Anda di halaman 1dari 27

I.

TUJUAN PRAKTIKUM

1. mengetahui jenis-jenis alat yang digunakan dalam praktikum oseanografi fisika 2. mengetahui prinsip kerja , bentuk (gambaran), dan data yang dihasilkan dari tiap-tiap instrumen yang digunakan dalam prakltikum oseanografi fisika. 3. mempelajari fungsi dan cara kerja alat(instrumen) yang digunakan dalam praktikum oseanografi fisika

II.
2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Alat Pengukur Suhu,Salinitas, dan Kecerahan 2.1.1 CTD (Conductivity Temperature Depth)

Sumber. (www.scribd.com)

Gambar 2 .1 CTD

CTD (Conductivity Temperature Depth) adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur karakteristik air seperti suhu, salinitas, tekanan, kedalaman, dan densitas.. Secara umum, sistem CTD terdiri dari unit masukan data, sistem pengolahan, dan unit luaran. Unit masukan data terdiri dari sensor CTD, rosette, botol sampel, kabel koneksi dll. Sensor berfungsi untuk mengukur parameter karakteristik fisik air laut yang terdiri dari sensor tekanan, temperatur, dan konduktivitas. Botol sampel berfungsi sebagai wadah sampel air sedangkan rosset berfungsi untuk mengatur penutupan botol. Kabel koneksi berfungsi sebagai penompang, dan juga berfungsi sebagai pengantar sinyal. Telekomando akan memberikan sinyal kepada rosset untuk menutup botol secara berurutan, setelah mengambil sampel air laut. Unit pengolah terdiri dari sebuah unit pengontrol CTDS (CTD Sensor) dan komputer yang dilengkapi perangkat lunak. Unit pengontrol berfungsi sebagai pengolah sinyal CTD, penampil hasil pengukuran serta pengubah sinyal analog ke digital. CTD mengontrol setiap kegiatan akusisi dan pengambilan sampel serta kalibrasi. Setiap penekanan tombol fungsi sesuai pada menu, maka printer akan mencetak posisi, kedalaman, salinitas, konduktifitas dan temperatur sehingga kronologis kegiatan pengoprasian CTD dapat terekam. Sensor adalah sebuah piranti yang mengubah fenomena fisika menjadi sinyal elektrik. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas).

a. Sensor Tekanan. Sensor tekanan merupakan sensor yang memanfaatkan hubungan langsung antara tekanan dan kedalaman. Sensor ini terdirai dari tahanan yang berbentuk seperti jembatan wheatsrone kemudian dinamakan strain gauge. Strain gauge merupakan alat resistansi yang berubah ketika mendapat tekanan, Tahanan ini akanmemegang peranan ketika mendapat gaya dalam bentuk fisika seperti tekanan, beban (berat), arus dll. (Herunadi, 1998). b. Sensor Temperatur. Sensor temperatur adalah sensor yang berpengaruh terhadap suatu hambatan, dalam bentuk termistor. Termistor (tahanan termal) merupakan alat semikonduktor yang berperan sebagai tahanan dengan besar koefisien tehanan temperatur yang tinggi dan biasanya bernilai negative. Alatini terbuat dari campuran Oksida-Oksida logam yang diendapkan seperti mangan, nikel, kobalt dll. (Herunadi, 1998).

c. Sensor Konduktifitas. Sensor konduktofitas merupakan sensor yang mendeteksi adanya nilai daya hantar listrik di suatu perairan. Sensor ini merupakan sensor yang terdiri dari tabung berongga danempet buah terminal elektroda platinarhodium di belakang sisinya. Sebagai sensor yang melewati nilai konduktifitas maka rata-rata hasil proses dalam pengukuran akan melewati nilai rendah (low pass fliter). Sensor ini akan mulai mengukur ketika alat telah bergerak masuk kedalam air sampai pada posisi yang diinginkan. Sebenarnya sensor ini mengukur nilai konduktifitas untuk mengetahui nilai salinitas atau kadar garam di sebuah perairan sacara tidak langsung. (Herunadi, 1998). Kelebihan dan Kekurangan Kelebihan pada alat ini adalah alat ini lebih simpel untuk dibawa daripada menggunakan CTD ( Conductifity Temperature Depth ) dan tidak rumit untuk mengukur kecerahan pada air. Kekurangan pada alat ini adalah sebagai alat ukur kecerahan perairan dalam mengukur transparansi air, perolehan datanya masih sebatas perkiraan atau tidak terlalu akurat, dibandingkan dengan CTD masih lebih akurat.

2.1.2 REFRAKTOMETER

Gambar 2.2 Refraktometer (www.scribd.com)

Refraktometer adalah alat ukur untuk menentukan indeks bias cairan atau padat, bahan transparan dan refractometry. Prinsip pengukuran dapat dibedakan, oleh cayaha, penggembalaan kejadian, total refleksi, ini adlah pembiasan (refraksi) atau reflaksi total cahaya yang digunakan. Sebagai prisma umum menggunakan semua tiga prinsip, satu dengan insdeks bias dikenal (Prisma). Cahaya merambat dalam transisi antara pengukuran prisma dan media sampel (n cairan) dengan kecepatan yang berbeda indeks bias diketahui dari media sampel diukur dengan defleksi cahaya (Wikipedia Commons, 2010). Refraktometer sebenarnya alat ukur mengukur indek bias suatu zat. Definisi indekbias cahaya suatu zat adalah kecepatan cahaya didalam hampa dibagi dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Kebanyakan obyek yang dapat kita lihat, tampak karena obyek itu memantulkan cahaya kemata kita. Pada pantulan yang paling umum terjadi, cahaya memantul kesemua arah, disebut pantulan baur. Untuk keperluan ini cukup kita melukiskansatu sinar saaja, mustahil ada atau hanya merupakan abstrasi geometrical saja (Sear,1994) Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasibahan terlarut. Misalnya gula, garam, protein, dsb. Prinsip kerja dari refraktometer sesuaidengan namanya adalah memanfaatkan refraksi cahaya. Refraktometer ditemukan oleh Dr.Ernest Abbe seorang ilmuan dari German pada permulaan abad 20 (Khopkar, S.M. 2007) Refraktometer adalah alat ukur untuk menentukan indeks cairan atau padat, bahan transparan dengan refrektometry. Prinsip pengukuran: oleh cahaya, penggembalaan kejadian, total refleksi. Ini adalah pembiasan (refraksi) atau refleksi total cahaya yang digunakan. Sebagai prisma umum menggunakan 3 prinsip, satu dengan indeks bias disebut prisma. Cahaya merambat

