentuk topografi (Darmawijaya, 1990).

C. Sifat Fisika Tanah


Tekstur tanah dibagi menjadi 3 golongan yaitu pasir, debu dan liat. Pasir merupakan partikel terbesar dengan ukuran 2-0,063 mm,debu 0,063-0,002 mm dan liat <0,002 mm. Pengaruh struktur dan tekstur tanah terhadap tanaman terjadi secara langsung. Struktur tanah yang remah pada umumnya menghasilkan laju pertumbuhan tanaman dan produksi persatuan waktu yang lebih tinggi (Anonim, 2006). Konsistensi adalah ketahanan tanah terhadap perubahan bentuk atau perpecahan. Keadaan ini ditentukan oleh sifat kohesi dan adhesi, padahal struktur menentukan bentuk, ukuran dan agregat alami tanah tertentu. Konsistensi tetap menentukan kekuatan keadaan alami gaya-gaya diantara partikel. Konsistensi penting untuk dipertimbangkan dalam pengolahan tanah untuk kepentingan lalu lintas. Bukit pasir menghambat sifat kohesi dan adhesi. Konsistensi tetap penting dalam pengolahan tanah (Foth, 1991). Horison tanah digambarkan dalam profil, secara vertikal dan berhubungan satu sama lain. Kadang-kadang batas dua horison sangat jelas dan dapat dikenali dengan sangat baik, sehingga tidak menimbulkan keraguan dan salah paham (Abdullah, 1993). Suhu yang terlalu tinggi ataupun yang terlalu rendah merupakan faktor pembatas dibeberapa daerah tropika tertentu. Pemecahannya biasanya adalah dengan memberi mulsa dengan berbagai bahan, tergantung apakah suhu itu harus dinaikkan atau ditunkan. Pada tanah yang baru dibuka untuk pertanian, pengaturan suhu tanah dengan menggunakan mulsa jerami. Sebenarnya pemulsaan juga mengurangi pemakaian air dan mengurangi kebutuhan untuk pengendalian gulma dan sering meningkatkan hasil (Sanchez, 1992).

D. Sifat Kimia Tanah Perilaku kimawi tanah didefiniskan sebagai keseluruhan reaksi fisika-kimia yang berlangsung antar-penyusun tanah serta antara penyusun tanah dan bahan yang ditambahkan ke dalam tanah dalam bentuk pupuk ataupun pembenah tanah lainnya (Blt & Bruggenwert, 1978). Penentuan pH tanah adalah salah satu uji paling penting dapat digunakan untu mendiagnosis masalah pertumbuhan tanaman. Apabila pH tanahnya 5,5 atau kurang maka penyakit tanaman itu mungkin tidak disebabkan defisiensi besi. Karena senyawa-senyawa besi mudah larut dalam keadaan asam (Foth, 1994). pH tanah menunjukkan derajat keasaman tanah atau keseimbangan antara konsentrasi H+ dan OH- dalam larutan tanah. Apabila konsentrasi H+ dalam larutan tanah lebih banyak dari OH- maka suasana larutan tanah menjadi asam, sebalikya bila konsentrasi OH- lebih banyak dari pada konsentrasi H+ maka suasana tanah menjadi basa. pH tanah sangat menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman makanan ternak, bahkan berpengaruh pula pada kualitas hijauan makanan ternak. PH tanah yang optimal bagi pertumbuhan kebanyakan tanaman makanana ternak adalah antara 5,6-6,0. Pada tanah pH lebih rendah dari 5.6 pada umumnya pertumbuhan tanaman menjadi terhambat akibat rendahnya ketersediaan unsur hara penting seperti fosfor dan nitrogen. Bila pH lebih rendah dari 4.0 pada umumnya terjadi kenaikan Al3+ dalam larutan tanah yang berdampak secara fisik merusak sistem perakaran, terutama akar-akar muda, sehingga pertumbuhan tanaman menjadiaa terhambat. (Anonim, 2005 ).

E. Lengas Tanah
Lengas tanah adalah air yang terikat oleh berbagai gaya, misalnya gaya ikat matrik, osmosis dan kapiler. Gaya ikat matrik berasal dari tarikan antar partikel tanah dan meningkat sesuai dengan peningkatan permukaan jenis partikel tanah dan kerapatan muatan elektrostatik partikel tanah. Gaya osmosis dipengaruhi oleh

zat terlarut dalam air maka meningkat dengan semakin pekatnya larutan. Gaya kapiler dibangkitkan oleh poripori tanah berkaitan dengan tegangan permukaan (Anonim, 2009) Kadar lengas tanah sering disebut sebagai kandungan air(moisture) yang terdapat dalam pori tanah. Satuan untuk menyatakan kadar lengas tanah dapat berupa persen berat atau persen volume. Berkaitan dengan istilah air dalam tanah, secara umum dikenal 3 jenis, yaitu (a) lengas tanah (soil moisture) adalah air dalam bentuk campuran gas (uap air) dan cairan; (b) air tanah(soil water) yaitu air dalam bentuk cair dalam tanah, sampai lapisan kedap air, (c) air tanah dalam (ground water) yaitu lapisan air tanah kontinu yang berada ditanah bagian dalam (Handayani, 2009). Keberadaan lengas tanah dipengaruhi oleh energi pengikat spesifik yang berhubungan dengan tekanan air. Status energi bebas (tekanan) lengas tanah dipengaruhi oleh perilaku dan keberadaannya oleh tanaman. Lengas tanah dipengaruhi oleh keberadaan gravitasi dan tekanan osmosis apabila tanah dilakukan pemupukan dengan konsentrasi tinggi (Bridges, 1979). Di dalam tanah, air berada di dalam ruang pori diantara padatan tanah. Jika tanah dalam keadaan jenuh air, semua ruang pori tanah terisi air. Dalam keadaan ini jumlah tanah yang disimpan didalam tanah merupakan jumlah air maksimum disebut kapasitas penyimpanan air maksimum. Selanjutnya jika tanah dibiarkan mengalami pengeringan, sebagian ruang pori akan terisi udara dan sebagian lainnya terisi air. Dalam keadaan ini tanah dikatakan tidak jenuh (Hillel,1983). Di dalam tanah air dapat bertahan tetap berada di dalam ruang pori karena adanya berbagai gaya yang yang bekerja pada air tersebut. Untuk dapat mengambil air dari rongga pori tanah diperlukan gaya atau energi yang diperlukan untuk melawan energi yang menahan air. Gaya gaya yang menahan air hingga bertahan dalam rongga pori berasal dari absorbsi molekul air oleh padatan tanah, gaya tarik menarik antara molekul air, adanya larutan garam dan gaya kapiler (Yong et al.,1975).

F. pH Tanah
pH tanah atau kemasaman tanah atau reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H +) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain ion H+ dan ion-ion lain terdapat juga ion hidroksida (OH-), yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya ion H+. Pada tanah-tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi dibandingakan dengan jumlah ion OH-, sedangkan pada tanah alkalis kandungan ion OH- lebih banyak dari ion H+. Jika ion H+ dan ion OH- sama banyak di dalam tanah atau seimbang, maka tanah bereaksi netral (Anonim, 2011) pH tanah atau tepatnya pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur hara seperti Nitrogen (N), Potassium/kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan terhadap penyakit. Jika pH larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5; Nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi tersedia bagi tanaman. Di sisi lain Pospor akan tersedia bagi tanaman pada Ph antara 6,0 hingga 7,0. Beberapa bakteri membantu tanaman mendapatkan N dengan mengubah N di atmosfer menjadi bentuk N yang dapat digunakan oleh tanaman. Bakteri ini hidup di dalam nodule akar tanaman legume (seperti alfalfa dan kedelai) dan berfungsi secara baik bilamana tanaman dimana bakteri tersebut hidup tumbuh pada tanah dengan kisaran pH yang sesuai (Anonim, 2007) Tingkat pH tanah yang merugikan pertumbuhan tanaman dapat terjadi secara alami di beberapa wilayah, dan secara non alami terjadi dengan adanya hujan asamdan kontaminasi tanah. Peran pH tanah adalah untuk mengendalikan ketersedian nutrisi bagi vegetasi yang tumbuh di atasnya. Makronutrien (kalsium, fosfor, nitrogen,kalium, magnesium, sulfur) tersedia cukup bagi tanaman jika berada pada tanah dengan pH netral atau sedikit beralkalin. Kalsium, magnesium, dan kalium biasanya tersedia bagi tanaman dengan cara pertukaran kation dengan material organik tanah dan partikel tanah liat. Ketika keasaman tanah meningkat, ketersediaan kation untuk material organik tanah dan partikel tanah liat segera tercukupi sehingga tidak ada pertukaran kation dan nutrisi bagi tanaman berkurang. Namun semua itu tidak dapat disimplifikasi karena banyak faktor yang memengaruhi hubungan pH dengan ketersediaan nutrisi,

diantaranya tipe tanah (tanah asam sulfat, tanah basa, dsb), kelembaban tanah, dan faktor meteorologika (Anonim, 2011) Ada 2 metode yang paling umum digunakan untuk pengukuran pH tanah yaitu kertas lakmus dan pH meter. Kertas lakmus sering di gunakan di lapangan untuk mempercepat pengukuran pH. Penggunaan metode ini di perlukan keahlian pengalaman untuk menghindari kesalahan. Lebih akurat dan secara luas di gunakan adalah penggunaan pH meter, yang sangat banyak di gunakan di laboratorium. Walaupun pH tanah merupakan indikator tunggal yang sangat baik untuk kemasaman tanah, tetapi nilai pH tidak bisa menunjukkan berapa kebutuhan kapur. Kebutuhan kapur merupakan jumlah kapur pertanian yang dibutuhkan untuk mempertahankan variasi pH yang di inginkan untuk sistem pertanian yang digunakan. Kebutuhan kapur tanah tidak hanya berhubungan dengan pH tanah saja, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan menyangga tanah atau kapasitas tukar kation (KTK) (Anonim, 2009)

III. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA

A. Alat 1. Pencandraan bentang lahan

a. Klinometer b. Kompas c. GPS 2. Profil tanah

a. Pisau belati b. Cangkul c. Meteran lebar 20 cm dan panjang 150 cm d. Kamera e. Tali rafia 3. Sifat-sifat fisika tanah

a. Pisau belati b. Meteran c. Kaca pembesar d. Penetrometer e. Jari tangan f. Buku standar warna Munsell Soil Colour Charts 4. Sifat-sifat kimia tanah

a. pH stick b. Tissue gulung

c. Flakon d. Kertas marga e. Spidol f. Pipet 5. Uji di Laboratorium

a. Botol pemancar b. Botol semprong c.

11

Botol timbang d. Cawan tembaga e. Colet f. Eksikator g. Flakon h. Gelas arloji i. j. Gelas piala Kertas saring

k. Lempung kaca l. Mortin porselin

m. Oven n. Papan kayu

o. Pengaduk kaca p. Petridish q. pH meter r. Saringan 2mm

s. Spatel t. Statif

u. Timbangan analitik B. Bahan 1. Pencandraan bentang lahan a. Tanah daerah Jumantono b. Tanah daerah Jatikuwung c. Tanah daerah Fakultas Pertanian UNS 2. Profil tanah a. Tanah daerah Jumantono b. Tanah daerah Jatikuwung c. Tanah daerah Fakultas Pertanian UNS 3. Sifat-sifat fisika tanah a. Tanah dari tiap-tiap lapisan b. Air

4. Sifat-sifat kimia tanah a. H2O b. KCl 1 N

c. H2O2 10% d. H2O2 3% e. HCl 1,2 N f. HCl 10% g. KCNS 10% h. K3Fe(CN)6 0,5% 5. Uji di Laboratorium a. Bongkahan b. Contoh tanah kering angin (ctka) 0,5 mm dan 2 mm c. Aquades d. Reagen H2O (pH actual) dan KCl (pH potensial) C. Cara Kerja

andraan Bentang Lahan a. Menentukan lokasi pengamatan. b. Menentukan keadaan fisiografinya. c. Menentukan derajat kemiringan dengan klinometer. d. Menentukan bentuk relief. e. Menentukan kemas muka tanah. f. Menentukan bentuk timbulan mikro. g. Menentukan batuan permukaan. h. Menentukan batuan singkapan. i. j. Menentukan keadaan hidrologi lahan meliputi genangan dan banjir. Menentukan penggunaan lahan.

k. Menentukan bentuk dan tingkat erosi lahan. l. Menentukan landform.

m. Mencatat hasil pengamatan.

dikan Profil Tanah a. Membuat profil tanah di tempat penelitian. b. Mengukur jeluk mempan atau solum tanah. c. Menentukan batas-batas lapisan dengan melihat perbedaan warna atau menusuknusuk dengan pisau belati atau memukul-mukul dengan gagang pisau belati. d. Menentukan kelimpahan dan ukuran bebatuan. e. Menetukan gleisasi. f. Menentukan ketegasan batas lapisan. g. Menentukan bentuk batas lapisan. h. Menentukan jumlah dan ukuran perakaran pada tiap-tiap lapisan. i. Mencatat hasil pengamatan.

