Anda di halaman 1dari 18

I.

I S O L A S I K U M A N P A T O G E N
Pemeriksaan laboratorium merupakan bagian dari rangkaian pemeriksaan untuk mengetahui penyebab penyakit, menilai perkembangan penyakit setelah diberikan pengobatan atau menyakinkan kebenaran penyebab penyakit yang diduga berdasarkan gejala klinisnya yang khas (gejala pathognomonic). Untuk mengetahui penyakit infeksi, diusahakan isolasi dan identifikasi

mikroorganisme dari spesimen (sampel) yang diambil dari penderita. Hasil pemeriksaan ini dipakai sebagai pedoman dalam pengobatan, perawatan ataupun tindakan lainnya pada penderita. Mengingat hasilnya yang sangat penting ini, maka pengambilan dan penanganan spesimen harus dilakukan dengan benar. laboratorium, adalah : a. Pemeriksaan mikroskopis b. Ditanam pada perbenihan buatan, binatang percobaan atau perbenihan jaringan c. Test serologis Isolasi adalah suatu usaha atau proses pemisahan berbagai mikroorganisme dari suatu sampel (spesimen) menjadi satu spesies sehingga diperoleh kultur murni yang disebut ISOLAT. Tujuan isolasi ini biasanya untuk dilakukan identifikasi. Cara yang umum untuk mendapatkan isolat murni adalah : a. Inokulasi langsung Cara langsung berarti, sampel yang kita peroleh dari penderita langsung ditumbuhkan dalam medium agar cawan tertentu. Cara ini menghasilkan pertumbuhan mikroorganisme yang menumpu sehingga menimbulkan kesulitan dalam isolasi, selain itu menambah pekerjaan. b. Inokulasi tidak langsung (suspensi) Cara suspensi maksudnya adalah sumber mikroorganisme dibuat suspensi, kemudian suspensi tersebut ditumbuhkan pada mdium agar cawan tertentu. Cara ini tertujuan agar pertumbuhan mikroorganisme tidak menumpuk, meskipun masih banyak pertumbuhan sehingga akan mempermudah dalam pengamatan. Secara umum pemeriksaan yang dilakukan di

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

Untuk mendapatkan isolat murni, isolasi harus dikerjakan secara bertahap. Setiap pertumbuhan koloni yang menunjukkan kenampakan yang berbeda harus ditumbuhkan ulang pada medium agar cawan yang baru dan dilakukan isolasi kembali. Adapun medium yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorgansime tergantung dari tujuan isolasi. Untuk isolasi bakteri, misalnya Staphylococcus aureus menggunakan media MSA, Salmonella dan Shigella menggunakan media SSA, Escherichia coli menggunakan Mac Conkey/Endo Agar/EMBA/BGLBA, Candida albicans menggunakan media SDA, Neserria gonorrhoae menggunakan media Coklar Agar, golongan kapang menggunakan media PDA dll. PENGAMBILA DAN PENGIRIMAN SPESIMEN Pengambilan Spesimen merupakan langkah awal yang penting untuk keberhasilan isolasi dan identifikasi kuman, karena seringkali kegagalan usaha ini bukan disebabkan kesalahan teknik di laboratorium, melainkan dalam pengambilan spesimen. Untuk menghindari kesalahan tersebut, maka pengambilan dan pengiriman spesimen harus dilakukan sebagai berikut : 1. Pengambilan harus dilakukan sebelum penderita diberi pengobatan antibiotik atau kemoterapeutika. Kadang-kadang dokter memberikan obat antibiotik berdasarkan gejala penyakitnya, tanpa melakukan identifikasi kumannya, sehingga isolasi kuman menjadi sulit atau menjadi tidak mungkin. diberikan. 2. Pengambilan harus dilakukan pada saat di mana kemungkinan besar kumannya bisa ditemukan. Spesimen harus diambil pada saat dimana kemungkinan besar kuman bisa ditemukan. Misalnya untuk mengisolasi Plasmodiium sp. pengambilan darah harus dilakukan saat penderita sedang deman. Beberapa laboratorium melakukan pengambilan spesimen 3 hari berturut-turut untuk memperbesar kemungkinan mendapatkan kumannya. Beberapa jenis kuman patogen hanya bisa ditemukan pada stadium tertentu dari penyakitnya. Misalnya Treponema pallidum, sangat mudah di isolasi pada saat stadium awal sipilis dan sukar sekali ditemukan pada stadium lanjut. T. pallidum dengan mudah bisa diisolasi dari spesimen yang berasal dari ulcus durum (gejala sipilis primer) dan langsung dilihat dengan mikroskop Dark Field. Telihat bakteri yang berbentuk spiral dan dapat bergerak. Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto Karena itu, pengambilan spesimen harus dilakkan sebelum obat

