Anda di halaman 1dari 10

Respirasi Pada Tumbuhan

Fithria Diniyati 1110423034 ABTRAK Tujuan pratikum kali ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap kecepatan respirasi aerobic kecambah. Metoda yang digunakan pada pengukuran leju resiars adalah dengan menggunakan metoda titrasi. Bahan yang digunakan pada praktikum kai ini adalah kecambah Zea mays dan Phaseolus radiatus.Hasi yang didapatkan dari praktikum ini adalah laju respirasi pada suhu 5 0 adalah 1 ppm!"# 0 adalah 1$! ppm dan untuk suhu $5 0 adalah 15!% ppm. &esimpulannya suhu mempengaruhi respirasi pada kecambah dan laju respirasi dipengaruhi oleh umur tanaman. Kata kunci: respirasi aerobik, titrasi

I. PENDAHULUAN Sebagaimana kita ketahui dalam semua aktivitas makhluk hidup memerlukan energi, tumbuhan juga. espirasi terjadi pada seluruh bagian tubuh tumbuhan, pada tumbuhan tingkat tinggi respirasi terjadi baik pada akar, batang maupun daun dan se!ara kimia pada respirasi aerobik pada karbohidrat "glukosa# adalah kebalikan $otosintesis. espirasi merupakan suatu proses pembakaran terkontrol, sehingga energinya dapat keluar sedikit demi sedikit. Selain itu energy yang keluar tidak langsung sebagai panas, melainkan sedikit demi sedikit ke suatu ikatan molekul yang se%aktu&%aktu dapat mengeluarkan energinya lagi dengan mudah "'()#. 'da tiga proses penting dalam berlangsungnya proses respirasi, yaitu proses oksidasi yang di dalamnya terjadi pelepasan hydrogen atau proses hidrogenesa, pada respirasi aerobi! penerima hydrogen yang terakhir adalah oksigen. *ksigen ber$ungsi sebagai adaptor+ proses perombakan molekul dimana akibat oksidasi ikatan karbon dari molekul gula dirombak sehingga menjadi molekul karbon ke!il dan kemudian molekul tersebut dirombak lagi sehingga pada akhirnya hanya tinggal satu karbondioksida saja "Fitter, 1,,-#. espirasi adalah reaksi senya%a organik untuk menghasilkan energi yang digunakan untuk akti$itas sel dan kehidupan tumbuhan dalam bentuk '() atau senya%a berenergi tinggi, selain itu respirasi juga menghasilkan senya%a yang berguna sebagai bahan sintesis senya%a lainnya. .asil akhir dari respirasi adalah /*2 yang berperan sebagai keseimbangan karbon di dunia "0arry, 1,1,#. espirasi terdiri dari satu rangkaian reaksi kimia dimana karbohidrat dan mol organi! lainnya dioksidasi untuk memperoleh energi yang tersimpan dari hasil $otosintesis dan rangka karbon yang digunakan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan sel. )roses oksidasi atau pembakaran se!ara umum terjadi pada tempat yang kering, biasanya energy yang dikandung dilepas dalam bentuk panas, tapi pada respirasi terjadi dalam medium !air yang prosesnya berjalan se!ara bertahap dan energy yang dilepas diubah menjadi energy berguna dalam bentuk senya%a kimia yang dapat dipakai untuk sintesis, gerak dan pertumbuhan "Salisbury dan oss, 1,,2#. eaksi respirasi ini merupakan kebalikan dari ringkasan reaksi Fotosintesis. )ada $otosintesis /*2 direduksi menjadi glukosa dengan .2* sebagai sumber

ele!tron dan hydrogen sedangkan pada respirasi glukosa dioksidasi menjadi /*2 dan dibentuk .2* sebagai produk. 3n4im yang berperan pada kedua reaksi ini berbeda, selain itu lokasi terjadinya pun berbeda. ".idayat, 1,14#