Fisika Tanah a. Menentukan tekstur tanah 1) Mengambil tanah dari tiap-tiap lapisan. 2) Meletakkan pada telapak tangan atau dengan memijit-mijit tanah tersebut di antara jari telunjuk dan ibu jari dengan bantuan sedikit air. 3) Memperhatikan adanya rasa kasar atau licin 4) Menggulung-gulung sambil melihat daya tahan terhadap tekanan. 5) Mencatat hasil pengamatan. b. Menentukan struktur tanah

1) Mengambil tanah dari tiap-tiap lapisan. 2) Memecahnya dengan jari. 3) Mengamati tipe, ukuran, dan kemampatan agregat/derajat dengan kaca pembesar. 4) Mencatat hasil pengamatan. c. Menentukan konsistensi tanah 1) Mengambil tanah dari tiap-tiap lapisan. 2) Memijit tanah dalam berbagai keadaan kandungan air seperti basah, lembab, dan kering di antara ibu jari dan jari telunjuk. 3) Menentukan konsistensinya berdasarkan kekuatan bongkahan. 4) Mencatat hasil pengamatan. d. Menentukan warna tanah 1) Mengambil gumpalan tanah tiap-tiap lapisan. 2) Menyetarakan warna tanah dengan standar warna dari MSCC. 3) Mencatat hasil pengamatan. e. Menentukan aerasi-drainase 1) Mengambil dua bongkah tanah tiap lapisan. 2) Meletakkan secara terpisah pada kertas tisu. 3) Menetesi kedua bongkah tanah dengan HCl 10%. 4) Melipat kertas saring sehingga menutupi kedua bongkah tersebut kemudian menekan-nekan sampai cairan terperas keluar membasahi kertas saring. 5) Menetesi salah satu bongkah dengan KCNS 10% dan menetesi yang lainnya dengan K3Fe(CN)6 0,5%. 6) Mengamati reaksi yang terjadi. 7) Mencatat hasil pengamatan.

f. Uji penetrometer 1) Menusukkan penetrometer pada tanah tiap lapisan secara horisontal dan vertikal. 2) Melihat skala pada penetrometer. 3) Mencatat hasil pengamatan.

Kimia Tanah a. Menentukan pH tanah. 1) Mengambil dua sampel tanah tiap lapisan. 2) Memasukkannya ke dalam flakon. 3) Menambahkan H2O pada sampel tanah pertama dari tiap lapisan dan KCl pada sampel tanah kedua dari tiap lapisan. 4) Mengocoknya hingga homogen. 5) Mengukur dengan pH stick. b. Menentukan kandungan bahan organik 1). Mengambil sampel tanah tiap lapisan 2). Meneteskan H2O2 10% secara merata. 3). Mengamati reaksi yang terjadi. 4). Mencatat hasil pengamatan. c. Menentukan kadar kapur 1). Mengambil sampel tanah tiap lapisan. 2). Menetesi dengan HCl 10% secara merata. 3). Mengamati reaksi yang terjadi. 4). Mencatat hasil pengamatan. d. Menentukan konkresi

1). Mengambil sampel tanah tiap lapisan. 2). Menetesi sampel tanah tersebut dengan H2O2 3%. 3). Mengamati reaksi yang terjadi. 4). Mencatat hasil pengamatan.

Laboratorium a. Lengas Tanah Kering Angin 1) Memasukan botol penimbang dengan tutupnya ke dalam oven. selama 30 menit kemudian mendinginkannya ke dalam eksikator dan menimbang botol penimbang dengan tutupnya. 2) Memasukan ctka kurang lebih 2/3 tinggi botol penimbang lalu menimbangnya dan masing-masing ctka dilakukan 2 kali ulangan. 3) Memasukan ke dalam oven dengan keadaan terbuka bersuhu 105C selama 4 jam. 4) Mendinginkan botol penimbang dan isinya pada eksikator dalam keadaan tertutup, kemudian melakukan penimbangan setelah dingin. 5) Melakukan perhitungan kadar lengas. b. Kapasitas Lapangan 1) Membungkus atau menyumbat salah satu ujung botol dengan kain kassa. 2) Memasukan ctka ke dalam botol semprong dengan bagian yang ter tutup kain kassa sebagai dasarnya. 3) Memasang botol semprong pada statif dan diatur seperlunya. 4) Merendam selama kurang lebih 48 jam. 5) Mengangkat semprong dan membiarkan air menetes sampai tetes terakhir. 6) Mengambil contoh tanahnya yang berada pada 1/3 bagian tengah semprong, mengukur kadar lengasnya sebanyak 2 kali uangan.

c. Lengas Maksimum (Kapasitas Air Maksimum) 1) Menggerus ctka menjadi butir primer dan menyaringnya menjadi 2mm. 2) Mengambil cawan berlubang yang dasaarnya diberi kertas saring yang sudah dibasahi. 3) Menimbang dengan kertas arloji sebagai alasnya. 4) Memasukan ctka yang telah digerus dalam cawan tembaga kurang lebih 1/3nya lalu diketuk-ketukan, menambahkan ctka sampai 2/3 alu diketuk-ketukan lagi, kemudian menambahkan lagi ctka sampai penuh, mengetuknya lagi dan meratakannya. 5) Memasukan cawan tersebut ke dalam perendam kemudian diisi air sampai permukaan air mencapai kurang lebih tinggi dinding cawan, perendaman 12 jam (setelah direndam permukaan tanah akan cembung minimal rata/mendatar). 6) Mengangkat cawan dan membersihkan sisi luarnya lalu meratakan tanah setinggi cawan dengan diperes secara hati-hati dan menimbangnya dengan diberi alas gelas arloji. 7) Memasukan ke dalam oven bersuhu 105C selama 4 jam, lubang pembuangan air pada oven harus terbuka. 8) Memasukan ke dalam eksilator kemudian menimbang dengan diberi gelas arloji. 9) Membuang tanah, membersihkan cawan menimbangnya dengan diberi alas gelas arloji. 10) Menghitung kadar lengasnya. dan kertas saring kemudian

d. Batas Berubah Warna (BBW) 1) Membuat pasta tanh dengan cara mencampur ctka 0,5 mm dengan air pada cawan penguap. 2) Meratakan pasta tanah pada kayu membentuk elip dengan ketinggian pada bagian tengah kurang lebih 3mm dan makin ke tepi makin tipis.

3) Membiarkan semalam dan setelah ada beda warna diambil tanahnya selebar 1cm (warna terang dan gelap) untuk dianalisis KL-nya. e. Analisis pH Tanah 1) Menimbang ctka sebanyak 5 gram dan memasukan ke dalam dua buah flakon. 2) Menambahkan aquadest 12,5 cc untuk analisis pH H2O dan 12,5 cc KCl untuk pH KCl 3) Mengaduk masing-masing hingga homogen selama 5 menit. 4) Mendiamkannya selama 30 menit. 5) Mengukur masing-masing pH.

IV. 1. Hasil Pengamatan A. Jumantono

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Lokasi Lokasi Hari / Tanggal Waktu Profil Surveyor Cuaca Letak geografis Datum Ketinggian : Sukosari, Jumantono, Karanganyar : Sabtu 12 November 2011 : Pukul 15.00 17.00 WIB : I/ Satu : Kelompok 36 : Cerah ( SU ) : 07 37 49,7 LS dan 110 56 54,2 BT : WGS 1984 : 188 m dpl

Denah
kampus Kantor Bupati Monumen Pancasila Jumantono Stasiun Klimatologi
Rumah Kaca sumur

lokasi

Gambar 4.1.1 Denah Lokasi Daerah Jumantono

21

Gambar 4.1.2 Profil 1 di Daerah Jumantono

1. Pencanderaan Bentang Lahan Tabel 4.1.1 Deskripsi Lingkungan Jumantono


No. 1. 2. 3. 4. Deskripsi Lereng Arah Panjang lereng Fisiografi lahan Keterangan 9 %, sangat miring Timur Laut 1,25 m Vulkanik (V)

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Genangan Tutupan lahan Geologi Erosi Tingkat erosi Batuan permukaan Vegetasi

Tidak ada (0) Rumput atau Grass/herbaceous (G ) QLLA, Quarter Lahar Lawu Erosi permukaan atau Sheet erosion (S) Rendah ( R ) < 0,1 %, tidak berbatu (kelas 1) Kacang tanah (40%), pohon jati (12%), pohon mangga (8%), pohon rambutan (10%), rumput (30%)

Sumber : Laporan Sementara

2. Penyidikan Profil Tanah. Tabel 4.1.2 Deskripsi profil tanah Jumantono.


No. 1. Deskripsi Metode observasi Keterangan Lubang besar terbuka atau galian /Large open pit or quarry (LC)

2.

Jeluk / solum tanah : 0cm 18 cm a. Horizon A1 b. Horizon A2 c. Horizon B d. Horizon C 18cm 32cm 32cm 84cm 84cm 125cm

3.

Ketegasan batas lapisan/ horison a. Horizon A1 b. Horizon A2 c. Horizon B d. Horizon C Topografi horizon: a. Horizon A1 Rata atau Smooth ( S ) b. Horizon A2 c. Horizon B Berombak atau Wavy ( W ) d. Horizon C Berombak atau Wavy ( W ) Perakaran Ukuran : Rata atau Smooth ( S ) batas lapisan/ Jelas atau Clear ( C ) Jelas atau Clear ( C ) Jelas atau Clear ( C ) Jelas atau Clear ( C )

4.

5.

a. Horizon A1 b. Horizon A2 c. Horizon B d. Horizon C Perakaran Jumlah :

Kasar atau Coarse ( C ) Sedang atau Medium ( M ) Halus atau Fine ( F ) Sangat halus atau Very fine ( VF )

6.

a. Horizon A1 b. Horizon A2 c. Horizon B d. Horizon C

Banyak atau Many ( 3 ) Banyak atau Many ( 3 ) Biasa atau Common ( 2 ) Sedikit atau Few ( 1 )

Sumber : Laporan Sementara

3. Sifat Fisika Tanah Tabel 4.1.3 Pengamatan sifat fisika tanah Jumantono.
No.
Deskripsi Keterangan

1.

Tekstur tanah:

a.

Horizon A1

Lempung atau Clay (C)

b.

Horizon A2

Lempung debuan atau Silty clay (SiC)

c.

Horizon B

Lempung debuan atau Silty clay (SiC)

d.

Horizon C

Lempung atau Clay (C)

2.

Struktur tanah

Tipe :

a.

Horizon A1

Gumpal membulat atau SubAngular Blocky (SBK )

b.

Horizon A2

Gumpal membulat atau SubAngular Blocky (SBK )

c.

Horizon B

Gumpal menyudut atau Angular Blocky (ABK )

d.

Horizon C

Gumpal menyudut atau Angular Blocky (ABK )

Ukuran :

a.

Horizon A1

Halus atau Fine ( F )

b.

Horizon A2

Kasar atau Coarse ( C )

c.

Horizon B

Sedang atau Medium ( M )

d.

Horizon C

Kasar atau Coarse ( C )

Derajat :

a.

Horizon A1

Kuat atau Strong ( 3 )

b.

Horizon A2

Sedang atau Medium ( 2 )

c.

Horizon B

Sedang atau Medium ( 2 )

d.

Horizon C

Kuat atau Strong ( 3 )

3.

Konsistensi :

a.

Horizon A1

Lembab, sangat gembur

b.

Horizon A2

Lembab, gembur

c.

Horizon B

Kering, keras

d.

Horizon C

Kering, sangat keras

4.

Warna :

a.

Horizon A1

Red 2,5YR 4/6

b.

Horizon A2

Dark Redish Brown 5 YR 3/4

c.

Horizon B

Dark Red 2,5 YR 3/6

d.

Horizon C

Yellowish Red 5 YR 4/6

Aerasi drainase (Redoks) :

a.

Horizon A1

Baik ( O2 )

b.

Horizon A2

Baik ( O2 )

c.

Horizon B

Baik ( O2 )

d.

Horizon C

Baik ( O2 )

Penetrasi (kg/cm2) :

6 kg/cm2

Vertikal :

Horisontal :

a.

Horizon A1

5,5 kg/cm2

b.

Horizon A2

6 kg/cm2

c.

Horizon B

7,5 kg/cm2

d.

Horizon C

9 kg/cm2

Sumber : Laporan Sementara

4. Sifat Kimia Tanah. Tabel 4.1.4 Pengamatan sifat kimia tanah Jumantono.
No. Deskripsi Keterangan

1.

Keasaman tanah

pH tanah

pH H2O :

a.

Horizon A

4,5 (Masam sangat kuat)

b.

Horizon A2

5 (Masam sangat kuat)

c.

Horizon B

5 (Masam sangat kuat)

d.

Horizon C

5 (Masam sangat kuat)

pH KCl :

a.

Horizon A1

6 (Agak masam)

b.

Horizon A2

6 (Agak masam)

c.

Horizon B

6 (Agak masam)

d.

Horizon C

6 (Agak masam)

2.

Bahan organik

a.

Horizon A1

Sangat banyak ( ++++ )

b.

Horizon A2

Banyak ( +++ )

c.

Horizon B

Sedikit ( ++ )

d.

Horizon C

Sangat sedikit ( + )

3.

Kadar kapur (CaCO3)

a.

Horizon A

Tidak ada ( 0 )

b.

Horizon A2

Tidak ada ( 0 )

c.

Horizon B

Tidak ada ( 0 )

d.

Horizon C

Tidak ada ( 0 )

4.