3. Pengambilan harus dilakukan pada tempat dimana infeksinya sedang berlangsung. Spesimen harus diambil dari bagian tubuh yang mengalami infeksi aktif karena kadangkadang kumannya hanya terdapat dibagian tersebut. Misalnya, penyakit karena jamur Epidhermophyton floccusum yang menyebabkan tinea cruris, jamurnya akan mudah diisolasi dari bagian kullit yang mengalami infeksi aktif, yaitu pada pinggir dari kelainan kulitnya. 4. Spesimen harus diambil dalam jumlah yang cukup. Spesimen harus diambil dalam jumlah yang cukup agar bisa memenuhi kebutuhan berbagai jenis pemeriksaan yang diperlukan. Misalnya sputum biasanya dibagi menjadi dua (2) bagian masing-masing 5 cc (ml) untuk perbenihan, sehingga paling sedikit dibutuhkan 10 cc. 5. Pengambilan harus dilakukan dengan alat dan tempat penampungan yang tepat sebelum dikirim ke laboratorium. Alat untuk mengambil spesimen, misalnya kapas untuk apusan (swab) atau jarum suntik dan tabungnya tidak boleh mengandung daya hidup kumannya. Alat penyimpanan spesimen untuk pengiriman ke laboratorium harus steril dan terhindar dari kontaminasi oleh mikroorganisme lain. 6. Harus segera dikirim ke laboratorium untuk analisis. Spesimen haru segera dikirim ke laboratorium, apabila tidak memungkinkan disimpan dalam medium khusus dalam pengirimannya agar kuman tetap hidup. 7. Harus disimpan dalam lingkungan atau medium yang tepat sebelum saatnya diproses. 8. Spesimen harus segera diproses agar kemungkinan untuk berhasilnya proses isolasi lebih besar. harus

1. Salmonella sp.
Salmonella termasuk ke dalam bakteri enteropatogenik yaitu kelompok bakteri penyebab iinfeksi gastrointestinal. Spesies-spesies dari Salmonella dapat menimbulkan beberapa penyakit misalnya tifus oleh Salmonella typhii dan paratifus oleh Salmonella paratyphii. Bakteri enteropatogenik pada umumnya terdapat dalam jumlah kecil di dalam makanan, meskipun demikian jumlah tersebut sudah cukup untuk dapat menimbulkan gejala sakit. Gejala yang ditimbulkannya : demam dengan suhu tinggi terutama sore hari, sering meracau dan gelisah. Penderita sangat lemas dan apatis, anorexia dan sakit kepala. Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

Beberapa mengalami diare tetapi umumnya mengalami konstipasi (susah buang air besar). Bakteirnya masuk dalam aliran darah. Pada penyakit yang akut dapat terjadi perforasi usus dan peritonitis. Angka kematian 25 %. Dalam uji kuantitatif (jumlah) kadang-kadang bakteri ini tidak dapat terdeteksi karena pertumbuhannya tertutup oleh kuman-kuman lainnya yang terdapat di dalam makanan. Dengan alasan ini uji kuantitatif dianggap tidak efisien dilakukan terhadap bakteri enteropatogenik dan cukup hanya dilakukan uji kualitatif.

