Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

ANALISIS FIQH KONTEMPORER


TERHADAP KETERKAITAN ANTARA
RIBA DAN BUNGA BANK

MATA KULIAH : FIQH MUAMALAH
DOSEN PEMBIMBING : M. SYAIFUL BAHRI, M.Pd.I














Oleh :
Ach. Nur Fuad Al-Fajri
NIM : 2011.38.0101.1415

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM JEMBER
Jl. Kyai Mojo No. 101 PO. BOX 170. Jember 68133
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sejak dekade 1960-an, perbincangan mengenai larangan riba bunga bank semakin memanas
saja. Setidaknya ada dua pendapat mendasar yang membahas masalah tentang riba. Pendapat
pertama berasal dari mayoritas ulama yang mengadopsi dan intrepertasi para fuqaha tentang
riba sebagaimana yang tertuang dalam fiqh. Pendapat lainnya mengatakan, bahwa larangan
riba dipahami sebagai sesuatu yang berhubungan dengan adanya upaya eksploitasi, yang
secara ekonomis menimbulkan dampak yang sangat merugikan bagi masyarakat.
Kontroversi bunga bank konvensional masih mewarnai wacana yang hidup di masyarakat.
Dikarenakan bunga yang diberikan oleh bank konvensional merupakan sesuatu yang
diharamkan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah jelas mengeluarkan fatwa tentang
bunga bank pada tahun 2003 lalu. Namun, wacana ini masih saja membumi ditelinga kita,
dikarenakan beragam argumentasi yang dikemukakan untuk menghalalkan bunga, bahwa
bunga tidak sama dengan riba. Walaupun Al-Quran dan Hadits sudah sangat jelas bahwa
bunga itu riba. Dan riba hukumnya adalah haram.
Untuk mendudukan kontroversi bunga bank dan riba secara tepat diperlukan pemahaman
yang mendalam baik tentang seluk beluk bunga maupun dari akibat yang ditimbulkan oleh
dibiarkannya berlaku sistim bunga dalam perekonomian dan dengan membaca tanda-tanda
serta arah yang dimaksud dengan riba dalam Al Quran dan Hadist.
Oleh karena itu, saya sebagai penulis mencoba menjelaskan apakah sama anatar riba dan
bunga bank dalam pandangan fiqh Kontemporer. Oleh karena itu, untuk membuktikannya
penulis mencoba meneliti dan memaparkannya dalam makalah ini.

B. PERUMUSAN MASALAH
Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan, maka beberapa pokok masalah
yang dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam karya tulis ilmiah ini adalah :
1. Bagaimana pengertian riba dan bunga bank?
2. Apakah sama riba dan bunga bank dalam pandangan Fiqh Muamalah dan Ekonomi
Islam?
3. Bagaimana hukum riba dan bunga bank menurut pandangan Fiqh Muamalah dan
Ekonomi Islam?
4. Serta apakah dampak dari riba (bunga bank) terhadap kehidupan manusia?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Riba dan Bunga Bank
Menurut The American Heritage DICTIONARY of the English Language : Interest is A
charge for a financial loan, usually a precentage of the amount loaned. (lihat H. Karnaen
A. Perwataatmadja, S.E., MPA).
1

Bunga adalah sejumlah uang yang dibayar atau untuk penggunaan modal. Jumlah tersebut
misalnya dinyatakan dengan satu tingkat atau prosentase modal yang bersangkut paut
dengan itu yang dinamakan suku bunga modal.
Dictionary of Economics, Sloan and Zurcher
2
:
Bunga yaitu : Sejumlah uang yang dibayar atau untuk penggunaan modal. Jumlah tersebut
misalnya dinyatakan dengan satu tingkat atau prosentase modal yang bersangkut paut
dengan itu yang dinamakan suku bunga modal.
Asal makna riba menurut bahasa Arab ialah lebih (bertambah). Adapun yang dimaksud
disini menurut syara riba adalah akad yang terjadi dengan penukaran yang tertentu, tidak
diketahui sama atau tidaknya menurut aturan syara atau terlambat menerimanya.
3

