Anda di halaman 1dari 53

MAKALAH

Dokumentasi Keperawatan pada Gerontik (Usia Lanjut)

D I S U S U N OLEH: KELOMPOK VIII 1. 2. 3. 4. Fera Astarina Nofri Irawan Reni Suryanti Sugeng Wiyono (NIM. 12. 1342) (NIM. 12. 1355) (NIM. 12. 1359) (NIM. 12. 1366)

Dosen Pembimbing: Ns. Ekoan Zuriyono, S. Kep., CWCCA Dibuat untuk memenuhi tugas awal Tingkat II Semester III

AKADEMI KEPERAWATAN PEMBINA PALEMBANG 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karuniaNya, sehingga Kami dapat membuat dan menyusun makalah tentang Dokumentasi Keperawatan pada Gerontik (Usia Lanjut). Walaupun banyak hambatan yang Kami hadapi dalam menyusun makalah ini. Mungkin makalah ini masih terdapat kekurangan dan belum bisa dikatakan sempurna dikarenakan keterbatasan yang Kami miliki. Penyajian makalah ini didukung berbagai data. Adapun sistematika makalah ini meliputi: cover, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan penulisan dan manfaat, pembahasan (isi), penutup yang berisi kesimpulan dan saran, serta daftar pustaka yang berisi sumber referensi. Diharapkan makalah ini akan lebih mudah untuk dipelajari dan dimengerti. Oleh karena itu, Kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak terutama dari Ns. Ekoan Zuriyono, S. Kep., CWCCA selaku dosen pembimbing mata kuliah Dokumentasi Keperawatan. Supaya Kami dapat lebih baik lagi dalam menyusun sebuah makalah di kemudian hari. Semoga makalah ini berguna bagi siapa saja terutama bagi temanteman Akper Pembina Palembang yang ingin lebih memahami tentang Dokumentasi Keperawatan pada Gerontik (Usia Lanjut).

Tanjung Raja, Oktober 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum 1.2.2 Tujuan Khusus 1.3 Manfaat BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Gerontik (Lanjut Usia) 2.1.1 Definisi Lanjut Usia 2.1.2 Batasan Lanjut Usia 2.1.3 Tipe Lanjut Usia 2.1.4 Proses Penuaan 2.1.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penuaan 2.1.6 Teori-teori Penuaan 2.1.7 Perubahan Biologis pada Lanjut Usia 2.1.8 Penyakit-penyakit pada Lanjut Usia 2.1.9 Terapi pada Lanjut Usia 2.2 Keperawatan Gerontik 2.2.1 Definisi Keperawatan Gerontik 2.2.2 Lingkup dan Tanggung Jawab Keperawatan Gerontik 2.2.3 Sifat Pelayanan Keperawatan Gerontik 2.3 Konsep Askep pada Gerontik 2.3.1 Kegiatan Askep Dasar bagi Lanjut Usia 2.3.2 Pendekatan Keperawatan Lanjut Usia 2.3.3 Tujuan Askep Lanjut Usia 2.4 Askep pada Lanjut Usia 2.4.1 Pengkajian Format Pengkajian Gerontik 2.4.2 Diagnosa Keperawatan 2.4.3 Perencanaan/Intervensi 2.4.4 Pelaksanaan/Implementasi 2.4.5 Penilaian/Evaluasi 2.4.6 Rencana dan Proses Keperawatan Contoh Kasus pada Gerontik BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran Daftar Pustaka

i ii 1 2 2 2 2 3 3 3 4 4 5 5 6 8 12 13 13 13 14 14 14 15 15 16 16 18 26 30 32 32 33 39 49 49 50

ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Pertumbuhan jumlah penduduk lanjut usia (lanjut usia) di Indonesia tercatat yang paling pesat di dunia. Jumlah lanjut usia kini sekitar 16 juta orang, akan menjadi 25,5 juta pada tahun 2020, atau sebesar 11,37% dari jumlah penduduk. Itu berarti jumlah lanjut usia di Indonesia akan berada di peringkat empat dunia, di bawah Cina, India, dan Amerika Serikat. Menurut data demografi internasional dari Bureau of the Census USA (1993), kenaikan jumlah lanjut usia Indonesia antara tahun 1990-2025 mencapai 414%, tertinggi di dunia. Kenaikan pesat itu berkait dengan usia harapan hidup penduduk Indonesia. Dalam sensus Badan Pusat Statistik (BPS) 1998, harapan hidup penduduk Indonesia rata-rata 63 tahun untuk kaum pria, dan wanita 67 tahun. Tetapi menurut kajian WHO (1999) harapan penduduk Indonesia rata-rata 59,7 tahun, menempati peringkat ke-103 dunia. Nomor satu adalah Jepang (74,5 tahun). Dengan makin bertambahnya penduduk usia lanjut, bertambah pula penderita golongan ini yang memerlukan pelayanan kesehatan. Keperawatan pada usia lanjut merupakan bagian dari tugas dan profesi keperawatan yang memerlukan berbagai keahlian dan keterampilan yang spesifik, sehingga di bidang keperawatan pun saat ini ilmu keperawatan lanjut usia berkembang menjadi suatu spesialisasi yang mulai berkembang. Keperawatan lanjut usia dalam bahasa Inggris sering dibedakan atas Gerontologic nursing (gerontic nursing) dan geriatric nursing sesuai keterlibatannya dalam bidang yang berlainan. Gerontologic nurse atau perawat gerontologi adalah perawat yang bertugas memberikan asuhan keperawatan pada semua penderita berusia diatas 65 tahun (di Indonesia dan Asia dipakai batasan usia 60 tahun) tanpa melihat apapun penyebabnya dan dimanapun dia bertugas. Secara definisi, hal ini berbeda dengan perawat geriatrik, yaitu mereka yang berusia diatas 65 tahun dan menderita lebih dari satu macam penyakit disertai dengan berbagai masalah psikologik maupun sosial.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum Dapat memahami tentang Dokumentasi Keperawatan pada Gerontik (Usia Lanjut), serta mampu memahami dan membuat Asuhan Keperawatan pada Lanjut usia. 1.2.2 Tujuan Khusus Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain, sebagai berikut. a. Mengenal masalah kesehatan lanjut usia. b. Memutuskan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan pada lanjut usia. c. Melakukan tindakan perawatan kesehatan yang tepat kepada lanjut usia. d. Memelihara/memodifikasi lingkungan keluarga (fisik, psikis, sosial) sehingga dapat meningkatkan kesehatan lanjut usia. e. Memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat (fasilitas pelayanan kesehatan).

1.3

Manfaat Manfaat yang diperoleh dari makalah ini adalah sebagai berikut: - Dapat mengenal masalah kesehatan yang muncul pada lanjut usia. - Dapat memberikan tindakan perawatan yang tepat terhadap lanjut usia. - Memiliki gambaran tentang proses perawatan terhadap lanjut usia. - Mengetahui dan memahami konsep dasar keperawatan gerontik.

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Konsep Dasar Gerontik (Lanjut Usia)

2.1.1 Definisi Lanjut Usia Lanjut usia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap individu. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Pengertian lanjut usia menurut UU No. 4 Tahun 1965 adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000) sedangkan menurut UU No. 12 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun (Depsos, 1999). 2.1.2 Batasan Lanjut Usia Di bawah ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai batasan umur. 1. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) a) Usia pertengahan (Middle Age): usia 45-59 tahun. b) Lanjut usia (Elderly): usia 60-74 tahun. c) Lanjut usia tua (Old): usia 75-90 tahun. d) Usia sangat tua (Very Old): usia >90 tahun. 2. Departemen Kesehatan RI mengklasifikasikan lanjut usia sebagai berikut: a) Pralanjut usia (prasenilis): Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun. b) Lanjut usia: Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih. c) Lanjut usia risiko tinggi: Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/ seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan. d) Lanjut usia potensial: Lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/ atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/ jasa. 3. Menurut Prof. Dr. Ny. Sumiati A. M: a) Masa bayi : 0-1 tahun. b) Masa pra sekolah : 1-6 tahun. c) Masa sekolah : 6-10 tahun. d) Masa pubertas : 10-20 tahun. e) Masa setengah umur : 40-65 tahun. f) Masa lanjut usia : > 65 tahun.

2.1.3 Tipe Lanjut Usia Beberapa tipe pada lanjut usia bergantung pada karakter, pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya (Nugroho, 2000 dalam buku R. Siti Maryam, dkk, 2008). Tipe tersebut dapat dibagi sebagai berikut: 1. Tipe arif bijaksana Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi panutan. 2. Tipe mandiri Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan. 3. Tipe tidak puas Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan banyak menuntut. 4. Tipe pasrah Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan melakukan pekerjaan apa saja. 5. Tipe bingung Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, menyesal, pasif, dan acuh tak acuh. Tipe lain dari lanjut usia adalah tipe optimis, tipe konstruktif, tipe dependen (ketergantungan), tipe defensif (bertahan), tipe serius, tipe pemarah/ frustasi (kecewa akibat kegagalan dalam melakukan sesuatu), serta tipe putus asa (benci pada diri sendiri). 2.1.4 Proses Penuaan Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa kanak-kanak, masa dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah.

2.1.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penuaan R. Siti Maryam, dkk, 2008. menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan adalah sebagai berikut: 1. Hereditas (Keturunan/Genetik) 2. Nutrisi (Asupan Makanan) 3. Status Kesehatan 4. Pengalaman Hidup 5. Lingkungan 6. Stress 2.1.6 Teori-teori Penuaan Teori-teori yang menjelaskan bagaimana dan mengapa penuaan terjadi oleh Barbara Cole Donlon dan Betty Newman, sebagai berikut. 1. Teori-teori Biologis (a) Teori genetik dan mutasi (somatic mutatic theory) Menurut teori ini, penuaan terjadi karena adanya mutasi somatik akibat pengaruh lingkungan yang buruk. Terjadi kesalahan dalam proses transkripsi DNA atau RNA dan dalam proses translasi RNA protein/ enzim. Kesalahan ini terjadi terus menerus sehingga akhirnya akan terjadi penurunan fungsi organ atau perubahan sel menjadi kanker atau penyakit. (b) Teori genetik clock Teori ini menyatakan bahwa menua itu telah terprogram secara genetik untuk spesies tertentu yang mempunyai batas usia yang berbeda-beda. 2. Teori-teori Non-genetik (a) Teori penurunan sistem imun tubuh (auto-immune theory) Di dalam proses metabolisme tubuh, diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. (b) Teori kerusakan akibat radikal bebas (free radical theory) Radikal bebas yang terdapat di lingkungan seperti asap kendaraan bermotor, asap rokok, zat pengawet makanan, radiasi, sinar ultraviolet yang mengakibatkan terjadinya perubahan pigmen dan kolagen pada proses menua. (c) Teori menua akibat metabolisme Pengurangan asupan kalori ternyata bisa menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur, sedangkan perubahan asupan kalori yang menyebabkan kegemukan dapat memperpendek umur (Bahri dan Alem, 1989: Boedhi Darmojo, 1999).
5

(d) Teori rantai silang (cross link theory) Teori ini menjelaskan bahwa menua disebabkan oleh lemak, protein, karbohidrat, dan asam nukleat (molekul kolagen) bereaksi dengan zat kimia dan radiasi, mengubah fungsi jaringan yang menyebabkan perubahan pada membran plasma, yang mengakibatkan terjadinya jaringan yang kaku, kurang elastis, dan hilangnya fungsi pada proses menua. (e) Teori Stress Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. (f) Teori Program Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati. 3. Teori-teori Kejiwaan Sosial a. Aktivitas atau kegiatan (activity theory) (1) Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan mengikuti banyak kegiatan sosial. (2) Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia. b. Kepribadian berlanjut (continuity theory) Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliknya. c. Teori Pembebasan (didengagement theory) Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. 2.1.7 Perubahan Biologis pada Lanjut usia Perubahan
Sistem Kardiovaskular

Temuan Subyektif dan Peningkatan Kesehatan/Rekomendasi Keperawatan Obyektif - Keluhan keletihan dengan peningkatan aktivitas waktu pemulihan frekuensi jantung meningkat. - Tekanan darah normal <140/90 mmHg. - Olahraga secara teratur. - Hindari merokok. - Makan makanan rendah lemak. - Diet rendah garam. - Berpartisipasi dalam aktivitas penurunan stress. - Ukur tekanan darah secara teratur. - Kepatuhan pengobatan. - Kontrol berat badan.

