Anda di halaman 1dari 18

MASALAH MULTIBUDAYA DALAM PEMBELAJARAN SAINS DI MANCANEGARA MAKALAH Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Belajar dan Pembelajaran

yang dibina oleh Ibu Dr. Dahlia, M.S

Oleh Kelompok 8 Biologi Kelas A/ Off A

1. Alfian Oktavijayanti 2. Ary Mafula 3. Esti Novianti 4. Mareta Ariswara Edi

(110341421527) (1103414215 )

(110341421528) (11034142150 )

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI Oktober 2013

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................... DAFTAR ISI ....................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1.1. Latar Belakang ........................................................................

i iii 1 3 4 4 5 5 8 10

1.2. Rumusan Masalah ............................................................................ 1.4. Tujuan .............................................................................................. BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 2.1 Definisi Pembelajaran Multikultural ................................................ 2.2 Latar Belakang Munculnya pendidikan multikultural di Indonesia . 2.3 Masalah dalam multikultural Pembelajaran sains di mancanegara.. 2.4 Cara Mengatasi Masalah dalam Multikultural Pembelajaran Sains di Mancanegara ...................................................................................

12

BAB III PENUTUP ............................................................................................ 3.1. Kesimpulan ...................................................................................... 3.2. Saran ................................................................................................. DAFTAR RUJUKAN .........................................................................................

16 16 16 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku dan ras, yang mempunyai budaya, bahasa, nilai, dan agama atau keyakinan berbeda-beda. Bila bangsa ini ingin menjadi kuat dalam era demokrasi, diperlukan sikap saling menerima dan menghargai dari tiap orang yang beraneka ragam itu sehingga dapat saling membantu, bekerja sama membangun negara ini lebih baik. Perkembangan pembangunan nasional dalam era industrialisasi di Indonesia telah memunculkan dampak yang tidak dapat terhindarkan dalam masyarakat. Konglomerasi dan kapitalisasi dalam kenyataannya telah menumbuhkan bibitbibit masalah yang ada dalam masyarakat seperti ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin, masalah pemilik modal dan pekerja, kemiskinan, perebutan sumber daya alam dan sebagainya. Di tambah lagi kondisi masyarakat Indonesia yang plural baik dari suku, agama, ras dan geografis memberikan kontribusi terhadap masalah-masalah sosial seperti ketimpangan sosial, konflik antar golongan, antar suku dan sebagainya. Merebaknya krisis sosio-kultural dalam masyarakat dapat dilihat dalam berbagai bentuk, misalnya; disintegrasi sosial -politik yang bersumber dari euphoria yang nyaris kebablasan; hilangnya kesabaran sosial dalam m enghadapi sulitnya kehidupan menyebabkan masyarakat kita mudah mengamuk dan melakukan berbagai tindakan anarkis, masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk berempati, bersopan santun, saling

menghormati dan menghargai terhadap perbedaan keragaman. Bangsa kita mulai kehilangan identitas kultural nasional dan lokal; padahal identitas nasional dan lokal sangat diperlukan untuk mewujudkan integrasi sosial, kultural dan politik masyarakat dan negara bangsa Indonesia. Untuk itu dipandang sangat penting memberikan pembelajaran multibudaya di Indonesia. Hal ini dapat mewujudkan dan mempertahankan keutuhan bangsa dan negara Indonesia yang multibudaya, terutama agar peserta didik memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan

masalah-masalah sosial yang berakar pada perbedaan kerena suku, ras, agama dan tata nilai yang terjadi pada lingkungan masyarakatnya.

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apa definisi pembelajaran multibudaya? 1.2.2 Bagaimana latar belakang timbulnya multibudaya di Indonesia? 1.2.3 Apa saja masalah-masalah yang timbul dalam pembelajaran multibudaya dalam pembelajaran sains di mancanegra? 1.2.4 Bagaimana solusi untuk mengatasi masalah-masalah dalam pembelajaran multibudaya dalam sains di mancanegara?