dalam transisi antara pengukuran prisma dan media sampel (cairan) dengan kecepatan yang berbeda indeks bias diketahui dari media sampe ldiukur dengan refleksi cahaya (Wikipedia, 2010) Refraktometer analog tradisional sering digunakan sebagai sumber cahaya sinar matahari atau lampu pijar untuk berpisah dengan filter warna detektor adalah skala yangdapat dibaca dengan sistem optik, optik dengan mata. Contoh refraktometer adalah Obberefraktometer, Pulfrich refraktometer, Woltan Stans refraktometer (1802), Jellayrefraktometer (Khopkar, S.M. 2007) kekurangan dan Kelebihan alat kekurangan alat ini adalah bergantung pada intensitas cahaya yang ada, cara penyimpanan dan perawatan susah kelebihan dari alat ini adalah penggunaanya yang relatif mudah dan simple

2.1.3 SECCHIDISK

Gambar 2.3 Secchi disk (www.plengdut.com)

Secchi disk adalah instrument alat sederhana yang digunakan untuk mengukur transparansi air di lautan dan danau. Secchidisk ini berupa lempengan berbentuk cakaram yang di beri warna pada permukaan cakram (biasanya menggunakan 2 warna, hitam dan putih, dengan bentuk arsiran 4 bagian pada cakram). Cara kerja; biasanyanya disk ini dipasang pada tiang atau tali, dan diturunkan perlahan-lahan ke dalam air. Kedalaman di mana pola pada disk tidak lagi terlihat diambil sebagai ukuran transparansi air. Langkah ini dikenal sebagai kedalaman Secchi dan berhubungan dengan kekeruhan air.(Anonim,2010) Secchi disk pertama kali dibuat oleh Fr. Pietro Angelo Secchi, seorang ahli astrofisika, yang diminta untuk mengukur transparansi di Laut Mediterania oleh Komandan Cialdi, kepala Angkatan Laut Kepausan. Fr.

Pietro Angelo Secchi sendiri merupakan penasihat ilmiah untuk Paus. Pada saat melakukan pengukuran, Secchi menggunakan sebuah disk putih untuk mengukur kejernihan air di Mediterania pada bulan April l865. Berbagai ukuran disk telah digunakan sejak saat itu, tetapi disk yang paling sering digunakan adalah secchidisk yang dimodifikasi oleh George C. Whipple yang terbuat dari logam, memiliki ukuran diameter 8 inchi dan diberi warna hitam dan putih berbentuk kuadran (4 arsiran) pada permukaan disk tersebut.(Anonim,2010) Secchi disk ini kemudian digunakan untuk mengukur seberapa jauh seseorang dapat melihat ke dalam air (visibilitas). Dengan cara diturunkan ke dalam air laut/danau dengan menggunakan tali atau tongkat yang terpasang pada secchi disk hingga lempengan secchi disk hilang dari pengamatan mata. Disk kemudian dinaikkan sampai muncul kembali. Pembacaan secchi disk ini dilakukan pada kedalaman air di mana disk hilang dan muncul kembali. Tingkat kedalaman dibaca dengan cara mengukur tali/tongkat secchidisk mulai dari permukaan air laut/danau pada saat lempengan tidak terlihat hingga nampak kembali.(Anonim,2010). Meskipun pada saat ini sudah banyak instrument alat ukur visibilitas air yang sangat canggih seperti refraktometer atau alat-alat lain yang menggunakan sensor, tetapi secchidisk masih tetap sering digunakan pada saat melakukan penelitian mengenai visibilitas air pada suatu daerah. Secchidisk merupakan alat pengukuran kejernihan air dan yang diukur adalah evaluasi perkiraan transparansi air tetapi masih sering digunakan pada saat ini karena kesederhanaanya dalam pengukuran serta mudah untuk dibuat sendiri.(Anonim,2010).

Kelebihannya :

Alat ini sering digunakan karena bentuk dan penggunaannya yang praktis.

Kekurangannya :

Sebagai alat ukur kecerahan perairan dalam mengukur transparansi air, perolehan datanya masih sebatas perkiraan atau tidak terlalu akurat

2.1. Alat Pengukur Arus Laut 2.2.1. CURRENT METER Seluruh current-meter mekanik mengukur kecepatan dengan melakukan pengubahan gerakan linear menjadi angular. Sebuah current-meter yang ideal harus memiliki respon yang cepat dan konsistendengan setiap perubahan yang terjadi pada kecepatan air, dan harus secara akurat danterpercaya sesuai dengan komponen velositas. Juga harus tahan lama, mudah dilakukan pemeliharaan, dan simpel digunakan dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda.Indikator kinerja tergantung pada inertia dari rotor, gerakan air, dan gesekan dalam bearing. Secara umum current meter yang biasa dipergunakan memiliki dua tipe : dengan verctical axis meter dan axis meter horizontal. Dalam kedua perbedaan tersebut rotasi dan rotor dari propeller

dipergunakan untuk menentukan kecepatan arus laut sesuai dengan pengaturan pada current-meter. Sebelum current-meter ditempatkan, hubung anantara rotasi dan kecepatan dengan mempergunakan towing tank (Anonim, 2013). Pengukuran kecepatan arus air disebut dengan Water current meter yang secara prinsip terbagi dalam tiga sistem, yaitu :

1. Sistem Pencacah Putaran, yaitu current meter yang mengkonversi kecepatan sudutdari propeller atau baling-baling kedalam kecepatan linear. Biasanya jenis inimempunyai kisaran pengukuran antara 0,03 sampai 10 m/s.

2. Sistem Elektromagnetik, pada sistem ini air dianggap sebagai konduktor yang mengalir melalui medan mamgnentik. Perubahan pada tegangan diterjemahkan kedalamkecepatan.