Konsentrasi I

Letak

Horizon A1

Jenis

Ukuran

Macam

Konsentrasi II

Letak

Horizon A2

Jenis

Ukuran

Macam

Konsentrasi III

Letak

Horizon B

Jenis

Nodul

Ukuran

Sangat kasar atau Very coarse (VC)

Macam

Bermangan (Mn)

Konsentrasi IV

Letak

Horizon C

Jenis

Nodul

Ukuran

Macam

Bermangan (Mn)

Sumber : Laporan Sementara

5. Analisis Lengas Tanah Tabel 4.1.5 Lengas Tanah Kering Angin Tanah Alfisol
Sampel A1:0,5mm A2:0,5mm B1:2mm B2:2mm C1:bongkah C2:bongkah A 51,761 gr 45,797 gr 52,899 gr 52,545 gr 55,081 gr 54,995 gr B 65,471 gr 61,576 gr 68,040 gr 66,864 gr 64,336 gr 65,592 gr C 63,985 gr 59,576 gr 64,795 gr 65,071 gr 62,846 gr 63,877 gr KL (%) 12,1 11,6 27,3 14,3 19,6 19,3

Sumber : Laporan Sementara KL = (65,471-63,985) x 100% (63,985-51,761) = 12,1 % KL = (61,576-59,576) x 100% (59,576-45,797) = 11,6 % KL = (68,040-64,795) x 100% (64,795-52,899) = 27,3 % KL = (66,864-65,071) x 100% (65,071-52,545) = 14,3 % KL = (64,336-62,846) x 100% (62,846-55,081) = 19,6 % KL = (65,592-63,877) x 100% (63,877-54,995) = 19,3 %

Tabel 4.1.6 Kapasitas Lapangan Tanah Alfisol

SAMPEL A B

A 55,770 gram 56,743 gram

B 78,933 gram 84,731 gram

C 71,230 gram 76,660 gram

Sumber : Laporan Sementara

KL = (78,933-71,230) x 100% (71,230-55,770) = 49,8 % KL = (84,731-76,660) x 100% (76,660-56,743) = 40,5 % Tabel 4.1.7 Perhitungan Kadar Lengas Maksimum Tanah Alfisol
a (gram) 52,744 b (gram) 115,394 c (gram) 79,759 d (gram) 47,981

Sumber : Laporan Sementara

KL maks = (115,394-52,744) (79,759-47,981) (79,759-47,981) = 97,1 %

Tabel 4.1.8 Batas Berubah Warna Tanah Alfisol


SAMPEL A B a (gram) 53,196 53,397 b (gram) 58,081 59,011 c (gram) 56,239 56,355

Sumber : Laporan Sementara

KL = (58,081-56,239) x 100% (56,239-53,196) = 60,5 % KL = (59,011-56,355) x 100% (56,355-53,397) = 89,7 % BBW 60,5% dan 89,7% jadi harkatnya amat sangat tinggi 6. Analisis pH Tanah Tabel 4.1.9 pH Tanah Alfisol
Ctka 0,5 mm pH H2O 7,37 (basa) pH KCl 5,79 (asam)

Sumber : Laporan Sementara Tanah yang diteliti adalah tanah Jumantono

Keterangan : pH KCl

= pH potensial pH H2O = pH aktual

B. Fakultas Pertanian UNS Deskripsi Lokasi : Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta Hari / Tanggal Waktu Profil Surveyor Cuaca Letak geografis Datum Ketinggian Denah
Lab. Pusat

si

: Minggu , 13 November 2011 : Pukul 13.00 15.00 WIB : I / Satu : Kelompok 36 : Cerah atau Sunny ( SU ) : 07 33 6,06 LS dan 110 51 50,2 BT : WGS 1984 : 114 m dpl :

F. Kedokteran Auditorium agrobudoyo Lokasi

Gambar 4.2.1 Denah Lokasi Praktikum Fakultas Pertanian UNS

Gambar 4.2.2 Profil III di Fakultas Pertanian UNS 1. Pencandraan Bentang Lahan

Tabel 4.2.1 Deskripsi Lingkungan Fakultas Pertanian UNS


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Deskripsi Lereng Arah Panjang lereng Fisiografi lahan Genangan Tutupan lahan Geologi Erosi Tingkat erosi Batuan permukaan Vegetasi Keterangan 18% , agak curam Utara 27 m Hasil aliran atau Alluvial (A) Tidak ada Rumput atau Grass ( G ) QaL atau Quarter alluvium Erosi permukaan atau Sheet erosion (S) Rendah (R) < 0,1%, jarak batuan tidak begitu jauh Pohon sawo (20%), rumput

(30%), semak (30%), jati (20%)

Sumber : Laporan Sementara

2.

Penyidikan Profil Tanah Tabel 4.2.2 Deskripsi profil tanah Fakultas Pertanian UNS
No. 1. Deskripsi Metode observasi Keterangan Irisan Lereng atauBeveled cut ( BC )

2.

Jeluk / solum tanah a. Lap 1 b. Lap 2 c. Lap 3 0 - 6 cm 6 cm - 19cm 19 cm 27cm batas lapisan/

3.

Ketegasan horison a. Lap 1 b. Lap 2 c. Lap 3

Baur atau Diffuse ( D ) Jelas atau Clear ( C ) Berangsur atau Gradual ( G ) batas lapisan/

4.

Topografi horizon a. Lap 1 b. Lap 2 c. Lap 3 Perakaran

Rata atau Smooth ( S ) Berombak atau Wavy ( W ) Berombak atau Wavy ( W )

5.

Ukuran : a. Lap 1 b. Lap 2 c. Lap 3 Jumlah : a. Lap 1 b. Lap 2 c. Lap 3 Banyak atau Many ( 3 ) Biasa atau Common ( 2 ) Halus atau Fine ( F ) Sedang atau Medium ( M ) Kasar atau Coarse (C )

Sedikit atau Few ( 1 )

Sumber : Laporan Sementara

3.

Sifat Fisika Tanah

Tabel 4.2.3 Pengamatan sifat fisika tanah Fakultas Pertanian UNS


No. Deskripsi Keterangan

1.

Tekstur tanah

a.

Lap 1

Geluh lempung pasiran atau Sandy clay loam (SCL)

Lempung pasiran atau Sandy clay (SC)

b. Lap 2

Lempung pasiran atau Sandy clay (SC)

c.

Lap 3

2.

Struktur tanah

Tipe :

Gumpal menyudut atau Angular blocky

a.

Lap 1

Gumpal menyudut atau Angular blocky

b. Lap 2

Gumpal membulat atau SubAngular blocky

c.

Lap 3

Ukuran :

Sangat halus atau Very fine ( VF )

a.

Lap 1

Sangat halus atau Very fine ( VF )

b. Lap 2

Halus atau Fine ( F )

c.

Lap 3

Derajat

Sedang atau Medium ( 2 )

a.

Lap 1

Kuat atau Strong ( 3 )

b. Lap 2

Kuat atau Strong ( 3 )

c.

Lap 3

3.

Konsistensi

Kering lunak

a.

Lap 1

Kering

b. Lap 2

Kering

c.

Lap 3

4.

Warna

Yellowish brown 10YR 5/4

a.

Lap 1

Brown 10YR 4/3

b. Lap 2

Dark yellowish brown 10YR 3/4

c.

Lap 3

5.

Aerasi drainase (Redoks)

Baik ( O2 )

a.

Lap 1

Baik ( O2 ) Baik ( O2 )

b. Lap 2 c. Lap 3

Sumber : Laporan Sementara

4.

Sifat Kimia Tanah.

Tabel 4.2.4 Pengamatan sifat kimia tanah Fakultas Pertanian UNS


No. 1. Deskripsi Kemasaman pH H2O a. Lap 1 b. Lap 2 c. Lap 3 pH KCl a. Lap 1 b. Lap 2 c. Lap 3 2. Bahan organik a. Lap 1 b. Lap 2 c. Lap 3 3. Kadar kapur (CaCO3) a. Lap 1 b. Lap 2 c. Lap 3 Tidak ada ( 0 ) Tidak ada ( 0 ) Tidak ada ( 0 ) Sangat banyak ( +++ ) Sedikit ( ++ ) Sangat sedikit ( + ) 6 ( Agak masam ) 5 ( Masam sangat kuat ) 5 ( Masam sangat kuat ) 5 ( Masam ) 5 ( Masam ) 5 ( Masam ) Keterangan

Sumber : Laporan Sementara

5. Analisis Lengas Tanah Tabel 4.2.5 Lengas Tanah Kering Angin Tanah Entisol
Sampel A1:0,5mm A2:0,5mm B1:2mm B2:2mm
C1:bongkah

A 54,937 gr 55,402 gr 57,912 gr 54,57 gr 56,040 gr 56,040 gr

B 67,827 gr 71,372 gr 74,156 gr 70,696 gr 67,425 gr 70,539 gr

C 65,771 gr 68,829 gr 72,238 gr 68,925 gr 66,691 gr 69,678 gr

KL (%) 18,97 18,93 13,38 12,34 6,891 6,802

C2:bongkah

Sumber : Laporan Sementara

KL

= (67,827-65,771) x 100% (65,771-54,937) = 18,97 %

KL

= (71,372-68,829) x 100% (68,829-55,402) = 18,93 %

KL

= (74,156-72,238) x 100% (72,238-57,912) = 13,38 %

KL

= (70,696-68,925) x 100% (68,925-54,57) = 12,34 %

KL

= (67,425-66,691) x 100% (66,691-56,040) = 6,891 %

KL

= (70,539-69,678) x 100% (69,678-57,021) = 6,802 %

Tabel 4.2.6 Kapasitas Lapangan Tanah Entisol


SAMPEL A B A 54,603 gram 55,006 gram B 65,239 gram 66,006 gram C 62,150 gram 62,841 gram

Sumber : Laporan Sementara

KL

= (65,239-62,150) x 100%

(62,150-54,603) = 40,93 % KL = (66,006-62,841) x 100% (62,841-55,006) = 40,39 % Tabel 4.2.7 Perhitungan Kadar Lengas Maksimum Tanah Entisol
a (gram) 56,332 b (gram) 115,991 c (gram) 90,308 d (gram) 55,961

Sumber : Laporan Sementara

KL maks = (115,991-56,332) (90,308-55,961) (90,308-55,961) = 73,73 %

Tabel 4.2.8 Batas Berubah Warna Tanah Entisol

Ctka 0,5 mm

a (gram) 55,897

b (gram) 59,025

c (gram) 58,618

Sumber : Laporan Sementara KL = (59,025-58,618) x 100% (58,618-55,897) = 14,65 % BBW 14,65% jadi harkatnya amat sangat rendah 6. Analisis pH Tanah Tabel 4.2.9 pH Tanah Entisol
Ctka 0,5 mm pH H2O 6,55 (agak masam) pH KCl 5,67 (masam)

Sumber : Laporan Sementara Tanah yang diteliti adalah tanah Jumantono Keterangan : pH H2O pH KCl = pH potensial

= pH actual

C. Jatikuwung Deskripsi Lokasi Lokasi Hari / Tanggal Waktu Pedon Surveyor Cuaca Letak geografis Datum Ketinggian Denah
Jatikuwung

: Jatikuwung, Gondangrejo : Minggu, 13 November 2011 : Pukul 07.00 09.00 WIB : I / Satu : Kelompok 36 : Cerah Sunny ( SU ) : 070 31 05,1 LS dan 1100 50 43,1 BT : WGS 1984 : 173 m dpl :

Kampus
RS. Dr. Oen Lokasi

Gambar 4.3.1 Denah Lokasi Praktikum Jatikuwung

Gambar 4.3.2 Pedon I daerah Jatikuwung 1. Pencandraan Bentang Lahan Tabel 4.3.1 Deskripsi Lingkungan Jatikuwung
No. Deskripsi Keterangan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Lereng Arah Panjang lereng Fisiografi lahan Genangan Tutupan lahan Geologi Erosi Tingkat erosi Batuan permukaan Vegetasi

20 %, agak curam Selatan, 1800 dari arah Utara 44,40 m Up lift (U) Tidak ada Rumput atau Grass (g) QVM, Quarter Vulkanik Merapi Erosi alur atau Riil erosion ( R ) Rendah (R) < 0,1 % Rumput (30%), pohon jati (30%), pohon mangga (10%), semak (30% )

Sumber: Laporan Sementara

2. Penyidikan Profil Tanah.


Tabel 4.3.2 Deskripsi pedon tanah Jatikuwung No.
1.

Deskripsi
Metode observasi

Keterangan
Lubang besar terbuka arau galianLarge open pit or quarry ( LP )

2.

Jeluk / solum tanah a. Horizon A b. Horizon B 16 cm 57 cm 7 cm 16 cm 0 7 cm

c. Horizon C1/B d. Horizon C2 3. Ketegasan horison a. Horizon A batas lapisan/

57 cm 100 cm

Baur atau Diffuse (D) Jelas atau Clear ( C )

b. Horizon B Baur atau Diffuse (D) c. Horizon C1/B Baur atau Diffuse (D) d. Horizon C2 Topografi batas lapisan/ horison 4. a. Horizon A b. Horizon B Berombak atau Wavy ( W ) c. Horizon C1/B Berombak atau Wavy ( W ) d. Horizon C2 Berombak atau Wavy ( W ) Perakaran Ukuran : 5. a. Horizon A b. Horizon B Sedang atau Medium ( M ) c. Horizon C1/B Sedang atau Medium ( M ) d. Horizon C2 Kasar atau Coarse ( C ) Jumlah : a. Horizon A Banyak atau Many ( 3 ) b. Horizon B Biasa atau Common ( 2 ) c. Horizon C1/B Halus atau Fine ( F ) Berombak atau Wavy ( W )

d. Horizon C2

Sedikit atau Few ( 1 ) Sedikit atau Few ( 1 )

Sumber: Laporan Sementara

3. Sifat Fisika Tanah Tabel 4.3.3 Pengamatan sifat fisika tanah Jatikuwung
No. Deskripsi Keterangan

1.

Tekstur tanah

a.

Horizon A

Lempung atau Clay ( C )

b.

Horizon B

Lempung atau Clay ( C )

c.

Horizon C1/B

Geluh lempungan atau Clay loam ( CL )

d.

Horizon C2

Geluh lempungan atau Clay loam ( CL )

2.

Struktur tanah

Tipe :

a.

Horizon A

Gumpal membulat atau Sub Angular Blocky (SBK)

b.

Horizon B

Gumpal membulat atau Sub Angular Blocky (SBK)

c.

Horizon C1/B

Gumpal membulat atau Sub Angular Blocky (SBK)

d.

Horizon C2

Gumpal membulat atau Sub Angular Blocky (SBK)

Ukuran :

a.

Horizon A

Sangat halus atau Very fine (VF)

b.

Horizon B

Sangat halus atau Very fine (VF)

c.

Horizon C1/B

Sangat halus atau Very fine (VF)

d.

Horizon C2

Sangat halus atau Very fine (VF)

Derajat :

a.

Horizon A

Sedang atau Medium ( 2 )

b.

Horizon B

Sedang atau Medium ( 2 )

c.

Horizon C1/B

Kuat atau Strong ( 3 )

d.

Horizon C2

Kuat atau Strong ( 3 )

3.

Konsistensi

a.

Horizon A

Kering, lunak

b.

Horizon B

Kering, lunak

c.

Horizon C1/B

Kering, lunak

d.

Horizon C2

Kering, lunak

4.

Warna

a.

Horizon A

2,5 YR 3/2 Dark grayish brown

b.