1.3 Tujuan 1.3.1 Menjelaskan definisi pembelajaran multibudaya 1.3.2 Mengetahui latar belakang timbulnya multibudaya di Indonesia 1.3.3 Mendeskripsikan masalah-masalah multibudaya yang timbul dalam pembelajaran sains di mancanegara 1.3.4 Menjelaskan solusi untuk mengatasi masalah-masalah dalam pembelajaran multibudaya dalam sains di mancanegara

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pembelajaran Multibudaya Pembelajaran Multibudaya adalah kebijakan dalam praktik pendidikan dalam mengakui, menerima dan menegaskan perbedaan dan persamaan manusia yang dikaitkan dengan gender, ras, kelas. Pendidikan Multibudaya adalah suatu sikap dalam memandang keunikan manusia dengan tanpa membedakan ras, budaya, jenis kelamin, seks, kondisi jasmaniah atau status ekonomi seseorang. Pendidikan Multibudaya (Multicultural education) merupakan strategi pendidikan yang memanfaatkan keberagaman latar belakang kebudayaan dari para peserta didik sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap multikultural. Strategi ini sangat bermanfaat, sekurang-kurangnya bagi sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat membentuk pemahaman bersama atas konsep kebudayaan, perbedaan budaya, keseimbangan, dan demokrasi dalam arti yang luas. Pendidikan Multibudaya didefinisikan sebagai sebuah kebijakan sosial yang didasarkan pada prinsipprinsip pemeliharaan budaya dan saling memiliki rasa hormat antara seluruh kelompok budaya di dalam masyarakat. Pembelajaran Multibudaya pada dasarnya merupakan program pendidikan bangsa agar komunitas

multikultural dapat berpartisipasi dalam mewujudkan kehidupan demokrasi yang ideal bagi bangsanya (Akhmadi. A. 2013). Dalam konteks yang luas, pendidikan Multibudaya mencoba membantu menyatukan bangsa secara demokratis, dengan menekankan pada perspektif pluralitas masyarakat di berbagai bangsa, etnik, kelompok budaya yang berbeda. Dengan demikian sekolah dikondisikan untuk mencerminkan praktik dari nilai-nilai demokrasi. Kurikulum menampakkan aneka kelompok budaya yang berbeda dalam masyarakat, bahasa, dan dialek; dimana para pelajar lebih baik berbicara tentang rasa hormat di antara mereka dan menunjung tinggi nilai-nilai kerjasama, dari pada membicarakan persaingan dan prasangka di antara sejumlah pelajar yang berbeda dalam hal ras, etnik, budaya dan kelompok status sosialnya.

Pembelajaran berbasis Multibudaya didasarkan pada gagasan filosofis tentang kebebasan, keadilan, kesederajatan dan perlindungan terhadap hakhak manusia. Hakekat pendidikan multikultural mempersiapkan seluruh siswa untuk bekerja secara aktif menuju kesamaan struktur dalam organisasi dan lembaga sekolah. Pendidikan Multibudaya bukanlah kebijakan yang mengarah pada pelembagaan pendidikan dan pengajaran inklusif dan pengajaran oleh propaganda pluralisme lewat kurikulum yang berperan bagi kompetisi budaya individual. Pembelajaran berbasis Multibudaya berusaha memberdayakan siswa untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberi kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda etnis atau rasnya secara langsung. Pendidikan Multibudaya juga membantu siswa untuk mengakui ketepatan dari pandangan-pandangan budaya yang beragam, membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka, menyadarkan siswa bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok masyarakat. Pendidikan Multibudaya diselenggarakan dalam upaya

mengembangkan kemampuan siswa dalam memandang kehidupan dari berbagai perspektif budaya yang berbeda dengan budaya yang mereka miliki, dan bersikap positif terhadap perbedaan budaya, ras, dan etnis. Pengertian multibudaya sangat beragam, kemudian konsep dan prakteknya cenderung berkembang, maka Parekh (1997) membedakan Multibudaya ke dalam lima macam, yaitu: 1. Multibudaya isolasionis, mengacu kepada kehidupan masyarakat dimana berbagai kelompok kultural yang menjalankan kehidupaannya secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain. Contoh-contoh kelompok seperti ini adalah masyarakat yang ada pada sistem millet di Turki Usmani atau masyarakat Amish di Amerika Serikat. Kelompok ini menerima keragaman, tetapi pada saat yang sama berusaha mempertahankan budaya mereka secara terpisah dari masyarakat lain umumnya.

2.

Multibudaya akomodatif, dalam masyarakat yang plural, mereka yang memiliki kultur dominan membuat penyesuaian-penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultural kaum minoritas. Masyarakat multikultural akomodatif merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan mereka; sebaliknya kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multibudaya akomodatif ini dapat ditemukan di I nggris, Prancis, dan beberapa negara Eropa lain.

3.

Multibudaya otonomis, yakni masyarakat plural di mana kelompok kelompok kultural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Concern pokok kelompok-kelompok kultural terakhir ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok kultural dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat di mana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar. Jenis multibudaya didukung misalnya oleh kelompok Quebecois di Kanada, dan kelompok-kelompok Muslim imigran di Eropa, yang menuntut untuk bisa menerapkan syari`ah, mendidik anak -anak mereka pada sekolah Islam, dan sebagainya.

4.

Multibudaya kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural di mana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu concern dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih menuntut penciptaan kultur kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka. Kelompok budaya dominan tentu saja cenderung menolak tuntutan ini, dan bahkan berusaha secara paksa untuk menerapkan budaya dominan mereka dengan mengorbankan budaya kelompok-kelompok minoritas. Karena itulah kelompok-kelompok minoritas menantang kelompok kultur dominan, baik secara intelektual maupun politis, dengan tujuan menciptakan iklim yang kondusif bagi penciptaan secara bersama-sama

sebuah kultur kolektif baru yang egaliter secara genuine. Jenis Multibudaya seperti ini, sebagai contoh, diperjuangkan masyarakat kulit Hitam di Amerika Serikat, Inggris dan lain-lain. 5. Multibudaya kosmopolitan, yang berusaha menghapuskan batas batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat dan committed kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam eksperimen-eksperimen.

2.2 Latar Belakang Timbulnya Multibudaya di Indonesia Dalam sejarahnya, pendidikan multikultural sebagai sebuah konsep atau pemikiran tidak muncul dalam ruangan kosong, namun ada interes politik, sosial, ekonomi dan intelektual yang mendorong kemunculannya Secara generik, pendidikan multikultural memang sebuah konsep yang dibuat dengan tujuan untuk menciptakan persamaan peluang pendidikan bagi semua siswa yang berbeda-beda ras, etnis, kelas sosial dan kelompok budaya. Salah satu tujuan penting dari konsep pendidikan multikultural adalah untuk membantu semua siswa agar memperoleh pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan dalam menjalankan peran-peran seefektif mungkin pada masyarakat demokrasipluralistik serta diperlukan untuk berinteraksi, negosiasi, dan komunikasi dengan warga dari kelompok beragam agar tercipta sebuah tatanan masyarakat bermoral yang berjalan untuk kebaikan bersama (Tilaar, H.A.R. 2004). Negara bangsa Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok-kelompok etnis, budaya, agama dan lain-lain. Hefner mengilustrasikan Indonesia sebagaimana juga Malaysia dan Singapura memiliki warisan dan tantangan multikulturalisme budaya (cultural multiculturalism) secara lebih mencolok, sehingga dipandang sebagai lokus klasik bagi bentukan baru masyarakat multikultur (cultural society). Kemultikulturan masyarakat Indonesia paling tidak dapat dilihat dari dua cirinya yang unik, yaitu secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan, dan secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Kondisi tersebut tergambar dalam prinsip bhinneka tunggal ika, yang

berarti meskipun Indonesia adalah berbeda-beda, tetapi terintegrasi dalam kesatuan. Namun demikian, pengalaman Indonesia sejak masa awal kemerdekaan, khususnya pada masa demokrasi terpimpin Presiden Soekarno dan masa Orde Baru Presiden Soeharto memperlihatkan kecenderungan kuat pada politik monokulturalisme (Tilaar, H.A.R. 2004). Wacana multikulturalisme Indonesia yang semakin mendapat tempat dalam masyarakat Indonesia disebabkan oleh beberapa kondisi, yang Pertama, desentralisasi mendorong ditingkatkannya batas-batas identitas kebudayaan di Indonesia, baik identitas etnik, agama maupun golongan. Integrasi sosial dan nasional mendapat tantangan besar dari perubahan yang terjadi. Kedua, desentralisasi politik masa kini sangat kurang memperhatikan dimensi kebudayaan. Keputusan untuk melaksanakan desentralisasi lebih pada keputusan politik oleh para elit politik partai ketimbang mempertimbangkan dimensi kebudayaan yang sesungguhnya sangat mendasar dan penting. Ketiga, ketika batas-batas kebudayaan itu semakin nyata dan tajam, dan orientasi primordialisme mulai memicu konflik yang tajam antar etnik, agama, dan golongan, dan gejala ini dikuatirkan mengancam integrasi bangsa, para elit politik tergesa-gesa mencari obat penawarnya, mencari strategi untuk membangun kembali integrasi bangsa dan kebudayaan mulai diperhatikan (Banks, James. 1993). Berkaitan dengan beberapa kondisi di atas, bangunan Indonesia Baru dari hasil reformasi adalah sebuah masyarakat multikultural Indonesia. Berbeda dengan masyarakat majemuk yang menunjukkan keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaan suku bangsa, multikulturalisme dikembangkan dari konsep pluralisme budaya dengan menekankan pada kesederajatan kebudayaan yang ada dalam sebuah masyarakat. Multikulturalisme ini mengusung semangat untuk hidup berdampingan secara damai (peaceful co-existence) dalam perbedaan kultur yang ada baik secara individual maupun secara kelompok dan masyarakat. Individu dalam hal ini dilihat sebagai refleksi dari kesatuan sosial dan budaya di mana mereka menjadi bagian darinya. Dengan demikian, corak masyarakat Indonesia yang bhinneka tunggal ika bukan lagi keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaannya tetapi keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia (Tilaar, H.A.R. 2002)

