Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PENGKAJIAN SISTEM PERKEMIHAN

Disusun Oleh : 1. Hanifah Asmawati 2. Ikhsan Wahyu Setiawan 3. Intan Ayu Ratna Sari Sudiana 4. Khoirul Puspita Sari 5. Kurnia Sari Ambari 6. Liana Wandasari 7. Lissiana Desi K 8. Maulana Malik H 9. Meivi Santya 10. Muh Wahyu H 11. Neni Kurniati 12. Niken Nurestri 13. Pirih Bekti R (29) (30) (31) (32) (33) (34) (35) (36) (37) (38) (39) (40) (41)

D3 KEPERAWATAN REGULER POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA 2013

PEMERIKSAAN SISTEM PERKEMIHAN 1. Riwayat Keperawatan a. Pada kebanyakan masyarakat, mikturisi merupakan aktivitas yang sangat privat. Hal ini akan menyebabkan perawat harus sangat hati-hati dalam melaksanankan pengkajian terutama pada klien perempuan. b. Perawat harus sangat berhati-hati dalam pengambilan data riwayat keperawatan, pengambilan sampel urin dan pelaksanaan intervensi-intervensi invasif seperti pemasangan kateter. c. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sistem perkemihan biasanya

menimbulkan perasaan nyeri dan tidak nyaman, maka perawat harus sangat hati-hati jika melaksanakan pemeriksaan maupun dalam pengambilan specimen 2. Keluhan utama dan riwayat penyakit a. Tanda dan gejala utama pada klien dengan gangguan sistem perkemihan adalah pola berkemih, nyeri dan perubahan urin. b. Sangat penting juga untuk mengkaji gejala awal, faktor presipitasi, seting seputar masalah (aktivitas dan kondisi lingkungan), pola umum dan episode penyakit (akut, kronis dan intermitten), dan apakah klien pernah mengalami hal yang serupa. c. Riwayat pengobatan juga perlu dikaji karena sangat berpengaruh terhadap perawatan selanjutnya. Dari sini juga kemungkinan diketemukan faktor pencetus pen\yakit yang diakibatkan karena pengobatan tertentu 3. Variasi dan pola berkemih a. Frekuensi berkemih per hari Peningkatan frekuensi dapat diakibatkan karena penurunan kapasitas vesika urinaria karena inflamasi, infeksi, penyakit neurogenik, adanya masa asing, radiasi dan trauma kimia.gangguan frekuensi dapat juga terjadi karena distensi vesika urinaria lama dan adanya obstruksi. b. Frekuensi nocturia dan approximate volume Nocturia atau kencing pada malam hari dapat meningkat frekuensinya jika terjadi masalah-masalah seperti pada poin a juga ditambah adanya gangguan mobilisasi pada dependent edema. Nocturia dengan frekuensi tinggi bisa menjadi

indiksasi pertama kali terjadinya insufisiensi renal dan ginjal kehilangan fungsinya dalam membentuk konsentrasi urin. Pada laki-laki hal ini juga mengindikasikan pembesaran kelenjar prostat. c. Ketidakmampuan atau kesulitan berkemih Keadaan ini merupakan tanda dari keadaan penyakit-penyakit obstruksi pada traktus urinaria bawah atau penyakit neurologi d. Dysuria dan urgency Perasaan terbakar atau tidak nyaman saat berkemih (dysuria) berhubungan dengan aching suprapubic dan spasme. Serta perasaan urgency atau keinginan yang teramat sangat untuk berkemih yang tiba-tiba walaupun sudah berkemih. Hal ini disebabkan karena infeksi pada bladder dan urethra, calculi (batu), nonbacterial inflamasi, benda asing, tumor dan prostatitis. e. Estimasi output urin Oliguria (100-500mL/24jam), anury (<100mL/24jam) mengindikasikan insufisiensi renal yang mungkin disebabkan karena hypovolemia, shock, trauma, incompatibility transfusi darah, atau keracunan obat. Peningkatan volume urin (polyuria) muncul pada penderita diabetes mellitus, diabetes insipidus, beberapa type chronic renal failure (CRF) dan peningkatan diuretik. f. Involuntary voiding (inkontinensia) Eneuresis adalah inkontinensia yang terjadi saat tidur. Hal ini dapat terjadi karena penyakit psychogenic, obstruksi, infeksi, dan disfungsi neurogenic

