Anda di halaman 1dari 5

Arsip | Teknik Sipil RSS feed for this section

Teknik Pembuatan Jalan Di Atas Tanah Gambut


3 Mei Fenomena Tanah Berawa: Tanah Berawa Fungsi sponge (karet busa) untuk menyimpan air. Jika daerah ini dibangun, maka tempat penyerapan air menjadi tidak ada, air harus mengalir ke tempat yang lain. Bangunan yang dibangun di rawa dengan penimbunan akan turun terus, di samping itu, air akan naik terus jika tidak ada kompensasi untuk dialirkan ke tempat lain. Karena itu pembangunan di daerah berawa harus terkontrol supaya tidak mengganggu keseimbangan air tanah. Fenomena Tanah Gambut:

Tanah gambut merupakan hasil pelapukan tumbuh-tumbuhan dalam ribuan tahun yang bukan merupakan daratan atau tanah yang sesungguhnya. Ketebalannya bervariasi antara beberapa cm sampai 15 meter. Tanah gambut akan terus mengalami penurunan (ingat: ia sebetulnya bukan tanah!), bisa sampai 1 m dalam 10 tahun. Pembuatan jalan di atas lahan gambut lebih baik dilakukan dengan sistem rigid pavement (perkerasan kaku) yaitu dengan lapisan beton, supaya bebannya tersebar merata di atas permukaan tanah gambut, demikian memperlambat penurunan dan kerusakan. Untuk mendapatkan bangunan yang stabil, maka pondasi harus dipancangkan sampai ke kedalaman tanah keras di bawah lapisan gambut.

sumber

Komentar Tinggalkan Sebuah Komentar Kategori Teknik Sipil

Aspal Jalan
26 Feb Aspal adalah material utama pada konstruksi lapis perkerasan lentur (flexible pavement) jalan raya, yang berfungsi sebagai campuran bahan pengikat agregat (batu split), karena mempunyai daya lekat yang kuat, mempunyai sifat adhesi, kedap air dan mudah dikerjakan.

Aspal merupakan bahan yang plastis yang dengan kelenturannya mudah diawasi untuk dicampur dengan agregat lebih jauh lagi, aspal sangat tahan terhadap asam, alkali dan garam-garaman. Aspal akan mudah dicairkan jika dipanaskan, atau dilakukan pencampuran dengan mengencer petroleum dalam berbagai kekentalan atau dengan membuat emulsi bahan alam yang terkandung dalam hampir semua minyak bumi yang diperoleh sebagai hasil penyulingan. Defenisi aspal adalah campuran yang terdiri dari bitumen dan mineral, sedangkan yang dimaksud dengan bitumen adalah bahan yang berwarna coklat hingga hitam, berbentuk keras hingga cair, mempunyai sifat lekat yang baik larut dalam CS2 dan CCI4 yang mempunyai sifat berlemak dan tidak larut dalam air. Secara kimia bitumen terdiri dari gugusan aromat, naphten dan alkan sebagai bagian-bagian terpenting dan secara kimia fisika merupakan campuran colloid, dimana butir-butir yang merupakan bagian-bagian yang padat (asphaltene) berada dalam fase cairan yang disebut malten. Aspal yang digunakan untuk material jalan terdiri dari beberapa jenis, yaitu : a. Aspal alam b. Bitumen (aspal buatan) c. Ter sumber

Komentar Tinggalkan Sebuah Komentar Kategori Teknik Sipil

Konstruksi Jalan Di Tanah Gambut (2)


26 Feb Melanjutkan posting dari sini Areal gambut yang luas untuk konstruksi jalan, biasanya dengan cara memperbaiki areal tersebut. Dengan cara dikupas atau digali, kemudian galian tersebut diisi dengan lapisan tanah atau pasir yang lebih baik. Dimana tanah yang telah diganti tersebut dipampatkan dengan diberi beban diatasnya berupa tumpukan pasir atau tanah selama jangka waktu tertentu.

