Anda di halaman 1dari 6

Borang Portofolio No. ID dan Nama Peserta: dr. Cita Aulia Nisa No.

ID dan Nama Wahana: RSUD dr. Soeprapto Cepu Topik: Retensio Urine suspect causa Benigna Prostate Hyperplasia (BPH) Tanggal (kasus): 15 Desember 2012 Nama Pasien: Tn. Y Tanggal presentasi: Tempat presentasi: RSUD dr. Soeprapto Cepu Objektif presentasi : Keilmuan Diagnostik Neonatus Deskripsi: Autoanamnesis: Tn. Y, laki-laki, 62 tahun, datang dengan keluhan tidak dapat BAK sejak tadi malam (12jam SMRS) disertai rasa nyeri pada perut dan punggung bawah. Sebelumnya mengaku sering susah BAK juga sering mengejan saat memulai BAK, BAK tidak tuntas, air kencing menetes pasca BAK, dan sering anyang-anyangan serta frekuensi BAK meningkat beberapa bulan sebelumnya. Riwayat beberapa kali dipasang DC di puskesmas karena keluhan serupa. Riwayat kencing batu, trauma, dan BAK disertai darah disangkal. Px Fisik: Vital Sign: TD: 130/80mmHg; N: 86x/menit, rr: 18x/menit, T: 36,2C. Abdomen: Tampak bulging pada regio suprapubik. BU (+) Normal, NT (+) suprapubik, H/L/R tak teraba, nyeri ketok -/-. Teraba pembesaran prostat pada rectal toucher. Tujuan: Mengetahui penegakan diagnosis yang tepat Mengetahui penanganan kasus secara tepat dan mengantisipasi agar tidak terjadi kekambuhan dengan merujuk ke bidang yang lebih tinggi untuk dilakukan prostatektomi Bahan bahasan: Tinjauan Pustaka Riset Presentasi dan diskusi Kasus Email Audit Pos
1

No. RM: Kartu lama Nama pendamping: dr. Heru Setyono

Keterampilan Manajemen Bayi Anak

Penyegaran Masalah Remaja Dewasa

Tinjauan Pustaka Istimewa Lansia Bumil

Cara membahas: Diskusi

Data pasien: Nama klinik: RSUD dr.Soeprapto Cepu Data utama untuk bahan diskusi:

Nama: Tn. Y Telp: -

Nomor Registrasi: Kartu lama Terdaftar sejak: 15 Desember 2012

1. Diagnosis / gambaran klinis: Retensio Urine suspect causa BPH. 2. Gambaran Klinis: KU: tampak kesakitan; regio suprapubik tampak bulging dan nyeri tekan akibat 12 jam urine tertahan di VU sehingga urine perlu segera dievakuasi; riwayat sering kambuh (ditandai dengan riwayat sering pasang DC), dan dari RT terdapat pembesaran prostat, yang artinya bila pembesaran prostat tetap dibiarkan, maka kekambuhan tetap akan sering terjadi. Pemasangan DC tidak berhasil. 3. Riwayat pengobatan: beberapa kali dipasang DC di Puskesmas karena keluhan serupa. 4. Riwayat kesehatan/penyakit: - Riwayat keluhan serupa sejak beberapa bulan yang lalu (+) - Riwayat kencing keluar batu atau pasir disangkal - Riwayat kencing bercampur darah disangkal - Riwayat kencing nanah disangkal - Riwayat DM dan darah tinggi disangkal - Riwayat keganasan disangkal 5. Riwayat keluarga: tidak ada anggota keluarga dengan keluhan serupa, riwayat keganasan, maupun riwayat DM dan hipertensi. 6. Riwayat pekerjaan: pasien sudah tidak bekerja, dulu bekerja sebagai petani, biaya hidup ditanggung oleh anak yang bekerja sebagai petani. 7. Kondisi lingkungan sosial dan fisik (rumah, lingkungan,aktivitas): Pasien tinggal di lingkungan pedesaan, tidak bekerja, aktivitas minimal, biaya hidup sehari-hari ditanggung oleh anak, dan biaya kesehatan ditanggung oleh pemerintah (Jamkesmas). 8. Lain-lain Px Fisik: Vital Sign: TD: 130/80mmHg; N: 86x/menit, rr: 18x/menit, T: 36,2C. Px Status Lokalis:
2