- Penurunan curah jantung. - Penurunan kemampuan merespons stress. - Frekuensi jantung dan volume kurang dari kebutuhan maksimal. - Kecepatan pemulihan jantung

lebih lambat. - Peningkatan tekanan darah. Sistem Pernapasan - Peningkatan volume residual paru. - Penurunan kapasitas vital. - Penurunan pertukaran gas dan kapasitas difusi. - Penurunan efisiensi batuk. Sistem Integumen - Penurunan perlindungan terhadap trauma dan sinar matahari. - Penurunan perlindungan terhadap suhu yang ekstrim. - Berkurangnya sekresi minyak alami dan berkeringat. Sistem Reproduksi Wanita: - Penyempitan dan penurunan elastisitas vagina. - Penurunan sekresi vagina. Pria: - Penurunan ukuran penis dan testis. Pria dan wanita: - Respons seksual yang melambat.
Sistem Muskuloskeletal

- Keletihan dan sesak nafas setelah beraktivitas. - Gangguan penyembuhan jaringan akibat penurunan oksigensi. - Kesulitan membatukan sekret.

- Olahraga secara teratur. - Hindari merokok. - Minum banyak cairan untuk mengencerkan/mencairkan secret. - Imunisasi influenza setiap tahun. - Hindari resiko terhadap infeksi traktus respiratorius bagian atas.

- Kulit nampak tipis dan keriput. - Keluhan cedera, memar dan terbakar matahari. - Keluhan tidak tahan panas. - Struktur tulang menonjol. - Kulit kering

- Berpakaian yang sesuai dengan iklim. - Menjaga suhu dalam ruangan yang aman. - Berendam 1-2 kali seminggu. - Lumasi kulit dengan body lotion.

Wanita: - Nyeri saat berhubungan kelamin. - Perdarahan vagina setelah berhubungan seksual. - Gatal dan iritasi vagina. - Orgasme melambat. Pria: - Ereksi dan pencapaian orgasme melambat. - Mungkin memerlukan peresapan pemberian krim antibiotik. - Gunakan pelumas saat berhubungan kelamin. - Carilah bimbingan kesehatan/seksual bila perlu.

- Kehilangan kepadatan tulang. - Kehilangan ukuran dan kekuatan otot - Degenerasi tulang

Penurunan tinggi badan. Rentan terhadap fraktur. Kifosis. Keluhan nyeri punggung. - Kehilangan kekuatan,

Berolahraga secara teratur. Makan makanan tinggi kalsium. Batasi masukan fosfor. Mungkin perlu mendapat resep tambahan hormon dan kalsium.

rawan sendi.

fleksibiltas dan ketahanan. - Keluhan nyeri sendi - Retensi urin. - Kesulitan berkemih. - Keluhan nyeri sendi. - Kunjungi dokter untuk pemeriksaan berkala. - Jangan jauh dari toilet. - Pakai pakaian yang mudah dibuka. - Minum banyak air. - Pertahankan keasaman urin - Pelihara hygiene. - Gunakan es batu dan obat kumur. - Sikat gigi dan pijatan gusi setiap hari. - Makan sedikit tapi sering. - Mintalah perawatan gigi berkala.

Sistem Genitourinarius

- Kapasitas kandung kemih menurun. - Keterlambatan rasa ingin berkemih.

Sistem Gastrointestinal

- Penurunan salvias. - Kesulitan menelan makanan. - Perlambatan pengosongan esophagus dan lambung
- Penurunan motilitas GI.

Keluhan mulut kering. Keluhan sesak Nyeri ulu hati. Gangguan pencernaan.

2.1.8 Penyakit-penyakit pada Lanjut usia 1. Sistem Pernapasan 1) Emfisema Merupakan suatu perubahan struktur paru-paru dalam bentuk pelebaran saluran napas di ujung akhir bronkus disertai dengan kerusakan dinding alveolus yang menimbulkan kesulitan pengeluaran udara pernapasan. Gejala emfisema diawali dengan sesak napas, batuk yang disertai dahak berwarna putih, badan terlihat lelah, nafsu makan berkurang, dan berat badan pasien menurun. 2) Asma Merupakan penyakit inflamasi kronis saluran pernapasan. Ditandai dengan 3 hal, antara lain penyempitan saluran napas, pembengkakan, dan sekresi lendir yang berlebih di saluran napas. Secara umum gejala asma adalah sesak napas, batuk berdahak, dan suara napas yang berbunyi wheezing, yang biasanya timbul pada pagi hari menjelang waktu subuh. 3) Pneumonia Merupakan penyakit infeksi paru. Gejala pneumonia meliputi demam, batuk, napas pendek, berkeringat, menggigil, dada terasa berat dan nyeri saat bernapas (pleuritis), nyeri kepala, nyeri otot, lesu dan suhu tubuh rendah.

4) Bronkitis Merupakan peradangan membran mukosa yang melapisi bronkus dan bronkiolus, yaitu jalan napas dari trakea ke paru-paru. Bronkitis akut ditandai dengan batuk dengan atau tanpa sputum, terdiri atas mukus yang diproduksi di saluran napas. Sedangkan bronkitis kronis ditandai dengan batuk produktif yang berlangsung sampai 3 bulan atau lebih setiap tahunnya selama 2 tahun. 2. Sistem Kardiovaskuler 1. Hipertensi Merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kenaikan tekanan darah baik secara lambat atau mendadak. Hipertensi menetap (tekanan darah yang tinggi yang tidak menurun) merupakan faktor risiko terjadinya stroke, penyakit jantung koroner, gagal jantung dan gagal ginjal. Biasanya penyakit ini tidak memperlihatkan gejala, meskipun beberapa pasien mengatakan nyeri kepala, lesu, pusing, pandangan kabur, muka yang terasa panas atau telinga mendenging. 2. Penyakit Jantung Koroner (PJK) Serangan jantung biasanya terjadi jika bekuan darah menutup aliran darah di arteri coronaria, yaitu pembuluh darah yang menyalurkan makanan ke otot jantung. Gejala berupa rasa tertekan, rasa penuh atau nyeri yang menusuk di dada dan berlangsung selama beberapa menit. Nyeri tersebut juga dapat menjalar dari dada ke bahu, lengan, punggung dan bahkan dapat juga ke gigi dan rahang. Kadang-kadang gejala yang timbul berupa sesak napas, berkeringat (dingin), rasa cemas, pusing, mual sampai muntah, nyeri perut seperti terbakar, kulit dingin, pusing, rasa ringan di kepala, dan terkadang disertai rasa lesu yang luar biasa tanpa sebab yang jelas. 3. Gagal Jantung Merupakan ketidakmampuan jantung memompa darah sesuai kebutuhan fisiologis, disebabkan hipertensi yang memengaruhi pemompaan darah yang akhirnya menyebabkan gagal jantung atau terjadi akibat PJK. Hipertensi dan PJK juga mengganggu curah jantung. 3. Sistem Persyarafan 1. Penyakit Alzheimer Merupakan bagian dari demensia (penurunan daya ingat dan kemunduran fungsi intelektual lainnya) yang mencakup fungsi berbahasa, mengingat, melihat, emosi, dan memahami. 2. Stroke Terjadi bila aliran darah ke otak mendadak terganggu atau jika pembuluh darah di otak pecah sehingga darah mengalir keluar ke jaringan otak di
9

sekitarnya. Stroke dapat dibagi atas 2 kategori besar, yaitu stroke iskemik (akibat penyumbatan aliran darah) dan stroke hemoragik (akibat pecahnya pembuluh darah). 3. Penyakit Parkinson Merupakan suatu penyakit saraf dengan gejala utama berupa tremor, kekakuan otot, dan postur tubuh yang tidak stabil. Gejala utama berupa: - Tremor atau gemetar di tangan, lengan, rahang, atau kepala. - Kekakuan di otot atau ekstremitas. - Bradikinesia atau perlambatan gerakan. - Postur tubuh yang tidak stabil atau gangguan keseimbangan. Pada gejala maksimal, pasien tidak dapat berjalan, berbicara, atau bahkan melakukan suatu pekerjaan yang sederhana. Penyakit ini bersifat menahun, tidak menular, dan tidak diturunkan. 4. Sistem Pencernaan 1. Inkontinensia Alvi Keadaan ketika seseorang kehilangan kontrolnya dalam mengeluarkan tinja, yaitu pasien mengeluarkan tinja tidak pada waktunya dan tidak dapat menahannya. 2. Diare Keadaan ketika seseorang mengalami peningkatan frekuensi BAB lebih dari 3 kali dalam sehari dengan konsistensi feses yang cair, terkadang terdapat ampas dan lendir. Sistem Perkemihan 1. Gagal Ginjal Akut Terjadi penurunan mendadak fungsi ginjal dalam membuang cairan dan ampas darah ke luar tubuh. Tanda dan gejalanya berupa penurunan jumlah pengeluaran urine, retensi air yang dapat menimbulkan edema tungkai, mengantuk, sesak napas, lesu, bingung, kejang atau koma pada kasus berat, dan nyeri dada. 2. Gagal Ginjal Kronis Terjadi penurunan fungsi ginjal yang lambat dengan tanda/gejala yang minimal. Penyebabnya adalah diabetes dan hipertensi. Tanda dan gejala berupa hipertensi, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, anemia, mual serta muntah, lesu dan gelisah, kelelahan, nyeri kepala tanpa sebab yang jelas, penurunan daya ingat, kram otot, BAB berdarah, kulit kekuningan, dan rasa gatal.

5.

