Anda di halaman 1dari 6

Sebelum masuk ke pembahasan tentang FUSI Penggabungan, sekilas disampaikan mengenai penglihatan otak, yaaa bukan mata tapi

i otak, apa maksudnya? Definisi/ Pengertian Penglihatan Otak adalah bahwa Otak mampu mengolah informasi menjadi persepsi penglihatan. Sedang Cacat Penglihatan Otak meliputi:

Low Vision Visual Impairment Penglihatan Terbatas Penglihatan Sisa

Kemudian kita bisa ketahui juga tentang penglihatan dan cahaya Penglihatan mesopik dimana cahaya redup seperti disenja hari Cacat penglihatan mesopik adalah rabun senja (nictalopia) ditemukan pada avitaminosis A

Penglihatan skotopik dimana cahaya sangat kurang, seperti dimalam hari. Cacat penglihatan skotopik adalah gangguan:

Adaptasi gelap Akomodasi Untuk mengetahui keadaan ini diperluakan tes Sensitifitas Kontras Ditemukan pada rabun malam/ Miopia malam

Sedang Penglihatan detil merupakan fungsi makula lutea dan disebut juga : penglihatan sentral Fungsi inilah yang biasa diukur dalam pemeriksaan refraksi dengan nama : Tajam Penglihatan (visual acuity) Cacat penglihatan detil adalah : apabila dengan lensa koreksi terbaik, Visus tidak mencapai 100% Selanjutnya, kita lanjutkan dengan topik FUSInya yaaa.. Apa itu FUSI? Fusi adalah hubungan dari dua hal yang sebenarnya tidak berhubungan la ngsung, nah loh apa maksudnya..? Definisi Fusi secara bahasa Penggabungan; Peleburan; Koalisi, Kerja-sama sensorik dan motorik yang serasi diantara kedua mata, sehingga terjadi penglihatan binokuler tunggal yang tetap. Pada proses Fusi, selain komponen sensoris terdapat pula komponen motoris atau pengaturan dengan gerakan Sensory Fusi adalah kemampuan untuk mengapresiasikan dua gambar yang hampir sama yang dilihat oleh masing-masing mata diterjemahkan menjadi satu. Satu gambar itu adalah sebagai kondisi adanya korespondensi dari retina Agar sensory fusi itu terjadi maka gambar tidak hanya harus diletakkan pada area korespondensi retina namun juga harus benar-benar sama dalam ukuran, bright-nya dan ketajamannya. Gambar yang tidak sama akan mempengaruhi fusi. Pada proses Fusi, selain komponen sensoris terdapat pula komponen motoris atau pengaturan dengan gerakan. Motor Fusi, Otak memiliki kesanggupan untuk mengirimkan perintah-perintah kepada otot-otot mata untuk meluruskan arah dari mata yang berubah arah. Fusi ditingkat motoris ini dapat menggeser bayangan benda yang sedang dipandang, yang tadinya tidak tepat jatuh di Fovea, menjadi jatuh tepat di Fovea dengan membuat kedua mata menjadi searah.

Agar kedua bayangan dari suatu benda di lingkungan penglihatan yang jatuh di Retina itu dapat disatukan oleh Otak menjadi satu bayangan:

Maka kedua mata harus baik arahnya Agar bayangan-bayangan itu jatuh pada bagian-bagian Retina yang sesuai

Bila kedua mata cenderung untuk bergulir dan akan memisahkan diri kearah yang berbeda, maka komponen motoris dari Fusi akan mengadakan penyesuaian yang diperlukan agar mereka tetap searah. Mekanisme kompensasi ini dapat melelahkan penderita dan menimbulkan rasa sakit kepala dan keletihan mata. Bila sudah letih, penderita mungkin tidak mau berusaha menterapkan daya Fusi Motorisnya, dan membiarkan kedua matanya berubah arah. Dalam posisi beristirahat ini penderita akan mengalami Penglihatan Ganda (Diplopia). Satu lagi ada istilah SIMULTAN PERSEPSI Misal Visus OD = 1.00 maka Fiksasi Fovea dan Visus OS 1.00 maka Fiksasi ExtraFovea, nah apakah terjadi Penglihatan Binokuler. Penglihatan Binokuler akan terbentuk apabila :

Kedua mata dapat melihat secara serentak dan dalam waktu bersamaan sedemikian rupa, dimana masingmasing bayangan yang terbentuk di Retina diteruskan ke otak sebagai suatu persepsi penglihatan, yang dalam hal ini kita sebut : Persepsi Serentak (Simultant Perception).

