Anda di halaman 1dari 5

OPTIMASI HASIL PENGELASAN FSW (FRICTION STIR WELDING) DENGAN VARIASI PANJANG INDENTOR TOOL

1)

Yustiasih Purwaningrum1), Soep2) Staf Pengajar Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia 2) Alumni Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Jalan Kaliurang Km 14,5 Yogyakarta 55501 Telph. (0274) 895007, 895287 Faks. (0274) 895007 Ext. 131 Abstract

This research investigates the physical and mechanical properties of friction stir weld metals with various length of indentor tools. The physical properties were examined based on the microstructure using Optical Microscope. The mechanical properties were measured with respect to the toughness, strength and hardness using Charpy method, Universal Testing Machineand Vickers Microhardness respectively. The welding process that used was Friction Stir Welding (FSW). A series of bead on plate welds were made on 6 mm thick Aluminium 1xxx series. The tools made of W302 H13 with three differents length of indentor (1 mm, 2 mm, and 3 mm). The micrograph show that all of weld metal with various indentor tools have the similar structure. The hardness number of raw materials and weld metals were 38,93 and 36,80 VHN respectively. The toughness s show that weld metals with 2 mm indentor tools is about 2 times higher than the toughness of raw materials. Weld metals with 2 mm indentor tools have the highest toughness (0,84J/mm2). The strength of weld metals with indentor tools length 1 mm; 2 mm; and 3 mm are 77,9, 148, and 156 MPa respectively.

Keywords : FSW, indentor, toughness, microstructure, strength


1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Pengelasan adalah suatu proses penggabungan logam menjadi satu akibat panas las, dengan atau tanpa pengaruh tekanan, dan dengan atau tanpa logam pengisi. FSW (Friction Stir Welding) yang ditemukan pada tahun 1991 di Inggris (UK) banyak diaplikasikan tidak hanya untuk menyambung plat dan pipa tetapi juga diaplikasikan untuk penyambungan struktur pesawat tempur dan tangki bahan bakar pesawat luar angkasa, maupun struktur bangunan engineering lainnya Prinsip kerja dari FSW yaitu dengan memanfaatkan panas dari gaya friction namun tidak terjadi peleburan (melting), sehingga kekuatan yang dihasilkan hampir merata di setiap sambungan tanpa merubah struktur mikro dari material utama (aluminium).

Gambar 1. Skema Proses Pengelasan FSW Proses FSW menggunakan rotating cylindrical tool dengan indentor untuk memanaskan material dengan gesekan. Tool berputar, menggesek material, dan berjalan sepanjang garis las. Akibat gesekan tersebut maka material akan tersambung menjadi satu. Keuntungan Las FSW (Staron, dkk, 2004) adalah : (1) heat input kecil, (2) mengurangi distorsi dan (3) meningkatkan sifat mekanik. Hasil pengelasan FSW lebih kuat dan liat dibandingkan dengan hasil

1.2. Dasar Teori Friction Stir Welding


Pengelasan FSW merupakan proses penyambungan logam tanpa filler dan tanpa meleleh. Proses penyambungan logam terjadi pada fase padat karena berlangsung pada temperatur dibawah titik lebur (maksimal 0.8 titik lebur) dari material yang akan disambung (Dawes dan Thomas, 1996)

pengelasan busur (Navy Mantech, 2002).


Pemakaian aluminium pada alat transportasi mulai banyak dilakukan untuk mengurangi berat dan meningkatkan ketahanan impak (Hattori, 2000) Dengan berat yang semakin rendah maka berakibat

pada penghematan konsumsi bahan bakar (Tsujimura, 1998).

2. METODOLOGI PENELITIAN 2.1. Bahan dan Alat :


Logam induk : Aluminium seri 1xxx, tebal 6 mm dengan ukuran keseluruhan 165 mm X 200 mm. : Mesin Freis, Furnace, alat potong, alat ukur

Aluminium
Aluminium ialah unsur kimia dengan lambang Al dan nomor atomnya 13. Aluminium merupakan konduktor listrik yang baik, berwarna terang dan ringan , merupakan konduktor yang baik untuk panas dan listrik, tahan korosi serta mampu bentuk baik Selain itu aluminium merupakan logam yang memiliki sifat lebih lunak dibandingkan dengan material baja dan memiliki titik didih lebih rendah daripada baja.

