Anda di halaman 1dari 13

BAB IV GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

4.1. Kondisi Wilayah Kota Bogor (Kota Buitenzorg yang artinya Kota tanpa kesibukan) terletak diantara 106 derajat 4330BT 106 derajat 5100BT dan 3030LS - 6 derajat 4100LS serta mempunyai ketinggian rata-rata minimal 190 meter,
maksimal 350 meter dengan jarak dari ibukota kurang lebih 60 kilometer, dengan

luas wilayah 11.850 ha, merupakan daerah perbukitan bergelombang dengan ketinggian yang bervariasi antara 0 sampai dengan > 350 m diatas permukaan laut dengan kemiringan lereng berkisar 0-2 persen (datar) seluas 1.763,94 ha, 2-15 persen (landai) seluas 8.091,27 ha, 15-25 persen (agak curam) seluas 1.109,89 ha, 25-40 persen (curam) seluas 764,96 ha dan > 40 persen (sangat curam) seluas 119,94 ha. Berdasarkan Undang-undang Nomor 16 tahun1950 Kota Bogor ditetapkan
menjadi Kota Besar dan Kota Praja yang terbagi dalam 2 wilayah Kecamatan 22

kelurahan, 5 kecamatan dan 1 perwakilan kecamatan. Terakhir berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1992, perwakilan kecamatan Tanah Sareal ditingkatkan statusnya menjadi kecamatan, kini terdapat 6 kecamatan dan 68 kelurahan. Lokasi Kota Bogor yang dekat dengan ibukota negara dan kedudukannya diantara jalur tujuan Puncak-Cianjur merupakan potensi yang strategis untuk perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi. Adanya Kebun
Raya yang di dalamnya terdapat Istana Bogor merupakan tujuan wisata yang

menarik.

4.2. Keadaan Penduduk


Tren jumlah penduduk Kota Bogor terus bertambah dari waktu ke waktu.

Tahun 1961, saat sensus pertama kali diselenggarakan, jumlah penduduk Kota
Bogor mencapai 154,1 ribu jiwa. Angka tersebut terus naik, dan sempat terjadi

lonjakan penduduk pada tahun 1990-2000 ketika wilayah Kota Bogor bertambah 46 kelurahan dari Kabupaten Bogor berdasarkan PP Nomor 2 Tahun 1995. Jumlah

penduduk Kota Bogor terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sehingga

menimbulkan tingkat kepadatan yang makin besar pula. Laju pertumbuhan penduduk Kota Bogor selama 12 tahun (1995-2007) adalah sebesar 2,82 persen,
dengan laju pertumbuhan tertinggi terdapat di Kecamatan Bogor Utara yang

mencapai 4,30 persen. Sementara, di Kecamatan Bogor Tengah, terjadi pertumbuhan terendah sebesar 0,39 persen. Dalam periode 1999-2006, pertumbuhan penduduk Kota Bogor memperlihatkan fluktuasi
dengan

pertumbuhan terendah sebesar 0,38 persen (1996-1997) dan pertumbuhan tertinggi sebesar 6,38 persen (2000-2001).
Pada tahun 2001 jumlah penduduk Kota Bogor sekitar 760.329 jiwa,

kemudian pada tahun 2002, 2003, 2004, 2005 dan 2006 jumlah penduduk Kota
Bogor menjadi 789.423,820.707,831.751,855.184 dan 855.085 jiwa. Akan tetapi secara persentase laju pertumbuhan penduduk Kota Bogor tidak begitu stabil.

Pertumbuhan penduduk Kota Bogor antara tahun 2000-2001 sebesar 1.83 persen, akan tetapi perkembangan penduduk Kota Bogor pada tahun 2001-2002 menjadi 1.79 persen, selanjutnya pertumbuhan penduduk Kota Bogor pada tahun 20022003 relatif sama dengan tahun sebelumnya yakni 1.76 persen dan kemudian pertumbuhannya naik pada tahun 2003-2004 yakni menjadi 3.41 persen, tahun 2004-2005 1.71 persen dan perkembangan pada tahun 2005-2006 meningkat kembali menjadi 2.02 persen, maka dapat disimpulkan bahwa perubahan penduduk Kota Bogor tidaklah stabil nilainya. Perbedaan laju perkembangan penduduk ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor alamiah (kelahiran dan kematian) serta migrasi masuk dan keluar.