3. Sistem Akustik, pada sistem ini digunakan prinsip Dopler pada transduser, jugabiasanya berperan sekaligus sebagai receiver, yang memancarkan pulsapulsa pendekpada frekuensi tertentu. Pulsa-pulas direfleksikan ataupun disebarkan oleh partikel-partikel dalam air dan terjadi pergeseran frekuensi dari yang diterima kembali olehreceiver, dimana hal tersebut dapat diukur sebagai kecepatan arus air.

Current meter dapat pula dibagi kedalam dua kategori berdasarkan metodepengukurannya. Kedua jenis current meter tersebut menurut adalah :

1. Current meter dengan pengukuran non-otomatik, yaitu current meter dengan carapengukuran atau perekaman data kecepatan arus yang harus dilakukan langsung olehseseorang untuk membacanya,

biasanya alat ini ditempatkan pada suatu struktur tertentu.

2. Current meter dengan pengukuran otomatik, yaitu current meter yang merekam data kecepatan arus tanpa selalu harus langsung diperiksa oleh pengguna, Biasanya tipe ini memiliki sarana penyimpanan data yang cukup untuk jangka waktu pengukuran tertentu.

2.2.2. ADCP ADCP adalah salah satu instrumen yang digunakan untuk mengukur kecepatan arus air berdasarkan efek Doppler dari suara yang diterima. ADCP menggunakan gelombang suara (sonar) sebagai alat pendeteksinya dan mempunyai akurasi yang tinggi. Informasi yang diukur oleh ADCP meliputi besar dan arah arus air hingga 128 titik di kolom air dengan maksimum kedalaman pengukuran mencapai beberapa ratus meter, tergantung pada frekwensi suara yang digunakannya. Selain itu, ADCP juga memberikan informasi mengenai suhu air laut, lintasan kapal, topografi

dasar perairan serta dapat dihubungkan dengan Global Positioning System (GPS) untuk penentuan posisi pengukuran (Handayani, Rani, 2010). Pada prinsipnya, ADCP bekerja dengan mentransmisikan gelombang suara dengan pola tertentu ke kolom air dan menerima pantulannya yang disebabkan oleh partikel-partikel yang ada di dalam air. Informasi tersebut dianalisa berdasarkan pergeseran frekwensi menurut teori Doppler. Teori Doppler menjelaskan mengenai perubahan frekwensi gelombang yang berasal atau dipantulkan oleh objek yang bergerak. Apabila objek bergerak mendekati. maka gelombang suara tersebut akan makin tinggi frekuensinya dibandingkan dengan frekuensi asalnya. Apabila objeknya menjauhi, frekuensi gelombang yang diterima menjadi lebih rendah. Besarnya perbedaan frekuensi tersebut sebanding dengan kecepatan relatif antara ADCP dan partikel. Besarnya perbedaan nilai tersebut kemudian

dikonversikan ke dalam bentuk komponen kecepatan arus(Handayani, Rani, 2010). Oleh karena itu, yang diukur oleh ADCP adalah kecepatan partikelpartikel di dalam air. karena sifat gerak karakter tersebut mengikuti gerakan air, kecepatan gerak partikel tersebut juga merupakan kecepatan gerak air. Besarnya kecepatan gerakan air yang diukur oleh currentmeter'

konvensional diturunkan dari tenaga dorong air untuk menggerakan balingbalingnya (Handayani, Rani, 2010). ADCP tidak dapat berfungsi pada air yang sangat jernih, yang tidak cukup mempunyai objek untuk memantulkan gelombang suara. Tetapi, kelemahan ini tidak menjadi kendala untuk pengukuran di laut, sungai atau danau karena air di dalam selalu mengandung partikel -partikel sedimen atau organisme yang memantulkan gelombang suara.(Handayani, Rani, 2010). SISTEM ADCP Sistem ADCP terdiri dua bagian yaitu profiler dan kontrol. Bagian profiler meliputi beberapa komponen, yaitu komponen tranducer, sensor suhu, kompas dan komponen elektronik pengolah sinyal. Bagian kontrol meliputi komponen catu-daya (power sup-ply), komponen komunikasi elektronik, komputer dan peranti lunak untuk mengontrol kinerja ADCP dan pengolahan data (Handayani, Rani, 2010). Pengoperasian ADCP selalu disertai dengan program komputer yang mengontrol profiler, perekaman data dan analisa data. Analisa data yang umum dilakukan sewaktu pengoperasian alat meliputi perata-rataan pengukuran untuk meningkatkan akurasi pengukuran. Penampilan data secara langsung di monitor komputer dalam bentuk grafik sangat membantu dalam pemahaman sistem arus yang diukur pada saat itu juga(Handayani, Rani, 2010). Kelemahan dan kelebihan ADCP kekurangan ADCP tidak dapat berfungsi pada air yang sangat jernih, yang tidak cukup mempunyai objek untuk memantulkan gelombang suara. Salah satu kelebihan ADCP adalah, tidak seperti directional wave buoy, ADCP dapat dioperasikan dengan resiko yang kecil atau kerusakan.

2.2. Alat Pengukur Gelombang Laut 2.3.1 Palem Gelombang Cara penggunaan Palem gelombang (papan kayu panjang 4 meter berskala tiap 20 cm) mengkaitkannya dengan karung beras berisi pasir yang berfungsi sebagai pemberat yang menstabilkan tegakkan wave pole,

stopwatch yang berfungsi menghitung waktu, dan buku pencatat gelombang yang berfungsi mencatat hasil-hasil pengamatan. Pengamatan gelombang yang dilakukan yaitu mengukur tinggi gelombang dan menghitung periode gelombang (Anonim, 2009).

Kekurangan dan kelebihan palem gelombang kekurangan alat ini adalah mudah rusak bila gelombang terlalu besar< dan rawan hilang terkena hempasan ombak. Hasil yang didapat juga kurang maksimal kelebihan alat ini sendiri lebih efisien dalam pembuatanya dan biaya pembuatan yang murah

2.3.2 Tide Gauge Merupakan perangkat untuk mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan otomatis. Alat ini memiliki sensor yang dapat mengukur ketinggian permukaan air laut yang kemudian direkam ke dalam

computer.Perangkat ini memudahkan dalam melakukan penelitian karena dilengkapi dengan fitur yang mendukung. Tide gauge terdiri dari dua jenis yaitu : A. Floating Tide Gauge (Self Registering)

Gambar 2.4 Tide Gauge (www.scribd.com)

Prinsip kerja alat ini berdasarkan naik turunnya permukaan air laut yang dapat diketahui melalui pelampung yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit) (Anonim, 2013).