10

3. BPH (Benign Prostat Hiperplasia/Hipertropi) Merupakan pembesaran jinak kelenjar prostat. Terjadi oleh karena 2 hal, yaitu penyempitan uretra yang menyebabkan kesulitan berkemih dan retensi air kemih dalam kandung kemih yang menyebabkan dilatasi kandung kemih, hipertrofi kandung kemih. Gejala berupa frekuensi berkemih bertambah, berkemih pada malam hari, kesulitan dalam hal memulai dan menghentikan berkemih, air kemih masih tetap menetes setelah selesai berkemih, rasa nyeri pada waktu berkemih. 4. Inkontinensia Urine Terjadinya pengeluaran urine secara spontan pada sembarang waktu di luar kehendak. Keadaan ini umum dijumpai pada lanjut usia. Dari segi medis, inkontinensia mempermudah timbulnya dekubitus, infeksi saluran kemih, gagal ginjal, dan peningkatan angka kematian. 6. Sistem Muskuloskeletal 1. Osteoartritis Pada penyakit ini, rasa kaku biasanya timbul pada pagi hari setelah tidur, dan sendi terasa nyeri jika digerakkan, tetapi dapat menghilang beberapa saat setelah digerak-gerakan. Osteoartritis terjadi akibat gesekan sendi yang merusak tulang rawan pada lapisan terluar sendi karena penggunaan sendi yang berulangulang. Penyakit ini biasanya mengenai daerah lutut dan punggung. 2. Artritis rheumatoid (arthritis simetris) Pada penyakit ini, kaku pada pagi hari tidak mereda setelah 1 atau 2 jam. Peradangan sendi lain dapat berupa nyeri dan keletihan yang semakin berat. Pembengkakan sendi pada tangan, kaki, siku, pergelangan kanan-kiri. 3. Pirai (gout) Jenis arthritis ini menimbulkan nyeri yang cukup hebat dengan terjadinya penumpukan asam urat di sendi-sendi. Pertama kali mengenai ibu jari kaki sampai berwarna kemerahan dan bengkak. 4. Artritis pada lupus Dapat terjadi pada lupus eritematosus, yaitu penyakit peradangan kronis jaringan ikat yang terjadi karena sistem imunitas tubuh menyerang jaringan atau organ pasien sendiri. Inflamasi mencakup pada sendi, kulit, ginjal, sel darah, jantung, dan paru. 5. Peradangan sendi Keparahan penyakit ini dinilai berdasarkan derajat ketidakmampuan pergerakan yang ditimbulkannya. Bagi seseorang dengan fisik yang aktif, gangguan arthritis ringan sudah dianggap sebagai suatu bencana.

11

6. Osteoporosis Keadaan ini merupakan kondisi tulang yang keropos, rapuh, atau mudah patah. Penyebabnya adalah perubahan kadar hormon, kekurangan kalsium dan vitamin D, dan/atau kurangnya aktivitas fisik. Osteoporosis merupakan penyebab utama fraktur orang dewasa terutama pada kaum perempuan. 7. Sistem Penglihatan - Katarak Merupakan suatu keadaan dimana terjadi kekeruhan pada lensa mata sehingga persepsi cahaya yang memasuki mata menjadi terganggu dan mengaburkan penglihatan seseorang. Ditandai dengan kekeruhan lensa mata, pembengkakan lensa yang berakhir dengan pengerutan dan kehilangan sifat transparansinya. 8. Sistem Pendengaran - Presbiakusis Merupakan istilah kedokteran untuk gangguan pendengaran pada lanjut usia. Penyebabnya karena infeksi atau kerusakan di telinga dalam. Sistem Endokrin - Diabetes Merupakan suatu keadaan kenaikan kadar gula darah yang menetap. Tanda dan gejala yaitu peningkatan frekuensi berkemih, rasa haus, bertambahnya nafsu makan, infeksi atau luka yang sukar sembuh, dan lesu.

9.

10. Sistem Reproduksi - Disfungsi Ereksi Disfungsi ereksi berarti kegagalan dan ketidakmampuan mempertahankan ereksi pada 50% usaha penetrasi pada persetubuhan. Timbul akibat gangguan vaskular, neurogenik, endokrin, kelainan struktur penis, efek samping obat, dan stress psikologis. 2.1.9 Terapi pada Lanjut usia - Terapi Modalitas: untuk mengisi waktu luang bagi lanjut usia. - Terapi Aktifitas Kelompok: untuk meningkatkan kebersaman dan bertukar pengalaman. - Terapi Musik: untuk meningkatkan gairah hidup. - Terapi Berkebun: untuk melatih kesabaran. - Terapi dengan Binatang: untuk meningkatkan kasih sayang dan mengisi waktu luang. - Terapi Kognitif: agar daya ingat tidak menurun. - Life Review Terapi: meningkatkan gairah hidup dan harga diri. - Terapi Keagamaan: meningkatkan rasa nyaman menjelang kematian.
12

2.2 Keperawatan Gerontik


2.2.1 Definisi Keperawatan Gerontik Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang didasarkan pada ilmu dan kiat/teknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosio-spritual dan kultural yang bersifat holistik, ditujukan pada klien lanjut usia, baik sehat maupun sakit pada tingkat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Gerontik berasal dari kata gerontologi dan geriatrik. Gerontologi adalah cabang ilmu yang membahas tentang proses penuaan/masalah yang timbul pada orang yang berusia lanjut. Geriatrik berkaitan dengan penyakit yang terjadi pada orang yang berusia lanjut. Jadi, keperawatan gerontik adalah spesialis keperawatan lanjut usia yang dapat menjalankan perannya pada tiap tatanan pelayanan dengan menggunakan pengetahuan, keahlian dan ketrampilan merawat untuk meningkatkan fungsi optimal lanjut usia secara komprehensif. 2.2.2 Lingkup dan Tanggung Jawab Keperawatan Gerontik Fenomena yang menjadi bidang garap keperawatan gerontik adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (KDM) lanjut usia sebagai akibat proses penuaan. Lingkup askep gerontik meliputi: 1. Pencegahan terhadap ketidakmampuan akibat proses penuaan. 2. Perawatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akibat proses penuaan. 3. Pemulihan ditujukan untuk upaya mengatasi kebutuhan akibat proses penuaan. Peran dan fungsi keperawatan gerontik sebagai berikut: 1. Sebagai care giver/pemberi asuhan langsung Berupa bantuan kepada klien lanjut usia yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya sebagai akibat proses penuaan, meliputi: - Pengkajian: upaya mengumpulkan data/informasi yang benar tentang status kesehatan lanjut usia. - Menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan analisis dari hasil pengkajian. - Merencanakan intervensi keperawatan untuk mengatasi kesenjangan langkahlangkah/cara penyelesaian masalah lanjut usia baik bersifat aktual, resiko maupun potensial. - Melaksanakan rencana yang telah disusun. - Mengevaluasi berdasarkan respon verbal dan non verbal klien lanjut usia terhadap intervensi yang dilakukan. 2. Sebagai pendidik klien lanjut usia Membantu meningkatkan pengetahuan klien lanjut usia untuk memahami tentang pemenuhan kebutuhannya.
13

3. Sebagai motivator Memotivasi klien lanjut usia yang kurang memiliki kemauan untuk memenuhi kebutuhan. 4. Sebagai advokasi Memberi advokasi terhadap klien lanjut usia dalam pemenuhan kebutuhannya. 5. Sebagai Konselor Memberikan konseling terhadap klien lanjut usia agar mampu beradaptasi secara optimal terhadap proses penuaan yang terjadi. Tanggung jawab perawat gerontik, meliputi: Membantu klien lanjut usia memperoleh kesehatan secara optimal. Membantu klien lanjut usia untuk memelihara kesehatannya. Membantu klien lanjut usia menerima kondisinya. Membantu klien lanjut usia menghadapi ajal dengan diperlakukan secara manusiawi sampai dengan meninggal.

1. 2. 3. 4.

2.2.3 Sifat Pelayanan Keperawatan Gerontik Sifat pelayanan gerontik, antara lain: 1. Independent (layanan tidak tergantung pada profesi lain/mandiri) Artinya: asuhan keperawatan dilakukan secara mandiri oleh profesi keperawatan membantu lanjut usia dalam pemenuhan kebutuhan dasar lanjut usia. 2. Dependent atau kolaboratif Artinya: saling menunjang dengan disiplin dalam mengatasi masalah kesehatan lanjut usia. 3. Humanistik (secara manusiawi) Artinya: didasarkan pada nilai-nilai kemanusian dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap lanjut usia. 4. Holistik (secara keseluruhan). Lanjut usia merupakan bagian masyarakat dan keluarga, sehingga asuhan keperawatan gerontik harus memperhatikan aspek sosial budaya keluarga dan masyarakat.

2.3 Konsep Asuhan Keperawatan pada Gerontik


2.3.1 Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lanjut usia Kegiatan asuhan keperawatan bagi lanjut usia menurut Depkes, dimaksudkan untuk memberikan bantuan, bimbingan pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara individu maupun kelompok, seperti di rumah/lingkungan keluarga, panti jompo maupun puskesmas, yang diberikan oleh perawat.
14

2.3.2 Pendekatan Keperawatan Lanjut Usia 1. Pendekatan fisik Untuk klien lanjut usia yang masih aktif dapat diberikan bimbingan mengenai kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan rambut dan kuku, kebersihan tempat tidur serta posisi tidurnya, makanan, cara memakan obat, dan cara pindah dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya. 2. Pendekatan psikis Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas. Perawat harus selalu memegang prinsip Triple S, yaitu sabar, simpatik dan service. Hal itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena bersama dengan semakin lanjutnya usia. Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala, seperti menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi, berkurangnya kegairahan atau keinginan, peningkatan. 3. Pendekatan sosial Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita. Jadi pendekatan social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. 4. Pendekatan spiritual Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya dalam kedaan sakit atau mendeteksi kematian. 2.3.3 Tujuan Asuhan Keperawatan Lanjut Usia Agar lanjut usia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dengan: 1. Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut dengan jalan perawatan dan pencegahan. 2. Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup klien lanjut usia (life support). 3. Menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit atau gangguan baik kronis maupun akut. 4. Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai kelainan tertentu. 5. Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para klien lanjut usia yang menderita suatu penyakit, masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal).

15

2.4 Asuhan Keperawatan pada Lanjut Usia


Asuhan keperawatan yang dilakukan meliputi aspek bio-psiko-sosio-spiritual dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan dari pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. 2.4.1 Pengkajian Pengkajian yang dilakukan meliputi fisik, psikologis, sosial dan spiritual untuk mendapatkan data dan mengetahui kemampuan dan kekuatan usia lanjut. A. Fisik/Biologis Pengkajian fisik/biologis dilakukan dengan cara wawancara, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. Riwayat kesehatan usia lanjut dikaji dengan menanyakan tentang: - Pandangan usia lanjut tentang kesehatannya. - Kegiatan yang mampu ia lakukan. - Kekuatan fisik usia lanjut: kekuatan otot, sendi, penglihatan, pendengaran. - Kebiasaan usia lanjut merawat diri sendiri. - Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur, buang air besar/kecil. - Kebiasaan olahraga. - Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan. - Kebiasaan usia lanjut dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan minum obat. - Masalah-masalah seksual yang dirasakan. B. Psikologis Pemeriksaan psikologis dilakukan saat berkomunikasi dengan usia lanjut untuk melihat fungsi kognitif termasuk daya ingat, proses fikir, perasaan, orientasi terhadap realitas dan kemampuan usia lanjut dalam penyelesaian masalahnya. Perubahan yang umum terjadi pada usia lanjut adalah daya ingat yang menurun, proses fikir yang menjadi lambat, dan adanya perasaan sedih karena merasa kurang diperhatikan. Hal yang perlu dikaji: Apakah usia lanjut mengenal masalah-masalah utamanya? Apakah usia lanjut optimis memandang sesuatu? Bagaimana sikap dan penerimaan terhadap proses penuaan? Apakah usia lanjut merasa dirinya dibutuhkan atau tidak? Bagaimana usia lanjut tersebut mengatasi masalah atau stress? Apakah usia lanjut tersebut mudah untuk menyesuaikan diri? Apakah usia lanjut tersebut sering mengalami kegagalan? Apakah harapan usia lanjut tersebut di masa sekarang dan masa yang akan datang?
16

C. Sosial-ekonomi Penilaian sosial dilihat dari bagaimana usia lanjut tersebut membina keakraban dengan teman sebaya ataupun dengan lingkungannya dan bagaimana keterlibatan usia lanjut dalam organisasi sosial. Status ekonomi juga mempengaruhi yaitu yang terkait dengan penghasilan yang mereka peroleh. Hal-hal yang perlu dikaji antara lain: - Apa saja kesibukan usia lanjut dalam mengisi waktu luang? - Apa saja sumber keuangan usia lanjut tersebut? - Dengan siapa usia lanjut tersebut tinggal? - Kegiatan organisasi sosial apa yang diikuti oleh usia lanjut tersebut? Bagaimana pandangan usia lanjut terhadap lingkungannya? Berapa sering usia lanjut tersebut berhubungan dengan orang lain di luar rumah? Siapa yang biasa mengunjungi usia lanjut? Seberapa besar ketergantungan usia lanjut? Apakah usia lanjut dapat menyalurkan hobi atau keinginannya dengan fasilitas yang ada?

