Anda di halaman 1dari 15

Hukum Laut Internasional dan Perkembangannya

BAGIAN I BAB I PENDAHULUAN Yang dimaksud dengan hukum laut internasional di sini adalah hukum laut internasional public (international law of the sea) , bukan hukum laut internasional perdata (Maritime Law). Oleh karena itu di sini tidak akan dibahas mengenai pengangkutan laut, asuransi laut, tabrakan kapal dan hal-hal lain yang merupakan bagian dari pembahasan hukum laut internasional perdata. Kajian ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama membahas keadaan hukum laut internasional sebelum tahun 1930, di sini akan diuraikan konsepsi-konsepsi yang berkenaan dengan hukum laut, batas lebar laut yang dapat dijadikan sebagai bagian dari wilayah Negara dan upaya-upaya untuk memperluas lebar laut wilayah dan penetapan lebar laut wilayah yang seragam. Bagian kedua menguraikan keadaan hukum laut international antara tahun 1930 dan 1958. Di dalam bagian akan dibahas kelanjutan dari upaya-upaya perluasan dan penyeragaman laut wilayah, timbulnya rezim-rezim hukum baru seperti landas kontinen, dan konsep Negara kepulauan (archipelago states). Rezim-rezim hukum baru tersebut bersamasama dengan tuntutan perluasan laut wilyah diupayakan untuk dapat diterima dalam bentuk hukum perjanjian internasional. Dan, ini diperjuangkan sejak Konferensi Hukum Laut I Jenewa 1958 dan II tahun 1960. Bagian ketiga menguraikan tentang keadaan hukum laut internasional setelah tahun 1960 sampai dengan tahun 1982, yaitu tahun ditandatanganinya Konvensi hukum Ketiga (United Nations Convention on the Law of the Sea) 1982. Pada bagian ini dibahas tentang pembagian kawasan laut, serta perkembangan lebih lanjut dari konsep-konsep hukum laut serta timbulnya rejim-rejim hukum baru yang mencakup konsep dasar laut dalam (deep sebed area) sebagai warisan bersama umat manusia (common heritageof mankind) sebagai zona eksklusif. Bagian keempat tentang Konvensi Hukum Laut III 1982, menguraikan proses perundangan Konvensi hukum Laut III 1982 pada bulan Desember 1982 samapi dengan ratifikasi dan aksesinya pada 16 Nopember 1996, pembagian kawasan laut berdasarkan Konvensi Hukum Laut III 1982, pelestarian lingkunan laut, penelitian ilmiah kelautan dan penyelesaian sengketa kelautan. B. ARTI PENTINGNYA LAUT Laut memiliki arti penting bagi kehidupan manusia. Pentingnya laut bagi kehidupan manusia sudah dirasakan sejak dahulu kala. Kegiatan perikanan dan pelayaran sudah dikenal sejak masa perpindahan nenek moyang manusia untuk menyebar ke seluruh belahan dunia. Kegiatan perikanan yang masa lalu dilakukan secara tradisional sekarang dilaksanakan secara professional dengan mempergunakan peralatan canggih. Dalam kegiatan ini, usaha perikanan juga dapat dilakukan dengan menggunakan perusahaan-perusahaan asing untuk turut serta melakukan kegiatan perikanan di Negara-negara pantai bersangkutan, misalnya dengan usaha patungan (joint venture) atau bagi hasil (profit sharing). Penggunaan alat canggih dalam kegiatan perikanan serta semakin tingginya kebutuhan akan protein hewani mendorong semakin meningkatnya jumlah tangkapan dari 20 juta ton pada tahun 1950 menjadi 70 juta ton pada tahun 19701, dan akan meningkat terus sampai 200 juta ton per tahun.2

Selain ikan, laut juga kaya akan biota laut lainnya, dan berbagai macam mineral. Dasar laut misalnya kaya dengan mineral seperti tembaga, kobal dan nikel yang dapat dikonsumsi selama ribuan tahun,3 bungkahan mangan, campuran belerang, minyak dan gas bumi yang terdapat di berbagai kawasan laut. Diperkirakan terdapat sekitar 1,13 milyar barel cadangan terbukti, dan 101,7 trilyun kaki kubik gas bumi dan cadangan potensial 57,3 trilyun kaki kubik.4 diperkirakan 60% dari persediaan minyak bumi terletak di dataran kontinen, selanjutnya apda landasan kontinen (continental slope) banyak terdapat fosfor, dan di dasar laut dalam (seabed area) terdapat nodul mengandung 25% mangan, 15% besi danbahanbahan lainnya seperti nikel dan tembaga.5 Selanjutnya air laut juga penting sebagai sumber penyediaan air tawar. Air laut dapat dijadikan air tawar melalui proses penyulingan dan pencairan gunung es. Penyulingan air laut banyak dilakukan di Negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Kuwait. Mengenai penyediaan airlaut dan gunung es, menurut penyelidikan para ahli, sebuah gunung es sepanjang 10 mil dapat diseret selama 1 tahun dan kehilangan separuhnya dalam perjalanan dan sisanya akan diperoleh air tawar sekitar 250.000 juta gallon air tawar. Selain itu, air laut juga mengandung bahan-bahan kimia dan mineral. Diperkirakan ada 317 juta kubik mil air laut, setiap kubiknya mengandung lebih dari 60 macam zat, mulai dari oksigen, hydrogen (terbanyak), emas dan radium (terkecil). Tak kalah pentingnya, laut juga dapat dijadikan sebagai prasarana perhubungan dan pariwisata. Terkait denganhal ini telah dikembangkan berbagai sarana dan prasarana pendukung seperti prasaran dan saran transportasi dan akomodasi. Semuanya ini tentunya akan dapat menyediakan lapangan kerja, dan dengan demikian akan meningkatkan pendapatan masyarakat.