Horizon B

10 YR 3/2 Very dark grayish brown

c.

Horizon C1/B

5 YR 5/2 Olive gray

d.

Horizon C2

5 YR 6/3 Pale olive

5.

Aerasi drainase (Redoks)

a.

Horizon A

R2 atau Buruk

b.

Horizon B

R2 atau Buruk

c.

Horizon C1/B

R2 atau Buruk

d.

Horizon B2

R2 atau Buruk

6.

Penetrasi (kg/cm2)

Vertikal :

3,5 kg/cm2

Horisontal :

a.

Horizon O

3,5 kg/cm2

b.

Horizon A

4 kg/cm2

c.

Horizon C1/B

4,5 kg/cm2

d.

Horizon C2

4,5 kg/cm2

Sumber: Laporan Sementara

4. Sifat Kimia Tanah. Tabel 4.3.4 Pengamatan sifat kimia tanah Jatikuwung
No. Deskripsi Keterangan

1.

Kemasaman

pH H2O :

a.

Horizon O

6 ( Agak Masam )

b.

Horizon A

6 ( Agak Masam )

c.

Horizon C/B1

6 ( Agak Masam )

d.

Horizon C/B2

5 ( Masam Sangat Kuat )

pH KCl :

a.

Horizon O

6 ( Agak Masam )

b.

Horizon A

6 ( Agak Masam )

c.

Horizon C/B1

5 ( Masam Sangat Kuat )

d.

Horizon C/B2

5 ( Masam Sangat Kuat )

2.

Bahan organik

a.

Horizon A

Banyak ( +++ )

b.

Horizon B

Sedikit ( ++ )

c.

Horizon C1/B

Sangat sedikit ( + )

d.

Horizon C2

Sangat sedikit ( + )

3.

Kadar kapur (CaCO3)

a.

Horizon A

Tidak ada ( 0 )

b.

Horizon B

Tidak ada ( 0 )

c.

Horizon C1/B

Tidak ada ( 0 )

d.

Horizon C2

Tidak ada ( 0 )

4.

Konsentrasi I

Horizon A

Letak

Jenis

Ukuran

Macam

Konsentrasi II

Horizon B

Letak

Jenis

Ukuran

Macam

Konsentrasi III

Horizon C1/B

Letak

Jenis

Ukuran

Macam

Konsentrasi IV

Horizon C2

Letak

Jenis

Ukuran

Macam

Sumber: Laporan Sementara

5. Analisis Lengas Tanah Tabel 4.3.5 Lengas Tanah Kering Angin Tanah Vertisol
Sampel A1:0,5mm A2:0,5mm B1:2mm A 52,937 gr 52,656 gr 33,688 gr B 67,234 gr 64,617 gr 39,316 gr C 66,020 gr 63,563 gr 38,693 gr KL (%) 9,28 9,66 12,45

B2:2mm C1:bongkah C2:bongkah

51,77 gr 55,570 gr 55,085 gr

57,377 gr 72,387 gr 68,285 gr

56,784 gr 71,515 gr 68,138 gr

11,83 5,47 1,13

Sumber : Laporan Sementara KL = (67,234-66,020) x 100% (66,020-52,937) = 9,28 % KL = (64,617-63,563) x 100% (63,563-52,656) = 9,66 % KL = (39,316-38,693) x 100% (38,693-33,688) = 12,45 % KL = (57,377-56,784) x 100% (56,784-51,77) = 11,83 % KL = (72,387-71,515) x 100% (71,515-55,570) = 5,47 % KL = (68,285-68,138) x 100% (68,138-55,085) = 1,13 %

Tabel 4.3.6 Kapasitas Lapangan Tanah Vertisol


SAMPEL A B A 54,274 gram 53,897 gram B 65,820 gram 64,091 gram C 62,406 gram 60,706 gram

Sumber : Laporan Sementara

KL = (65,820-62,406) x 100% (62,406-54,274) = 44,44% KL = (64,091-60,706) x 100% (60,706-53,897) = 49,71 %

Tabel 4.3.7 Perhitungan Kadar Lengas Maksimum Tanah Vertisol


a (gram) 48,471 b (gram) 114,731 c (gram) 89,406 d (gram) 48,388

Sumber : Laporan Sementara

KL maks

= (114,731-48,471) (89,406-48,388) (89,406-48,388) = 61,54 %

Tabel 4.3.8 Batas Berubah Warna Tanah Vertisol


SAMPEL A B a (gram) 56,395 56,542 b (gram) 58,687 58,579 c (gram) 57,696 57,820

Sumber : Laporan Sementara KL = (58,687-57,696) x 100% (57,696-56,395) = 76,17 % KL = (58,579-57,820) x 100% (57,820-56,542) = 59,39 %

BBW % dan 59,39% jadi harkatnya amat sangat tinggi 6. Analisis pH Tanah Tabel 4.3.9 pH Tanah Vertisol

Ctka 0,5 mm

pH H2O 7,192 (basa)

pH KCl 6,4 (asam)

Sumber : Laporan Sementara Tanah yang diteliti adalah tanah Jumantono Keterangan : pH KCl = pH potensial pH H2O = pH actual

2. Pembahasan A. Lokasi Jumantono a. Pencandraan Bentang Lahan Cuaca pada saat praktikum di Jumantono cerah. Fisiografi lahan di daerah ini adalah Vulkanik yang dikarenakan hasil aktifitas/ endapan materi gunung berapi.

Vegetasi yang menutupi lahan meliputi Rumput (30 %), Jati(12%), Mangga (8%), Rambutan (10%), Kacang tanah (40%). Profil yang di amati adalah pedon 1 dengan posisi 7o 37 49,7 LS dan 110o 56 54,2 BT, serta ketinggian tempat 188 m dpl dengan menghadap ke arah timur laut. Penentuan posisi dan ketinggian tempat dengan menggunakan GPS. Tanah ini merupakan jenis tanah Alfisol yang memiliki kemiringan 9 % sehingga termasuk kategori sangat miring. Dengan tingkat kemiringan 9 % maka daerah ini memiliki resiko erosi yang rendah, dan jika terjadi erosi maka hanya terjadi di permukaan tanahnya. Hal ini disebabkan daerah ini merupakan daerah bebas genangan air yang selama ini tidak pernah di landa banjir. b. Deskripsi Profil Dalam pengamatan, di dapat jeluk sedalam 125 cm, yang di ukur menggunakan meteran dari kertas. Dari pedon yang dibuat pada tanah didapatkan 4 Lapisan, yatu lapisan A1, A2, B dan C. Lapisan dapat dibedakan dengan cara melihat perbedaan warna pada tiap lapisan tanah. Selain itu dapat juga dilakukan dengan menusuknusuk lapisan tanah menggunakan belati, jika kekerasan pada lapisan tanah sudah berbeda berarti lapisan tanah juga sudah berbeda. c. Sifat Fisika Penentuan kelas tekstur dapat di lakukan secara kualitatif (di lapangan) dan secara kuantitatif (di laboratorium). Penentuan tekstur secara kualitatif dapat dilakukan dengan cara membasahi tanah lalu dipijit-pijit, jika terasa kasar dan tajam tanah tersebut bertekstur pasir, jika terasa licin tanah tersebut bertekstur debu, dan jika terasa liat dan lengket tanah tersebur bertekstur lempung. Dari pengamatan didapatkan pada lap A1 bertekstur lempung, pada lap A2 bertekstur lempung debuan, pada lap Bbertekstur lempung debuan, pada lap C bertekstur lempung. Tekstur tanah menentukan tata air tanah berupa kecepatan ifiltrasi, penetrasi, dan kemampuan mengikat air. Tanah terbaik untuk pertanian adalah tekstur sedang (tekstur geluh). Struktur tanah merupakan susunan ikatan partikel tanah satu sama lain. Faktorfaktor yang mempengaruhi struktur tanah antara lain : pembasahan & pengeringan,

pembekuan & pencairan, aktivitas perakatan tanaman, kation terjerap, pengolahan tanah, dan bahan organik. Pengamatan struktur tanah di lapang meliputi : tipe struktur, kelas struktur, dan derajat struktur. Dari pengamatan didapatkan pada lap A1 dengan tipe gumpal membulat, ukurannya halus, dan derajad kekerasannya kuat. Pada lap A2 dengan gumpal membulat, ukurannya kasar, dan derajad kekerasannya sedang. Pada lapisan B dengan gumpal menyudut, ukurannya sedang, dan derajad kekerasannya sedang, pada lap C dengan struktur gumpal menyudut, ukuran struktur tanahnya kasar dan derajad kekerasannya kuat. Konsistensi adalah derajat kohesi dan adesi partikel tanah dan resistensi terhadap perubahan bentuk. Penentuan konsistensi tanah dapat dililakukan pada keadaan tanah basah, tanah lembap, dan tanah kering. Tekanan yang dilakukan dengan cara memeras, memijit, dan atau memirit tanah dalam keadaan yang sebenarnya di lapangan. Dari pengamatan dapat diketahui lahan dalam kondisi lembab dan pada lap A1 memiliki konsistensi sangat gembur, lap A2 memiliki konsistensi gembur, lapisan Bmemiliki konsistensi teguh, dan lap C berkonsistensi sangat teguh. Warna tanah merupakan salah satu sifat tanah yang mudah di lihat dan dapat menunjukkan sifat-sifat tanahnya. Warna tanah bersifat tidak murni karena merupakan warna gabungan dari komponen penyusun tanah. Faktor yang mempengaruhi warna tanah antara lain : kadar lengas & tingkat pengatusan, kadar bahan organik, dan kadar dan mutu mineral. Warna tanah secara langsung dapat dipakai untuk menksir tingkat pelapukan, menilai kandungan bahan organic, menilai keadaan drainase, melihat adanya horison pencucian dan horison pengendapan, dan menaksir banyaknya kandungan mineral. Penetapan warna tanah denganMunsell Soil Color Charts (MSCC), di mana terdapat tiga satuan yaitu hue ( menunjukkan warna utama tanah ), value ( menunjukkan derajat terangnya warna ), dan chroma ( menunjukkan warna atau perubahan kemurnian warna dari kelabu netral atau putih ). Setelah dilakukan pengamatan didapatkan hasil yaitu pada lap A1 2,5 YR 4/6, pada lapisan A2 5 YR 3/4, pada lap B 2,5 YR 3/6, pada lap C 5 YR 4/6. d. Sifat Kimia pH tanah merupakan indikator reaksi yang terjadi di dalam tanah. Nilai pH merupakan pembacaan logaritma ion H+ atau OH- yang ditangkap oleh alat

pengukur dari hasil pelepasan fraksi-fraksi tanah ketika diberikan larutan tertentu. Kegunaan mengetahui pH tanah adalah mengetahui tanaman apa saja yang cocok ditanam pada daerah tersebut. Uji keasaman tanah digunakan 2 chemikalia yaitu H2O untuk mengukur pH aktual/kemasaman aktif (jumlah ion H+ dalam larutan tanah) dan KCl untuk mengukur pH potensial/pH cadangan (jumlah ion H+ dalam larutan tanah dan berada di komplek pertukaran), dengan perbandingan tanah dan chemikalia 1 : 2,5. Semakin tinggi konsentrasi H+ maka semakin tinggi kemasaman reaksi tanah sehingga pHnya makin menurun. Dalam hal ini digunakan metode kaorimerti yaitu menggunakan kertas pH atau pH stick yang di celupkan pada larutan tanah. Terlebih dahulu contoh tanah dicampurkan dengan larutan H 2O dengan perbandingan tanah dengan air sekitar 1:2,5. Kemudian digojog hingga homogen dan didiamkan beberapa saat (sekitar 10 sampai 30 menit). pH stickdimasukkan ke dalam larutan tetapi jangan sampai terkena endapan dari tanah (hanya dibasahi dengan airnya). Hal yang sama juga dilakukan pada larutan KCl 1 N. Dari hasil pengamatan pH H2O pada horison A1 pH antara 4-5, horison A2, B dan C dengan pH 5, pada lapisan A1, A2, B, CpH KCl 6. Bahan organik merupakan salah satu komponen pokok dalam tanah karena bahan organik merupakan sumber sekaligus sebagai peyangga dari kesuburan tanah. Penentuan jumlah bahan organik secara kualitatif yaitu dengan mengamati banyaknya buih yang timbul setelah sampel tanah ditetesi H2O2 10 %, Bahan organik yang terdapat pada horison A1 sangat banyak, pada horison A2 banyak, pada horison B sedikit dan pada horison C sangat sedikit. Pada keempat horison tidak terdapat kapur karena tidak berbuih saat dilakukan percobaan. Aerasi dan drainase yang terdapat pada keempat horison baik. e. Analisis Lengas Tanah Tanah alfisol pada umumnya berkembang dari batu kapur, olivin, tufa dan lahar. Bentuk wilayah beragam dari bergelombang hingga tertoreh, tekstur berkisar antara sedang dan halus, drainasenya baik. Reaksi tanah berkisar antara agak masam hingga netral, kapasitas tukar kation dan basanya beragam dari rendah hingga tinggi, bahan organik pada umumnya sedang hingga rendah. Jeluk tanah dangkal hingga dalam, Mempunyai sifat kimia dan fisika relatif baik. Alfisol cukup tahan

