Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Air merupakan zat yang memiliki peranan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan makanan. Di dalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65 % dan untuk bayi sekitar 80%. Air dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi berbagai kepentingan antara lain: diminum,masak, mandi, mencuci, dan pertanian. Menurut perhitungan WHO, di negara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, tiap orang memerlukan air 30-60 liter per hari. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik. Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi. Persyaratan kualitas air, parameter kualitas air yang digunakan untuk kebutuhan manusia haruslah air yang tidak tercemar atau memenuhi persyaratan fisika, kimia, dan biologis. 1.2 Perumusan Masalah a. Apa yang dimaksud dengan pengertian air danau ? b. Bagaimana karakteristik air danau? c. Bagaimana proses pengolahan air danau menjadi air industri?

1.3 Tujuan Penulisan a. Untuk mengetahui pengertian air danau b. Untuk mengetahui karakteristik air danau c. Untuk mengetahui proses pengolahan air danau menjadi air industri

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Air Danau A. AIR DANAU Air danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi. Air danau juga merupakan unit penampungan air dalam jumlah tertentu yang airnya berasal dari aliran sungai maupun tampungan dari air hujan.

Gbr. Berbagai Organisme Air Tawar Berdasarkan Cara Hidupnya Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan temperatur yang drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar. Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Berdasarkan hal tersebut danau dibagi menjadi 4 daerah sebagai berikut. a) Daerah litoral Daerah ini merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari menembus dengan optimal. Air yang hangat berdekatan dengan tepi. Tumbuhannya merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air. Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga, krustacea, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura

dan ular, itik dan angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau. b) Daerah limnetik Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih dapat ditembus sinar matahari. Daerah ini dihuni oleh berbagai fitoplankton, termasuk ganggang dan sianobakteri. Ganggang berfotosintesis dan

bereproduksi dengan kecepatan tinggi selama musim panas dan musim semi. Zooplankton yang sebagian besar termasuk Rotifera dan udang-udangan kecil memangsa fitoplankton. Zooplankton dimakan oleh ikan-ikan kecil. Ikan kecil dimangsa oleh ikan yang lebih besar, kemudian ikan besar dimangsa ular, kura-kura, dan burung pemakan ikan. c) Daerah profundal Daerah ini merupakan daerah yang dalam, yaitu daerah afotik danau. Mikroba dan organisme lain menggunakan oksigen untuk respirasi seluler setelah mendekomposisi detritus yang jatuh dari daerah limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba. d) Daerah bentik Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos dan sisa-sisa organisme mati.

Gbr. Empat Daerah Utama Pada Danau Air Tawar

Danau juga dapat dikelompokkan berdasarkan produksi materi organiknya, yaitu sebagai berikut : a. Danau Oligotropik Oligotropik merupakan sebutan untuk danau yang dalam dan kekurangan makanan, karena fitoplankton di daerah limnetik tidak produktif. Ciricirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme, dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun. b. Danau Eutropik Eutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya akan kandungan makanan, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-cirinya adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan oksigen terdapat di daerah profundal. Danau oligotrofik dapat berkembang menjadi danau eutrofik akibat adanya materi-materi organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya danau dengan buangan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus yang berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut. Pengkayaan danau seperti ini disebut "eutrofikasi". Eutrofikasi membuat air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan danau. Kebanyakan air danau ini berwarna yang disebabkan oleh adanya zat-zat organis yang telah membusuk, Dengan adanya pembusukan kadar zat organis tinggi, maka umumnya kadar Fe dan Mn akan tinggi dan dalam keadaan kelarutan O2 kurang sekali (anaerob), maka unsur-unsur Fe dan Mn ini akan larut. Pada permukaan air akan tumbuh alga (lumut) karena adanya sinar matahari dan O2. Jadi untuk pengambilan air, sebaiknya pada kedalaman tertentu di tengahtengah agar endapan-endapan Fe dan Mn tidak terbawa, demikian pula dengan lumut yang ada pada permukaan rawa/telaga. Kualitas air danau, relatif sama dengan air sungai. Fluktuasi kualitas serta debit yang dapat diambil biasanya lebih kecil dari pada sungai.