BAB II KONSEPSI TENTANG LAUT Sejak dahulu kala telah terdapat dua konsepsi mengenai laut, yaitu: res nullius dan res commanis. 1. Res nullius, berpendapat bahwa laut sebagai ranah tak bertuan, atau kawasan yang tidak ada pemiliknya. Karena tidak ada pemiliknya, maka laut dapat diambil atau dimiliki oleh masingmasing Negara. 2. Res communis, berpendapat bahwa laut adalah milik masyarakat dunia, karena itu tidak dapat diambil dan dimiliki secara individual oleh Negara-negara. Sebagai milik bersama, maka laut harus dipergunakan untuk kepentingan semua Negara, dan pemanfaatannya terbuka bagi semua Negara. Ini sesuai dengan pendapat Ulpian yang menyatakan bahwa the sea is open to everybody by nature, dan Celcius yang menyatakan the sea like the air, is common to all mankind.1 A. PRAKTIK NEGARA-NEGARA Dalam pelaksanaannya, kedua teori tersebut tak dapt diterapkan secara kaku. Keduanya saling melengkapi, yakni dalam batas-batas tertentu dapat dimiliki, tetapi dibatasi sampai jarak tertentu ini dapat dilihat dalam praktik yang dianut Negara-negara sejak dahulu sampai sekarang.2 1. Zaman sebelum Romawi Punisia kuno, sebuah kerajaan sebelum zaman Romawi menganggap laut yang mereka kuasai sebagai milik Negara mereka. Paham ini juga dianut oleh bangsa Persia, Yunani dan Rhodia. Di zaman Rhodia, hukum laut telah mulai berkembang, yang kemudian menjadi dasar bagi Hukum Romawi tentang laut. 2. Zaman Romawi Setelah perang Punis III Romawi telah menjadi penguasa tunggal di Laut Tengah. Laut Tengah kemudian dianggap oleh orang-orang Romawi sebagai danau mereka. Dalam melaksanakan kekuasaannya di laut tersebut banyak tanda yang menunjukkan bahwa dalam pandangan orang Romawi laut bias dimiliki. Orang Romawi memandang laut sebagai public property yakni sebagai milik Kerajaan Romawi. 3. Setelah Zaman Romawi Setelah zaman Romawi terdapat banyak Negara di sekitar Laut Tengah yang merupakan pecahan dari Kerajaan Romawi. Negara-negara ini menuntut laut yang berdekatan dengan pantai mereka sebagai wilayah mereka. Karena itu masa ini dipandang sebagai awal dari berkembangnya konsep laut wilayah. Tuntutan atas kepemilikan laut ini misalnya dilakukan oleh: (a) Venesia yang menuntut sebagian besar Laut Adriatik. Tuntutan ini diakui oleh Alexander III pada Tahun 1117. Di kawasan ini Venesia memungut kepada setiap kapal yang melewati kawasan laut Adriatik, (b) Genoa menuntut Laut Liguarian dan sekitarnya, dan (c) Pysa menuntut dan melaksanakan kedaulatannya atas laut Tyraania. Tuntutan-tuntutan itu cenderung menimbulkan penyalahgunaan hak oleh Negaranegara tersebut (misalnya memungut biaya pelayaran). Untuk mengatasi hal ini, para penulis pada waktu itu membatasi tuntutan tersebut sampai batas tertentu saja. Misalnya, Bartolus, Solorzan dan Cosaregis membatasi laut Negara pantai itu sampai 100 mil Italia (pada waktu itu = 1480 m). Baldus, Bodin dan Targa membatasinya sampai 60 mil, Loccanius membatasinya sampai batas yang diinginkan oleh Negara pantai tanpa merugikan negara tetangganya.

4. Zaman Portugal dan Spanyol Jatuhnya Constantinopel ke tangan Turki pada tahun 1443, menyebabkan bangsa Portugis mencari jalan laut lain ke timur menuju Indonesia melalui Samudera Hindia. Selain itu, Portugal juga menuntut Laut Atlantik sebelah selatan Maroko sebagai wilayah mereka. Bersamaan dengan ini, Spanyol sudah sampai di Maluku melalui Samudera Pasifik, dan menuntut Samudera ini bersama dengan bagian Barat Samudera Atlantik dan Teluk Mexico sebagai kepunyaan mereka. Tuntutan kedua Negara ini diakui oleh Paus Alexander VI, yang membagi dua lautan di dunia menjadi dua bagian dengan batas garis meridian 100 leagues (lk. 400 mil laut) sebelah Barat Azores. Sebelah barat dari meridian tersebut (Samudera Atlantik Barat, Teluk Mexico dan Samudera Pasifik) menjadi miliki Spanyol, dan sebelah Timur (Atlantik sebelah Selatan Maroko, dan Samudera Hindia) menjadi milik Portugal. Pembagian ini kemudian diperkuat dengan perjanjian Tordissilias antara Spanyol dan Portugis (1494) dengan memindahkan garis perbatasannya menjadi 370 leagues sebelah Barat Pulau-pulau Cape Verde di pantai Barat Afrika. Sementara itu, Swedia dan Denmark menuntut kedaulatan atas Laut Baltik, dan Inggris atas Narrow Seas, dan Samudera Atlantik dari Cape Utara sampai ke Cape Finnistere,3 atau laut di sekitar kepulauan Ingrris (Mare Anglicanum).4 dan untuk melaksanakan kedaulatannya atas laut-laut tersebut, pada abad ke-17 Inggris memaksa orangorang asing untuk mendapat lisensi Inggris untuk melakukan penangkapan ikan di Laut Utara, dan ketika dalam 1636 Belanda mencoba menangkap ikan, mereka diserang dan dipaksa mebayar 30.000 found sebagai harga kegemaran (the price of indulgence).5 5. Belanda Tuntutan kedaulatan atas Samudera Pasifik, Atlantik, dan Hindia oleh Portugal dan Spanyol serta kedaulatan atas Mare Anglicanum oleh Inggris dirasa sangat merugikan Belanda di bidang pelayaran dan perikanan. Di bidang pelayaran Belanda sudah sampai di Indonesia melalui Samudera Hindia pada tahun 1596, dan mendirikan Verenigde Oost Indische Compgnie (VOC) pada tahun 1602. Penerobosan melalui Samudera Hindia ini langsung berbenturan dengan kepentingan dan tuntutan Portugal. Di bidang perikanan orangorang Belanda selama berabad-abad telah menangkap ikan di sekitar perairan Mare Anglicanum, dan kegiatan ini telah dijamin oleh berbagai perjanjian antara kedua Negara. Untuk memperkuat dalil penentangannya atas kepemilikan laut, Belanda berusaha mencari dasar-dasar hukum yang menyatakan laut adalah bebas untuk semua bangsa. Untuk kepentingan ini Belanda menyewa Hugo de Groot, seorang ahli hukum untuk menulis sebuah buku yang membenarkan pendirian Belanda, shingga orang-orang Belanda dapat bebas berlayar ke Indonesia. Hasilnya, Grotius menyusun sebuah buku dengan judul Mare Liberum. Buku ini menguraikan teori kebebasan lautan dalam arti bahwa laut bebas bagi setiap orang, dan tak dapat dimiliki oleh siapa pun. Teori Gratius mendapat tentangan dari banyak penulis seangkatannya. Gentilis misalny, membela tuntutan Spanyol dan Inggris dalam bukunya Advocatio Hispanica yang diterbitkan setelah ia meninggal, tahun 1613. Pada tahun yang sama William Wellwood membela tuntutan Inggris dalam bukunya de Dominio Maris.njohn Seldon menulis Mare Clausum sive de Domino Marsnya pada tahun 1618 dan terbit pada tahun 1635. Paolo Sarpi menerbitkan Del Dominio del mare Adriatico 1676 untuk membela tuntutan Venesia atas laut lautan Adriatik. Yang terpenting dari buku-buku yang membela kepentingan kepemilikan atas laut adalaah Mare Clausum Shelden. Karya ini diperintahkan untuk diterbitkan pada tahun 1635 pada masa raja Charles I, yang meminta agar penulis Mare Liberium dihukum.6

