Anda di halaman 1dari 6

Diagnosa Banding 1. Sindroma Brown-Sequard, pada bentuk yang murni, menunjukkan akibat dari hemiseksi kord spinal.

Defisit neurologis berupa hilangnya fungsi motor ipsilateral, sensasi vibrasi dan posisi. Sebagai tambahan, sensasi nyeri serta suhu kontralateral hilang. Luka tembus dan peluru dapat menimbulkan sindroma Brown-Sequard 'lengkap', namun manifestasi tak lengkap sindroma ini tampak dengan berbagai ragam pada lesi lain, termasuk trauma dan neoplasma. 2. Sindroma kord sentral paling sering dijumpai setelah suatu cedera hiperekstensi servikal. Karena sebab tertentu seperti keadaan mekanik dan catu vaskuler dari kord, bagian sentral dapat mengalami kontusi walau bagian lateral hanya mengalami cedera ringan. Khas pasien mengeluh disestesi rasa terbakar yang berat pada lengan, mungkin karena kerusakan serabut spinotalamik, mungkin saat ia menyilang komisura anterior. Pemeriksaan fisik menunjukkan kelemahan lengan, dengan utuhnya kekuatan ekstremitas bawah. Sebagai tambahan, sensasi nyeri dan suhu hilang dalam distribusi seperti tanjung. Semua lesi yang menyebabkan cedera primer terhadap kord spinal sentral dapat menimbulkan gambaran defisit serupa, seperti siringo- mielia, tomor kord spinal intrinsik, dan hidromielia. Sindroma ini secara jarang dapat terjadi pada kord spinal bawah (konus medularis).

3. Sindroma arteria spinal anterior terjadi karena arteria ini mencatu substansi kelabu dan putih bagian ventrolateral dan posterolateral kord spinal. Kerusakan arteria ini berakibat sindroma klinis paralisis bilateral dan hilangnya sensasi nyeri serta suhu dibawah tingkat cedera, namun sensasi posisi dan vibrasi (fungsi kolom posterior) utuh. Lesi arteria ini bisa karena cedera tulang belakang, neoplasma yang terletak anterior (biasanya metastasis) dan cedera aortik. 4. Sindroma kolom posterior terjadi bila kolom posterior rusak secara selektif, berakibat hilangnya sensasi vibrasi dan proprioseptif bilateral dibawah lesi. Temuan ini tersering dijumpai sekunder terhadap kelainan sistemik (neurosifilis), namun secara jarang dijumpai setelah trauma kord spinal

Penatalaksanaan Pasien BSS sebaiknya diberikan imobilisasi leher untuk mencegah penekanan/injuri medula spinalis lebih lanjut. Selain itu pengobatan, pembedahan dan rehabilitasi juga dapat dilakukan sesuai indikasi. 1. Medikamentosa Obat yang diberikan pada pasien BSS adalah golongan kortikosteroid, yaitu methylprednisolone (Medrol, Solu-medrol). - Mekanisme Kerja: Methylprednisolone menurunkan respon inflamasi dengan menekan migrasi polymorphonuclear leukocytes dan menghambat peningkatan permeabilitas vaskular. - Dosis: 30mg/kgBB IV dalam 15 menit pertama diikuti dalam 45 menit berikutnya dengan dosis 5,4 mg/kgBB/jam selama 23 jam - Kontraindikasi: Orang dengan hipersensitivitas, infeksi fungal, viral maupun micobacterium. - Interaksi: (1) bila diberikan bersama-sama dengan digoxin dapat meningkatkan toksisitas digitalis sekunder akibat hipokalemia, (2) Estrogen dapat meningkatkan level obat, (3) phenobarbital, phenytoin dan rifampin dapat menurunkan level obat, (4) jika diberikan bersamaan dengan diuretik, pasien harus dimonitor untuk hypokalemia. - Efek samping: Hiperglikemia, demam, osteonekrosis, ulkus peptikum,

hipokalemia, euphoria, osteoporosis, psikosis, gangguan pertumbuhan, myopati, infeksi 2. Bedah Pembedahan jarang dibutuhkan karena prognosis pasien dengan medikamentosa biasanya baik. Indikasi pembedahan meliputi: - Jika masih terdapat kelemahan motorik yang signifikan setelah suatu periode perbaikan - Jika penekanan/kompresi pada medula spinalis menetap - Jika terdapat instabilitas spinal - Jika kelainan neurologis semakin parah

Pasien dengan kompresi sekunder dari herniasi diskus akibat trauma harus segera didekompresi. Pasien yang mengalami BSS akibat osteophyte, penebalan/ruptur ligamentum flavum ataupun stenosis tidak memerlukan operasi segera dan ditunggu hingga keadaan pasien membaik.

3. Rehabilitasi 1. Terapi fisik Tujuan dari terapi fisik adalah pemulihan Range of Motion (ROM) dan meningkatkan kemampuan mobilitas. Hal terpenting adalah untuk memperkuat otot ekstremitas atas yang masih bisa diperbaiki, demikian juga dengan keseimbangan dan stabilitas tubuh. Karena kelemahan ekstremitas atas lebih parah daripada ekstremitas bawah, maka pasien akan mengalami kesulitan dalam menggunakan alat bantu berjalan yang membutuhkan bantuan tangan. 2. Rehabilitasi kerja (Occupational Therapy) Karena kelemahan ekstermitas atas lebih dominan pada BSS, perbaikan kemampuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, memperkuat ekstremitas atas dan perbaikan ROM adalah tujuan utama rehabilitasi kerja. Aplint/bidai seringkali digunakan untuk

mempertahankan posisi fungsional tangan dan mencegah kontraktur jari-jari tangan. 3. Terapi bicara Khususnya diberikan pada pasien yang mengalami disfagia akibat pemakaian alat-alat untuk mempertahankan stabilitas servikal atau akibat fusi spina servikalis anterior. Pasien harus diajarkan cara menelan agar tidak memperparah disfagia dan mencegah aspirasi