Bayangan-bayangan dari kedua Retina itu dapat menghasilkan suatu penglihatan dimana benda terlihat ada satu seperti yang sebenarnya ada

Binocular Single Vision (terjadi karena adanya Fusi) jika OD > OS ada kecenderungan saat melihat lebih banyak menggunakan OD dari pada OS. Hal ini dapat melelahkan penderita dan menimbulkan rasa sakit kepala dan keletihan mata (Asthenopia). Bila sudah letih, penderita mungkin tidak mau lagi menterapkan daya Fusi Motorisnya, dan membiarkan kedua matanya berubah arah. Binocular Double Vision = Diplopia (terjadi bila Otak tidak lagi dapat mempertahankan Fusi lebih lanjut). Apabila hal ini tetap berlanjut, maka terjadi : Supresi. Amplitudo Pergeseran FUSI Rentang pergeseran mata oleh komponen motoris dari Fusi ini dapat diukur. Pengukuran ini disebut Fusional Vergence Amplitude (Amplitudo Pergeseran Fusi). Amplitudo pada bidang Horizontal (terutama arah Konvergensi) merupakan amplitudo yang terbesar jaraknya, dan amplitudo yang terkecil adalah bidang vertical. Kelainan atau deviasi yang dapat diatasi oleh perkisaran Fusi ini biasanya kecil derajadnya. Deviasi mata yang masih bisa diatasi ini sehingga kedua mata tetap searah disebut : Phoria Kedua mata yang lurus sempurna kedepan, yang tidak membutuhkan daya perkisaran Fusi untuk meluruskan dan men-searahkan kedua mata disebut mata yang Orthophorik Deviasi arah mata yang tidak bisa diluruskan oleh daya perkisaran Fusi disebut : Tropia

Artikel kali ini adalah salah satu hasil seminar di RSUPN/RSCM Jakarta , 5 7 Juni 2009 yang lalu, mungkin bagi pengunjung yang telah ikut sudah tahu, tentunya untuk mengingatkan kembali dan bagi yang waktu itu tidak ikut baiklan saya sampaikan yang pertama adalah topik Refraksi dan Penglihatan Binokuler. Materi slidenya sangat panjannnnng sekitar 132 slide, dan saya sebagai pembawa acara membatas tiap nara sumber hanya 45 menit maka tentu tidak bisa dikupas semuanya. Baiklah berikut sebagian (semoga besar) yang bisa saya duplikasikan ke anda. Kita dianugerahi dua buah mata yang sangat tidak ternilai dan penuh dengan misteri. Dalam keadaan normal, kita melihat obyek dengan dua mata, akan tetapi obyek terlihat sebagai satu obyek saja, seperti apa yang ada. Visus Binokuler akan lebih baik sekitar setengah sampai dengan satu baris dibandingkan dengan Visus Monokuler pada skala Snellen Apabila Visus Binokuler = Visus Monokuler, hal ini mengindikasikan adanya problem pada Penglihatan Binokuler. (Pardhan & Elliott, 1991) KEUNTUNGAN MEMILIKI PENGLIHATAN BINOKULER Keuntungan pertama dan yang utama dari Penglihatan Binokuler adalah : Penglihatan Tunggal (single vision). Penglihatan Binokuler Tunggal (Binocular Single Vision) menghasilkan : stereopsis Sebagai Barometer dari Status Penglihatan Binokuler Berperan untuk menjaga keseimbangan antara Sensoris Fusi Motoris Fusi Lapang Penglihatan (the field of vision) yang lebih luas (30 lebih luas dari pada lapang penglihatan Monokuler) Meniadakan akan terlihatnya bintik buta (blind spot) Ibarat mobil merupakan ban serep apabila salah satu mata mengalami kecelakaan Berbagai komponen yang membentuk penglihatan binokuler ternyata mempunyai besaran rentang normal dan besaran tidak normal. Oleh karena itu, penanganan kelainan penglihatan