Ciri khas dari air tawar ialah adanya gas metan yang terlarut serta rendahnya kadar oksigen terlarut untuk rawa yang anaerob Genangan air cukup dalam dan menunjukan adanya strata suhu pada kedalaman tersebut. Tumbuhan akuatik yang mengapung tidak dapat menutup seluruh permukaan air dan biasanya hanya di bagian pinggir. Menunjukkan adanya gelombang yang dapat menyebabkan terjadinya abrasi pantai.

1. Sifat Fisik Danau Jumlah Aliran bermuara ke danau 25 Sungai/ aliran/alur dengan debit total 10.043 ltr/detik, yang keluar ke Kr. Peusangan ; 5.664 ltr/detik Kedalaman Rata rata Jarak dari Pingir Kedalaman Rata-rata 35 m 8,9 m 100 m 19,27 m 620 m 51,13 m Suhu Air Danau Rata Rata Kedalaman Suhu Rata-rata 1 m 21,55oC 5 m 21,37oC 10 m 21,15oC 20 m 20,70oC 50 m 19,35oC Kecerahan tertinggi 2,92 m (ditengah danau), terendah 1,29 m (Kp. KualaII), Semakin tinggi kecerahan semakin jernih air 2. Sifat Kimia Danau pH (keasaman)Untuk mendukung mahluk hidup di biota air tawar dibutuhkan pH antara 6,7 8,6, pH Danau Laut Tawar rata-rata 8,35 DO (Dissolved Oxygen) Oksigen Terlarut = Kehidupan di air (hewan/ tumbuhan) dapat bertahan hidup jika DO minimum 5 ppm,; DO Danau Laut Tawar rata-rata 5,94 ppm

BOD (Biological Oxygen Demand) = Kebutuhan oksigen oleh bakteri dan mikroba untuk enetralisir bahan organik, BOD tinggi pencemaran bahan organik tinggi. BOD 1 ppm air sangat bersih, 2 ppm bersih, 3 ppm agak bersih, 4 ppm diragukan kebersihannya. BOD Danau Laut Tawar rata-rata 0,8 ppm COD (Chemical Oxygen Demand) = Kebutuhan oksigen oleh bakteri dan mikroba untuk Penetralisir bahan kimia, COD tinggi pencemaran bahan kimia tinggi. COD Danau Laut Tawar sangat kecil (tidak terditeksi. Bahan Anorganik, untuk menditeksi pencemaran yang diakibatkan oleh aktivitas ekonomi masyarakat seperti pemupukan, limbah rumah tangga dll. Nitrogen, idealnya 0,3 ppm. Nitrogen Danau Laut Tawar (dalam bentuk Nitrat 0,032 ppm, dalam bentuk nitrit 0,002 ppm) sangat kecil (tidak terditeksi) Fosfat, Jika lebih dari 0,015 ppm, ganggang akan tumbuh subur Fosfor Danau Laut Tawar rata-rata 0,51 ppm, (diperkirakan dari Diterjen,Pupuk, hewan mati, kotoran hewan & limbah Rumah tangga lainnya) Kalium, Danau Laut Tawar rata-rata 1,98 ppm (diperkirakan dari pupuk dan hewan mati) Bahan Organik, terutama lemak/minyak. Bahan organik Danau Laut Tawar sangat kecil (tidak ternyata)