4. Nyeri a. Nyeri ginjal dapat menunjukkan penyakit pada ginjal. Ditandai dengan dull pain pada punggung dan pada area costovertebral angle (CVA) dan menyebar ke umbilikus. b. Colic ureteral dan renal. Kolic digambarkan berat, tajam, stabbing, dan excrutiating. Nyeri ini menyebar mulai dari ginjal ke bladder dan uretra dan kadang-kadang terasa sampai flank, testis dan ovarium. c. bladder yang juga berhubungan dengan infeksi. d. Nyeri bladder, digambarkan bersifat dull dan perasaan tidak nyaman pada suprapubic yang terus-menerus. Nyeri ini disebabkan karena infeksi bladder atau distensi. Nyeri yang tajam dan intermiten menunjukkan adanya spasme

5. Perubahan-perubahan pada urin a. Tanyakan pada pasien tentang perubahan bau urin, hematuria baik gross maupun mikroskopic hematuria. Tanyakan perubahan warna yang terjadi, kapan waktunya dan kemungkinan penyebabnya kalau memungkinkan. Jika hematuri terjadi, tanyakan pula kemungkinan penggunaan antikoagulan misalnya coumarin, obat antiplatelet semacam aspirin, dan obat yang menyebabkan urin berwarna merah semacam pyridium. b. Urin kemungkinan menjadi lebih gelap seperti warna kola , yang berhubungan dengan stres fisik, latihan dan trauma. Hal ini berhubungan dengan hilangnya myoglobulin dari kerusakan otot-otot yang menyaring menuju urin. Warna gelap kemungkinan hanya terjadi beberapa jam tetapi hal ini sangat penting untuk menegakkan diagnosa. Tanyakan pula urin yang keruh, bau, dan tampak cloudy white yang kemungkinan terjadi infeksi saluran perkemihan c. Nyeri uretral, biasanya berhubungan dengan inflamasi atau adanya benda asing. Sensasi terbakar pada saat berkemihdan diikuti oleh nyeri seperti spasme yang diakibatkan inflamasi. d. Nyeri prostat (prostatic pain), berhubungan dengan prostatitis akut dan digambarkan sebagai perasaan vague discomport atau perasaan penuh pada area perineal dan rektal. Jika obstruksi akut terjadi, nyeri bladder dan backache (nyeri punggung) dapat muncul 6. Tanda-tanda klinis tambahan a. Gangguan gastrointestinal juga kemungkinan terjadi karena organ-organ urinaria berdekatan dan bersharing autonomy dan sensory innervation. b. Keluhan-keluhan gastrointestinal biasanya menyertai gangguan perkemihan. c. Nausea, vomiting, anorexia, diare, abdominal discomfort, dan gangguan lainnya akan muncul. d. Itching secara general dan iritasi kulit mungkin juga terjadi karena adanya penumpukan zat-zat toxic sebagai akibat menurunnya fungsi ginjal sehingga tidak dapat mengekskresi sampah metabolisme.

e. Tanyakan pula adanya gangguan pada meatus uretra yaitu tentang sekresi dan drainase. Tanyakan pula pada klien perempuan tentang drainase pada traktus urinaria seperti infeksi jamur atau penyakit akibat hubungan seksual. Menstruasi juga perlu dikaji, karena saat menstruasi erytrosite akan bercampur urin sehingga mengaburkan hasil pemriksaan. Perawat harus hati-hati dalam mengambil specimen urin saat pasien mengalami menstruasi. f. Perhatikan pula tanda-tanda klinis seperti malaise, fever, dan penurunan berat badan atau penambahan berat badan akibat edema. Tanda-tanda umum tersebut kemungkinan disebabkan karena infeksi, maligna, CRF, atau penyakit perkemihan yang lain. 7. Riwayat medis yang lalu a. Tanyakan tentang penyakit medikal atau bedah yang dialami pada masa lampau. b. Penyakit ginjal juga berhubungan dengan gangguan metabolis, neurologis, GI, hematologi, dermatologi, skeletal, dan respirasi 8. Riwayat keluarga a. Kaji tentang keadaan anomalies pada tractus urinaria pada anggota keluarga yang lain contohnya polycistic ginjal.

