Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS WACANA MEDIA (MEDIA DISCOURSE ANALYSIS) Contents

Teori Wacana dan Bahasa Memahami Makna Media Simbol Teori Wacana dalam Tradisi Filsafat Pendekatan Analisis Wacana Wacana Tulis, Teks dan Konteks Wacana dan Ideologi Karakteristik Analisis Wacana Kerangka Analisis Wacana

Apakah Wacana itu?


Komunikasi pikiran dengan kata-kata; ekspresi ide-ide atau gagasan-gagasan; konversasi atau percakapan. Komunikasi secara umum, terutama sebagai suatu subjek studi atau pokok telaah. Risalat tulis; disertasi formal; kuliah; ceramah; khotbah. (Webster, 1983: 522).

Sudjiman, 1993: 6

Wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, biasanya terdiri atas seperangkat kalimat yang mempunyai hubungan pengertian yang satu dengan yang lain. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula menggunakan bahasa tulisan.

Firth, Samsuddin, 1992: 2


Language as only meaningfull in its context of situation. Makna suatu bahasa berada pada rangkaian konteks dan situasi. Pembahasan wacana pada dasarnya merupakan pembahasan terhadap hubungan antara konteks-konteks yang terdapat di dalam teks. Pembahasan itu bertujuan menjelaskan hubungan antara kalimat atau antara ujaran (utterances) yang membentuk wacana.

Foucault, Mills: 1994

Kontekstual Teoretis; Wacana berarti domain umum dari semua pernyataan, yaitu semua ujaran/ teks yang mempunyai makna & efek dalam dunia nyata.

Konteks Penggunaan; Wacana berarti sekumpulan pernyataan yang dapat dikelompokan kedalam kategori konseptual tertentu (Misalnya: imperealisme/ feminisme) Metode Penjelasan; Wacana berarti suatu praktik yang diatur untuk menjelaskan sejumlah pernyataan.

Kebutuhan Dasar Wacana


Keinginan untuk memberi informasi kepada orang lain mengenai suatu hal. Keinginan untuk meyakinkan seseorang mengenai kebenaran suatu hal dan mempengaruhi sikap/pendapat orang lain. Keinginan untuk mendeskripsikan cita-rasa suatu bentuk, wujud, objek. Keinginan untuk menceritakan kejadian atau peristiwa yang terjadi. (Keraf, 1995: 6).

Bentuk Retorika Wacana


Wacana Transaksional; jika yang dipentingkan ialah isi komunikasi. Wacana Interaksional; jika yang dipentingkan hubungan timbal balik antara penyapa (addresses) dan pesapa (addressee). (Sudjiman, 1993: 6).

Otoritas Analisis Wacana


Dalam Linguistik; Analisis wacana digunakan untuk menggambarkan sebuah struktur yang luas melebihi batasan-batasan kalimat. (Sunarto, 2001: 119-120) Dalam Teks Tertulis; Analisis wacana bertujuan untuk mengeksplisitkan norma-norma & aturan-aturan bahasa yang implisit. Analisis wacana bertujuan untuk menemukan unitunit hierarkis yang membentuk suatu struktur diskursif (Mills,1994)

Bahasa

Manusia adalah mahluk berfikir. Demikian tesis klasik yang kita temukan dalam dunia filsafat. Konsekuensi logis dari tesis ini, bahwa manusia adalah mahluk berbahasa. Hubungan pikiran dan bahasa sangat erat. Bahasa menunjukkan jalan pikiran seseorang. Dalam bahasa terdapat sesuatu kekuatan yang tidak tampak yang diberi nama komunikasi. (Loren Bagus, 1990).

Filsafat Bahasa

Dalam filsafat bahasa dikatakan, bahwa orang yang mencipta realitas dan menatanya lewat bahasa. Bahasa mengangkat kepermukaan hal yang tersembunyi sehingga menjadi kenyataan.

Bahasa dapat dipakai untuk menghancurkan realitas orang lain. Bahasa dapat menjadi tiran. (Loren Bagus, 1990).