Tabel 10. Jumlah Penduduk Kota Bogor Per Kecamatan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2006
Kecamatan Bogor Selatan
Bogor Timur

Laki-Laki 77.254
38.307

Perempuan 73.881
38.958

Jumlah 151.135
77.265

Bogor Utara
Bogor Barat

64.148
86.496

61.710
84.148

125.858
170.644

Bogor Tengah
Tanah Sareal

46.235
67.006

46.620
65.487

92.855
132.493

Jumlah
Sumber : BPS Kota Bogor

379.446

370.804

750.250

Keberagaman menjadi salah satu khas penduduk Kota Bogor, baik dari sisi
budaya maupun potensi ekonomi. Kedekatan dengan Jakarta turut memberikan

warna kehidupan masyarakat Kota Bogor. Kepadatan penduduk per km2 sebesar 7.017 jiwa dan sex ratio penduduk Kota Bogor adalah 104 yang artinya 104 penduduk laki-laki berbanding dengan 100 penduduk perempuan. Kecamatan
Bogor Barat merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak yaitu 195.808 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Bogor

Timur yaitu 89.237 jiwa. Untuk Kecamatan Bogor Tengah merupakan kecamatan terpadat dengan jumlah penduduk 13.047 jiwa/km2, hal ini disebabkan karena pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi banyak berada di kecamatan ini. Sedangkan kecamatan yang paling rendah kepadatannya adalah Bogor Barat
dan Bogor Selatan. Di dua kecamatan inilah yang masih berpotensi tinggi

terjadinya migrasi penduduk masuk ke Kota Bogor.

Sumber : BPS, 2006

Gambar 11. Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Bogor Tahun 2000 - 2006 Jumlah penduduk Kota Bogor pada tahun 2009 sebanyak 981.000 jiwa dan
di tahun 2010 diprediksi akan menjadi lebih dari satu juta jiwa dengan asumsi

rata-rata pertumbuhan dua persen per tahun. Hasil sensus penduduk 2010, jumlah penduduk Kota Bogor mencapai 949.066 jiwa dengan laju pertumbuhan sebesar 2,39 persen, diantaranya 484.648 laki-laki dan 464.418 perempuan dan laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,8 persen, Kota Bogor memiliki sumberdaya manusia yang cukup besar dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu modal pembangunan.

4.3. Kondisi Perekonomian Untuk mengetahui perkembangan perekonomian di Kota Bogor, salah satu indikatornya adalah diukur dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). Pertumbuhan ekonomi Kota Bogor dapat dikelompokkan menjadi tiga periode yang berbeda, yaitu : 1993-1998, 2000-2004, 2002-2006. Hal ini mengingat adanya perbedaan harga konstan dari data PDRB yang diperoleh. Pada periode 1993-1998, ekonomi Kota Bogor mengalami pertumbuhan sebesar 6,42 persen yang didukung oleh sektor-sektor yang tumbuh tinggi seperti industri pengolahan (18,38 persen) serta listrik, gas dan air bersih (9,19 persen)

Dalam periode 2000-2004, pertumbuhan ekonomi Kota Bogor mencapai 5,91 persen. Pertumbuhan ini didukung sektor-sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan tinggi seperti industri pengolahan (6,53 persen), listrik, gas dan air bersih (6,94 persen), pengangkutan dan komunikasi (7,18 persen), keuangan, persewaan dan jasa perusahaan (9,58 persen).

Pada periode 2002-2006, perekonomian Kota Bogor tumbuh sebesar 6,08 persen. Pertumbuhan ekonomi pada periode ini ditopang oleh sektor-sektor ekonomi yang tumbuh tinggi seperti industri pengolahan (6,38 persen), listrik, gas dan air bersih (6,94 persen), pengangkutan dan komunikasi (6,99 persen), keuangan, persewaan dan jasa perusahaan (9,91 persen) Dalam kurun waktu 1993-2006, kontribusi sektor-sektor ekonomi dalam

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bogor atas dasar harga berlaku

yang memperlihatkan kecenderungan terus meningkat adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran per tahunnya mencapai kisaran 28,75-41,08 persen terhadap PDRB. Sektor industri pengolahan menempati posisi kedua kontribusinya terhadap PDRB Kota Bogor dengan rata-rata kontribusi per tahun 20,74-24,13 persen. Sektor pengangkutan dan komunikasi memperlihatkan kontribusi yang
stabil, sedangkan sektor lainnya cenderung menurun. Dalam kurun waktu tersebut,