BAB II ISI
2.1 Proses Pengolahan Secara umum, proses pengolahan air bersih dengan saringan pasir lambat konvensional terdiri atas unit proses yakni bangunan penyadap, bak penampung, saringan pasir lambat dan bak penampung air bersih. Unit pengolahan air dengan pasir lambat merupakan suatu paket. Air baku yang digunakan yakni air sungai atau air danau yang tingkat kekeruhannya tidak terlalu tinggi. Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan, maka agar supaya beban saringan pasir lambat tidak terlalu besar, maka perlu dilengkapi dengan perlengkapan pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal dengan atau tanpa koagulasi bahan dengan bahan kimia. Umumnya design konstruksi dirancang setelah didapat hasil dari survey lapangan baik mengenai kuantitas maupun kualitas. Dalam gambar design telah ditetapkan proses pengolahan yang dibutuhkan serta tata letak tiap unit yang beroperasi. Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Biasanya saringan pasir lambat hanya terdiri dari sebuah bak yang terbuat dari beton, ferosemen, bata semen, atau bak fiber glass. Untuk menampung air dan media penyaring pasir. Bak ini dilengkapi dengan system saluran bawah, inlet, outlet dan peralatan control. Untuk system saringan pasir lambat konvensional terdapat dua tpe saringan yakni : 1. Saringan pasir lambat dengan control pada inlet (gambar 1) 2. Saringan pasir lambat dengan control pada outlet (gambar2) Kedua system saringan pasir lambat tersebut menggunakan system penyaringan dari atas kebawah (down flow). Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Biasanya saringan pasir lambat hanya terdiri dari sebuah bak yang terbuat dari beton,ferosemen, bata semen atau bak fiber glass untuk menampung air dan media penyaring pasir. Bak ini di lengkapi dengan sistem saluran bawah, inlet, outlet dan peralatan kontrol Keterangan :

A. Kran untuk inlet air baku dan pengaturan laju penyaringan B. Kran untuk penggelontoran air supernatant C. Indikator laju air D. Weir inlet E. Kran untuk pencucian balik unggun pasir dengan air bersih F. Kran untuk pengeluaran/pengurasan air olahan yang masih kotor G. Kran distribusi H. Kran penguras bak air bersih Hal-hal yang perlu diperhatikan pada system saringan pasir lambat antara lain yakni : 1. Bagian Inlet Struktur inlet dibuat sedemikian rupa sehingga air masuk ke dalam saraingan tidak merusak atau mengaduk permukaan media pasir baghian atas. Struktur inlet ini biasanya berbentuk segi empat dan dapat berfungsi juga untuk mengeringkan air yang berada di atas media penyaring (pasir). 2. Lapisan Air di Atas Media Penyaring (supernantant) Tinggi lapisan air yang berada di atas media penyaring (supernatant) dibuat sedemikian rupa agar dapat menghasilkan tekanan ( head ) sehingga dapat mendorong air mengalir melalui unggun pasir. Di samping itu juga berfungsi agar dapat memmberikan waktu tinggal air yang akan diolah di dalam unggun pasir sesuai dengan criteria design.

GAMBAR

Keterangan A. Kran untuk inlet air baku. B. Kran untuk penggelontoran air supernatant C. Kran untuk pencucian balik unggun pasir dengan air bersih D. Kran untuk pengeluaran / pengurasan air olahan yang masih kotor

E. Kran pengatur laju penyaringan. F. Indikator laju air. G. Weir inlet keran distribusi H. Kran distribusi I. Kran penguiras bak air bersih. Bagian Pengeluaran (Outlet) Bagian outlet ini selain untuk pengeluaran air hasil olahan, berfungsi juga sebagai weir untuk control tinggi muka air di atas lapisan pasir. Media pasair (unggun pasir) Media penyaring dapat dibuat dari segala jenis bahan inert (tidak larut dalam air atau tidak bereaksi dengan bahan kimia uang ada di dalam air). Media penyaring yang umum dipakai yakni pasir silica karena mudah diperoleh, harganay cukup murah, dan tidak mudah pecah. Diameter pasir yang digunakan harus cukup halus yakni dengan ukuran 0,2 0,4 mm. Sistem saluran bawah berfungsi untuk mengalirkan air olahan serta sebagai penyangga media penyaring. Saluran ini terdiri dari saluran utama dan saluran cabang, terbuat dari pipa berlubang atasnya ditutup dengan lapisan kerikil. Lapisan kerikil ini berfungsi untuk menyangga lapisan pasir agar pasir tidak menutup lubang saluran bawah. Sistem Saluran Bawah (drainage) Sistem saluran bawah berfungsi untuk mengalirkan air olahan serta sebagai penyangga media penyaring. Saluran ini terdiri dari saluran utama dan saluran cabang, terbuat dari pipa berlubang yang diatasnya ditutup dengan lapisan kerikil. Lapisan kerikil ini berfungsi untuk menyangga lapisan pasir agar pasir tidak menutup lubang saluran bawah Ruang Pengeluaran Ruang pengeluaran terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan dengan sekat atau dinding pembatas. Diatas dinding pembatas ini dapat dilengkapi dengan weir agar limpasan air olahannya sedikit lebih tinggi dari lapisan pasir. Weir ini berfungsi untuk mencegah timbulnya tekanan di bawah atmosfir dalam lapisan pasir serta untuk menjamin saringan pasir beroperasi tanpa fluktuasi level pada reservoir. Dengan adanya air bebas yang jatuh melalui weir,maka konsentrasi oksigen dalam air olahan akan bertambah besar.

