Anda di halaman 1dari 6

Almira Fathin Nabila 07.70.0148 Lukas Anjar Krismulyono 07.70.

0180

HIGROMA COLI

Higroma dalam bahasa Yunani berarti tumor yang berisi air. Higroma merupakan kelainan kongenital dari sistem limfatik Kista higroma pertama kali dideskripsikan oleh Wernher pada tahun 1843 sebagai lesi kista limfatik yang dapat mengenai berbagai daerah anatomi pada tubuh manusia. Akan tetapi, sebagian besar mengenai daerah kepala dan leher (75%), dengan predileksi sebelah kiri. Insidens dari kejadian kista higroma di dunia berjumlah 1 kasus setiap 6000-16000 kelahiran dan merupakan kelainan yang paling sering menjadi penyebab massa pada leher yang dapat dideteksi pada prenatal. Kista higroma coli juga biasa ditemukan pada saat lahir sebagai sebuah pembengkakan yang kurang nyeri, dan sebagian besar lesi (90%) menetap sebelum usia 2 tahun. Kista higroma coli yang besar dapat menimbulkan penekanan terhadap saluran nafas dan pencernaan sehingga memerlukan penatalaksanaan sesegera mungkin. Modalitas terapi utama berupa tindakan eksisi bedah untuk membuang lesi kista. Prognosis kista higroma coli bergantung pada ukurannya dan tindakan yang dilakukan karena jarang ada kasus yang mengalami regresi spontan. Bayi dan anak-anak yang ditemukan dengan massa di leher sering diajukan
ke radiologist untuk evaluasi lebih lanjut. Berbagai modalitas seperti USG , CT dan MRI dapat membantu membedakan jenis massa pada leher ini. Foto Polos diindikasikan apabila ada kompresi dan pergeseran struktur pada leher.

Sebagian besar kasus kista higroma (50-65%) ditemukan saat lahir, dengan 80-90% kasus terdeteksi sebelum usia 2 tahun. Kista higroma dapat dilihat dengan menggunakan USG abdominal pada usia gestasi 10 minggu, meskipun USG transvaginal dapat memberikan gambaran yang lebih detail. MRI juga dapat digunakan untuk mendeteksi perluasan dari kista higroma pada fetal. Kista higroma dapat terjadi baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan dengan frekuensi yang sama. Kejadiannya sama pada populasi kulit berwarna maupun kulit putih.. Kebanyakan {sekitar 75%} higroma kistik terdapat di daerah leher , dan
1

secara tipikal sering berada di posterior dan lateral leher dibandingkan bagian anterior leher, dan sering juga terjadi bilateral dengan tampilan yang tidak simetris. Kelainan ini antara lain juga ditemukan di aksilla {20%}, mediastinum dan regio inguinalis {5%}. Patofisiologi : gagalnya koneksi antara saluran limfe di leher dengan sistem vena, tonjolan abnormal dari saluran limfe di leher dan penyimpangan pertumbuhan saluran limfe premordial pada sekitar vena jugularis. kelainan ini yang kemudian berkembang makin besar sesuai dengan pertumbuhan anak, dapat meluas ke dasar mulut, aksila, mediastinum, dan wajah kista dilapisi selapis sel endotel dan berisi cairan jernih kekuningan.

Gejala klinis : - sebagian besar muncul pada bayi atau anak, tidak berbeda pada laki dan perempuan. - massa tumor bersifat kistik, multilokuler di regio kolli trigonum posterior dapat meluas ke anterior, dasar mulut, wajah, aksila, dan mediastinum. - benjolan yang sangat besar dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas atau gangguan menelan.