9. Psikososial dan gaya hidup a. Kaji gaya hidup dan kebiasaan pasien yang bisa menjadi faktor predisposisi penyakit sistem urinaria misalnya kebiasaan merokok serta terkontaminasinya seseorang dengan zat-zat yang bisa memperberat tibulnya kanker. b. Faktor-faktor kekurangan minum serta pengkonsumsian diit tinggi purin atau kalsium yang akan menyebabkan penyakit calculi (batu saluran perkemihan). c. Kaji pula tentang konsep diri pasien dalam menghadapi penyakitnya saat ini. 10. Pemeriksaan Fisik a. Inspeksi i) pada daerah pinggang atau abdomen sebelah atas harus diperhatikan pada saat melakukan inspeksi pada daerah ini. Pembesaran itu mungkin disebabkan oleh karena hidronefrosis atau tumor pada daerah retroperitonium.

ii) edema terutama di wajah dan mata, ekstremitas bawah, dan jika pasien dalam keadaan bedfast kaji edema pada permukaan sakral. iii) Kaji turgor kulit dan status hydrasi. iv) Observasi warna kulit, pallor menandakan anemia. v) Fullness pada flank, kemungkinan adanya tumor, kista, abses atau akumulasi cairan pada pelvis renal (hydronephrosis). Hal ini akan menjadi bertambah terasa jika pasien duduk dan lean forward. vi) Suprapubic bulge, jika terjadi distensi bladder (500mL) atau lebih. vii) Inspeksi meatus uretra jika ada edema, kemerahan, dan sekresi viii) Pada pemeriksaan buli-buli diperhatikan adanya benjolan/massa jaringan

parut bekas irisan/operasi di suprasimfisis ix) Pada inspeksi genetaliaeksterna diperhatikan kemungkinan adanya kelainan pada penis/uretra antara lain: mikropenis, makropenis, hipospadia, kordae, epispadia, stenosis pada meatus uretra eksterna, fimosis/parafimosis, fistel uretro-kutan, dan ulkus/tumor penis. x) Perhatikan apakah ada pembesaran pada skrotum. Untuk membedakan antara massa padat dan massa kistus yang terdapat pada isi skrotum, dilakukan pemeriksaan transiluminasi (penerawangan) pada isi skrotum dengan cahaya terang. Jika isi skrotum tampak menerawang berarti berisi cairan kistus dan dikatakan sebagai transiluminasi positif atau diafanoskopi positif. b. Palpasi i) Letak ginjal di bagian dalam pada abdominal cavity sehingga sangat sulit melaksanakan palpasi ginjal. Sudut bawah ginjal kanan sangat memungkinkan untuk bisa dipalpasi karena areanya sangat luas dan ditempati liver. ii) Palpasi ginjal dilakukan secara bimanual yaitu dengan memakai dua tangan. Tangan kiri diletakkan di sudut kosto-vertebra untuk mengangkat ginjal ke atas sedangkan tangan kanan meraba ginjal dari depan

iii) Massa di daerah suprasimfisis mungkin merupakan tumor ganas buli-buli atau karena buli-buli yang terisi penuh dari suatu retensi urine. Dengan palpasi dapat ditentukan batas atas buli-buli. iv) Striktura uretra anterior yang berat menyebabkan fibrosis korpus spongiosum yang teraba pada palpasi di sebelah ventral penis, berupa jaringan keras yang dikenal dengan spongiofibrosis. Jaringan keras yang teraba pada korpus kavernosum penis mungkin suat penyakit Peyrone. c. Langkah-langkah melaksanakan palpasi ginjal adalah: i) Posisikan pasien pada posisi supine dan berdirilah di sisi kanan pasien (jika perawat tidak kidal) ii) Letakkan tangan kiri anda secara tegas pada flank (panggul), diantara rib cage dan iliac crest serta naikkan panggul pasien. iii) Palpasi abdomen kuadran atas dengan ujung-ujung jari tangan kanan, tekan pada bagian bawah costal margin. iv) Ujung-ujung jari anda harus menunjuk secara lateral dan sedikit menurun. v) Ulangi prosedur ini pada sisi yang lain. vi) Setelah melaksanakan palpasi, dokumentasikan tentang ukuran ginjal, general countour, tenderness. Bladder dapat dipalpasi jika terdapat urin di dalamnya minimal 150 mL. Tonjolan lembut dapat dirasakan pada area suprapubic pada posisi supine. d. Perkusi Perkusi dapat digunakan untuk mendeteksi distensi bladder, dengan cara: i) dilakukan pada posisi setinggi umbilikus ii) pelaksanaan perkusi yang tegas pada area costovertebral hanya dilakukan oleh dokter dan perawat yang berpengalaman untuk menemukan tenderness renal. Tendernes renal menunjukkan adanya infeksi. iii) Perkusi atau pemeriksaan ketok ginjal dilakukan dengan memberikan ketokan pada sudut kostovertebra (yaitu sudut yang dibentuk oleh kosta terakhir dengan tulang