binokuler memerlukan keterampilan dan pemahaman yang memadai mengenai : Teknis pemeriksaan dan Penafsiran hasil pemeriksaan Methoda pemeriksaan dan pemilihan jenis peralatan yg tepat dapat membantu praktisi untuk menafsirkan nilai hasil pemeriksaan dan tata laksana dengan memadai. Sehingga pada akhirnya tata laksana akan berhasil dengan baik. Itulah abstrak yang diberikan oleh Bapak ketua Iropin saat ini yaitu Bapak Haryono Padmowardoyo RO, Orthoptis, FIACLE. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa slidenya ada 132 dan mengupas mulai dari dasar pemeriksaan sampai akhir sebagai wewenang kita para Ro yaitu pemeriksaan Binokuler maka mungkin kali bertahap dan di lain artikel akan dilanjutkan. Namun perlu diketahui sebenarnya sebagaian juga sudah pernah dibahas di blog ini mengenai pemeriksaan refraksi hanya dengan bahasa yang berbeda tentunya, namun isi dan tujuannya sama. Koreksi kelainan refraksi bertujuan untuk memulihkan gangguan penglihatan jauh dengan patokan : Lensa koreksi yang DIBERIKAN menghasilkan visus terbaik Pada Miopia dikoreksi dengan lensa minus terkecil/terlemah Pada Hipermetropia dikoreksi dengan lensa Plus terbesar/ terkuat agar mata tidak berakomodasi dan harus dapat mewujudkan Penglihatan Binokuler yang efisien dan nyaman. Selanjutnya jika hal itu sudah dipahami mari kita lanjutkan ke arah bagaimana seharusnya mulai memeriksa pasien kita. Prosedur Pemeriksaan Refraksi Anamnesa Refraksi Pemeriksaan Pendahuluan Refraksi Pemeriksaan Refraksi Obyektif

Subyektif Pemeriksaan Penglihatan Binokuler Analisa Refraksi/ rencana tindakan Pemeriksaan tambahan/ lanjutan Konsultasi/ Rujukan Ketujuh item diatas adalah pokok pekerjaan ketika kita menghadapi seorang pasien, jadi mesti dilakukan, hal baru yang mungkin masih terlewatkan adalah item no. 4 yaitu Pemeriksaan Penglihatan Binokuler dan perlu diketahui bahwa jenis pemeriksaan ini sekarang sudah menjadi wewenang kita para Refraksionis Optisien (RO) Selanjutnya mari kita kupas satu-persatu dari Prosedur Pemeriksaan Refraksi itu. Anamnesa Refraksi, pada tahap ini yang kita lakukan adalah: Gejala/Keluhan, keadaan yang dirasakan oleh pasien dan ini bisa ditanyakan ke pasien langsung Tanda-tanda, kondisi ini bisa dilihat oleh pemeriksa, misal matanya merah dsbnya Riwayat Okuler pasien/ klien, riwayat yang sudah pernah terjadi Riwayat Okuler dlm keluarga pasien/ klien , >>> pada tahap no. 1 untuk tahap anamnesa ini praktis kita lakukan guna untuk memberi petunjuk kepada kita kira-kira seperti apa kelainan pasien kita ini Pemeriksaan Pendahuluan Refraksi, Pemeriksaan Tajam-penglihatan, dalam hal ini UNCVA (Uncorrected Visual Acuity) AV (Acies Visus) Identifikasi posisi Bolamata Identifikasi gerak Bolamata Pengukuran jarak antar Pupil Identifikasi kondisi Mata :

Fungsi Pupil Fungsi Makula Skrining Lapang penglihatan Penglihatan Warna Skrining tekanan Bolamata , >>>> pada tahap no. 2 ini kebanyakan hanya dilakukan di klinik atau rumah sakit, namun untuk di optik tidak semua dilakukan, tentunya ini kendala dalam hal peralatan, begitu juga pada klinik mata yang bukan Rumah sakit mata Umum, misal klinik mata yang khusus maka tidak semua alat ada (bisa jadi) Pemeriksaan Refraksi, ini adalah inti pemeriksaan yang pasti dilakukan oleh setiap RO yaitu: Refrakasi Obyektif, dengan menggunakan komputer atau autorefraktometer Refraksi Subyektif, meliputi: Identifikasi Status Refraksi, apakah emetropia, myopia, hypermetropia atau astigmatisme Identifikasi besaran Kelainan Refraksi Pengukuran/koreksi Kelainan Refraksi Pengujian koreksi Kelainan Refraksi Komponen Spheris Komponen Silindris Penentuan Titik Akhir Refraksi Monokuler Pengujian Beban Akomodasi Penentuan Ttk Akhir Refraksi Binokuler Diagnosa Refraksi (Tentatif/sementara)

Anda mungkin juga menyukai