6. Inggris Pada mulanya, sebelum tahun 604 Inggris menganut faham kebebasan lautan. Faham ini dianut terutama untuk menghadapi tuntutan Denmark atas kebebasan di laut Utara.. namun dalam tahun 1604 Charles I memproklamirkan King Chamber Area yang meliputi 26 wilyayah di sepanjang dan sekitar lautan Inggris (Mare Anglicanum) sebagai wilayah kedaulatan Inggris. Di daerah-daerah ini, diantaranya ada yang melebihi 100 mil, Charles I melarang kapal-kapal nelayan asing menangkap ikan di kawasan tersebut. Tuntutan ini ditentang oleh Belanda. Dalam perkembangan selanjutnya, umum diterima bahwa Negara-negara dapat memiliki jalur-jalur laut yang terletak di sekitar atau di sepanjang pantainya, dan di luar jalurjalur tersebut dianggap bebas bagi semua umat manusia. Beberapa jalur laut yang dapat dimiliki tidak sama untuk semua Negara, dan ini tergantung pada jenis dan fungsi jalur-jalur tersebut. Lebar laut untuk kepentingan perikanan misalnya, tidak sama dengan untuk kepentingan netralitas, pengawasan pabean dan kepentingan yurisdiksi perdata, pidana dan lain-lain. B. PERKEMBANGAN AJARAN HUKUM LAUT Dalam abad ke-17 dapat dikatakan telah lahir dua ajaran (doktrin) di bidang hukum laut internasional, yaitu ajaran Mare Liberium, yang menegaskan bahwa laut tidak bias dimiliki oleh siapa pun; dan Mare Clausum, yang menyatakan bahwa laut dapat dimiliki. Pendapat pertama dianut Belanda, dan yang kedua, antara lain, dianut Inggris, Spanyol, dan Portugal. Kedua ajaran ini pada hakekatnya sama dengan teori res nullius (mare clausum), dan res communis (mare liberium). Kedua ajaran ini timbul akibat dari pertentangan Belanda atas penguasaan laut di dunia oleh Portugal dan Spanyol, serta untutan Inggris atas kawasan Mare Anglicanum. Pertentangan antara Negara-negara ini terutama antara Belanda dan Inggris menimbulkan the Battle of books (perang buku).perang buku ini berlangsung kurang lebih 50 tahun dan berakhir dengan terjadinya perang antara Inggris dan Belanda pada tahun 1665. Perang buku ini umumnya berkisar pada dua teori tersebut. 1. Mare Liberum Sebenarnya, sebelum terbit dan dikembangkannya ajaran Mare Liberum dalam tahun 1609 oleh Grotius, ajran ini telah dianut oleh Negara-negara lain. Selama abad ke-16 Ratu Inggris, Elizabeth menganut teori ini. Francoise Alfonso Castro dalam bukunya De Potestate Legis Poenalis, Vasculus Menchaca (1509-1569)di Portugal dalam bukunya Controverslae Illustris, Alberto Gentilldi Italia dalam bukunya de Jure Belli menganut teori ini. Di antara penulis penganut teori ini yang paling terkenal adalah Hugo de Groot, yang menulis pandangannya mengenai kebebasan laut dalam bukunya Mare Liberum yang terbit tahun 1608 tersebut. Sesuai ajarannya tentang mare liberum, Grotius berpendapat laut tak dapat dimiliki oleh negara.7 Pendapat ini sejalan dengan konsepsinya mengenai pemilikan (ownership). Menurutnya, ownership (termasuk laut) hanya dapat terjadi melalui possession, dan possession hanya bias terjadi melalui pemberian atau melalui occupation. Occupation atas barang-barang bergerak dapat terjadi melalui hubungan fisik atas barang tersebut, sedangkan occupation atas benda tidak bergerak dapat terjadi dengan membangun sesuatu di atasnya (by power of standing and sitting11). Karena itu pemilikan hanya dapat terjadi atas barang-barang yang dapat dipegang teguh. Dan untuk dapat dipegang diteguh benda-benda tersebut harus ada batasnya. Laut adalah sesuatu yang tidak berbatas, karena itu tidak dapat diokupasi. Selain itu laut itu cair, dan sesuatu yang cair hanya dapat dimiliki dengan memasukkan ke tempat yang lebi padat (peraliud). Dengan demikian, tuntutan pemilikan laut berdasarkan penemuan (discovery), penguasaan dalam jangka waktu lama (prescription)