Fungsi Bahasa

Fungsi Ideasional: untuk membentuk, mempertahankan dan memperjelas hubungan diantara anggota masyarakat. Fungsi Interpersonal: untuk menyampaikan informasi diatara anggota masyarakat. Fungsi Tekstual: untuk menyediakan kerangka, pengorganisasian diskursus (wacana) yang relevan dengan situasi (features of the situation). (Halliday, 1972: 140-165)

Makna

Makna merupakan kata yang subjektif (Jalaluddin Rahmat, 1996) Para ahli filsafat dan linguis, membedakan antara struktur logis dan struktur bahasa, sehingga memudahkan kita untuk membedakan antara ungkapan yang tidak mengandung makna (meaningless) dan yang mengandung arti (meaningfull). (Mustansyir, 2001: 153-154)

Makna dalam Konteks Wacana


Dalam konteks wacana, makna dapat dibatasi sebagai hubungan antara bentuk dengan hal/ barang yang diwakilinya (referen-nya) (Keraf, 1994: 25) Kata rumah: adalah bentuk/ ekspresi. Barang yang diwakili oleh kata rumah: sebuah bangunan yang beratap, berpintu, berjendela yang menjadi tempat tinggal manusia. Barang itu disebut referen. Hubungan bentuk dan referen menimbulkan makna/ referensi. Makna atau referensi kata rumah timbul akibat hubungan antara bentuk itu dengan pengalaman-pengalaman non linguistik atau barang yang ada di alam.

Jenis-jenis Makna

Makna Emotif (emotive meaning) Makna Kognitif (cognitive meaning) Makna Deskriptif (descriptive meaning) Makna Referensial (referential meaning) Makna Piktorial (pictorial meaning) Makna Kamus (dictionary meaning) Makna Samping (fringe meaning) Makna Inti (core meaning) (Shipley, 1962)

Makna Denotatif & Konotatif

Makna Denotatif; Kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan.

Makna Konotatif; Kata yang mengandung arti tambahan, perasaan tertentu atau nilai rasa tertentu, disamping makna dasar yang umum. (Keraf, 1994: 27-31)

Perubahan & Pemberian Makna


Makna yang dikode oleh pemirsa terjadi dalam ruang yang berbeda dan individu yang berbeda berdasarkan pada kemampuan kognitif dan kemampuan afektif pemirsa. Makna yang dikode oleh pemirsa tergatung pada bagaimana individu melakukan dekonstruksi terhadap iklan televisi/ tulisan di media cetak. Setiap individu memiliki kebebasan menentukan metode interpretasi, termasuk kepentingan dalam melakukan dekonstruksi. (Bungin, 2001: 199-200).

Peran Makna

Peran tanda (sign) di dalam masyarakat (semiotics), makna-makna tanda (semantics), serta kode-kode sosial (social codes) dibalik tanda dan makna tersebut diperlukan dalam studi kebudayaan, oleh karena itu makna tersebut merupakan pembentuk (construct) utama dari kebudayaan. (Piliang, 2001: 308). Kata memperoleh maknanya melalui penggunaannya sehari-hari dalam konteks kebudayaan. (van Peursen, 1990: 2).

Bias Media

Bias media terjadi karena media tidak berada dalam ruang vakum. Media sesungguhnya berada ditengah realitas sosial yang sarat dengan berbagai kepentingan, konflik dan fakta yang kompleks dan beragam.

Louis Althusser, 1971


Media dalam hubungannya dengan kekuasaan, menempati posisi strategis, terutama karena anggapan akan kemampuannya sebagai sarana legitimasi. Media massa sebagaimana lembaga pendidikan, agama, seni, kebudayaan, merupakan bagian dari alat kekuasaan negara yang bekerja secara ideologis guna membangun kepatuhan khalayak terhadap kelompok yang berkuasa (ideological states apparatus).