Keunggulan: Tidak mengandung pergeseran (drift) Sederhana dan telah terbukti baik Kekurangan: Membutuhkan perawatan yang tinggi

B.Pressure Tide Gauge (Self Registering) Prinsip kerja pressure tide gauge hampir sama dengan floating tide gauge, namun perubahan naik-turunnya air laut direkam melalui perubahan tekanan pada dasar laut yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit). Alat ini dipasang sedemikian rupa sehingga selalu berada di bawah permukaan air laut tersurut, namun alat ini jarang sekali dipakai untuk pengamatan pasang surut (Anonim, 2011). Keunggulan: Datum terkontrol baik Kekurangan: Membutuhkan kisaran gelombang yang besar dan mahal

2.3

Alat Pengukur Pasang Surut 2.3.1 Palem Pasut Tide Staff merupakan alat pengukur pasut yang paling sederhana, berupa papan dengan tebal 1 2 inci dan lebar 4 5 inci. Sedangkan panjangnya harus lebih dari tunggang pasut. Dimana pemasangan alat ini haruslah pada kondisi muka air terendah (lowest water ) skala nolnya masih terendam air, dan saat pasang tertinggi skala terbesar haruslah masih terlihat dari muka air tertinggi (highest water ). Dengan demikian maka tinggi rendahnya muka air laut dapat kita ketahui. Dan dari data yang dicatat dari skala alat tersebut, kita dapat mengetahui pola pasang surut pada suatu daerah pada waktu tertentu. Dalam pemasangannya rambu tersebut disekrup atau ditempelkan pada posisi vertical pada tiang atau penyangga yang cocok. Lokasi rambu harus beradapada lokasi yang aman dan mudah terlihat dengan jelas, tidak bergerak-gerak akibat

gelombang atau arus laut. Tempat tersebut tidak pernah kering pada saat

kedudukan air yang paling surut. Oleh karena itu panjang rambu pasut yang dipakai sangat tergantungsekali pada kondisi pasut air laut di tempat tersebut. Bila seluruh rambu pasut dapatterendam air, maka air laut tidak dapat dipastikan kedudukannya.Pada prinsipnya bentukrambu pasut hampir sama dengan rambu dipakai pada pengukuran sifat datar

(leveling).Perbedaannya hanya dalam mutu rambu yang dipakai. Mengingat bagian bawah rambupasut harus dipasang terendam air laut, maka rambu dituntut pula harus terbuat dari bahanyang tahan air laut.Rambu pasut hampir selalu digunakan pada pelabuhan-pelabuhan laut. Akan tetapi dalam hal ini biasanya titik nol skala rambu diletakkan sama dengan mukasurutan setempat, sehingga setiap saat tinggi permukaan air laut terhadap muka surutantersebut atau kedalaman laut dapat diketahui berdasarkan pembacaan pada rambu. Dengan demikian hal ini sangat membantu bagi keamanan kapal yang akan berlabuh atau meninggalkan pelabuhan (Anonim, 2013). Kekurangan dan kelebihan palem gelombang kekurangan alat ini adalah mudah rusak bila gelombang terlalu besar< dan rawan hilang terkena hempasan ombak. Hasil yang didapat juga kurang maksimal kelebihan alat ini sendiri lebih efisien dalam pembuatanya dan biaya pembuatan yang murah

2.4

Alat Sampler

2.4.1 Sediment Grab Grab sampler berfungsi untuk mengambil sedimen permukaan yang ketebalannya tergantung dari tinggi dan dalamnya grab masuk kedalam lapisan sedimen. Alat ini biasa digunakan untuk mengambil sampel sedimen pada kedalaman perairan. Berdasarkan ukuran dan cara operasional, ada dua jenis grab sampler yaitu grab sampler berukuran kecil dan besar (Anonim, 2010). Grab sampler yang berukuran kecil dapat digunakan dan

dioperasionalkan dengan mudah, hanya dengan menggunakan boat kecil alat ini dapat diturunkan dan dinaikkan dengan tangan. Pengambilan sampel sedimen dengan alat ini dapat dilakukan oleh satu orang dengan cara menurunkannya secara perlahan dari atas boat agar posisi grab tetap berdiri sewaktu sampai pada permukaan dasar perairan. Pada saat penurunan alat,

arah dan kecepatan arus harus diperhitungkan supaya alat tetap konstant pada posisi titik sampling (Anonim, 2010). Grab Sampler yang berukuran besar memerlukan peralatan tambahan lainnya seperti winch (kerekan) yang sudah terpasang pada boat/kapal survey berukuran besar. Alat ini menggunakan satu atau dua rahang/jepitan untuk mengambil sedimen. Grab diturunkan dengan posisi rahang/jepitan terbuka sampai mencapai dasar perairan dan sewaktu diangkat keatas rahang ini tertutup dan sample sedimen akan terambil ( Anonim, 2010). Kelebihan dan Kekurangan Grab Sampler

Kelebihannya :

Keuntungan pemakaian grab sampler adalah lokasi sampel dapat ditentukan dengan pasti jadi perkiraan kedalam perairan dapat diketahui.

Kekurangannya :

Kerugiannya adalah kapal harus berhenti sewaktu alat dioperasikan, sampel teraduk, dan beberapa fraksi sedimen yang halus mungkin hilang

2.4.2 Nansen Botol nansen merupakan alat yang digunakan oleh survyor untuk mengambil sample air laut, danau dan sungai pada kedalaman tertentu. Botol ini terbuat dari tabung acrylic dengan ketebalan 5 mm dan bahanbahan lainnya yang tahan karat serta memiliki sepasang steering fins yang berguna untuk menstabilkan botol ketika digunakan pada arus deras memiliki kapasitas 2.2 lt, 3.2 lt atau 4.2 lt dilengkapi termometer tali dan massanger (Anonim, 2010). Botol nansen adalah alat instrumen oseanografi yang digunakan untuk mendapatkan sampel air dan pembacaan suhu di berbagai kedalaman di laut. Botol ini merupakan sebuah sampel botol air laut dengan katup pegas di kedua ujungnya yang tertutup pada kedalaman yang sesuai dengan perangkat massengger yang diturunkan untuk menghubungkan kabel botol ke permukaan (Anonim, 2012). Botol nansen dirancang pada tahun 1910 oleh penjelajah awal abad ke20 bernama Fridtjof Nansen ahli kelautan dan dikembangkan lebih lanjut oleh Shale Niskin. Botol Nansen telah diganti dengan botol Niskin, yang

terbuat dari plastik, dengan demikian tidak menimbulkan korosi logam seperti botol nansen. botol niskin ini juga sering disebut sebagai botol nansen karena desain dasarnya sama seperti botol nansen (Anonim, 2010). Kelebihan dan Kekurangan Botol nansen

Kelebihannya :

Alat ini dapat mengambil sampel air laut, danau dan sungai dari berbagai kedalaman.