Pemeriksaan dan diagnosis ; Anamnesis - benjolan timbul sejak lahir - membesar seiring pertumbuhan anak - bisa didapatkan gangguan nafas bila massa cukup besar - didapatkan tanda radang lokal maupun sistemik bila mengalami infeksi

Pemeriksaan Fisik - benjolan di regio colli lateral - batas tidak jelas, kistik, dinding tipis, multilokuler / unilokuler - bisa disertai gangguan pernafasan atau tanda inflamasi bila mengalami komplikasi - pemeriksaan transiluminasi (+)

Pemeriksaan Tambahan - diperlukan untuk higroma yang sangat besar - USG bisa menunjukkan sifat lesi yang kistik - X foto leher AP/lateral untuk mengetahui pendesakan / penyempitan trakea. - X foto thorax untuk mengetahui ekstensi ke dalam thorax - CT-Scan & MRI bisa dilakukan untuk mengetahui sifat dan ekstensi lesi - FNAB. bila lesi menunjukkan tanda-tanda khas , tidak perlu dilakukan FNAB

Penatalaksanaan - bila tidak komplikasi, dilakukan ekstirpasi setelah anak memenuhi rule of ten ( umur > 10 minggu, berat badan > 10 pon , kadar Hb > 10 g/dl ) bila ada komplikasi sebelum terpenuhi rule of ten maka komplikasi tersebut diatasi terlebih dahulu. - obstruksi nafas : diatasi dengan melakukan trakeotomi

- obstruksi esofagus : diatasi dengan pemasangan pipa nasogastrik - infeksi / abses : diatasi dengan melakukan insisi dan pemberian antibiotik bila terdapat obstruksi , sementara pasien belum siap dilakukan operasi , maka bisa dilakukan punksi berkala pada massa tumor. Seorang bayi dengan diagnosis prenatal sebagai kista higroma harus dilahirkan di pusat pelayanan kesehatan yang memiliki sarana lengkap untuk mewaspadai komplikasi neonatal. Seorang obstetri biasanya memutuskan metode melahirkan yang sesuai. Jika kista higromanya besar, harus dipersiapkan. Operasi sesar dan bekerja sama dengan neonatalogist,

otolaryngologist, pediatric surgeon dan anesthesiologist . Setelah lahir, neonatus dengan kista higroma yang persisten harus diawasi terhadap obstruksi jalan napas. Observasi neonatus oleh neonatalogist setelah lahir sangat

direkomendasikan. Jika resolusi kista tidak terjadi setelah lahir, ahli bedah anak harus dikonsul. Modalitas terpilih untuk kista higroma adalah eksisi bedah, akan tetapi sudah ada beberapa laporan kasus yang mendokumentasikan hasil yang cukup baik dengan menggunakan agen sclerosant. Kista higroma merupakan lesi jinak dan bisa tetap asimptomatik dalam periode waktu yang cukup lama. Indikasi pengobatan adalah apabila terjadi infeksi pada lesi, respiratory distress, disfagia, perdarahan di dalam kista, peningkatan ukuran yang tiba-tiba, dan terbentuk sinus. Respiratory distress ditangani dengan melakukan trakeostomi apabila terjadi kompresi laring atau trakea oleh massa kista. Regresi spontan lesi ini jarang terjadi, meskipun ada beberapa pasien yang menunjukkan terjadinya regresi parsial spontan. 1. Eksisi Eksisi kista ini tidak mudah, karena melibatkan struktur dalam dan vital. Perawatan ekstrim harus dilakukan untuk menghindari komplikasi selama operasi. Komplikasi yang mungkin terjadi selama operasi adalah kerusakan nervus facialis, arteri facial, arteri carotid, vena jugularis interna, duktus torasikus dan pleura, serta eksisi inkomplit. Komplikasi post operasi yang mungkin terjadi adalah infeksi luka operasi, perdarahan, hypertrophic scar, dan keluarnya cairan limfe dari luka operasi. Pada 20% kasus, ditemukan adanya rekurensi setelah eksisi komplit.