Antonio Gramsci, 1971


Pandangan Althusser tentang media dianggap oleh Gramsci mengabaikan resistensi ideologis dari kelas tersubordinasi dalam ruang media. Media merupakan arena pergulatan antar ideologi yang saling berkompetisi (the battle ground for competing ideologies). Media adalah ruang dimana ideologi direpresentasikan. Media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi dan kontrol wacana publik.

Pada sisi lain, media bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. Media bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan kelas dominan, sekaligus juga bisa menjadi instrumen perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan.

Kepentingan Media

Althusser dan Gramsci sepakat bahwa media massa bukan sesuatu yang bebas, independen, tetapi memiliki keterkaitan dengan realitas sosial. Ada berbagai kepentigan yang bermain dalam media massa. Kepentingan ideologis antara masyarakat dan negara, juga kepentingan lain, misalnya; kepentingan kapitalisme pemilik modal, kepentingan keberlangsungan (suistainabilitas) lapangan kerja bagi para karyawan. Dalam kondisi ini media harus bergerak dinamis diatara pusaran yang bermain. Hal inilah yang menyebabkan bias berita di media yang sulit dihindari.

Faktor Penyebab Bias Media


Kapasitas dan kualitas pengelola media. Kuatnya kepentingan yang sedang bermain dalam realitas sosial. Taraf kekritisan dari masyarakat. (Winarko, 2000: xi) [Dari ketiga faktor tersebut menimbulkan derajat bias media yang berbeda-beda)

Makna Bahasa Menimbulkan Bias

Dalam sebuah penelitian terhadap fenomena perkosaan dalam pemberitaan surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Suara Merdeka, ditemukan 22 kata yang digunakan untuk menggantikan kata perkosaan, yaitu: 1) merenggut kegadisan, 2) mencabuli, 3) menggauli, 4) menggagahi, 5) menakali, 6) dianui, 7) dikumpuli, 8) menipu luar dalam, 9) digilir, 10) dinodai, 11) digarap, 12) dihamili, 13) korban cinta paksa, 14) dipaksa berhubungan intim, 15) berbuat tidak senonoh, 16) memaksa bersetubuh, 17) korban kuda-kudaan, 18) memaksa memenuhi nafsu birahi, 19) dipaksa melayani, 20) melakukan perbuatan asusila, 21) digelandang, 22) dipaksa melakukan permainan ibuibuan. Pilihan atau pemakaian istilah tersebut jelas menimbulkan bias (Winarko, 2000: 50)

Media & Politik Pemaknaan

Politik pemberitaan media berhubungan dengan strategi media dalam meliput peristiwa, memilih dan menampilkan fakta serta dengan cara apa fakta itu disajikanyang secara langsung atau tidak berpengaruh dalam merekonstruksi media. (Eriyanto, 2000) Makna media tidak bergantung pada struktur makna itu sendiri, tetapi lebih kepada praktik pemaknaan. Makna adalah suatu produksi sosial, suatu praktik konstruksi. Media massa pada dasarnya tidak mereproduksi, melainkan menentukan (to define) realitas melalui pemakaian kata-kata yang dipilih. Makna tidak secara sederhana bisa dianggap sebagai produksi dalam bahasa, tetapi sebuah pertentangan sosial (social struggle) sebuah perjuangan dalam memenangkan

wacana. Pemaknaan yang berbeda merupakan arena pertarungan tempat memasukkan bahasa didalamnya. (Hall, 1982: 67).

