Anda di halaman 1dari 0

10

PEMBAHASAN
Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan
dan Patogenisitas Cendawan A. niger-GFP.
A. niger merupakan cendawan aerobik
obligat dan parasit fakultatif yang dapat hidup
pada berbagai macam lingkungan. Kualitas
spora/konidiumA. niger-GFP yang digunakan
sangat menentukan kematian larva.
Berdasarkan data tabel 1, suhu optimum
pertumbuhan A. niger-GFP dalam kultur air
adalah pada suhu ruang (28
o
C). Menurut
Smith (1994) dalam Tarrand et. al. (2005),
temperatur optimum pertumbuhan A. niger-
GFP adalah 17-42
o
C. Jadi kisaran suhu 20
o
C,
25
o
C, 28
o
C (suhu ruang), dan 35
o
C masih
dalam kisaran yang baik untuk A. niger-GFP
dapat tumbuh. Suhu ruang memberikan
kondisi yang paling baik agar konidia dapat
berkecambah dalam kultur air. A. niger-GFP
hidup dengan cara memanfaatkan bahan-
bahan organik di lingkungannya, termasuk
bahan organik di dalam air. A. niger-GFP
adalah cendawan aerobik obligat, yaitu hanya
dapat tumbuh pada lingkungan yang
mengandung oksigen. Pada lingkungan
akuatik, jumlah oksigen dan bahan organik
sangat sedikit sehingga A. niger-GFP dapat
hidup apabila terdapat inang yang cocok yang
dapat dijadikan substrat hidupnya. Tarrand et
al. (2005) menyatakan bahwa Aspergillus sp.
dapat mengasimilasi mineral dari media
miskin hara dan bertahan hidup pada media
dengan sumber karbon dan nitrogen sederhana
tanpa penambahan vitamin.
Pada H7 dan H14 kultur diberi
inokulasikan larva nyamuk instar III. Koloni
yang terbentuk pada 7 hari dan 14 hari setelah
kultur air diberi larva, ternyata semakin
rendah bahkan pada suhu 20
o
C tidak tumbuh
sama sekali (Tabel 1). Hal ini terjadi karena
pada H7 dan H14 terdapat interaksi antara
cendawan dan larva nyamuk. Spora dalam air
menjadi pakan larva selama waktu inkubasi,
kemungkinan hal ini yang menyebabkan
jumlah koloni cendawan berfluktuasi.
Suhu sangat berpengaruh terhadap
patogenisitas dan viabilitas A. niger-GFP di
alam. Patogenisitas cendawan entomopatogen
A. niger-GFP mulai terjadi pada kultur
perlakuan suhu 35
o
C di hari ke-4, sebesar
2.22 % (Tabel 4). Sedangkan perlakuan suhu
lainnya baru terinduksi pada hari ke-7.
Patogenisitas cendawan yang terjadi pada
0,1 mm
d
0,1 mm
c
0,01 mm
b
0,1 mm
a
Gambar 5 Proses kolonisasi A. niger-GFP terhadap larva a) Milselium (perbesaran 100x)
b) Kepala konidia (perbesaran 400x) c) Miselia pada ujung saluran pencernaan
larva (perbesaran 100x) pada perlakuan konsentrasi kaporit 1.44 ppm. 8 d).
Saluran Pencernaan larva (perbesaran 100x) pada perlakuan pH.
11
suhu 35
o
C terjadi akibat adanya interaksi
antara larva, cendawan dan suhu. Cendawan
A. niger-GFP masih dapat bertahan hidup
pada suhu 35
o
C, sedangkan kondisi larva
menjadi lemah. A. niger-GFP adalah
cendawan yang bersifat oportunis, yaitu akan
menyerang apabila kondisi inangnya lemah
(Sukarno N, 22 juni 2009, komunikasi
pribadi). Kondisi larva yang lemah pada suhu
35
o
C mempermudah A. niger-GFP dalam
mengkolonisasi larva nyamuk.
Pada kontrol negatif suhu 35
o
C yaitu
kondisi kultur tanpa inokulasi cendawan,
secara keseluruhan terdapat kematian larva
sebesar 17.78 %. Suhu 35
o
C berpengaruh
terhadap kematian larva. Pada suhu 35
o
C
kondisi air menjadi hangat, sehingga larva
menjadi lemah bahkan tidak dapat bertahan
hidup. Selain itu suhu 35
o
C dapat memacu
kematian larva nyamuk instar III lebih cepat
dari pada suhu 20
o
C, 25
o
C dan suhu ruang.
Kematian larva sudah terjadi pada hari ke-8
(Tabel 4).
Secara umum faktor suhu memberikan
pengaruh nyata dalam meningkatkan daya
patogenisitas cendawan terhadap larva
nyamuk. Pada hari inkubasi ke-14, kultur
yang diberi perlakuan suhu 35
o
C dan suhu
ruang, persentase jumlah larva mati relatif
besar yaitu 97.78 % dan 60 %. Sedangkan
pada suhu 20
o
C dan 25
o
C hanya 17.78% dan
33.33 %. Pada hari ke-14, sebagian besar
larva instar III tidak mati, namun masih hidup
dalam bentuk larva instar III. Hal ini
menunjukkan bahwa cendawan A. niger-GFP
berperan dalam menghambat pertumbuhan
larva sehingga larva tidak dapat berganti
cangkang (molting) (Sukarno N, 22 juni 2009,
komunikasi pribadi).