Kekurangannya :

Terbuat dari logam bukan dari plastik, dengan demikian dapat menimbulkan korosi logam .

III.
3.1. Waktu dan Tempat
Hari / tanggal Waktu Tempat

MATERI DAN METODE

: Senin, 21 Oktober 2013 : 16.20 18.00 WIB : Gedung B, ruang B 301 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Semarang.

3.2. Materi 3.3. Metode 3.3.1. Alat Pengukuran Suhu,Salinitas, dan Kecerahan 3.3.1.1CTD (Conductivity Temperature Depth)

gambar 2.5 ctd (sumber google.com )

Pada Prinsipnya teknik pengukuran pada CTD ini adalah untuk mengarahkan sinyal dan mendapatkan sinyal dari sensor yang menditeksi suatu besaran, kemudian mendapatkan data dari metode multiplexer dan pengkodean (decode), kemudian memecah data dengan metode enkoder untuk di transfer ke serial data stream dengan dikirimkan ke kontrolunit via cabel. CTD diturunkan ke kolom perairan dengan menggunakan winch disertai seperangkat kabel elektrik secara perlahan hingga ke lapisan dekat dasar kemudian ditarik kembali ke permukaan. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas). Pengukuran tekanan pada CTD menggunakan strain gauge pressure monitor atau quartz crystal. Tekanan akan dicatat dalam desibar kemudian tekanan dikonversi menjadi kedalaman dalam meter. Sensor temperatur yang terdapat pada CTD menggunakan thermistor, termometer platinum atau kombinasi keduanya. Sel induktif yang terdapat dalam CTD digunakan sebagai sensor salinitas.

Pengukuran data tercatat dalam bentuk data digital. Data tersebut tersimpan dalam CTD dan ditransfer ke komputer setelah CTD diangkat dari perairan atau transfer data dapat dilakukan secara kontinu selama perangkat perantara (interface) dari CTD ke komputer tersambung. Bagaimana cara kerja CTD ? CTD diletakan pada kerangka Rosette. Kemudian probe dihubungkan dengan kabel elektrik yang ada kerangka Rosette. Berat dari kerangka Rosette tersebut sekitar 25 Kg dan menghabiskan panjang kabel sekitar 5 meter untuk mengikat probe ke lengan-lengan kerangka. Setelah semua perangkat di pasang, akan lebih baik jika kita memeriksa keseimbangan peralatan, jika dipastikan fix maka kita dapat mulai memasukan CTD kedalam laut. Langkah-langkahnya sebagai berikut : 1. Mulai dengan program akusisi data dan dilengkapi profil untuk mengidentifikasi data. Siapkan peralatan yang akan digunakan dan letakkan botol sesuai dengan prosedur paemasangan. 2. Setelah kerangka (Rosette) diletakan pada posisinya dan CTD (Probe atau rangkaian sensor yang sudah di Set) diletakan di dalamnya, maka instrumen ini akan ke sisi (pinggir) kapal, lalu dihubungkan kabel-kabek interkoneksinya maka instrumen tersebut siap diturunkan 3. Setelah CTD siap untuk diturunkan maka kontrol unit di set untuk kondidi ON. Ketika kontrol unit sedang dipersiapkan maka instrumen (Rosette dan Probe) dapat diturunkan pelan-pelan mendekati permukaan air 4. CTD mulai diturunkan kedalam air secara pelan-pelan, dan pada saat inilah rangkaian Probe dan kontrol unit saling berhubungan untuk merekam data dalam benntuk sinyal analog pada tipe recorder. Pada saat ini juga prosedur akusisi dimulai dan kerangka Rosette pada CTD diturunkan dengan kecepatan tertentu sampai pada kedalaman yang ditentukan 5. Pada saat CTD probe diturunkan maka pengiriman data ke kontrol unit juga di mulai. Perhatikan data yang di dapat dan keaadaan kece[atan penurunannya. 6. setelah data yang diinginkan maka stop penerimaan data dari Probe. Berhentikan juga perekaman data pada recorder. Kemudian dapat ditarik ke permukaan air, dengan catatan tidak ada lagi data yang di kirim oleh CTD dan dipastikan OFF.

7. Setelah unit data akusisi di-Offkan dan instrument diletakan di atas kapal maka tekan End of Profile data dan diberhentikan akusisi program. Data yang di dapat bisa langsung disambungkan ke personal Computer atau direkam oleh Tipe Recorder. 8. Proses pengambilan data selesai

3.3.1.2

Refraktometer

Adapun prinsip kerja dari refractometer dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Dari gambar dibawah ini terdapat 3 bagian yaitu : Sample, Prisma dan Papan Skala. Refractive index prisma jauh lebih besar dibandingkan dengan sample. 2. Jika sample merupakan larutan dengan konsentrasi rendah, maka sudut refraksi akan lebar dikarenakan perbedaan refraksi dari prisma dan sample besar. Maka pada papan skala sinar a akan jatuh pada skala rendah. 3. Jika sample merupakan larutan pekat / konsentrasi tinggi, maka sudut refraksi akan kecil karena perbedaan refraksi prisma dan sample kecil. Pada gambar terlihar sinar bjatuh pada skala besar.