Alat yang dipakai

2.2. Proses Pengelasan


Proses pengelasan FSW dilakukan dengan menggunakan mesin freis dengan material Tool W302 H13 . Indentor tool yang digunakan mempunyai variasi panjang 1 mm, 2 mm, dan 3 mm.

Indentor Tool
Tool disini berfungsi sebagai peranti utama dalam Friction Stir Welding. Dalam penelitian ini, tool yang digunakan adalah baja W302 H13 BOHLER. Langkah pertama yaitu mendesain tool kemudian dibuat dengan menggunakan mesin bubut CNC agar lebih presisi. Setelah dibentuk, kemudian tool dilakukan proses heat treatment. Tool yang dipakai dalam penelitian ini memiliki 3 variasi panjang indentor, yaitu 1mm, 2mm, dan 3 mm.

Gambar 3. Proses Pengelasan


2.3. Proses Pengujian
Berikut ini adalah pengujian dan alat serta metode yang digunakan dalam penelitian ini. Tabel 1. Pengujian dan Alat No Gambar 2. Bentuk Tool 1 2 Pengujian Pengamatan Fotomikro Pengujian Kekerasan Pengujian Ketangguhan Pengujian Tarik Metode / Alat Mikroskop Optik Vickers Microhardness Mesin Uji Ketangguhan Impak Charphy Mesin Uji Tarik

Heat Treatment dari Indentor Tool


Heat Treatment merupakan salah satu proses untuk mengeraskan logam dengan cara memanaskan logam dengan suhu dan waktu tertentu. Untuk material Tool W302 H13 Bohler, proses heat treatment yang dilakukan adalah : a. Quenching dengan pemanasan pada suhu 1050C ditahan 2 jam, didinginkan dalam oli kemudian didiamkan 24 jam. Annealing dengan pemanasan pada suhu 500C ditahan 2 jam, didinginkan di dalam furnace. 3 4

b.

Spesimen pengamatan fotomikro dan pengujian kekerasan sama yaitu seperti pada Gambar 4. Proses penyiapan spesimen adalah logam hasil las diresin, kemudian diamplas dan dietsa dengan menggunakan NaOH. Proses pengujian dilakukan pada bagian samping (arah ketebalan logam).

(b) Gambar 6. Fotomikro (a) Logam Induk (b) Logam Las Gambar 4. Proses Pengelasan Pengujian tarik dilakukan dengan Universal Testing Machine dengan spesimen berbentuk seperti pada Gambar 5. Dari pengujian tarik akan didapat diagram tegangan regangan. Dari diagram tersebut dapat diketahui nilai kekuatan tarik dari material. Dari gambar 6 terlihat bahwa struktur mikro hasil las sama baik bentuk maupun ukuran strukturnya. Hal tersebut disebabkan karena pada saat proses pengelasan logam induk tidak meleleh sehingga tidak terjadi pembesaran dan perubahan struktur mikro. Selain itu proses pengelasan FSW juga tidak menggunakan filler sehingga komposisi kimia hasil las akan sama dengan logam induk

3.2. Pengujian Kekerasan


Hasil pengujian kekerasan dengan metode Vickers Microhardness dapat terlihat pada gambar 7. Pengujian kekerasan dilakukan masing-masing 7 titik setiap variasi pengelasan. Nilai kekerasan diambil dari ratarata nilai kekerasan pada 7 titik tersebut. Dari hasil pengujian diperoleh nilai kekerasan rata-rata logam induk adalah 38,93 VHN sedangkan pada logam las nilai rata-ratanya adalah 36,80 VHN. Perbedaan nilai tersebut tidak signifikan hanya 5,79 %. Perbedaan tersebut disebabkan oleh ketidakhomogenan bahan. Nilai kekerasan yang hampir sama karena pada proses penyambungan pada pengelasan FSW terjadi pada fase padat sehingga tidak terjadi perubahan struktur mikro. Untuk struktur mikro yang sama nilai kekerasannya juga relatif sama.

Gambar 5. Bentuk Spesimen Uji Tarik

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Pengamatan Struktur Mikro


Pengamatan fotomikro dilakukan dengan menggunakan mikroskop optik. Pembesaran yang dilakukan adalah 100 x, sehingga 10 strip dalam foto menunjukkan 100 m.