2. Staphylococcus aureus
S. aureus adalah suatu bakteri penyebab keracunan makanan yang memproduksi enterotoksin. Bakteri ini sering ditemukan pada makanan-makanan yang mengandung protein tinggi, misalnya sosis, telur dan sebagainya. S. aureus merupakan bakteri gram positif berbentuk kokus, tumbuh secara anaerobik fakultatif dengan membentuk kumpulan-kumpulan sel seperti buah anggur. Enterotoksin yang diproduksi bersifat tahan panas, dan masih aktif setelah dipanaskan pada suhu 100
O

C selama 30 menit.

Enterotoksin dari S. aureus dapat dibedakan atas lima tipe yaitu A, B, C, D dan E. S. aureus dapat menimbulkan infeksi bernanah dan abses, juga dapat menimbulkan penyakit seperti infeksi pada folikel rambut dan kelenjar keringat, bisul, infeksi pada luka, meningitis, endocarditis dan lain-lain, sedangkan di rumah sakit sering menimbulkan infeksi nosokomial pada bayi, pasien luka bakar atau pasien bedah yang sebagian besar disebabkan oleh personil rumah sakit. Uji kualitatif S. aureus dapat dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu : (1). Tahap enrichment pada medium cair selektif, (2). Tahap seleksi dan isolasi pada medium, (3). Tahap identifikasi dan (4). Typing koagulase dan phage (jarang dilakukan karena bahanbahan untuk uji tersebut sukar diperoleh).

3. Candida albicans
C. albicans merupakan anggota flora normal selaput lendir, saluran pencernaan dan saluran genitalia wanita, namun dapat bersifat oportunistik yaitu dalam kondisi normal tidak menyebabkan penyakit tetapi apabila terdapat faktor predisposisi inang akan berubah menjadi patogen. Penyakit yang ditimbulkannya adalah kandidiasis. Kandidiasis dapat terjadi pada vagina, saluran pencernaan an pada mulut bayi yang disebut sariawan bayi. C. albicans juga dapat menyebabkan peradangan yang hebat pada saluran anus dan meluas sampai daerah pantat dan paha. Kandidiasis pada mukosa mulut dan vagina sering

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

kali terjadi karena pengobatan antibakteri yang lama, yang dapat menyebabkan berkurangnya flora normal di daerah tersebut.

4. Escherichia coli
E. coli merupakan flora normal, hidup komersial di dalam kolon manusia dan di duga membantu pembuatan vitamin K yang penting untuk pembekuan darah. E. coli dapat digunakan untuk/sebagai indikator pencemaran air oleh tinja, terutama untuk air yang digunakan keperluan rumah tangga. E. coli dapat menyebabkan epidemi penyakit saluran pencernaan, seperti kolera, tipus, disentri dan penyakit cacing. E. coli juga dapat menyebabkan pneumonia, endokarditis, infeksi pada luka-luka dan abses pada berbegai organ. E. coli juga merupakan penyebab utama meningitis pada bayi yang baru lahir dan penyebab infeksi tractus urinarius (pyelonephritis, cystisis).

5. Pseudomonas aeruginosa
Genus Pseudomonas terdiri dari sejumlah bakteri batang gram negatif, obligat aerob, berflagella polar satu atau lebih, umumnya tidak meragikan karbohidrat dan mudah tumbuh pada berbagai medium pertumbuhan. Bakteri ini merupakan flora normal di usus dan kulit. Kebanyakan spesies ini tidak menyebabkan infeksi pada manusia, tetapi kuman ini penting karena bersifat oportunis patogen dan dapat menimbulkan infeksi pada individu dengan ketahanan tubuh yang menurun yaitu penderita dengan luka bakar, orang sakit berat atau dengan penyakit metabolik atau mereka yang sebelumnya memakai atau mempergunakan alat-alat kedokteran. Infeksinya biasanya gawat, susuah diobati dan

kebanyakan antibiotik tidak efektif terhadapnya dan biasanya merupakan infeksi nosokomial. Pseudomonas aeruginosa merupakan satu-satunya spesies yang

menghasilkan (1) piosianin, zat berwarna kebiru-biruan dan mempunyai aktivitas anti jasad renik dan (2) fluoresein, zat berwarna kehijau-hijauan berfluoresensi.