vertebra). Pembesaran ginjal karena hidronefrosis atau tumor ginjal, mungkin teraba pada palpasi dan terasa nyeri pada perkusi iv) Perkusi tidak boleh dilakukan jika kasusnya polikistik ginjal atau transplantasi ginjal. e. Auskultasi i) Digunakan untuk mendeteksi bruits pada arteri renal posterior pada area sudut costovertebral dan anterior pada area abdomen kuadran atas. f. Colok Dubur (Rectal toucher) Pemeriksaan colok dubur adalah memasukkan jari telunjuk yang sudah diberi pelican kedalam lubang dubur. Pemeriksaan ini menimbulkan rasa sakit dan menyebabkan kontraksi sfingter ani sehingga dapat menyulitkan pemeriksaan. Pada pemeriksaan colok dubur dinilai: (1) tonus sfingter ani dan reflex bulbokavernosus (BCR), (2) mencari kemungkinan adanya massa di dalam lumen rectum, dan (3) menilai keadaan prostat. Penilaian reflex bulbo-kavernosus dilakukan dengan cara merasakan adanya reflex jepitan pada sfingter ani pada jari akibat rangsangan sakit yang kita berikan pada glans penis atau klitoris. Pada wanita yang sudah berkeluarga selain pemeriksaan colok dubur, perlu juga diperiksa colok vagina guna melihat kemungkinan adanya kelainan di dalam alat kelamin wanita, antara lain: massa di serviks, darah vagina, atau massa di buli-buli

11. Pemeriksaan Diagnostik a. Pengambilan specimen urin I) first voided morning specimen menunjukkan keakuratan karakteristik urin pada bladder II) specimen urin yang ideal karena pH urin cenderung rendah urin midstream urin dari indweling kateter urin 24 jam residual urin

b. Pemeriksaan urin I) urinalisis, untuk melihat: - pH urin - spesific gravity - substansi-substansi abnormal (glukosa, protein, aceton) II) Osmolalitas urin - Digunakan untuk melihat konsentrasi urin. Peningkatan osmolalitas urin menunjukkan adanya dehidrasi. c. Pemeriksaan diagnostik untuk fungsi ginjal melalui pemeriksaan serum

Blood urea nitrogen (BUN) (normal 5-20 mg/dL.) I) Peningkatan kadar BUN adalah salah satu indikator terjadinya penurunan fungsi ginjal. II) Tetapi peningkatan BUN juga disebabkan oleh faktor-faktor lain misalnya tingginya pemecahan protein dalam tubuh sebagai akibat sepsis, fever, dehidrasi, shock, congestif heart failure dan perdarahan gastrointestinal. III) Peningkatan BUN yang diakibatkan penurunan ffungsi ginjal sendiri diakibatkan karena glumerulonefritis, pyogenic infeksi, dan trauma. Peningkatan BUN tidak terjadi pada penyakit parenkim ginjal kecuali terjadi kerusakan sampai 2/3 dari nefron. IV) Penurunan kadar BUN bisa disebabkan karena overhydrasi, malnutrisi, penyakit liver berat. V) Level BUN juga dapat dijadikan acuan untuk memonitor fungsi renal saat penderita menggunakan obat yang dapat meraacuni ginjal misalnya

aminoglycosides. d. Kreatinin (normal: 0,5-1,5 mg/dL.) I) Kreatinin adalah prosuk sampah di dalam darah yang berasal dari kreatin sebagai partisipasi dalam fisiologi konstraksi otot.