Istilah riba pertama kalinya di ketahui berdasarkan wahyu yang diturunkan pada masa awal
risalah kenabian dimakkah kemungkinan besar pada tahun IV atau awal hijriah ini
berdasarkan pada awal turunya ayat riba
4
. Para mufassir klasik berpendapat, bahwa makna
riba disini adalah pemberian. Berdasarkan interpretasi ini, menurut Azhari (w. 370H/980 M)
dan Ibnu Mansur (w. 711H/1331M) riba terdiri dari dua bentuk yaitu riba yang dilarang dan
yang tidak dilarang
5
. Namun dalam kenyataannya istilah Riba hanya dipakai untuk
memaknai pembebanan hutang atas nilai pokok yang dipinjamkan
6
.
Sedangkan dalam istilah al-Jurjani mendefinisikan riba dengan kelebihan/tambahan
pembayaran tanpa ada ganti/imbalan, yang disyaratkan bagi salah seorang dari kedua belah
pihak yang membuat akad/transaksi
7
.
Ada beberapa pendapat diatas dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang
merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi

1
hndwibowo.blogspot.com/2008/06/bunga-bank-konvensional-adalah-riba.html
2
hndwibowo.blogspot.com/2008/06/bunga-bank-konvensional-adalah-riba.html
3
Sulaiman Rasjid, , Fiqh Islam, Sinar Baru Algesindo, Bandung , 2002. Hal 290.
4
Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, CV. Diponegoro, Bandung, 2003. Hal. 326.
5
Maksud tidak dilarang disini adalah pemberian yang mengharapkan sesuatu yang lebih baik pada waktu
mendatang (akherat).
6
Abdullah Saeed, Op.Cit, Hal 27. Lihat juga pada, Imaduddin Abil Fida Bin Katsir. Tafisr Quranil Adhiim. Hal
138.
7
Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhudi, Op.Cit. Hal 102.
jual beli maupun pinjam meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip
muamalat dalam Islam.
Mengenai hal ini Allah SWT mengingatkan dalam firmannya : Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan bathil (Q.S An-Nisa :
29). Dalam kaitannya dengan ayat tersebut diatas mengenai makna al-bathil, Ibnu Al-Arabi
Al-Maliki, dalam kitabnya Ahkam Al-Quran (lihat syafii Anotonio), menjelaskan : bahwa
pengertian riba secara bahasa adalah tambahan (Ziyadah), namun yang dimaksud riba dalam
ayat Al-Quran yaitu setiap penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti
atau penyeimbang yang dibenarkan syariah
8
.
Yang dimaksud dengan transaksi pengganti atau penyeimbang yaitu transaksi bisnis atau
komersial yang melegitimasi adanya penambahan tersebut secara adil. Seperti transaksi jual-
beli, gadai, sewa, atau bagi hasil proyek.
Merujuk dari penjelasan tentang pengertian riba dan bunga diatas, bahwa dapat disimpulkan
bunga sama dengan riba
9
. Mengapa demikian, dikarenakan secara riil operasional di
perbankan konvensional, bunga yang dibayarkan oleh nasabah peminjam kepada pihak atas
pinjaman yang dilakukan jelas merupakan tambahan. Karena nasabah melakukan transaksi
dengan pihak bank berupa pinjam meminjam berupa uang tunai. Didalam Islam yang
namanya konsep pinjam meminjam dikenal dengan namanya Qardh (Qardhul Hasan)
merupakan pinjaman kebajikan. Dimana Allah SWT, berfirman :
}E` -O Og~-.- O@O^NC -.- O~
4L=OEO +OEg_N1 N.
+E; LE4OOg1 _ +.-4
+*):^4C 7O:4C4 gO^1)4
]ONE_O> ^gj)
Artinya : siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik
(menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran
kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan
(rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Baqarah : 245)
Pinjaman qardh tidak ada tambahan, jadi seberapa besar yang dipinjam maka dikembalikan
sebesar itu juga. Namun, berbeda apabila akad atau transaksi tersebut mengandung jual beli,
sewa maupun bagi hasil.
Jadi, Dalam transaksi simpan-pinjam dana, secara konvensional si pemberi pinjaman
mengambil tambahan dalam bentuk bunga tanpa adanya suatu penyeimbang yang diterima si

8
hndwibowo.blogspot.com/2008/06/bunga-bank-konvensional-adalah-riba.html
9
hndwibowo.blogspot.com/2008/06/bunga-bank-konvensional-adalah-riba.html
peminjam hal ini merupakan riba yang telah diharamkan oleh Allah SWT didalam Al-
Quran dan Hadist sebagai berikut :
... Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. ... QS. Al-Baqarah : 275
dan juga dalam Hadist Rasulullah bersabda : Jabir berkata bahwa Rasulullah mengutuk
orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan
dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, Mereka itu semuanya sama. (HR.
Muslim no. 2995 dalam kitab Al-Musaqqah)
10