ataupun servitude tak dapat diterima karena semua itu bukan alas an untuk memperoleh ownership atas laut. Meskipun demikian, Grotius mengakui bahwa anak laut, inner sea, dan sungai sekalipun cair dapat dimiliki karena ada batasnya, yaitu tepinya dapat dianggap sebagai per allud.8 2. Mare Clausum Ajaran Grotius mengenai mare liberum sebagaimana disebutkan di atas mendapat tantangan dari berbagai penulis sejamannya. Mereka antara lain Gentilis, William Welwood, John Borough, Paulo Sarol, dan John Shelden.9 Tantangan atas ajaran Grotius mencegah kemenangan teorinya atas kedaulatan pada bagian-bagian tertentu dari laut bebas pada waktu itu. Kemajuan yang dibuat berdasarkan teori mare liberium hanya dalam satu hal, yaitu kebebasan pelayaran (freedom of navigation) di laut.10 Yang terpenting dari para penentang Grotius adalah John Sheldon. Penentangnya ini dikemukakan dalam bukunya Mare Clausum: the Right and Dominion In the Sea (1636). Menurut Sheldon, okupasi memang penting bagi kepemilikan. Namun, sejarah telah membuktikan bahwa Negara-negara telah menjalankan kekuasaan mereka atas lautan, dank arena itu melalui prescription itu dapat dimiliki. Karenanya laut itu bukan mare liberium tetapi mare clausum. Sifatnya yang cair tak menyebabkan laut tak dapt dimiliki, karena sungai dan perairan di sepanjang pantai yang cair diakui dapat dimiliki.11 3. Jalan Tengah Kenyataan membuktikan bahwa dalam berbagai bidang pertentangan pendapat kerap melahirkan pendapat ketiga yang bersifat ecletic yang mencari jalan tengah dengan menggabungkan sisi-sisi positif dari teori-teori yang saling bertentangan itu. Dalam kaitannya dengan dapat tidaknya laut dimiliki ternyata, kedua teori tersebut tak dapat mempertahankan ajarannya dengan kaku dan konsekuen. Grotius misalnya, dalam De Jure Bell ac Pacis (1625) menyatakan bahwa laut di sepanjang pantai dapat dimilki sejauh dapat dikuasai dari darat.12 Demikian pula Shelden. Selain mengakui hak Inggris atas Mare Anglicanum juda mengakui adanya hak lintas damai (innocent pessage) di laut-laut yang dituntut itu. 13 Dengan demikian, maka pada masa itu telah diakui ada bagian laut yang dapat dimiliki, yaitu bagian laut yang sekarang disebut laut wilayah dan jalur-jalur laut lainnya seperti jalur perikanan; dan laut yang tak dapat dimiliki oleh siapapun (laut bebas). Dalam abad ke 18 semua penulias, mengadakan pembedaan laut atas kawasan laut (maritime belt) yang dianggap berada di bawah kekuasaan negara-negara pesisir (the litoral state), dan laut bebas (open sea) yang tidak berada di bawah kekuasaan negara lain.14 Pontanus seorang ahli hukum Belanda, menyebut laut-laut yang dapat dimiliki mare audience, dan laut yang tidak bias dimiliki mare alterium.15 Persoalannya adalah berapa jarak laut yang dapat dimiliki. Ini baru dapt dipecahkan pada tahun 1702 ketika seorang ahli hukum Belanda, Binkhersoek, mengemukakan teori canon shot rule. Menurutnya, laut wilayah suatu negara adalah sampai jarak tembakan meriam dari pantai. Tampaknya ajaran ini pertama-tama dilandasi dari pengawasan nyata dari pelabuhan atau perbentengan terhadap kawasan laut yang berdeatan dengan pantainya.16 Ajaran ini dikemukakan di bukunya De Dominio Maris Disertasio.17 namun ajarannya ini belum secara pasti menentukan berapa mil jarak laut yang dapt dimiliki oleh negara. Untuk itu para penulis waktu itu berupaya mendapatkan patokan yang sama dengan atau pengganti dari jarak berdasarkan jangkauan meriam tersebut. Dan, seorang penulis Italia, Gallani (1872) mengusulkan batas 3 mil atau 1 league Italia sebagai pengganti dari jarak jangkauan meriam tersebut. Batas ini diakui oleh Amerika Serikat dalam Notanya kepada Inggris dan Perancis. Pada 8 Nopember 1873, dalam kaitannya dengan netralitas, dan selama

dan setelah perang Napoleon, prize court (pengadilan penyitaan kapal) Inggris dan Amerika Serikat menerjemahkan the canon shoot rule, ke dalam 3 mil laut,18 atau tiga kali 1852 meter.19 Sementara itu sepanjang abad ke-18 dan permulaan abad ke-19 sebagai akibat dari pelayaran negar-negara lain (selain Portugal, Spanyol dan Belanda = pen) perjuangan kebebasan di laut semakin berat, dan pada akhir kwartal pertama abad ke-19 kebebasan di laut bebas itu diakui secara semesta. Inggris sendiri yang semula menjadi penentang konsep laut bebas mengurangi tuntutan kedaulatan maritimnya, dan menjadi pemimpin baru kebebasan di laut bebas.

BAB III UPAYA UPAYA PERLUASAN LEBAR LAUT WILAYAH Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, sejak tahun 1702 lebar laut wilayah ditetapkan berdasarkan jarak jangkauan meriam yang dipasang di pinggir pantai, dan kemudian pada tahun 1872 diterjemahkan oleh Gallani menjadi 3 mil laut. Walaupun batas lebar laut wilayah ini diterima oleh banyak negara aturan 3 mil ini sejak semula tidak dianut secara seragam. Banyak negara meggunakan ukuran lain seperti Swedia dan Norwegia menggunakan ukuran 4 mil, Spanyol, Italia dan Yunani menggunakan batas 6 mil dan Mexico 9 mil.1 Ukuran 3 mil tersebut dirasakan semakin tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kemajuan teknologi dalam bidang persenjataan dan pelayaran. Tuntutan bagi peninjauan kembali lebar laut wilayah tersebut semakin tinggi. Lebih-lebih dengan munculnya berbagaiorganisasi dan lembaga yang membahas masalah-masalah tersebut. Lembagalembaga dan organisai tersebut adalah:2 B. LEMBAGA-LEMBAGA HUKUM INTERNASIONAL 1. Institute de Droit Internasional Institute de Droit International telah membahas lebar laut wilayah ini dalam sidangsidang di Lausanne (1888), Hamburg (1891), dan Paris (1894). Dalam sidangnya di Paris Lembaga ini menerima resolusi yang isinya: Lebar laut wilayah untuk kepulauan tidak perlu sama dengan lebar laut untuk keperluan lainnya misalnya untuk periklanan dan netralitas. Ajaran lebar laut wilayah 3 mil (semula untuk kepentingan pertahanan) sudah tak mencukupi lagi untuk kepentingan perikanan (terkait dengan kepentingan ekonomi dan kebutuhan hidup penduduk pantai). Kedaulatan negara atas laut wilayahnya diakui, dan tunduk pada hak lintas damai. Lebar laut wilayah secara keseluruhan disarankan 6 mil. Teluk sejarah diakui statusnya, dan teluk yang lebar mulutnya kurang 12 mil dapat ditarik garis pangkal di mulutnya itu. Lebar laut wilayah dapat ditarik dari garis pangkal tersebut, dan tidak lagi mutlak dari garis pantai (garis air rendah) seperti ketentuan sebelumnya. Dalam masa perang dapat ditetapkan kawasan netral (neutral zone) di luar wilayah 6 mil itu sampai jarak tembakan meriam sesungguhnya dari darat. Hak pengejaran (hot pursuit right) dan hak lintas damai (innocent passage sight) diakui. o Namun, dalam sidangnya di Stockholm (1928) lembaga tersebut menyatakan bahwa: Lebar laut wilayah adalah 3 mil, sekalipun batas yang lebih lebar dapat diterima berdasarkan hukum kebiasaan internasional Panjang garis pangkal ditetapkan 10 mil. Prinsip archipelago diakui keberadaannya, tetapi jarak antara pulau-pulau tidak boleh melebihi dua kali lebar laut wilayah. Dengan demikian maka kepulauan yang berbentuk kepulauan dapat diukur dari garis-garis pangkal yang menghubungkan titik-titik terluar pulau-pulau terluar dari kepulauan tersebut.