4. Penanganan pada Kasus Khusus 1. Autonomic Dysreflexia - Merupakan kelainan haemoatsasis yang disebabkan kelainan saraf otonom - Input sensori dari distensi kandung kemih atau stimulus noksius dapat menstimulus aktivitas simpathetik yang sistemik, mengakibatkan

vasokonstriksi dan hipertensi

- Penanganan yang tepat terhadap agen-agen noksius pada kulit, kandung kemih maupun saluran cerna dapat mencegah rekurensi. Sumber-sumber nosiseptif harus dicari dan ditangani. - Jika tidak terjadi perbaikan, lakukan pengobatan untuk menurunkan tekanan darah - Nifedepine dan Nitrogliserin transdermal adalah obat yang sering digunakan. 2. Neurogenic Bladder - Pasien yang mengalami gejala BSS akibat injuri akut sering kali mengalami retensi urin sehingga memerlukan pemasangan Kateter Foley untuk drainase - Jika cairan penderita sudah stabil, kateter dapat dilepas dan dilanjutkan dengan pemberian latihan pengendalian kandung kemih dan jika diperlukan dapat dipasang kateter secara intermiten. - Fungsi kandung kemih biasanya dapat kembali dalam waktu 6 bulan - Jika fungsi kandung kemih tidak kembali setelah 6 bulan, ajari pasien untuk memasang kateter sendiri saat rangsangan berkemih datang 3. Spastisitas - Pada awalnya, pasien akan mengalami penurunan tonus, namun setelah periode spinal syok mereda, pasien justru dapat mengalami spstisitas pada ekstremitas atas maupun bawah - Perawatan yang tepat dapat meminimalisasi impuls nosiseptif maupun eksteroseptif yang dapat memperparah hipertonia - Posisi tidur yang benar dan program peregangan dapat menurunkan spastisitas dan mencegah kontraktur - Dapat dilakukan percobaan pemberian antispasme jika spasme otot sudah mengakibatkan rasa tidak nyaman pada pasien - Obat pilihan pertama yang diberikan adalah Lioresal 4. Nyeri Neuropati - Pasien dengan BSS dapat mengalami allidynia di bawah level injuri - Penanganan pertama adalah dengan mengevaluasi dan menghilangkan faktorfaktor pencetus seperti infeksi atau pressure ulcer - Dapat ditambahkan pemberian obat antikonvulsi

5. Pressure Ulcer - Penurunan fungsi sensoris dapat mengakibatkan pembentukan pressure ulcer karena tekanan-tekanan pada kulit tidak disadari oleh penderita - Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan meminimalisasi penekanan pada kulit pasien, misalnya dengan menggunakan kasur khusus atau melapisi kusi roda dengan bantal di daerah-daerah penonjolan tulang - Perubahan posisi secara teratur dapat menurunkan tekanan kontinyu pada bagian-bagian tertentu - Penanganan pertama adalah dengan menghilangkan semua sumber

penekanan. Jika ulkus semakin parah, konsulkan ke bagian bedah plastik jika diperlukan 6. Neurogenic Bowel - Akibat penurunan kemampuan kontrol untuk BAB, berikan latihan pengontrolan BAB secara teratur, termasuk pemberian cairan dan serat yang cukup untuk menghindari konstipasi atau inkontinensia - Lakukan evakuasi feses misalnya dengan stimulasi melalui colok dubur atau metode lain 5. Follow Up - Masukkan pasien ke ICU bedah saraf untuk monitor status neurologis - Monitor tekanan darah sangat penting karena pasien biasanya dibuat hipertensi ringan untuk meningkatkan aliran darah ke medula spinalis dalam 12-24 jam pertama - Berikan profilaksis untuk deep vein thrombosis (DVT) dengan low molecular weight heparin - TPN biasanya diperlukan karena terjadi gangguan peristaltik usus - Pasang kateter Foley jika terjadi retensi urin - Berikan perhatian khusus pada perawatan kulit

Komplikasi - Nyeri/hyperpathia - Retensi urin - Spastisitas pada ekstremitas atas maupun bawah

Prognosis - Pasien BSS yang berusia <50 tahun biasanya memiliki prognosis yang baik. Dalam waktu singkat 97% pasien mengalami kesembuhan, memperoleh kembali kemampuan mobilisasi dan dapat melakukan kegiatan harian dengan normal. - Pasien BSS yang berusia >50 tahun memiliki prognosis yang jauh lebih buruk dimana hanya 17% pasien yang mengalami kesembuhan - Jika penyebab BSS adalah edema, gejala dapat membaik dalam waktu singkat. Fungsi kaki biasanya akan kembali lebih dulu. Gerakan lengan bawah dan jari tangan biasanya memerlukan waktu yang paling lama untuk kembali normal - Jika lesi disebabkan oleh perdarahan atau ischemia, maka prognosis biasanya lebih buruk dan penyembuhan spontan sulit terjadi. - Faktor yang mempengaruhi prognosis antara lain: - Tingkat keparahan kelemahan pada ekstremitas atas - Kembalinya fungsi motorik dalam waki singkat - Peningkatan yang signifikan pada kekuatan ekstremitas atas maupun bawah pada tahap awal rehabilitasi - Usia yang lebih muda - Tidak adanya kelainan neurologis pada ekstremitas bawah