Anda di halaman 1dari 16

Pertemuan ketujuh

Adalah kekerasan terorganisir, menempatkan

kekerasan sebagai kesadaran, metode berfikir sekaligus alat pencapaian tujuan. Terorisme lebih kepada menciptakan atau mengkondisikan sebuah iklim ketakutan di dalam kelompok masyarakat yang lebih luas, daripada jatuhnya korban kekerasan. Adalah suatu cara atau teknik intimidasi dengan sasaran sistemik, demi suatu kepentingan politik tertentu.

Whittaker (2003)

a strategy of violence designed to promote desired outcomes by instilling fear in the public at large Sederberg (1993) terorisme global: the threat or use of violence for political purposes when (1) such action is intended to influence the attitude and behavior of a target group wider than its immediate victims, and..(2) its ramifications transcend national boundaries.. Viotti and Kauppi (2007): politically motivated violence directed against noncombatants and designed to instill fear in target audience

The Zealots pada 6 masehi, sekte Yahudi yang membunuh

pemerintahan lokal sebagai upaya untuk membakar sekaligus mengusir Roma keluar dari Palestina Banyak pembunuhan yang terjadi di Timur Tengah (10901275) korban muslim dan lawan politik pemerintah Kristen di Eropa abad ke-15, keinginan Spanyol untuk menggabungkan kekuasaan gereja dengan negara yang berakhir dengan pembakaran kaum puritan thd witches Sejarah menggambarkan bahwa terorisme dalam masyarakat tradisional terjadi karena agama; sehingga teroris seringkali mengklaim gerakannya atas nama Tuhan

Abad ke 19, mulai berkembang gerakan terorisme

non-sekuler, musuh mereka adalah pemerintah yang berkuasa, gerakan yang anarki telah menimbulkan korban antara lain: presiden Perancis, Italy, raja Portugal, PM. Spanyol, serta pembunuhan terhadap kaisar dan kanselir Austria Seiring dengan hancurnya Rusia, jerman, dan kekaisaran Austro- Hungaria akibat WWI,faksi, kekerasan etnis dan terorisme berkembang pesat, menggusung misi national self-determination, terorisme berkembang di Eropa Timur dan tengah Sama halnya dengan gerakan yang terjadi di negaranegara berkembang setelah WWII , gerakan Nazi Jerman, Fasis di Italia, dan Kemerdekaan di Jepang

Pada saat perang dingin, merubah haluan terorisme

menjadi ideologi : Red Army Faction di Jerman, Red Brigades di Italia, 17 November di Yunani, RAF di Kolombia, Shinning Path di Peru, Japanese Red Army, dan New Peoples Army di Filipina Sementara itu di Eropa, terorisme menjadi basic strategy organisasi, sedangkan di dunia ketiga, terorisme menjadi taktik organisasi pemberontakan Di tempat lain gerakan terorisme dikombinasikan dengan faham lain (Marxism-Leninism) dalam melakukan gerakan revolusi, cth di China, Rusia Amerika Serikat melihat terorisme sebagai gerakan yang berasal dari negara-negara Timur Tengah dengan Islam radikal sebagai akar pergerakannya

Faktor Psychologi/ Sosial-Psychologi

orang yang tergabung dalam terorisme secara mental terganggu, juga berbagai faktor masalah yang dimiliki oleh individu sebelum melakukan teror Faktor Ideologi kekuatan sebuah ide, cthnya Marxism-Leninisme mendorong individu yang injustice untuk melakukan teror, Fasisme thd minoritas atau kelompok asing, nasionalis dengan kolonialisme, religius dengan budaya Faktor Lingkungan (protes dan budaya kekerasan) ketika kekerasan menjadi hal yang umum, berkembang menjadi legitimate atau diterima oleh masyarakat

Terorisme Konvensional

penggunaan bom (70%), bom molotov, pembakaran rumah, serangan tentara, penculikan dan vandalisme Terorisme dengan menggunakan senjata pemusnah massa proliferasi nuklir, senjata biologi, kimia dan radiologi Dari metode yang digunakan oleh para teroris disimpulkan: 1. Siapa atau apa inti atau tujuan dari terorisme tersebut 2. Pemimpin politik termasuk penyebab dalam kegiatan teror atau tidak? 3. Penggunaan senjata pemusnah massa tidak diragukan lagi untuk merebut simpati dan dukungan masyarakat internasional