Eksisi total merupakan pilihan utama. Pembedahan ini dimaksudkan untuk mengambil keseluruhan massa kista. Akan tetapi, bila tumor besar dan telah menyusup ke organ penting, seperti trakea, esofagus, atau pembuluh darah, ekstirpasi total sulit dikerjakan. Oleh karena itu, penanganannya cukup dengan pengambilan sebanyak-banyaknya kista, namun mungkin perlu dilakukan beberapa kali tindakan operasi. Kemudian, pascabedah dilakukan infiltrasi bleomisin subkutan untuk mencegah kekambuhan. Hal ini merupakan cara penanganan yang paling baik dan aman. Pada akhir pembedahan, pemasangan penyalir isap sangat dianjurkan. 2. Aspirasi Aspirasi perkutan diikuti oleh reakumulasi cepat dari cairan dalam kista atau oleh

perkembangan infeksi.Aspirasi kista higroma bisa dilakukan sebagai penanganan sementara untuk mengurangi ukuran dari kista sehingga dapat mengurangi efek tekanan terhadap saluran pernafasan dan pencernaan. Trakeostomi dan gastrostomi dilakukan terutama pada pasien dengan gangguan menelan dan pernafasan yang berat. 3. Skleroterapi Modalitas primer untuk kista higroma telah dicoba dengan teknik skleroterapi menggunakan bleomisin intralesi. Banyak kasus menunjukkan respon yang baik terhadap terapi ini. Agen lain yang digunakan adalah OK432, yang memberikan hasil yang lebih memuaskan dengan komplikasi yang lebih minimal daripada bleomisin.

Komplikasi Kista higroma merupakan lesi yang jinak, akan tetapi dapat menimbulkan beberapa komplikasi seperti : 1. Infeksi pada lesi Sumber infeksi dari kista higroma ini biasanya merupakan sekunder dari focus infeksi di traktus respiratorius, meskipun bisa juga bersifat infeksi primer. Selama proses infeksi, ukuran kista membesar dan menjadi hangat, merah, dan nyeri. Pasien bisa juga menjadi demam. Infeksi
5

bisa melibatkan seluruh kista atau sebagian kista. Selama infeksi aktif, transiluminasi bisa tidak terlihat lagi dan kadang-kadang kista ini juga bisa menjadi abses sehingga memerlukan tindakan drainase untuk meredakan gejala. Infeksi ini diobati dengan antibiotic, antipiretik, dan analgetik. 2. Perdarahan kista Pada perdarahan, kista menjadi keras dan tegang. Ruptur spontan pada kista higroma leher yang besar pernah dilaporkan sehingga memerlukan intervensi bedah segera. 3. Gangguan pernafasan dan disfagia Gangguan ini disebabkan oleh penekanan oleh massa kista pada saluran pernafasan dan pencernaan. Prognosis Prognosis higroma kistik tergantung pada ukuran kista dan komplikasi-komplikasi yang terjadi. Pertumbuhan kista dan pertumbuhan ke jaringan sekitar tidak dapat diprediksi. Sebagian kista dapat mereda secara spontan. Akan tetapi, tetap ada kemungkinan terjadi rekurensi. Kista higroma yang berkembang pada trimester ke tiga (setelah 30 minggu kehamilan) atau periode postnatal biasanya tidak berhubungan dengan abnormalitas kromosom. Ada kemungkinan rekurensi kista higroma setelah pengangkatan secara bedah. Kemungkinan rekurensi tergantung atas perluasan kista higroma dan apakah dinding kistadapat diangkat sempurna. Sebuah kista hygroma umumnya mulai berkembang pada usia kehamilan minggu ke 6ke 9, hal ini merupakan kegagalan dalam kantong limfatic jugular untuk mengalir ke vena jugular internal, yang menghasilkan dilatasi dari kantong limfatic menjadi kista dan menyebabkan obstruksi limfe jugular dan hydrops fetalis. Prognosis pada kasus ini adalah buruk. Hygroma ini terjadi hampir 75% pada leher dan leher lateral dan belakang lebih sering dibandingkan bagian depan leher, sering terjadi secara bilateral dalam posisi yang tidak simetris.