Bahasa Sebagai Sistem Simbol

Proses komunikasi sebenarnya mencakup pengiriman pesan dari sistem saraf seseorang kepada sistem saraf orang lain, dengan maksud untuk menghasilkan sebuah makna yang sama dengan yang ada dalam benak sipengirim. Pesan verbal melakukan hal tersebut melalui kata-kata, yang merupakan unsur dasar bahasa, dan kata-kata sudah jelas merupakan simbol verbal. (Tubbs & Moss, 1994: 66) Bahasa adalah kombinasi kata yang diatur secara sistematis sehingga bisa digunakan sebagai alat komunikasi. Kata itu sendiri merupakan bagian integral dari simbol yang dipakai oleh kelompok masyarakat. Oleh karena itu kata bersifat simbolis. (Wibowo, 2001: 3-4)

Teori Wacana dalam Tradisi Filsafat

Aliran strukturalisme berpendapat bahwa arti bahasa tidak tergantung dari maksud pembicara atau pendengar ataupun dari referensinya pada kenyataan tertentu; arti bergantung pada struktur makna itu sendiri. Yang dimaksud struktur disini ialah jaringan hubungan intern elemen-elemen terkecil bahasa yang membentuk suatu kesatuan otonom yang tertutup. (Hjelmslev, dalam Kleden, 1997: 34).

Pendekatan Analisis Wacana

Pertama, Analisis wacana seluruhnya mengenai cara-cara wacana disusun, prinsip yang digunakan oleh komunikator untuk menghasilkan dan memahami percakapan atau tipe-tipe pesan lainnya. Kedua, Analisis wacana dipandang sebagai aksi, cara melakukan segala hal dengan kata-kata. Ketiga, Analisis wacana adalah suatu pencarian prinsip-prinsip yang digubakan oleh komunikator aktual dari perspektif mereka. (Littlejohn, 1996: 84-85).

Wacana Tulis, Teks & Konteks

Tulisan bukan cuma sekedar literal pictographic atau sekedar inskripsi yang bersifat ideografik, tetapi tulisan dapat merupakan suatu totalitas, termasuk kemampuannya untuk melampaui apa yang hanya bisa ditunjuk secara fisik. (Derrida 1984, dalam Kleden-Probonegoro, 1998). Teks adalah fiksasi atau pelembagaan sebuah peristiwa wacana lisan dalam bentuk tulisan. (Hidayat, 1996:129). Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada diluar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi dimana teks tersebut diproduksi, fungsi yang dimaksudkan, dsb. (Eriyanto, 2001: 9).

Konteks

Konteks Fisik (physical context), yang meliputi tempat terjadinya pemakaian bahasa dalam suatu komunikasi, objek yang disajikan dalam suatu peristiwa komunikasi itu, dan tindakan atau peilaku dari para peran dalam peristiwa komunikasi itu. Konteks Epistemis (epistemic context), yaitu latar belakang pengetahuan yang samasama diketahui oleh pembicara maupun pendengar. Konteks Linguistik (linguistic context), yaitu terdiri atas kalimat-kalimat atau tuturantuturan yang mendahului satu kalimat atau tuturan tertentu dalam peristiwa komunikasi. Koteks Sosial (social context), yaitu relasi sosial dan latar setting yang melengkapi hubungan antara pembicara (penutur) dengan pendengar. (Syafiie, 1990, dalam Lubis, 1993: 58).

Wacana dan Ideologi

Implikasi ideologi terhadap wacana; 1) ideologi secara inheren bersifat sosial, tidak personal atau individual, ia membutuhkan share diantara anggota kelompok, organisasi atau kolektifitas, 2) ideologi meskipun bersifat sosial, ia digunakan secara internal diatara anggota kelompok atau komunitas. Wacana tidak bisa menempatkan bahasa secara tertutup, tetapi harus melihat konteks, terutama bagaimana ideologi dari kelompok-kelompok yang ada tersebut berperan dalam membentuk wacana. Dalam teks berita misalnya, dapat dianalisis apakah teks yang muncul tersebut pencerminan dari ideologi seseorang, apakah feminis, kapitalis, sosialis, dsb. (Eriyanto, 2001: 13-14).

Karakteristik Analisis Wacana


Pertama, dalam analisisnya analisis wacana lebih bersifat kualitatif dibandingkan analisis isi yang umumnya kuantitatif. Kedua, analisis isi kuantitatif pada umumnya hanya digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat manifest (nyata), analisis wacana berpretensi memfokuskan pada pesan latent (tersembunyi). Ketiga, analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan apa yang dikatakan (what) tetapi tidak dapat menyelidiki bagaimana ia dikatakan (how). Keempat, analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi. Karena peristiwa selalu bersifat unik, karena itu tidak dapat diperlakukan prosedur yang sama untuk isu dan kasus yang berbeda. (Eriyanto, 2001: 337-341).