D. Spiritual Penilaian spiritual berkaitan dengan keyakinan agama yang dimiliki usia lanjut dan sejauh mana keyakinan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Usia lanjut yang dapat menjalankan ibadahnya dengan baik, keyakinan tersebut benar-benar diresapi dalam kehidupan sehari-hari dan ia akan lebih mudah menyesuaikan diri terhadap proses penuaan. Hal yang perlu dikaji antara lain: - Apakah usia lanjut secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya? - Apakah usia lanjut secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan? - Bagaimana usia lanjut selalu berusaha menyelesaikan masalah? - Apakah usia lanjut terlihat sabar dan tawakal?

17

Format Pengkajian pada Gerontik

A. Karakteristik Demografi 1. Identitas diri klien Nama Lengkap Tempat/Tanggal Lahir (Umur) Jenis Kelamin Status Perkawinan Agama 2. Keluarga yang bisa dihubungi Nama : Umur : Jenis Kelamin : Pekerjaan : Alamat : No. Telepon/Hp : Hubungan dengan Klien : 3. Riwayat pekerjaan dan status klien Pekerjaan saat ini : Sumber pendapatan : 4. Aktivitas Rekreasi Hobi Berpergian/wisata Keanggotaan Alamat Suku/Bangsa Pendidikan Terakhir

: : :

B. Pola Kebiasaan Sehari-hari 1. Nutrisi Sebelum masuk rumah sakit - Frekuensi makan : - Nafsu makan : - Jenis makanan : - Porsi : - Alergi terhadap makanan : - Pantangan makan : - Frekuensi minum :
18

- Jenis minuman - Masalah Setelah masuk rumah sakit - Frekuensi makan - Nafsu makan - Jenis makanan - Porsi - Alergi terhadap makanan - Pantangan makan - Frekuensi minum - Jenis minuman - Masalah

: :

: : : : : : : : :

2. Eliminasi Sebelum masuk rumah sakit - Frekuensi BAK : - Keluhan yang berhubungan dengan BAK : - Frekuensi BAB : - Konsistensi : - Keluhan yang berhubungan dengan BAB : Setelah masuk rumah sakit - Frekuensi BAK : - Keluhan yang berhubungan dengan BAK : - Frekuensi BAB : - Konsistensi : - Keluhan yang berhubungan dengan BAB : 3. Personal Higiene Sebelum masuk rumah sakit a) Mandi - Frekuensi mandi - Pemakaian sabun (ya/tidak) b) Oral Higiene - Frekuensi dan waktu gosok gigi - Penggunaan pasta gigi (ya/tidak) c) Cuci rambut - Frekuensi - Penggunaan shampoo (ya/tidak)

: : : : : :

19

d) Kuku dan tangan - Frekuensi gunting kuku - Kebiasaan mencuci tangan Setelah masuk rumah sakit a) Mandi - Frekuensi mandi - Pemakaian sabun (ya/tidak) b) Oral Higiene - Frekuensi dan waktu gosok gigi - Penggunaan pasta gigi (ya/tidak) c) Cuci rambut - Frekuensi - Penggunaan shampoo (ya/tidak) d) Kuku dan tangan - Frekuensi gunting kuku - Kebiasaan mencuci tangan

: :

: : : : : : : :

4. Istirahat dan tidur Sebelum masuk rumah sakit - Lama tidur malam : - Lama tidur siang : - Keluhan yang berhubungan dengan tidur : Setelah masuk rumah sakit - Lama tidur malam : - Lama tidur siang : - Keluhan yang berhubungan dengan tidur : 5. Kebiasaan mengisi waktu luang Sebelum masuk rumah sakit - Olahraga : - Nonton TV : - Berkebun/memasak : Setelah masuk rumah sakit - Olahraga : - Nonton TV : - Berkebun/memasak : 6. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan Sebelum masuk rumah sakit - Merokok (ya/tidak) : - Minuman keras (ya/tidak) : - Ketergantungan terhadap obat (ya/tidak) :
20

Sebelum masuk rumah sakit - Merokok (ya/tidak) : - Minuman keras (ya/tidak) : - Ketergantungan terhadap obat (ya/tidak) : 7. Uraian kronologis kegiatan sehari-hari Jenis Kegiatan Lama waktu untuk setiap kegiatan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. C. Status Kesehatan 1. Status Kesehatan Saat ini a) Keluhan utama dalam 1 tahun terakhir

b) Gejala yang dirasakan

c) Faktor pencetus

d) Timbulnya keluhan : ( ) mendadak e) Waktu timbulnya keluhan:

( ) bertahap

f) Upaya mengatasi

21

2. Riwayat Kesehatan Masa Lalu a) Penyakit yang pernah diderita

b) Riwayat alergi (obat, makanan, binatang, debu, dll)

c) Riwayat kecelakaan

d) Riwayat dirawat di rumah sakit

e) Riwayat pemakaian obat

f) Riwayat kesehatan keluarga

3. Pemeriksaan fisik I. Data Klinik Keadaan Umum : baik/cukup/lemah Kesadaran : compos mentis/apatis/somnolen/delirium/koma/stupor TTV : - TD:mmHg - Nadi/Pols:.x/menit - Pernafasan/RR:.x/menit - Sutu/Temp:.oC BB : ..Kg - Naik : ..Kg - Turun : ..Kg TB : ..cm II. Pengkajian Fisik - Kepala - Warna rambut: hitam/beruban/campuran - Kebersihan: kotor/bersih - Distribusi: jarang/lebat/sedang - Kerontokan: ya/tidak - Keluhan: ya/tidak Jika ya, jelaskan
22

- Mata - Bentuk: simetris/asimetris - Konjungtiva: anemis/tidak - Sklera: ikterik/tidak (an ikterik) - Pupil: isokor/tidak (an isokor) - Strabismus: ya/tidak - Penglihatan: kabur/tidak - Peradangan: ya/tidak - Riwayat katarak: ya/tidak - Keluhan: ya/tidak Jika ya, jelaskan - Hidung - Bentuk: simetris/asimetris - Peradangan: ya/tidak - Penciuman: terganggu/tidak Jika terganggu, jelaskan - Keluhan lain: ya/tidak Jika ya, jelaskan - Mulut dan Tenggorokan - Kebersihan: baik/buruk/sedang - Mukosa: kering/lembab - Peradangan/stomatitis: ya/tidak - Gigi: karies/tidak ompong/tidak - Radang gusi: ya/tidak - Kesulitan mengunyah: ya/tidak - Kesulitan menelan: ya/tidak - Telinga - Bentuk: simetris/asimetris - Kebersihan: baik/cukup/sedang - Peradangan: ya/tidak - Pendengaran: terganggu/tidak Jika terganggu, jelaskan - Keluhan lain: ya/tidak Jika ya, jelaskan - Leher - Pembesaran kelenjar tiroid: ya/tidak - Kaku: ya/tidak - Dada - Bentuk: normal chest/barrel chest/pigeon chest/lainnya - Wheezing: ya/tidak - Ronchi: ya/tidak - Suara jantung tambahan: ada/tidak
23

- Abdomen - Bentuk: datar (flat)/lainnya - Nyeri tekan: ya/tidak - Kembung: ya/tidak - Bising usus: ada/tidak - Massa: ya/tidak - Genetalia - Kebersihan: baik/sedang/buruk - Hemoroid: ya/tidak - Ekstremitas - Rentang gerak: maksimal/terbatas, jelaskan - Tremor: ya/tidak - Edema kaki: ya/tidak - Plebitis: ya/tidak, jelaskan - Deformitas: ya/tidak, jelaskan.. - Klaudikasi: ya/tidak - Integumen - Kebersihan: baik/buruk/sedang - Warna: pucat/cyanosis/normal/lainnya - Kelembapan: kering/lembab - Turgor: elastis/kurang elastis/lainnya - Gangguan pada kulit: panu/kadas/kurap/gatal/lainnya. 4. Pengkajian Fungsional pada Lansia
No. Kriteria dengan Bantuan Mandiri Ket

Makan Minum Berpindah dari kursi ke tempat tidur, sebaliknya Personal higiene (Cuci muka, menyisir rambut, menggosok gigi) 5. Keluar masuk toilet (Mencuci pakaian, menyeka tubuh) 6. Mandi 7. Jalan dipermukaan datar 8. Naik turun tangga 9. Mengenakan pakaian 10. Kontrol bowel (BAB) 11. Kontrol bladder (BAK) 12. Olah raga/latihan 13. Reaksi pemanfaatan waktu luang Jumlah Jumlah skoring: a) 120 : Mandiri b) 55 115 : Ketergantungan sebagian c) 50 : Ketergantungan total

1. 2. 3. 4.

5 5 5 0 5 5 0 5 5 5 5 5 5

10 10 10 5 10 10 5 10 10 10 10 10 10

24

5. Pengkajian Status Mental pada Lansia Identifikasi tingkat kerusakan intelektual. Pertanyaan Tanggal berapa hari ini ? Hari apa sekarang ini ? Apa nama tempat ini ? Dimana alamat anda ? Berapa umur anda ? Kapan anda lahir (Min tahun lahir) ? Siapa presiden Indonesia sekarang ? Siapa presiden Indonesia sebelumnya ? Siapa nama ibu anda Kurani 3 dari 20 dan tetap lakukan pengurangan 3 dari setiap angka baru (20 3,17 3, 14 3,11 3) Jumlah Keterangan: Keterangan hasil: a) Salah 0 3: Fungsi intelektual utuh b) Salah 4 5: Kerusakan intelektual ringan c) Salah 6 8: Kerusakan intelektual sedang d) Salah 9 10: Kerusakan intelektual berat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Benar Salah

25

2.4.2 Diagnosa Keperawatan A. Pengertian Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 & NANDA). B. Komponen Diagnosa Keperawatan Rumusan diagnosa keperawatan mengandung tiga komponen utama, yaitu: 1) Problem (P/masalah), merupakan gambaran keadaan klien dimana tindakan keperawatan dapat diberikan. Tujuan: menjelaskan status kesehatan klien atau masalah kesehatan klien secara jelas dan sesingkat mungkin. 2) Etiologi (E/penyebab), keadaan ini menunjukkan penyebab keadaan atau masalah kesehatan yang memberikan arah terhadap terapi keperawatan. Unsurunsur dalam identifikasi etiologi: - Patofisiologi penyakit: semua proses penyakit, akut atau kronis yang dapat menyebabkan / mendukung masalah. - Situasional: personal dan lingkungan (kurang pengetahuan, isolasi sosial, dll). - Medikasi (berhubungan dengan program pengobatan/perawatan): keterbatasan institusi atau rumah sakit, sehingga tidak mampu memberikan perawatan. 3) Sign & symptom (S/tanda & gejala) adalah ciri, tanda atau gejala, yang merupakan informasi yang diperlukan untuk merumuskan diagnosis keperawatan. Jadi rumus diagnosa keperawatan adalah : PE / PES. C. Syarat Penyusunan Diagnosa Keperawatan a) Perumusan harus jelas dan singkat dari respon klien terhadap situasi atau keadaan yang dihadapi.

b) Spesifik dan akurat (pasti). c) Dapat merupakan pernyataan dari penyebab. d) Memberikan arahan pada asuhan keperawatan. e) Dapat dilaksanakan oleh perawat. f) a) b) c) d) Mencerminan keadaan kesehatan klien. Berorientasi kepada klien, keluarga dan masyarakat. Bersifat aktual atau potensial. Dapat diatasi dengan intervensi keperawatan. Menyatakan masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat, serta faktor-faktor penyebab timbulnya masalah tersebut.
26

D. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam menentukan Diagnosa Keperawatan

E. Langkah-Langkah Menentukan Diagnosa Keperawatan Klasifikasi dan Analisis Data Pengelompokkan data adalah mengelompokkan data-data klien atau keadaan tertentu dimana klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria permasalahannya. Pengelmpkkan data dapat disusun berdasarkan pola respon manusia (taksonomi NANDA) dan/atau pola fungsi kesehatan (Gordon, 1982). - Persepsi kesehatan: pola penatalaksanaan kesehatan - Nutrisi: pola metabolisme - Pola eliminasi - Aktivitas: pola latihan - Tidur: pola istirahat - Kognitif: pola perseptual - Persepsi diri: pola konsep diri - Peran: pola hubungan - Seksualitas: pola reproduktif - Koping: pola toleransi stress - Nilai: pola keyakinan Mengindentifikasi masalah klien a) Menentukan kelebihan klien Apabila klien memenuhi standar kriteria kesehatan, perawat kemudian menyimpulkan bahwa klien memiliki kelebihan dalam hal tertentu. Kelebihan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan atau membantu memecahkan masalah yang klien hadapi. b) Menentukan masalah klien Jika klien tidak memenuhi standar kriteria, maka klien tersebut mengalami keterbatasan dalam aspek kesehatannya dan memerlukan pertolongan. c) Menentukan masalah yang pernah dialami oleh klien Pada tahap ini, penting untuk menentukan masalah potensial klien. Misalnya ditemukan adanya tanda-tanda infeksi pada luka klien, tetapi dari hasil test laboratorium, tidak menunjukkan adanya suatu kelainan. Sesuai dengan teori, maka akan timbul adanya infeksi. Perawat kemudian menyimpulkan bahwa daya tahan tubuh klien tidak mampu melawan infeksi. d) Penentuan keputusan - Tidak ada masalah, tetapi perlu peningkatan status dan fungsi (kesejahteraan): tidak ada indikasi respon keperawatan, meningkatnya status kesehatan dan kebiasaan, serta adanya inisiatif promosi kesehatan untuk memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga. - Masalah kemungkinan (possible problem): pola mengumpulkan data yang lengkap untuk memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga. - Masalah aktual, resiko, atau sindrom: tidak mampu merawat karena klien menolak masalah dan pengobatan, mulai untuk mendesain perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk mencegah, menurunkan, atau menyelesaikan masalah.
27

- Masalah kolaboratif: konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional yang kompeten dan bekerja secara kolaboratif pada masalah tersebut. Masalah kolaboratif adalah komplikasi fisiologis yang diakibatkan dari patofisiologi, berhubungan dengan pengobatan dan situasi yang lain. Tugas perawat adalah memonitor, untuk mendeteksi status klien dan kolaboratif dengan tenaga medis guna pengobatan yang tepat. Validasi diagnosa keperawatan Adalah menghubungkan dengan klasifikasi gejala dan tanda-tanda yang kemudian merujuk kepada kelengkapan dan ketepatan data. Untuk kelengkapan dan ketepatan data, kerja sama dengan klien sangat penting untuk saling percaya, sehingga mendapatkan data yang tepat. Pada tahap ini, perawat memvalidasi data yang ada secara akurat, yang dilakukan bersama klien atau keluarga dan atau masyarakat. Validasi tersebut dilaksanakan dengan mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang reflektif kepada klien atau keluarga tentang kejelasan interpretasi data. Begitu diagnosis keperawatan disusun, maka harus dilakukan validasi. Menyusun diagnosis keperawatan sesuai dengan prioritasnya Setelah perawat mengelompokkan, mengidentifikasi, dan memvalidasi datadata yang signifikan, maka tugas perawat pada tahap ini adalah merumuskan suatu diagnosis keperawatan. Diagnosa keperawatan dapat bersifat aktual, resiko, sindrom, kemungkinan. Menyusun diagnosis keperawatan hendaknya diurutkan menurut kebutuhan yang berlandaskan hirarki Maslow (kecuali untuk kasus kegawat daruratan, menggunakan prioritas berdasarkan yang mengancam jiwa) : Diagnosa Keperawatan menurut Carpenito (2000) dapat dibedakan menjadi 5 kategori: - Aktual: menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang ditemukan. - Resiko: menjelaskan masalah kesehatan yang nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi (Keliat, 1990). - Kemungkinan: menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan masalah keperawatan kemungkinan. Pada keadaan ini masalah dan faktor pendukung belum ada tapi sudah ada faktor yang dapat menimbulkan masalah (Keliat, 1990). - Diagnosa Keperawatan Wellness adalah keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga, dan atau masyarakat dalam transisi dari tingkat sejahtera tertentu ke tingkat sejahtera yang lebih tinggi. Ada 2 kunci yang harus ada: 1) sesuatu yang menyenangkan pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. 2) Adanya status dan fungsi yang efektif. - Diagnosa Keperawatan Syndrome adalah diagnosa yang terdiri dari kelompok diagnosa keperawatan aktual dan resiko tinggi yang diperkirakan akan muncul / timbul karena suatu kejadian / situasi tertentu.
28

Berikut ini adalah diagnosa keperawatan yang sering muncul dalam penatalaksanaan untuk menanggulangi gangguan biologis pada lanjut usia: 1) Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum, penyempitan jalan napas. 2) Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan edema paru. 3) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan alveolus. 4) Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular serebral. 5) Inkontinensia alvi/urine berhubungan dengan menurunnya fungsi fisiologis otototot sfingter karena penuaan. 6) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kerusakan fungsi ginjal. 7) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan karena diare. 8) Nyeri akut/kronis berhubungan dengan fraktur dan spasme otot, inflamasi dan pembengkakan. 9) Konstipasi berhubungan dengan imobilitas atau terjadinya ileus (obstruksi usus). 10) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, dan keterbatasan beban berat badan. 11) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi atau ketidakseimbangan mobilitas. 12) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi/tirah baring yang lama. 13) Risiko cidera berhubungan dengan rapuhnya tulang, kekuatan tulang yang berkurang. 14) Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal, penurunan minat dalam merawat diri, penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri saat bergerak atau depresi. 15) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri, fibrosistis. 16) Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, prognosis, dan pengobatan akibat kurang mengingat, kesalahan interpretasi informasi. 17) Ansietas berhubungan dengan kerusakan sensori dan kurangnya pemahaman mengenai perawatan pascaoperatif, pemberian obat. 18) Risiko cidera berhubungan dengan kerusakan penglihatan, kesulitan keseimbangan. 19) Nyeri berhubungan dengan trauma, inflamasi bedah. 20) Peningkatan kadar gula darah berhubungan dengan kerusakan insulin. 21) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan perawatan luka yang tidak adekuat. 22) Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai darah ke daerah perifer. 23) Gangguan pola seksual berhubungan dengan nyeri, kelemahan, sulit mengatur posisi. 24) Ketidakberdayaan berhubungan dengan perubahan fisik dan psikologis akibat penyakit. 25) Gangguan Nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pemasukan makanan yang tidak adekuat.
29

26) Gangguan persepsi sensorik: pendengaran/penglihatan berhubungan dengan hambatan penerimaan dan pengiriman rangsangan. 27) Menarik diri dari lingkungan berhubungan dengan perasaan tidak mampu. 28) Isolasi sosial berhubungan dengan perasaan curiga. 29) Harga diri rendah berhubungan dengan perasaan ditolak. 30) Koping yang tidak adekuat berhubungan dengan ketidakmampuan mengungkapkan perasaan secara tepat. 31) Penolakan terhadap proses penuaan berhubungan dengan ketidaksiapan menghadapi kematian. 32) Marah terhadap Tuhan berhubungan dengan kegagalan yang dialami. 33) Perasaan tidak tenang berhubungan dengan ketidakmampuan melakukan ibadah secara tepat. 2.4.3 Perencaan/Intervensi Perencanaan dibuat berdasarkan permasalahan yang dialami oleh usia lanjut dengan tujuan agar usia lanjut, keluarga, dan petugas kesehatan terutama perawat, baik yang melakukan perawatan di rumah maupun di panti, dapat membantu usia lanjut dan usia lanjut sendiri dapat berfungsi seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan kondisi fisik, psikologis, dan sosial dengan tidak bergantung pada orang lain. Tujuan dari perencanaan tindakan keperawatan pada usia lanjut diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar antara lain: 1. Pemenuhan kebutuhan nutrisi Peran gizi pada usia lanjut adalah untuk mempertahankan kesehatan dan kebugaran dan memperlambat timbulnya penyakit degeneratif seperti osteoporosis dan penyakit yang umum terjadi pada usia lanjut, sehingga dapat mencapai hari tua yang sehat dan tetap aktif. Penurunan alat penciuman dan pengecapan, pengunyahan kurang sempurna dan kurang nyaman saat makan karena gigi kurang lengkap, rasa penuh di perut dan sukar buang air besar karena melemahnya otot lambung dan usus akan menyebabkan nafsu makan usia lanjut berkurang. Masalah gizi yang pada usia lanjut adalah kelebihan gizi (obesitas, malnutrisi), kekurangan gizi (anoreksia, penurunan BB), kekurangan vitamin, dan kelebihan vitamin. Rencana makanan untuk lanjut usia, meliputi: a) Berikan makanan porsi kecil tapi sering. b) Banyak minum dan kurangi makan. 1) Dapat meringankan pekerjaan ginjal dan memperlancar pengeluaran sisa makanan. 2) Hindari makanan yang terlalu asin. c) Beri makanan yang mengandung serat, agar buang air besar menjadi mudah dan teratur. d) Batasi pemberian mkanan yang mengandung tinggi kalori agar badan dalam keadaan seimbang seperti: gula, makanan manis, minyak, makanan berlemak. e) Membatasi minum kopi dan teh.
30