B. Hukum Riba dan Bunga Bank
Seluruh ulama sepakat mengenai keharaman riba, baik yang dipungut sedikit maupun
banyak. Seseorang tidak boleh menguasai harta riba; dan harta itu harus dikembalikan
kepada pemiliknya, jika pemiliknya sudah diketahui, dan ia hanya berhak atas pokok
hartanya saja.
Al-Quran dan Sunnah dengan sharih telah menjelaskan keharaman riba dalam berbagai
bentuknya; dan seberapun banyak ia dipungut. Allah swt berfirman :
-g~-.- 4pOU4C W-_O4@O-
4pON`O4C ) EE NO4C
Og~-.- +O7C*:EC44C }C^OO=-
=}g` +pE^- _ ElgO _^^)
W-EO7~ E^^) 7^O4l^- Nu1g`
W-_O4@O- EEO4 +.-
E7^O4l^- 4OEO4 W-_O4@O- _
}E +47.~E} OgNO4` }g)`
gO)O _OE_4^ N- 4`
E-UEc +NO^`4 O) *.- W
;4`4 E14N Elj^q CUE;
jOEL- W - OgOg ])-E=
^g_)
Artinya : orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan
seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175].
Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat),
Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli

10
hndwibowo.blogspot.com/2008/06/bunga-bank-konvensional-adalah-riba.html
dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya,
lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya
dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang
kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal
di dalamnya. [QS. Al Baqarah (2): 275]
11

p) - W-OUE^> W-O+^O
OE) =}g)` *.- g).Oc4O4 W
p)4 +:> :U +E+7+O
:g4O^` ]O)U;> 4
]OU;> ^g__
Artinya : Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah,
bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan
riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.
[QS. Al Baqarah (2): 275]
12

Di dalam Sunnah, Nabiyullah Muhammad saw :

Satu dirham riba yang dimakan seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba),
maka itu lebih berat daripada enam puluh kali zina. (HR. Ahmad dari Abdullah bin
Hanzhalah)

Riba itu mempunyai 73 pintu, sedang yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang
menzinai ibunya, dan sejahat-jahatnya riba adalah mengganggu kehormatan seorang
muslim. (HR. Ibn Majah)

Rasulullah saw melaknat orang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan
dua orang saksinya. Belia bersabda; Mereka semua sama. (HR. Muslim)
Di dalam Kitab al-Mughniy, Ibnu Qudamah mengatakan, Riba diharamkan berdasarkan
Kitab, Sunnah, dan Ijma. Adapun Kitab, pengharamannya didasarkan pada firman Allah
swt,Wa harrama al-riba (dan Allah swt telah mengharamkan riba) (Al-Baqarah:275) dan
ayat-ayat berikutnya. Sedangkan Sunnah; telah diriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya
beliau bersabda, Jauhilah oleh kalian 7 perkara yang membinasakan. Para shahabat
bertanya, Apa itu, Ya Rasulullah?. Rasulullah saw menjawab, Menyekutukan Allah,