Regio Suprapubik: -Inspeksi: cembung(+), sikatrik (-), warna kulit=warna sekitar -Palpasi: nyeri tekan (+), massa (-), defans muskular (-) -Perkusi: redup, nyeri(+) Rectal Toucher: tonus spincter ani cukup, ampula recti tidak kolaps, mukosa licin, massa(-), nyeri tekan(-) Prostat: konsistensi kenyal, rata, sulcus medianus datar, medio lateralis sinistra 3cm, medio lateralis dextra 3cm, simetris, polus cranialis tidak teraba, nodul(-), nyeri tekan(-), sarung tangan: feses (+), lendir (-), darah (-) Px Laboratorium: darah rutin: dalam batas normal; urine rutin: tidak dilakukan Px Foto Polos Abdomen: batu opak (-) Daftar Pustaka: 1. Basuki, Purnomo. 2003. Dasar-Dasar Urologi. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya: Malang. 2. Hardjowidjoto, S. 2000. Benigna Prostat Hiperplasi. Airlangga University Press: Surabaya. 3. Sjamsuhidajat R, De Jong W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC: Jakarta. Hasil Pembelajaran: 1. 2. Diagnosis Retensio Urine suspect causa Benigna Prostate Hyperplasia (BPH) Perlunya keterampilan klinis dalam mendiagnosis banding retensio urine, apakah karena batu saluran kemih, striktur uretra, tumor, BPH, ataupun penyebab lain. 3. Perlunya memahami etiologi dan patofisiologi BPH agar dapat mengkaitkan dengan gejala-gejala yang ditimbulkan akibat BPH agar diagnosis yang tepat dapat ditegakkan. 4. Perlunya melakukan pemeriksaan klinis sederhana untuk mendiagnosis BPH (rectal toucher) apabila di sarana kesehatan tidak tersedia pemeriksaan penunjang yang memadai. 5. Perlunya evakuasi urine segera untuk mengurangi penderitaan pasien, apabila DC gagal terpasang, dapat dipikirkan alternatif lain yaitu pungsi suprapubik. 6. Perlunya merujuk ke spesialis Bedah Urologi untuk dilakukan penanganan selanjutnya agar etiologi retensi urine dapat disingkirkan (dalam hal ini prostatektomi).

SOAP 1. SUBJEKTIF: Laki-laki, 62 tahun, tidak dapat BAK sejak 12jam SMRS disertai rasa nyeri pada perut bawah. Riwayat beberapa kali dipasang DC di puskesmas karena keluhan serupa. Riwayat sering mengejan saat memulai BAK, BAK tidak tuntas, air kencing menetes pasca BAK, dan anyang-anyangan atau peningkatan frekuensi BAK beberapa bulan sebelumnya. Riwayat kencing batu, trauma, dan BAK disertai darah disangkal. Pemasangan DC untuk evakuasi urine gagal. 2. OBJEKTIF: Diagnosis BPH ditegakkan berdasarkan anamnesis, dimana sebelum terjadi retensio urin total, pasien sering menunjukkan gejala prostatismus/LUTS (Lower Urinary Tract Syndrome), seperti mengejan bila memulai BAK (hesitensi), BAK tidak puas, tidak tuntas, kencing menetes, serta peningkatan frekuensi BAK. Diagnosis diperkuat dengan pemeriksaan rectal toucher, dimana ditemukan pembesaran prostat secara simetris, dengan konsistensi kenyal, tidak nyeri tekan dan tidak berbenjol yang mengindikasikan adanya BPH (bukan keganasan prostat). Regio suprapubik yang sangat bulging dan keadaan umum pasien yang sangat kesakitan akibat 12 jam urine tertahan di VU serta kegagalan pemasangan DC mengindikasikan perlunya dilakukan evakuasi urine segera dengan pungsi suprapubik. Selain itu, perlu dicari apakah ada komplikasi lain di luar saluran kemih terkait efek hesitensi (sering mengejan), seperti munculnya hernia dan hemorrhoid. Pada pasien ini, tidak ditemukan. Sementara itu, hasil laboratorium tidak mengindikasikan adanya infeksi bakterial (AL normal) yang dapat mengarahkan ke prostatitis atau ISK lainnya. Hasil foto polos abdomen juga tidak menunjukkan adanya batu opak sebagai penyebab retensio urine. Diagnosis BPH juga dapat ditunjang dengan pemeriksaan USG, dalam hal ini, dilakukan oleh dokter spesialis bedah. 3. ASSESSMENT : Semakin tua usia seorang laki-laki, risiko untuk terjadinya BPH semakin meningkat. Beberapa penjelasan untuk hal ini antara lain: peningkatan kadar 5- reduktase yang mengubah testosteron menjadi dihidrotestosteron (DHT). DHT berikatan dengan reseptorreseptor androgen prostat, dan berperan dalam aktivasi suatu Growth Factor yang efeknya
4

