Anda di halaman 1dari 5

Korelasi antara Hasil Panen dan Kehidupan Petani di Kabupaten Pati

Oleh : Nama : Azzumaru Yumna NIM : H0713036

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA TAHUN 2013

LATAR BELAKANG

Kabupaten Pati merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas wilayah keseluruhan 1.419,07 km yang terbagi menjadi 21 Kecamatan dan 405 Desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Jepara dan Laut Jawa di sebelah utara, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora di sebelah selatan, Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara di sebelah barat, serta Kabupaten Rembang dan Laut Jawa di sebelah timur. Kabupaten Pati mempunyai luas wilayah 150.368 Ha yang terdiri dari 58.368 ha lahan sawah atau sekitar 38,80% dari luas keseluruhan lahan di Kabupaten Pati dan 92.020 ha lahan bukan sawah atau sekitar 61,20%. Potensi sumber daya alam Kabupaten Pati bisa diandalkan, Kabupaten yang berada di sebelah timur bagian utara Provinsi Jateng ini secara topografi, wilayahnya dibedakan menjadi dataran rendah, pegunungan, dan lereng gunung. Sektor pertanian memang masih menjadi tulang punggung ekonomi sebagian besar penduduk Pati terutama bahan tanaman pangan dan buahbuahan. Usaha agroindustri juga turut dikembangkan, tanaman sayur-sayuran juga tidak kalah dalam produksi, seperti bawang merah, jagung, kacang tanah, kacang hijau,kaela pohon, hingga cabai banyak dibudidayakan di beberapa kecamatan. Kesuburan tanah di sebagian besar wilayah Pati yang tinggi, membuat banyaknya tanaman serta usaha pertanian yang sangat banyak di wilayah ini. Bahkan, Berdasarkan angka sementara hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2013, jumlah usaha pertanian di Kabupaten Pati sebanyak 189 845 dikelola oleh rumah tangga, sebanyak 9 dikelola oleh perusahaan pertanian berbadan hukum dan sebanyak 16 dikelola oleh selain rumah tangga dan perusahaan berbadan hukum. Angka angka itu menunjukkan betapa tingginya angka masyarakat Pati yang masih menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam. Namun kenyatannya, kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam ini termasuk kedalam golongan keluarga yang berpenghasilan rendah, atau dengan kata lain pekerjaan bercocok tanam kurang cukup memenuhi kebutuhan pokok mereka. Padahal sesungguhnya, bila dilihat dari segi topografi, wilayah Pati amatlah subur dan luas,jadi dengan kata lain dapat memberikan penghasilan yang cukup untuk mencukupi kebutuhan keseharian orang-orang yang berkecimpung dalam usaha pertanian. Namun kenyataannya berkata lain. Salah satu factor yang menyebabkan hal itu terjadi adalah Karena harga-harga jual hasil panen mereka sering anjlok ketika masa panen akbar terjadi. Sehingga membuat para petani tak jarang mengalami kerugian. Salah satu hasil komoditi pertanian yang sering mengalami keanjlokan harga ketika panen adalah kapuk dan ketela pohon.

ISI

Berdasarkan angka sementara hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2013, jumlah usaha pertanian di Kabupaten Pati sebanyak 189 845 dikelola oleh rumah tangga, sebanyak 9 dikelola oleh perusahaan pertanian berbadan hukum dan sebanyak 16 dikelola oleh selain rumah tangga dan perusahaan berbadan hukum. Di dalam sensus Pertanian 2013 ini, definisi dari Usaha Pertanian adalah kegiatan yang menghasilkan produk pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasil produksi dijual/ditukar atas risiko usaha (bukan buruh tani atau pekerja keluarga). Usaha pertanian meliputi usaha tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan, termasuk jasa pertanian. Khusus tanaman pangan (padi dan palawija) meskipun tidak untuk dijual (dikonsumsi sendiri) tetap dicakup sebagai usaha. Sedangkan definisi dari Rumah Tangga Usaha Pertaian adalah rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah tangganya mengelola usaha pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual, baik usaha pertanian milik sendiri, secara bagi hasil, atau milik orang lain dengan menerima upah, dalam hal ini termasuk jasa pertanian.Melihat hasil survey diatas, diketahui bahwa penduduk Pati masih banyak yang berprofesi sebagai petani. Sebenarnya jika kita lihat dari segi topografi dan jenis tanah sendiri, tanah di wilayah Pati amatlah subur. Jenis tanah di bagian Utara Kabupaten Pati terdiri dari tanah Red Yellow mediteran, Latosol, Alluvial Hidromer dan Regosol, sedangkan bagian Selatan terdiri dari tanah alluvial, hidromer dan grumosol. Jenis jenis tanah tersebut amatlah subur dan cocok ditanami berbagai jenis tanaman. Namun kenyataan yang sering penulis lihat dilapangan adalah,kehidupan para petani yang tergolong masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah ketika harga jual hasil panen mereka anjlok dan sangat turun. Hal ini sering terjadi pada beberapa komoditi pertanian contohnya Ketela Pohon dan Kapuk Randu. Berdasarkan Profil Investasi Kabupaten Pati bidang Pertanian tahun 2012 yaitu sebanyak 16.175 Ha dan produksi mencapai 309.200 ton. Meskipun begitu, pengakuan dari sejumlah petani ketela pohon di wilayah Pati Utara mengatakan bahwa harga ketela pohon yang sebenarnya harganya bisa mencapai 1500 rupiah perkilogramnya namun ketika panen akbar harganya hanya mencapai 600 rupiah perkilogramnya. Hail ini sangat merugikan para petani. Mengingat biaya yang sudah mereka keluarkan mencakup biaya pembelian pupuk,benih,dan biaya perawatannya. Harga jual ketela pohon yang turun ketika panen akbar disebabkan oleh banyaknya jumlah ketela pohon saat itu. Sedangkan permintaan pasar pada saat itu jumlahnya tetap, dalam arti permintaanya tidak naik ataupun tidak turun. Walaupun di Kabupaten Pati sendiri ada beberapa pabrik tapioca, dan pabrik makanan ringan berbahan baku ketela,namun permintaan ketela pohon sendiri tidak naik, begitu pula ketika saat panen raya terjadi. Jadi ketika panen raya terjadi dan harga ketela pohon jatuh, satu-satunya hal yang dapat dilakukan para