Kerangka Analisis Wacana (Elemen Wacana Van Dijk) Struktur wacana Super Struktur Hal yang diamati TEMATIK (Apa yang dikatakan?) Elemen Topik

Struktur Makro

Struktur Mikro

Struktur Mikro Struktur Mikro

Struktur Mikro

SKEMATIK (Bagaimana pendapat disusun dan dirangkai?) SEMANTIK (Makna yang ingin ditekankan dalam teks berita) SINTAKSIS (Bagaimana pendapat disampaikan?) STILISTIK (Pilihan kata apa yang dipakai?) RETORIS (Bagaimana dan dengan cara apa penekanan dilakukan?)

Skema

Latar, detail, maksud, praang nominalisasi Bentuk kalimat, koheresi, kata ganti Leksikon

Grafis, metafora, ekspre

Elemen-elemen Struktur Wacana


Tematik: Informasi yang paling penting atau inti pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator. Skematik: dalam konteks penyajian berita ada dua kategori skema besar, 1) Summary; yang ditandai judul (head line) & teras berita (lead), 2) Story; isi berita secara keseluruhan. Semantik: makna tertentu dalam suatu bangunan teks, dimensi teks, presupposition, makna yang implisit atau eksplisit, makna yang sengaja disembunyikan. Struktur wacana juga bisa menggiring kearah tertentu dari suatu peristiwa. Sintaksis: seluk beluk wacana, kalimat, klausa dan frase. Dianalisis dari koherensi, bentuk kalimat, kata ganti. Stilistik: gaya bahasa yang digunakan penulis untuk menyampaikan maksudnya. Peristiwa yang sama dapat digambarkan dengan pilihan kata yang berbeda-beda. Pilihan leksikal atau diksi pada dasarnya menandakan bagaimana seseorang melakukan pemilihan kata atai frase atas berbagai kemungkinan kata yang tersedia. Retoris: gaya yang diungkapkan ketika seseorang berbicara atau menulis. Misalnya hiperbolik (pemakaian kata yang berlebihan), repetisi (pengulangan), aliterasi (pemakaian kata seperti sajak), interaksi (bagaimana penulis menempatkan diri diatara khalayak), metafora (makna kiasan) visual image (membuat anggapan).

Penjelasan: Yang diamati TEMATIK SKEMATIK

SEMANTIK

Elemen TOPIK: Informasi paling penting, inti pesan yang ingin disampaikan oleh komunika HEAD LINE: Judul berita utama (to attrack the reader) LEAD: Teras berita terletak pada paragraf pertama, bagian paling pokok dalam be STORY: Isi berita secara keseluruhan; 1) situasi, yakni proses jalannya peristiwa, kisah utama dari peristiwa, b] latar untuk mendukung kisah utama dipakai untuk memberi konteks, 2) komentar, yang ditampilkan dalam teks, komentar dari pihak terlibat dengan peristiwa itu, a] reaksi/ komentar verbal dari tokoh yang dikutip wartawan, b] kesimpulan yang diambil wartawan dari berbagai tokoh. LATAR: Latar belakang peristiwa, hendak kemana makna suatu teks dibawa (Ex: Perselisihan politik, Krisis ekonomi, Konflik) DETAIL: Apakah sisi informasi tertentu diuraikan secara panjang atau tidak