II) Kadar kreatinin adalah konstan dan tidak dipengaruhi oleh beberapa variabel lain sehingga jika ada peningkatan kadar kreatinin serum di dalam darah, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi gangguan ekskresi. III) Berarti dapat pula disimpulkan telah terjadi insufisiensi fungsi renal. Jadi peningkatan kadar kreatin merupakan indikator pasti kerusakan ginjal. e. Creatinin clearance (normal 72-140 mL/mnt) I) Adalah tes untuk membandingkan level kreatinin serum dengan ekskresi kreatinin dalam volume urin selama periode tertentu. Penurunan hasil tes creatinin clearance menunjukkan penurunan fungsi glumerulo. Rumusnya:

II) Urin creatin x urin volume = CCR Serum kreatinin f. Uric acid (asam urat) (normal 2-7 mg/dL) I) Peningkatan kadar asam uran diakibatkan karena beberapa penyakit metabolisme seperti gout. Hal ini perlu dikaji karena peningkatannya bisa menyebabkan terbentuknya calculi.

g. Lain-lain I) Plain abdominal X-Ray: Digunakan untuk pemeriksaan calculi II) Excretory urogram (intravenous pyelogram/ IVP): Digunakan untuk mendeteksi lesi pada traktus urinaria III) Cystography dan urethrography: Untuk melihat struktur dan fungsi traktus urinaria bawah IV) Cystoscopy dan uretroscopy: Memvisualisasikan struktur traktus urinaria V) Uroflowmetry VI) Cystometrogram (mengukur tekanan bladder saat berkemih) VII) Elektromyography (memeriksa kelistrikan otot pada area perineal seperti

spincter selama berkemih).

VIII) Urethral pressure profile (untuk mengevaluasi aktivitas otot pada uretra) IX) Biopsi jaringan renal: Pengambilan sebagian contoh jaringan ginjal untuk menegakkan diagnosa. X) Uretrografi Uretrografi adalah pencitraan uretra dengan memakai bahankontras. Bahan kontras dimasukkan langsung melalui meatus uretra eksterna melalui klem Broadnya yang dijepitkan pada glans penis. Gambaran yang mungkin terjadi pada uretrogram adalah : 1. Jika terdapat striktura uretra akan tampak adanya penyempitan atauhambatan kontras pada uretra. 2. Trauma uretra tampak sebagai ekstravasasi kontras ke luar dinding uretra, atau 3. Tumor uretra atauuu baru non opak pada uretra tampak sebagai filling defect pada uretra.

XI) Pielografi Retrograd (RPG) Pielografi retrograde atau retrograde pyelography (RPG) adalah pencitraan system urinaria bagian atas (dari ginjal hingga ureter) dengan cara memasukkan bahan kontras radio-opak langsung melalui transuretra (Gambar 2-5). Indikasipembuatanfoto adalah : 1. jika ada kontra indikasi pembuatan foto PIV atau 2. PIV belum bisa menjelaskan keadaan ginjal maupun uretr, antara lain pada ginjal non visualized. XII) Pielografi Antegrad

Foto pielografi antegrad adalah pencitraan system urinaria bagian atas dengan cara memasukkan kontras melalui system saluran (kaliks) ginjal. Bahan kontras dimasukkan melalui kateter nefrostomi yang sebelumnya sudah terpasang, atau dapat pula dimasukkan melalui pungsi pada kaliks ginjal. XIII) USG (Ultrasonografi) Prinsip pemeriksaan ultrasonografi adalah menangkap gelombang bunyi ultra yang dipantulkan oleh organ-organ (jaringan) yang berbeda kepadatanyya. Pemeriksaan ini tidak invasive dan tidak menimbulkan efek radiasi. USG dapat

membedakan antara masa padat (diperekoik) dengan mas kistus (hipoekoik), sedangkan batu non opak yang tidak dapat dideteksi dengan foto rontgen akan terdeteksi oleh USG sebagai echoic shdow. XIV) CT scan dan MRI (computerized Tomography Scan dan Magnetic Resonance Imaging) Pemeriksaan ini lebih baik daripada ultrasonografi tetapi harganya masih sangat mahal, kedua pemeriksaan ini banyak dipakai dalam bidang nkolgi untuk menetukan penderajatan (staging) tumor yaitu batas-batas tumor, invasi ke organdi sekitar tumor, dan mencari adanya metastasis ke kelenjar limfe serta ke organ lain. XV) Sintigrafi

Dengan menyuntikkan bahan isotop (radioaktif) yang telah diikat dengan bahan radiofarma maka tertentu, keberadaan isotop I dalam organ tdideteksi dengan alat kamera gama. Sintigrafi mampu menunjukkan keadaan anatomi dan fungsi suatu organ.

DAFTAR PUSTAKA

Purnomo, Basuki B. 2009. Dasar-dasar Urologi Edisi 2. Jakarta : CV Sagung Seto Wardyatmi. 2012. Modul KMB III Pengkajian Sistem Perkemihan. Surakarta.