Pengolahan air bersih dengan menggunakan sistem saringan pasir lambat konvensional ini mempunyai keunggulan antara lain : Tidak memerlukan bahan kimia, sehingga biaya operasinya sangat murah Dapat menghilangkan zat besi, mangan dan warna serta kekeruhan Dapat menghilangkan ammonia dan polutan organic, karena proses penyaringan berjalan secara fisika dan biokimia Sangat cocok untuk daerah pedesaan dan proses pengolahan sangat sederhana Sedangkan beberapa kelemahan dari sistem saringan pasir lambat konvensional tersebut yakni antara lain : Jika air bakunya mempunyai kekeruhan yang tinggi, beban filter menjadi besar, sehingga sering terjadi kebutuhan. Akibatnya waktu pencucian filter menjadi pendek. Kecapatan penyaringan rendah, sehingga memerlukan ruangan yang cukup luas Pencucian filter dilakukan secara manual, yakni dengan cara mengeruk lapisan pasir bagian atas dab dicuci dengan air bersih, dan setelah bersih dimasukkan lagi ke dalam bak saringan seperti semula. Karena tanpa bahan kimia, tidak dapat digunakan untuk menyaring air gambut. Untuk mengatasi problem sering terjadinya kebuntuan saringan pasir lambat akibat kekeruhan air baku yang tinggi dapat ditanggulangi dengan cara modifikasi disain saringan pasir lambat yakni dengan menggunakan proses saringan pasir lambat UP Flow (penyaringan dengan aliran dari bawah ke atas). 2.2 Sistem Saringan Pasir Lambat Teknologi saringan pasir lambat yang banyak diterapkan di Indonesia biasanya adalah saringan pasir lambat konvensional dengan arah aliran dari atas ke bawah (down flow), sehingga jika kekeruhan air baku naik, terutama pada waktu hujna, maka sering terjadi penyumbatan pada saringan pasir, sehingga perlu dilakukan pencucian secara manual dengan cara mengeruk media pasirnya dan dicuci, setelah bersih dipasang lagi seperti semula, sehingga memerlukan Tenaga yang cukup banyak. Ditambah lagi dengan factor iklim di Indonesia yakni ada musim hujan air baku yang ada mempunyai kekeruhan yang sangat tinggi. Hal inilah yang