petani adalah menjualnya pada para tengkulak dengan harga yang rendah itu. Akibatnya petani hanya dapat untung kecil atau bahkan kerugian dari hasil panennya tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada Randu Kapuk. Kabupaten Pati merupakan penghasil kapuk randu terbesar di Indonesia dimana disemua wilayah Kabupaten terdapat tanaman kapok. Luas area 14.969 Ha dan total produksi 7.422.366 Kg odol. Produk yang dihasilkan masih berupa bahan baku dasar, selain itu jg bisa dimanfaatkan untuk bahan pembuat sabun (kulit kapok), pembuat kasur lantai (hati kapok), dan minyak nabati (biji kapok). Seperti halnya dengan ketela pohon, ketika panen akbar yang terjadi di Bulan Agustus, harga kapok pun sering jatuh.harga kapok mentah (kapok basah ) yang seharusnya bisa mencapai 2600 rupiah per kilo , hanya dapat dijual dengan harga 1500 rupiah perkilo. Hal ini juga disebabakan karena banyaknya jumlah kapok basah dipasaran, sedangkan permintaan pasar tidak dapat menampung seluruh hasil panen. Sehingga tak jarang para petani mengalami kerugian karenanya. Namun, ketika hal itu terjadi, para petani biasanya lebih memilih untuk menimbun hasil panen kapoknya di gudang-gudang dan akan mengeluarkan atau menjualnya ketika harga mulai stabil. Hal itu diharapkan oleh petani dapat menyelamatkan harga kapok mereka. Sehingga mereka tidak mengalami kerugian yang amat besar. Bagi para petani khusunya yang berada di Wilayah Pati, sebagian besar dari para petani itu sering mengalami gagal panen baik yang disebabkan oleh factor alam maupun yang disebabkan oleh jatuhnya harga-harga jual hasil panen mereka. Oeh sebab itu tak heran sebagian besar dari jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian di kabupaten Pati masih berada di bawah angka kemakmuran. Bahkan hanya sedikit dari anak-anak yang berasal dari keluarga Rumah Tangga Usaha Pertanian di kabupaten Pati yang bisa mengenyam pendidikan hingga bangku Sekolah Menengah Atas. Bahkan kehidupan mereka tak jarang berkekurangan dalam memenuhi kebutuhannya. Namun, masih ada langkah yang dapet dilakukan pemerintah dalam menangani permasalahan ini. Yaitu dengan cara membuat koperasi usaha tani. Koperasi usaha tani ini akan bergerak dibidang pertanian, dan membantu para petani dalam peminjaman modal, dan dapat pula membantu para petani untuk membeli hasil panen para petani, agar para petani tidak mengalami kerugian ketika masa panen. Selain itu koperasi usaha tani juga dapat membantu menjaga dan menstabilkan harga-harga jual komiditi pertanian, sehingga tidak membuat harga jual hasil panen para petani sangat rendah ataupun sangat mahal (stabil).

PENUTUP

Dikabupaten Pati masih banyak sekali para petani yang mengalami kerugian ketika panen, dikarenakan harga jual hasil panenya yang sangat rendah. Kerugian hasil panen tersebut berdampak pada kehidupan para petani yang masih kekurangan dan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Hal yang dapat dilakukan pemerintah dalam mendukung serta membantu pertanian para petani yaitu dengan cara membuat koperasi usaha tani. Koperasi usaha tani ini akan bergerak dibidang pertanian, dan membantu para petani dalam peminjaman modal, dan dapat pula membantu para petani untuk membeli hasil panen para petani, agar para petani tidak mengalami kerugian ketika masa panen. . Selain itu koperasi usaha tani juga dapat membantu menjaga dan menstabilkan harga-harga jual komiditi pertanian, sehingga tidak membuat harga jual hasil panen para petani sangat rendah ataupun sangat mahal (stabil). Tidak hanya pemerintah yang dapat berperan aktif dalam membantu mensejahterakan para petani, namun kita sebagai masyarakat awam juga dapat berperan aktif dalam membantu. Yaitu dengan cara membeli buah-buaha,sayuran, beras, kedelai dan komoditi pertanian lainnya yang merupakan hasil dari pertanian dalam negeri. Dengan begitu, kesejahteraan para petani akan terbantu, dan kehidupan mereka pun akan terangkat. Sehingga tidak ada lagi kemiskinan pada petani kita.

DAFTAR PUSTAKA

Profil Investasi kabupaten Pati tahun 2012 Angka Sementara Hasil Sensus Pertanian Kabupaten Pati Tahun 2013