dengan erosi. Alfisol adalah tanah relatif muda, masih banyak mengandung mineral primer yang mudah lapuk, mineral liat kristalin dan kaya akan unsur hara. Namun demikian, bahaya erosi dapat terjadi mengingat angka kadar lengas tanah ini kecil dan tanah ini banyak didaerah yang berlereng. Bahaya erosi juga dapat menyebabkan horison argilik muncul di permukaan dan tanah menjadi kurang baik. Air perlokasi juga tidak begitu banyak akibat pengendapan argillan. Hal ini menghambat air meresap lebih jauh ke dalam tanah. Dari percobaan lengas tanah kering angin didapat kadar lengas rata-rata sebesar 11,85% pada sampel tanah ukuran 0,5mm, pada sampel tanah ukuran 2mm didapat rata-rata lengas tanah kering angin sebesar 20,8% dan pada sampel bongkah sebesar 19,45%, hal ini menunjukan bahwa kadar lengas yang terkandung pada tanah alfisol kering angin sedikit. Pada kapasitas lapangan kadar lengas yang terkandung 49,8% dan 40,5% pada sampel tanah ukuran 2mm, ini menunjukan kadar lengas yang terkandung banyak, sedangkan pada lengas maksimum terkandung kadar lengas sebesar 97,1% dan pada batas berubah warna kurang lebih 60,5%dan 89,7%. f. Analisis pH Tanah pH tanah menunjukan intensitas keasaman suatu sistem tanah, sedangkan kapasitas keasaman menunjukkan takaran ion H+ terdisosiasi, ditambah H+ tidak terdisosiasi di dalam sisterm tanah. Dalam pengamatan ini mengunakan dua larutan, yaitu larutan air bebas ion atau aquades (H2O) dan larutan KCl 1 N. Dalam hal ini menggunakan menggunakan indikator pH meter yang dicelupkan pada larutan tanah, yang telah dicampur dengan larutan H2O dengan perbandingan tanah dengan air sekitar 1:2,5. hingga homogen dan didiamkan beberapa saat. Setelah itu pH meter dicelupkan, jangan sampai terkena endapannya. Dalam uji kemasaman menggunakan dua macam pH yaitu pH H 2O (pH aktual) dan pH KCl (pH potensial). pH aktual diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah. pH potensial diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah dan kompleks pertukaran ion. Semakin tinggi konsentrasi H+ maka semakin tinggi kemasaman reaksi tanah dan pH nya semakin menurun

atau rendah. Pada tanah alfisol kering angin diperoleh pH H2O sebesar 7,37. Dan pH KCl 5,79. B. Lokasi Kampus Fakultas Pertanian UNS a. Bentang Lahan Praktikum Ilmu Tanah di laksanakan di tiga tempat, kelompok 36melakukan praktikum pertama di Fakultas pertanian UNS. Cuaca pada saat praktikum cerah. Vegetasi yang menutupi lahan meliputi rumput (30%), pohon sawo (20%), jati (20%), semak (30%). Profil yang di amati dengan posisi 7o 33 6,46 LS dan 110o 51 50,2 BT, serta ketinggian tempat 114 m dpl dengan menghadap ke arah utara. Penentuan posisi dan ketinggian tempat dengan menggunakan GPS. Tanah di Fakultas Pertanian UNS merupakan jenis tanah Entisol yang memiliki kemiringan 18 % sehingga termasuk kategori sangat miring. Dengan tingkat kemiringan 18 % maka daerah ini memiliki resiko erosi yang rendah, dan jika terjadi erosi maka hanya terjadi di permukaan tanahnya. Hal ini disebabkan daerah ini merupakan daerah bebas genangan air yang selama ini tidak pernah di landa banjir. b. Deskripsi Porfil Tanah Entisol merupakan tanah dangkal di atas batuan keras sehingga dalam pengamatan, di dapat jeluk sedalam 27 cm, yang di ukur menggunakan meteran dari kertas. Dari profil yang dibuat pada tanah didapatkan 3 lapisan. Lapisan 1 dengan kedalaman 0-6 cm, lapisan 2 dengan kedalaman 6-19 cm, lapisan 3 dengan kedalaman 19-27 cm. Lapisan dapat dibedakan dengan cara melihat perbedaan warna pada tiap lapisan tanah. Selain itu dapat juga dilakukan dengan menusuknusuk lapisan tanah menggunakan belati, jika kekerasan pada lapisan tanah sudah berbeda berarti horison tanah juga sudah berbeda. Pada tanah ini belum terbentuk horison karena proses pelapukan batuannya belum sempurna . Pada tanah entisol disebut lapisan karena tanah tersebut belum mengalami pelapukan tingkat lanjut sehingga belum terbentuk horison-horison. Dapat diketahui juga pada profil terdapat perakaran yang memiliki jumlah dan ukuran yang sama pada tiap lapisannya. Pada lapisan 1 jumlah akarnya banyak

dengan ukuran halus, pada lapisan 2 jumlah akarnya sedang dengan ukuran sedang, pada lapisan 3 jumlah akarnyasedikit dengan ukuran kasar. c. Sifat Fisika Tanah Penentuan kelas tekstur dapat di lakukan secara kualitatif (di lapangan) dan secara kuantitatif (di laboratorium). Penentuan tekstur secara kualitatif dapat dilakukan dengan cara membasahi tanah lalu dipijit-pijit, jika terasa kasar dan tajam tanah tersebut bertekstur pasir, jika terasa licin tanah tersebut bertekstur debu, dan jika terasa liat dan lengket tanah tersebur bertekstur lempung. Dari pengamatan didapatkan pada lapisan 1 bertekstur geluh lempung pasiran, pada lapisan 2 bertekstur lempung berpasir, pada lapisan 3 bertekstur lempung berpasir. Tekstur tanah berhubungan langsung dengan perakaran karena jika teksturnya mengandung lempung akar sulit untuk menembus lapisan tanah tersebut. Stuktur tanah merupakan susunan ikatan partikel tanah satu sama lain. Faktorfactor yang mempengaruhi struktur tanah antara lain : pembasahan & pengeringan, pembekuan & pencairan, aktivitas perakatan tanaman, kation terjerap, pengolahan tanah, dan bahan organik. Pengamatan struktur tanah di lapang meliputi : tipe struktur, ukuranstruktur, dan derajat struktur. Dari pengamatan didapatkan pada lapisan 1dan 2 dengan tipe gumpal menyudut, ukurannya sangat halus, dan derajad kekerasan pada lapisan 1 sedang dan pada lapisan 2 kuat. Pada lapisan 3 didapatkan tipe struktur tanah gumpal membulat, dengan ukuran halus dan derajad kekerasan kuat. Konsistensi adalah derajat kohesi dan adesi partikel tanah dan resistensi terhadap perubahan bentuk. Penentuan konsistensi tanah dapat dililakukan pada keadaan tanah basah, tanah lembap, dan tanah kering. Tekanan yang dilakukan dengan cara memeras, memijit, dan atau memirit tanah dalam keadaan yang sebenarnya di lapangan. Dari pengamatan dapat diketahui lahan dalam kondisi lembab dan pada lapisan 1 memiliki konsistensi kering lunak, pada lapisan 2 dan 3 memiliki konsistensi kering. Konsistensi pada keadaan lembab merupakan struktur yang baik dan pengolahannya mudah. Warna tanah merupakan salah satu sifat tanah yang mudah di lihat dan dapat menunjukkan sifat-sifat tanahnya. Warna tanah bersifat tidak murni karena merupakan warna gabungan dari komponen penyusun tanah. Faktor yang

mempengaruhi warna tanah antara lain : kadar lengas & tingkat pengatusan, kadar bahan organik, dan kadar dan mutu mineral. Warna tanah secara langsung dapat dipakai untuk menaksir tingkat pelapukan, menilai kandungan bahan organik, menilai keadaan drainase, melihat adanya horison pencucian dan horison pengendapan, dan menaksir banyaknya kandungan mineral. Penetapan warna tanah denganMunsell Soil Color Charts (MSCC), di mana terdapat tiga satuan yaitu hue (menunjukkan warna utama tanah), value (menunjukkan derajat terangnya warna), dan chroma (menunjukkan warna atau perubahan kemurnian warna dari kelabu netral atau putih). Setelah dilakukan pengamatan didapatkan hasil yaitu pada lapisan 1 10 YR 5/4, pada lapisan 2 10 YR 4/3, pada lapisan 3 10 YR 3/4. Warna tanah semakin ke dalam semakin terang ini di karenakan bahan organik semakin ke dalam semakin berkurang.

d. Sifat Kimia Tanah

pH tanah merupakan indikator reaksi yang terjadi di dalam tanah. Nilai pH merupakan pembacaan lagaritma ion H+ atau OH- yang ditangkap oleh alat pengukur dari hasil pelepasan fraksi-fraksi tanah ketika diberikan larutan tertentu. Dalam pengamatan ini menggunakan dua larutan yaitu larutan air bebas ino atau aquades (H2O) dan larutan KCl 1 N. Dalam hai ini digunakan metode kaorimerti yaitu menggunakan kertas pH atau pHstick yang di celupkan pada larutan tanah. Terlebih dahulu contoh tanah dicampurkan dengan larutan H 2O dengan perbandingan tanah dengan air sekitar 1:2,5. Kemudian digojog hingga homogen dan didiamkan beberapa saat (sekitar 10 sampai 30 menit). pH stick dimasukkan ke dalam larutan tetapi jangan sampai terkena endapan dari tanah (hanya dibasahi dengan airnya). Hal yang sama juga dilakukan pada larutan KCl 1 N. Dari hasil pengamatan pH H2O pada lapisan 1,2, dan 3 adalah 5 dan pH KCl darilapisan 1 adalah 6 dan lapisan 2,3 adalah 5. Bahan organik merupakan salah satu komponen pokok dalam tanah karena bahan organik merupakan sumber sekaligus sebagai peyangga dari kesuburan tanah. Penentuan jumlah bahan organik secara kualitatif yaitu dengan mengamati banyaknya buih yang timbul setelah sampel tanah ditetesi H2O2 10 %. Dari pengamatan diperoleh data bahwa pada lapisan 1 memiliki kandungan bahan organik yang banyak, lapisan 2 memiliki kandungan bahan organik sedikit, dan pada lapisan 3 memilikikandungan bahan organik yang sangat sedikit.

Selain kadar bahan organik tanah yang dapat diindikasikan sebagai tingkat kesuburan tanah, kadar kapur dalam tanah juga dianalisis sebagai indikasi tingkat kandungan kapur yang bisa mempengaruhi reaksi kimia dalam tanah. Pengaruh kapur terhadap tanah dapat meliputi proses pembentukan agregat tanah, pengikatan hara oleh tanah, dan parameter tanah lain yang berhubungan dengan kegiatan biologi dalam tanah. Penentuan kadar kapur secara kualitatif yaitu dengan mengamati buih yang timbul setelah sampel tanah ditetesi HCl 10 %. Apabila tanah mengandung kapur maka akan terjadi pembuihan. Dari pengamatan diperoleh data bahwa pada lapisan-lapisan tanah ini tidak terdapat kandungan kapurnya. Hal ini di karenakan tanah ini berasal dari batuan alluvium tua. Di dalam tanah biasanya ditemukan adanya sekumpulan bahan tanah baik yang berbentuk tertentu maupun yang tidak beraturan. Biasanya bahan tanah tersebut mempunyai warna yang kontras dengan warna tanah sekitarnya. Bahan ini merupakan akumulasi bahan-bahan tertentu baik yang baru terbentuk maupun yang sudah lama terbentuk dan mengeras. Dari pengamatan, tanah di Fakultas Pertanian UNS tidak terdapat konsentrasi karena tanah tersebut merupakan tanah yang belum mengalami pelapukan batuan yang sempurna dan merupakan tanah yang baru saja terbentuk.

e. Analisis Lengas Tanah

Tanah Entisol adalah tanah endapan sungai atau rawa-rawa pantai. Tanah Entisol yang berasal dari bahan alluvium umumnya merupakan tanah yang subur. Perbaikan deainase di daerah rawa-rawa menyebabkan munculnya cat clay yang sangat masam akibat oksidasi sulfide dan sulfat. Dari percobaan lengas tanah kering angin tanah entisol, didapat kadar lengas rata-rata sebesar 18,95% pada sampel tanah ukuran 0,5mm, pada sampel tanah ukuran 2mm didapat rata-rata lengas tanah kering angin sebesar 12,86% dan pada sampel bongkah sebesar 6,864%, hal ini menunjukan bahwa kadar lengas yang terkandung pada tanah entisolkering angin sedikit. Pada kapasitas lapangan kadar lengas yang terkandung 40,93% dan 40,39% pada sampel tanah ukuran 2mm, ini menunjukan kadar lengas yang terkandung banyak, sedangkan pada lengas maksimum terkandung kadar lengas sebesar 73,73% dan pada batas berubah warna kurang lebih 14,65%.

f. Analisis pH Tanah

pH tanah menunjukan intensitas keasaman suatu sistem tanah, sedangkan kapasitas keasaman menunjukkan takaran ion H+ terdisosiasi, ditambah H+ tidak terdisosiasi di dalam sisterm tanah. Dalam pengamatan ini mengunakan dua larutan, yaitu larutan air bebas ion atau aquades (H2O) dan larutan KCl 1 N. Dalam hal ini menggunakan menggunakan indikator pH meter yang dicelupkan pada larutan tanah, yang telah dicampur dengan larutan H2O dengan perbandingan tanah dengan air sekitar 1:2,5. hingga homogen dan didiamkan beberapa saat. Setelah itu pH meter dicelupkan, jangan sampai terkena endapannya. Dalam uji kemasaman menggunakan dua macam pH yaitu pH H 2O (pH aktual) dan pH KCl (pH potensial). pH aktual diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah. pH potensial diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah dan kompleks pertukaran ion. Semakin tinggi konsentrasi H+ maka semakin tinggi kemasaman reaksi tanah dan pH nya semakin menurun atau rendah. Pada tanah entisol kering angin diperoleh pH H2O sebesar yaitu 6,55 dan pH KCl 5,67. C. Lokasi Jatikuwung a. Pencandraan Bentang Lahan Kelompok 36 melakukan praktikum di Jatikuwung hari Minggu. Cuaca pada saat praktikum cerah. Fisiografi lahan di daerah ini adalah up liftsehingga banyak mengandung kapur. Vegetasi yang menutupi lahan meliputi Rumput ( 30 % ), pohon mangga ( 10% ), dan pohon jati ( 30% ), semak (30%). Profil yang di amati adalah profil dengan posisi 7o 31 5,1` LS dan 110o 50 43,1 BT, serta ketinggian tempat 173 m dpl dengan menghadap ke arah selatan. Penentuan posisi dan ketinggian tempat dengan menggunakan GPS. Tanah di Jatikuwung merupakan jenis tanah Vertisol yang memiliki kemiringan 20 %. Dengan tingkat kemiringan -20 % maka di daerah tidak ada erosi. Hal ini disebabkan daerah ini merupakan daerah bebas genangan air yang selama ini tidak

pernah di landa banjir. Tanah jenis Vertisol ini bila pada kondisi kering akan timbul retak-retak cukup dalam. b. Deskripsi Profil Dalam pengamatan, di dapat jeluk sedalam 100 cm, yang di ukur menggunakan meteran. Dari pedon yang dibuat pada tanah didapatkan 4Horison. Horison A dengan kedalaman 0-7 cm, pada Horison B dengan kedalaman 7-16 cm, pada Horison C1 dengan kedalaman 16-57 cm dan Horison C2 pada kedalaman 57100 cm. Lapisan dapat dibedakan dengan cara melihat perbedaan warna pada tiap lapisan tanah. Selain itu dapat juga dilakukan dengan menusuk-nusuk lapisan tanah menggunakan belati, jika kekerasan pada lapisan tanah sudah berbeda berarti horison tanah juga sudah berbeda. Dapat diketahui juga pada profil terdapat perakaran yang memiliki jumlah dan ukuran yang relatif berbeda pada tiap lapisannya. Pada HorisonA jumlah akarnya banyak dengan ukuran halus, Pada Horison B jumlah akarnya sedang dengan ukuran sedang, pada Horison C jumlah akarnya sedikit. Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan daya tembus akar tanaman oleh hal- hal tertentu seperti ketersediaan unsur-unsur hara dan air pada tanah.