2. Perhimpunan Hukum Internasional (International Law Association) Pembicaraa tentang hukum laut terutama penentuan lebar laut wilayah telah dilakukan lembaga ini dalam berbagai konferensinya, di London 1887, Jenewa 1892 dan Bussel 1895. Dalam sidangnya di Brussel antara lain ditetapkan sebagai berikut: Prinsip lebar laut wilayah 6 mil; Garis pangkal mulut teluk 10 mil; Negara pantai berhak menetapkan sendiri zona netralnya; Selat yang kedua tepinya milik suatu negara menjadi milik negara tersebut. Jika ada kantong laut bebas di tengahnya, maka kantong-kantong ini juga diakui sebagai milik negara tersebut; Hak hot pursuit negara pantai juga diakui. o Namun, dalam sidangnya di Stockholm 1924 ILA menetapkan sabagai berikut: Lebar laut wilayah 3 mil; Garis pangkal mulut teluk 12 mil; Hak lintas damai (innocent passage right) diakui.

3. Harvard Research Dalam rangka menghadapi hukum laut yang direncanakan diselenggarakan di Den Haag pada tahun 1930 oleh Liga Bangsa-Bangsa, Universitas Harvard mengadakan riset sejak tahun 1927, dan pada tahun 1929 universitas ini menghasilkan sebuah dokumen. Di dalam dokumen ini antara lain menyatakan: Prinsip lebar laut wilayah3 mil diterima dengan pengertian bahwa negara-negara pantai masih dapat melaksanakan kekuasaan mereka di luar batas tersebut misalnya untuk keperluan perikanan dan lain-lain. Panjang maksimum garis pangkal untuk adalah 10 mil. Hak hot pursuit di laut bebas dan hak innocent passage di laut wilayah diakui. 4. Lembaga Hukum Internasional Amerika (American International Law Institute) Di dalam sidangnya di Rio de Jeneiro tahun 1927 badan ini mengakui: a) Negara pantai berdaulatatas laut wilayahnya, dasar laut dan tanah di bawahnya, dan udara di atas laut wilayah tersebut; b) Bahwa kepulauan merupakan satu kesatuan dank arena itu perlu dilakukan sebagai satu kesatuan. Namun, badan ini gagal menetapkan berapa lebar laut wilayah tersebut menurut hukum internasional. LIGA BANGSA-BANGSA Tidak adanya keseragaman dalam penentuan lebar laut wilayah, telah menarik perhatian Liga Bangsa-Bangsa. Oleh karena itu sejak tahun 1924 telah diadakan riset yang mendalam guna menyusun kodifikasi hukum laut tersebut melalui suatu konferensi internasional.3 Tujuan utamanya adalah untuk mengkodifikasikan hukum laut tersebut dari berbagai buku yang ada, bukan untuk membuat (law-making) hukum yang baru, yang sesuai dengan perkembangan zaman dan keadaan. Dari hasil tersebut kemudian dalam tahun 1929 berhasil disusun sebuah Basis of Discussion yang akan dibahas dalam konferensi tersebut. Dalam Basis of Discussion tersebut antara lain ditegaskan bahwa kedaulatan negara pantai di atas laut wilayahnya diterima dan prinsip lebar laut wilayah 3 mil diterima dengan kemungkinan mengadakan contiguous zone sejauh 12 mil dari pantai. Dalam zona yang disebut terakhir ini negara-negara pantai