SINTAKSIS

STILISTIK

RETORIS

ILUSTRASI: Apakah sisi informasi tertentu disertai contoh atau tidak MAKSUD: Apakah teks itu disampaikan secara eksplisit atau implisit PRESUPPOSITION: Pernyataan yang digunakan untuk mendukung makna suatu PENALARAN: Elemen yang digunakan untuk memberi basis nasional, sehingga t tampak benar dan meyakinkan. KOHERENSI: Kata hubungan yang dipakai untuk menghubungkan fakta/ proposis Peristiwa penjarahan massal, karena tingkat pendidikan mereka rendahdapat memberi kesan bahwa rendahnya pendidikan yang menyebabkan mereka melak penjarahan. NOMINALISASI: Sugesti kepada khalayak dengan generalisasi ABSTRAKSI: Apakah komunikator memandang objek sebagai suatu yang tungga sendiri/ sebagai suatu kelompok (komunitas) BENTUK KALIMAT: Makna yang dibentuk oleh susunan kalimat, dengan cara be logis (prinsip kausalitas). Dalam kalimat berstuktur aktif, seseorang menjadi subje pernyataannya, dalam kalimat pasif, seseorang menjadi objek dari pernyataannya PROPOSISI: Proposisi diatur dalam satu rangkaian kalimat. Prosisi mana yang ditempatkan diawal, dan mana yang diakhir kalimat. Penempatan itu dapat mempengaruhi makna yang timbul dan menunjukkan bagian mana yang lebih dit kepada khalayak. KATA GANTI: Kata ganti timbul untuk menghindari pengulangan kata (anteseden kalimat berikutnya. Dalam analisis wacana kata ganti merupakan alat yang dipak komunikator untuk menunjukkan dimana posisi seseorang dalam wacana. (Ex: sa kami, kita) STYLE: Cara/ gaya bahasa yang digunakan seseorang untuk menyatakan maksu Ciri-ciri penggunaan bahasa yang khas, kecenderungannya untuk secara konsist menggunakan struktur bahasa tertentu, gaya bahasa pribadi seseorang. PILIHAN LEKSIKAL/ DIKSI: Bagaimana seseorang melakukan pemilihan kata ata atas berbagai kemungkinan frase yang tersedia. Pilhan kata/ frase yang dipakai menunjukkan sikap dan ideologi tertentu. Peristiwa yang sama dapat digambarka dengan pilihan kata yang berbeda-beda. (Ex: Terorismepembela kebenaran, Pembunuhankecelakaan, Meninggalmati, tewas, gugur, meninggal, terbunuh menghembuskan nafas terakhir). RETORIKA: Gaya yang diungkapkan penulis, apakah menggunakan kata yang berlebihan (hiperbolik), atau retoris persuasif, apakah menggunakan pengulanga penegasan makna (repetisi), apakah kata-kata sepeti sajak (aliterasi), apakah menggunakan retoris ejekan (ironi), atau menggunakan majas untuk menggantika nama yang ada hubungannya dengan nama yang digantikan (metonimia). INTERAKSI: Bagaimana pembicara/ penulis menempatkan/ memposisikan dirinya diantara khalayak, apakah memakai gaya formal, informal atau santai yang menunjukkan kesan bagaimana ia menampilkan dirinya. EKSPRESI: Bagaimana ekspresi maksud penulis untuk membantu menonjolkan a menghilangkan bagian tertentu dari teks yang disampaikan. Dalam teks tertulis, e ini muncul misalnya dalam bentuk grafis, gambar foto, raster atau tabel untuk mendukung gagasan atau untuk bagian lain yang tidak ingin ditonjolkan. METAFORA: Apakah ada kiasan, ungkapan, ornamen atau bumbu dari suatu teks Metafora dipakai oleh komunikator secara strategis sebagai landasan berfikir, ala pembenar atas pendapat atau gagasan tertentu kepada publik. VISUAL IMAGE: Dalam teks, elemen ini ditampilkan dengan penggambaran detai bebera hal yang ingin ditonjolkan. (Ex: Tentang pentingnya peran kelompok terte dalam masyarakat, dan sebagai konsekuensinya, memarginalkan kelompok lain y menjadi lawannya, saingannya, atau kelompok yang akan mengancam eksistens

peran kelompok yang menjadi pilihannya.[]