kontribusi sektor industri meningkat dari 20,74 persen pada tahun 1993 menjadi 24,13 persen pada tahun 2006. Sedangkan kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran adalah sebesar 28,75 persen, pada tahun 1993 kemudian menjadi 41,08 persen.
Perkembangan perekonomian Kota Bogor tahun 2002 menunjukan

pertumbuhan sebesar 5,78 persen meningkat menjadi 6,07 persen tahun 2003.
Pertumbuhan yang cukup baik ini merupakan modal yang baik untuk pemulihan ekonomi Kota Bogor. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bogor

tahun 2002 berdasarkan harga berlaku Rp.3,2 Trilyun pada tahun 2003 meningkat menjadi Rp.3,6 Trilyun dengan pendapatan perkapita Rp.4.227.462,01 pada tahun 2002 menjadi Rp.4.605.734,59 pada tahun 2003. Pada tahun 2006 PDRB harga konstan sebesar Rp.1.209.642,71, harga berlaku Rp.2.954.164,95. Tahun 2007 harga konstan sebesar Rp.1.279.881,96 harga berlaku sebesar Rp.3.282.218,41

meningkat 6,07 persen menjadi sebesar Rp.1.357.633,57 tahun 2003 berdasarkan harga konstan, sedangkan harga berlaku sebesar Rp.3.645.650,79 meningkat 11,07 persen. Dilihat dari perekonomiannya, laju pertumbuhan ekonomi Kota Bogor seiring dengan laju pertumbuhan Provinsi Jawa Barat secara keseluruhan, sektor
yang memberikan sumbangan terbesar bagi kenaikan kinerja perekonomian di

Kota Bogor, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Perdagangan, Hotel & Restoran Industri Pengolahan Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Pengangkutan & Komunikasi Jasa-jasa

Sektor ekonomi yang kompetitif di Kota Bogor, adalah sektor : 1. 2. 3. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Pertambangan & Penggalian (khususnya sektor penggalian) Struktur perekonomian Kota Bogor dalam kurun waktu 2007-2008
didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri

pengolahan, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Sektor tersier


merupakan sektor yang paling besar kontribusinya terhadap PDRB disusul sektor

sekunder dan sektor primer. Kegiatan perekonomian di Kota Bogor memberikan indikator-indikator yang positif dan Kota Bogor dapat mengadakan spesialisasi kegiatan perekonomiannya pada sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, yang dapat meningkatkan pendapatan asli daerah.

4.4. Prioritas Pembangunan Daerah Berdasarkan analisis lingkungan strategis, terdapat beberapa isu strategis yang perlu mendapat prioritas untuk ditanggulangi dalam 5 (lima) tahun kedepan. Isu-isu strategis ini berkaitan dengan permasalahan perkotaan meliputi masalah transportasi dan kemacetan lalu lintas kota, Pedagang Kaki Lima

(PKL) kebersihan kota dan lingkungan hidup dan kemiskinan yang masih melanda sebagian warga Kota Bogor. 4.4.1. Masalah Transportasi Penanganan yang menjadi prioritas pertama untuk segera ditanggulangi adalah permasalahan transportasi khususnya di dalam kemacetan lalu lintas. Kemacetan lalu lintas di Kota Bogor terjadi kedalam beberapa permasalahan antara lain : 1) Tingginya jumlah angkutan kota sebanyak 3.506 unit ditambah angkutan kota dari Kabupaten sebanyak 6.895 unit dan angkutan antar kota/antar propinsi sebanyak 900 unit; 2) Terkonsentrasinya kegiatan jasa, perdagangan, terminal, obyek wisata dan lain-lain di pusat kota; 3) Terdapatnya sepuluh pintu masuk yang menuju ke jantung kota; 4) Pola jaringan yang bersifat radial; 5) Pola jaringan trayek yang tumpang tindih antara angkutan kota dan lintasan trayek yang cukup pendek; 6) Keberadaan PKL yang memanfaatkan badan jalan; 7) Kurang tegasnya penegakan hukum oleh aparatur, sehingga menyebabkan kurangnya disiplin pengemudi dan pengguna jalan; 8) Adanya ruas-ruas jalan yang bottle neck dan ruas-ruas jalan yang sulit dilebarkan; 9) Beroperasinya rel ganda kereta api yang mengakibatkan tingginya (rata-rata 8 menit) frekuensi kereta api, sehingga diperlukan jembatan layang; 10) Terbatasnya sarana dan prasarana transportasi; 11) Aturan, mekanisme, dan prosedur pemberian izin trayek tidak sesuai dengan kebutuhan; 12) Belum adanya keterpaduan sistem manajemen transportasi regional (Bubulak, Laladon, Darmaga, Jalan Sholeh Iskandar dan Simpang Pomad). Kesemua permasalahan tersebut mengakibatkan kemacetan lalu lintas yang tersebar di 31 titik kemacetan di Kota Bogor dengan titik kemacetan yang terparah di sekitar keliling luar Kebun Raya (Pertigaan eks Pasar Ramayana, Pasar Bogor, Tugu Kujang, Depan Istana Bogor - semuanya pertigaan), sekitar Terminal Baranangsiang, Pasar Gembrong (Sukasari), Kawasan Jembatan Merah, Pasar Mawar dan Pasar Anyar, Merdeka-Salmun dan Jalan Sholeh Iskandar. Penyebab kemacetan pada titik-titik terparah tersebut umumnya karena pelanggaran aturan berlalu lintas oleh angkot dan PKL yang menggunakan badan jalan.

