Anda di halaman 1dari 5

TUGAS RESUME KE-4 KU-4078 STUDIUM GENERALE

Peran Mahasiswa Dalam Pencegahan Korupsi di Indonesia


Pembicara:
Drs. Ganis Diarsyah,MM (Kepala Bidang Investigasi BPKP Jawa Barat)

Rabu, 25 September 2013 Aula Timur Institut Teknologi Bandung

Disusun oleh Nama NIM : Nisrina Rizkia : 10510002

Program Studi : Kimia No. HP : 085781912328

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG


2013

Peran Mahasiswa Dalam Pencegahan Korupsi di Indonesia Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) adalah lembaga pemerintah nonkementerian Indonesia yang bertugas di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan yang berupa konsultasi, asistensi, evaluasi, audit, pemberantasan KKN serta pendidikan dan pelatihan pengawasan sesuai dengan peraturan yang berlaku. BPKP memiliki visi yaitu "Auditor Presiden yang responsif, interaktif dan terpercaya untuk mewujudkan akuntabilitas keuanan negara yang berkualitas". Untuk mendukung visi tersebut maka BPKP memiliki beberapa misi yaitu menyelenggarakan pengaasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara yang mendukung tata kelola kepemerintahan yang baik dan bebas KKN, membina penyelengaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, mengembangkan kapasitas pengawasan intern pemerintah yang profesional dan kompeten, menyelenggarakan sistem dukungan pengambilan keputusan yang andal bagi presiden atau pemerintah. Kata korupsi sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia namun apabila ditanyakan makna korupsi maka hanya sedikit orang yang mengerti. Untuk memerangi korupsi setiap orang harus mengenal, mengetahui dampak dan cara-cara mencegah tidakan korupsi tersebut sehingga dapat secara jelas mengetahui apa saja yang termasuk ke dalam tindakan korupsi. Tingkat pengetahuan masyarakat terhadap tindakan korupsi diperlihatkan dalam Indeks Prestasi Korupsi (IPK), pada tahun 2011 Indonesia berada di peringkat 105 dengan IPK 3.0 (skala 10) dan tahun 2012 peringkat Indonesia menurun ke posisi 118 dengan IPK 3,2. IPK Indonesia tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat Indonesia terhadap korupsi masih rendah. Sehingga perlu dilakukan pencerdasan kepada masyarakat terhadap tindakan korupsi agar Indonesia mampu memeranginya bersama-sama. Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu corruptio dan memiliki kata kerja yaitu corrumpere yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik atau menyogok. Sedangkan menurut Transparency International korupsi adalah perilakku pajabat publik, baik politikus atau pegawai negeri yang secara tidak wajar dan ilegal memperkaya diri ata memperkaya orang-orang terdekatnya dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang telah dipercayakan. Dalam UU 31/99 Jo UU 20/01 pasal 2 ayat 1 dijabarkan pengertian koruptor yaitu setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memeprkaya diri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Selain pada pasal tersebut, pengertian koruptor juga dijabarkan pada pasal 3 yaitu setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Korupsi tidak terjadi begitu saja tanpa didorong oleh beberapa faktor, menurut teori Gone-Jack Bologna faktor-faktor pendorong korupsi tersebut adalah kesempatan, keserakahan, kebutuhan dan pengungkapan. Seseorang yang telah melakukan korupsi dapat dilihat melalui beberapa tanda-tanda yaitu perubahan perilaku yang secara mendadak menjadi introvert,banyak memberikan sumbangan untuk menutupi rasa bersalah, gaya hidup mewah atau foya-foya dan hubungan yang tidak wajar dengan pihak ketiga. Tindakan korupsi banyak menimbulkan dampak negatif diantaranya yaitu tidak berjalannya demokrasi dengan baik, tidak berartinya prestasi anak bangsa, kehancuran ekonomi, terbengkalainya pembangunan fisik, penegakan hukum dan layanan masyarakat yang tidak berjalan dengan baik, munculnya masalah sosial dalam masyarakat, penderitaan sebagian besar masyarakat dalam berbagai sektor dan menimbulkan sikap apatis kepada pemerintah. Menurut UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No.21 Tahun 2001 terdapat tiga puluh jenis tindakan yang dapat dikategorikan sebagai tindakan korupsi namun tindakan-tindakan tersebut bisa dikelompokkan menjadi tujuh yaitu kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi (pemberian hadiah). Korupsi yang merugikan keuangan negara salah satunya dirumuskan dalam Pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001. Seseorang dapat dikategorikan melakukan tindakan korupsi jenis ini jika memenuhi beberapa unsur diantaranya setiap orang; memperkaya diri sendiri, orang lain atau suatu korporasi; dengan cara melawan hukum dan dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Korupsi yang berhubungan dengan suap-menyuap salah satunya dijabarkan pada Pasal 5 ayat (I) huruf a UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001, apabila seseorang melakukan hal-hal seperti unsur-unsur yang telah dijabarkan dalam pasal tersebut maka dikategorikan sebagai tindakan korupsi. Unsur-unsur tersebut adalah setiap orang; memberikan sesuatu atau menjanjikan sesuatu; kepada pegawai negeri atau penyelenggara negera dan dengan maksud supaya berbuat atau tidak berbuat sesuai dalam jabatannya sehingga bertentangan dengan kewajiban. Korupsi yang berhubungan dengan penyalahgunaan jabatan diatur pada Pasal 8 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001, seseorang dikatakan melakukan pelanggaran pasal ini apabila melakukan hal-hal diantaranya pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan untuk menjalankan suatu jabatan umum secara terus-menerus atau untuk sementara waktu; dilakukan dengan sengaja; menggelapkan atau membiarkan orang lain mengambil atau membiarkan orang lain menggelapkan atau membantu dalam melakukan perbuatan itu; uang atau surat berharga yang; yang disimpan karena jabatannya. Korupsi yang berhubungan dengan pemerasan salah satunya diatur oleh