11
Departemen Agama RI,Al Quran dan Terjemahnya, CV. Diponegoro, Bandung , 2003. Hal. 36.
12
Ibid. Hal. 37.
sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan riba, memakan
harta anak yatim, lari dari peperangan, menuduh wanita-wanita Mukmin yang baik-baik
berbuat zina. Juga didasarkan pada sebuah riwayat, bahwa Nabi saw telah melaknat
orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya. [HR. Imam Bukhari dan Muslim].
Dan umat Islam telah berkonsensus mengenai keharaman riba.
Imam al-Syiraaziy di dalam Kitab al-Muhadzdzab menyatakan; riba merupakan perkara
yang diharamkan. Keharamannya didasarkan pada firman Allah swt, Wa ahall al-Allahu al-
bai` wa harrama al-riba (Allah swt telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba)
[Al-Baqarah:275], dan juga firmanNya, al-ladziina ya`kuluuna al-riba laa yaquumuuna
illa yaquumu al-ladziy yatakhabbathuhu al-syaithaan min al-mass (orang yang memakan
riba tidak bisa berdiri, kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan setan). [al-
Baqarah:275]. Ibnu Masud meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw
melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya. [HR. Imam Bukhari dan
Muslim]
Imam al-Shananiy di dalam Kitab Subul al-Salaam mengatakan; seluruh umat telah
bersepakat atas haramnya riba secara global.
Di dalam Kitab Iaanat al-Thaalibiin disebutkan; riba termasuk dosa besar, bahkan
termasuk sebesar-besarnya dosa besar (min akbar al-kabaair). Pasalnya, Rasulullah saw
telah melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya. Selain itu, Allah swt
dan RasulNya telah memaklumkan perang terhadap pelaku riba. Di dalam Kitab al-
Nihayahdituturkan bahwasanya dosa riba itu lebih besar dibandingkan dosa zina, mencuri,
dan minum khamer. Imam Syarbiniy di dalam Kitab al-Iqna juga menyatakan hal yang
sama Mohammad bin Ali bin Mohammad al-Syaukaniy menyatakan; kaum Muslim sepakat
bahwa riba termasuk dosa besar.
Imam Nawawiy di dalam Syarh Shahih Muslim juga menyatakan bahwa kaum Muslim telah
sepakat mengenai keharaman riba jahiliyyah secara global. Mohammad Ali al-Saayis di
dalam Tafsiir Ayat Ahkaam menyatakan, telah terjadi kesepakatan atas keharaman riba di
dalam dua jenis ini (riba nasiiah dan riba fadlal). Keharaman riba jenis pertama ditetapkan
berdasarkan al-Quran; sedangkan keharaman riba jenis kedua ditetapkan berdasarkan hadits
shahih. Abu Ishaq di dalam Kitab al-Mubadda menyatakan; keharaman riba telah menjadi
konsensus, berdasarkan al-Quran dan Sunnah.
13

Ulama saat ini sesungguhnya telah ijma tentang keharaman bunga bank. Dalam puluhan
kali konferensi, muktamar, simposium dan seminar, para ahli ekonomi Islam dunia, Umar
Chapra menemukan terwujudnya kesepakatan para ulama tentang bunga bank. Artiya tak

13
http//anakcirenai.blogspot.com/2008/05/makalah-fiqih-tentang-riba-dan-perbankan.html
satupun para pakar yang ahli ekonomi yang mengatakan bunga syubhat atau boleh. Ijmanya
ulama tentang hukum bunga bank dikemukaka Umer Chapra dalam buku The Future of
Islamic Econmic,(2000). Semua mereka mengecam dan mengharamkan bunga, baik
konsumtif maupun produktif, baik kecil maupun besar, karena bunga telah menimbulkan
dampak sangat buruk bagi perekonomian dunia dan berbagai negara. Krisis ekonomi dunia
yang menyengsarakan banyak negara yang terjadi sejak tahun 1930 s/d 2009, adalah bukti
paling nyata dari dampak sistem bunga.
14


C. Jenis-jenis Riba
Riba terbagi menjadi empat macam; (1) riba nasiiah (riba jahiliyyah); (2) riba fadlal; (3)
riba qaradl; (4) riba yadd.
15

1. Riba Nasii`ah. Riba Nasii`ah adalah tambahan yang diambil karena penundaan
pembayaran utang untuk dibayarkan pada tempo yang baru, sama saja apakah tambahan
itu merupakan sanksi atas keterlambatan pembayaran hutang, atau sebagai tambahan
hutang baru. Misalnya, si A meminjamkan uang sebanyak 200 juta kepada si B; dengan
perjanjian si B harus mengembalikan hutang tersebut pada tanggal 1 Januari 2009; dan
jika si B menunda pembayaran hutangnya dari waktu yang telah ditentukan (1 Januari
2009), maka si B wajib membayar tambahan atas keterlambatannya; misalnya 10% dari
total hutang. Tambahan pembayaran di sini bisa saja sebagai bentuk sanksi atas
keterlambatan si B dalam melunasi hutangnya, atau sebagai tambahan hutang baru
karena pemberian tenggat waktu baru oleh si A kepada si B. Tambahan inilah yang
disebut dengan riba nasiiah.
Adapun dalil pelarangannya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim :


Riba itu dalam nasiah. [HR. Muslim dari Ibnu Abbas]
2. Riba Fadlal. Riba fadlal adalah riba yang diambil dari kelebihan pertukaran barang yang
sejenis. Dalil pelarangannya adalah hadits yang dituturkan oleh Imam Muslim.

Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, syair dengan
syair, kurma dengan kurma, garam dengan garam, semisal, setara, dan kontan. Apabila
jenisnya berbeda, juallah sesuka hatimu jika dilakukan dengan kontan. (HR. Muslim
dari Ubadah bin Shamit ra.)

14
http//kasei_unri.org/index.php?option=com_conten&task=category&sectiobid=&id=19&itemid=34
15
http//anakcirenai.blogspot.com/2008/05/makalah-fiqih-tentang-riba-dan-perbankan.html
3. Riba al-Yadd. Riba yang disebabkan karena penundaan pembayaran dalam pertukaran
barang-barang. Dengan kata lain, kedua belah pihak yang melakukan pertukaran uang
atau barang telah berpisah dari tempat aqad sebelum diadakan serah terima.
Larangan riba yadd ditetapkan berdasarkan hadits-hadits berikut ini;

Emas dengan emas riba kecuali dengan dibayarkan kontan, gandum dengan gandum
riba kecuali dengan dibayarkan kontan; kurma dengan kurma riba kecuali dengan
dibayarkan kontan; kismis dengan kismis riba, kecuali dengan dibayarkan kontan (HR.
al-Bukhari dari Umar bin al-Khaththab)
4. Riba Qardl. Riba qaradl adalah meminjam uang kepada seseorang dengan syarat ada
kelebihan atau keuntungan yang harus diberikan oleh peminjam kepada pemberi
pinjaman. Riba semacam ini dilarang di dalam Islam berdasarkan hadits-hadits berikut
ini;
Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Burdah bin Musa; ia berkata,
Suatu ketika, aku mengunjungi Madinah. Lalu aku berjumpa dengan Abdullah bin
Salam. Lantas orang ini berkata kepadaku: Sesungguhnya engkau berada di suatu
tempat yang di sana praktek riba telah merajalela. Apabila engkau memberikan
pinjaman kepada seseorang lalu ia memberikan hadiah kepadamu berupa rumput ker-
ing, gandum atau makanan ternak, maka janganlah diterima. Sebab, pemberian tersebut
adalah riba. [HR. Imam Bukhari]
Hadits di atas menunjukkan bahwa peminjam tidak boleh memberikan hadiah kepada
pemberi pinjaman dalam bentuk apapun, lebih-lebih lagi jika si peminjam menetapkan
adanya tambahan atas pinjamannya. Tentunya ini lebih dilarang lagi.
Pelarangan riba qardl juga sejalan dengan kaedah ushul fiqh, Kullu qardl jarra
manfaatan fahuwa riba. (Setiap pinjaman yang menarik keuntungan (membuahkan
bunga) adalah riba.
Praktek-praktek riba yang sering dilakukan oleh bank adalah riba nasiiah, dan riba qardl;
dan kadang-kadang dalam transaksi-transaksi lainnya, terjadi riba yadd maupun riba fadlal.
Seorang Muslim wajib menjauhi sejauh-jauhnya praktek riba, apapun jenis riba itu, dan
berapapun kuantitas riba yang diambilnya. Seluruhnya adalah haram dilakukan oleh seorang
Muslim.

D. Dampak Riba Dan Bunga Bank
1. Bagi Jiwa Manusia
Hal ini akan menimbulkan perasaan egois pada diri, sehingga tidak mengenal melainkan
diri sendiri. Riba ini menghilangkan jiwa kasih sayang, dan rasa kemanusiaan dan sosial.
Lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain.
16

2. Bagi Masyarakat
Dalam kehidupan masyarakat hal ini akan menimbulkan kasta kasta yang saling
bermusuhan. Sehingga membuat keadaan tidak aman dan tentram. Bukannya kasih
sayang dan cinta persaudaraan yang timbul akan tetapi permusuhan dan pertengkaran
yang akan tercipta dimasyarakat.
17

3. Bagi Roda Pergerakan Ekonomi
Dampak sistem ekonomi ribawi tersebut sangat membahayakan perekonomian.
a. Sistem ekonomi ribawi telah banyak menimbulkan krisis ekonomi di mana-mana
sepanjang sejarah, sejak tahun 1929, 1930, 1940an, 1950an, 1970an. 1980an,
1990an, 1997 dan sampai saat ini.
b. Di bawah sistem ekonomi ribawi, kesenjangan pertumbuhan ekonomi masyarakat
dunia makin terjadi secara konstant, sehingga yang kaya makin kaya yang miskin
makin miskin.
c. Suku bunga juga berpengaruh terhadap investasi, produksi dan terciptanya
pengangguran.
d. Teori ekonomi juga mengajarkan bahwa suku bunga akan secara signifikan
menimbulkan inflasi.
e. Sistem ekonomi ribawi juga telah menjerumuskan negara-negara berkembang
kepada debt trap (jebakan hutang) yang dalam, sehingga untuk membayar bunga
saja mereka kesulitan, apalagi bersama pokoknya.
18