dapat melakukan kewenangan tertentu dan terbatas untuk maksud-maksud tertentu seperti; untuk kepentingan karantina kesehatan, pabean, perikanan dan lain-lain. Selanjutnya pada tanggal 13 Maret-13 Aprl 1930 dilangsungkan Konferensi Hukum Laut di Den hag untuk pertama kalinya. Konferensi ini mengakui: Kebebasan berlayar di laut bebas; Kedaulatan negara pantai atas laut wilayahnya; Hak innocent passage diakui. Akan tetapi, konferensi ini gagal menetapkan hal yang paling poko yang menjadi dasar diadakannya konferensi ini yakni membakukan lebar laut yang seragam. - PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam sidangnya pada tanggal 21 Nopember 1947 menerima sebuah Resolusi untuk membentuk International Law Commission (ILC) yang terdiri atas 15 orang ahli hukum yang memiliki kompetensi yang diakui dalam hukum internasional dan mewakili bentuk-bentuk peradaban utama dan system hukum penting di dunia. Salah satu tugas ILC adalah mengkodifikasikan hukum internasional. Untuk tujuan ini, ILC mulai bersidang pada 1949. Hasilnya, pada tahun 1955 dapat dirumuskan proisiona; draft mengenai berbagai aspek hukum laut. Dalam sidangnya, 30 April sampai 4 Juli 1949, ILC hanya sampai pada suatu pendapat bahwa hukum laut internasional tidak memperbolehkan pelebaran aut wilayah sampai 12 mil, padahal pada waktu itu praktik negara-negara memperlihatkan penetapan lebar laut wilayah berkisar dari 3 sampai dengan 12 mil. Dari hasil-hasil siding yang dilaksanakan sejak tahun 1949 tersebut dapat disusun final draft, yang akan menjadi dasar pembahasan pada Konferensi Hukum Laut pertam di Jenewa dari tanggal 24 Februari sampai dengan 27 April 1958. Sementara itu, tanggal 13 Desember 1957 Indonesia mengeluarkan Deklarasi mengenai Perairan Wilayah Indonesia. Deklarasi ini, yang dikenal dengan Deklarasi Juanda, menetapkan lebar laut wilayah Indonesia 12 mil, diukur dari garis-garis yang menghubungkan titik-terluar yang menghubungkan pulau-pulau terluar Indonesia. Deklarasi Juanda tentang Perairan Wilayah Indonesia 1957 didasarkan apda pertimbangan-pertimbangan: 1) Bahwa bentuk geografi Republik Indonesia sebagainegara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau memerlukan pengaturan tersendiri; 2) Bahwa bagi kesatuan wilayah (teritorial) Indonesia semua kepulauan serta laut yang terletak di antaranya harus dianggap sebagai satu kesatuan yang bulat; 3) Bahwa penetapan laut-laut teritorial yang diwarisi dari pemerintah colonial sebagaiman termaktub dalam territorial Zee en Maritime Kringen Ordonantie 1939 pasal 1 ayat (1) tidak sesuai lagi dengan kepentingan keselamatan dan kemanan negara Republik Indonesia; 4) Bahwa setiap negara yang berdaulat berhak dan berkewajiban untuk mengambil tindakan-tindakan yang dipandangnya perlu untuk melindungi kebutuhan dan keselamatan negaranya. 5) Cara pengukuran ini mengubah cara pengukuran klasik laut wilayah Indonesia yang didasarkan Territorie Zee en Maritime Kringen Ordonantie 1939 yang diukur dari masing-masing-masing pulau pada saat air surut (low waterlijn). Selain untuk menjamin keselamtan dan keamanan negara Indonesia, Deklarasi ini memiliki makna yang sangat penting bagi pertahanan Indonesia, karena kita sedang berkonfrontasi dengan Belanda di Irian Barat, dan juga mengandung segi-segi politik.

Mengenai segi politik ini, Mochter kusumaatmadja menyatakan sebagai berikut: 1) Dari teks pernyataan pemerintah tanggal 13 Desember 1957 dan pertimbangan yang melandasi tindakan tersebut jelas bahwa segi keamanan dan pertahanan merupakan aspek yang penting sekali bahkan merupakan salah satu sendi pokok kebijakan Pemerintah mengenai perairan Indonesia. 2) Sendi pokok lainnya adalah menjamin integritas teritorial Indonesia sebagai satu kesatuan yang bulat yang meliputi unsure tanah (darat) dan air (laut) menggambarkan segi politik yang tak kalah pentingnya. Di samping segi-segi politik dan pertahanan keamanan tersebut, implikasi ekonomi tentu tak boleh diabaikan. Sebab, dengan Deklarasi Juanda, luas Indonesia menjadi dua kali lipat. Dan ini, dari segi ekonomi penting artinya, seperti bertambah luasnya kawasan perikanan laut, dan pengembangan sumber-sumber daya alam seperti pertambangan minyak dan gas lepas pantai. Pernyataan Pemerintah Indonesia yang menetapkan garis pangkal ditarik garis-garis yang menghubungkan titik-titik terluar pulau-pulau terluar tidak bertentangan dengan hukum positif yang berlaku. Sebelumnya, Norwegia pada 12 Juli 1951 mengeluarkan Norwegia Royal Decree yang menetapkan garis pangkalnya berdasarkan straight baseline from point to point, jadi tidak berdasarkan low water-marks. Cara penarikan garis pangkal ini diterima oleh Mahkamah Internasional dalam putusannya pada Anglo Norwegian Fisheries Case antara Norwegia dan Inggris di laut Utara, 18 Desember 1951. Dalam membenarkan cara penarikan garis pangkal ini, Mahkamah Internasional menyatakan bahwa Royal Decrea ini tidak bertentangan dengan hukum Internasional karena garis pangkal untuk laut wilayah tidak mutlak menurut low water-mark melainkan cukup mengikuti the general direction of the cost4. Keputusan ini didorong oleh geographical realities, and economic interest peculiar to a region, the rality and importance of which are clearl evidenced by long usage. Meskipun keadaan Indonesia berbeda dengan garis-garis yang menghubungkan titik ujung terpanjang pada kasus pertikaian Norwegia-Inggris ini, yakni 44 mil, namun keadaan Indonesia sebagai negara kepulauan cukup unik untuk membenarkan cara penarikan garis pangkal demikian. Yang penting dalam Anglo Norwegian Fisheries Case ini adalah suatu cara penarikan garis pangkal lain daripada cara klasik (yakni menurut garis air rendah) telah memperoleh pengakuan dari Mahkamah Internasional5.