gambar 2.6 prinsip kerja refraktometer Dari penjelasan di atas jelas bahwa konsentrasi larutan akan berpengaruh secara proporsional terhadap sudut refraksi. Pada prakteknya Refractometer akan ditera pada skala sesuai dengan penggunaannya. Sebagai contoh Refractometer yang dipakai untuk mengukur konsentrasi larutan gula akan ditera pada skala gula. Begitu juga dengan refractometer untuk larutan garam, protein dll. Konsentrasi bahan terlarut sering dinyatakan dalam satuan Brix(%) yaitu merupakan pronsentasi dari bahan terlarut dalam sample (larutan air). Kadar bahan terlarut merupakan total dari semua bahan dalam air, termasuk gula,

garam, protein, asam dsb. Pada dasarnya Brix(%) dinyatakan sebagai jumlah gram dari cane sugar yang terdapat dalam larutan 100g cane sugar. Jadi pada saat mengukur larutan gula, Brix(%) harus benar-benar tepat sesuai dengan konsentrasinya

3.3.1.3 Horiba

gambar 2.7 HORIBA ( sumber www.coleparmer.com )

Cara Menggunakan 1) kita cek terlebih dulu apakah horiba tersebut berfungsi sebagaimana mestinya sebelum digunakan, dan hindari dari sinar matahari karena alat ini sangat sensitif terhadap cahaya. 2) kita tentukan terlebih dahulu kedalaman yang akan kita ukur. 3) lalu kita membuka penutup dari sensor untuk memulai pemerikasaan. 4) kita turunkan alat horiba tersebut perlahan-lahan atau pelan-pelan ke dasar perairan. Yang perlu diperhatikan bahwa yang dipegang bukanlah kabel yang tersambung pada horiba tetapi tali yang diikatkan pada kabel. Hal ini untuk menjaga apabila kabel pada horiba putus. a. Sesudah sampai kedalaman yang telah ditentukan lihat horiba tersebut berapa angka yang muncul. Dan data yang muncul bisanya berurutan dimana dari . b. PH, DO, CONDUCTIVITY, SALINITY, TDS, SEAWATER SPECIFIC, GRAFITY, TEMPERATURE , TURBIDITY, DEPTH, ORP 5) kita catat data yang keluar dari horiba tersebut. 6) setelah itu kita angkat horiba pelan-pelan keatas kapal dengan memegang tali itu lagi 7) setelah selesai pengukuran dalam tiap stasiun horiba tersebut harus disiram dengan alkohol supaya netral lagi.

8) tutup sensor dari horiba, dan setelah ditutup hindarkan dari sinar cahaya matahari (Alvina, 2009). Cara Kalibrasi
Urutan kerja kalibrasi Horiba adalah :

1. Siapkan buffer pH 7 dan buffer pH 4 2. Bilas elektroda dengan air DI (De Ionisasi/ air bebas ion) dan keringkan dengan menggunakan kertas tisu 3. Nyalakan Horiba dengan menekan tombol ON/OFF. 4. Masukan elektroda kedalam larutan buffer pH 7 5. Biarkan beberapa saat sampai nilai yang tertera di disply tidak berubah 6. Angkat elektroda dari larutan buffer pH 7, kemudian bilas dengan air DI beberapa kali dan keringkan dengan kertas tisu 7. Masukan elektroda kedalam larutan buffer pH 4 8. Biarkan beberapa saat sampai nilai yang tertera di disply tidak berubah 9. Angkat elektroda dari larutan buffer pH 4, kemudian bilas dengan air DI beberapa kali dan keringkan dengan kertas tisu 10. Pada layar bagian bawah akan muncul angka 7 dan angka 4 yang menunjukan Horiba tersebut telah dikalibrasi dengan buffer pH 7 dan buffer pH 4 11. Horiba telah siap digunakan (Alvina, 2009).

Cara Menyimpan Setelah alat dipakai, tutup kembali sensor dengan protektornya. Kemudain masukan kembali semua pada wadah yang ada, simpan di suhu kamar, jangan sampai terkena cahaya matahari secara langsung, jauhkan dari jangkauan anak kecil serta bahan-bahan yang mudah terbakar atau meledak. 3.3.1.4 Secchi Disk

gambar 2.8 sechi disk Kepingan sechhi disk pada umumnya berukuran 8 inchi atau 20 cm. Chain atau line adalah tali yang gunakan untuk menghubungkan disk dengan orang yang menggunakannya, tali tersebut biasanya sudah diberi tanda dengan jarak satu meter satu meter agar mengetahui seberapa jauh jarak kecerahan pada air. Screw-eye adalah skrub untuk mengikatkan tali dengan disk. Weigth adalah adalah bobot atau pemberat agar disk bisa tenggelam. Cara Kerja Pertama Disk dipasang pada tiang atau tali, kemudian diturunkan perlahan-lahan ke dalam air. Kedalaman di mana pola pada disk terlihat samar - samar diambil sebagai ukuran transparansi air. Hal ini dinamakan dengan simbol D1. Kedua disk di jatuhkan sampai kedasar air sampai tidak kelihatan lagi. Hal ini dinamakan dengan simbol Z. Ketiga setelah langkah kedua dilakukan kemudian kita mengangkat disk perlahan lahan ke atas permukaan sampai sampai disk kelihatan samar samar lagi seperti yang kita lakukan pada langkah yang pertama. Hal ini dinamakan dengan simbol D2. Dari langkah langkah diatas didapatkan rumus kecerahan, yaiutu Kecerahan = D1 + D2 x 100 % 2Z

3.3.2. Alat Pengukur Arus Laut 3.3.2.1 Current Meter Prinsip kerja jenis curent meter ini adalah propeler berputar dikarenakan partikel air yang melewatinya. Jumlah putaran propeler per waktu pengukuran dapat memberikankecepatan arus yang sedang diukur apabila dikalikan dengan

rumus kalibrasi propeler tersebut. Jenis alat ini yang menggunakan sumbu propeler sejajar dengan arah arus disebut Ott -propeler curent meter dan yang sumbunya tegak lurus terhadap arah arus disebut Pricecup current meter. Peralatan dengan sumbu vertikal ini tidak peka terhadap arah aliran. Kelebihannya adalah propeler curent meter ini menghasilkan pekerjaan yang akuratdan cepat apabila dilakukan perawatan yang baik dan pelaksanaan yang cermat. Juga kalibrasi propeler harus dilakukan dengan baik. Kekurangannya adalah dapat dipengaruhi oleh kapal (pitching dan rolling), sehingga kecepatan arus yang diukur bukan hanya kecepatan arus aliran sungai saja. Diperlukan test kalibrasi untuk mengatasi hal ini. Cara pemakaiannya adalah Ott current-meter dapat digunakan baik dengan digantung pada kabel/tali maupun pada tiang. Cara yang pertama dapat dilaksanakan pada pengukuran di sungai maupun di muara sungai, sedangkan cara kedua dapat dipakai pada pengukuran di kanal yang kecil atau digantung di jembatan.

