Anda di halaman 1dari 3

KASUS DUGAAN MALPRAKTEK MEDIS 1. indosiar.

com, Blitar - Diduga akibat malpraktek dokter Blitar, seorang gadis asal Blitar , Jawa Timur terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Dokter Saiful Anwar Malang, Jawa Timur. Seluruh tubuhnya berubah menghitam setelah meminum obat dari dokter tempat dia berobat di asalnya. Beginilah kondisi Nita Nur Halimah (21), warga Desa Talun, Blitar, Jawa Timur setelah meminum obat yang diberikan oleh salah satu dokter ditempat asalnya. Kulit wajah, tangan hingga sekujur tubuhnya berubah menjadi hitam. Menurut Marsini, ibu korban, awalnya Nita hanya menderita luka ngilu dibagian persendian tubuhnya saat diperiksakan ke dokter. Nita mendapatkan resep obat tanpa bungkus, namun setelah meminumnya suhu tubuhnya semakin panas. Mulut dan kulit wajahnya berubah kehitaman hingga merebak kesekujur tubuhnya. Pihak keluarga menganggap kondisi ini disebabkan oleh kesalahan dokter Andi yang memberikan resep obat tersebut. Penanganan medis yang dilakukan untuk saat ini adalah memberikan penambahan nutrisi serta elektrolit untuk memperbaiki jaringan yang rusak dan memberikan antibiotik untuk membersihkan luka pasien dari bakteri. Hingga Senin (02/03) kemarin, Nita ditangani oleh 11 tim dokter spesialis bedah kulit. Indikasi sementara Nita menderita Steven Jhonson Sindrom atau alergi pada reaksi obat akibat rendahnya ketahanan tubuh pasien
2. indosiar.com, Surabaya - Dugaan kasus malpraktek kembali terjadi, korbannya hampir sama

namanya dengan Prita Mulyasari yakni Pramita Wulansari. Wanita ini meninggal dunia tidak lama setelah menjalani operas caesar di Rumah Sakit Surabaya Medical Service. Korban mengalami infeksi pada saluran urin dan kemudian menjalar ke otak. Saat dikonfirmasi, pihak Rumah Sakit Surabaya Medical Service belum memberikan jawaban terkait dugaan malpraktek ini. Lita, dipanggil pihak Rumah Sakit Medical Service di Jalan Kapuas Surabaya terkait laporannya pada salah satu media tentang anaknya Pramita Wulansari (22), yang meninggal dunia setelah menjalani operasi caesar di Rumah Sakit Medical Service. Menurut cerita Lita, ibu dari Pramita, sebelumnya Pramita melakukan operasi persalinan disalah satu praktek bidan di Jalan Nginden, Surabaya. Karena kondisinya terus memburuk, Pramita lalu dirujuk ke Rumah Sakit Surabaya Medical Service untuk dilakukan operasi caesar. Operasi berjalan mulus yang ditangani oleh dr Antono. Dua minggu kemudian Pramita kembali ke Rumah Sakit Surabaya Medical Service untuk melakukan chek up. Dr Antono menyarankan Pramita dioperasi karena dideteksi saluran kencingnya bocor dan Pramita kembali menjalani operasi. Pramita juga disarankan meminum jamu asal Cina untuk memulihkan tenaga. Namun kondisinya malah memburuk dan Pramita sempat buang air besar bercampur darah. Melihat

kondisi Pramita semakin memburuk, pihak keluarga meminta dirujuk ke Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya. Pramita sempat dua hari dirawat di Rumah Sakit Dr Soetomo namun dinyatakan terlambat, karena infeksi sudah menjalar ke otak dan Pramita akhirnya meninggal dunia 3. Bandar lampung news. Tati (50) warga Jl Danau Jepara No: 10 Kedaton nyaris lumpuh setelah meminum obat dari Kosasi. Pemicunya, obat yang ditebusnya dari BP Kosasih ternyata milik pasien lain, bernama Nini. Saat ditemui di rumahnya Tati mengungkapkan, pada awalnya dirinya tidak tahu jika obat yang diterimanya tidak sesuai dengan resep yang diberikan dari dokter jaga BP Kosasih, dr Revi. Sempat saya minum dua kali, karena saya tidak tahu. Selesai saya minum nyeri ditulang panggul dan kaki saya semakin menjadi, bahkan saya sempat tidak bisa berjalan, tuturnya, Senin (13/8) lalu. Beruntung kata dia, ponakan yang terkecil sempat mempertanyakan mengapa obat yang diminumnya ada untuk sesak napas. Yunda sempat aneh memang, kok ada obat sesak napasnya. Sedangkan dr Revi menyuruh saya menebus obat nyeri tulang, ujarnya. Karena merasa aneh, akhirnya dirinya menghentikan meminum obat dari BP Kosasih, terlebih kartu berobat yang diterima berbarengan dengan obat yang diserahkan perawat BP Kosasih ketika dicek kembali atas nama Nini. Baru saya tahu kalau obat itu bukan untuk saya, tapi untuk pasien lain bernama Nini, sesal Tati.

4. BALIKPAPAN-Warga kawasan Kelurahan Batu Ampar Balikpapan Utara, Franky Ferryanto Siahaan (34) mengatakan, kematian istrinya itu terjadi pada Jumat, 2 Juli 2010 silam. Istriku melahirkan puteri pertama ku, Debby Abigail Faith Siahaan. Bayi ku selamat, tapi ibunya menghembuskan nafas terakhir usai menjalani operasi caesar, kata Franky menceritakan kronologi kejadian. Dia menyebut, banyak kejanggalan dalam proses penanganan medis istrinya. Dia menduga telah terjadi malapraktek. Ditanya soal kejanggalan selama proses persalinan berlangsung, Franky menceritakan, diantaranya saat mulai masuk RSPB sesuai arahan dr T ahli spesialis kandungan yang selama kurang lebih sembilan bulan masa kehamilan menangani pasien Debby termasuk pula konsultasi. Awalnya proses masuk hingga usai persalinan berjalan normal. Almarhum dan bayi dinyatakan baik dan sehat. Hanya saja usai melahirkan, tiba-tiba kondisi Debby tak normal. Detak jantungnya berdebar cukup hebat, batuk berdahak keluar cairan darah segar. Sehingga dokter melalui perawat yang bertugas meminta keluarga menyediakan dua kantong darah golongan O.

Yang saya sesalkan, saat almarhum istri saya menjalani transfusi darah kemudian terjadi detakan jantung hebat. Namun malahan sang perawat menyuruh saya tenang. Karena saya khawatir dengan kondisi Debby saya minta segera dibawa ke ruang Instalasi Care Unit (ICU) yang jaraknya berdekatan dengan kamar perawatan istri saya, papar dia. Kemudian, ia melanjutkan, datang dokter jaga berinisial dr A melakukan pengecekan, namun setelah pengecekan tidak ada perkataan apapun pada Franky, dr A keluar ruangan. Di sini saya kecewa tidak ada penanganan cepat, padahal saya ingin malam itu istri saya langsung dirawat intensif. Kondisi istri saya semakin memburuk, juga tidak ada tindakan, sesalnya dengan mata berkaca-kaca mengingat kejadian malam tersebut. Masih menurut dia, kurang lebih lima jam, tak ada penanganan, hingga sekira pukul 04.30 Wita, korban sudah tak sadarkan diri belum ada penindakan medis yang serius, dr T dan perawat sudah memeriksa namun tidak melakukan tindakan apa-apa, hingga 30 menit kemudian korban dinyatakan meninggal dunia. 5. TEMPO.CO, Kupang - Elija Dethan tewas seusai menjalani transfusi darah oleh perawat Rumah Sakit Ibu dan Anak Dedari Kupang, Senin, 13 Februari 2012. Ayah korban, Yonson Dethan, mengatakan sudah terjadi kesalahan sejak awal anaknya dirawat karena terjadi kesalahan diagnosis dokter. Awalnya, anaknya didiagnosis menderita disentri. Namun, setelah dilakukan USG, ternyata ususnya terbelit (Infaginasi) sehingga harus dilakukan operasi. Masalah lain yang muncul adalah golongan darah anak tersebut. PMI menyebutkan darah anak itu O, namun dari rumah sakit menyebutkan darahnya B. "Kami curiga suntikan darah yang masuk tidak sesuai," katanya.