2. Meningkatkan keamanan dan keselamatan Kecelakaan yang terjadi pada usia lanjut seperti jatuh, kecelakaan lalu lintas, dan kebakaran. Penurunan kondisi fisik seperti penglihatan dan pendengaran membuat usia lanjut kurang bisa mengamati situasi sekitarnya sehingga mereka rentan terhadap kecelakaan. Untuk mencegah resiko kecelakaan, beberapa tindakan yang harus dilakukan antara lain: - Klien/lanjut usia 1) Biarkan lanjut usia menggunakan alat bantu untuk meningkatkan keselamatan. 2) Latih lanjut usia untuk pindah dari tempat tidur ke kursi. 3) Jika klien mengalami masalah fisik, misalnya rematik, gangguan persyarafan, latih klien untuk berjalan menggunakan alat bantu berjalan. 4) Bantu klien berjalan ke kamar mandi, terutama untuk lanjut usia yang menggunakan obat penenang atau diuretika. 5) Menggunakan kacamata jika berjalan atau melakukan sesuatu. 6) Usahakan ada yang menemani jika berpergian. - Lingkungan 1) Letakkan bel di bawah bantal dan ajarkan cara menggunakannya. 2) Gunakan tempat tidur yang tidak terlalu tinggi. 3) Letakkan meja kecil dekat tempat tidur agar lanjut usia mudah menempatkan alat-alat yang selalu digunakan. 4) Upayakan lantai bersih, rata dan tidak licin. 5) Pasang pegangan di kamar mandi. 6) Hindari lampu yang redup dan menyilaukan. 7) Jika pindah dari ruangan terang ke gelap ajarkan klien lanjut usia untuk memejamkan mata sesaat. 8) Gunakan sandal atau sepatu yang beralas karet. 3. Memelihara kebersihan diri Usia lanjut mengalami kemunduran ataupun motivasi untuk melakukan perawatan diri secara teratur, disebabkan penurunan daya ingat. Upaya yang dilakukan untuk kebersihan diri antara lain: 1. Mengingatkan atau membantu lanjut usia untuk melakukan upaya kebersihan diri misalnya, cuci rambut, sikat gigi, ganti pakaian, dll. 2. Menganjurkan lanjut usia untuk menggunakan sabun lunak yang mengandung minyak atau berikan skin lotion. 3. Mengingatkan/membantu lanjut usia untuk membersihkan lubang telinga, mata, dan gunting kuku 4. Memelihara keseimbangan pola tidur dan istirahat Pada umumnya usia lanjut mengalami gangguan tidur karena proses penuaan. Upaya yang dapat dilakukan antara lain: 1) Menyediakan waktu/tempat tidur yang nyaman. 2) Mengatur lingkungan yang kondusif (ventilasi, suara).

31

3) Melatih lanjut usia untuk melakukan latihan fisik ringan untuk melancarkan sirkulasi darah dan melenturkan otot-otot. Latihan fisik ini dapat dilakukan sesuai hobi, misalnya berkebun, berjalan santai, dll. 4) Memberikan minuman hangat sebelum tidur, misalnya susu hangat. 5. Meningkatkan hubungan interpersonal melalui komunikasi Masalah pada usia lanjut yaitu penurunan daya ingat, pikun, depresi, lekas marah, mudah tersinggung, dan curiga. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi fisik pada usia lanjut dan juga karena hubungan interpersonal yang tidak adekuat. Upaya yang bisa dilakukan antara lain: 1) Berkomunikasi dengan usia lanjut dengan mempertahankan kontak mata. 2) Memberikan stimulus atau mengingatkan usia lanjut terhadap kegiatan yang dilakukan. 3) Menyediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan usia lanjut. 4) Memberikan kesempatan pada usia lanjut untuk mengekspresikan perasaan dan tanggap terhadap respon verbal dan non verbal usia lanjut. 5) Melibatkan usia lanjut dalam keperluan tertentu sesuai dengan kemampuannya. 6) Menghargai pendapat usia lanjut. 2.4.4 Pelaksanaan/Implementasi Semua tindakan yang telah direncanakan, dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan usia lanjut dan situasi serta kondisinya. Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam mengimplementasikan perencanaan, antara lain: 1) Berbicara dengan lembut dan sopan. 2) Memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dilakukan berulang kali jika perlu dengan gambar. 3) Memberikan kesempatan pada usia lanjut untuk bertanya. 2.4.5 Penilaian/Evaluasi Setiap tindakan yang telah dilakukan perlu dievaluasi/dinilai baik verbal maupun non verbal untuk mengetahui sejauh mana usia lanjut atau keluarga mampu melakukan apa yang telah dianjurkan, sehingga perawat dapat melihat keberhasilan dan merencanakan tindakan selanjutnya. 2.4.6 Rencana dan Proses Keperawatan A. Aspek fisik atau biologis 1. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam memasukkan, mencerna, mengabsorbsi makanan. a) NOC: Status nutrisi Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam diharapkan: 1. Asupan nutrisi tidak bermasalah. 2. Asupan makanan dan cairan tidak bermasalah. 3. Energi tidak bermasalah.
32

4. Berat badan ideal.


b) NIC: Manajemen ketidakteraturan makan.

1) Kolaborasi dengan anggota tim kesehatan untuk membuat perencanaan perawatan jika sesuai. 2) Diskusikan dengan tim dan pasien untuk membuat target berat badan, jika berat badan pasien tidak sesuai dengan usia dan bentuk tubuh. 3) Diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan asupan kalori setiap hari supaya mencapai dan mempertahankan berat badan sesuai target. 4) Ajarkan konsep nutrisi yang baik pada pasien. 5) Dorong pasien untuk memonitor diri sendiri terhadap asupan makanan atau pemeliharaan berat badan. 6) Gunakan teknik modifikasi tingkah laku untuk meningkatkan berat badan dan untuk menimimalkan berat badan. 7) Berikan pujian atas peningkatan berat badan dan tingkah laku yang mendukung peningkatan berat badan. 2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama, terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan fungsi yang ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas. a) NOC: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 224 jam pasien diharapkan dapat memperbaiki pola tidurnya dengan kriteria: 1) Mengatur jumlah jam tidurnya. 2) Tidur secara rutin. 3) Meningkatkan pola tidur. 4) Meningkatkan kualitas tidur. 5) Tidak ada gangguan tidur. b) NIC: Peningkatan Tidur 1) Tetapkan pola kegiatan dan tidur pasien. 2) Monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya. 3) Jelaskan pentingnya tidur selama sakit dan stress fisik. 4) Bantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jam tidurnya. Inkontinensia urin berhubungan dengan keterbatasan neuromuskular yang ditandai dengan waktu yang diperlukan ke toilet melebihi waktu normal. a) NOC: Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 324 jam diharapkan pasien mampu: 1) Merespon dengan cepat keinginan buang air kecil (BAK). 2) Mampu mencapai toilet dan mengeluarkan urin secara tepat waktu. 3) Mampu memprediksi pengeluaran urin. b) NIC: Perawatan Inkontinensia Urin 1) Monitor eliminasi urin. 2) Modifikasi baju dan lingkungan untuk memudahkan klien ke toilet.

3.

33

3) Instruksikan pasien untuk mengonsumsi air minum sebanyak 1500 cc/hari. 4. Gangguan proses berpikir berhubungan dengan kemunduran atau kerusakan memori sekunder. a) NOC: Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 224 jam pasien diharapkan dapat meningkatkan daya ingat dengan kriteria: 1) Mengingat dengan segera informasi yang tepat. 2) Mengingat informasi yang baru disampaikan. 3) Mengingat informasi yang sudah lalu. b) NIC: Latihan Daya Ingat 1) Diskusi dengan pasien dan keluarga beberapa masalah ingatan. 2) Rangsang ingatan dengan mengulang pemikiran pasien kemarin dengan cepat. 3) Kenang tentang pengalaman di masa lalu dengan pasien. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh/fungsi yang ditandai dengan perubahan dalam mencapai kepuasan seksual. a) NOC: Fungsi Seksual 1) Mengekspresikan kenyamanan. 2) Mengekspresikan kepercayaan diri. b) NIC: Konseling Seksual 1) Bantu pasien untuk mengekspresikan perubahan fungsi tubuh termasuk organ seksual seiring dengan bertambahnya usia. 2) Diskusikan beberapa pilihan agar dicapai kenyamanan. Kelemahan mobilitas fisik berubungan dengan kerusakan muskuloskeletal dan neuromuskular. Ditandai dengan: 3. Perubahan gaya berjalan. 4. Gerak lambat. 5. Gerak menyebabkan tremor. 6. Usaha yang kuat untuk perubahan gerak. a) NOC: Peningkatan Mobilitas (Mobility Level) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat: 1) Menyambung gerakan/mengkolaborasikan gerakan. 2) Memposisikan penampilan tubuh. 3) Menggerakan otot. b) NIC: Latihan dengan Terapi Gerakan (Exercise Therapy Ambulation) 1) Konsultasi kepada pemberi terapi fisik mengenai rencana gerakan yang sesuai dengan kebutuhan.

5.

6.

34

2) Dorong untuk bergerak secara bebas namun masih dalam batas yang aman. 3) Gunakan alat bantu untuk bergerak, jika tidak kuat untuk berdiri (mudah goyah/tidak kokoh). 7. Kelelahan berhubungan dengan kondisi fisik lemah. Ditandai dengan: - Peningkatan kebutuhan istirahat. - Lelah. - Penampilan menurun a) NOC: Activity Tolerance/Toleransi Aktivitas Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat: 1) Memonitor usaha bernapas dalam respon aktivitas. 2) Melaporkan aktivitas harian. 3) Memonitor ECG dalam batas normal. 4) Memonitor warna kulit. b) NIC: Energy Management 1) Monitor intake nutrisi untuk memastikan sumber energi yang adekuat. 2) Tentukan keterbatasan fisik pasien. 3) Tentukan penyebab kelelahan. 4) Bantu pasien untuk jadwal istirahat. Kerusakan memori berhubungan dengan gangguan neurologis. Ditandai dengan: - Tidak mampu mengingat informasi aktual. - Tidak mampu mengingat kejadian yang baru saja terjadi atau masa lampau. - Lupa dalam melaporkan atau menunjukkan pengalaman. - Tidak mampu belajar atau menyimpan keterampilan atau informasi baru. a) NOC: Orientasi Kognitif Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat: 1) Mengenal diri sendiri 2) Mengenal orang atau hal penting 3) Mengenal tempatnya sekarang 4) Mengenal hari, bulan, dan tahun dengan benar. b) NIC: Pelatihan Memori (Memory Training) 1) Stimulasi memori dengan mengulangi pembicaraan secara jelas di akhir pertemuan dengan pasien. 2) Mengenang pengalaman masa lalu dengan pasien. 3) Menyediakan gambar untuk mengenal ingatannya kembali. 4) Monitor perilaku pasien selama terapi.

8.

