Anda di halaman 1dari 20

BAHAN AJAR

MATA KULIAH

PROSES TRANSFER




oleh:
Rahmawati, ST., MSc.
Nurul Hidayati Fithriyah, ST., MSc., Ph.D


Jurusan Teknik Kimia
Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2012
ModulPembelajaran Proses Transfer 2



SILABUS MATA KULIAHPROSES TRANSFER

BAHAN UTS (30%):
I. TRANSFER MOMENTUM
1. Viskositas dan Mekanisme Transfer Momentum
a. Hukum Newton tentang viskositas
b. Fluida Newtonian dan non-Newtonian Pertemuan ke-1
c. Viskositas sebagai fungsi suhu dan tekanan
2. Distribusi Kecepatan dalam Aliran Laminar
a. Neraca momentum dan syarat batas Pertemuan ke-2
b. Aliran jatuh lapisan tipis fluida (falling film)
c. Aliran melalui pipa silinder (cylinder tube) Pertemuan ke-3
d. Aliran dalam annulus (celah antara 2 silinder konsentris) Pertemuan ke-4
3. Persamaan Perubahan untukSistem Isotermal Tunak Pertemuan ke-5
4. Latihan soal dan pembahasan tugas Pertemuan ke-6

BAHAN UAS (50%):
II. TRANSFER PANAS
1. Konduktivitas dan Mekanisme Transfer Panas
a. Hukum Fourier tentang konduksi panas
b. Pengaruh suhu dan tekanan terhadap konduktivitas Pertemuan ke-7
2. Distribusi Suhu dalam Padatan dan Aliran Laminar
a. Neraca energi dan syarat batas
b. Konduksi panas (melalui dinding komposit)
c. Konveksi alamiah dan paksa Pertemuan ke-8
d. Transfer panas melalui radiasi
3. Persamaan Perubahaan untuk Sistem Non-Isotermal - Tunak Pertemuan ke-9
III. TRANSFER MASSA
1. Difusivitas dan Mekanisme Transfer Massa
a. Hukum Fick tentang difusi massa biner (molekular)
b. Pengaruh suhu dan tekanan terhadap difusi Pertemuan ke-10
2. Distribusi Massa dalam Aliran Laminar
a. Neraca massa dan syarat batas
b. Difusi massa melalui lapisan gas tidak mengalir Pertemuan ke-11
c. Difusi massa dengan reaksi kimia homogen
3. Persamaan Perubahaan untuk Sistem Tunak Pertemuan ke-12

TUGAS 2 (20%): 1. T. Momentum; 2. T.Panas

ModulPembelajaran Proses Transfer 3





Pertemuan ke-1
TIU (Tujuan Instruksional Umum) :
Mahasiswa memahami mekanisme transfer momentum yang terjadi pada aliran fluida
laminar tunak

TIK (Tujuan Instruksional Khusus) :
1. Mahasiswa memahami pengaruh viskositas pada mekanisme transfer momentum
2. Mahasiswa mampu menuliskan rumus Hukum Newton untuk viskositas


BAB I
VISKOSITAS DAN MEKANISME TRANSPORT MOMENTUM

Bagian pertama dari mata kuliah ini adalah tertuju kepada masalah aliran fluida yang
viscous (viscous fluids). Dalam bahasa Indonesia, padanan kata viscous menurut pengertian
awam adalah kental, dan viscous menyatakan derajat kekentalan. Akan tetapi dalam
pembahasan transport phenomena (Proses Transfer), istilah viscous fluid diartikan sebagai
fluida yang mempunyai viscosity> 0, atau dapat diterjemahkan mempunyai viskositas yang
lebih besar dari nol.
Istilah viskositas seara eksplisit digunakan untuk menyatakan sifat fluida yang
merefleksikan besarnya hambatan di dalam fluida terhadap gerak aliran fluida. Hambatan ini
digagaskan terjadi karena adanya gesekan di antara molekul-molekul fluida yang saling
bersinggungan atau berbenturan. Dengan demikian, apakah suatu fluida kental atau tidak
kental (encer), selama terjadi gesekan atau benturan antar molekul bilamana fluida
mengalir, dan efek gesekan dan benturan tersebut mempengaruhi kemudahannya untuk
mengalir, maka fluidanya disebut fluida yang viscous, dan viskositasnya > 0. Bila viskositas
suatu fluida berharga nol, maka fluida itu disebut fluida invicid.

I.1 Hukum Newton tentang Viskositas
Kita tinjau suatu eksperimen maya (imajiner), dengan mengimajinasikan sistem yang
skemanya ditunjukkan di Gambar 1. Fluida ada diantara dua pelat (atau lempeng) paralel
berjarak Y satu sama lain dan mempunyai dimensi L (panjang). Luas masing-masing pelat
adalah A yang mempunyai dimensi L
2
. Dalam tinjauan terhadap sistem aliran termaksud, luas
permukaan pelat yang bersinggungan dengan fluidanya yaitu A, diasumsikan sangat besar
harganya. Dengan ketentuan itu, efek keadaan di sisi-sisi ujung pelat, yang menumpu aliran
fluida, diabaikan.
Skema (a) di gambar tersebut menunjukkan gambaran sistem secara menyeluruh.
Skema (b) menunjukkan penampang tampak samping arah memanjang saat semua bagian
sistem ada dalam keadaan tak bergerak, dan ditunjukkan juga sistem koordinat x-y-z. Skema
ModulPembelajaran Proses Transfer 4



(c) menunjukkan keadaan awal saat pelat bawah digerakkan secara mendadak dengan
kecepatan V dalam arah x, sedang pelat atas ditahan dalam keadaan tak bergerak. Karena
adanya hambatan dari fluida, untuk mempertahankan gerak pelat tersebut diperlukan gaya
tetap sebesar F. Akibat gerak pelat yang di bawah, fluida yang tepat bersinggungan dengan
permukaan pelat tersebut ikut bergerak. Diasumsikan bahwa molekul-molekul fluida yang
tepat bersinggungan dengan permukaan pelat tersebut melekat (berpegang kuat) pada
permukaan. Maka kecepatan geraknya sama dengan kecepatan gerak pelat, yaitu V.



Gambar 1. Skema percobaan maya (imaginer) untuk menunjukkan perpindahan momentum
yang disertai pembentukan aliran fluida akibat adanya shear stress
Gerak lapisan fluida yang bersinggungan dengan permukaan pelat tersebut mengimbas ke
molekul-molekul fluida yang ada di lapisan lebih atas, dan terjadilah aliran fluida dalam arah
ModulPembelajaran Proses Transfer 5



x. Gerak yang terjadi pada saat-saat awal masih belum sempurna terbentuk, dan dalam
keadaan transient (transient state) ini distribusi kecepatan fluida dalam arah y ditunjukkan di
skema (d) dari gambar I; gerak fluida hanya teramati di daerah yang tak jauh dari permukaan
bawah, dan makin ke atas makin kecil kecepatannya.

Setelah cukup lama aliran fluida terbentuk sempurna, dan tercapai keadaan tunak (steady
state). Profil kecepatan tidak berubah dengan waktu, sebagaimana ditunjukkan di skema (e).
Dalam sketsa ditunjukkan bahwa kecepatan fluida mengecil secara linear dengan kenaikan
dari harga y. Hubungan antara berbagai besaran sistem yang digambarkan tersebut dapat
dinyatakan dalam bentuk persamaan yang diberikan sebagai persamaan 1.

|
.
|

\
|
=
Y
V
A
F
................................ (1)

Persamaan 1 menyatakan bahwa gaya persatuan luas permukaan bidang selang antara pelat
dan fluida berbanding lurus dengan penurunan kecepatan fluida dalam arah y. Konstanta
pembandingnya didefinisikan sebagai viskositas dari fluida. F/A disebut shear stress.
Shear stress tersebut terimbas ke fluida, dan karenanya di dalam fluida terasakan juga
adanya shear stress dalam arah y karena adanya gaya F yang bekerja pada arah x.
Bila digunakan lambang
yx
t
untuk menyatakan shear stress di dalam fluida yang bekerja
dalam arah x terhadap lapisan fluida pada jarak y dari permukaan bidang selang antar pelat
dan fluida, oleh fluida yang ada pada kedudukan kurang dari y, dan untuk menyatakan
kecepatan fluida dalam arah x digunakan lambang v
x
, maka hubungan yang dinyatakan
dalam persaman 1 dapat dinyatakan secara eksplisit sebagai berikut:
|
|
.
|

\
|
=
dy
dv
x
yx
t .. (2)
Seperti halnya dengan persamaan 1, persamaan diatas juga menyatakan bahwa: shear stress
berbanding lurus dengan shear rate yaitu (dv
x
/dy). Pernyataan yang diberikan sebagai
Persamaan 2 disebut Newtons law of viscosity atau Hukum Newton tentang viskositas.
Fluida yang pola laku alirannya berkelakuan sebagaimana dinyatakan oleh Hukum Newton
tentang viskositas lazim disebut sebagai fluida Newtonian (Newtonian Fluid). Semua gas,
dan banyak cairan berkelakuan sebagai fluida Newtonian. Lumpur, pasta gigi, aspal, larutan
polimer menunjukkan kelakukan yang berbeda dan dikategorikan sebagai fluida non-
Newtonian (non-Newtonian Fluid).
Cara pandang lain untuk memahami makna pernyataan Persamaan (2) adalah dengan
mengartikan pengimbasan gerak fluida karena adanya shear stress sebagai perpindahan
momentum. Lapisan fluida yang bersebelahan dengan permukaan pelat yang bergerak, yaitu
pada kedudukan y=0, memperoleh momentum dalam arah x dan karenanya ikut bergerak
ModulPembelajaran Proses Transfer 6



dalam arah x. Momentum yang diperoleh tersebut sebagian dipindahkan ke lapisan di
atasnya, menyebabkan lapisan yang ada di atasnya ini memperoleh momentum juga, dan
karenanya ikut bergerak kearah x. Kejadian ini berimbas terus ke atas. Jadi terjadilah
propagasi momentum yang berarah x kearah y. Untuk menyingkat, momentum yang berarah
x selanjutnya disebut x-momentum, yaitu komponen x dari vector momentum. Komponen
lainnya adalah y-momentum dan z-momentum. Kedua komponen momentum yang
disebutkan terakhir ini tidak terdapat dalam peristiwa yang ditelaah dalam eksperimen
imaginer disini.
Dengan menggunakan cara pandang tersebut, maka
yx
t dapat diartikan sebagai flux x-
momentum dalam arah y, akibat adanya gerak dalam arah x, yang terimbas kearah y dengan
mekanisme interaksi antar molekul fluida. Perpindahan momentum dengan mekanisme
tersebut lazim disebut sebagai viscous momentum transfer. Istilah flux momentum berarti
laju perpindahan momentum per satuan luas [(momentum)/(waktu)(luas)]. Jadi
yx
t
menyatakan laju perpindahan x-momentum dalam arah y perluas permukaan yang tegak lurus
terhadap y. Flux momentum yang terjadi dengan mekanisme molekuler lazim disebut
viscous flux.
Selain dengan mekanisme molekuler, model perpindahan momentum dapat juga terjadi
karena sejumlah massa fluida berpindah tempat, atau mengalir dari satu kedudukan ke
kedudukan lain, dan karenanya momentumnya terbawa pindah ke tempat barunya. Moda
perpindahan momentum semacam ini disebut convective momentum transfer (transport).
Perhatikan kembali persamaan (2). Rumusan yang diungkapkan persamaan tersebut
menyatakan bahwa viscous momentum transfer terjadi dalam arah gradient kecepatan
negatif, artinya momentum bergerak dari kedudukan dengan kecepatan yang lebih tinggi ke
kedudukan dengan kecepatan yang lebih rendah. Dengan demikian gradient kecepatan dapat
dipandang sebagai gaya gerak (driving force) bagi perpindahan momentum.
Shear stress dan flux momentum
Uraian yang diberikan terdahulu menyatakan bahwa
yx
t dapat dipandang sebagai proses
perpindahan momentum, dan dapat juga dipandang sebagai tegangan geser (shear stress)
dalam peristiwa mekanik tentang efek gaya geser, yang bekerja di suatu bidang permukaan
suatu fluida terhadap pola pergeseran antara satu bagian fluida dengan bagian lainnya.

Dimensi dan satuan
yx
t dan dan definisi viskositas kinematik
-
yx
t - shear stress: gaya per satuan luas, maka dimensinya adalah gaya/luas. Satuan
yx
t dalam system satuan cgs:
yx
t [=] dyne/cm
2
= (gram-cm/sec
2
)
ModulPembelajaran Proses Transfer 7



[=] dibaca sebagai mempunyai dimensi atau mempunyai satuan

- - viskositas
Karena = -[
yx
t ]/[dv
x
/dy] maka dimensi dari adalah (gaya/luas)/(laju/jarak).
[=] gr/cm/sec = poise

1. 2 Fluida Newtonian
Hukum Newton tentang viskositas menyatakan:
|
|
.
|

\
|
=
dy
dv
x
yx
t (3)
Untuk fluida Newtonian, pada (T,P) tetap, berharga tetap, sehingga bila dibuat grafik
hubungan shear stress (
yx
t ) dengan -
|
|
.
|

\
|
dy
dv
x
atau harga-harga negative dari shear rate
akan diperoleh garis lurus, seperti ditunjukkan di Gambar 2.


Gambar 2

Hubungan seperti yang ditunjukkan di Gambar 2 berlaku untuk semua gas dan sebagian besar
zat cair homogen dan non-polymeric. Akan tetapi banyak cairan atau fluida yang
mempunyai hubungan shear stress dan shear rate yang tidak linear seperti halnya fluida
Newtonian.


1.3 Fluida Non-Newtonian
Fluida yang menunjukkan sifat bahwa hubungan antara shear stress dan shear rate tidak
linier, karena itu mempunyai hubungan shear stress dan shear rate yang berbeda dari
fluida Newtonian, disebut fluida non-Newtonian. Contoh fluida ini dalam industri maupun
ModulPembelajaran Proses Transfer 8



kehidupan sehari-hari adalah seperti tapal gigi, lumpur, lelehan polimer, polimer cair,
larutan polimer, aspal, lem dan masih banyak lagi.
Pola alir dari fluida non-Newtonian dinyatakan dengan istilah pola alir non-
Newtonian.Ilmu mengenai, dan yang arah kajiannya tertuju kepada pola alir non-
Newtonian, merupakan bagian dari bidang ilmu yang disebut rheology. Lazimnya dapat
dinyatakan bahwa rheology is the science of flow and deformation. Rheology mencakup
aliran Newtonian, aliran non-Newtonian, sampai kepada deformasi elastis dari zat padat.
Berbagai bentuk hubungan shear stress vs shear rate fluida non-Newtonian secara
skematik diberikan di Gambar 3, yang menunjukkan bahwa pada dasarnya ada empat macam
pola hubungan shear stress dan shear rate: (a) linier (Newtonian), (b) dilatant, (c)
pseudoplastic, dan (d) Bingham plastic.

Gambar 3


Bentuk umum hubungan antara shear stress vs shear rate fluida non-Newtonian adalah:
|
|
.
|

\
|
=
dy
dv
x
yx
q t .. (4)
dan qmerupakan fungsi atau dinyatakan sebagai fungsi dari
yx
t atau
|
|
.
|

\
|
dy
dv
x


Viskositas yang dipengaruhi oleh perubahan laju geser (shear rate) dilambangkan dengan
(eta). Jika tidak dipengaruhi laju geser, maka fluida bersifat Newtonian di mana = .
Fluida dikatakan bersifat pseudoplastic jika menurun dengan peningkatan laju geser. Fluida
yang mengalami penurunan selama waktu tertentu disebut bersifat thixotropic. Fluida
dikatakan bersifat dilatant jika meningkat dengan penurunan laju geser. Fluida yang
ModulPembelajaran Proses Transfer 9



mengalami peningkatan dalam kurun waktu tertentu disebut bersifat rheopectic. Fluida yang
sebagiannya kembali ke bentuk semula setelah tegangan geser dihilangkan disebut bersifat
visco-elastic.

ModulPembelajaran Proses Transfer 10




Pertemuan ke-2
TIU (Tujuan Instruksional Umum) :
Mahasiswa mampu melakukan perhitungan analitik terhadap permasalahan transfer
momentum pada aliran fluida laminar tunak

TIK (Tujuan Instruksional Khusus) :
1. Mahasiswa mampu menuliskan persamaan neraca momentum shell pada sistem fluida
laminar
2. Mahasiswa mampu menyebutkan syarat batas (boundary conditions) yang digunakan
dalam penyelesaian kasus transfer momentum
3. Mahasiswa mampu melakukan perhitungan analitik terhadap permasalahan transfer
momentum pada aliran fluida laminar tunak dengan studi kasus aliran falling film.


BAB 2
Distribusi Kecepatan pada Aliran Laminar

Pada bab ini, kita akan mempelajari bagaimana menghitung profil kecepatan laminar
untuk beberapa sistem aliran geometri sederhana. Perhitungan ini menggunakan definisi
viskositas dan konsep neraca momentum. Pada kenyataannya, pengetahuan mengenai
distribusi kecepatan secara lengkap biasanya tidak dibutuhkan pada permasalahan
engineering. Tetapi kita lebih perlu untuk mengetahui kecepatan maksimum, kecepatan rata-
rata atau shear stress pada permukaan. Besaran-besaran ini dapat diketahui secara mudah jika
profil kecepatan telah diketahui.
Pada bagian pertama, kita akan membahas beberapa pernyataan umum mengenai
neraca momentum diferensial. Selanjutnya, kita akan mengerjakan beberapa kasus klasik
untuk contoh aliran viscous. Contoh-contoh kasus ini harus sepenuhnya dimengerti, karena
akan berulang kali dirujuk pada bahasan-bahasan mendatang. Kita mungkin akan merasakan
bahwa sistem-sistem tersebut adalah terlalu sederhana untuk menjadi sebuah
permasalahanengineering. Ini benar, karena sistem-sistem tersebut merepresentasikan situasi
yang sangat ideal, akan tetapi hasilnya dirasakan cukup berguna dalam pengembangan
berbagai macam topik pada permasalahan mekanika fluida.
Metode serta contoh kasus yang diberikan pada bab ini hanya mencakup aliran tunak
(steady-state) saja. Dari term tunak (steady state) berarti bahwa kondisi pada setiap titik pada
aliran tersebut tidak berubah terhadap waktu. Yaitu, perekaman gambar pada sistem aliran
pada waktu t terlihat benar-benar sama dengan perekaman gambar yang diambil pada
beberapa waktu kemudian , t + t.
Pada bagian ini diterangkan analisa untuk memahami struktur dan pola laku fenomena
aliran fluida dengan menggunakan pendekatan neraca mikroskopik. Penggunaan dan
pendekatan neraca mikroskopik dipilih dan diperlukan karena:
ModulPembelajaran Proses Transfer 11



a) Variabel keadaan dalam medan medan aliran yang ingin diketahui pola lakunya
merupakan fungsi kedudukan.
b) Ingin diketahui bagaimana variabel keadaan tersebut terdistribusi di dalam ruang medan
aliran
Dalam masalah transport phenomena, variabel keadaan yang menjadi fokus perhatian adalah
kecepatan fluida, tekanan, dan fluks momentum di dalam aliran.
Neraca mikroskopik untuk melakukan analisis proses perpindahan momentum (energi dan
massa) lazim juga disebut shell momentum balance.
Inti permasalahan yang dipelajari:
Bagaimana pendekatan yang dilakukan untuk merumuskan neraca mikroskopik
hingga diperoleh rumusan matematik(=model matematik) yang dapat menjelaskan
struktur dan pola laku aliran fluida?

Untuk memudahkan permasalahan, di bab ini pembahasan dilakukan terhadap aliran fluida
laminar untuk system-sistem dengan geometri sederhana. Secara khusus akan ditinjau:
a) Aliran fluida pada bidang datar yang dimiringkan
b) Aliran fluida melalui saluran berbentuk silinder
c) Aliran fluida melalui celah yang dibatasi dua silinder konsentrik

2.1 Neraca Momentum Shell ; Penetapan Syarat Batas (Boundary Conditions)
Contoh-contoh kasus yang akan dibahas pada sub bab ini didekati dengan
merumuskan neraca momentum pada sebuah shell fluida yang sangat tipis. Untuk aliran
tunak, neraca momentum dapat dirumuskan sebagai berikut:
{Laju Momentum masuk} {Laju Momentum keluar}
+ {Jumlah gaya yang bekerja pada sistem} = {Akumulasi Momentum}
(persamaan 1)

Momentum dapat masuk kedalam sistem melalui transport momentum berdasarkan peristiwa
Newtonian (atau non Newtonian) untuk flux momentum. Momentum juga dapat masuk
melalui pergerakan aliran fluida keseluruhan. Gaya-gaya yang kita perhatikan adalah gaya
tekanan (yang bekerja pada permukaan) serta gaya gravitasi (yang bekerja pada volume
fluida secara keseluruhan atau disebut gaya badan).
Secara umum, prosedur untuk merumuskan serta menyelesaikan permasalahan aliran
viscous adalah sebagai berikut: pertama, kita menuliskan neraca momentum seperti diatas
untuk sebuah shell dengan ketebalan terbatas, kemudian kita biarkan ketebalan ini mencapai
nol lalu kita gunakan penurunan pertama untuk memperoleh persamaan diferesial yang
menggambarkan distribusi flux momentum. Pengintegrasian dari persamaan diferensial ini
akan menghasilkan flux momentum dan distribusi kecepatan pada sistem.
ModulPembelajaran Proses Transfer 12



Pada proses pengintegrasian ini, akan muncul beberapa konstanta integrasi, yang
dapat dievaluasi dengan menggunakan syarat batas atau boundary conditions. Yaitu,
beberapa pernyataan dari fakta fisik pada nilai-nilai spesifik dari variabel bebas.
Berikut ini adalah beberapa ketentuan dalam menentukan syarat batas:
a. Pada interface fluida-padat, kecepatan fluida sama dengan kecepatan dimana
permukaannya sendiri sedang bergerak; yaitu fluida diasumsikan melekat pada suatu
permukaan padat yang berhubungan dengannya
b. Pada interface cair-gas, momentum perubahan terus menerus (dalam hal ini gradien
kecepatan) pada tahap cair adalah sangat mendekati nol dan dapat diasumsikan nol
dalam banyak / sebagian besar penghitungan.
c. Pada interface cair-cair, momentum perubahan terus menerus tegaklurus dengan
lapisan interfasa (permukaan kontak), dan kecepatannya kontinyu menembus
permukaan kontak.
Ketiga tipe dari batasan kodisi tersebut akan ditemui dalam contoh-contoh studi kasus sistem
aliran sederhana.

Kasus 1: Aliran Falling Film
Sebagai contoh pertama, Kami memperrtimbangkan arus dari fluida sepanjang permukaan
datar yang menurun, seperti ditunjukkan pada gambar 2-1. Kasus falling film ini bisa kita
jumpai pada peristiwa menara dinding basah (wetted wall towers), percobaan-percobaan
penguapan dan penyerapan gas, dan aplikasi dari coating menjadi gulungan kertas. Kita
asumsikanviskositas dan kepadatan fluida adalah konstan.


Gambar 2.1 Skema diagram kasus falling film yang menggambarkanend effect.
ModulPembelajaran Proses Transfer 13



Fokus kita adalah pada area sepanjang L, cukup jauh dari ujung dinding yang gangguan
keluar-masuknya tidak dimasukkan pada L. Pada area ini, komponen kecepatan v
z
tidak
bergantung pada z.
Kita memulai analisa dengan menetapkanneraca momentum-z melalui sistem dengan
ketebalan x, dibatasi oleh panjang sistem z = 0 dan z = L, dan lebar W pada arah-y.(lihat
gambar 2-2). Aneka komponen pada saat keseimbangan momentum adalah :
Laju momentum-z masuk pada permukaan sepanjang x: (LW)(
xz
)|
x

Laju momentum-z keluar pada permukaan sepanjang x + x: (LW)(
xz
)|
x+x

Laju momentum-z masuk pada permukaan di titik z = 0: (Wxv
z
)(v
z
) |
z=0

Laju momentum-z keluar pada permukaan di titik z = L: (Wxv
z
)(v
z
)|
z=L

Gaya grafitasi yang ada pada fluida : (LW x)(g cos)

Gambar 2.2 Aliran film isotermal dibawah pengaruh gravitasi, tanpa riak. Sumbu y tegak
lurus bidang gambar dan neraca momentum dibuat untuk ketebalan fluida x.
Catatan bahwa kita selalu menggunakan arah masuk dan keluar pada arah positif sumbu x
dan z (Hal ini terjadi berbarengan dengan arah dari transfer momentum). Notasi |
x+x

berarti dievaluasi pada x+x.
Ketika persamaan-persamaan ini disubstitusikan ke dalam keseimbangan momentum dari
persamaan 1, kita dapatkan
ModulPembelajaran Proses Transfer 14



(LW)(
xz
)|
x
- (LW)(
xz
)|
x+
+ (Wx v
z
2
) |
z=0
- (Wx v
z
2
) |
z=L
+ (LW x)(g cos) = 0
Karena v
z
adalah sama pada z = 0 dan pada z = L pada setiap nilai x, persamaan ketiga dan
keempat akan saling meniadakan satu sama lain. Sekarang kita bagi persamaan diatas dengan
LWx dan ambil limit x mendekati nol :
|
t t
cos
lim
0
g
x
x xz x x xz
r
=
A

A +
A

Hasil persamaan pada sebelah kiri dapat didefinisikan sebagai turunan pertama dari
xz
t
terhadap x. Sehingga persamaan diatas dapat dituliskan kembali sebagai:
=
xz
dx
d
t | cos g
Hasil pengintegrasiannya menghasilkan:
=
xz
t | cos gx + C
1
(3)
Konstanta integrasi (C
1
) dapat dievaluasi dengan menggunakan syarat batas (boundary
conditions) pada interfasa cair-gas.
B.C 1: saat x = 0
xz
t = 0
Substitusi nilai syarat batas ini pada persamaan (3) menghasilkan C
1
= 0, sehingga distribusi
flux momentumnya diperoleh:
=
xz
t | cos gx (4)
Jika fluida tersebut merupakan fluida Newtonian, maka kita ketahui bahwa hubungan antara
flux momentum dengan gradien kecepatan ditunjukkan oleh
|
|
.
|

\
|
=
x
z
xz
dv
dv
t
Substitusi ekspresi diatas ke persamaan (4) menghasilkan persamaan diferensial dibawah ini
yang merupakan distribusi kecepatan:
x
g
dx
dv
z
|
|
.
|

\
|
=

| cos

Persamaan diatas dengan mudah diintegrasi untuk menghasilkan:

2
2
2
cos
C x
g
v
z
+
|
|
.
|

\
|
=

|
(5)
Konstanta integrasi (C
2
) dapat dievaluasi dengan menggunakan syarat batas:
B.C 2: saat x= v
z
= 0
Substitusi nilai batas ini ke persamaan (5) akan menghasilkan :
2
2
2
cos
o

|
|
|
.
|

\
|
=
g
C
ModulPembelajaran Proses Transfer 15



Sehingga distribusi kecepatan dapat dirumuskan sebagai:
(
(

|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
=
2
2
1
2
cos
o
| o x g
v
z



ModulPembelajaran Proses Transfer 16



Pertemuan ke-3
TIU (Tujuan Instruksional Umum) :
Mahasiswa memahami mekanisme transfer momentum yang terjadi pada aliran fluida
laminar tunak

TIK (Tujuan Instruksional Khusus) :
Mahasiswa mampu melakukan perhitungan analitik terhadap permasalahan transfer
momentum pada aliran fluida laminar tunak dengan studi kasus aliran pada pipa sirkular

Kasus 2. Aliran melalui pipa sirkular (circular tube)
Aliran melalui pipasirkular sering dijumpai pada kasus fisika, kimia, biologi dan persoalan
engineering. Aliran fluida laminar pada pipa sirkular dapat dianalisa dengan menggunakan
neraca momentum, dimana koordinat yang digunakan adalah koordinat silindris yang
merupakan koordinat awal untuk menjelaskan posisi pada pipa sirkular.
Kita tinjau sebuah aliran laminar steady sebuah fluida dengan densitas konstan pada pipa
yang sangat panjang dengan panjang L, dan jari jari R; kita asumsikan pipa tersebut
sangatlah panjang karena kita ingin mengasumsikan bahwa tidak ada end effects yang terjadi,
bahwa kita mengabaikan fakta bahwa pada jalur masuk dan keluar aliran mungkin tidak
paralel terhadap permukaan pipa.

Gambar 2.3 Skema irisan Shell silindris dari fluida
ModulPembelajaran Proses Transfer 17



Kita pilih sebagai sistem kita sebuah shell silindris dengan tebal r dan panjang L dan kita
mulai dengan menyusun berbagai kontribusi terhadap neraca momentum arah x:
Laju momentum masuk sepanjang permukaan silindris pada r:
r rz
rL ) 2 ( t t
Laju momentum keluar sepanjang permukaan silindris pada r+r:
r r rz
rL
A +
) 2 ( t t
Laju momentum masuk sepanjang permukaan annular pada z=0:
0
) )( 2 (
=
A
z z z
v rv r t
Laju momentum keluar sepanjang permukaan annular pada z=L:
L z z z
v rv r
=
A ) )( 2 ( t
Gaya gravitasi yang bekerja pada shell silindris: g rL r t ) 2 ( A
Gaya tekanan yang bekerja pada permukaan annular pada z=0:
0
) 2 ( p r rA t
Gaya tekanan yang bekerja pada permukaan annular pada z=L:
L
p r r ) 2 ( A t

Ingat, bahwa kita ambil arah masuk dan keluar sebagai arah positif terhadap sumbu.

Maka kita masukkan kontribusi-kontribusi diatas kedalam persamaan neraca momentum:
r rz
rL ) 2 ( t t -
r r rz
rL
A +
) 2 ( t t +
0
) )( 2 (
=
A
z z z
v rv r t -
L z z z
v rv r
=
A ) )( 2 ( t + g rL r t ) 2 ( A +
0
) 2 ( p r rA t -
L
p r r ) 2 ( A t =0 (1)
Karena fluida diasumsikan sebagai fluida incompressible, maka v
z
pada saat z=0 adalah sama
dengan pada saat z=L, sehingga ruas ketiga dan keempat saling meniadakan.
Kita kemudian bagi persamaan (1) dengan r LA t 2 dan ambil limit r mendekati nol, didapat:
r g
L
p p
r
r r
L
r rz r r rz
r
|
.
|

\
|
+

=
|
|
.
|

\
|
A

A +
A

t t
0
0
lim

Ekspresi pada ruas kiri merupakan turunan pertama. Sehingga persamaan diatas dapat
dituliskan kembali sebagai berikut:
( ) =
rz
r
dr
d
t {(P
0
- P
L
) / L}r (2)
DimanaP = p - gz
Persamaan (2) diintegrasi untuk menghasilkan

rz
= {(P
0
- P
L
) /2L}r +
r
C
1

Konstanta integrasi C
1
haruslah bernilai nol agar flux momentum bernilai terhingga pada saat
r=0. Sehingga distribusi flux momentum :

rz
= {(P
0
- P
L
) /2L}r (3)
Hukum Newton untuk viskositas pada situasi ini adalah:
|
|
.
|

\
|
=
r
z
rz
dv
dv
t

Distribusi ini ditunjukkan oleh gambar 2.4 berikut ini
ModulPembelajaran Proses Transfer 18




Gambar 2.4 Distribusi flux momentum dan distribusi kecepatan pada aliran dalam pipa
silindris

Substitusi persamaan diatas dengan persamaan (3) menghasilkan persamaan diferensial
berikut ini:
dr
dv
z
= -{(P
0
- P
L
) /2L}r
v
z
= -{(P
0
- P
L
) /4L}r
2
+ C
2

Karena syarat batas menyatakan bahwa v
z
= 0 saat r=R, konstanta C
2
memiliki nilai
= {(P
0
- P
L
) R
2
/4L}
Sehingga distribusi kecepatan :
v
z
= {(P
0
- P
L
) R
2
/4L}
(
(

|
.
|

\
|

2
1
R
r





ModulPembelajaran Proses Transfer 19




Pertemuan ke-4
TIU (Tujuan Instruksional Umum) :
Mahasiswa memahami mekanisme transfer momentum yang terjadi pada aliran fluida
laminar tunak

TIK (Tujuan Instruksional Khusus) :
Mahasiswa mampu melakukan perhitungan analitik terhadap permasalahan transfer
momentum pada aliran fluida laminar tunak dengan studi kasus aliran pada anulus

Kasus 3: Aliran pada Anulus
Mari kita tinjau kasus aliran lain pada koordinat silindris tetapi kali ini memiliki syarat batas
(boundary conditions) yang berbeda. Sebuah fluida incompressible mengalir tunak pada area
annular diantara tabung ko-aksial dengan jari-jari R dan R.

Gambar 2.4 Aliran keatas melalui silindris annular

Kita mulai dengan merumuskan neraca momentum pada shell tipis dari silindris ini dan
menghasilkan persamaan yang sama dengan kasus aliran tube sirkular, yaitu:
( ) =
rz
r
dr
d
t {(P
0
- P
L
) / L}r (1)
DimanaP = p + gz
Persamaan (1) diintegrasi untuk menghasilkan persamaan (2) berikut ini:

ModulPembelajaran Proses Transfer 20



Konstanta C
1
tidak dapat ditentukan secara langsung, karena kita tidak memiliki informasi
mengenai flux momentum pada permukaan r = R ataupun r = R. Yang dapat kita ketahui
adalah bahwa kecepatan maksimum adalah pada tempat r = R dimana flux momentumnya
adalah nol. Jika kita menggunakan pernyataan ini, maka C
1
dapat diganti dengan
- (P
0
- P
L
) (R
2
)/2L, dan menghasilkan persamaan:

[(

)]

Perhatikan bahwa masih merupakan konstanta yang belum diketahui. Satu-satunya alasan
kita menggunakan adalah bahwa kita mengetahui purgensi fisik dari .
Selanjutnya kita substitusi persamaan Newton untuk viskositas menjadi persamaan (4)
berikut.

[(

)]

Integrasi terhadap r menghasilkan:

[(

]

Kemudian kita evaluasi dua konstanta integrasi dan C2 dengan menggunakan boundary
conditions berikut ini:
BC1: pada r = R, v
z
= 0
BC2: pada r = R, v
z
= 0

Substitusi dari syarat batas tsb akan menghasilkan dua persamaan simultan.

Dengan demikian, nilai C2 dan adalah:


Substitusi kedua nilai ini akan menghasilkan persamaan berikut ini.