Untuk mempercepat pemampatan lapisan tanah, ada beberapa cara yang dilakukan yaitu ada yang menggunakan tiang pasir (vertical sand drain) yang dipasang pada setiap jarak tertentu. Ada juga yang menggunakan sejenis bahan sintetis yang dipasang vertical juga yang jaraknya tergantung kebutuhan yang dikenal dengan vertical wick drain. Penggunaan vertical wick drain ada yang ditambah dengan bantuan pompa vakum untuk mempercepat proses pemampatan tanah. Semua hal ini dilakukan untuk mengeluarkan air dan udara yang mengisi pori-pori pada lapisan tanah. Proses pemampatan tanah ini ada juga yang menggunakan sistem yang disebut dynamic consolidation yaitu dengan cara menjatuhkan beban yang berat kelapisan tanah yang akan dipampatkan. Untuk areal yang tidak luas, pondasi untuk equipment ada yang langsung membangun pondasinya seperti pondasi cakar ayam. Setelah pondasi terpasang baru kemudian diberi beban diatasnya berupa tumpukan pasir atau tanah supaya terjadi pemampatan sampai yang diinginkan. Kemudian dibangun konstruksi jalan yang ingin dipasang diatasnya. Cara yang murah adalah dengan memakai dolken atau bambu berukuran diameter sekitar 8 cm dan panjang antara 4 6 meter yang dipancang dengan jarak tergantung kebutuhan biasanya sekitar 30 40cm. Sistem Pondasi untuk tanah lunak menggunakan metoda Pondasi Rakit (raft foundation) yaitu Pondasi Sarang Laba-Laba. Pondasi sarang laba-laba bertujuan untuk memperlakukan sistem pondasi itu sendiri dalam berinteraksi dengan tanah pendukungnya. Semakin fleksibel suatu pondasi maka semakin tidak merata tegangan tanah yang timbul, sehingga terjadi konsentrasi tegangan di daerah beban terpusat. Sebaliknya semakin kaku pondasi maka akan semakin terdistribusi merata tegangan tanah yang terjadi yang dengan sendirinya effective contact area pondasi tersebut akan semakin besar dan tegangannya akan semakin kecil. Pondasi sarang laba-laba ini memiliki kedalaman antara 1 1.5 meter. Terdiri dari pelat rib vertical yang berbentuk segitiga satu sama lainnya. Di antara ruang segitiga tersebut diisi material tanah pasir/sirtu yang dipadatkan. Kemudian di atas pelat tersebut di cor pelat beton

dengan tebal 150 200 mm. Konstruksinya cukup sederhana dan cepat dilaksanakan serta ekonomis. Cara lain yang selama ini dipakai pada pembuatan jalan adalah pemakaian kanoppel atau galar kayu sebagai perkuatan tanah dasar pada pembuatan jalan diatas tanah gambut cukup besar. Banyaknya pembangunan jalan yang selama ini dikerjakan dengan memakai kanoppel tidak lepas dari pertimbangan ekonomis mengingat fungsi jalan raya selalu berkaitan dengan dimensi panjang yang melibatkan bahan perkerasan dengan jumlah yang cukup banyak. Alternatif lain untuk meningkatkan perkuatan tanah dasar yaitu dengan pemakaian geotextile dapat memberikan pertimbangan lain secara ekonomis dan struktur. Geotextile merupakan suatu bahan geosintetik yang berupa lembaran serat sintetis tenunan dan tambahan bahan anti ultraviolet. Geotextile ini mempunyai berat sendiri yang relatif ringan. Akan tetapi mempunyai kekuatan tarik yang cukup besar untuk menerima beban diatasnya. Keunikan utama geotextile adalah konsistensi kualitas sebagai produk industri permanen dan sangat kompetitif dalam harganya. Namun relatif mudah dan murah penerapannnya untuk perkuatan tanah dasar, serta hasil akhir yang memiliki kelebihan antara lain:

Menjaga penurunan tanah dasar yang lebih seragam. Meningkatkan kekuatan tanah dasar dan memperpanjang umur sistem. Mengurangi ketebalan agregat yang dibutuhkan untuk menstabilkan tanah dasar.