Pasal 12 huruf e UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001. Unsur-unsur korupsi jenis ini adalah pegawai negeri atau penyelenggara negara; dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain; secara melawan hukum; memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau mengerjakan sesuatu bagi dirinya; menyalahgunakan kekuasaan. Korupsi yang berhubungan dengan kecurangan salah satunya diatur dalam pasal 12 huruf h UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001. Pasal ini mengurusi masalah pegawai negeri yang menyerobot tanah negara hingga membuat rugi orang lain. Unsur-unsur yang termasuk ke dalam korupsi jenis ini diantaranya adalah pegawai negeri atau penyelenggara negara; pada waktu menjalankan tugas menggunakan tanah negara yang diatasnya ada hak pakai; seolah-olah sesuai dengan peraturan perundang-undangan; telah merugikan yang berhak; diketahuinya bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Korupsi yang berhubungan dengan pengadaan, untuk menghadirkan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh suatu instansi atau perusahaan, diatur oleh Pasal 12 huruf i UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001. Unsurunsur korupsi jenis ini diantaranya adalah pegawai negeri atau penyelenggara negara; dengan sengaja; langsung atau tidak langsung turut serta dalam pemborongan, pengadaan atau persewaan; pada saat dilakukan perbuatan untuk seluruh atau sebagian ditugaskan untuk mengurus atau mengawasinya. Korupsi yang berhubungan dengan gratifikasi dijelaskan dalam Pasal 12B UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 dan Pasal 12 C UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001. Unsur-unsur yang termasuk dalam korupsi jenis ini diantaranya adalah pegawai negeri atau penyelenggara negara; menerima gratifikasi; yang berhubungan dengan jabatan dan berlaanan dengan kewajiban atau tugasnya; penerimaan gratifikasi tersebut tidak dilaporkan ke KPK dalam jangka waktu 30 hari sejak diterimanya gratifikasi. Sebagai mahasiswa yang nantinya akan memimpin bangsa Indonesia beberapa tahun ke depan maka harus mengenal dan mengetahui segala jenis tindakan korupsi sehingga dapat menghindarinya. Hal yang dapat dilakukan mahasiswa dalam pemberantasan korupsi antara lain ikut mengawasi pengelolaan dana pemerintah yang ada di kampus; melakukan kajian untuk memberikan masukan yang konstruktif terhadap kebijakan publik yang dibuat oleh legislatif maupun eksekutif; melakukan penelitian ilmiah yang dapat memberikan sumbangan kepada pemerintah dalam menciptakan sistem pengelolaan keuangan negara yang dapat mengurangi risiko korupsi, berpartisipasi dalam mendorong pemerintah untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN; mempraktikkan etika dan moral yang jujur, berani dan kritis dalam menyikapi praktek korupsi yang ditemui.

Masyarakat harus dicerdaskan melalui pemberian ilmu terhadap jenis-jenis tindakan korupsi, salah satunya adalah pencerdasan oleh pihak BPKP. Fungsi BPKP harus dimaksimalkan untuk mewujudkan masyarakat yang sadar akan tindakan korupsi. Fungsi BPKP sebagai salah satu unsur yang mampu mencegah atau memberantas tindakan korupsi adalah pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan, perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan, koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPKP, pemantauan dan pembinaan terhadap kegiatan pengawasan keuangan dan pembangunan, penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum.