Anda di halaman 1dari 19

2.

Data Tutorial Tutorial 4 Blok 20 Skenario C Kegawatdaruratan Pediatri

Tutor Waktu Moderator Sekretaris Meja

: dr. Indra Sakti Nasution, Sp.F : 08 dan 10 Oktober 2013 : Anggrian Iba : N. Novi Kemala Sari

Sekretaris Papan : Reza Tiara Putri Rule Tutorial : 1. Alat komunikasi dinonaktifkan 2. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan pendapat 3. Berbicara yang sopan dan penuh tata karma.

2.2

Skenario Kasus B blok XX

Rizka, bayi perempuan, berusia 3 tahun dengan berat badan 15 kg dibawa ibunya ke Puskesmas Plaju karena kaki tangannya dingin seperti es, tampak lesu dan mata cekung. Rizka sudah tidak BAK sejak 12 jam yang lalu. Sejak 3 hari yang lalu Rizka BAB cair frekuensi 7-10 x/hari dengan jumlah - gelas belimbing dalam 1 kali BAB, konsistensi cair, darah dan lendir tidak ada dan dibawa ibunya berobat ke bidan tapi tidak ada perubahan. Pemeriksaan Fisik : Keadaan Umum : kesadaran apatis, nadi filiformis, frekuensi napas : 40x/menit, capillary refilled time >3 detik Keadaan Spesifik : Kulit : kutis marmorata, teraba dingin dan turgor kembali sangat lambat Kepala : mata cekung, mukosa bibir dan mulut kering Dari hasil pemeriksaan diatas, Dokter Puskesmas tersebut akan melakukan tindakan pertolongan pertama yaitu memposisikan anak dalam posisi hirup kemudian saat akan memberikan cairan resusitasi, akses vena sulit didapat.

2.3

Data Seven Jump

2.3.1 Klarifikasi Istilah 1. Apatis adalah keadaan tidak ada perasaan atau emosi atau ketidakacuan 2. Posisi hirup adalah posisi kepala dengan semi ekstensi untuk perbaikan jalan nafas 3. Cutis marmorata adalah bercak bercak kemerahan yang menyerupai lingkaran/ bulat kemerahan pada badan dan tangan secara simetris 4. Nadi filiformis adalah pembuluh darah berbentuk benang- benang kecil karena kurangnya aliran darah ke perifer 5. Capillary refilled time adalah waktu pengisian kembali pembuluh darah kapiler 6. Mata cekung adalah suatu keadaan yang menandakan dehidrasi 7. Turgor adalah keadaan menjadi turgid bengkak dan tersumbat

2.3.2. Identifikasi Masalah 1. Rizka, bayi perempuan, berusia 3 tahun dengan berat badan 15 kg dibawa ibunya ke Puskesmas Plaju karena kaki tangannya dingin seperti es, tampak lesu dan mata cekung. Rizka sudah tidak BAK sejak 12 jam yang lalu. 2. Sejak 3 hari yang lalu Rizka BAB cair frekuensi 7-10 x/hari dengan jumlah - gelas belimbing dalam 1 kali BAB, konsistensi cair, darah dan lendir tidak ada dan dibawa ibunya berobat ke bidan tapi tidak ada perubahan. 3. Pemeriksaan Fisik : Keadaan Umum : kesadaran apatis, nadi filiformis, frekuensi napas : 40x/menit, capillary refilled time >3 detik 4. Keadaan Spesifik : Kulit : kutis marmorata, teraba dingin dan turgor kembali sangat lambat Kepala : mata cekung, mukosa bibir dan mulut kering Dari hasil pemeriksaan diatas, Dokter Puskesmas tersebut akan melakukan tindakan pertolongan pertama yaitu memposisikan anak dalam posisi hirup kemudian saat akan memberikan cairan resusitasi, akses vena sulit didapat.

2.3.3. Analisis Masalah 1. a. apa makna kaki tangan dingin seperti es, tampak lesu dan mata cekung? Jawab : Kaki tangan dingin seperti es, tampak lesu, mata cekung merupakan tanda telah mengalami syok. Syok adalah sindroma klinis akibat kegagalan sirkulasi dalam mencukupi kebutuhan oksigen jaringan tubuh. Derajat syok 1. Syok Ringan Penurunan perfusi hanya pada jaringan dan organ non vital seperti kulit, lemak, otot rangka, dan tulang. Jaringan ini relatif dapat hidup lebih lama dengan perfusi rendah, tanpa adanya perubahan jaringan yang menetap (irreversible). Kesadaran tidak terganggu, produksi urin normal atau hanya sedikit menurun, asidosis metabolik tidak ada atau ringan. 2. Syok Sedang Perfusi ke organ vital selain jantung dan otak menurun (hati, usus, ginjal). Organ-organ ini tidak dapat mentoleransi hipoperfusi lebih lama seperti pada lemak, kulit dan otot. Pada keadaan ini terdapat oliguri (urin kurang dari 0,5 mg/kg/jam) dan asidosis metabolik. Akan tetapi kesadaran relatif masih baik. 3. Syok Berat (Pada kasus) Perfusi ke jantung dan otak tidak adekuat. Mekanisme kompensasi syok beraksi untuk menyediakan aliran darah ke dua organ vital. Pada syok lanjut terjadi vasokontriksi di semua pembuluh darah lain. Terjadi oliguri dan asidosis berat, gangguan kesadaran dan tanda-tanda hipoksia jantung (EKG abnormal, curah jantung menurun).

Derajat Dehidrasi Menurut WHO


Gejala Tanpa dehidrasi atau dehidrasi minimal (penurunan berat badan <3% ) compos mentis Derajat dehidrasi Dehidrasi ringan sampai sedang (penurunan berat badan 39%) tampak lemas, mudah marah tampak haus, rasa ingin minum tinggi agak meningkat Dehidrasi berat (penuruan berat badan >9)

kesadaran

haus denyut jantung

Minum seperti biasa Normal

Apathetic, lethargic, unconscious, apatis, letargis, koma tidak bisa minum takikardi, bradikardi pada beberapa kasus berat Melemah sampai tidak teraba dalam Sangat cowong Tidak keluar air mata Sangat kering kembali>2 Memanjang dan minimal Dingin, kebiruan Sangat sedikit

tekanan nadi pernapasan mata air mata Mukosa mulut dan lidah turgor kulit Waktu pengisian kapiler Extremities Urin output

Normal Normal Normal Keluar air mata lembab Kembali cepat Normal hangat normal

Agak melemah Cepat Agak cowong Keluar sedikit air mata kering kembali <2 memanjang Agak dingin Berkurang

Jadi rizka mengalami dehidrasi berat (penurunan berat badan > 9%) Tahapan Syok Keadaan syok akan melalui tiga tahapan mulai dari tahap kompensasi (masih dapat ditangani oleh tubuh), dekompensasi (sudah tidak dapat ditangani oleh tubuh), dan ireversibel (tidak dapat pulih). Tahap kompensasi adalah tahap awal syok saat tubuh masih mampu menjaga fungsi normalnya. Tanda atau gejala yang dapat ditemukan pada tahap awal seperti kulit pucat, peningkatan denyut nadi ringan, tekanan darah normal, gelisah, dan pengisian pembuluh darah yang lama. Gejala-gejala pada tahap ini sulit untuk dikenali karena biasanya individu yang mengalami syok terlihat normal. Tahap dekompensasi dimana tubuh tidak mampu lagi mempertahankan fungsi-fungsinya. Yang terjadi adalah tubuh akan berupaya menjaga organ-organ vital yaitu dengan mengurangi aliran darah ke lengan, tungkai, dan perut dan mengutamakan aliran ke otak, jantung, dan paru. Tanda dan gejala yang dapat ditemukan diantaranya adalah rasa haus yang

hebat, peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, kulit dingin, pucat, serta kesadaran yang mulai terganggu. Tahap ireversibel dimana kerusakan organ yang terjadi telah menetap dan tidak dapat diperbaiki. Tahap ini terjadi jika tidak dilakukan pertolongan sesegera mungkin, maka aliran darah akan mengalir sangat lambat sehingga menyebabkan penurunan tekanan darah dan denyut jantung. Mekanisme pertahanan tubuh akan mengutamakan aliran darah ke otak dan jantung sehingga aliran ke organ-organ seperti hati dan ginjal menurun. Hal ini yang menjadi penyebab rusaknya hati maupun ginjal. Walaupun dengan pengobatan yang baik sekalipun, kerusakan organ yang terjadi telah menetap dan tidak dapat diperbaiki.

b. apa makna tidak BAK sejak 12 jam yang lalu? c. bagaimana berat badan normal anak usia 3 tahun dan cara menghitungnya? Jawab : Berat badan ideal = (umurx2) + 8 = (3x2) +8 = 14kg Menurut kurva NCHS 14,5kg d. bagaimana normal frekuensi BAK pada anak- anak? Jawab : Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekskresi melalui traktus urinarius merupakan proses output cairantubuh yang utama. Jumlah volume urin pada manusia normalnya 1- 2 cc/kg/jam Jadi pada kasus, rizka memiliki berat 15 kg jumlah volume urin normalnya adalah 1530cc/kg/jam

e. apa saja kemungkinan penyebab dari gejala yang dialami Rizka?

Jawab : Penyebab syok hipovolemik - Perdarahan - Kehilangan plasma (misal pada luka bakar) - dehidrasi misal karena diare, muntah, obstruksi usus, dan lain-lain

f. bagaimana mekanisme keluhan pada kasus?

2. a. apa makna sejak 3 hari yang lalu Rizka BAB cair frekuensi 7-10x/hari dengan jumlah - gelas belimbing dalam 1 kali BAB, konsistensi cair, darah dan lendir tidak ada? Jawab : mengalami diare akut

b. bagaimana frekuensi dan konsistensi normal dari BAB pada anak? Jawab : Diare adalah buang air besar (defekasi ) dengan tinja, berbentuk cairan atau setengah cairan ( setengah padat ),dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya ( normal 100 200 ml per jam tinja ). Menurut Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Diare adalah buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila frekuensinya lebih dari 3 kali.

c. apa saja klasifikasi feses? d. apa kemungkinan penyebab keluhan BAB rizka? Jawab : 1. Infeksi atau Investasi Parasit Bakteri, virus, dan parasit yang sering ditemukan:

Vibrio cholerae, E. coli, Salmonella, Shigella, Compylobacter, Aeromonas. Enterovirus (Echo, Coxsakie, Poliomyelitis), Adenovius, Rotavirus, Astovirus. Beberapa cacing antara lain: Ascaris, Trichurius, Oxyuris, Strongyloides, Protozoa seperti Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Tricomonas hominis.

Gastroenteritis yang disebabkan oleh virus berlangsung selama satu sampai dua hari. Sementara itu, gastroenteritis yang disebabkan oleh bakteri berlangsung dalam periode yang lebih lama. 2. 3. Jamur (Candida albicans) Infeksi diluar saluran pencernaan yang dapat menyebabkan Gastroenteritis adalah Encephalitis (radang otak), OMA (Ortitis Media Akut radang dikuping), Tonsilofaringitis (radang pada leher tonsil), Bronchopeneumonia (radang paru). 4. Perubahan udara Perubahan udara sering menyebabkan seseorang merasakan tidak enak dibagian perut, kembung, diare dan mengakibatkan rasa lemas, oleh karena cairan tubuh yang terkuras habis. Radang pada saluran cerna dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh, diare dengan berbagai macam komplikasi yaitu dehidrasi, baik ringan, sedang atau berat. Selain itu diare juga menyebabkan berkurangnya cairan tubuh (Hipovolemik), kadar Natrium menurun (Hiponatremia), dan kadar gula dalam tubuh turun (Hipoglikemik), sebagai akibatnya tubuh akan bertambah lemas dan tidak bertenaga yang dilanjutkan dengan penurunan kesadaran, bahkan dapat sampai kematian.

e. bagaimana mekanisme dari BAB pada kasus? f. apa hubungan dari BAB dengan keluhan kaki tangan dingin seperti es, tampak lesu, mata cekung, dan tidak BAK sejak 12 jam yang lalu? g. apa dampak BAB yang berlebihan pada tubuh rizka? Jawab : Akibat diare dan kehilangan cairan serta elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut : 1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat,Hipotonik,isotonic,atau hipertonik )

2. Syok hypovolemik 3. Hipokalemia (gejala : meteorismus, Hipotoni, Otot lemah, dan Bradikardi ) 4. Intoleransi sekunder akibat kerusakan villi mukosa usus dan defisiensi enzim lactose. 5. Kejang terjadi pada dehidrasi hipertonik 6. Malnutrisi energi protein (akibat muntah dan diare jika lama atau kronik ) 7. Hipoglikemia

h. mengapa rizka tidak sembuh setelah di bawa ke bidan? i. apa bidan berkompetensi dalam menangani kasus ini?

3. a. Apa interpretasi dan mekanisme dari pem.fisik? jawab : Keadaan Umum : kesadaran apatis, nadi filiformis, frekuensi napas : 40x/menit, capillary refilled time >3 detik Interpretasi Apatis: Penurunan kesadaran, keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh. infeksi sekunder serotive virus virus bebas bereplikasi di dalam sel makrofag terbentuk kompleks virus antigen antibody peningkatan permeabilitas kapiler perembesan plama intravascular ke ekstravaskular hipovolemia curah jantung CO aktivasi simpatis pengeluaran epinefrin Aliran darah perifer peningkatan aliran darah ke sentral gagal hipoksia pada otak gelisah (apatis).

Makna: Tanda syok, menunjukkan perfusi jaringan yang tidak adekuat, dalam keadaan syok dilakukan kompensasi pada tubuh dengan dilakukannya vasokonstriksi perifer sehingga terjadi penurunan kekuatan nadi dan isi pada perifer.

Mekanisme:

infeksi sekunder serotive virus virus bebas bereplikasi di dalam sel makrofag terbentuk kompleks virus antigen antibody peningkatan permeabilitas kapiler perembesan plama intravascular ke ekstravaskular hipovolemia curah jantung CO aktivasi simpatis pengeluaran epinefrin vasokontriksi perifer aliran darah perifer perfusi jaringan nadi filiformis

Takipnue, adanya usaha untuk memperoleh O2 lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan O2 di organ vital (otak, jantung) sebagai kompensasi dari syok hipovolemik sebagai vasokontriksi pembuluh darah (normalnya 20-30 x/menit untuk usia 2-5 tahun, menurut kriteria WHO untuk > 12 bulan RR >40 x/menit didiagnosis sebagai takipnue) Capillary refill >3 detik : tidak normal

b. bagaimana cara pemeriksaan Capillary refill? Penekanan pada ujung jari Dihitung sampai 4 detik 4. a. apa interpretasi dan mekanisme dari pem.spesifik? jawab : Kulit : kutis marmorata, teraba dingin dan turgor kembali sangat lambat Interpretasi : abnormal menandakan syok. Permeabilitas vaskular meningkatkebocoran plasma dari vaskular ke jaringan ikat (intravaskular ke ekstravaskular) jaringan perifer akral dingin penurunan suhu di perifer akral dingn penurunan suhu di perifer cutis marmorata Kepala : mata cekung, mukosa bibir dan mulut kering Interpretasi : abnormal. Tanda tanda dehidrasi Penurunan perfusi ke jaringan mukosa kering, mata cekung b. apa penyebab akses vena sulit didapat?

Jawab : Karena ketebalan jaringan subkutan, pembuluh darah kolaps yang terjadi pada dehidrasi berat, dan shok

c. bagaimana cara melakukan resusitasi apabila akses vena sulit di dapat? Jawab : Bila akses intravena sulit didapat, dilakukan pemasangan akses intraosseous di pretibia. Pemberian secara intraosseous ini cukup baik dan selain untuk pemberian cairan bisa digunakan untuk pemberian obat- obatan. Kesulitannya adalah cairan kadang- kadang tidak cepat masuk , dalam keadaan ini untuk mempercepat masuknya cairan dapat diberikan tekanan. PEMASANGAN INFUS INTRAOSSEOUS 1. Tempatkan penderita dengan posisi terlentang. Pilih extremitas inferior yang tidak cedera, taruh lapisan (padding) secukupnya di bawah lutut untuk mendapatkan bengkokan lutus sekitar 30 dan biarkan tumit penderita terletak dengan santai di atas usungan. 2. Cuci tangan dan pasang sarung tangan. 3. Tentukan tempat pungsi (permukaan anteromedial dan proksimal tulang betis), sekitar 1-3 cm di bawah tuberositas tibia. 4. Bersihkan kulit di sekeliling daerah pungsi dengan baik dan pasang kain steril di sekelilingnya. 5. Bila penderitanya sadar, gunakan anestesi lokal di tempat punksi. 6. Pada permulaan dengan posisi jarum 90, masukkan jarum aspirasi sumsum tulang kaliber besar ke dalam kulit dan periosteum dengan sudut jarum diarahkan ke kaki dan menjauh lapisan epiphysis. 7. Setelah memperoleh tempat masuk di tulang, arahkan jarum 45 sampai 60 menjauh dari lapisan epiphysis. 8. Keluarkan stilet dan sambungkan dengan spuit 10 ml yang berisi cairan saline 5-6 ml. Aspirasi sumsum tulang ke dalam semprit berarti telah masuk ke dalam rongga medulla. 9. Suntikkan cairan saline ke dalam jarum untuk mengeluarkan bekuan yang mungkin menyumbat jarum. Bila cairan saline disuntikkan dengan mudah dan tidak ada bukti pembengkakan, berarti jarumnya berada di tempat yang benar. Bila sumsum tulang tidak diaspirasi seperti diuraikan pada poin 7, tetapi cairan saline yang diinjeksi mengalir dengan mudah tanpa bukti pembengkakan, jarumnya berada di tempat yang benar. Sebagai tambahan, penempatan jarum yang benar tertanda bila jarum tetap

tegak lurus tanpa bantuan dan larutan intravena mengalir bebas tanpa bukti inftiltrasi di bawah kulit. 10. Hubungkan jarum dengan selang infus dan mulailah infus cairan. Jarumnya kemudian diputar masuk lebih jauh ke dalam cavum medulla sampai pusat jarum berada di kulit penderita. Bila digunakan jarum licin, jarum itu harus distabilkan dengan sudut 45 sampai 60 dengan permukaan anteromedial dari kaki anak. 11. Berikanlah salep antibiotik dan perban steril ukuran 3x3. Fiksasi IV kateter dan selang infus dengan plester. 12. Secara rutin lakukan evaluasi ulang mengenai tempat jarum intraosseous, dengan memastikan bahwa jarumnya tetap di dalam korteks tulang dan di saluran medulla. Ingat, infus intraosseous harus dibatasi pada resusitasi darurat anak dan dihentikan segera begitu terdapat akses vena lain.

d. apakah tindakan dokter yang menangani kasus rizka ini sudah benar? Jawab : Tindakan dokter dalam memberikan terapi cairan resusitasi sudah tepat. Manajemen cairan adalah penting dan kekeliuan menejemen dapat berakibat fatal. Untuk mempertahankan keseimbangan cairan maka input cairan harus sama untuk mengganti cairan yang hilang. Tujuan terapi cairan bukan untuk kesempurnaan keseimbangan cairan, tetapi penyelamatan jiwa dengan menurunkan angka mortalitas.

e. apa jenis- jenis cairan resusitasi dan bagaimana dosis pemberian cairan? Jawab : Umumnya terapi cairan yang dapat diberikan berupa cairan kristaloid dan koloid atau kombinasi keduanya. Cairan kristaloid adalah cairan yang mengandung air, elektrolit dan atau gula dengan berbagai campuran. Cairan ini bisa isotonik, hipotonik, dan hipertonik terhadap cairan plasma. Sedangkan cairan koloid yaitu cairan yang BM nya tinggi 7,8. Cairan Kristaloid Cairan kristaloid terdiri dari: 1. Cairan Hipotonik

Cairan ini didistribusikan ke ekstraseluler dan intraseluluer. Oleh karena itu penggunaannya ditujukan kepada kehilangan cairan intraseluler seperti pada dehidrasi kronik dan pada kelainan keseimbangan elektrolit terutama pada keadaan hipernatremi yang disebabkan oleh kehilangan cairan pada diabetes insipidus. Cairan ini tidak dapat digunakan sebagai cairan resusitasi pada kegawatan. Contohnya dextrosa 5% 2. Cairan Isotonik Cairan isotonik terdiri dari cairan garam faali (NaCl 0,9%), ringer laktat dan plasmalyte. Ketiga jenis cairan ini efektif untuk meningkatkan isi intravaskuler yang adekuat dan diperlukan jumlah cairan ini 4x lebih besar dari kehilangannya. Cairan ini cukup efektif sebagai cairan resusitasi dan waktu yang diperlukanpun relatif lebih pendek dibanding dengan cairan koloid. 3. Cairan Hipertonik Cairan ini mengandung natrium yang merupakan ion ekstraseluler utama. Oleh karena itu pemberian natrium hipertonik akan menarik cairan intraseluler ke dalam ekstra seluler. Peristiwa ini dikenal dengan infus internal. Disamping itu cairan natrium hipertonik mempunyai efek inotropik positif antara lain mevasodilatasi pembuluh darah paru dan sistemik. Cairan ini bermanfaat untuk luka bakar karena dapat mengurangi edema pada luka bakar, edema perifer dan mengurangi jumlah cairan yang dibutuhkan, contohnya NaCl 3% Beberapa contoh cairan kristaloid : a. Ringer Laktat (RL) Larutan yang mengandung konsentrasi Natrium 130 mEq/L, Kalium 4 mEq/l, Klorida 109 mEq/l, Kalsium 3 mEq/l dan Laktat 28 mEq/L. Laktat pada larutan ini dimetabolisme di dalam hati dan sebagian kecil metabolisme juga terjadi dalam ginjal. Metabolisme ini akan terganggu pada penyakit yang menyebabkan gangguan fungsi hati. Laktat dimetabolisme menjadi piruvat kemudian dikonversi menjadi CO2 dan H2O (80% dikatalisis oleh enzim piruvat dehidrogenase) atau glukosa (20% dikatalisis oleh piruvat karboksilase). Kedua

proses ini akan membentuk HCO3. Sejauh ini Ringer Laktat masih merupakan terapi pilihan karena komposisi elektrolitnya lebih mendekati komposisi elektrolit plasma. Cairan ini digunakan untuk mengatasi kehilangan cairan ekstra seluler yang akut. Cairan ini diberikan pada dehidrasi berat karena diare murni dan demam berdarah dengue. Pada keadaan syok, dehidrasi atau DSS pemberiannya bisa diguyur. b. Ringer Asetat Cairan ini mengandung Natrium 130 mEq/l, Klorida 109 mEq/l, Kalium 4 mEq/l, Kalsium 3 mEq/l dan Asetat 28 mEq/l. Cairan ini lebih cepat mengoreksi keadaan asidosis metabolik dibandingkan Ringer Laktat, karena asetat dimetabolisir di dalam otot, sedangkan laktat di dalam hati. Laju metabolisme asetat 250 400 mEq/jam, sedangkan laktat 100 mEq/jam. Asetat akan dimetabolisme menjadi bikarbonat dengan cara asetat bergabung dengan ko-enzim A untuk membentuk asetil ko-A., reaksi ini dikatalisis oleh asetil ko-A sintetase dan mengkonsumsi ion hidrogen dalam prosesnya. Cairan ini bisa mengganti pemakaian Ringer Laktat. c. Glukosa 5%, 10% dan 20% Larutan yang berisi Dextrosa 50 gr/liter , 100 gr/liter , 200 gr/liter.9 Glukosa 5% digunakan pada keadaan gagal jantung sedangkan Glukosa 10% dan 20% digunakan pada keadaan hipoglikemi , gagal ginjal akut dengan anuria dan gagal ginjal akut dengan oliguria . d. NaCl 0,9% Cairan fisiologis ini terdiri dari 154 mEq/L Natrium dan 154 mEq/L Klorida, yang digunakan sebagai cairan pengganti dan dianjurkan sebagai awal untuk penatalaksanaan hipovolemia yang disertai dengan hiponatremia,

hipokloremia atau alkalosis metabolik. Cairan ini digunakan pada demam berdarah dengue dan renjatan kardiogenik juga pada sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium seperti asidosis diabetikum, insufisiensi adrenokortikal

dan luka bakar. Pada anak dan bayi sakit penggunaan NaCl biasanya dikombinasikan dengan cairan lain, seperti NaCl 0,9% dengan Glukosa 5 %. Cairan Koloid Jenis-jenis cairan koloid adalah : a. Albumin Terdiri dari 2 jenis yaitu: 1. Albumin endogen. Albumin endogen merupakan protein utama yang dihasilkan dihasilkan di hati dengan BM antara 66.000 sampai dengan 69.000, terdiri dari 584 asam amino. Albumin merupakan protein serum utama dan berperan 80% terhadap tekanan onkotik plasma. Penurunan kadar Albumin 50 % akan menurunkan tekanan onkotik plasmanya 1/3nya.

2. Albumin eksogen. Albumin eksogen ada 2 jenis yaitu human serum albumin, albumin eksogen yang diproduksi berasal dari serum manusia dan albumin eksogen yang dimurnikan (Purified protein fraction) dibuat dari plasma manusia yang dimurnikan. Albumin ini tersedia dengan kadar 5% atau 25% dalam garam fisiologis. Albumin 25% bila diberikan intravaskuler akan meningkatkan isi intravaskuler mendekati 5x jumlah yang diberikan.Hal ini disebabkan karena peningkatan tekanan onkotik plasma. Peningkatan ini menyebabkan translokasi cairan intersisial ke intravaskuler sepanjang jumlah cairan intersisial mencukupi.Komplikasi albumin adalah hipokalsemia yang dapat menyebabkan depresi fungsi miokardium, reaksi alegi terutama pada jenis yang dibuat dari fraksi protein yang dimurnikan. Hal ini karena faktor

aktivator prekalkrein yang cukup tinggi dan disamping itu harganya pun lebih mahal dibanding dengan kristaloid.8 Larutan ini digunakan pada sindroma nefrotik dan dengue syok sindrom

3. HES (Hidroxy Ethyl Starch) Senyawa kimia sintetis yang menyerupai glikogen. Cairan ini mengandung partikel dengan BM beragam dan merupakan campuran yang sangat heterogen.Tersedia dalam bentuk larutan 6% dalam garam fisiologis. Tekanan onkotiknya adalah 30 mmHg dan osmolaritasnya 310 mosm/l. HES dibentuk dari hidroksilasi aminopektin, salah satu cabang polimer glukosa.8 Pada penelitian klinis dilaporkan bahwa HES merupakan volume ekspander yang cukup efektif. Efek intarvaskulernya dapat berlangsung 3-24 jam. Pengikatan cairan intravasuler melebihi jumlah cairan yang diberikan oleh karena tekanan onkotiknya yang lebih tinggi. Komplikasi yang dijumpai adalah adanya gangguan mekanisme pembekuan darah. Hal ini terjadi bila dosisnya melebihi 20 ml/ kgBB/ hari. 4. Dextran Campuran dari polimer glukosa dengan berbagai macam ukuran dan berat molekul. Dihasilkan oleh bakteri Leucomostoc mesenteriodes yang dikembang biakkan di media sucrose. BM bervariasi dari beberapa ribu sampai jutaan Dalton. Ada 2 jenis dextran yaitu dextran 40 dan 70. dextran 70 mempunyai BM 70.000 (25.000-125.000). sediaannya terdapat dalam konsentrasi 6% dalam garam fisiologis. Dextran ini lebih lambat dieksresikan dibandingkan dextran 40. Oleh karena itu dextran 70 lebih efektif sebagai volume ekspander dan merupakan pilihan terbaik dibadingkan dengan dextran 40. Dextran 40 mempunyai BM 40.000 tersedia dalam konsentrasi 10% dalam garam fisiologis atau glukosa 5%. Molekul kecil ini difiltrasi cepat oleh ginjal dan dapat memberikan efek diuretik ringan. Sebagian kecil dapat

menembus membran kapiler dan masuk ke ruang intersisial dan sebagian lagi melalui sistim limfatik kembali ke intravaskuler. Pemberian dextran untuk resusitasi cairan pada syok dan kegawatan menghasilkan perubahan hemodinamik berupa peningkatan transpor oksigen. Cairan ini digunakan pad penyakit sindroma nefrotik dan dengue syok sindrom. Komplikasi antara lain payah ginjal akut, reaksi anafilaktik dan gangguan pembekuan darah. 5. Gelatin Cairan ini banyak digunakan sebagai cairan resusitasi terutama pada orang dewasa dan pada bencana alam. Terdapat 2 bentuk sediaan yaitu: 1.Modified Fluid Gelatin (MFG) 2. Urea Bridged Gelatin (UBG) Kedua cairan ini punya BM 35.000. Kedua jenis gelatin ini punya efek volume expander yang baik pada kegawatan. Komplikasi yang sering terjadi adalah reaksi anafilaksis. Pada kasus, diberikan cairan resusitasi isotonik : ringer laktat atau NaCl 0,9% 10-20ml/kg dalam 10-30 menit

5. bagaimana cara menegakkan diagnosis pada kasus ini? Jawab : i. Anamnesis : Rizka, bayi perempuan berusia 3 tahun mengalami kaki tangannya dingin seperti es, tampak lesu, mata cekung. Sudah tidak BAK sejak 12 jam yang lalu. Sejaak 3 hari yang lalu, BAB cair frekuensi 7-10x/hari dengan jumlah - gelas belimbing dalam 1 kali BAB, konsistensi cair, darah, lendir tidak ada ii. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum :Kesadaran apatis, nadi filiformis, frek.napas 40x/menit, capillary refilled time >3detik

Keadaan spesifik :kulit : cutis marmorata, teraba dingin, turgor kembali sangat lambat. Kepala :mata cekung,mukosa bibir dan mulut kering

6. bagaimana diagnosis banding pada kasus ini? 7. bagaimana pemeriksaan penunjang pada kasus? Jawab : 1. Pemeriksaan kadar Hb, kadar hematokrit 2. Analisa gas darah 3. Urin 4. Pemeriksaan fungsi ginjal 5. Pemeriksaan mikrobiologi yaitu pembiakan kuman

8. apa diagnosis pasti kasus ini? Jawab : syok hipovolemik tahap dekompensasi 9. bagaimana penatalaksanaan pada kasus? Jawab : 10. bagaimana komplikasi yang terjadi? Jawab : Sepsis Komplikasi ini paling sering menyebabkan kematian dibandingkan komplikasi lainnya data dari ICCDR menunjukkan 28,8 % dari 239 kasus kematian akibat Shigellosis meninggal karena sepsis. Pengertian sepsis saat ini telah berubah.dulu sepsid didefinisikan sebagai bakteriemia yang disertai gejala klinis, sekarang bakteriemia tidak lagi merupakan persyaratan diagnosis sepsis . Asalkan Ditemukan manifestasu umum infeksi yang disertai gangguan fungsi organ multipel sudah dianggap ada sepsis , gangguan fungsi organ multipel sudah dianggap ada sepsis , gangguan fungsi organ multipel dapat ditimbulkan mediator kimiawi, endotoksin ,eksotoksin atau septikemianya sendiri manifestasi umum/ganguan fungsi organ multipel ini dapat berupa hiperpireksi , cutis marmoratae (akibat distensi kapiler ) , menggigil , gaduh gelisah, proteinuria dan lain sebagainya. Yang paling menonjol terjadinya gangguan sirkulasi yang menimbulkan syok septik.

Kejang dan ensefalopati Kejang yang muncul pada disentri tentu saja dapat berupa kejang deman sederhana (KDS), tetapi kejang dapat merupakan bagian dari ensefalopati, dengan kumpulan gejala hiperpireksi penurunan kesadaran dan kejang yang dapat membedakannya dengan KDS , ensefalopati muncul akibat toksin Shiga/Sit diagnosis ditegakkan berdasarkan temuan klinis.

11. bagaimana peluang sembuh? 12. bagaimana Kompetensi Dokter Umum pada kasus ini? Jawab :

3B : mampu membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana dan X-Ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan ( Kasus gawat darurat )

13. bagaimana Pandangan Islam terhadap kasus ini?

Hipotesis Rizka, bayi perempuan usia 3 tahun mengalami syok hipovolemi disebabkan dehidrasi berat et causa Gastroenteritis akut

Kerangka Konsep GE Akut

- Mata cekung - Mukosa mulut & bibir kering

Penurunan volume plasma

Syok Hipovolemik
Akses vena sulit didapat

Tidak BAK 12 jam yang lalu

Gangguan perfusi

SVR

Nadi Filiformis

Kesadaran Apatis

Akral dingin

CRT >3detik, turgor kembali lambat