sering menyebabkan saringan pasir lambat yang telah dibangun kurang berfungsi dengan baik, terutama pada musim hujan. 2.3 Analisa Kualitas Sumber Daya Air Danau di Indonesia Untuk menganalisis kualitas air danau dan waduk yang ada di Indonesia telah dilakukan beberapa penelitian mengenai kualitas air danau dan waduk yang ada di Indonesia. Berikut hasil penelitian kualitas air danau dan waduk yang ada di Indonesia. Periode tahun 1928-1993. Penelitian kualitas air danau di Indonesia sesungguhnya sudah dilakukan sejak tahun 1928 yang dikenal dengan Sunda Expedition. Pada penelitian tersebut studi yang dilakukan baru pada taraf penelitian sifat fisika, kimia dan biologi. Sesudah tahun tersebut penelitian danau dilakukan sporadis artinya hanya satu atau dua danau saja yang diteliti dan dilakukan oleh beberapa instansi termasuk Puslitbang Sumber Daya Air, yang dahulu dikenal dengan Direktorat Penelitian Masalah Air, yang diwakili oleh seksi hidrokimia, kemudian pada tahun 1985 berubah menjadi Balai Lingkungan Keairan. Danau yang diteliti pada waktu itu antara lain Danau Batur, Bratan, Buyan, Tablingan di Bali (1980). Danau Maninjau, Singkarak, Diatas, Dibawah di Sumatera Barat (1983-1984). Pada periode 19932000, penelitian danau diseluruh Indonesia baru dilaksanakan kembali pada tahun 1992-1994 dengan kerja sama antara pemerintah republic Indonesia dengan Republik Finlandia. Pemerintah Indonesia diwakili oleh Pusat Litbang Sumber Daya Air. Jumlah danau alamiah yang diteliti ada sebanyak 19 buah yang tersebar dari sabar sampai merauke. Fokus penelitian masih terfokus pada karakteristik fisika, biologi, kimia, belum meneliti tentang beban pencemaran, dan daya dukung danau dan waduk.Air merupakan salah satu zat kimia yang paling berlimpah di alam, oksida hydrogen cair yang menopang kehidupan tumbuhan dan hewan di bumi. 2.4 Analisa Potensi Sumber Daya Air Danau di Indonesia Sumber air danau dapat berasal dari berbagai sumber. Adapun sumbersumber air danau terdiri dari :

a. Air sungai yang mengalir kedalam basin dan sebagai inflow b. Air yang berasal dari hasil pencairan salju dan es c. Air hujan yang tertangkap langsung oleh basin danau tersebut
d. Air dari aliran permukaan (over land flow) yang berasal dari air hujan yang berasal dari air hujan yang jatuh disebut danau

e. Air yang berasal dari dalam tanah (air tanah) yang permukaanya lebih tinggidari pada permukaan air danau sehingga air mengalir kedalam danau f. Air yang berasal dari mata air atau spring yang masuk kedanau tersebut jumlah air danau tidak selalu tetap, tetapi permukaan air danau selalu mengalami fluktuasi yaitu bertambah pada musim basah (hujan) dan berkurang pada musim kering (kemarau). Penyusutan air danau dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu: a. Penguapan dari permukaan danau b. Pengaliran air danau melalui outlet menuju sungai dibawahnya c. Perembesan air danau kedalam tanah d. Khusus untuk bendungan dan waduk terdapat penyusutan air akibat dimanfaatkan untuk air minum, irigasi.

Penyusutan air danau melalui perembesan tergantung pada karakteritik batuan atau tanah penyusun lahan sekitarnya, selain itu faktor ketinggian air tanah disekitar danau juga menentukan besar kecilnya kehilangan air danau tersebut sedangkan penyusutan air danau oleh penguapan dipengaruhi oleh temperatur, perbedaan tekanan udara, kelembapan udara. Volume air danau selalu mengikuti perubahan musim. Pada danau alam, ketinggian permukaan air maksimum dicapai pada musim hujan sebaliknya ketinggian air minimum dicapai pada musim kemarau (kering). Berbeda dengan danau buatan manusia yang memiliki pintu air sehingga ketinggian permukaan air dapat diatur sedemikian rupa seperti kepentinganya. Indonesia dikaruniai tampungan alami yang tersebar luas. Inventarisasi tampungan air tawar dipermukaan air tanah telah dilakukan sejak lama bahkan sudah didapatkan tabulasi yang sangat rinci, misalnya untuk kawasan jabotabek. Dikawasan tersebut terdapat 219 tampungan alami (situ), namun sayang sekali banyak dari tampungan tersebut yang sudah mengering sehingga kini tinggal 164 buah dengan luas total tidak lebih dari 1990 ha. Pengetahuan lebih mendalam mengenai potensi yang terkandung didalam danau-danau indonesia masih terbatas. Bahkan untuk beberapa daerah seperti papua misalnya, pengetahuan itu masih sangat terbatas. Dapat diberikan gambaran umum misalnya danau terbesar di indonesia adalah danau toba (luas 112.970 ha), terbesar kedua adalah towuti (56.108 ha) dan paling dalam adalah danau matono (590 m). Adapun manfaat danau adalah untuk irigasi perikanan, PLTA, rekreasi, olah raga, pelayaran dan penampungan air untuk mencegah banjir. Pengelolaan danau dan waduk. Danau dapat memiliki manfaat serta fungsi untuk irigasi pengairan sawah, ternak serta kebun, sebagai objek pariwisata, sebagai PLTA atau Pembangkit Listrik Tenaga Air, sebagai