35

B. Aspek psikososial 1. Koping tidak efektif berhubungan dengan percaya diri tidak adekuat dalam kemampuan koping, dukungan sosial tidak adekuat yang dibentuk dari karakteristik atau hubungan. a) NOC: koping (coping) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien secara konsisten diharapkan mampu: 1) Mengidentifikasi pola koping yang efektif. 2) Melaporkan penurunan stress. 3) Memodifikasi gaya hidup yang dibutuhkan. 4) Beradaptasi dengan perubahan perkembangan. 5) Menggunakan dukungan sosial yang tersedia. 6) Melaporkan peningkatan kenyamanan psikologis. b) NIC: 1) Dorong aktifitas sosial dan komunitas. 2) Dorong pasien untuk mengembangkan hubungan. 3) Dorong berhubungan dengan seseorang yang memiliki tujuan dan ketertarikan yang sama. 4) Dukung pasien untuk menggunakan mekanisme pertahanan yang sesuai. 5) Kenalkan pasien kepada seseorang yang mempunyai latar belakang pengalaman yang sama. 2. Isolasi sosial berhubungan dengan perubahan penampilan fisik, perubahan keadaan sejahtera, perubahan status mental. a) NOC: Lingkungan keluarga Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien secara konsisten diharapkan mampu: 1) Berpatisipasi dalam aktifitas bersama. 2) Berpatisipasi dala tradisi keluarga. 3) Menerima kujungan dari teman dan anggota keluarga besar. 4) Memberikan dukungan satu sama lain. 5) Mengekspresikan perasaan dan masalah kepada yang lain. 6) Mendorong anggota keluarga untuk tidak ketergantungan. 7) Berpatisipasi dalam rekreasi dan acara aktifitas komunitas. 8) Memecahkan masalah. b) NIC: Keterlibatan keluarga (Family involvement) 1) Mengidentifikasikan kemampuan anggota keluarga untuk terlibat dalam perawatan pasien. 2) Menentukan sumber fisik, psikososial dan pendidikan pemberi pelayanan kesehatan yang utama. 3) Mengidentifkasi defisit perawatan diri pasien. 4) Menentukan tingkat ketergantungan pasien terhadap keluarganya yang sesuai dengan umur atau penyakitnya.
36

3. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan citra tubuh dan fungsi seksual. a) NOC: Setelah dilakukan tindakan intervensi keperawatan selama 224 jam pasien diharapkan akan bisa memperbaiki konsep diri dengan kriteria: 1) Mengidentifikasi pola koping terdahulu yang efektif dan pada saat ini tidak mungkin lagi digunakan akibat penyakit dan penanganan (pemakaian alkohol dan obat-obatan, penggunaan tenaga yang berlebihan). 2) Pasien dan keluarga mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan dan reaksinya terhadap penyakit dan perubahan hidup yang diperlukan. 3) Mencari konseling profesional, jika perlu untuk menghadapi perubahan akibat penyakitnya. 4) Melaporkan kepuasan dengan metode ekspresi seksual. b) NIC: Peningkatan harga diri 1) Kuatkan rasa percaya diri terhadap kemampuan pasien mengendalikan situasi. 2) Menguatkan tenaga pribadi dalam mengenal dirinya. 3) Bantu pasien untuk memeriksa kembali persepsi negatif tentang dirinya. 4. Cemas berhubungan dengan perubahan dalam status peran, status kesehatan, pola interaksi, fungsi peran, lingkungan, status ekonomi. Ditandai dengan: - Ekspresi yang mendalam dalam perubahan hidup. - Mudah tersinggung. - Gangguan tidur. a) NOC: Anxiety Control Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat: 1) Memonitor intensitas cemas. 2) Melaporkan tidur yang adekuat. 3) Mengontrol respon cemas. 4) Merencanakan strategi koping dalamsituasi stress. b) NIC: Anxiety Reduction 1) Bantu pasien untuk menidentifikasi situasi percepatan cemas. 2) Dampingi pasien untuk mempromosikan kenyamanan dan mengurangi ketakutan. 3) Identifikasi ketika perubahan level cemas. 4) Instuksikan pasien dalam teknik relaksasi.

37

5. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik (ketidakseimbangan mobilitas) serta psikologis yang disebabkan penyakit atau terapi. a) NOC: Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2x24jam pasien diharapkan meningkatkan citra tubuhnya dengan kriteria: 1) Merasa puas dengan penampilan tubuhnya. 2) Merasa puas dengan fungsi anggota badannya. 3) Mendiskripsikan bagian tubuh tambahan. b) NIC : Peningkatan Citra Tubuh 1) Bantu pasien untuk mendiskusikan perubahan karena penyakit atau pembedahan. 2) Memutuskan apakah perubahan fisik yang baru saja diterima dapat masuk dalam citra tubuh pasien. 3) Memudahkan hubungan dengan individu lain yang mempunyai penyakit yang sama. C. Aspek spiritual 1. Distress spiritual berhubungan dengan perubahan hidup, kematian atau sekarat diri atau orang lain, cemas, mengasingkan diri, kesendirian atau pengasingan sosial, kurang sosiokultural. a) NOC: pengaharapan (hope) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien secara luas diharapkan mampu: 1) Mengekspresikan orientasi masa depan yang positif. 2) Mengekspresikan arti kehidupan. 3) Mengekspresikan rasa optimis. 4) Mengekspresikan perasaan untuk mengontrol diri sendiri. 5) Mengekspresikan kepercayaan. 6) Mengekspresikan rasa percaya pada diri sendiri dan orang lain. b) NIC: penanaman harapan (hope instillation) 1) Pengkajian pasian atau keluarga untuk mengidentifikasi area pengharapan dalam hidup. 2) Melibatkan pasien secara aktif dalam perawatan diri. 3) Mengajarkan keluarga tentang aspek positif pengharapan. 4) Memberikan kesempatan pasien atau keluarga terlibat dalam support group.

38

CONTOH KASUS

Pengkajian pada Gerontik


A. Karakteristik Demografi 1. Identitas diri klien Nama Tempat/Tanggal Lahir (Umur) Jenis Kelamin Status Perkawinan Agama Ny. N 58 Tahun Perempuan Menikah Islam Alamat Jl. Balai Makmur No. 23, RT. 06, Palembang Suku/Bangsa Pendidikan Terakhir Jawa/Indonesia SMP

2. Keluarga yang bisa dihubungi Nama : Tn. L Umur : 30 Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Pekerjaan : Buruh Pabrik Alamat : Jl. Balai Makmur No. 23, RT. 06, Palembang No. Telepon/Hp :Hubungan dengan Klien : Anak Kandung 3. Riwayat pekerjaan dan status klien Pekerjaan saat ini : Ibu Rumah Tangga Sumber pendapatan : Dari anak dan suami 4. Aktivitas Rekreasi Hobi Berpergian/wisata Keanggotaan

: Berkebun ::-

B. Pola Kebiasaan Sehari-hari 1. Nutrisi Sebelum masuk rumah sakit - Frekuensi makan : 3 x sehari - Nafsu makan : ada - Jenis makanan : nasi - Porsi : 1 porsi - Alergi terhadap makanan : 39

Pantangan makan Frekuensi minum Jenis minuman Masalah

:: 6 gelas sehari : air putih, teh : tidak ada

Setelah masuk rumah sakit - Frekuensi makan - Nafsu makan - Jenis makanan - Porsi - Alergi terhadap makanan - Pantangan makan - Frekuensi minum - Jenis minuman - Masalah

: 3 x sehari : Anoreksia : Bubur : 1 porsi ::: 3-5 gelas sehari : air putih, teh : Tidak ada

2. Eliminasi Sebelum masuk rumah sakit - Frekuensi BAK : 4-5 x sehari - Keluhan yang berhubungan dengan BAK : - Frekuensi BAB : 1 x sehari - Konsistensi : Lunak - Keluhan yang berhubungan dengan BAB : Setelah masuk rumah sakit - Frekuensi BAK : 3-5 x sehari - Keluhan yang berhubungan dengan BAK : - Frekuensi BAB :1 x sehari - Konsistensi : Lunak - Keluhan yang berhubungan dengan BAB : 3. Personal Higiene Sebelum masuk rumah sakit a) Mandi - Frekuensi mandi - Pemakaian sabun (ya/tidak) b) Oral Higiene - Frekuensi dan waktu gosok gigi - Penggunaan pasta gigi (ya/tidak) c) Cuci rambut - Frekuensi

: 2 x sehari :ya : 2 x sehari. Saat mandi : ya : 1 x sehari


40

- Penggunaan shampoo (ya/tidak) d) Kuku dan tangan - Frekuensi gunting kuku - Kebiasaan mencuci tangan Setelah masuk rumah sakit a) Mandi - Frekuensi mandi - Pemakaian sabun (ya/tidak) b) Oral Higiene - Frekuensi dan waktu gosok gigi - Penggunaan pasta gigi (ya/tidak) c) Cuci rambut - Frekuensi - Penggunaan shampoo (ya/tidak) d) Kuku dan tangan - Frekuensi gunting kuku - Kebiasaan mencuci tangan

: ya

: 1 minggu sekali :-

: 1 x sehari, dilap : ya : 2 x sehari : ya ::: 1 x seminggu :-

4. Istirahat dan tidur Sebelum masuk rumah sakit - Lama tidur malam : 6-7 jam - Lama tidur siang : 1-2 jam - Keluhan yang berhubungan dengan tidur : Setelah masuk rumah sakit - Lama tidur malam : 5-7 jam - Lama tidur siang : 1 jam - Keluhan yang berhubungan dengan tidur : sering terbangun 5. Kebiasaan mengisi waktu luang Sebelum masuk rumah sakit - Olahraga :- Nonton TV : ya - Berkebun/memasak : ya, berkebun Setelah masuk rumah sakit - Olahraga :- Nonton TV :- Berkebun/memasak : -

41

6. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan Sebelum masuk rumah sakit - Merokok (ya/tidak) - Minuman keras (ya/tidak) - Ketergantungan terhadap obat (ya/tidak) Sebelum masuk rumah sakit - Merokok (ya/tidak) - Minuman keras (ya/tidak) - Ketergantungan terhadap obat (ya/tidak)

: tidak : tidak : tidak : tidak : tidak : tidak

C. Status Kesehatan 1. Status Kesehatan Saat ini a) Keluhan utama Klien mengatakan sering sesak nafas.

b) Gejala yang dirasakan Klien masuk rumah sakit dengan keluhan sesak napas disertai demam dan batuk-batuk, klien merasakan sesak sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. c) Timbulnya keluhan : ( ) mendadak ( ) bertahap

2. Riwayat Kesehatan Masa Lalu a) Penyakit yang pernah diderita Sebelumnya klien pernah menderita ISPA sekitar 1 bulan yang lalu.

b) Riwayat alergi (obat, makanan, binatang, debu, dll) Klien mengatakan alergi terhadap debu, klien biasanya akan sesak nafas. c) Riwayat kecelakaan Klien mengatakan belum pernah mengalami kecelakaan sebelumnya.

d) Riwayat dirawat di rumah sakit Klien mengatakan pernah masuk rumah sakit dengan keluhan yang sama seperti sekarang e) Riwayat kesehatan keluarga Adik klien mengalami penyakit yang sama seperti klien.

42

2. Pemeriksaan fisik I. Data Klinik Keadaan Umum : baik/cukup/lemah Kesadaran : compos mentis/apatis/somnolen/delirium/koma/stupor TTV : - TD:130/70mmHg - Nadi/Pols: 100 .x/menit - Pernafasan/RR:30.x/menit - Sutu/Temp:37.oC BB : 45..Kg TB : 155..cm II. Pengkajian Fisik a) Kepala - Warna rambut: hitam/beruban/campuran - Kebersihan: kotor/bersih/sedang - Distribusi: jarang/lebat/sedang - Kerontokan: ya/tidak - Keluhan: ya/tidak Jika ya, jelaskan b) Mata - Bentuk: simetris/asimetris - Konjungtiva: anemis/tidak - Sklera: ikterik/tidak (an ikterik) - Pupil: isokor/tidak (an isokor) - Strabismus: ya/tidak - Penglihatan: kabur/tidak - Peradangan: ya/tidak - Riwayat katarak: ya/tidak - Keluhan: ya/tidak Jika ya, jelaskan c) Hidung - Bentuk: simetris/asimetris - Peradangan: ya/tidak - Penciuman: terganggu/tidak Jika terganggu, jelaskankarena terjadi gangguan pada sistem pernafasan - Keluhan lain: ya/tidak Jika ya, jelaskan klien mengatakan sulit bernafas, hidung terasa tersumbat d) Mulut dan Tenggorokan - Kebersihan: baik/buruk/sedang - Mukosa: kering/lembab - Peradangan/stomatitis: ya/tidak - Gigi: karies/tidak ompong/tidak
43

- Radang gusi: ya/tidak - Kesulitan mengunyah: ya/tidak - Kesulitan menelan: ya/tidak e) Telinga - Bentuk: simetris/asimetris - Kebersihan: baik/cukup/sedang - Peradangan: ya/tidak - Pendengaran: terganggu/tidak Jika terganggu, jelaskanharus berbicara agak kuat dekat klien - Keluhan lain: ya/tidak Jika ya, jelaskan f) Leher - Pembesaran kelenjar tiroid: ya/tidak - Kaku: ya/tidak g) Dada - Bentuk: normal chest/barrel chest/pigeon chest/lainnya - Wheezing: ya/tidak - Ronchi: ya/tidak - Suara jantung tambahan: ada/tidak h) Abdomen - Bentuk: datar (flat)/lainnya - Nyeri tekan: ya/tidak - Kembung: ya/tidak - Bising usus: ada/tidak - Massa: ya/tidak i) Genetalia - Kebersihan: baik/sedang/buruk - Hemoroid: ya/tidak j) Ekstremitas - Rentang gerak: maksimal/terbatas, jelaskankarena pada tangan kiri terpasang IVFD - Tremor: ya/tidak - Edema kaki: ya/tidak - Plebitis: ya/tidak, jelaskan - Deformitas: ya/tidak, jelaskan.. - Klaudikasi: ya/tidak k) Integumen - Kebersihan: baik/buruk/sedang - Warna: pucat/cyanosis/normal/lainnya - Kelembapan: kering/lembab - Turgor: elastis/kurang elastis/lainnya - Gangguan pada kulit: panu/kadas/kurap/gatal/lainnya.

44

3. Pengkajian Fungsional pada Lansia


No. Kriteria dengan Bantuan Mandiri Ket

Makan Minum Berpindah dari kursi ke tempat tidur, sebaliknya Personal higiene (Cuci muka, menyisir rambut, menggosok gigi) 5. Keluar masuk toilet (Mencuci pakaian, menyeka tubuh) 6. Mandi 7. Jalan dipermukaan datar 8. Naik turun tangga 9. Mengenakan pakaian 10. Kontrol bowel (BAB) 11. Kontrol bladder (BAK) 12. Olah raga/latihan 13. Reaksi pemanfaatan waktu luang Jumlah Jumlah skoring: a) 120 : Mandiri b) 55 115 : Ketergantungan sebagian c) 50 : Ketergantungan total

1. 2. 3. 4.

5 5 5 0 5 5 0 5 5 5 5 5 5

10 10 10 5 10 10 5 10 10 10 10 10 10

5 10 5 5 5 5 5 0 10 10 10 5 10 85

45

I. ANALISA DATA No. Data 1 Data Subjektif - Klien mengeluh susah bernafas Data Objektif - Frekuensi napas 30 x/menit, pola napas cepat dan dalam 2

Kemungkinan Masalah Peningkatan produksi mukus disebabkan hipersensitivitas terhadap lingkungan

Masalah Pola nafas tidak efektif

Intoleransi aktivitas Proses penyakit yang Data Subjektif - Klien mengatakan sulit menyebabkan kelemahan fisik untuk beraktivitas - Keluarga klien mengatakan dalam melakukan aktivitas klien memerlukan bantuan Data Objektif - Klien nampak meminta bantuan ketika ingin melakukan aktivitas - Klien tidak nyaman dengan kondisinya saat ini.

II.

PRIORITAS MASALAH 1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi mukus. 2. Cemas karena kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi yang didapat.

46

Asuhan Keperawatan pada Ny. N dengan Gangguan Sistem Pernafasan Asma Nama : Ny. M Umur : 58 Th No Diagnosa DP Keperawatan I Tanggal : 21 Juli 2013 Jam 09.00 WIB Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi mukus. Data Subjektif : - Klien mengeluh sesak nafas dan batuk Data Objektif - Frekuensi nafas 30 x/menit - Tekanan darah : 130/80 mmHg. - Suhu : 37 C - Nafas : 30 x/menit - P : 100 x/menit Perencanaan Intervensi 1. Kaji frekuensi nafas klien dan monitor TTV. 2. Berikan klien posisi yang nyaman. 3. Observasi karakteristik batuk dan ajarkan teknik batuk efektif pada klien. 4. Berikan air hangat. Tgl. MRS : 20 Juli 2013 Diagnosa : Asma Implementasi Rasionalisasi 1.Dengan mengkaji frekuensi nafas dan memonitor TTV klien diharapkan dapat mengetahui tingkat kesehatan klien 2.Dengan memberikan posisi senyaman mungkin diharapkan mempermudah fungsi pernafasan. 3.Dengan mengobservasi karakteristik batuk klien diharapkan mengetahui karakteristik dan keefektifan memperbaiki jalan nafas. 4.Dengan memberikan air hangat diharapkan dapat menurunkan spasme bronkus 1. Mengkaji frekuensi nafas klien dan mengobservasi tandatanda vital klien dengan mengukur TD: 120/80 mmHg, RR:26 x/m, suhu: 36.7 C dan nadi : 78 x/m. 2. Memberikan klien posisi yang nyaman. 3. Mengobservasi karakteristik batuk dan mengajarkan teknik batuk efektif. 4. Memberikan air hangat. Evaluasi Tanggal : 23 Juli 2013 Jam : 09.30 WIB S : Klien mengatakan sesak dan batuk berkurang O: - Frekuensi nafas 26x/menit. - KU lemah.

Tujuan Tujuan jangka panjang: Jalan nafas efektif Tujuan jangka pendek: Dalam jangka waktu 2x24 jam dengan kriteria: - Sesak berkurang - Batuk berkurang - Keadaan umum baik - TTV dalam batas normal.

A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi 1 dan 2 dilanjutkan

47

Tanggal: 23 Juli 2009 Jam : 09.30 WIB Cemas karena kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi yang didapat.

Tujuan jangka panjang: Cemas klien berkurang atau teratasi Tujuan jangka pendek: Dalam jangka waktu 3 x 24 jam dengan kriteria klien nampak tenang.

Data Subjektif : - Klien mengatakan ia cemas dengan penyakitnya - Klien bertanyatanya tentang penyakitnya Data Objektif - Ekspresi wajah sedih - Klien tampak gelisah

1. Kaji tingkat kecemasan klien dan beri support pada klien untuk mengungkapkan perasaannya 2. Beri informasi tentang penyakit. 3.Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan pelaporan pemberi perawatan kesehatan

1. Dengan mengkaji tingkat kecemasan diharapkan klien dapat mengungkapan perasaan dapat mengurangi rasa cemas 2.Dengan memberikan informasi tentang penyakit diharapkan klien memahami tentang penyakitnya. 3.Dapat mencegah dan meminimalkan komplikasi

1. Mengkaji tingkat kecemasan klien dan memberi support pada klien untuk mengungkapkan perasaannya 2.Memberi informasi tentang penyakit kepada klien. 3.Mengidentifikasi tanda atau gejala yang memerlukan pelaporan pemberi perawatan kesehatan.

Tanggal : 24 Juli 2009 Jam : 09.30 WIB S : Klien mengatakan tidak cemas lagi O : Ekspresi wajah tenang A : Masalah teratasi P : Intervensi dilanjutkan

48

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Teori-teori yang menjelaskan bagaimana dan mengapa penuaan terjadi oleh Betty Newman di kelompokkan kedalam dua kelompok besar, yaitu teori biologi dan kejiwaan sosial. Sedangkan teori penuaan menurut Barbara Cole Donlon di kelompokkan kedalam dua kelompok besar, yaitu teori biologis dan psikososial. Kesejahteraan individu lansia tergantung pada faktor fisik, mental, sosial dan lingkungan. Pengkajian total meliputi evaluasi sistem tubuh utama, status social dan mental, dan kemampuan individu untuk berfungsi secara mandiri meskipun menderita penyakit kronis. Telah diuraikan berbagai penyakit yang mungkin timbul pada lansia dengan pencegahan dan penatalaksanaannya. Bagaimana menjaga kebugaran pada lansia dengan olahraga dan pedoman umum gizi seimbang. Menjadi tua adalah proses alamiah, tetapi tentu saja setiap orang mendambakan untuk tetap sehat di usia tua. Hal ini sesuai dengan slogan Tahun Usia Lanjut WHO: do not put years to life but life into years, yang artinya usia panjang tidaklah ada artinya bila tidak berguna dan bahagia, mandiri sejauh mungkin dengan mempunyai kualitas hidup yang baik. Keperawatan gerontik adalah spesialis keperawatan lanjut usia yang dapat menjalankan perannya pada tiap tatanan pelayanan dengan menggunakan pengetahuan, keahlian dan keterampilan merawat untuk meningkatkan fungsi optimal lanjut usia secara komprehensif. Kegiatan asuhan keperawatan bagi lanjut usia dimaksudkan untuk memberikan bantuan, bimbingan pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara individu maupun kelompok, seperti di rumah/lingkungan keluarga, panti jompo maupun puskesmas, yang diberikan oleh perawat.

3.2 Saran
Proses penuaan yang dialami dapat menimbulkan berbagai masalah fisik, psikis dan sosial bagi pasien dan keluarga. Oleh karena itu perawat sebaiknya meningkatkan pendekatan-pendekatan melalui komunikasi terapeutik, sehingga akan tercipta lingkungan yang nyaman dan kerja sama yang baik dalam memberikan asuhan keperawatan gerontik. Perawat sebagai anggota tim kesehatan yang paling banyak berhubungan dengan pasien dituntut meningkatkan secara terus menerus dalam hal pemberian informasi dan pendidikan kesehatan sesuai dengan latar belakang pasien dan keluarga. Mahasiswa keperawatan mampu memahami tentang konsep keperawatan gerontik dan dapat bekerja sama dengan perawat dan populasi untuk memperbaiki kembali kesehatan lansia.
49

Daftar Pustaka

Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC.

Internet: http://askep- askeb.cz.cc/ diakses tanggal 10 maret 2010. http://peszect.blogspot.com/2013/01/konsep-dasar-keperawatan-gerontik_19.html www.google.com. Keyword: Penyakit yang Sering Muncul pada Lansia. Diakses tanggal 12 September 2013 pukul 12.13 WIB http://srandilmandalagiri.blogspot.com/2013/07/format-pengkajian-keperawatangerontik.html#ixzz2fua0YcF3 Format Pengkajian Gerontik http://nandarnurse.blogspot.com/2013/01/format-pengkajiangerontik.html#ixzz2fudJS4hD

50