4.4.2. Masalah Pedagang Kaki Lima (PKL) Penanganan prioritas yang kedua adalah permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL). Seperti di kota lainnya pertumbuhan sektor ini di kota Bogor semakin mendapati momennya setelah terjadinya krisis ekonomi mulai

pertengahan tahun 1997. Hasil pendataan oleh pemerintah daerah, pada tahun 1996 tercatat pedagang kaki lima dititik-titik pusat keramaian berjumlah 2.140 pedagang, kemudian pada akhir tahun 1999 berdasarkan hasil survei pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) Kota Bogor jumlahnya hampir tiga kali lipat menjadi 6.340 pedagang. Pada akhir tahun 2002 berdasarkan hasil pendataan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor jumlah PKL meningkat lagi menjadi 10.350 Pedagang, yang tersebar di 51 titik PKL, dimana 82 persen dari para pedagang tersebut berasal dari luar Kota Bogor. Tahun 2004 terdapat 50 lokasi PKL dengan jumlah pedagang sekitar 12.000 PKL. Pedagang Kaki Lima (PKL) disatu sisi sebagai sektor informal harus diberi hak yang sama dengan pelaku ekonomi lainnya namun di sisi lain keberadaan PKL yang tersebar di pusat kota menjadi gangguan kepada kegiatan lainnya dikarenakan pada umumnya menggunakan ruang publik (fasilitas umum/hak publik seperti trotoar dan badan jalan). Disamping itu juga disebabkan belum adanya ketentuan yang mengatur PKL, belum ada konsistensi dan ketegasan dalam penertiban PKL oleh petugas, belum ada kajian tentang PKL, belum adanya persepsi bahwa PKL merupakan masyarakat kecil Bogor yang secara ekonomis potensial belum ada ruang untuk pedagang kecil dan PKL dan belum ada keterpaduan antara pedagang besar dengan pedagang kecil atau PKL. Disisi lain perkembangannya sulit dikendalikan sesuai dengan perencanaan dan penataan kota. Kota terkesan menjadi semerawut dan kumuh serta keberadaan mereka mengganggu kenyamanan masyarakat lainnya. Beragamnya latar

belakang pendidikan, kultur sosial dan budaya mereka serta ketidakpeduliannya aturan dan pada saat petugas tata tertib beroperasi PKL menghilang dan pada saat petugas tata tertib pergi PKL pun datang dan marak lagi. Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di Kota Bogor secara umum digolongkan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu PKL yang bersifat musiman, PKL perpanjangan tangan bandar atau

tergantung kiriman barang (order) dan PKL lama. PKL di sekitar pasar, khususnya Pasar Anyar dan Pasar Bogor merupakan PKL pasar tumpah. Model penanganan dengan penertiban PKL ini bagi pemerintah sendiri sebenarnya sangat mahal harganya. Tetapi posisi Pemerintah Daerah memang sangat dilematis. Di satu sisi Pemerintah Kota adalah regulator yang berfungsi menegakkan peraturan daerah yang dibuat bersama DPRD (rakyat). Didalam kasus ini, sesuai Perda No. 1 Tahun 1990 tentang Kebersihan, Keindahan dan Ketertiban (K3) keberadaan PKL ternyata melanggar aturan itu, tetapi disisi lain dalam penegakan peraturan daerah secara normatif pemerintah tidak dapat mengesampingkan faktor sosiologi, seperti perilaku masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan dasar, artinya penegakan hukum yang dilaksanakan harus