6. Clostridium sp.
Clostridium merupakan bakteri anaerob (kuman yang kurang atau tidak membutuhkan oksigen (O2) untuk pertumbuhannya). Clostridium tidak mempunyai

enzim superoksid dismutase dan atau peroksidase. Dari proses metabolisme bakteri ini (reduksi atau enzimatis) yang terjadi dalam suasana aerob akan terbentuklah zat-zat yang bersifat bakteriosid terhadap kuman tersebut. Bakteri anaerob dapat dibagi menjadi : (1). Anaerob obligat seperti seperti Cl. tetani, Cl. botulinum dan (2). Aerotoleran seperti Cl. perfringens, B. fragillis.

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

Berbagai cara dipegunakan untuk mendapatkan kondisi anaerob : 1. Cara mekanik 2. Cara biologik 3. Cara kimiawi 4. Cara Kimia dan mekanik : sungkup Klein : lempeng Fortener : KOH pirogalol, gas pack system : vaccum replacement

Tujuan : Memisahkan jasad renik menjadi isolat murni Bahan : 1. Madium SSA, Mac Conkey / EMBA / Endo Agar, MSA, SDA + khloramphenikol, Kings B Agar / PSA, Clostridium Selective Agar, LB, SB 2. Sampel 3. Akuades steril Alat : 1. Cawan petri steril 2. Mikropipet 100 l-1000 l 3. Blue tips 4. Jarum ose 5. Drugalsky Prosedur : 6. Pembakar bunsen 7. Ruang steril (laminar air flow) 8. Penangas air 9. Inkubator 10. Anaerobic jar + gas pack

1. Isolasi Salmonella sp.


a. Sampel mutahan diambil 1 gram dan dihaluskan b. Masukkan dalam medium Lactose Broth (LB) dan diinkubasi selama 1 x 24 jam, 37
O

c. Setelah inkubasi selesai, masukkan dalam medium Selenith Broth (SB) dan diinkubasi selama 1 x 24 jam, 37 OC d. Setelah inkubasi selesai : d.1. dengan menggunakan jarum ose, inokulasikan pada medium SSA secara streak atau kuadran; atau d.2. 0,1 ml dengan mikropipet masukkan dalam medium SSA dan diratakan dengan drugalsky e. Inkubasi pada suhu 37 OC selama 2 x 24 jam f. Amati pertumbuhan koloni yang terbentuk : koloni warna merah atau bening keruh dan pada bagian tengahnya berwarna hitam menunjukkan adanya koloni Salmonella.

2. Isolasi Staphylococcus sp.


Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

a. Oleskan cotton buds steril yang sebelumnya sudah dibasahi dengan pepton water pada sampel luka. b. Cotton buds kemudian dimasukkan dalam akuades untuk dilakukan pengenceran (103

), pada dua pengenceran terakhir (10-2 dan 10-3) diambil 0,1 ml dengan mikropipet

masukkan dalam medium MSA atau MSA darah dan diratakan dengan drugalsky c. Inkubasi pada suhu 37 OC selama 2 x 24 jam d. Amati pertumbuhan koloni yang terbentuk : Staphylococcus aureus pada MSA akan tampak berwarna kuning dengan zona kuning disekelilingnya dan MSA darah akan tampak berwarna krem dengan zona betha haemolisis (jernih); S. epidemidis pada MSA akan tampak berwarna merah atau ungu.

3. Isolasi Candida albicans


a. Diambil sampel air kencing sebanyak 5 ml menggunakan pipet steril atau sekre vagina dengan menggunakan cotton buds steril b. Lakukan pengenceran sampai 10-6 pada dua pengenceran terakhir (10-5 dan 10-6) diambil 0,1 ml dengan mikropipet masukkan dalam medium SDA dan diratakan dengan drugalsky c. Inkubasi pada suhu 37 OC selama 2 x 24 jam d. Amati pertumbuhan koloni yang terbentuk : C. albicans akan tampak berwarna putih keruh (krem) dengan aroma khas seperti ragi tape.