merangsang lebih banyak lagi pertumbuhan sel-sel prostat. Selain itu, pada usia tua, apoptosis pada sel-sel prostat berkurang, sehingga tidak ada keseimbangan antara proliferasi sel dan apoptosis, akibatnya, jumlah sel prostat semakin bertambah. Pembesaran prostat pada akhirnya memperkecil diameter uretra, sehingga aliran urin dari ginjal-ureter-VU menuju uretra terhambat. Hambatan aliran urin berperan besar terhadap peningkatan tekanan intravesika. Dalam jangka panjang, struktur VU menjadi berubah, seperti munculnya selula atau divertikel pada dinding VU yang berefek pada ketidakmampuan VU dalam mengeluarkan urine secara adekuat. Pada kondisi kompensasi, gejala yang biasa ditemukan pada pasien adalah gelaja LUTS/prostatimus yang telah dijelaskan di atas (Objektif). Namun, bila VU tidak mampu lagi mengeluarkan urin karena fatigue (fase dekompensasi), terjadilah retensio urine seperti yang dialami oleh pasien. Terkait simptom, evakuasi urine harus segera dilakukan, baik dengan DC, metal kateter, ataupun pungsi suprapubik. Evakuasi urine, selain bertujuan mengurangi penderitaan pasien, juga bertujuan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut, seperti hidroureter, hidronefrosis, maupun gagal ginjal. 4. PLAN Diagnosis Besar kemungkinan keluhan pada pasien ini disebabkan oleh BPH. Pengobatan Pengobatan awal ditujukan untuk menghilangkan gejala, dalam hal ini retensio urine. Karena DC gagal terpasang, maka dilakukan alternatif lain, yaitu dengan pungsi suprapubik. Sementara itu, untuk pengobatan etiologi, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan. Medikamentosa dapat dilakukan pada penderita BPH dengan syarat, gejala prostat masih dalam rentang ringan-sedang. Pengobatan dengan medikamentosa antara lain dengan obatobatan golongan penghambat 5--reduktase (finasteride selama 6 bulan) atau penghambat adrenergik. Dengan pengobatan, tentunya pasien harus bersabar karena jangka waktu pengobatan cukup lama. Selain itu, pengobatan tidak menjamin prostat kembali ke ukuran semula, dan masih ada kemungkinan prostat membesar kembali. Terkait kondisi pasien, disarankan untuk rujuk ke bidang yang lebih kompeten, yaitu spesialis bedah, untuk dilakukan prostatektomi.
5

Pendidikan Edukasi bertujuan untuk memotivasi pasien menjalani terapi bedah. Karena berdasarkan anamnesis, pasien lebih memilih hanya diobati kondisi retensio urin-nya dengan DC berulang. Edukasi juga bertujuan untuk menjelaskan bahwa pemasangan DC berisiko menyebabkan infeksi saluran kemih dan juga tidak akan menghilangkan gejala dalam jangka panjang. Konsultasi Dijelaskan perlunya konsultasi dengan dokter spesialis penyakit bedah. Hal ini bertujuan agar pasien dapat memahami kondisinya dari segi bedah. Rujukan Pasien dimasukkan ke bangsal bedah dengan tujuan pelimpahan wewenang ke pihak yang lebih kompeten (dokter spesialis bedah). Selain untuk memastikan diagnosis (melihat volume prostat) dengan dilakukan pemeriksaan penunjang berupa USG transabdominal, juga bertujuan agar pasien dapat berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis bedah terkait kondisi penyakitnya dan mendapatkan edukasi tentang tindakan bedah berikutnya.

Kontrol Kegiatan 1. Pungsi suprapubik Segera Periode Hasil yang diharapkan Evakuasi urine segera penanganan Pasien mendapatkan informasi yang lebih detail terkait penyakitnya. Selain itu, agar etiologi penyakit dapat segera diterapi oleh dokter spesialis bedah. 3. Edukasi Pasca rawat bedah Pasien dapat menjaga kebersihan

2. Rujuk/rawat ke bagian Setelah Bedah/Bedah Urologi

kegawatdaruratan evakuasi urine

lukanya, intake nutrisi cukup agar luka operasi sembuh sempurna. Serta edukasi bahwa bila semua sisi prostat tidak kambuh terambil, masih mungkin