Fakt r!Fakt r "an# mempen#aruhi respirasi 5enurut 6oggle "1,-3#, ada dua $aktor yang mempengaruhi respirasi yang terjadi pada tumbuhan. Faktor tersebut digolongkan atas $aktor dalam dan $aktor luar. 1 Faktor dalam Faktor dalam yaitu umur, tipe jaringan atau organ, bentuk pertumbuhan dari suatu spesies. 7mur mempengaruhi laju respirasi, dimana sel atau jaringan muda lebih !epat dari umur de%asa, sebab akti$itas metabolisme, yang memer&lukan energi dan rangka karbon untuk pertumbuhannya. 8aringan meristem lebih tinggi laju respirasi dibandingkan lainnya ,karena si$at jaringan berpe&ranan membentuk sel&sel baru, sehingga memerlukan materi dan energi yang banyak, karena itu diperlukan laju respirasi tinggi. 2 Faktor luar Faktor luar diantaranya adalah kosentrasi oksigen, suhu dan !ahaya a *ksigen *ksigen sangat penting dalam respirasi, karena oksigen adalah penerima ele!tron terakhir yang menentukan keberhasilan terbentuknya '(). 9arena itu jika kosentrasi *2 rendah maka laju respirasi rendah , hal ini terjadi jika akar tergenang air "banjir# , untuk sementara %aktu terjadi respirasi anerob "$ermentasi# yang mengghasilkan energi ke!il , sehingga tidak men!ukupi untuk proses kehidupan. 8ika terjadi dalam %aktu lama tumbuhan akan mati. b Suhu Suhu sangat mempengaruhi respirasi karena respirasi adalah reaksi en4im. )ada reaksi metabolisme berlaku :10 yaitu bila suhu naik 100 / maka laju reaksi naik 2&3 lipat. (api pada organisme baerlaku sampai suhu optimum. .al ini disebabkan makin naik suhu maka energi kinetis larutan juga akan meningkat yang memper!epat reaksi 5elampaui suhu optimum laju reaksi menurun sampai suhu maksimum.hal ini disebabkan tinggi suhu akan mempengaruhi kerja en4im. 3n4im adalah protein, si$at protein jika suhu tinggi maka protein akan mengalami koagulasi, sehingga sisi akti$ en4im terganggu. 7mumnya semakin tinggi temperature penurunan ke!epatan respirasi semakin !epat. Suhu juga mempengaruhi kelarutan oksigen. c /ahaya /ahaya se!ara tidak lansung mempengaruhi respirasi sehubungan ketersediaan substrat. 8ika !ahaya !ukup maka proses $otosintesis tinggi mengakibatkan tersedianya se%nya%a karbohidrat sebagai substrat respirasi. .al ini bias dibuktikan dimana laju respirasi 1&2 jam setelah $otosintesis akti$, laju respirasi lebih tinggi dibandingkan dengan respirasi gelap. Demikian juga daun !ahaya , laju respirasi lebih tinggi "10&,0 umol /*2 ;gr biomasa perjam#dibandingkan dengan daun yang biasa terlindung "20 <42 umol/*2;g biomasa perjam#. d 9adar garam anorganik dalam medium 8aringan atau tumbuhan yang dipindahkan dari air ke larutan garam akan menunjukka n kenaikan respirasi. espirasi diatas normal sema!am ini disebut respirasi garam. e angsangan mekanik Daun yang digoyang&goyang menunjukkan kenaikan respirasi. 9alau hal itu dilakukan berulang&ulang reaksinya menurun. 9enaikan respirasi ini mungkin disebabkan e$ek pemompaan . f =uka

(erjadinya luka di suatu bagian menyebabkan respirasi di tempat tersebut naik. 7mumnya pelukaan menyebabkan terbentuknya meristem luka yang menghasilkan kalus. 5ungkin kenaikan respirasi pada luka disebabkan oleh bertambahnya substrat atau lebih besarnya di$usi *2 yang masuk jaringan luka. g 9arbondioksida 9adar /*2 yang tinggi akan menghambat respirasi. Selain se!ara langsung berpengaruh terhadap reaksinya, mungkin /*2 juga berperan tidak langsung misalnya pada daun kadar /*2 yang tinggi akan menyebabkan stomata menutup sehingga di$usi /*2 keluar terhambat dan kadar /*2 dalam jaringan naik. Sedangkan menurut 0urhan "1,,1#, $aktor&$aktor yang mempengaruhi respirasi adalah ketersediaan substrat + laju respirasi daun sering lebih !epat segera setelah matahari tenggelam saat kandungan gula tinggi. Daun bagian ba%ah ternaungi respirasi lebih lambat dari daun sebelah atas yang terkena !ahaya matahari berhubung kandungan pati dan gula, ketersediaan *2 + pada akar, batang, dan daun sedikit mempengaruhi respirasi karena sitokrom oksidase mempunyai a$initas yang tinggi terhadap oksigen biarpun konsentrasi hanya 0,02>, suhu + peningkatan suhu sampai 40?/ atau lebih menurunkan respirasi, karena en4im mengalami denaturasi untuk men!egah metabolik yang semestinya terjadi, jenis dan umur tanaman + umunya bakteri, $ungi, dan ganggang berespirasi lebih !epat dibandingkan dengan tumbuhan berbiji. 0erdasarkan bobot kering hanya mengandung sedikit makanan dan tidak mempunyai sel nonmetabolik. espirasi tinggi selama pertumbuhan vegetati$ yang pesat, rendah saat pembuangan. Sebagian besar respirasi pada tumbuhan de%asa dilakukan oleh daun, akar yang muda, bunga yang sedang tumbuh %aktu buah masih muda. )asokan *2 juga mempengaruhi respirasi, tapi peranannya sangat berbeda, bergantung pada jenis tumbuhan bahkan bagian tumbuhan. 9eragaman normal kandungan *2 udara terlalu ke!il untuk mempengaruhi respirasi sebagian besar daun dan batang. =agipula, laju penetrasi *2 ke dalam daun, batang, dan akar biasanya !ukup untuk memepertahankan tingkat pengambilan normal *2 oleh mitokondria, terutama karena sitokrom oksidase mempunyei a$initas yang tinggi terhadap oksigen sehingga akan tetap ber$ungsi %alaupun konsentrasi *2 di udara hanya sekitar 0,02> "Dre%, 1,--#. Selain itu, tipe dan umur tumbuhan termasuk juga ke dalam $aktor yang mempengaruhi laju respirasi, karena perbedaan mor$ologi antara berbagai jenis tumbuhan, maka terjadi pula perbedaaan laju respirasi antara tumbuhan tersebut. 0akteri dan jamur umumnya menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dari tumbuhan tingkat tinggi, jika dihitung persatuan berat keringnya. )erbedaan ini terutama disebabkan karena bakteri dan jamur hanya mengandung sedikit senya%a yang diakumulasi sebagai bahan !adangan makanan dan tidak mengandung sel&sel kayu nonmetabolik sebagai mana tumbuhan tingkat tinggi. Se!ara umum terdapat korelasi yang kuat antara laju pertumbuhan dengan laju respirasi, karena dalam pertumbuhan akan digunakan '(), 6'D., dan 6'D). ini akan meningkatkan ketersediaan 'D), 6'D@, dan 6'D)@ untuk respirasi "=akitan, 2001#. Respirasi ksidati$ )roses respirasi oksidati$ terjadi dalam mitokondria. 8umlahnya dalam sel bervariasi dan hubungan erat dengan akti$itas metabolisme sel. )ada sel yang akti$ biasanya men!apai 220 persel, dan pada sel yang sangat akti$ dapat men!apai lebih dari 1000 persel. Struktur mitokondria mempunyai $ungsi berbeda, terdiri dari membran luar, membran dalam, ruang intermembran dan matrik 5embran luar mengandung

beberapa en4im kaya lipid dan sedikit protein. 5embran dalam berlekuk&lekuk kearah dalam, mengandung lebih banyak protein A10> dari berat keringnya. 5embran luar permeabilitasnya tinggi terhadap metabolit, karena mempunai pori yang besar disusun oleh protein yang disebut porin yang dapat dile%ati mol dengan massa sampai 10.000 D. 5embran dalam lebih selekti$ ,hanya permeabel terhadap mol ke!il seperti air, *2 dan /*2, dan permeabilitasnya terhadap .@ sangat rendah. Dalam matrik terdapat D6' dan 6', ribosom, en4im&en4im respirasi, ion& ion "3d%ards dan Balker, 1,-3#.

%. PELAK&ANAAN PRATIKU' %.( )aktu dan Tempat )raktikum ini dilaksanakan pada hari rabu, tanggal 20 5aret 2013, di =aboratorium Fisiologi (umbuhan, 8urusan 0iologi, Fakultas 5atematika dan Clmu )engetahuan 'lam, 7niversitas 'ndalas. %.% A*at dan +ahan 'lat yang digunakan adalah timbangan, botol, tabung reaksi, aluminium $oil, kain kassa, benang, label, karet gelang, erlenmeyer, beaker glass, dan buret. Sedangkan bahan yang digunakan adalah ke!ambah ka!ang hijau "Phaseolus radiatus' umur 2 dan 4 hari, serta ke!ambah jagung "Zea mays# umur 2 hari. %., -ara Ker.a %.,.( Perc baan a. )engaruh Suhu (erhadap 9e!ambah espirasi 'erobik Ditimbang ke!ambah sebanyak 1 g, dibungkus dengan kain kasa dan diikat ujungnya dengan benang yang disisakan memanjang. 9emudian dimasukkan kedalam botol dengan posisi bergantung, dengan !ara mengikat bagian ujung benang pada bibir botol. =alu ditutup dengan aluminium $oil dan diikat dengan karet gelang. Dibuat kontrol dengan botol tanpa ke!ambah, diletakkan pada suhu kamar. Diberi label pada masing& masing botol, dan tempatkan pada re$rigerator "20/#, ruangan "220/# dan inkubator "420/#. Setelah satu jam diukur kadar /*2 yang dihasilkan dengan menggunakan alat /*2 meter. =aju respirasi dapat dihitung dengan menggunakan %.,.% Perc baan b. )engukuran (urgiditas elati$ 8aringan (umbuhan )enentuan 9e!epatan espirasi 0iji Dang Sedang 0erke!ambah Ditempatkan 20 ml 6a*. 0,2 6 dan masing&masing 4 botol atau labu, dan langsung ditutup erat dengan menggunakan penutup karet. Ditimbang 1 g biji dan diikat kuat dengan benang. Eantungkan di dalam botol tadi dengan benang. Salah satu botol 6a*. tanpa biji digunakan sebagai kontrol. Diberi label botol&botol tersebut dan tempatkan masing&masing pada temperature 20/ "pendingin#, 220/ "ruangan#, 420/ "inkubator# dan sinar matahari. Setelah 3 jam, biji dikeluarkan dari dalam botol dan botol segera ditutup kembali. Ditentukan jumlah /*2 yang dikeluarkan selama respirasi dengan menggunakan metode titrasi F 5etode titrasi

)ipet 10 ml larutan yang ada dalam botol tadi ke dalam erlemeyer. =alu tambahkan 3 tetes indikator pp, kemudian titrasi dengan ./l 0,1 6 sampai hilang %arnanya dan lakukan hal yang sama pada kontrol, kurangi nilai yang diperoleh dari botol pertama dengan nilai dari botol kontrol. =akukan titrasi duplo terhadap masing&masing labu. 6ilai yang diperoleh menunjukkan jumlah total asam ekuivalen dengan /* 2 yang dihasilkan selama respirasi. praktikum espirasi ini yang sangat diamati yaitu nilai /* 2 yang dihasilkan oleh biji ka!ang hijau "Phaseolus radiatus# dan ke!ambah jagung (Zea mays' dengan menggunakan alat /*2 meter. Dan dengan menggunakan metode titrasi yang digunakan untuk mengetahui ke!epatan respirasi biji yang sedang berke!ambah, dimana jumlah ./l titrasi sama akan ekuivalen dengan /* 2 yang dihasilkan selama respirasi.

,. HA&IL DAN PE'+AHA&AN Dari praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil sebagai berikut F ,.( Hasi* Tabe* (. )engaruh Suhu (erhadap 9e!epatan espirasi 'erobik 9e!ambah 6 S 7mur o 20/ 210/ 420/ / G ( 1 4 .ari 1H ppm 12 ppm 12 ppm 13 ppm 220 m= 1 jam )erhitungan dari tabel pengaruh suhu terhadap ke!epatan respirasi aerobik Diketahui F S suhu 20/ I 12 ppm / I 13 ppm 0 S suhu 21 / I 1H ppm G I 220 ml S suhu 420/ I 12 ppm t I 1 jam % I 1 gram Tabe* % F )enentuan 9e!epatan espirasi 0iji Dang Sedang 0erke!ambah 6* 1. 2. 3. 4. 2. 7mur 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 2 hari (itrasi pada Suhu 20/ 12,4 12,2 1H 12,2 210/ 1H,1 12,2 14,H 12,1 420/ 12,2 12,2 12,, 1H

% 1 gr

,.% Pembahasan 3.2.1 )engaruh Suhu (erhadap 9e!ambah espirasi 'erobik Dari tabel pengamatan dapat dilihat kadar /*2 tertinggi pada perlakuan suhu 2 o/, begitu juga laju respirasinya "suhu berbanding lurus dengan laju respirasi, semakin tinggi suhu, semakin meningkat laju reaksi yang terjadi#. 9adar /*2 dan laju respirasi

yang paling besar terjadi pada suhu 2 o/. ini tentu saja bertentangan dengan literatur yang ada .Demikian juga dengan kadar /*2 yang didapatkan, semakin tinggi perlakuan suhu yang diberikan, kadar /* 2 dan laju respirasi ke!ambah juga semakin rendah.)adahal seharusnya semakin tinggi suhu maka kadar /* 2 akan semakin tinggi.penyebabkanya mungkin sja terjadi karena kesalah dalam melakukan praktikum. .asil per!obaan pun menunjukkan bah%a kadar /* 2 yang didapatkan berbeda&beda pada setiap perlakuan suhu yang menunjukan bah%a ada pengaruh yang signi$ikan yang ditimbulkan oleh suhu terhadap laju respirasi tanaman. )ada saat per!obaan, laju respirasi yang paling !epat terjadi pada ke!ambah dengan perlakuan suhu 42o/ dengan meletakkan sampel di dalam inkubator. espirasi rendah bahkan terhenti pada suhu 0o/ dan maksimal pada suhu 30o/ sampai 40o/. espon respirasi terhadap suhu tidak sama pada jenis tanaman dan pada setiap tahap perkembangan tanaman. )ada tanaman tropis respirasi maksimal terjadi pada suhu 40o/, dan tanaman daerah sedang respirasi maksimal 30o/ "D%ijoseputro, 1,,4#. .asil yang didapatkan sesuai dengan literatur yang ada, dimana menurut =akitan "2001#, pada suhu yang lebih tinggi lagi "sekitar 40o/# laju respirasi akan mulai menurun, hal ini disebabkan karena sebagian en4im&en4im yang berperan akan mulai mengalami denaturasi. Seharusnya respirasi yang paling !epat terjadi pada ke!ambah dengan perlakuan suhu 21o/ atau pada suhu ruangan, karena respirasi maksimal terjadi antara suhu 30o/ sampai 40o/. Suhu 21o/ memang tidak termasuk dalam rentang suhu seperti pada literatur, tetapi praktikan berpendapat bah%a suhu tersebutlah yang paling representati$ mendekati suhu terjadinya respirasi maksimum. )ada suhu 42 o/, pada per!obaan justru laju respirasi paling !epat. )adahal pada suhu yang lebih tinggi dari 40 o/ laju respirasi mulai menurun menurut literatur yang ada. 5enurut 0urhan "1,,1#, laju respirasi pada organisme berlaku sampai suhu optimum. .al ini disebabkan makin naik suhu maka energi kinetis larutan juga akan meningkat yang memper!epat reaksi. 5elampaui suhu optimum laju reaksi menurun sampai suhu maksimum, hal ini disebabkan suhu tinggi akan mempengaruhi kerja en4im. 3n4im adalah protein, sehingga sisi akti$ en4im terganggu. 7mumnya semakin tinggi temperature penurunan ke!epatan respirasi semakin !epat. Suhu juga mempengaruhi kelarutan oksigen. 3.2.2 )enentuan 9e!epatan espirasi 0iji Dang Sedang 0erke!ambah )ada per!obaan b juga terjadi hal yang serupa, dimana kadar /*2 yang ekivalen dengan volume titran yang diperlukan yang paling besar pada suhu 2 ?/, dan yang paling rendah pada suhu 21 ?/. Seharusnya )eningkatan jumlah volume titran ini meningkat seiring dengan meningkatnya suhu yang diberikan. 8ika dibandingkan dengan per!obaan a, hasil yang didapatkan ini !enderung memiliki kesamaan, hanya saja kadar /*2 pada per!obaan b lebih rendah. 9arena umur tumbuhan akan mempengaruhi laju respirasinya. =aju respirasi tinggi pada saat perke!ambahan dan tetap tinggi pada $ase pertumbuhan vegetati$ a%al "dimana laju pertumbuhan juga tinggi# dan kemudian turun dengan bertambahnya umur tumbuhan "=akitan, 2001#. Suhu tinggi "diatas optimum# akan merusak tanaman dengan menga!au laju respirasi dan absorbsi air. 0ila suhu udara meningkat, laju respirasi meningkat, karena penurunan tekanan de$isit uap dari udara yang hangat dan suhu yang tinggi pada daun yang mengakibatkan peningkatan tekanan uap air padanya. 9elayuan akan terjadi jika absorbsi terbatas karena kurangnya air atau kerusakan system vaskuler atau system

perakaran. (ingkat kerusakan akibat suhu tinggi, lebih besar pada jaringan yang lebih muda, karena terjadi denaturasi protoplasma oleh dehidrasi "8umin, 2002#. 5enurut =akitan "2001#, suhu dengan kisaran 2 o/ sampai 22 o/ laju respirasi akan meningkat lebih dari dua kali lipat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10 o/. 8ika ditingkatkan sampai sekitar 32 o/, laju respirasi tetap meningkat tetapi dengan nilai :10 yang lebih rendah. )enurunan nilai :10 ini diduga disebabkan karena peran oksigen melalui kutikula atau epidermis tidak men!ukupi kebutuhan. )ada suhu yang lebih tinggi lagi "sekitar 40o/# laju respirasi akan mulai menurun, hal ini disebabkan karena sebagian en4im&en4im yang berperan akan mulai mengalami denaturasi. 8adi dapat disimpulkan pada suhu 42o/ seharusnya kadar /*2 yang dihasilkan lebih rendah daripada suhu 21o/ karena kemungkinan besar en4imnya sudah mengalami denaturasi seperti pada litaratur yang ada. Cni seharusnya terjadi pada kedua per!obaan di atas. 9etidaksesuaian antara hasil dengan literatur ini disebabkan oleh beberapa hal, sepoerti kurang telitinya praktikan saat melakukan penimbangan ataupun kesalahan saat melakukan titrasi. 3nergi yang ditangkap dari proses oksidasi sempurna beberapa senya%a dapat digunakan untuk mensintesis molekul lain yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. 0ila tumbuhan sedang tumbuh, laju respirasi meningkat sebagai akibat dari permintaan pertumbuhan, tapi beberapa senya%a yang hilang dialihkan ke dalam reaksi sintesis dan tidak pernah mun!ul sebagai /*2 "Salisbury dan oss, 1,,2#. )erbedaan antara jumlah /*2 yang dilepaskan dan jumlah *2 yang digunakan biasa dikenal dengan )espiratory )atio atau )espiratory *uotient dan disingkat :. 6ilai : ini tergantung pada bahan atau subtrat untuk respirasi dan sempurna atau tidaknya proses respirasi tersebut dengan kondisi lainnya "Simbolon, 1,-,#. Faktor&$aktor yang mempengaruhi proses respirasi suatu organisme antara lainF umur;usia organisme tersebut, bobot dari kegiatan yang dilakukan, ukuran organisme itu sendiri, keadaan lingkungan sekitar, serta !ahaya juga mempengaruhi rata&rata pernapasan. espirasi aerob pada pengukuran respirasi ke!ambah berarti diperlukan oksigen dan dihasilkan karbodioksida serta energi. Sedangkan respirasi anaerob berarti respirasi dengan kadar oksigen yang kurang atau tidak dan dihasilkan senya%a selain karbodioksida seperti alkohol, asetildehida atau asam asetat dengan sedikit energi "9risdianto dkk, 2002#. I/. KE&I'PULAN DAN &ARAN 4.1 9esimpulan Dari pe!obaan yang telah dilaksanakan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikutF 1 espirasi dipengaruhi oleh beberapa $aktor yaitu ketersediaan substrat, ketersediaan *2, jenis dan umur tanaman dan suhu. 2 Semakin muda umur tanaman yang digunakan maka semakin !epat terjadi respirasi karena dapat membantu dalam proses metabolisme dan semakin tinggi suhu maka semakin !epat terjadi respirasi sampai batas optimum, apabila mele%ati batas maka akan mengalami denaturasi. 3 Semakin tinggi suhu yang diberikan, laju respirasi semakin tinggi sampai pada suhu maksimum dimana en4im dapat bekerja se!ara optimal yaitu 22 o/ & 3- o/ 4 )engaruh laju respirasi terhadap suhu dapat diketahui melalui kerja en4im, semakin tinggi suhu semakin meningkat laju respirasi. 5 9ebanyakan en4im mulai tidak akti$ pada suhu kurang lebih 20 o/

=aju respirasi maksimal pada suhu 30 o/ sampai 40 o/.

2.2 Saran )ada praktikum berikutnya, praktikan hendaknya lebih memahami teori, lebih teliti dalam mengamati objek yang dipraktikumkan, dan menanyakan hal yang kurang dimengerti kepada asisten yang bersangkutan unntuk kelangsungan praktikum berikutnya. D'F(' )7S('9' 0arry, 8.'. and 5. . 0adger. 1,1,. +irect measurement o, photorespiration as a ,unction o, -." concentration. /arnegie Cnst. Bash. Dear 0ook 1,10urhan, B., dkk. 1,,1. Buku /jar 0isiologi Tumbuhan. D3)DC907D. 7niversitas 'ndalas F )adang Dre%, 5. /. 1,--. 1,,ects ., 0looding .2ygen +e,iciencion Plant 3utrition. 'dveb!es in )lant 6utritions. 6e% Dork. D%ijoseputro, D. 1,-2. Pengantar 0isiologi Tumbuhan. Eramedia. 8akarta. D%ijoseputro, D. 1,,4. +asar4+asar 5lmu Tanaman. Eramedia. 8akarta. 3d%ards, E. 'nd D. Balker. 1,-3. -6! -$ 7 Mechanisms! and -ellular and 1n8ironmental )egulation! o, Photosynthesis. 0la!k%ell S!ienti$i! )ubli!ation, *J$ord. Fitter, '... dan .9.5 ay. 1,,-. 0isiologi 9ingkungan Tanaman. Eadjah mada 7niversity )ress. Dogyakarta. .idayat, 3.0. 1,14. Biologi. C(0F 0andung. 8umin, .. 0. 2002. /gro 1kologi7 :uatu Pendekatan 0isiologis. 8akarta. aja%ali 9risdianto, dan ka%an&ka%an. 2002. Penuntun Praktikum Biologi ;mum. F5C)' 7niversitas =ambung 5angkurat. 0anjarbaru. =akitan, 0. 2001. +asar4+asar 0isiologi Tumbuhan. )(. Era$indo )ersada. 8akarta. 6oggle, E. . and E.8. Frit4. 1,-3. 5ntroductory Plant Physiologi! "nd edition. )renti!e& .all Cn!., 3ngle%ood /li$$s, 6e% 8ersey. Salisbury, 8.B. dan oss. 1,,2. 0isiologi Tumbuhan <ilid 5. C(0 F 0andung. Salisbury, 8.B. dan oss. 1,,2. 0isiologi Tumbuhan <ilid ". C(0. 0andung. Simbolon, .ubu dkk. 1,-,. Biologi <ilid 6. 3rlangga. 8akarta.