Beberapa aspek yang menjadi kunci dalam melaksanakan pendidikan multikultural dalam struktur sekolah adalah tidak adanya kebijakan yang menghambat toleransi, termasuk tidak adanya penghinaan terhadap ras, etnis dan jenis kelamin. Juga, harus menumbuhkan kepekaan terhadap perbedaan budaya, di antaranya mencakup pakaian, musik dan makanan kesukaan. Selain itu, juga memberikan kebebasan bagi anak dalam merayakan hari-hari besar umat beragama serta memperkokoh sikap anak agar merasa butuh terlibat dalam pengambilan keputusan secara demokratis (Tilaar, H.A.R. 2002).

2.3 Masalah-Masalah yang Timbul Dalam Pembelajaran Multibudaya Dalam Pembelajaran Sains Di Mancanegara a. Problem Pendidikan Multikultural di Indonesia Problema pendidikan multicultural di Indonesia memiliki keunikan yang tidak sama dengan problema yang dihadapi oleh negara lain.Problem ini mencakup hal-hal kemasyarakatan yang akan dipecahkan dengan Pendidikan Multikultural dan problem yang berkaitan dengan pembelajaran berbasis budaya. b. Problema kemasyarakatan penyebab munculnya konflik budaya adalah : a. Keragaman Identitas Budaya Daerah Keragaman ini menjadi modal sekaligus potensi konflik. Keragaman budaya daerah dapat memperkaya khasanah budaya dan menjadi modal membangun Indonesia multicultural. Namun kondisi aneka budaya itu sangat berpotensi memecah belah dan menjadi lahan subur bagi konflik dan kecemburuan sosial. b. Pergeseran Kekuasaan dari Pusat ke Daerah Sejak dilanda arus reformasi dan demokratisasi, terjadilah pergeseran kekuasaan dari pusat ke daerah yang membawa dampak besar terhadap pengakuan budaya local dan keragamannya. c. Kurang kokohnya nasionalisme keragaman budaya ini membutuhkan adanya kekuatan yang menyatukan seluruh pluralisme negeri ini. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, kepribadian nasional dan ideologi negara merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi dan berfungsi sebagai integrating force.Saat ini Pancasila kurang

10

mendapat perhatian dan kedudukan yang semestinya sejak isu kedaerahan semakin semarak. d. Fanatisme sempit Fanatisme dalam arti luas memang diperlukan. Namun yang salah adalah fanatisme sempit menganggap bahwa kelompoknyalah yang paling benar. Paling baik dan kelompok lain harus dimusuhi.Gejala fanatisme sempit yang banyak menimbulkan korban ini banyak terjadi di tanah air ini. e. Konflik kesatuan nasional dan multicultural Ada konflik yang menarik antara kepentingan kesatuan nasional dengan gerakan multicultural. Di satu sisi ingin mempertahankan kesatuan bangsa dengan berorientasi pada stabilitas nasinal dan adanya yang ingin memisahkan diri dari kakuasaan pusat dengan dasar pembenaran budaya. f. Kesejahteraan ekonomi yang tidak merata Keterlibatan orang dalam berbagai peristiwa detruktif yang marak terjadi di tanah air ini karena orang mengalami tekanan di bidang ekonomi. g. Keberpihakan yang salah dari media massa, khususnya tv swasta dalam

memberitakan peristiwa (Wati, W. 2009).