Pemakaian kanoppel dan geotextile ini diharapkan akan memberikan keuntungan antara lain :

Memberikan lantai kerja bagi kendaraan konstruksi untuk pelaksanaan penimbunan selanjutnya. Mencegah kontaminasi dan kehilangan material timbunan. Mengurangi volume material timbunan dan biaya.

Dari beberapa pengamatan yang menyimpulkan secara kasar bahwa biaya awal geotextile lebih tinggi dibandingkan dengan pemakain kanoppel atau galar kayu. sumber

Komentar Tinggalkan Sebuah Komentar Kategori Teknik Sipil

Konstruksi Jalan Di Tanah Gambut (1)


26 Feb Indonesia memiliki lahan gambut seluas 27.000.000 Ha terpusat di Pulau-pulau Kalimantan, Sumatera dan Irian Jaya. Beberapa daerah Indonesia memiliki lapisan gambut yang sangat dalam. Areal gambut kurang diperhatikan karena tidak menarik secara ekonomi. Namun pertumbuhan penduduk dan perkembangan teknologi memaksa orang membangun di atas tanah gambut. Penggunaan lahan gambut sebagai areal pertanian, permukiman maupun infrastruktur

seperti jalan. Pada awalnya jalan di tanah gambut dengan menggunakan alas rangkaian kayu gelondongan, untuk memperbaiki daya dukung gambut dan menyeragamkan penurunan. Di daerah gambut untuk mendapatkan stabilitas tanah yang baik membutuhkan waktu yang relatif lama yaitu cara konvensional dengan pre-loading. Salah satu alternatif dengan membuat aliran vertikal atau horisontal drainase pada tanah gambut itu sendiri selama proses pre-loading berlangsung. Pre-loading dengan drainase ini dimaksudkan agar air yang termampatkan selama proses konsolidasi lebih cepat mengalir akibat tanah akan mengalami penurunan (settlement). Penurunan akibat pre-loadingini diharapkan dapat mengurangi penurunan bangunan nantinya. Besarnya pre-loading ini tergantung pada pembebanan bangunan yang akan diterima oleh tanah serta penurunan bangunan yang diizinkan tentunya. Proses drainase dapat dibantu dengan pembuatan sumuran-sumuran yang berisi material sangat permeable seperti kerikil, pasir kasar, kerakal. Bisa juga dengan bahan sintetis yang telah banyak digunakan. Diharapkan dengan proses drainase ini tanah akan cepat lebih stabil dan settlement tidak melebihi batas-batas yang telah ditentukan. Untuk konstruksi jalan diperlukan penelitian terhadap sifat-sifat teknik gambut yang mencakup daya dukung, besar dan waktu penurunan, ketebalan serta jenis tanah yang berada dibawahnya. Metode terapan untuk konstruksi suatu struktur akan sangat bergantung pada beberapa aspek misalnya tebal gambut, daya dukung lapisan tanah di bawah gambut, sifat konstruksi di atasnya serta sifat dan komposisi dari gambut (peat) itu sendiri. Untuk lapisan gambut dengan kedalaman 0 2m cara yang paling mudah adalah dengan membuang/mengupas lapisan gambut tersebut dan menggantinya dengan material yang lebih baik. Jika kedalamannya 3 4m, konstruksi dengan menggunakan cerucuk kayu (dolken). Sedangkan lapisan gambutnya sangat dalam maka konstruksi menggunakan tiang pancang atau dengan menggunakan material alternatif yang ringan seperti EPS (expanded polyesthyrine) dapat menjadi pilihan. Namun tentu kita harus memperhitungkan segi biayanya pula. Settlement pada gambut dapat pula dipercepat dengan melakukan preloading dengan menggunakan system vertical drain (PVD), sand drain dan lain-lain. Metode ini dapat dipilih jika sesuai dan telah melakukan analisis mendalam berdasarkan soil investigation yang baik serta dengan menggunakan pendekatan yang tepat.