memperhatikan segi sosiologis. Secara umum aktivitas PKL ini memiliki sisi positif dan negatif. Sebagai wadah kegiatan ekonomi yang digeluti oleh banyak orang, kegiatan pedagang kaki lima merupakan salah satu potensi ekonomi rakyat yang memiliki fungsi positif seperti sumbangan terhadap penyerapan tenaga kerja, memberi kontribusi pendapatan bagi masyarakat yang pada akhirnya dapat memberikan kesejahteraan dan ikut berkontribusi dalam mendorong pemerataan ekonomi lokal. Sisi positif lainnya adalah memberikan harga lebih rendah kepada masyarakat kelas menengah ke bawah dalam hal pengadaan barang dan jasa yang tidak terjangkau atau terlayani oleh sektor ekonomi formal. Untuk itu diperlukan adanya peraturan daerah tentang Pengaturan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan perlu ada revisi perda lain yang berkaitan dengan PKL.

4.4.3. Masalah Kebersihan Penanganan prioritas yang ketiga adalah permasalahan kebersihan yang mengakibatkan terganggunya kebersihan dan keindahan kota. Permasalahan sampah yang terjadi adalah akibat dari timbulan sampah yang belum sepenuhnya dapat terangkut/ dimusnahkan di TPA (baru terangkut sekitar 68 persen dari jumlah produksi sampah/hari atau sebanyak 1.457 m3/hari dari 2.124 m3 timbunan sampah perharinya). Hal ini disebabkan :

1. Ketersediaan armada angkutan baik dilihat dari kuantitas (52 dump truck, 17 amroll) dengan kondisi yang masih baik 52 persen, 46 persen kurang baik dan 2 persen rusak berat) serta keterbatasan kemampuan alat berat di TPA yang hanya didukung oleh 2 unit buldozer (1 unit dalam kondisi baik dan 1 unit rusak), 1 unit truck loader (kurang baik), 1 unit wheel loader (baik) dan 1 unit excavator (baik), padahal untuk mengelola sampah sebanyak 1.457 m3/hari idealnya 5 unit alat berat tersebut mempunyai kemampuan yang sama baiknya. 2. Keterbatasan tenaga operasional petugas kebersihan (pengumpul, penyapu, petugas angkut dan TPA) hanya ada 578 orang bila dibandingkan dengan kebutuhan 2 orang/penduduk. 3. Tidak adanya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya dan membayar retribusi. 4. Keterbatasan dalam penyediaan sarana pewadahan (tong/bak sampah) dan pengumpulan (gerobak) ke seluruh wilayah. 5. Belum memasyarakatnya budaya pengurangan sampah sejak dari sumbernya dan pengelompokkan sampah organik dan anorganik. 6. Keberadaan TPA Galuga yang statusnya sangat tergantung kepada Pemerintah Kabupaten Bogor setelah tahun 2005 nanti.

4.4.4. Masalah Kemiskinan Penanganan prioritas yang keempat adalah permasalahan kemiskinan. Kriteria miskin berdasarkan BKKBN meliputi 1) Tidak bisa makan 2 kali sehari atau tidak mampu makan protein hewani satu kali dalam seminggu; 2) Tidak mempunyai penghasilan tetap minimal sebesar Rp.150.000,00/kapita/bulan; 3) Tidak mampu menyekolahkan anak usia 7-15 tahun; 4) Tidak mampu berobat dan KB ke Puskesmas; dan 5) Kondisi rumah berlantai tanah 75 persen dari luas rumah. Faktor penyebab kemiskinan adalah gabungan faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal diantaranya adalah kebijakan pembangunan yang keliru dan juga adanya korupsi yang mengakibatkan berkurangnya alokasi anggaran kegiatan pembangunan. Faktor internal penyebab kemiskinan antara lain keterbatasan wawasan, kurangnya keterampilan, kesehatan yang buruk dan etos kerja yang rendah.

Akar masalah kemiskinan di Kota Bogor disebabkan oleh beberapa hal antara lain orang miskin tidak mampu menjangkau pasar kerja (serapan tenaga kerja yang rendah), terbatasnya lapangan kerja baru (rendahnya investasi padat karya dan promosi investasi di Kota Bogor belum optimal), alokasi APBD untuk penanganan tenaga kerja orang miskin belum optimal, kurang terampilnya masyarakat dalam mengelola asset produktif, kurangnya pengembangan SDM masyarakat miskin, biaya pendidikan yang terus meningkat, pelayanan kesehatan masih terlalu mengandalkan dana pemerintah, belum efektifnya pengelolaan Zakat, Infak, Shodaqoh (ZIS) dan krisis ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Perkembangan jumlah keluarga miskin yang ada di Kota Bogor dan sebaran kemiskinan per kecamatan dapat dilihat pada Tabel 11 berikut : Tabel 11. Perkembangan Jumlah KK Miskin di Kota Bogor
Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Jumlah KK Miskin 31.657 28.703 20.956 17.947 21.914 39.162 41.398 Persentase 19,50 17,57 12,37 10,27 14,83 23,05 21,30 Penurunan/Peningkatan (%) - 0.83 - 1.93 - 5.20 - 2.10 4.56 8.22 - 1.75