c. Sifat Fisika Tanah Penentuan kelas tekstur dapat di lakukan secara kualitatif (di lapangan) dan sedara kuantitatif (di laboratorium). Penentuan tekstur secara kualitatif dapat dilakukan dengan cara membasahi tanah lalu dipijit-pijit, jika terasa kasar dan tajam tanah tersebut bertekstur pasir, jika terasa licin tanah tersebut bertekstur debu, dan jika terasa liat dan lengket tanah tersebur bertekstur lempung. Dari pengamatan didapatkan pada Horison A dan Horison B bertekstur lempung, sedangkan pada Horison C1 dan C2bertekstur geluh lempungan. Tekstur tanah menentukan tata air tanah berupa kecepatan ifiltrasi, penetrasi, dan kemampuan mengikat air. Tanah terbaik untuk pertanian adalah tekstur sedang ( tekstur geluh ).

Sturktur tanah merupakan susunan ikatan partikel tanah satu sama lain. Faktorfactor yang mempengaruhi struktur tanah antara lain : pembasahan & pengeringan, pembekuan & pencairan, aktivitas perakatan tanaman, kation terjerap, pengolahan tanah, dan bahan organik. Pengamatan struktur tanah di lapang meliputi : tipe struktur, kelas struktur, dan derajat struktur. Dari pengamatan didapatkan pada Horison A dengan tipe gumpal menmbulat, ukurannya sangat halus, dan derajad kekerasannya medium. Pada Horison B dengan tipe gumpal membulat, ukurannya sangat halus, dan derajad kekerasannya medum. Pada HorisonC1 dengan tipe gumpal membulat, ukurannya sangat halus, dan derajad kekerasannya kuat. Pada Horison C2 dengan tipe gumpal membulat, ukurannya sangat halus dan derajad kekerasannya kuat. Struktur tanah yang dikehendaki tanaman adalah struktur remah karena perbandingan bahan padat dan ruang pori kurang lebih seimbang. Konsistensi adalah derajat kohesi dan adesi partikel tanah dan resistensi terhadap perubahan bentuk. Penentuan konsistensi tanah dapat dililakukan pada keadaan tanah basah, tanah lembap, dan tanah kering. Tekanan yang dilakukan dengan cara memeras, memijit, dan atau memirit tanah dalam keadaan yang sebenarnya di lapangan. Dari pengamatan dapat diketahui lahan dalam kondisi lembab dan pada keempat horison memiliki konsistensi lunak. Konsistensi Pada keadaan lembap merupakan struktur yang baik dan pengolahannya mudah. Warna tanah merupakan salah satu sifat tanah yang mudah di lihat dan dapat menunjukkan sifat-sifat tanahnya. Warna tanah bersifat tidak murni karena merupakan warna gabungan dari komponen penyusun tanah. Faktor yang mempengaruhi warna tanah antara lain : kadar lengas & tingkat pengatusan, kadar bahan organik, dan kadar dan mutu mineral. Warna tanah secara langsung dapat dipakai untuk menksir tingkat pelapukan, menilai kandungan bahan organik, menilai keadaan drainase, melihat adanya horison pencucian dan horison pengendapan, dan menaksir banyaknya kandungan mineral. Penetapan warna tanah denganMunsell Soil Color Charts (MSCC), di mana terdapat tiga satuan yaitu hue (menunjukkan warna utama tanah), value (menunjukkan derajat terangnya warna), dan chroma (menunjukkan warna atau perubahan kemurnian warna dari kelabu netral atau putih ). Setelah dilakukan pengamatan didapatkan hasil yaitu pada horison A 2,5 YR 3/2, pada horison B 10 YR 3/2, pada horison C1 5 YR 5/2 ,dan

pada horison C2 5 YR 6/3. Warna tanah semakin ke dalam semakin terang ini di karenakan bahan organiksemakin ke dalam semakin berkurang. d. Sifat Kimia Tanah pH tanah merupakan indikator reaksi yang terjadi di dalam tanah. Nilai pH merupakan pembacaan lagaritma ion H+ atau OH- yang ditangkap oleh alat pengukur dari hasil pelepasan fraksi-fraksi tanah ketika diberikan larutan tertentu. Dalam pengamatan ini menggunakan dua larutan yaitu larutan air bebas ino atau aquades (H2O) dan larutan KCl 1 N. Dalam hai ini digunakan metode kaorimerti yaitu menggunakan kertas pH atau pHstick yang di celupkan pada larutan tanah. Terlebih dahulu contoh tanah dicampurkan dengan larutan H 2O dengan perbandingan tanah dengan air sekitar 1:2,5. Kemudian digojog hingga homogen dan didiamkan beberapa saat (sekitar 10 sampai 30 menit). pH stick dimasukkan ke dalam larutan tetapi jangan sampai terkena endapan dari tanah (hanya dibasahi dengan airnya). Hal yang sama juga dilakukan pada larutan KCl 1 N. Dari hasil pengamatan pH H2O pada horisonA, B, C1 mengandung 6, pada horisonC2 mengandung 5, dan pH KCl dari horisonA, B adalah 6, sedangkan pada horisonC1 dan C2 adalah 5. Bahan organik merupakan salah satu komponen pokok dalam tanah karena bahan organic merupakan sumber sekaligus sebagai peyangga dari kesuburan tanah. Penentuan jumlah bahan organik secara kualitatif yaitu dengan mengamati banyaknya buih yang timbul setelah sampel tanah ditetesi H2O2 10 %. Dari pengamatan diperoleh data bahwa pada hr 0 memiliki kandungan bahan organic yang banyak, horizon A memiliki kandungan bahan organik banyak, dan pada horizon B memiliki kandungan bahan organik sedikit, sedangkan pada horison C1 dan C2 memiliki kandungan bahan organik sangat sedikit. Selain kadar bahan organik tanah yang dapat diindikasikan sebagai tingkat kesuburan tanah, kadar kapur dalam tanah juga dianalisis sebagai indikasi tingkat kandungan kapur yang bisa mempengaruhi reaksi kimia dalam tanah. Pengaruh kapur terhadap tanah dapat meliputi proses pembentukan agregat tanah, pengikatan hara oleh tanah, dan parameter tanah lain yang berhubungan dengan kegiatan biologi dalam tanah. Penentuan kadar kapur secara kualitatif yaitu dengan mengamati buih yang timbul setelah sampel tanah ditetesi HCl 10 %. Apabila tanah mengandung kapur maka akan terjadi pembuihan. Dari pengamatan diperoleh data

bahwa pada lapisan-lapisan tanah ini tidak terdapat kandungan kapurnya. Hal ini di karenakan tanah ini berasal dari batuan alluvium tua. e. Analisis Lengas Tanah Tanah Vertisol merupakan tanah-tanah berwarna gelap dengan tekstur liat dan menyebar luas di daerah beriklim tropis dan subtropis dengan curah hujan 1500 mm pertahun. Tanah Vertisol memiliki sifat khusus yakni mempunyai sifat vertik, hal ini disebabkan terdapat mineral liat tipe 2:1 yang relatif. Karena itu dapat mengkerut (Shrinking) jika kering dan mengembang (Swelling) jika jenuh air. Vertisol di Indonesia terbentuk pada tempat-tempat yang berketinggian tidak lebih dari 300 meter di atas permukaan laut, temperature tahunan rata-rata 250 C dengan curah hujan kurang dari 1500 mm/tahun. Vertisol memiliki potensi cukup baik, akan tetapi yang menjadi kendala adalah dalam hal pengolahan tanahnya yang relatif cukup sulit, bersifat sangat lekat bila basah dan sangat keras bila dalam keadaan kering. Dari percobaan lengas tanah kering angin didapat kadar lengas rata-rata sebesar 9,47% pada sampel tanah ukuran 0,5mm, pada sampel tanah ukuran 2mm didapat rata-rata lengas tanah kering angin sebesar 12,14% dan pada sampel bongkah sebesar 3,3%, hal ini menunjukan bahwa kadar lengas yang terkandung pada tanah vertisol kering angin sedikit. Pada kapasitas lapangan kadar lengas yang terkandung 44,44%dan 49,71% pada sampel tanah ukuran 2mm, ini menunjukan kadar lengas yang terkandung banyak, sedangkan pada lengas maksimum terkandung kadar lengas sebesar 61,54% dan pada batas berubah warna kurang lebih 76,17% dan 59,39%.

f. Analisis pH Tanah pH tanah menunjukan intensitas keasaman suatu sistem tanah, sedangkan kapasitas keasaman menunjukkan takaran ion H+ terdisosiasi, ditambah H+ tidak terdisosiasi di dalam sisterm tanah.

Dalam pengamatan ini mengunakan dua larutan, yaitu larutan airbebas ion atau aquades (H2O) dan larutan KCl 1 N. Dalam hal ini menggunakan menggunakan indikator pH meter yang dicelupkan pada larutan tanah, yang telah dicampur dengan larutan H2O dengan perbandingan tanah dengan air sekitar 1:2,5. hingga homogen dan didiamkan beberapa saat. Setelah itu pH meter dicelupkan, jangan sampai terkena endapannya. Dalam uji kemasaman menggunakan dua macam pH yaitu pH H 2O (pH aktual) dan pH KCl (pH potensial). pH aktual diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah. pH potensial diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah dan kompleks pertukaran ion. Semakin tinggi konsentrasi H+ maka semakin tinggi kemasaman reaksi tanah dan pH nya semakin menurun atau rendah. Pada tanah vertisol kering angin diperoleh pH H2O sebesar 7,192. Dan pH KCl 6,4.

VI. A. Jumantono

KOMPERHENSIF

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan di Jumantono, terdapat sifat sifat yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Melalui diskripsi lingkungan, fisiografi lahan di daerah ini trjadi akibat adanya proses vulkanisme dari Gunung Lawu kala itu dan dalam waktu yang lama membentuk bahan induk tanah vulkan pada daerah yang miringyang kemudian diolah manusia menjadi hampir datar, dengan ketinggian tempat 188 m dpl. Kesuburan tanah sangat menetukan adanya vegetasi yang dapat bertahan pada suatu jenis tanah. Pada profil tanah yang diamati, kesuburan fisik tanahnya adalah baik yang ditandai oleh struktur dan tekstur tanahnya yang memungkinkan terciptanya aerasi dan drainase sedang. Tingkat kesuburan kimia pada tanah ini juga baik, yang ditandai dengan pH yang cukup asam sehingga memungkinkan adanya mikrobia yang dapat bertahan hidup untuk melakukan proses kimia yang akan menghasilkan senyawa senyawa yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Dari tingkat kesuburan fisik dan kimia yang baik akan menghasilkan kesuburan biologi yang baik pula, yaitu adanya kegiatan mikrobia yang melakukan proses dekomposisi bahan bahan kimia yang nantinya sangat bermanfaat bagi tumbuhan.
63

Profil tanah diketahi bahwa tanah tempat praktikum mengalami erosi bentuk tingkat permukaan bebas dengan kata lain tidak terjadi erosi. Bentuk ini menyebabkan tanah tahan erosi, banjir dan genangan. Dari hasil pengamatan fisika tanah, pada profil tanah tiap lapisan memiliki unsur tekstur yang berbeda beda. Tekstur tanah merupakan perbandingan relatif tiga golongan dasar partikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara fraksi lempung, debu dan pasiran. Secara garis besar tekstur tanah yang ada di daerah Jumantono ini adalah lempung. Tekstur tanah memiliki kaitan erat dengan struktur tanah dan konsistensi tanah, sehingga berguna untuk menentukan cara pengolahan tanah yang efisien dan penetrasi tanaman serta air udara di lapisan bawah tanah. Tekstur tanah juga dapat digunakan untuk mengetahui ketersediaan air dan unsur hara dalam tanah.