Permasalahan yang bisanya muncul dalam pembelajaran multikultural sains 1. Pengajar terkadang terlalu terfokus pada pelajaran sains tapi tidak memperhatikan pelajaran multikulturalnya 2. Tidak semua buku handout sains mencakup pembelajaran multikultural sains 3. Tidak semua materi pembelajaran sains bisa menggunakan pembelajaran multikultural sains. 4. Pengajar sulit menerapkan pembelajaran multikultural karena kurangnya pemahaman tentang pembelajaran yang multikultural. 5. Perbedaan multibudaya menyebabkan pemahaman sains tiap pembelajar berbeda 6. Perbedaan bahasa seringkali menjadi penyebab ambigiutas dalam sains apalagi di mancanegara yang harus menggunakan bahasa Internasional dan tidak semua orang bisa (Rifai. dkk. 2009)

11

2.4 Solusi untuk Mengatasi Masalah-Masalah dalam Pembelajaran Multibudaya Indonesia sebagai negara yang dihuni oleh masyarakat multikultural ditunjukkan antara lain dengan: (1) terdapat lebih dari 700 bahasa yang digunakan sehari-hari oleh setiap kelompok masyarakatnya; dan (2) memiliki penduduk berbeda agama yang terdiri atas islam, kristen, katolik, hindu, dan budha. Keberagaman masyarakat indonesia dituangkan dalam moto nasional "bhinneka tunggal ika" (unity in diversity). Moto tersebut melambangkan segala perbedaan kultural sebagai dasar kebijakan, doktrin, filosofis, ideologis, dan realitas sejak awal pembentukan bangsa dan negara Indonesia (Rehardja, S. 2011). Dalam pembelajaran sains banyak masalah yang ditimbulkan seperti yang telah diungkapkan di atas. Berkaitan dengan hal tersebut, pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur dan ras. Strategi pendidikan ini tidak hanya bertujuan agar siswa mudah mempelajari pelajaran yang dipelajarinya, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran mereka agar selalu berperilaku humanis, pluralis dan demokratis (Rehardja, S. 2011). Berikut adalah cara menyelesaikan masalah multibudaya melalui pendidikan multikultural: Content-Oriented Programs: Program ini merupakan hal yang paling umum dikenal dan menekankan pada materi yang berkaitan dengan multikultural. Tujuan utamanya yaitu mengintegrasikan materi tentang kelompok cultural yang berbeda-beda yang dikaitkan dalam pembelajaran sains dalam kurikulum dan buku pelajaran untuk meningklatkan pengetahuan peserta didik tentang kelompok cultural. Student-Oriented Programs: Program ini ini memperhatikan kelompok siswa minoritas, karena pendidikan multikultural merupakan suatu upaya untuk merefleksikan tumbuhnya Socially-Oriented Programs:

12

Program ini mempunyai dampak yang cukup luas dalam peningkatan toleransi budaya dan rasial dan mengurangi bias kedua hal tersebut (Ramli, R. 2010). Ada beberapa Oreintasi yang seharunya dibangun dan diperhatikan antara lain meliputi: 1. Orientasi kemanusiaan. Kemanusian atau humanisme merupakan sebuah nilai kodrati yang menjadi landasan sekaligus tujuan pendidikan. Kemanusian besifat universal, global, diatas semua suku, aliran, ras, golongan dan agama. 2. Orientasi kebersamaan. Kebersamaan atau kooperativisme merupakan sebuah nilai yang sangat mulia dalam masyarakat yang plural dan heterogen. Kebersamaan yang hakiki juga akan membawa kepada kedamaian yang tidak ada batasannya. 3. Orientasi kesejahteraan. Kesejahteraan atau welvarisme merupakan suatu kondisi sosial yang menjadi harapan semua orang. Kesejahteraan selama ini hanya dijadikan sebagai slogan kosong. Kesejahteraan sering diucapkan, akan tetapi tidak pernah dijadikan orientasi oleh siapapun. Konsistensi terhadap sebuah orientasi harus dibuktikan dengan prilaku menuju pada terciptanya kesejahteraan masyarakat. 4. Orientasi propesional. Propesional merupakan sebuah nilai yang dipandang dari aspek apapun adalah sangat tepat. Tepat landasan, tepat proses, tepat pelaku, tepat ruang, tepat waktu, tepat anggaran, tepat kualitatif, tepat kuantitatif, dan tepat tujuan. 5. Orientasi mengakui pluralitas dan heterogenitas. pluralitas dan

heterogenitas merupakan sebuah kenyataan yang tidak mungkin ditindas secara fasis dengan memunculkan sikap fanatisme terhadap sebuah kebenaran yang diyakini oleh orang banyak. 6. Orientasi anti hegemoni dan anti dominasi. hegemoni dan dominasi hegemoni adalah dua istilah yang sangat populer bagi kaum tertindas (Mania, 2000).