Grafik Nilai Kekerasan


40 Nilai Kekerasan (VHN) 39 38 37 36 35 Logam Induk Daerah Las FSW 36.80 38.93

(a)

Gambar 7. Grafik Nilai Kekerasan

3.3. Pengujian Ketangguhan Impak


Pengujian ketangguhan Impak dilakukan masingmasing 3 spesimen untuk setiap variasi las. Hasil pengujian Impak dapat dilihat pada gambar 8.

3.4. Pengujian Tarik


Gambar 10 menunjukkan grafik nilai kekuatan tarik. Dari grafik tersebut terlihat bahwa nilai kekuatan tarik hasil las relatif sama yaitu 156,13 Mpa untuk indentor 1 mm, 148,85 MPa untuk indentor 2 mm, dan 120,80 MPa untuk indentor 3 mm. Hal tersebut disebabkan karena pengelasan FSW tidak menggunakan filler sehingga tidak ada unsur lain yang masuk dalam logam hasil las. Jika dibandingkan dengan kekuatan tarik logam induk, kekuatan tarik logam las lebih rendah, tetapi pengurangan nilai kekuatan tariknya tidak signifikan.
0.21

Grafik Nilai Ketangguhan


1 0.84 Nilai Ketangguhan (J/mm2) 0.8

0.6 0.48 0.4

0.2

0.09

Grafik Nilai Kekuatan Tarik


250
indentor 2mm indentor 3mm

0 Logam induk indentor 1mm

Nilai Kekuatan Tarik (MPa)

203.53 200 156.13 150 100 50 0 Logam induk indentor 1mm indentor 2mm indentor 3mm 148.85 120.8

Gambar 8. Grafik Nilai Ketangguhan Dari gambar 8 terlihat bahwa nilai ketangguhan tertinggi terdapat pada hasil las dengan menggunakan panjang indentor 2 mm yang mempunyai nilai 0,84 J/mm2. Nilai tersebut hampir 2x lipat dibandingkan dengan nilai ketangguhan logam induk. Dari hasil ketangguhan impak dapat disimpulkan bahwa logam induk dan hasil las dengan indentor 2 mm dan 3 mm mempunyai sifat ulet karena spesimen tidak patah setelah pengujian seperti terlihat pada gambar 9. Sedangkan pada hasil las dengan indentor 1 mm , spesimen patah disebabkan karena kedua bagian logam yang dilas tidak menyambung dengan sempurna.

Gambar 10. Grafik Nilai Kekuatan Tarik

4. KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan didapat kesimpulan : 1. Struktur mikro hasil las FSW dan logam induk sama karena proses pengelasan terjadi pada fase padat. 2. Nilai kekerasan hasil las dengan logam induk relatif sama hanya turun sekitar 5,79 %. Nilai yang relatif sama disebabkan karena struktur mikronya sama. 3. Nilai ketangguhan tertinggi didapat pada hasil las dengan panjang indentor tool 2 mm dengan nilai 0,84 J/mm2. Nilai tersebut hampir 2 kali lipat nilai ketangguhan logam induk. 4. Nilai ketangguhan terkecil terdapat pada hasil las dengan panjang indentor 1 mm. Hal tersebut disebabkan karena pada bagian tengah logam las tidak tersambung. 5. Nilai kekuatan tarik hasil las dengan 3 variasi panjang indentor relatif sama dan tidak terdapat penurunan yang sangat signifikan dari logam las. Hal tersebut membuktikan bahwa proses pengelasan FSW tidak akan mengubah nilai kekuatan material.

Gambar 9. Foto patahan spesimen Impak Charphy Nilai ketangguhan terendah terdapat pada hasil las dengan indentor 1 mm. Hal tersebut disebabkan karena hasil las tidak tersambung pada bagian tengahnya yang disebabkan karena tebal logam induk 3 mm, sedangkan panjang indentor 1 mm.

DAFTAR PUSTAKA Anonym, (2002), Friction Stir Welding of Aluminium Armor for the AAAV, Navy Mantech Dawes C.J., Thomas W.M., Welding Journal, 75 (1996), 4s. Hattori, M., 2000, Transition of Rolling Stock Structure, Metal, (in Japanese), vol 70, no.2, pp.137-148. Staron P., Kocak M., Williams S., dan Wescot A., Residual Stress in Friction Steel-welded Al. Sheets, Phisica B. 350 (2004) 491-493 Tsujimura, T., Development of Life Cycle Assesment, Trend and Task, 1998, RTRI Report (in Japanese), Vol 12, No.10, pp.1-4