Terorist sayap kiri (komunis)

Teroris sayap kanan (Fasis)


Teroris Ethnonasionalis/ separatis (Dekolonisasi) Teroris religius/misi suci

(Kurth Cronin 2002 in Baylis 2005)

Menurut National Advisory Committee (Komite Kejahatan

Nasional Amerika): 1. Terorisme Politik, yaitu prilaku kekerasan kriminal yang dirancang guna menumbuhkan rasa ketakutan di kalangan masyarakat demi kepentingan politik 2. Terorisme Non-Politis: mencoba menumbuhkan rasa ketakutan dengan cara kekerasan, demi kepentingan pribadi 3. Quasi Terorisme: dilakukan secara insidental, namun tidak memiliki muatan ideologi tertentu, lebih untuk tujuan pembayaran 4. Terorisme Politik Terbatas: Teroris yang memiliki motivasi politik dan ideologi, namun lebih ditujukan dalam mengendalikan keadaan (negara) 5. Terorisme negara atau pemerintahan: yakni suatu negara atau pemerintahan yang mendasarkan kekuasaannya dengan ketakutan dan penindasan dalam mengedalikan masyarakatnya

Perencanaan yang matang dan terperinci Menggunakan tata permainan bahasa tertentu, berupa

disiplin dalam berbicara atau menyampaikan sesuatu sebagai upaya kompartementasi antar manusia dan pengemban misi Memiliki pusat pengendali atau pos komando yang terkadang berdislokasi di luar negeri Sentralisasi kepemimpinan Dibutuhkan dana bagi pembiayaan operasi Karakter sederhana

Adanya sarana atau senjata tertentu yang digunakan


Efektivitas gerakan teroris sangat tergantung pada

dukungan populer, atau paling tidak dukungan segmen tertentu dalam, masyarakat Teroris seringkali beranggotakan anak muda kelas menengah yang berpendidikan tinggi Terorisme jarang terjadi di dalam masyarakat yang kekerasan tidak menjadi bagian dari tradisi dan kebudayaan politik Teroris jarang menyerang militer, karena pertimbangan kekuatan, susunan dan dislokasi pasukan tentara di luar kota menjadikan militer sasaran yang kerap sulit

Dari segi keseluruhannya yang lebih besar,

yang didalamnya eksistensi terorisme merupakan bagiannya Dari segi bagian-bagiannya yang menyusun suatu kesatuan lebih besar, yang merupakan eksistensi terorisme

Pendekatan pertama, terorisme merupakan suatu ide

tentang tindak kekerasan atau ancaman kekerasan. Terorisme dalam konteks ini merupakan bagian dari suatu diskursus besar tentang ilmu perang (konvensional maupun inkonvensional) dengan berbagai derivatifnya, seperti perang terbatas maupun perang total, perang terbuka maupun kladestine) Pendekatan Kedua, terorisme merupakan sebuah konsep yang terdiri dari prinsip: 1. Ketidakteraturan pikiran dan masalah dalam kepribadian manusia 2. Psikologi massa (public), baik publik yang ketakutan maupun publik yang menaruh simpati

Mengeliminasi sebab-sebab terorisme:

Counter attack terorisme: putusan pengadilan,

operasi militer, counter thd state terorism Pengguatan Sanksi Hukum; melalui unilateral, kerjasama internasional Kerjasama antar negara: dukungan diplomatik, kerjasama militer, pertukaran intelegen, kerjasama di bidang hukum, bantuan dan latihan keamanan

Teknologi modern yang berkembang pesat hanya

mampu melacak pergerakan unit-unit tertentu, sedangkan pergerakan pelaku terorisme sulit untuk dilacak Sistem Politik Demokrasi, yang terbuka dan toleransi terhadap segala sesuatu, termasuk di bidang intelegen Sistem Politik Demokrasi menyebabkan banyaknya orang yang terlibat dalam penggambilan keputusan termasuk operasi terorisme Masyarakat yang fundamental serta apatis