Sumber : BPS Kota Bogor, 2006

4.4.5. Penanganan masalah mendasar Selain isu-isu tersebut diatas yang menjadi prioritas pembangunan, juga terdapat permasalahan yang perlu penanganan berkaitan dengan kewenanganan wajib yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kota Bogor, antara lain sebagai berikut : 1. Belum meratanya informasi rencana tata ruang bagi masyarakat dalam melakukan investasi dan pembangunan, sehingga tidak terkendalinya perkembangan fisik baik dari segi tata ruang dan tata bangunan.

2. Cukup besarnya proporsi tanah yang belum memiliki sertifikat dikarenakan biaya administrasi sertifikat tanah masih memberatkan sebagian besar penduduk, juga prosedur persertifikatan masih menyulitkan masyarakat. 3. Masih rendahnya tekanan publik terhadap pemanfaatan sumber daya alam sungai yang disebabkan tidak tegasnya penegakan hukum dan rendahnya kesadaran masyarakat. 4. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup, yang mengakibatkan kerusakan sumber daya alam serta beban pencemaran akibat limbah cair dan sampah rumah tangga. 5. Walaupun masyarakat telah menyelenggarakan sebagian jasa prasarana lingkungan seperti pembangunan jalan, jembatan dan lainnya, namun masih diperlukan peran pemerintah daerah dalam menyediakan prasarana khususnya yang bersifat keperintisan guna mendorong berkembangnya perekonomian dan membuka keterisolasian wilayah yang bersangkutan. 6. Permasalahan dibidang pendidikan masih banyak anak usia sekolah dasar yang rawan putus sekolah dan belum tertanganinya anak putus sekolah. Pada kelompok usia pendidikan SMP dan SMA faktor ekonomi keluarga merupakan penyebab yang paling menonjol sehingga banyak diantaranya yang memilih bekerja dibanding melanjutkan sekolah ke yang lebih tinggi. Sedangkan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, guru memegang peranan yang sangat menentukan. Oleh karena itu untuk meningkatkan akademik dan profesionalisme guru perlu ditingkatkan. 7. Dibandingkan dengan sekolah umum, madrasah relatif tertinggal baik dari segi mutu, manajemen maupun kelembagaan. Rendahnya kualitas pendidikan di madrasah umumnya disebabkan oleh kurangnya sarana prasarana dan minimnya fasilitas pendukung serta mutu tenaga kependidikan. 8. Di bidang kesehatan, walaupun persebaran sarana kesehatan khususnya puskesmas sebagai pelayanan kesehatan dasar secara fisik telah dikatakan merata, namun demikian belum sepenuhnya dengan peningkatan mutu pelayanan dan keterjangkauan oleh seluruh lapisan masyarakat. Sedangkan dalam upaya kesehatan masih kurang mengutamakan pendekatan

pemeliharaan dan peningkatan kesehatan serta pencegahan penyakit.

9. Di bidang kependudukan, yaitu kondisi kependudukan belum optimal antara lain besarnya jumlah penduduk secara absolut dan tingkat kesejahteraan keluarga relatif rendahnya produktivitas, sehingga keluarga sebagai wahana pertama untuk meningkatkan kualitas penduduk akan berpengaruh pada peningkatan kualitas penduduk. 10. Walaupun untuk menunda memiliki anak dan menjarangkan jumlah anak cukup tinggi di kalangan masyarakat, namun hanya berkisar tentang alat dan obat kontrasepsi belum kepada peningkatan kualitas kesehatan reproduksi. 11. Jumlah angkatan kerja yang sangat besar belum diimbangi dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Disisi lain terdapat ketidakseimbangan antara angkatan kerja dengan pasar kerja, sehingga jumlah pengangguran cukup tinggi. Disamping itu masih terdapatnya hubungan antara pekerja dan pengusaha yang belum harmonis sehingga dapat menimbulkan gejolak ketenagakerjaan.