3.3.2.2

ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler)

Gambar 2.9 Prinsip Kerja ADCP (www.scribd.com)

Pada prinsipnya, ADCP bekerja dengan mentransmisikan gelombang suara dengan pola tertentu ke kolom air dan menerima pantulannya yang disebabkan oleh partikel-partikel yang ada di dalam air. Informasi tersebut dianalisa berdasarkan pergeseran frekwensi menurut teori Doppler. Teori Doppler menjelaskan mengenai perubahan frekwensi gelombang yang berasal atau dipantulkan oleh objek yang bergerak. Apabila objek bergerak mendekati. maka gelombang suara tersebut akan makin tinggi frekuensinya dibandingkan dengan frekuensi asalnya. Apabila objeknya menjauhi, frekuensi gelombang yang diterima menjadi lebih rendah. Besarnya perbedaan frekuensi tersebut sebanding dengan kecepatan relatif antara ADCP dan partikel. Besarnya perbedaan nilai

tersebut kemudian dikonversikan ke dalam bentuk komponen kecepatan arus(Handayani, 2010). Oleh karena itu, yang diukur oleh ADCP adalah kecepatan partikelpartikel di dalam air. karena sifat gerak karakter tersebut mengikuti gerakan air, kecepatan gerak partikel tersebut juga merupakan kecepatan gerak air. Besarnya kecepatan gerakan air yang diukur oleh currentmeter' konvensional diturunkan dari tenaga dorong air untuk menggerakan baling-balingnya (Handayani, 2010). ADCP tidak dapat berfungsi pada air yang sangat jernih, yang tidak cukup mempunyai objek untuk memantulkan gelombang suara. Akan tetapi, kelemahan ini tidak menjadi kendala untuk pengukuran di laut, sungai atau danau karena air di dalam selalu mengandung partikel partikel sedimen atau organisme yang memantulkan gelombang suara (Handayani, 2010).

SISTEM ADCP Sistem ADCP terdiri dua bagian yaitu profiler dan kontrol. Bagian profiler meliputi beberapa komponen, yaitu komponen tranducer, sensor suhu, kompas dan komponen elektronik pengolah sinyal. Bagian kontrol meliputi komponen catu-daya (power sup-ply), komponen komunikasi elektronik, komputer dan peranti lunak untuk mengontrol kinerja ADCP dan pengolahan data (Handayani, 2010). Pengoperasian ADCP selalu disertai dengan program komputer yang mengontrol profiler, perekaman data dan analisa data. Analisa data yang umum dilakukan sewaktu pengoperasian alat meliputi perata-rataan pengukuran untuk meningkatkan akurasi pengukuran. Penampilan data secara langsung di monitor komputer dalam bentuk grafik sangat membantu dalam pemahaman sistem arus yang diukur pada saat itu juga(Handayani, 2010).

PENGOPERASIAN ADCP ADCP selain dipasang sebagai moor-ing (tambatan) di permukaan atau di dasar laut, juga dapat dipasang di kapal secara permanen ataupun temporal untuk pengambilan data profil arus, tergantung pada konfigurasi alatnya (Handayani, 2010).

3.3.3. Alat Pengukur Gelombang Laut 3.3.3.1 Palem Gelombang Cara penggunaan wave pole (papan kayu panjang 4 meter berskala tiap 20 cm) mengkaitkannya dengan karung beras berisi pasir yang berfungsi sebagai pemberat yang menstabilkan tegakkan wave pole, stopwatch yang berfungsi menghitung waktu, dan buku pencatat gelombang Pengamatan yang berfungsi yang mencatat dilakukan hasil-hasil yaitu pengamatan. tinggi

gelombang

mengukur

gelombang dan menghitung periode gelombang (Anonim, 2009).

Gambar 2.10 Palem Gelombang (www.scribd.com)

3.3.4. Alat Pengukur Pasang Surut 3.3.4.1 Palem Pasut

Gambar 2.11 Palem Pasut (www.scribd.com)

Dalam pemasangan palem pasut, disekrup atau ditempelkan pada posisi vertical pada tiang atau penyangga yang cocok. Lokasi rambu harus beradapada lokasi yang aman dan mudah terlihat dengan jelas, tidak bergerakgerak akibatgelombang atau arus laut. Tempat tersebut tidak pernah kering pada saat kedudukan air yang paling surut. Oleh karena itu panjang rambu pasut yang dipakai sangat tergantungsekali pada kondisi pasut air laut di air, tempat maka tersebut. air laut Bila seluruh rambu pasut

dapatterendam

tidak

dapat

dipastikan

kedudukannya.Pada prinsipnya bentukrambu pasut hampir sama dengan rambu dipakai pada pengukuran sifat datar (leveling).Perbedaannya hanya dalam mutu rambu yang dipakai. Mengingat bagian bawah rambupasut harus dipasang terendam air laut, maka rambu dituntut pula harus terbuat dari bahanyang tahan air laut.Rambu pasut hampir selalu digunakan pada pelabuhanpelabuhan laut. Akan tetapi dalam hal ini biasanya titik nol skala rambu diletakkan sama dengan mukasurutan setempat, sehingga setiap saat tinggi permukaan air laut terhadap muka surutantersebut atau kedalaman laut dapat diketahui berdasarkan pembacaan pada rambu. Dengan demikian hal ini sangat membantu bagi keamanan kapal yang akan berlabuh atau meninggalkan pelabuhan (Anonim, 2013).

3.3.5 ALAT SAMPLER 3.3.5.1Sediment Grab

Gambar 2.12 Sediment Grab

Sediment grab atau grab sampler adalah alat yang digunakan untuk mengambil sampel sedimen pada permukaan dasar laut. Grab sampler terdiri diri dari berbagai ukuran, ada yng berukuran kecil dan juga berukuran besar. Grab sampler berukuran kecil dapat di operasionalkan hanya menggunakan tangan saja atau secara manual. Dengan cara mendatangi titik sampling menggunakan boat, perahu, atau kapal kecil kemudian menurunkan grab sampler dalam keadaan terbuka dan memasukkan nya hingga kedalaman mencapai ketebalan sedimen yang akan di ambil, kemudian angkat grab dengan keadaan tertutup untuk menjebak sedimen di dalam grab tersebut. Sedangkan grab sampler yang berukuran besar harus menggunakan kapal besar dan katrol untuk menurunkan nya ke dasar laut. (Handayani, 2010).

