Anda di halaman 1dari 2

Kualitas Kedelai Lokal di China Kalah Saing dengan Kedelai Impor

Dyah Oktabriawatie Waluyani - detikFood Browser anda tidak mendukung iFrame Produk Halal Coklat dan Permen

Vitamin B6 Fondue Chocolate Cocoa Mix

Rumah Potong Hewan Flavor

Foto: Grocery
Artikel Terkait

Saat Membeli Kelapa Segar, Cek Kualitasnya dengan Cara Ini Meski Krisis Pangan Pemerintah Korea Utara Tetap Produksi Bir Enak Gerai Pizza Lokal, Tak Kalah Saing dengan Pemain Global

Impor kedelai dari negara lain juga terjadi di China. Karena produk lokal dianggap kurang berkualitas. Saat ini kedelai imporpun telah membanjiri pasal lokal. Akibatnya para petani berhenti menanam kedelai di lahan pertanian lokal.

Kedelai tidak hanya dikonsumsi para vegetarian, tetapi hampir semua orang menyukainya. Jenis kacang-kacangan ini sering digunakan sebagai bahan dasar membuat tahu, minyak, susu hingga pakan ternak. Bahkan setiap hari dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk China. Sayangnya sejumlah besar petani kedelai di China menghentikan penanaman, dengan alasan kedelai impor harganya jauh lebih murah. Jumlah impor kedelai di China mencapai 80% yang berasal dari Amerika Serikat, Brazil dan Argentina. Sebagian besar kedelainya telah dimodifikasi secara genetik, sehingga lebih berkualitas dan besar-besar. Wilayah China yang banyak menanam kedelai adalah Provinsi Liaoning. Menurut salah satu petani kedelai bernama Liu Shumin, ia telah menanam kedelai selama 30 tahun. Namun hasil pertaniannya kalah saing dengan produk impor yang jauh lebih berkualitas. "Biasanya menghasilkan kedelai sekitar 2.250 kilogram per hektar, tapi hanya laku 4 yuan per kilogram (Rp 7.200). Tentunya harga jual ini sangat rendah dan tidak akan bertambah mahal." Kata Liu, seperti dikutip ChinaDaily (29/10/2013). Liu juga menambahkan jika benih kedelai yang dibeli para petani cenderung berkualitas rendah. Apalagi para petani juga mengandalkan cara penanaman yang kuno. Sehingga tak heran jika kedelai yang dihasilkan kualitasnya rendah. Akibatnya petani menjadi frustasi, terlebih harga jual kedelainya sangat murah dan tidak mampu bersaing dengan kedelai impor. Peneliti dari Liaoning's Academy of Agricultural Science bernama Song Shuhong, mengatakan kedelai yang dihasilkan dari dalam negeri umumnya digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk dibuat ekstraksi minyak atau makanan lainnya berbahan kedelai. Pada tahun 2012, China diketahui menerima impor kedelai hampir 59 juta ton kedelai. Padahal negara tersebut menghasilkan 13 juta ton kedelai per tahun. Namun panen kedelai terus mengalami penurunan mulai tahun 2008. Akibat situasi ini petani meninggalkan lahan pertaniannya terutama para petani kedelai. (odi/dni)