13

Cara menyelesaikan masalah multibudaya di pembelajaran sains di mancanegara: Menyadari arti penting dalam pendidikan multikultural yang terfokus pada berbagai macam perbedaan dalam ras, kesukuan, tingkatan sosialekonomi, jender, agama, dan kekhususan atau keunikan individu. Sekolah harus mempertimbangkan pada pendekatan khsusus dalam merancang pendidikan multikultural. Guru harus mengatur dan mengorganisir isi, proses, situasi, dan kegiatan sekolah secara multikultur, tiap siswa dari berbagai suku, jender, ras, berkesempatan untuk mengembangkan dirinya dan saling menghargai perbedaan itu. Guru perlu menekankan diversity dalam pembelajaran, antara lain dengan1) mendiskusikan sumbangan aneka budaya dan orang dari suku lain dalam hidup bersama sebagai bangsa; dan 2) mendiskusikan bahwa semua orang dari budaya apa pun ternyata juga menggunakan hasil kerja orang lain dari budaya lain. Dalam pengelompokan siswa di kelas mapun dalam kegiatan di luar kelas guru diharapkan memang melakukan keanekaan itu. Usaha untuk mengembangkan sikap penghargaan ini masih panjang, terlebih karena kadang ada kecurigaan terhadap budaya lain (Rooshardini, 2011). Berusaha mengerti keragaman budaya daerah. Menggunakan bahasa latin/ ilmiah untuk menyamakan istilah-istilah dalam pembelajaran sains (Ramli, R. 2010). Memperkokoh nasionalisme dan toleransi antar siswa dalam pembelajaran sains Menghargai pendapat siswa yang berbeda etnis Terdapat patokan permisalan dan satuan internasional Terdapat kesepakatan internasional misalnya melalui KITT Keanekaragaman budaya dan keunikan sains. Ini dianggap sebagai suatu yang istimewa bila kita melakukan proses integrasi di dalam kegiatan pengajarannya. Di dalam menentukan tujuan-tujuan pembelajaran, metode dan pendekatan, serta penilaian-penilaian, selayaknya prinsip-prinsip pendidikan multikultural harus benar-benar diterapkan oleh pengajar.

14

Sebagai contoh, pengajar yang kurang memahami prinsip pendidikan multikultural maka penilaian yang dilaksanakan akan kurang efektif ketika mengobservasi pola interaksi dan kerjasama di dalam kelompok tanpa memperhatikan kultur yang beragam. Setiap budaya akan menampilkan cirinya masing-masing, dan ini yang harus terlebih dahulu dipahami oleh pengajar sebelum menilai. Selain aspek penilaian, penetapan aspek tujuan pembelajaran, metode dan pendekatan sangat tergantung pada pemahaman seorang pengajar terhadap latar belakang budaya peserta belajar (Hanum, F. 2011). Selain itu ada faktor penting yang harus berperan untuk mengatasi masalah multikultural siswa yaitu peran orangtua dalam menanamkan nilai-nilai yang lebih responsive multikultural dengan mengedepankan penghormatan dan pengakuan terhadap perbedaan yang ada di sekitar lingkungannya (agama, ras, golongan) terhadap anak atau anggota keluarga yang lain. Serta didalam keluarga, orang tua juga menanamkan dan memberi contoh perilaku agar kita bisa mencintai, menjaga, ,memahami dan melestarikan rasa kebudayaan, ras, agama, bahasa yang beraneka ragam yang kita miliki.

15

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 1. Pendidikan Multibudaya adalah suatu sikap dalam memandang keunikan manusia dengan tanpa membedakan ras, budaya, jenis kelamin, seks, kondisi jasmaniah atau status ekonomi seseorang. 2. Latar belakang munculnya pendidikan multukultura adalah perbedaan sejumlah besar kelompok-kelompok etnis, budaya, agama dan lain-lain. 3. Masalah dalam pembelajaran multikultural dalam sains di mancanegra diantaranya pengajar sulit menerapkan pembelajaran multikultural karena kurangnya pemahaman tentang pembelajaran yang multicultural, erbedaan multibudaya menyebabkan pemahaman sains tiap pembelajar berbeda, perbedaan bahasa seringkali menjadi penyebab ambigiutas dalam sains apalagi di mancanegara yang harus menggunakan bahasa Internasional dan tidak semua orang bisa 4. Cara menyelesaikan masalah multibudaya di pembelajaran sains di mancanegara adalah menyadari arti penting dalam pendidikan multikultural yang terfokus pada berbagai macam perbedaan dalam ras, kesukuan, tingkatan sosial-ekonomi, jender, agama, dan kekhususan atau keunikan individu dan menguasai bahasa Internasional 3.2 Saran 1. Bagi Mahasiswa agar memahami pembelajaran multikultural yang lebih menekankan pentingya toleransi antar siswa 2. Bagi guru atau dosen agar dapat mengatasi permasalahan multikultural dalam pembelajaran sains bahkan yang mencangkup mancanegara.

16

Daftar Rujukan

Akhmadi. A. 2013. Pendidikan Multikultural. Online. (http//www.Bdksurabaya.kemenag.go.id).diakses pada tanggal 19 Oktober 2013 Banks, James. 1993. Multicultural Eeducation: Historical Development,Dimension, and Practice. Review of Research in Education. online.(http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=we b&cd=1&cad=rja&ved=0CCgQFjAA&url=http%3A%2F%2F.%2Findex .php%2Fjpmis%2Farticle%2Fdownload%2F962%2Fpdf&ei=2CQUvGa H8iUrgf6koDoBA&usg=AFQjCNG5LRCt1EzkBT5VKEAbAMvq3yC8 QA&bvm=bv.52434380,d.bmk).20 Oktober 2013 Parekh, Bikhu, (1997), National Culture and Multiculturalism, http://catalogue. nla. gov.au/Record/72038#details. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2013 Hanum, F. 2011. Konflik Dalam Perspektif Pendidikan Multikultural. Online. (http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/ Konflik Dalam Perspektif Pendidikan Multikultural.pdf). di akses tanggal 19 Oktber 2013 Mania, 2000. Implementasi Pendidikan Multikultural dalam Pembelajaran. Online (http://ejurnal.uinalauddin.ac.id/artikel/06%20Pendidikan%20Multikultural%20 20Sitti%20Mania.pdf). Di akses tanggal 19 oktober 2013 Ramli, Ranum. 2010. Analisis Substansi Pendidikan Multikultural Sains di buku pelajaran Biologi untuk SMA. Online. (http://www.gobookee.org/get_book.php?u=aHR0cDovL3NpcHBlbmRp ZGlrYW4ub3JnL2ZpbGVfdXBsb2FkLzAxLkFydGlrZWwlMjA3JTIwR mViJTIwMjAxMSUyMEhlcm1hbmElMjAtJTIwS29uZmxpayUyMGRs bSUyMCUyMFBlcnNwZWslMjBQZW5kZCUyME11bHRpa3VsLnBkZ gpLb25mbGlrIERhbGFtIFBlcnNwZWt0aWYgUGVuZGlkaWthbiBNd Wx0aWt1bHR1cmFs). Di akses tanggal 19 oktober 2013 Rehardja, S. 2011. Need Assessment untuk Pengembagan Model Pembelajaran Multikultural di Sekolah Dasar Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Online. (http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/needasessmenmultikultural.p df). Di akses tanggal 19 oktober 2013 Rifai, Achmad dan Tri Anni, Catharina. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang: Unnes Press. Rooshardini, 2011. Mengintegrasikan Pendidikan Multikultural dan Karakter dalam Pembelajaran Fisika. Online. (http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/ Mengintegrasikan Pendidikan Multikultural dan Karakter dalam Pembelajaran Fisika.pdf). di akses tanggal 19 Oktober 2013 Tilaar, H.A.R. 2004. Multikulturalisme, Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo.

17

Tilaar, H.A.R. 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Paedagogik Transformatif Untuk Indonesia. Jakarta: Grasindo. Wati, widya. 2009. Makalah Strategi Pembelajaran Teori Belajar dan Pembelajaran . Online. (http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/24/teoribelajar-humanisme-406226.html) . di akses tanggal 20 Oktober 2013.

18