3.3.5.2

Nansen

Gambar 2.13 Botol Nansen(www.aquaticresearch.com)

Botol nansen adalah alat instrumen oseanografi yang digunakan untuk mendapatkan sampel air dan pembacaan suhu di berbagai kedalaman di laut. Botol ini merupakan sebuah sampel botol air laut dengan katup pegas di kedua ujungnya yang tertutup pada kedalaman yang sesuai dengan perangkat massengger yang diturunkan untuk menghubungkan kabel botol ke permukaan (Anonim, 2009). Suhu air laut di kedalaman akan direkam dengan menggunakan termometer tertentu ke botol nansen. Termometer ini adalah termometer air raksa dengan penyempitan dalam tabung kapilernya, ketika termometer tersebut terbalik, menyebabkan tali berhenti dan termometer akan membaca suhu. Karena tekanan air pada kedalaman akan memampatkan dan mempengaruhi dinding termometer untuk

menunjukkan suhu, maka termometer dilindungi oleh lapisan dinding yang tebal. termometer yang tidak dilindungi terlebih dahulu akan dipasangkan dengan pelindung, biasanya termometer ini digunakan untuk pembacaan suhu titik sampling pada tekanan yang memungkinkan (Anonim, 2009).

IV.
4.1. Kesimpulan

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Parameter praktikum oseanografi fisika meliputi suhu, salinitas, dan kecerahan perairan, gelombang laut, arus laut, pasang surut permukaan air laut, dan pengambilan sampel. 2. CTD adalah alat yang digunakan untuk mengukur salinitas air laut, suhu serta kedalaman air laut pada tempat dan kedalaman yang diinginkan. 3. Refraktometer adalah alat untuk mengukur nilai kadar garam pada air dan bahanbahan terlarut lainnya. 4. Secchi disk adalah alat yang berfungsi untuk mengukur tingkat kecerahan serta tingkat penetrasi cahaya pada suatu perairan. 5. Palem gelombang adalah alat pengukur gelombang laut yang terdiri dari papan kayu dengan panjang 4 meter, lebar 15 cm dan tebal 3 cm yang berskala tiap 20 cm. 6. Tide gauge adalah alat pengukuran pasut berdasarkan naik turunnya permukaan air laut yang diketahui melalui pelampung kemudian dihubungkan dengan alat recording unit yang di pasang di darat. 7. Palem pasut merupakan alat pengukur pasut yang paling sederhana yang berupa papan dengan skala yang diletakkan pada daerah yang mudah di amati dan tidak kering pada saat surut terendah. 8. Acoustic Doppler Current Profiler atau ADCP adalah suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur arus perairan. 9. Current meter adalah alat untuk mengukur kecepatan aliran atau kecepatan arus laut. 10. Grab sampler adalah alat yang di gunaka untuk mengambil sampel sedimen atau endapan pada permukaan dasar laut. 11. Nansen bottle atau botol nansen adalan alat sampler yang di gunakan untuk mengambil sampel air laut pada kedalam tertentu dan langung mengukur suhu air tersebut saat sampel di ambil. 4.2 Saran Sebaiknya, dalam praktikum ini praktikan diperlihatkan alat alat yang digunakan secara langsung, supaya praktikan lebih mengerti atau paham tentang karakteristik, kegunaan dari alat alat yang nantinya akan digunakan dalam praktikum selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
http://dwiajengpramesti.wordpress.com/2010/06/14/penggunaan-ekman-grab/ diakses pada hari kamis 24 Oktober 2013 jam 13.00 http://dzuloceano.blogspot.com/2011/11/perangkat-oseanografi.html/ hari kamis 24 Oktober 2013 jam 13.00 http://ranihandayani10.blogspot.com/ diakses pada hari kamis 24 Oktober 2013 jam 13.00 http://seandy-laut-biru.blogspot.com/2009/12/tide-gauge.html/ diakses pada hari kamis 24 Oktober 2013 jam 13.00 http://vandef.blogspot.com/2009/11/pelarutan-dan-pengenceran.html/ hari kamis 24 Oktober 2013 jam 13.00 http://www.plengdut.com/2012/10/secchi-disk.html/ diakses pada hari kamis 24 Oktober 2013 jam 13.00 http://www.scribd.com/doc/132276955/BAB-I-Laporan-Pramodul-Osfis / diakses pada hari kamis 24 Oktober 2013 jam 13.00 http://yayatabdillah.blogspot.com/2010/05/botol-nansen.html / diakses pada hari hari kamis 24 Oktober 2013 jam 13.00 www.alvina.blog.uns.ac.id/ Diakses pada hari Rabu, 23 Oktober 2013 Pukul Zemansky,Sears.1994.Fisika untuk Universitas 3 Optika.Jakarta: Bina Cipta http://www.nature-education.org/water-ctd.gif/diakses pada hari kamis 24 Oktober 2013 jam 13.00 http://gis-vs.de/images/Technikal-Refraktometer.jpg/ diakses pada hari jumat 25 Oktober 2013 jam 16.00 http://www.qub.ac.uk/schools/media/Media,74179,en.jpg/ diakses pada hari jumat 25 Oktober 2013 jam 16.00 http://www.usbr.gov/pmts/hydraulics_lab/pubs/wmm/fig/F10_10L.GIF/ hari jumat 25 Oktober 2013 jam 16.00 http://www.aquaticresearch.com/images/hor.gif / diakses pada hari jumat 25 Oktober 2013 jam 16.00 http://winniehertikawati.blogspot.com/2010/05/ctd-conductivity-temperaturedepth.html.diakses kamis 24-10-2013 jam 13.00 http://devhyvhy.blogspot.com/2013/06/laporan-kimia-fisik-refraktometer.html.diakses pada hari jumat 25 Oktober 2013 jam 16.00 diakses pada diakses pada diakses pada