Warna tanah merupakan sifat fisika tanah yang dapat digunakan untuk mengetahui sifat kimianya. Hal ini berkaitan pula dengan kandungan bahan organik (BO). Warna tanah yang gelap memiliki kandungan BO yang tinggi. Sebaliknya warna tanah yang cerah memiliki kandungan BO yang rendah. Selain itu warna tanah dapat digunakan sebagai penunjuk batas lapisan tanah pada profil. Warna tanah juga menunjukan adanya bahan kasar pada tanah yang memberikan warna lain. Konsentrasi atau bercak merupakan keadaan warna tanah yang lebih gelap dibandingkan dengan sekitarnya secara vertikal. Bercak tanah merupakan gabungan dari konkresi tanah, di mana konkresi merupakan pencucian basa basa mineral oleh air hujan yang terjadi di dalam tanah. Pada kedalaman tertentu, bercak ini merugikan tanaman, misalnya jika bercak banyak terdapat pada lapisan yang banyak mengandung BO tinggi dimana banyak perakaran pada daerah itu, maka tanaman lama kelamaan tidak daat bertahan karena kondisi basa pada bercak tersebut tidak memungkinkan adanya kegiatan mikrobia yang menghasilkan senyawa senyawa penting bagi tanaman. Pada lokasi ini yang timbul adalah bercak bermangan (Mn). Secara tidak langsung aerasi dan drainase tanah dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah. Jika tanah padat maka aerasi dan drainasenya juga buruk. Begitu pula sebaliknya. aerasi dan drainase menentukan kadar pH dalam tanah. Jika aerasi dan drainse baik, tanah cenderung asam. B. Kampus Fakultas Pertanian UNS Tanah di wilayah kampus fakultas pertanian UNS termasuk dalam kategori tanah entisol yang proses pembentukan tanahnya berupa proses pelapukan bahan organik dan bahan mineral di permukaan tanah, dan pembentukan struktur tanahnya karena pengaruh bahan organik tersebut (sebagai perekat). Hasil pengamatan menunjukkan pH tanah yang diperoleh baik menggunakan indikator H2O maupun KCl antara 5 sampai 6. Ini menandakan bahwa tanah tersebut bersifat masan yang mendekati netral sehingga vegetasi dapat tumbuh dengan subur.

Pada tanah tersebut, semakin kecil ukuran partikel pada tingkat suspensinya akan memiliki ukuran partikel yang bervariasi dari yang halus sampai kasar. Hal tersebut sesuai yang terlihat pada hasil pengamatan pada struktur tanah yang memiliki tipe, ukuran dan derajad yang bervariasi. Tanah entisol yang mempunyai tekstur halus, berkadar bahan organic dan nitrogen lebih rendah daripada tanah yang bertekstur sangat halus, seperti pada hasil pengamatan. Hal tersebut disebabkan oleh kadar air yang lebih rendah dan kemungkinan oksidasi yang lebih baik dalam tanah yang bertekstur kasar juga penambahan alamiah bahan organik kurang dari tanah yang lebih halus. Tingginya kandungan bahan organik ditunjukkan oleh warna tanah yang gelap pada lokasi ini. Banyaknya kandungan bahan organik akan semakin meningkatkan kesuburan tanah sehingga akan berpengaruh pada banyaknya vegetasi yang tumbuh, seperti terlihat pada wilayah ini. Hal itu berpengaruh pula untuk meminimalisir terjadinya erosi. Sehingga pada lokasi ini yang terjadi hanya erosi permukaan dengan tingkat yang rendah. Kandungan bahan organik terbanyak pada lapisan teratas. Semakin ke dalam lapisan tanah, kandungan bahan organik semakin sedikit yang berpengaruh pula terhadap aerasi drainase tanah yaitu semakin ke dalam aerasi drainase semakin buruk seperti terlihat pada hasil pengamatan. Hal lain yang berpengaruh terhadap aerasi drainase adalah struktur tanah. Struktur tanah yang baik dimana perbandingan antara bahan padat dan ruang pori seimbang, Struktur tanah yang baik mendukung aerasi drainese yang baik pula. Konsistensi tanah dipengaruhi oleh tekstur dan strukturnya, pada horison tanah terdalam konsistensinya sangat teguh. Adapun pentingnya mengetahui konsistensi tanah adalah untuk menentukan cara penggarapan tanah yang efisien dan penetrasi akar tanaman di lapisan tanah bawahan.

C. Jatikuwung Tanah di Jatikuwung termasuk dalam kategori tanah vertisol yang umumnya mempunyai tekstur lempung. Pada vertisol variasi kandungan lempung dengan kedalaman tanah berasal dari bahan induk.

Pada hasil pengamatan dapat diketahui warna tanah adalah gelap, yang terjadi akibat pengaruh BO yang dikandungnya, terutama yang berkaitan dengan liat halus dan akan tahan terhadap oksidasi H2O2. Vertisol mempunyai tekstur yang berat sehingga mengalami kesukaran dalam hal pengolahan tanah. Hal ini disebabkan karena kandungan mineral liat 2:1 yang dominan, sehingga pada saat kering tanah menjadi sangat keras dan pada saat basah tanah menjadi lekat. Dalam pengukuran pH pada tanah ini, diketahui bahwa pH tanah mendekati netral, baik menggunakan indikator H2O maupun KCl diperoleh hasil yang sama. Dengan kemiringan lereng sebesar -20% memungkinkan terjadinya erosi alur dengan tingkat rendah yang berpengaruh terhadap aerasi drainase tanah, yaitu semakin dalam horison tanah, aerasi drainase tanahnya semakin buruk. Tingginya kandungan bahan organik ditunjukkan oleh warna tanah yang gelap pada lokasi ini. Banyaknya kandungan bahan organik akan semakin meningkatkan kesuburan tanah sehingga akan berpengaruh pada banyaknya vegetasi yang tumbuh, seperti terlihat pada wilayah ini. Semakin ke dalam lapisan tanah, kandungan bahan organik semakin sedikit yang berpengaruh pula terhadap aerasi drainase tanah yaitu semakin ke dalam aerasi drainase semakin buruk seperti terlihat pada hasil pengamatan. Hal lain yang berpengaruh terhadap aerasi drainase adalah struktur tanah. Struktur tanah yang baik dimana perbandingan antara bahan padat dan ruang pori seimbang, Struktur tanah yang baik mendukung aerasi drainese yang baik pula. Dari hasil praktikum yang dilakukan pada ketiga lokasi, dapat diketahui adanya perbedaan jenis tanah. Sehingga berpengaruh terhadap kesuburan tanah, sifat fisika dan sifat kimianya. Sifat sifat tersebut saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Pada lokasi kampus, diketahui bahwa jenis tanah tersebut adalah tanah entisols (menurut USDA), fluvisols (menurut FAO/UNESCO), dan alluvial (menurut PPT).Tanah ini memiliki geologi bahan alluvium (QA) dengan berbahan induk dari abu vulkan, pasir, pantai atau bahan sedimen. Berbeda halnya dengan jenis tanah di lokasi kedua yaitu di Jumantono yang berjenis tanah alfisols (menurut USDA), ferasols (menurut FAO/UNESCO), dan latosols (menurut PPT). Tanah ini memiliki geologi Qvl yaitu, batuan gunung api Lawu. Alfisols secara potensial termasuk tanah yang subur, meskipun bahaya erosi perlu mendapat perhatian. Untuk peningkatan

produksi masih diperlukan usaha-usaha intensifikasi antara lain pemupukan dan pemeliharaan tanah serta tanaman yang sebaik-baiknya. Sedangkan untuk lokasi ketiga yaitu wilayah Jatikuwung memiliki jenis tanah vertisols (menurut USDA), vertisols (menurut FAO/UNESCO), dan grumusols (menurut PPT). Tanah ini memiliki geologi Qvm yaitu, batuan gunung api Merapi. Vertisols secara potensial termasuk tanah yang subur karena berkembang dari abu vulkanis, yaitu dari gunung Merapi. Dari perbedaan jenis tanah tersebut dapat diketahui bahwa sifat-sifat fisika dan kimiannya pun berbeda-beda. Dari ketiga lokasi itu, Jatikuwung adalah lokasi yang memiliki kemiringan lereng tertinggi. Sedangkan untuk lokasi tersubur adalah tanah di wilayah Jumantono, karena merupakan tanah alfisols yang berbahan induk dari batuan gunung api Lawu. Selain itu tanah di wilayah tersebut telah mengalami campur tangan pengolahan manusia karena digunakan untuk lahan percobaan sehingga berpengaruh terhadap sifat kimia dan fisikanya. Seperti teksturnya yang geluh (remah) pada semua horison, sangat subur untuk pertumbauhan tanaman. Berbeda halnya dengan tanah kampus dan Jatikuwung yang rata-rata bertektur lempung. Selain itu hal lain yang membedakan adalah warna tanah pada masing-masing lokasi yang berbeda-beda. Warna tanah ini berbeda karena pengaruh berbagai faktor, seperti vegetasi tanaman, geologi dan erosi yang terjadi. Untuk konsistensi berpengaruh pada perakaran yang meliputi jumlah dan ukurannya, semakin teguh konsistensi, ukuran perakaran semakin kecil dengan jumlah semakin sedikit. Hal itu terlihat pada hasil pengamatan di setiap lokasi. Bahan organik yang terkandung pada masing-masing horison juga berpengaruh terhadap kesuburan tanah tersebut. Bahan organik itu juga dipengaruhi pula oleh geologi pembentuk tanah. Semakin banyak bahan organik maka tanah itu semakin subur. Untuk kadar kemasaman pada masing-masing lokasi hampir sama yaitu kurang dari 7, baik menggunakan indikator H2O maupun KCl. Untuk tanah di wilayah Jatikuwung dapat mengalami pecah-pecah pada saat kering dan mengembang di saat basah, sifat ini tidak terlihat pada tanah di lokasi yang lain, baik kampus maupun Jumantono. Hal itu tidak lepas dari pengaruh batuan pembentuk tanah tersebut.

Perbedaan-perbedaan yang terlihat pada masing-masing likasi ini, menunjukkan adanya berbedaan pula pada sifat kimia dan fisikanya. Sehingga tingkat kesuburan bagi pertumbuhan tanaman pun berbeda-beda pula.

V. 1.

KESIMPULAN

Lokasi I : Jumantono

a. Tanah di tempat praktikum Jumantono mempunyai jenis tanah alfisol dan agak miring. b. Tekstur tanah pada horison A1 lempung , horison A2 lempungan debuan,horison B lempung debuan , horison C lempung. c. Konsistensi tanah pada horison A1 sangat gembur, horison A2 gembur,horison B teguh, horison C sangat teguh. d. Kemasaman tanah pada profil yang diamati a. pH H2O

Pada horison A1 pH tanah 4-5, pada lapisan A2, B dan C mempunyai pH yang sama yaitu 5. b. pH KCl Pada semua horison memiliki pH KCl yang sama yaitu 6. 2. Lokasi II : Kampus FP

a. Tanah di tempat praktikum Kampus FP mempunyai jenis tanah entisol dengan relief hampir datar. b. Tekstur tanah pada lapsan 1 geluh lempung pasiran, lapisan 2 lempung pasiran, dan lapisan 3 lempung pasiran. c. Struktur tanah pada lapisan 1 dan 2 gumpal menyudut dan lapisan 3 gumpal membulat. d. Kemasaman tanah pada profil yang diamati a) pH H2O Pada lapisan 1 pH tanah 5, pada lapisan 2 pH tanah 5, pada lapisan 3 pH tanah 5. b) pH KCl

Pada lapisan 1 pH tanah 6, pada lapisan 2 pH tanah 5, pada lapisan 3 pH tanah 5.

69

3. a.

Lokasi III : Jatikuwung mempunyai jenis tanah vertisol

Tanah di tempat praktikum Jatikuwung dengan relief agak curam. b. Kemasaman tanah pada profil yang diamati a) pH H2O

Pada horison A pH tanah 6, pada horison B pH tanah 6, pada horison C1 pH tanah 6, pada horison C2 pH tanah 5. b) pH KCl

Pada horison A pH tanah 6, pada horison B pH tanah 6, pada horison C1 pH tanah 5, pada horison C2 pH tanah 5. Tidak diketemukan kandungan kapur pada tanah ini.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1997. Petunjuk Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas _______. 2005. Kimia Tanah. http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_tanah. Diakses tanggal 29 November 2011. _______. 2006. Fisika Tanah. http://id.wikipedia.org/wiki/Fisika_tanah. Diakses 29 November 2011. tanggal

_______. 2007. Tentang pH Tanah. http://nglithis.wordpress.com/2007/04/24/7/. Diakses tanggal 15 November 2011 _______. 2009. Kadar Lengas Tanah. ilmutanahuns.files.wordpress.com/2009/02/kadarlengas-tanah.pdf. Diakses tanggal 15 November 2011 _______. 2009. Mengukur pH Tanah dan Kebutuhan Kapur.http://kapurpertanian.com/index.php/Berita-Terbaru/Mengukur-pH-tanah-dankebutuhan-kapur.html. Diakses tanggal 10 November 2011 _______. 2010. Pemberian Pupuk Kimia Pada Tanah Entisol Marelan.http://vidaashrafida.blogspot.com/2010/10/laporan-kestanpemberianpupuk-kimia.html. Diakses tanggal 04 Desember 2011. _______. 2010. Tanah Vertisol. https://wahyuaskari.wordpress.com/literatur/tanah-vertisol/. Di akses tanggal 04 Desember 2011. _______. 2011. Kemasaman Tanah (pH Tanah).http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html. Diakses tanggal 10 November 2011 _______. 2011. Konservasi Tanah. http://id.wikipedia.org/wiki/Konservasi_tanah. Diakses tanggal 15 November 2011 Bridges,E.M.1979. World Soils. Cambridge Univ.Press.Cambridge,New York. Cipta. Jakarta.

19

Darmawidjaja, M. Isa. 1997. Klasifikasi Tanah. UGM Press. Yogyakarta. Fakultas Pasca Sarjana IPB. Bogor. Foth, Henry D. 1991. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gajah Mada University.

Handayani, S. 2009. Panduan Praktikum dan Bahan Asistensi Dasar-dasar Ilmu Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Hillel,D.1983.Fundamental of Soil Physic.Academic Press.New York.

Tanah.

