Anda di halaman 1dari 3

TUGAS RESUME KE-5 KU-4078 STUDIUM GENERALE

Peran BPK Dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia


Pembicara:
Drs. Hadi Poernomo, Ak (Ketua Badan Pemeriksa Keuangan RI)

Rabu, 02 Oktober 2013 Aula Barat Institut Teknologi Bandung

Disusun oleh Nama NIM : Nisrina Rizkia : 10510002

Program Studi : Kimia No. HP : 085781912328

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG


2013

Peran BPK Dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia Badan Pengurus Keuangan (BPK) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang berwenang untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. BPK dibentuk berdasarkan pasal 23E, 23F dan 23G UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebagai landasan operasional untuk melaksanakan tugas dalam memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, ditetapkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Alasan mengapa pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara harus diperiksa adalah agar setiap pihak yang mengelola uang negara menjalankan amanat dengan cara sebaik-baiknya sehingga dapat membawa manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat. Pihak-pihak yang mengelola uang negara harus menyadari bahwa mereka tidak dapat memanfaatkan uang yang dipercayakan rakyat secara tidak bertanggungjawab. BPK sebagai lembaga tinggi negara memiliki peran sangat penting untuk ikut serta dalam usaha pemberantasan korupsi hal tersebut tertuang dalam visi BPK yaitu menjadi lembaga pemeriksa keuangan negara yang kredibel dengan menjunjung tinggi nilai-nilai dasar untuk berperan aktif dalam mendorong terwujudnya tata kelola keuangan negara yang akuntabel dan transparan. Untuk mendukung visi tersebut BPK memiliki beberapa misi yaitu memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, memberikan pendapat untuk meningkatkan mutu pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara dan berperan aktif dalam menemukan dan mencegah segala bentuk penyalahgunaan dan penyelewengan keuangan negara. Dalam melaksanakan tugasnya BPK memiliki nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi yaitu independensi, integritas dan profesionalisme. Pada dasarnya peran BPK jauh lebih luas daripada mencegah kebocoran korupsi, BPK diharapkan dapat menjaga transparansi dan akuntabilitas keuangan negara mengingat pengelolaan keuangan negara yang bertanggungjawab merupakan prasyarat bagi kesehatan perekonomian dan pembangunan nasional. Transparansi dan akuntabilitas sangat dibutuhkan dalam pendataan nasional sehingga bermanfaat dalam kepastian hukum, KKN akan terhapus secara sistemik dan penerimaan negara akan meningkat. Transparansi dan akuntabilitas keuangan negara memudahkan pemerintah untuk mengetahui setiap saat kondisi keuangannya sendiri agar dapat melakukan pengaturan perencanaan dan pendanaan pembangunan dan memonitor pelaksanaannya dengan baik. Transparansi dan akuntabilitas juga akan mendorong peningkatan kinerja BUMN dan BUMD sehingga mmapu bersaing di pasar global.

Kedudukan BPK dimuat pada UUD 1945 dalam satu bab yang memuat tiga pasal yaitu pada bab VIIIA pasal 23E, 23F dan 23G. Pasal tersebut menjadikan posisi konstitusional BPK RI lebih jelas dan tegas. Sejak era reformasi, BPK memiliki kedudukan yang sejjaar dengan Presiden. Posisi BPK yang sejajar dengan Presiden akan membuat ruang gerak BPK untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara menjadi lebih luas. Namun, BPK bukanlah lembaga yang berdiri di atas pemerintah melainkan terpisah dengan pemerintah. Tidak ada hubungan atasan-bawahan di antara keduanya. BPK dipilih dan bertanggungjawab kepada DPR. BPK dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh 6.157 pegawai dengan 2.979 sebagai auditor. Dengan melihat fakta bahwa korupsi telah merajalela di Indoneisa, BPK harus memiliki kiat bagaimana cara memberantas korupsi. Menurut Ketua BPK RI, Drs. Hadi Poernomo, Ak dalam kuliah umumnya di ITB telah menyampaikan bahwa korupsi timbul karena adanya niat dan kesempatan, untuk mengurangi niat dan kesempatan tersebut harus ada monitoring yang kuat yaitu BPK sebagai Fraud Control System.Untuk monitoring yang kuat maka harus ada dasar hukum, sinergi dan konsisten. Dasar hukum diperlukan karena BPK RI bertindak dan berbuat sesuai dengan peraturan yang telah digariskan pada undang-undang. Sedangkan sinergi dilakukan dengan cara melakukan link and match. Apabila ketiga syarat telah dilaksanakan maka akan terbentuk pusat data nasional sehinga akan tercipta pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel. Pusat data nasional yang dikelompokkan ke dalam keuangan privat dan keuangan publik. Pengelolaan keuangan privat menyatakan bahwa setiap instansi pemerintah, lembaga, asosiasi dan pihak lain wajib memberikan data dan informasi kepada Direktorat Jenderal Pajak termasuk informasi. Keuangan privat terdiri dari laporan keuangan dan laporan kegiatan usaha, transaksi keuangan, nasabah debitur, lalu lintas devisa dan kartu kredit. Sedangkan keuangan publik mencakup APBN, APBD, Keuangan Bank Indonesia, LPS, BUMN dan BUMD. BPK menuangkan hasil kerjanya dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK. Disamping itu juga, BPK menyusun laporan hasil pemeriksaan yang dilakukan setiap semester atau IHPS (Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester). LHP dan IHPS diserahkan secara rutin kepada DPR, DPD, dan DPRD setiap semester dan setiap bulan. Seperti yang diuangkapkan oleh Bapak Hadi Poernomo bahwa BPK memiliki kewajiban yaitu 1.250 LPH/tahun dengan mandatori sebesar 700 LPH/tahun dan non mandatori 550 LPH/tahun. BPK berwenang menentukan objek pemeriksaan, merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan, menentukan waktu dan metode pemeriksaan serta menyusun dan menyajikan laporan pemeriksaan. Dalam proses pemeriksaan, BPK berwenang meminta ketarangan atau dokumen yang wajib diberikan oleh setiap orang, lembaga, organisasi dan badan yang mengelola keuangan negara. Dengan adanya kewenangan BPK tersebut, keuangan negara telah diselamatkan setelah dilakukan pemeriksaan dengan total 33,88 triliun Rupiah.