tempat usaha perikanan darat, sebagai sumber penyediaan air bagi makhluk hidup sekitar dan juga sebagai pengendali banjir dan erosi. Sesuai dengan UU. No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang terdiri 3 komponen utama yaitu konservasi, pemafaatan dan pengendalian daya rusak air. Waduk embung, situ dan danau yang merupakan sumber daya air telah banyak mengalami penurunan fungsi dan kerusakan ekosistem. Hal ini disebabkan oleh karena pengelolaan waduk atau danau yang banyak mengalami kendala. Dalam UU Sumber Daya Air telah mengamanatkan untuk melakukan pengelolaan waduk dengan melakukan konservasi, pemanfaatan dan pengendalian daya rusak air. Selain itu masih ada peraturan lain seperti PP. No. 51 Tahun 1997, tentang lingkungan hidup; PP.No. 82 Tahun 2001, tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air; PP. No. 32 Tahun 1990 Teantang kawasan lindung; Kep. Pres. No.123/2001, tentang koordinasi pengelolaan sumber daya air pada tingkat provinsi, wilayah sungai, kabupaten, dan kota serta keputusan menteri yang terkait tentang pengelolaan sumber daya air. Walaupun sudah banyak undang-undang atau peraturan yang diundangkan tentang pengelolaan sumber daya air dan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air akan tetapi pada kenyataanya konservasi sumber daya air, pengendalian daya rusak air terhadap sumber daya air pada danau dan waduk, situ, embung dan sungai masih jauh dari harapan malahan semakin rusak baik kuantitas maupun kualitas airnya. Beberapa faktor yang menyebabkan kendala dalam melakukan pengelolaan sumber daya antara lain: a. Banyaknya instansi yang terkait dalam melakukan pengelolaan DAS waduk, yaitu setiap instansi lebih mementingkan sektornya daripada konservasinya. b. Perbedaan batas ekologis dan administratif sehingga ada keengganan pemerintah tempat berlokasinya danau atau waduk untuk melakukan upaya konservasi yang optimal. c. Masih lemahnya kapasitas kemampuan instansi pengelolaan dan melakukan konservasi. d. Kurangnya pemahaman dan kesadaran, pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan konservasi bagi penduduk yang ada disekitar DAS ataupun penduduk yang bermukim disekitar danau atau waduk.

2.5 Parameter Kualitas Air

Untuk melihat kualitas perairan sungai atau danau harus ada parameter sebagai standar bahan pencemar dalam air dan sekaligus untuk menilai tingkat kuaitas perairan sungai, baik yang berlaku secara nasional maupun internasional. Di Indonesia standar ini telah ditetapkan dalam aturan-aturan tertentu baik peraturan pemerintah maupun dalam KEPMEN, yang menjadi acuan menentukan tingkat kualitas perairan yang dinilai dari berbagai parameter yang telah ditetapkan. Peraturan pemerintah RI No.20 tahun 1990 tentang pengendalian pencemaran air. Dalam peraturan ini telah diatur kriteria kualitas air menurut peruntukan sebagai berikut : Golongan A : air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu Golongan B : Air yang dapat digunakan sebagai air baku minum Golongan C : Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri, pembangkit listrik dan tenaga air.