4. Isolasi Escherichia coli


a. Diambil sampel air kemih sebanyak 5 ml dengan menggunakan pipet steril b. Lakukan pengenceran sampai 10-6 ; pada dua pengenceran terakhir (10-5 dan 10-6) diambil 0,1 ml dengan mikropipet masukkan dalam medium Mac Conkey atau EMBA dan diratakan dengan drugalsky c. Inkubasi pada suhu 37 OC selama 2 x 24 jam d. Amati pertumbuhan koloni yang terbentuk : E. coli pada medium Mac Conkey akan tampak berwarna merah tua dengan koloni besar dan EMBA akan tampak berwarna merah tua dengan kilap logam.

5. Isolasi Pseudomonas aeruginosa


a. Oleskan cotton buds steril pada sampel luka yang sebelumnya sudah dicelupkan dalam pepton water steril

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

b. Lakukan pengenceran sampai 10-6 ; pada dua pengenceran terakhir (10-5 dan 10-6) diambil 0,1 ml dengan mikropipet masukkan dalam medium Kings B Agar atau PSA dan diratakan dengan drugalsky c. Inkubasi pada suhu 37 OC selama 2 x 24 jam d. Amati pertumbuhan koloni Pseudomonas aeruginosa yang terbentuk

6. Isolasi Clostridium sp.


a. Oleskan cotton buds steril pada sampel luka yang sebelumnya sudah dicelupkan dalam pepton water steril b. Lakukan pengenceran sampai 10-6 ; pada dua pengenceran terakhir (10-5 dan 10-6)

diambil 0,1 ml dengan mikropipet masukkan dalam medium Cooked Meat Medium atau Clostridium Selective Agar dan diratakan dengan drugalsky c. Inkubasi menggunakan anaerobic jar pada suhu 37 OC selama 2 x 24 jam d. Amati pertumbuhan koloni Clostridium sp. yang terbentuk

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

Gambar Hasil Isolasi :

Kuman .................................. Media ...................................

Kuman ................................... Media .....................................

Kuman .................................. Media ...................................

Kuman ................................... Media .....................................

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

II.

PEMERIKSAAN AIR SECARA MIKROBIOLOGIS

Coliform merupakan jasad indikator pencemaran air oleh tinja. Air dari suatu badan air yang mengandung bakteri Coliform ada indikasi bahwa air itu mengandung jasad patogen peyebab penyakit perut seperti Salmonella, Shigella. Disamping itu bakteri Coliform diangkat sebagai kriteria sanitasi suatu sumber air atau lingkungan bahkan bahan pangan. Ciri-ciri jasad indikator : 1. Terdapat pada air yang tercemar 2. Terdapat dalam air apabila ada pathogen 3. Jumlahnya berkorelasi dengan kadar polusi 4. Kemampuan bertahan hidup lebih besar 5. Punya sifat yang seragam dan mantap 6. Tidak berbahaya 7. Jumlahnya lebih banyak daripada pathogen 8. Mudah dideteksi dengan teknik-teknik laboratorium yang sederhana Dalam pengujian bakteri Coliform, sering dibedakan adanya kelompok Coli-fekal dan Coli-nonfekal. Coli-fekal adalah Escherichia coli yang hanya akan hidup sementara setelah keluar dari perut. Suatu badan air apabila di uji terdapat Coli-fekal berarti air tercemar oleh tinja, maka kemungkinan besar badan air tersebut juga mengandung bakteri patogen. Bakteri Coli-nonfekal antara lain Enterobacter merupakan bakteri air yang dapat berasal dari perut. Kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan air, bakteri tersebut langgeng setelah keluar dari perut. Ciri-ciri bakteri coliform : 1. Berbentuk batang 2. Gram negative 3. Tidak berspora 4. Aerobic / fakultlatif anaerobic 5. Menghasilkan gan dan asam laktat Menurut APHA (American Public Health Association) dalam buku Standart Methods For The Examination Of Water And Wastewater untuk menentukan potabilitas air (aman

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

tidaknya air untuk dikonsumsi) perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologis (uji mikrobiologis) yang meliputi :