16
KH. Didin Hafidhuddin, Tafsir al-Hijri, Cet 1. Yayasan Kalimah Thayyibah. Jakarta. Hal. 331.
17
Ibid. Hal. 332.
18
kasei_unri.org/index.php?option=com_conten&task=category&sectiobid=&id=19&itemid=34
BAB III
PENUTUP
19


Sudah jelaslah bagiamana riba dan bunga bank itu dilarang dengan tahapan tahapan yang sama
dengan pengharaman arak. Dari uraian diatas dapat penulis ambil kesimpulan bahwa :
1. Riba dengan kelebihan/tambahan pembayaran tanpa ada ganti/imbalan, yang disyaratkan
bagi salah seorang dari kedua belah pihak yang membuat akad/transaksi sedangkan Bunga
adalah sejumlah uang yang dibayar atau untuk penggunaan modal. Jumlah tersebut misalnya
dinyatakan dengan satu tingkat atau prosentase modal yang bersangkut paut dengan itu yang
dinamakan suku bunga modal.
2. Dalam pandangan Fiqh Kontemporer bahwa antara riba dan bunga bank adalah sama.
Mengapa demikian, dikarenakan secara riil operasional di perbankan konvensional, bunga
yang dibayarkan oleh nasabah peminjam kepada pihak atas pinjaman yang dilakukan jelas
merupakan tambahan. Karena nasabah melakukan transaksi dengan pihak bank berupa
pinjam meminjam berupa uang tunai.
3. Dalam pandangan Fiqh Kontemporer bahwa hukum antara riba dan bunga bank adalah
haram. Karena hukum asal riba adalah haram baik itu dalam Al-Quran, Hadis, dan Ijtihad.
Seluruh ummat Islam wajib untuk meninggalkannya, serta menjauhinya yakni dengan cara
bertaqwa kepada Allah.
4. Dampak akan bahayanya riba (bunga bank) terhadap kehidupan manusia; (1). Bagi jiwa
manusia : hal ini akan menimbulkan perasaan egois pada diri, sehingga tidak mengenal
melainkan diri sendiri. (2).Bagi masyarakat : Dalam kehidupan masyarakat hal ini akan
menimbulkan kasta kasta yang saling bermusuhan. (3). Bagi roda pergerakan ekonomi : Dari
segi ekonomi, hal ini akan menyebabkan manusia dalam dua golongan besar yaitu orang
miskin sebagai pihak yang tertindas dan orang kaya sebagai pihak yang menindas.










19
Komentar Penulis
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah saeed. Bank Islam Dan Bunga. Terjemahan Cetakan 1. Pustaka Pelajar. Jakarta. 2003.
Departemen Agama RI. Al Quran dan Terjemahnya.. CV. Diponegoro. Bandung. 2003.
KH. Didin Hafidhuddin. Tafsir al-Hijri. det 1. Yayasan Kalimah Thayyibah. Jakarta. 2000.
Drs. H. Kahar Masyhur. Beberapa Pendapat Menegenai Riba. Cet 3. Kalam Mulia. Jakarta.
1999.
Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhudi. Masail Fiqhiyah. Cet 10. PT gunung agung. Jakarta. 1970.
Mudjab mahali. Asbabun Nuzul; Studi Pendalaman al-Quran Surat al-Baqarah An-Naas. Cet 1.
Raja grafindo. Jakarta. 2002.
Muhammad Ali Ash-ashabuni. Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni. terj. Cet ke-4. PT. Bina ilmu.
Surabaya. 2003.
Sulaiman Rasjid. Fiqh Islam. Sinar Baru Algesindo. Bandung. 2002.
http//anakcirenai.blogspot.com/2008/05/makalah-fiqih-tentang-riba-dan-perbankan.html
http//kasei_unri.org/index.php?option=com_conten&task=category&sectiobid=&id=19&itemid=
34
http//hndwibowo.blogspot.com/2008/06/bunga-bank-konvensional-adalah-riba.html