BAGIAN II KEADAAN HUKUM LAUT INTERNASIONAL 1958-1982 BAB IV KONFERENSI JENEWA 1958 DAN 1960 A. KONFERENSI JENEWA 1958 Upaya-upaya membakukan lebar laut wilayah yang telah dmulai pada konferensi kodifikasi hukum laut pertam di Den Haag 1930 terus dilanjutkan. Lebih-lebih dengan lahirnya negara-negara baru setelah usainya Perang Dunia II kebutuhan akan hukum laut Internasional yang memenuhi kepentingan (hukum) nasional mereka semakin memperkuat dorongan untuk membakukan lebar laut wilayah tersebut. Upaya-upaya ini dilanjutkan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dan, sebagaimana telah dikemukanan sebelumnya, pada 1956 Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyusun final draft yang akan menjadi dasar dalam pembahasan pada konferensi Jenewa 1958. Sementara itu, sebelum diselenggarakannya konferensi ini, banyak negara di dunia yang sedara sepihak menetapkan lebar laut wilayahnya. Selain Indonesia, negara-negara lain yang melakukan hal ini antara lain Equador (Law of 21 February 95) yang menetapkan kepulauan Gallapagos memiliki laut wilayah sendiri, yaitu 2 mil dari sekeliling kepulauan tersebut, dan Kuba dengan Kepulauan Canariosnya1. Sesuai dengan praktik yang telah berlangsung sampai saat itu, negara-negara dapat memperluas wilayahnya, atau laut wilayahnya dengan:2 a. Memperlebar laut wilayah lautnya sampai lebar 6, 12, 30, 60 mil dst, diukur dari garis air rendah; b. Di sampai laut wilayah dapat ditetapkan contiguous zone untuk kepentingankepentingan tertentu seperti pencegahan penyelundupan, imigrasi dan sebagai; c. Menetapkan bagian tertentu menjadi perairan pedalaman; d. Menentukan bahwa negara bersangkutan berdaulat atas perairan di atas landas kontinen atau landas kepulauannya (continental shelf atau insular shelf) dengan batas kedalaman laut 200 mil. Konferensi Jenewa 1958 diselenggarakan pada tanggal 24-27 April 1958, diketuai Pangeran Wan Waltanyakorn dari Thailand, dihadiri 86 negara termasuk Indonesia.3 Dalam konferensi ini dibentuk 4 panitia yang bertugas membahas hal-hal berikut: 1) Komite I mempelajari soal laut wilayah dan zona tambahan; 2) Komite I mempelajari rezim laut bebas; 3) Komite I mempelajari soal perikanan dan pelestarian sumber daya alam; 4) Komite I mempelajari soal landas kontinen. Selain itu dibentuk pula sebuah Panitia Istimewa, yang bertugas membahas akses bebas ke laut bagi negara-negara yang tidak memiliki laut (the free access to the sea of the landlocked countries). Konferensi ini dimanfaatkan Indonesia sebaik-baiknya untuk memperjuangkan pembakuan lebar laut wilayah menjadi 12 mil dan memperkenalkan konsep Indonesia mengenai negara kepulauan sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Juanda 1957. Sesuai dengan ini, maka pendirian Indonesia pada konferensi tersebut adalah sebagai berikut:4 1. Secara umum dapat dikata bahwa pendirian Indonesia dalam menghadapi soal lebar laut wilayah sesuai dengan kedudukannya sebagai negara yang masih lemah dalam lapangan pelayaran baik niaga maupun perikanan. Kenyataan ini menyebabkan Indonesia

menganggap batas 3 mil tidak memadai dan harus ditinggalkan. Untuk menggantikannya Indonesia menyadari pentingnya batas yang seragam (uniform limit), namun, lebih baik jika samapi suatu batas maksimum setiap negara diperbolehkan menteapkan lebar laut wilayahnya menurut keadaan dan kebutuhan masing-masing. Kedudukan Indonesia sebagai negara maritime lemah dengan garis pantai yang sangat panjang, juga menentukan sikap delegasinya atas prinsip kebebasan di laut bebas (freedom of the high sas) tak boleh lagi ditafsirkan secara liberal tetapiharus memperhatikan sungguh-sungguh kepentingan negara pantai. Pendirian ini ditentukan pula oleh Deklarasi Pemerintah mengenai perairan Wilayah Indonesia, 13 Desember 1957. Untuk itu Indonesia harus memperjuangkan agar konferensi menerima tambahan satu pasal yang mengatur laut wilayah di sekitar kepulauan sebagai satu kesatuan. Sebagai konsekuensi dari Deklarasi Pemerintah RI 13 Desember 1957, harus pula diperjuangkan agar konferensi tidak menentukan batas maksimum panjangnya straight base line from point to point. Dan sesuai dengan deklarasi, harus diperjuangkan agar lebar laut wilayah dapat ditetapkan menjadi 12 mil. 2. Sesuai pendirian ini maka tugas dan kewajiban delegasi Indonesia, yaitu: a. Menjual konsep archipel kepada para peserta konferensi, (I) maksimal konferensi mengambil keputusan mengenai archipelago principles yang menguntungkan Indonesia sehingga memperkuat dasar hukum Deklarasi Pemerintah RI 13 Desember 1957 tersebut, (II) minimal, harus diupayakan adanya pengertian negara-negara lain mengenai dasar-dasar dari deklarasi ini. b. Teks pasal 5 mengenai straight base line from point to point usulan IIC sedapat mungkin dipertahankan. Yang terpenting agar diupayakan tidak ada keputusan mengenai batas maksimum garis pangkal lurus ini. c. Delegasi Indonesia harus mengusulkan atau mendukung usul yang member kebebasan setiap negara menetapkan lebar laut wilayahnya sendir sampai batas 12 mil. d. Hak lintas damai terutam bagi kapal perang, harus dititikberatkan pada kepentingan negara-negara pantai Konferensi ini gagal menetapkan lebar laut wilayah yang seragam bagi masyarakat Internasional. Ini, dapat dilihat dari hasil pemungutan suara mengenai hal tersebut, yaitu:5 Usul Kanada, paragraf 1 (6 mil), 11 pro, 48 kontra, 23 abstain, ditolak; Usul Kanada, paragraf 2 (lajur perikanan), 37 pro, 25 kontra, 25 abstain, diterima; Usul Mexico: 35 pro, 35 kontra, 25 abstain. Berdasarkan pasal pasal 45 Rules of Procedures, maka usul ini ditolak; Usul USSR ditolak, dengan hanya 29 pro, 44 dan 9 abstain. Usul Kolombia, ditolak dengan 33 pro, 42 kontra dan 7 abstain; Usul Swedia ditolak (33 suara pro, 42 kontra dan 4 abstain) Usul USA ditolak (38 kontra, 36 pro dan 6 abstain). Kegagalan ini, sebagaimana dengan konferensi Den Haag, disebabkan karena pertentangankepentingan negara-negara peserta. Dalam konferensi ini Amerika Serikat dengan dukungan negara-negara maritime lainnya menghendaki laut wilayah yang sesempit mungkin, karena itu mereka menghendaki diterimanya batas 3 mil; sebaliknya negara-negara sedang berkembang dan negara non maritime lainnya, menghendaki lebar laut wilayah melebihi 3 mil dan mengusulkan 12 mil.6 Sekalipun mengalami kegagalan, namun Indonesia dapat memperkenalkan konsep-konsepnya dalam rangka pembelaan terhadap Deklarasi Juanda 1957.