1. Uji Duga (Presumptived Test) Pada tahap ini, uji ditujukan untuk mendeteksi jasad yang dapat memfermentasi laktosa menghasilkan asam laktat dan gas. Jasad ini diduga sebagai bakteri Coliform. Bakteri ini meliputi semua gram negatif, tidak berspora, berbentuk batang, bersifat fakultatif anaerob. Gas terbentuk dari peruraian laktosa pada suhu 37 OC dalam waktu 48 jam. Apabila dalam ujinya tidak terbentuk gas setelah 48 jam, uji tersebut dinyatakan negatif dan tahap uji berikutnya tidak perlu dilakukan. 2. Uji Penetapan (Confirmed Test) Tahap ini melanjutkan uji tahap pertama yaitu membuat piaraan agar tuang dari piaraan dalam laktosa cair pada agar cawan medium selektif atau diferensial (EMBA atau Endo Agar). Pada uji ini ada 3 jenis atau sifat pertumbuhan koloni, yaitu : a. Koloni Tipical Coliform, yaitu bulat berwarna merah dengan bagian tengah gelap bahkan kadang-kadang memantulkan kilap logam b. Koloni Atipical, yaitu koloni tidak berwarna merah seperti merah koloni, tipikal dan tidak gelap apda bagian tengah koloninya (pink dan buram) c. Koloni yang tidak termasuk ke-2 tipe koloni sebelumnya. 3. Uji Lengkap (Completed Test) Pada uji ini adalah melakukan pembuatan piaraan cair dalam medium Laktosa Cair (LB) dari koloni Tipical. Uji ini untuk menduga adanya E. coli, dalam medium LB bakteri tersebut mampu membentuk gas dalam suhu 44,5 OC. a. coli-fekal : mampu memfermentasi laktosa menjadi asam laktat dan gas pada suhu 44,5 OC. Contoh : E. coli b. coli non-fekal : mampu memfermentasi laktosa menjadi asam laktat dan gas pada suhu 37 OC. Contoh : E. aerogenes

Untuk mengetahui jenis bakteri coliform dilakukan uji IMViC, meliputi : 1. Indole Menggunakan medium Tryptone Broth (TB). TB mengandung asam amino

tryptofan. Golongan colifekal mampu mengubah asam amino tryptofan menjadi indole

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

karena menghasilkan enzim tryuptofanase. Apabila ditambah Covacks Indole Reagent (CIR) akan terbentuk cicncin merah (rasindol) 2. Methyl Red Menggunakan MR-VP medium. Golongan colifekal mampu menurunkan pH

menjadi asam karena menghasilkan asam lebih banyak daripada golongan coli non-fekal dan berwarna merah apabila ditambah indikator methyle red. 3. Voges Proskauer Menggunakan MR-VP medium. Golongan colifekal tidak mampu membentuk asetil methyle karbinol (asetoin) yang merupakan hasil samping metabolisme karbohidrat. Dinyatakan positif apabila terbentuk warna merah setelah ditambah KOH 40% dan alfa naftol. 4. Cosers Citrat Menggunakan medium Kosers Citrat. Golongan coli non-fekal mampu Adanya pertumbuhan

menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon.

menunjukkan penggunaan sitrat dan dapat dilihat dari timbulnya kekeruhan pada medium.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat pengambilan sample untuk pemeriksaan air secara mikrobiologis : 1. Menggunakan botol steril 2. Dapat mewakili sumbernya 3. Tidak boleh terkontaminasi (sebelum dan sesudah pengambilan) 4. Pengambilan sample maksimal 1 jam sebelum di uji laboratorium 5. Apabila pengujian laboratorium ditunda dimasukkan lemari es pada suhu 0 10 oC Bahan : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. Alat Sampel air Medium LBDS (Lactose Broth Double Strength) Medium LBSS (Lactose Broth Single Strength) Medium EMBA (Eosin Methylen Blue Agar) Medium Tryptone Broth (TB) Medium MR-VP Medium Cosers Citrat atau Simons Citrat Covacks Indole Reagent Indikator warna Mehtyle Red Larutan KOH 40 % Larutan alfa naftol

: a. Botol sampel steril b. Lampu bunsen c. Pipet ukur 10 ml Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