Kartosapoetro. 1991. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Penerbit Rineka Munir, M. 1996. Geografi, Perkembangan dan Penyebaran Tanah di Indonesia . Pertanian UNS. Surakarta. Sanchez, P. 1992. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika. ITB. Bandung. Yogyakarta. Yong,R.N and B.P Warkentin.1975. Soil Properties and Behaviour. Elsevier, Amsterdam. <a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"><img src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/202/A9C737DC619F2FB88A26C6 6B3D954A18.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/></a>
Diposkan oleh rosita dewati di 10:37 AM Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook Label: ilmu tanah, iltan, laporan ilmu tanah, laporan praktikum ilmu tanah, praktikum ilmu tanah, praktikum iltan

2 comments:
1. Darmawan SaputraJune 17, 2012 at 3:12 PM Terima kasih atas artikelnya. o iya selama saya jelajah mencari ilmu tentang blogging, menurut saya anda memiliki kelebihan tersendiri dari situs-situs lain dan jujur potensi anda juga sangat bagus, banyak juga ilmu yang saya pelajari disini jika ada waktu saya akan berkunjung lagi.

#Semoga sehat selalu :D

Reply

2. rosita dewatiJune 17, 2012 at 6:26 PM waa saya bingung saya juga masih yaa terima kasih, semoga bermanfaat :) Reply

mau belajar

ngomong nge-blog

apa... :)

Newer PostHome
Subscribe to: Post Comments (Atom)
BLOG ARCHIVE
2012 (5) o June (5) Student Exchange Program Laporan Praktikum Agroekosistem Saat aku belajar membuat esai Saat aku mengenal BLOG Laporan Praktikum Ilmu Tanah

ABOUT ME

rosita dewati View my complete profile

Rosita Dewati

Create Your Badge

Picture Window template. Powered by Blogger.

ACARA IV KONSISTENSI TANAH KUALITATIF ABSTRAKSI Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah acara IV yang berjudul Konsistensi Tanah Kualitatif dilakukan pada tanggal 21 April 2011 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Konsistensi tanah penting dilakukan untuk menentukan cara pengolahan tanah yang baik, penetrasi akar tanaman dilapisan bawah, dan kemampuan tanah menyimpan lengas. Pengujian konsistensi tanah bertujuan menentukan konsistensi tanah dalam keadaan kering maupun basah, dan pengukuranya secara kualitatif.

Konsistensi basah ditentukan berdasarkan kelekatan dan plastisitas tanah yang diamati pada saat tanah dalam keadaan basah. Konsistensi kering diukur dengan cara memecahkan agregat dalam keadaan kering dengan menggunakan ibu jari, telunjuk dan telapak tangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa konsistensi tanah dari yang paling longgar: Entisol, Alfisol, Ultisol, Vertisol dan Rendzina.Urutan konsistensi tanah menurut plastisnya, dar yang paling plastis adalah Alfisol, Ultisol, Rendzina, Vertisol, dan Entisol. Urutan kelekatan tanah dari myang paling lekat: Rendzina, Vertisol, Ultisol, Entisol, dan Alfisol.

I.

PENDAHULUAN

A.

Latar

Belakang

Salah satu halyang perlu diketahui sebelum memulai suatu pengelolaan tanah di suatu lahan, adalah konsistensi tanah karena konsistensi merupakan resistensi terhadap deformasi atau perpecahan dan ditentukan oleh adhesi dan kohesi mulsa tanah. Oleh karena itu, konsistensi tanah harus secara tepat agar pengelolaan tanah yang dilakukan dapat berjalan baik, serta dapat diusahakan secara maksimal. Selain menentukan langkah pengelolaan tanah yang tepat, konsistensi juga mnentukan kemampuan tanah dilahan tersebut untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Konsistensi mempengaruhi

kemampuan tanaman memanjangkan akarnya, serta mempengaruhi jumlah oksigen dan air dalam tanah yang merupakan kebutuhan esensial pertumbuhan tanaman.

B. 1. 2. Menentukan Menentukan konsistensi konsistensi kering basah dari dari tanah tanah

Tujuan contoh contoh

II.

TINJAUAN

PUSTAKA

Konsistensi tanah menunjukan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah (agregat tanah) dengan daya adhesi tanah dengan benda lain ( Rawls dan Pachepsky, 2002). Daya tersebut menentukan daya tahan tanah terhadap gaya penguibah bentuk, yang dapat berupa pembajakan, pencangkulan dan penggaruan. Menurut Foth ( 1990), tanah yang baik yang mudah diolah adalah tanah yanmg lunak dan tidak melekat pada alat pengolah tanah.

Tanah yang lunak( tidak keras/ lepas-lepas) merupakan tanah yang mudah dipenetrasi oleh akar tanaman sehingga memberikan kesempatan bagi tanaman untukberkembang dan tumbuh dengan baik. Tanah yang tidak banyak melekat pada tanah menunjukan, dalam kondisi basah, tanah hanya mengandung sedikit oksigen dan udara lain. Padahal udara juga merupakan faktor penting pertumbuhan tanaman Dalam 1. 2. Lunak ( tulisannya, Lepas-lepas : tanah dapat Certini Maajid : hancur dan (2009) Scalenghe, membagi 2006 konsistensi hancur sedikit ditekan ; kering tanpa diantara ibu Bouma, tanah ditekan jari dan 1992) menjadi: . telunjuk.

tanah dengan

3. Agak keras : tanah dapat hancur dengan tekanan kuat diantara ibu jari dan telunjuk. 4. Keras ibu 5. Sangat keras : tanah tidak : tanah dapat hancur dengan ditekan kuat diantara jari hancur dengan tekanan sangat kuat pangkal telapak kiri dan kanan. sekalipun.

Konsistensi basah dibagi atas dua sifat, yaitu kelekatan dan plastisitas. Kelekatan tanah diuji diantara ibu jari dan telunjuk. Jika tidak ada tanah yang melekat di jari tangan maka tanah tidak lekat. Kelekatan bertambah dengan seiring banyaknya tanah yang menempel. Plastisitas adalah pengujian tanah dengan membuat pasta tanah dan kemudian dilengkung-lengkungkan membentuk O, S, dan 8.

Tanah yang melekat menunjukan adhesinya tinggi, sehingga mudah menempel. Tanah yang plastis menunjukan kohesi antar agregat besar ( Mc Cullagh, 1989).

III.

METODOLOGI

Praktikkum konsistensi tanah kualitatif ini dilaksanakan pada hari kamis tanggal 21 april 2011 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian,Universitas Gadjah Mada. Adapun praktikum a. ini menggunakan bahan dan Konsistensi alat serta prosedur sebagai berikut: kering

Pada percobaan konsistensi kering menggunakan bahan berupa contoh tanah agregat tidak terusik ( bongkah). Mula-mula diambil bongkah tanah kemudian menekannya diantara ibu jari dan telunjuk. Jika tanpa ditekan hancur, konsistensinya lepas-lepas, jika dengan sedikit menekan hancur maka lunak dan bila dengan ditekan hancur maka konsistensi agak keras kemudian apabila ditekan diantara telapak tangan dan ibu jari dengan kuat hancur maka konsistensi keras dan bila tidak hancur maka konsistensinya sangat b. Konsistensi keras. basah

Percobaan ini menggunakan bahan berupa contoh tanah kering udara ukuran 2 mm secukupnya, baik Entisol, Alfisol, Ultisol, Rendzina dan Vertisol. Sedangkan alat yang digunakan adalah cawan porselin. Mula-mula diambil contoh tanah kering udara ukuran 2 mm secukupnya baik Entisol, Alfisol, Ultisol, Rendzina dan Vertisol. Dibasahi masing-masing tanah dengan aquades secukupnya dan dicampurkan hingga homogen. Kelekatan dan plastisitas masing-masing tanah dibedakan dengan cara digosok-gosok yaitu antara telunjuk jari dengan ibu jari. Sisa pasta tanah yang menempel pada permukaan kedua jari diamati. Kriteria pada tabel diikuti dan dicatat tingkat kelekatan tanah diikuti. Pipa tanah dibuat setebal 2-3 mm. Kriteria dari tabel diikuti dan catat tingkat plastisitas tanah.

IV. a.

DATA Konsistensi

HASIL

PENGAMATAN kering

b.

Konsistensi

basah

V.

PEMBAHASAN

Konsistensi tanah adalah sifat fisik tanah yang menunjukan adhesi dan kohesi zarah-zarah pada berbagai tinbgkat kelengasan tanah. Kohesi yang paling besar terdapat dalam tanah kering danm menurun tajam dengan masuknya air di sela-sela daerah tanah. Sedangkan besarnya adhesi ditentukan oleh tegangan permukaan pada tiap-tiap satuan bidang singgung dan luas bidang singgung. Penurunan kadar air menyebabkan tanah kehilangan sifat kelekatan dan kelenturan menjadi gembur, lunak serta menjadi keras dan kaku pada saat kering.

Konsistensi dipengaruhi oleh tekstur, sifat dan jumlah koloid organik maupun anorganik, struktur dan yang paling utama adalah kadar air. Tanah bertekstur sama dapat berbeda konsistensinya karena berebda macam lempungnya. Sifat fisik yang ditunjukan oleh knsistensi berupa keteguhan , keliatan (plasticity), dan kelekatan (stickness).

Dalam keadaan kering, tanah tidak mengandung air, sehingga kekerasab tanah dapat diukur. Jenis tanah yang konsistensi keringnya sangat kleras adalah vertisol dan rendzina.sedangkan konsistensi kering keras adalah jenis tanah ultisol dan agak keras adalah alfisol atau entisol. Sehingga urutan jenis tanah yang memiliki kekerasan tertinggi hingga terendah adalah rendzina, vertisol, ultisol, alfisol, dan entisol. Dari praktikum diperoleh hasil bahwa kelekatan tanah menunjukan keadaan adhesi tanah terhadap benda lain. Jenis tanah yang mempunyai konsistensi basah sangat lekat adalah rendzina. Jenis tanah yang mempunyai konsistensi basah lekat adalah vertisol, ultisol dan entisol. Sedangkan tanah yang yang berkonsistensi basah agak lekat adalah alfisol. Sehingga urutan jenis tanah yang memiliki kelekatan tertinggi hingga terendah adalah rendzina, vertisol, ultisol, entisol, dan alfisol.

Plastisitas adalah kemampuan bahan tanah secara mudah dapat diubah bentuknya karena pengaruh dan tetap pada bentuk semula meskipun tekanan dilepaskan. Dari hasil praktikum diperoleh hasil bahwa jenis tanah yang memiliki konsistensi basah plastis adalah alfisol, ultisol dan rendzina. Sedang jenis tanah yang berkonsistensi basah agak plastis adalah vertisol dan entisol. Sehingga urutan tanah mulai dari

tingkat keplastisan paling tinggi hingga paling rendah adalah alfisol, ultisol, rendzina, vertisol dan entisol. Apabila dibandingkan dengan teori tanah vertisol seharusnya tanah vertisol memiliki tingkat keplastisan paling tinggi dibandingkan dengan jenis tanah lain. Hal ini dimungkinkan karena kesalahan praktikan dalam menambah air.

Manfaat mengetahui konsistensi tanah dibidang pertanian dibidang pertanian adal;ah dapat mempermudah pengolahan tanah karena tiap tanah mempunyai konsistensi yang berbeda-beda. Dengan perilaku tersebut diharapkan mampu membuat konsistensi tanah sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam sehingga mampu meningkatkan produksi pertanian.

Penentuan nilai konsistensi dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu (1) kualitatif (biasanya di lapangan dan di laboratorium) dengan menekan bongkah tanah diantara ujung telunjuk dengan ibu jari atau ujung ibu jari dengan pangkal tangan. Penetapan secara kualitatif dapat digunakan untuk melihat tingkat kelekatan, keliatan, pada konsistensi basah dan tingkat kekerasan pada konsistensi kering. Metode ini lebih sering dilakukan di lapangan karena lebih simpel dan tidak membutuhkan alat dan bahan yang rumit. (2) kuantitatif ( di laboratorium) dengan pendekatan angka-angka atterberg yaitu batas cair (BC), batas gulung (BG), batas lekat (BL), dan batas berubah warna (BBW). Metode ini lebih sering dilakukan di laboratorium karena lebih rumit dan membutuhkan alat yang lebih banyak.

Hubungan tekstur, struktur, dan konsistensi tanah sangat erat seperti digambarkan seperti segitiga berikut Tekstur ini :

Struktur

konsistensi

Contoh hubungan 3 sifat fisik tanah tersebut adalah suatu tanah dengan tekstur pasir maka akan mempunyai struktur butir tunggal dan akan mempunyai struktur gumpal, pejal atau baji dan mempunyai konsistensi agak teguh (kering) dan plastis bila basah.

VI.

KESIMPULAN

1. Konsisteni tanah dipengaruhi oleh tekstur, sifat dan jumlah koloid organik maupun anorganik, struktur dan yang terutama adalah kadar air tanah.

2. Urutan konsistensi kering dari yang paling keras adalah rendzina, vertisol, ultisol, alfisol, dan entisol. 3. Urutan konsistensi basah paling lekat adalah rendzina, vertisol, ultisol, entisol, dan alfisol.

4. Urutan konsistensi basah dari paling plastis adalah alfisol, ultisol, rendzina, vertisol dan entisol 5. Semakin tinggi kandungan lempung dalam tanah maka semakin tinggi konsistensi tanahnya dan semakin banyak kandungan pasir dalam tanah maka semakin rendah konsistensi tanahnya.

VII.

DAFTAR

PUSTAKA

Bouma, J. 1992. Effect of soil structure tillage, and agregation upon soil hydraulic properties. Soil Science Journal 56 : 1-5

Certini, Gracomo dan Riccardo Scalenghe. 2006. Soil : Basics Concept Future Challenge. Cambridge University Press. Cambridge.

Foth,

Henry.D.

1990.

Fundamentals

of

soil

science.

John

Wiley

and

Sons.

New

York.

Madjid, Abdul. 2009. Sifat Fisika Tanah ( Bagian 5 : Konsistensi Tanah).

diakses pada 23 April 2011

Mc cullagh, P. dan J.A. Nelder. 1989. Generalised Linier Models : Interaching Prosses In Soil Science. Lewis Publication. Florida. Rawls, W. J dan Y.A Parchepsky. 2002. Soil consistence and structure as predictors of water retention. Soil Science Journal 66: 115-118