Konferensi, sekalipun gagal menetapkan pembakuan lebar laut yang berlaku semesta, dapat menghasilkan 4 konvensi, yaitu: 1. Konvensi tentang Laut Wilayah dan Jalur Tambahan (Convention on the Territorial Sea and Contiguous Zones). 2. Konvensi tentang Laut Beas (convention on the High Seas). 3. Konvensi tentang Perikanan dan Pelestarian Sumberdaya Hayati Laut (Convention on Fishing and Conservation of the Living Resources of the High Seas). 4. Konvensi tentang landas Kontinen (Convention on the Continental Shelf). B. KONFERENSI JENEWA 1960 Dua tahun setelah konferensi Jenewa 1958, diadakan Konferensi Hukum Laut II di Jenewa, 1960. Focus utama konferensi ini adalah menetapkanlebar laut wilayah yang seragam bagi semua negara, yang gagal dicapai pada Konferensi Jenewa I 1958. Konverensi ini dihadiri 88 negara termasuk Indonesia. Dalam rangka memperjuangkan keberhasilan tuntutannya selaras dengan ketentuan Deklarasi Juanda 1957, Indonesia mengeluarkan undang-undang yang mengukuhkan tuntutan ini, yakni Undang-undang No. 4/Prp/1960 tentang Perairan Indonesia, 18 Februari 1960. Pengundangan perairan wilayah Indonesia menjelang konferensi Jenewa 1960 ini memperlihatkan perubahan sikap Indonesia disbanding dengan keadaan dan suasana sekitar 13 Desember 1957. Jika pada akhir 1957 rencana konferensi Jenewa I 1958 menyebabkan penundaan pengundangan konsep nusantara, maka rencan penyelenggaraan Konferensi Jenewa 1960 justru mendorong Pemerintah mengundang perairan Indonesia sebelum dilaksanakannya konferensi tersebut. Penundaan pengundangan konsepsi nusantara pada 1957 adalah untuk melihat reaksi masyarakat internasional terhadap pernyataan Indonesia mengenai perairan wilayahnya sebelum dimasukkan ke dalam system hukum nasionalnya. Sementara kegagalan konsep negara kepulauan (nusantara) memperoleh pengakuan Internasional pada tahun 1958 menyadarkan Pemerintah, bahwa ia tidak dapat menyandarkan jaminan pengakuan hanya melalui suatu konferensi internasiona. Dua tahun berlalu, tidak menunjukkan perubahan penting dalam sikap masyarakat internasional terhadap hukum laut. Dan, kenyataan bahwa tahun 1960 akan diadakan Konferensi Hukum Laut II, semakin mendorong Indonesia mempercepat diundangkannya UU No. 4/Perpu/1960.7 Dengan demikian, pengundangan UU No. 4/Perpu/1960 dilandasi pengalaman bahwa konferensi tersebut tak dapat diharapkan mengambil keputusan yang mwnguntungkan negara-negara penganut prinsip kepulauan. Ini, karena banyak hal belum jelas mengenai kepulauan tersebut sebagai konsep dalam hukum laut, juga negara-negara yang berkepentingan langsung dengan rezim kepulauan ini tidak banyak. Di Asia misalnya, yang dapat ditunjuk sebagai negara kepulauan hanya Indonesia, Filipina dan Jepang. Yang terakhir ini, sekalipun merupakan negara kepulauan tetapi tampaknya merasa tak berkepentingan dengan konsep negara kepulauan. Selain factor luar ini, factor dalam negri juga meningkatkan keyakinan atas kebenaran konsep nusantara bagi Indonesia terutama dari kalangan politisi dan angkatan laut; dan bertambahnya keyakinan bahwa penerapan konsepsi ini dengan mempertimbangkan kepentingan pihak ketiga, khususnya lintas damai kapal-kapal asing akan mengurangi tantangan terhadap konsepsi perairan nusantara. Berbeda dengan pertimbangan Deklarasi Juanda 1957 yang dilandasi oleh kepentingan politik, keamanan dan pertahanan, maka UU No. 4/Prp/1960 lebih menekankan kepada kepentingan ekonomi dan pengamanan sumber kekayaan alam baik hayati maupun non hayati. Ini dapat dilihat pada asas-asas pokok yang dapat disarikan dari Undang-Undang ini, yaitu:8

Untuk menjamin dan mengaskan kesatuan bangsa, integritas wilayah dan kesatuan ekonomi Indonesia, ditarik garis-garis pangkal lurus yang menghubungkan titik-titik terluar dari pulau-pulau terluar; 2. Jalur laut wilayah selebar 12 mil diukur terhitung dari garis pangkal lurus ini; 3. Negara berdaulat atas segala perairan yang terletak di dalam garis-garis pangkal lurus ini termasuk dasar laut dan tanah di bawahnya dengan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya; 4. Hak lintas damai kendaraan air (kapal) asing melalui perairan nusantara dijamin selama tidak merugikan kepentingan negara pantai dan mengganggu keamanan dan ketertibannya. Dengan keluarnya UU No. 4/Prp?1960 ini, maka konsep negara kepulauan sebagai konsep hukum mencapai bentuk terpentingnya yang member makna atau kerangka hukum dan wilayah terhadap wawasan filosofis Indonesia yang berdasarkan pada konsep kesatuan tanah, alor dan penduduknya.9 Perlu diketahui bahwa dalam Konferensi Hukum Laut II ini diajukan beberapa usul penting oleh negara-negara peserta, di antaranya:10 a. Usul Amerika Serikat-Kanada menyarankan 6 mil laut wilayah ditambah 6 mil exclusive fishing zones (tanpa ketentuan traditional fishing) dikalahkan dengan satu suara, yaitu 54 setuju, 28 menentang, dan 1 abstain. b. Golongan 12 mil termasuk Indonesia, ditolak dengan 39 setuju, 36 menentang dan 18 abstain; c. Golongan yang hanya mengakui 12 mil wilayah perikanan saja dikalahkan dengan 38 setuju, 32 menentang dan 18 abstain. Dengan tidak dicapainya kesepakatan para peserta mengenai lebar laut yang seragam, maka konferensi ini mengalami nasib yang sama dengan Konferensi Hukum Laut I 1958. Jadi konferensi inipun mengalami kegagalan menetapkan lebar laut yang baku, yang berlaku bagi semua negara. Akibatnya, maka negara-negara menentukan sendiri lebar laut wilayahnya.

1.