Laboratorium Mikrobiologi

d. e. f. g. h. i. Cara kerja :

Inkubator Cawan petri steril Jarum ose Rak tabung Pipet tetes Tabung durham

UJI DUGA (dilakukan) 1. Siapkan 3 tabung berisi LBDS dan 6 tabung LBSS (dibagi dua) 2. Inokulasi tabung LBDS dengan 10 ml air sampel, 3 tabung LBSS diinokulasi dengan 1 ml dan 3 tabung LBSS yang lain diinokulasi dengan 0,1 ml 3. Inkubasi pada suhu 37 OC selama 1 x 24 jam. 4. Amati terbentuknya gas yang terperangkap pada tabung durham. 5. Jumlah gas pada masing-masing kelompok medium dicocokan dengan tabel MPN untuk mengetahui jumlah bakteri coliform dalam sampel. UJI PENETAPAN 1. Hasil positif dari hasil uji duga ditanam menggunakan jarum ose pada medium EMBA secara streak plate (goresan) 2. Inkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 37 OC 3. Amati terbentuknya koloni tipikal. UJI LENGKAP 1. Koloni tipikal dari hasil uji penetapan diambil menggunakan jarum ose dan dimasukkan ke dalam 2 medium LBSS 2. Inkubasi pada suhu 44,5 OC dan 37 OC selama 1 x 24 jam. 3. Amati terbentuknya gas pada masing-masing tabung. UJI IMViC 1. Hasil positif dari uji lengkap pada suhu 44,5 OC diinokulasikan pada medium TB, MR-VP medium (2 buah) dan Cosers Citrat sebanyak 2 sengkelit. 2. Inkubasi medium TB dan MR-VP (1) pada suhu 37 OC selama 2 x 24 jam, sedangkan medium MR-VP(2) dan Cosers Citrat pada suhu37 OC selama 4 x 24 jam 3. a. Amati terbentuknya cincin warna merah pada medium TB setelah ditambah C.I.R. Adanya warna merah berarti positif b. Amati terbentuknya warna merah pada medium MR-VP (2) setelah ditambah indikator warna methyle red. Adanya warna merah berarti positif c. Amati terbentuknya warna merah pada medium MR-VP (1) setelah ditambah KOH 40 % dan alfa naftol. Adanya warna merah berarti positif d. Amati terjadinya kekeruhan pada medium. Apabila terjadi kekeruhan berarti positif. Indole + MR + + VP CC Jenis E. coli var I E. coli var II

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

Tabel MPN per 100 ml sampel menggunakan 3 seri tabung untuk setiap pengenceran 10 ml 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 ml 0 0 0 0 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 0 0 0 0 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 0,1 ml 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 MPN per 100 ml 3 6 9 3 6.1 9.2 12 6.2 9.3 12 16 9.4 13 16 19 3.6 7.2 11 15 7.3 11 15 19 11 15 20 24 16 20 24 29 10 ml 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 ml 0 0 0 0 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 0 0 0 0 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 0,1 ml 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 MPN per 100 ml 9,1 14.1 20 26 15 20 27 34 21 28 35 42 29 36 44 53 23 39 64 95 43 75 120 160 93 150 210 290 240 460 1100 >1100

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

III. ISOLASI KUMAN DI UDARA Bahan : a. Medium PDA (Potato Dextrose Agar) b. Medium PCA (Plate Count Agar) : a. Cawan petri b. Inkubator

Alat

Cara kerja : a. Siapkan medium PDA dan PCA b. Dilakukan pemaparan medium dalam 2 ruangan, masing-masing pada kondisi lingkungan yang akan di amati dengan pembagian daerah yang cukup mewakili.Waktu pemaparan yang dilakukan adalah 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 menit. : Medium PDA PCA Kondisi Ruang I II, dst I II, dst Kontrol 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit 30 menit

c. Inkubasi masing-masing medium pada suhu 37 OC selama 2 x 24 jam. d. Amati pertumbuhan koloni pada masing-masing medium dan hitung jumlahnya.

Laboratorium Mikrobiologi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto