Anda di halaman 1dari 6

TANTANGAN DALAM PENERAPAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DI ASIA

Pasca krisis ekonomi yang terjadi di akhir tahun 1990-an, negara-negara di Asia mulai menyadari pentingnya menerapkan tata kelola perusahaan yang baik. Namun perkembangan penerapan tata kelola perusahaan ini masih belum merata, hal ini ditunjukkan dengan fakta-fakta yaitu, masih banyak perusahaan yang tidak yakin akan manfaat tata kelola perusahaan, masih lemahnya institusi pendukung (pasar modal, sistem hukum, investor), lemahnya penegakan hukum dan peraturan, serta masih kurangnya akuntan dan tenaga profesional lainnya. Karena itu perlu disadari oleh semua pihak bahwa perbaikan dalam tata kelola perusahaan di Asia butuh waktu dan kesabaran. Penerapan tata kelola perusahaan di Asia tidak bisa dilakukan dengan mentah-mentah meniru praktik yang dilakukan di Amerika atau Eropa. Ada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan praktikprakti tersebut menjadi tidak efektif atau tidak dapat diterapkan. Masing-masing negara di Asia perlu menetapkan prioritas saat menyusun peraturan-peraturan terkait tata kelola perusahaan ini sehingga penegakan terhadap hukum tersebut pun lebih tegas. Transparansi juga salah satu faktor masih perlu ditingkatkan terlebih lagi mengingat masih lemahnya standar akuntansi yang berlaku, kurangnya tenaga ahli yang paham standar-standar akuntantansi lokal maupun internasional, serta masih lemahnya badan standar akuntansi. Contoh dari negara-negara yang mulai mengadopsi standar akuntansi internasional adalah Cina, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Inovasi terhadap kondisi unik masing-masing negara juga perlu untuk dilakukan, contohnya di Korea Selatan perusahaan bisa dikendalikan dengan seorang chaebol (konglomerat) tertentu tanpa chaebol tersebut memiliki saham sedikitpun di perusahaan tersebut. Karena hal tersebut, maka sekarang diwajibkan kepada para chaebol-chaebol yang terbesar untuk melaporkan laporan keuangan kombinasi di luar dari laporan keuangan konsolidasi yang berlaku secara umum. Independensi auditor external juga mulai diperbaiki, contohnya Cina mewajibkan para perusahaan untuk mengganti auditor eksternal mereka tiap lima tahun sekali. Regulasi ini juga akan dicontoh oleh Hongkong, India, Thailand. Kekurangan yang secara umum terjadi dalam penerapan tata kelola perusahaan di Asia adalah lemahnya penegakan hukum. Permasalahan ini terjadi di antaranya karena adanya kepentingan yang berdekatan antara bisnis dengan politik. Solusi atas konflik kepentingan belum banyak dieksplorasi dan pemerintah juga sering kali tidak menghukum perusahaan besar demi mengejar pertumbuhan ekonomi nasional jangka pendek. Negara-negara seperti Taiwan, Hongkong, dan Thailand menghadapi permasalahan seperti kurangnya otoritas untuk melakukan penyelidikan, kekurangan staf, kekurangan pengalaman, dan kurangnya dana untuk melakukan penyelidikan. Namun dari sisi monitoring, kebanyakan pemerintah negara-negara Asia sudah mulai meningkatkan sumber dayanya. Korea Selatan, Hongkong, dan Cina masing-masing telah melaksanakan hukuman atas pelanggaran yang terdeteksi oleh monitoring tersebut. Perbaikan mekanisme / sistem hukum untuk menguatkan hak investor juga mulai dilakukan, contohnya di Cina, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand. Namun perbaikan ini masih menemui hambatan seperti biaya pengadilan, menumpuknya kasus, sulitnya mengakses data dari pihak yang dituntut, dan kurangnya hakim yang paham akan kasus hukum niaga.

Investor adalah faktor lain yang bisa meningkatkan penerapan tata kelola perusahaan. Secara teoritis mereka bisa menekan perusahaan agar patuh terhadap prinsip-prinsip tata kelola perusahaan, namun pada praktisnya lebih banyak investor yang mengejar untung / margin jangka pendek ketimbang berinvestasi jangka panjang dan peduli terhadap kondisi perusahaan. Contoh dari peningkatan peran investor ini misalnya, Cina sedang mengkaji kemungkinan dilakukannya RUPS / pemilihan suara secara online, investor-investor Thailand membentuk asosiasi yang bertujuan meningkatkan penerapan tata kelola perusahaan, serta asosiasi investor Singapura bekerja sama dengan perusahaanperusahaan untuk memilih direktur independen yang akan duduk di jajaran direksi. Pihak lain yang bisa meningkatkan penerapan tata kelola perusahaan adalah kreditur, contohnya sebuah bank di Korea Selatan memberikan suku bunga yang lebih ringan untuk perusahaan yang mematuhi standar-standar tata kelola perusahaan tertentu. Sementara itu media berperan untuk mengekspos kemungkinan pelanggaran yang dilakukan perusahaan-perusahaan. Hal ini diantaranya dilakukan di Cina dan Malaysia. Tata kelola perusahaan merupakan ilmu yang baru di Asia, karena itu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan terhadap hal tersebut merupakan hal yang penting. Negara-negara seperti Hongkong, Singapura, Korea Selatan, dan Thailand kini secara rutin mengadakan seminar-seminar dan pelatihanpelatihan tata kelola perusahaan untuk para direktur dan petugas lainnya. Meskipun beberapa perusahaan di Asia sudah secara penuh menerapkan tata kelola perusahaan namun secara umum penerapan tata kelola perusahaan terlihat dari struktur dasar perusahaan yaitu jumlah anggota direksi yang layak dan diisi oleh beberapa direktur independen. Namun penerapan struktur ini masih merupakan sebuah formalitas saja karena dalam bekerja dewan direksi belum mengikuti filosofi dari tata kelola perusahaan seperti melindungi pemegang saham minoritas, pengawasan menyeluruh atas manajemen, dan dialog dengan investor. Penerapan tata kelola perusahaan sudah meningkat di Asia, dengan Singapura sebagai negara yang paling pesat perkembangannya. Langkah selanjutnya adalah menjalankan perilaku baru yang sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan namun hal ini butuh waktu. Ke depannya baik sektor bisnis maupun pihak pemerintah harus menjalankan bagiannya masing-masing sehingga penerapan tata kelola perusahaan dapat berjalan baik.

CORPORATE GOVERNANCE IN ASIA : A SURVEY


OWNERSHIP AND INCENTIVES A. Karakteristik Kepemilikan pada perusahaan-perusahaan di Asia Korporasi di Asia pada umumnya merupakan satu atau beberapa anggota keluarga dekat atau kerabat sebagai pemegang saham. Perusahaan ini sering berafiliasi dengan sebuah kelompok usaha lainnya yang juga dikendalikan oleh keluarga yang sama, terdiri dari beberapa kelompok perusahaan publik dan swasta. Keluarga-keluarga tersebut dapat mengontrol perusahaan dengan efektif melalui struktur piramida saham dan lintas-kepemilikan saham, dalam struktur yang cukup kompleks. Selain itu, biasanya hak suara yang dimiliki oleh satu keluarga tersebut lebih tinggi daripada kepentingan arus kas pada perusahaan.

B. Penyebab pemusatan kepemilikan Antara individu dan negara, masing-masing dapat memaksakan hak miliknya. Dalam perekonomian di mana negara tidak efektif dalam mengatur hak kepemilikan, penegakan hukum oleh pemilik perorangan akan menjadi penting. Karena kemampuan dan insentif para pemilik untuk memaksakan hak-hak mereka maka struktur kepemilikan saham sendiri dapat mempengaruhi sejauh mana kontrak perusahaan akan diberlakukan. Satu prediksi dari kerangka ini adalah bahwa kepemilikan lebih terkonsentrasi akan diamati di negara di mana hak milik tidak diatur dengan baik oleh negara. Tanpa mengandalkan negara, pemilik yang berkepentingan mempunyai kekuasaan (melalui hak suara) dan insentif (melalui arus kas) untuk bernegosiasi dan mendapatkan kontrak perusahaan dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemegang saham minoritas, manajer, buruh, pemasok bahan, pelanggan, pemegang utang dan pemerintah. Semua pihak yang terlibat dalam perusahaan lebih memilih kepemilikan yang terkonsentrasi, karena mereka berbagi dalam manfaat kepemilikan terkonsentrasi melalui kinerja perusahaan yang lebih baik, meskipun sampai derajat yang berbeda. C. Efek Insentif dari Pemusatan Kepemilikan Sifat struktur kepemilikan perusahaan akan mempengaruhi masalah keagenan antara manajer dan pemegang saham, dan antara pemegang saham itu sendiri. Ketika kepemilikan disatukan, seperti perusahaan-perusahaan di AS dan Inggris, masalah keagenan akan berasal dari konflik kepentingan antara pemegang saham dan manajer yang sudah memiliki jumlah ekuitas yang signifikan didalam perusahaan. i. Entrenchment effect (efek pemisahan) Mendapatkan kontrol yang efektif dari suatu perusahaan memungkinkan pemilik untuk menentukan tidak hanya bagaimana perusahaan dijalankan, tetapi juga bagaimana membagi laba antara pemegang saham Alignment effect (efek persamaan) Jika pemilik pengendali meningkatkan saham kepemilikannya, atau bahkan dimiliki secara pribadi, masalah perpecahan dapat diminimalisir. Setelah pemilik pengendali memperoleh kontrol yang efektif dari perusahaan, setiap tambahan dalam hak suara tidak memecah pemilik pengendali atau membagi pemilik menjadi dua kubu yang berseberangan. Empirical evidence (bukti empiris) Secara teori, adanya prediksi jika nilai perusahaan akan meningkat dalam cashflow rights, meskipun pada tingkat yang semakin berkurang, dan akan menurun dalam perbedaan antara hak suara dan hak arus kas setelah pemilik pengendali mencapai kontrol yang efektif The state as the controlling owner: the case of China (Negara sebagai pemilik) Masalah kepemilikan dan nilai perusahaan menjadi lebih rumit ketika negara sebagai pemilik pengendali. Pertama, negara bukan pemilik mutlak tetapi agen dari pemilik utama (warga negara). Kedua, akan ada berbagai jenis lembaga pemerintah yang mengontrol saham ekuitas perusahaan. Ketiga, jika perusahaan yang dikendalikan negara berada di negara-negara sosialis, seperti China, menjadi sulit untuk menafsirkan hubungan antara kepemilikan dan kinerja tanpa memperhitungkan struktur kelembagaan lain yang sangat berbeda dari negara-negara kapitalis

ii.

iii.

iv.

MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE DI ASIA A. Monitoring by minority shareholders (pengawasan) Pemegang saham minoritas dapat langsung memantau perusahaan ketika mereka memegang saham ekuitas yang signifikan secara jangka panjang. Salah satu mekanisme untuk menciptakan insentif untuk meningkatkan tata kelola perusahaan adalah bahwa, dengan meningkatnya permintaan untuk modal, perusahaan harus lebih bertanggung jawab terhadap tuntutan investor. Sertifikasi merupakan salah satu peran tata kelola perusahaan institusi sebagai investor di Asia, dan pasar negara berkembang pada umumnya. Ketika kepemilikan terkonsentrasi dan perusahaan tunduk pada konflik keagenan antara pemilik pengendali dan pemegang saham minoritas, perusahaan mungkin memberikan kesempatan kepada investor institusional untuk berpartisipasi dalam kepemilikan ekuitas sehingga dapat meminjam reputasi mereka untuk meningkatkan kredibilitas kepada pemegang saham minoritas. B. Takeovers and internal governance (pengambil-alihan) Mekanisme tata kelola konvensional seperti direksi dan pengambil-alihan merupakan mekanisme yang lemah di sebagian besar negara-negara maju dan pasar lainnya. Tata kelola internal biasanya sama lemahnya dengan pendisiplinan perangkat pada pemegang saham pengendali. Dewan direksi biasanya didominasi oleh orang dalam dan hampir tidak memiliki kehadiran dari pihak luar. C. Alternative governance mechanisms (mekanisme alternatif) Kontrol Manajemen dan pemisahan kepemilikan manajemen dan kontrol yang terkait dengan nilai perusahaan yang lebih rendah di pasar negara berkembang. i. External auditors Pemilik pengendali bisa mengurangi kekhawatiran pemegang saham minoritas dengan menggunakan auditor eksternal yang berkualitas tinggi untuk mendukung laporan keuangan yang transparan dan terukur. Equity analysts Manajer memiliki insentif untuk menyembunyikan informasi dari publik untuk memfasilitasi konsumsi pemanfaatan kendali secara pribadi. Research analysts berperan untuk meningkatkan pengawasan pengendalian kelompok manajemen. Dividend policy Seorang manajer dapat membayar pemegang dividen untuk mengurangi kekhawatiran mereka tentang masalah keagenan. Foreign listings For firms from emerging markets and those with poor external governance environments, this allows the firms to `opt in' to a better external governance regime and to commit to a higher level of disclosure, both of which should increase shareholder value. Untuk perusahaan-perusahaan dari pasar negara berkembang dan kondisi lingkungan pemerintahan eksternal yang tidak mendukung, hal ini memungkinkan perusahaan untuk `memilih pasar yang dimiliki pemerintahan eksternal yang lebih baik dan berkomitmen tinggi untuk dalam pengungkapan, dengan harapan kedua faktor tersebut dapat meningkatkan nilai pemegang saham.

ii.

iii.

iv.

v.

General studies voluntary corporate governance mechanisms can complement forms of regulatory-based corporate governance, however, that voluntary firm mechanisms can only partly compensate for ineffective laws and enforcement. Mekanisme corporate governance secara sukarela dapat melengkapi bentuk corporate governance yang berbasis peraturan, namun, mekanisme perusahaan secara sukarela hanya bisa sebagian mengimbangi sebagian penegakan hukum yang tidak efektif.

ASIA-SPECIFIC CORPORATE GOVERNANCE ISSUES A. Group affiliation Sehubungan dengan perusahaan independen, struktur kelompok biasanya dikaitkan dengan penggunaan untuk tujuan tertentu dari faktor intern pasar, termasuk pasar keuangan. Melalui pasar keuangan internal mereka, kelompok afiliasi dapat mengalokasikan modal antara perusahaan dalam kelompok afiliasi, yang dapat memberi manfaat ekonomi lebih, terutama ketika pendanaan eksternal yang langka dan tidak pasti. B. Diversification Menciptakan pasar internal antar negara-negara berkembang dapat bermanfaat karena pasar eksternal tidak dapat mengalokasikan sumber daya secara efisien. Pasar internal dapat memprediksi kinerja yang lebih baik dari berbagai varian jenis perusahaan selama periode keuangan yang buruk akibat pasar eksternal yang bergejolak, karena perusahaan masih memperoleh pembiayaan dari pasar internal. C. Financial disclosure and transparency Perusahaan publik di Asia biasanya memiliki tingkat kualitas transparansi dan keterbukaan yang rendah, yang mungkin merupakan hasil dari struktur tata kelola perusahaan yang lebih buruk. Transparansi yang rendah berkaitan dengan masalah keagenan dan transaksi yang berbasis hubungan. Angka laba kurang informatif ketika pemilik pengendali memiliki hak suara tinggi dan ketika hak suara secara substansial melebihi hak arus kas. D. The Asian financial crisis Negara dengan perlindungan investor yang lemah, nilai bersih modal yang masuk lebih sensitif terhadap kejadian negatif yang mempengaruhi kepercayaan investor. Di negara-negara tersebut, risiko meningkat pada masa resesi, seperti pengembalian investasi lebih rendah dari yang diharapkan, dan kemungkinan anjloknya nilai tukar mata uang dan nilai saham di negara tersebut. E. Financing structures and the role of banks Perusahaan di negara-negara kurang berkembang lebih menggunakan dana eksternal daripada dana internal untuk membiayai proyek-proyek investasi mereka. Perusahaan merasa, peminjaman dengan bank merupakan solusi yang saling menguntungkan untuk kedua pihak. Akan tetapi jika mereka mengandalkan pendanaan eksternal, tingkat utang yang lebih tinggi memiliki efek peredam pada hilangnya nilai dikaitkan dengan masalah keagenan.

THE ROLES OF INSTITUTIONAL FACTORS A. Legal environment and equity market Lingkungan yang formal dan berkekuatan hukum, khususnya tingkat perlindungan investor, dapat mempengaruhi lingkungan, kualitas tata kelola perusahaan dan pengembangan pasar modal. Tidak adanya momentum yang dijelaskan dalam hukum perdata suatu negara menimbulkan potensi yang lebih besar adanya manipulasi harga saham. Perusahaan kelompok afiliasi menunjukkan secara signifikan dibanding perusahaan yang independen, hal ini terkait karena perusahaan afiliasi disubsidi oleh perusahaan lain jika berada dalam kondisi yang buruk, dan dikenakan pajak yang cukup besar disaat kondisi yang sehat. B. Public governance and corporate governance Kualitas dalam penataan dan pengelolaan merupakan penentu penting dari praktik tata kelola perusahaan. Dalam perekonomian di Asia yang diwarnai oleh korupsi, ekslusifitas hak sewa sering dilaporkan sebagai sumber yang penting dari keuntungan perusahaan. Selanjutnya, di negara dimana politisi dan pengusaha berkolusi atas monopoli hak sewa, praktik tata kelola perusahaan dengan kualitas tinggi tidak mungkin tercipta. CONCLUSIONS Corporate Governance issues in Asia: 1. Perlindungan yang terbatas atas hak-hak minoritas di Asia, yang memungkinkan pemegang saham pengendali untuk mengambil alih pemegang saham minoritas. 2. Masalah keagenan ditambah transparansi perusahaan yang rendah, terkait dengan ekslusifitas hak sewa dan transaksi berbasis hubungan, struktur kelompok yang luas dan ter-diversifikasi, dan struktur keuangan yang sangat berisiko. 3. Para pemegang saham pengendali menanggung beberapa biaya keagenan dalam bentuk diskon harga saham dan pengeluaran untuk monitoring, bonding dan pencitraan reputasi. 4. Krisis keuangan Asia lebih lanjut menunjukkan bahwa mekanisme alternatif tata kelola perusahaan yang konvensional memiliki efektivitas yang terbatas dalam sistem dengan institusi yang lemah dan hak kepemilikan yang tidak merata. 5. Secara keseluruhan, pemahaman faktor penentu struktur organisasi perusahaan dan praktik corporate governance namun dengan hasil yang masih terbatas.

Beri Nilai