Pengaruh Kaporit Terhadap Pertumbuhan
dan Patogenisitas Cendawan A. niger-GFP.
Klorin (Cl
2
) adalah bahan aktif yang
banyak digunakan sebagai desinfektan. klorin
telah dikenal secara luas sebagai zat yang
mampu menghilangkan mikroorganisme
dalam air melalui reaksi klorinasi. Kematian
larva tidak sepenuhnya diakibatkan oleh A.
niger-GFP. Senyawa kimia kaporit pada air
dapat pula menyebabkan kematian larva
nyamuk, hal ini dapat dilihat pada tabel 6,
kontrol negatif (tanpa inokulasi cendawan,
untuk semua perlakuan kaporit ). Spora A.
niger-GFP tumbuh paling baik pada
lingkungan akuatik yang mengandung kaporit
dengan konsentrasi kaporit 0.48 ppm yaitu
sebesar 2181 koloni (Tabel 2). Konsentrasi ini
merupakan konsentrasi paling rendah yang
digunakan dalam perlakuan. Sedangkan pada
kontrol positif (air keran), jumlah koloni yang
tumbuh yaitu 611 koloni, paling rendah jika
dibandingkan dengan perlakuan kaporit
lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa
kandungan kaporit dalam air keran dapat
menyebabkan spora A. niger-GFP tidak
berkecambah.
Daya patogenisitas paling cepat terjadi
pada kultur kaporit 1.44 ppm di hari ke-2
inkubasi yaitu 2.22%, sedangkan pada
perlakuan 0.96 ppm dan 1.92 ppm baru terjadi
pada hari ke-3 dan ke-4. Patogenisitas A. niger
dalam kultur dengan konsentrasi kaporit 1.44
ppm menghasilkan daya patogenisitas paling
baik pada 7 hari pertama yaitu menyebabkan
kematian larva sebanyak 66.67%. Kematian
larva nyamuk tersebut tidak sepenuhnya
diakibatkan oleh A. niger-GFP. Senyawa
kaporit yang terlarut air juga dapat
menyebabkan kematian larva nyamuk karena
kaporit berfungsi sebagai desinfektan. Di hari
ke-7, terdapat kematian larva nyamuk pada
kontrol negatif (kultur tanpa inokulasi
cendawan) setiap perlakuan. kultur dengan
konsentrasi kaporit 0.96 ppm, menyebabkan
kematian larva nyamuk sebesar 48.89%.
Sedangkan kematian larva paling kecil terjadi
di hari ke-7 pada kultur dengan konsentrasi
kaporit 1.44 ppm (6.67%), 1.92 ppm (33.33%)
dan 0.48 ppm (28.89%) (Tabel 5).
Jenis kaporit yang digunakan dalam
percobaan adalah kaporit (Ca (OCl
2
)) 60%
dalam bentuk padatan (serbuk). Kaporit yang
beredar luas di masyarakat umumnya
digunakan sebagai penjernih air. Kalsium
hipoklorit Ca(OCl
2
) atau lebih dikenal dengan
kaporit memiliki bahan aktif klorin dengan
rumus bangun Cl
2
. Kaporit apabila terurai
dalam air akan menghasilkan asam hipoklorit
(HOCl), zat ini efektif dalam membasmi
mikroorganisme dalam air seperti bakteri
(Lestari et al. 2008).
Penggunaan kaporit diatur dalam
Peraturan Pemerintah (PP) No. 22 tahun 2001,
yaitu kandungan klorin normal dalam air
sebesar 0.03 ppm (mg/l). Perusahaan Daerah
Air Minum (PDAM) tidak menggunakan
kaporit sebagai desinfektan, tapi
menggunakan gas klorin. Jika klor sebagai gas
Cl
2
dilarutkan dalam air, maka akan terjadi
proses hidrolisa yang cepat jika dibandingkan
dengan proses hidrolisis kaporit dalam air
(Lestari et al. 2008).
Secara umum A. niger-GFP menyebabkan
kematian seluruh larva nyamuk pada hari ke-
14 setelah larva diinokulasikan ke dalam
kultur. Namun kecepatan daya patogenisitas
12
terhadap larva pada setiap perlakuan berbeda-
beda. Pada hari ke-7 setelah inokulasi larva,
persen kematian larva nyamuk terbesar
terdapat pada perlakuan kaporit 1.44 ppm
yaitu 66.67% sedangkan yang terendah
terdapat pada perlakuan kaporit 1.92 ppm
yaitu 28.89 % dan kontrol positif yaitu
11.11% (Tabel 5).
Daya patogenisitas pada perlakuan kontrol
positif (air keran dengan inokulasi A. niger-
GFP) baru terjadi pada hari ke-7 setelah larva
di inokulasikan (Tabel 5). Hal ini diduga
kaporit dapat meningkatkan pertumbuhan dan
patogenisitas A. niger-GFP dalam air.
Menurut penelitian yang dilakukan Mann
(1932) dalam Foster (1949), kandungan
kalsium pada kaporit Ca (OCl
2
) berperan
dalam meningkatkan pertumbuhan cendawan.
Mann juga melaporkan bahwa kandungan Ca
pada media tumbuh yang rendah, mampu
meningkatkan pertumbuhan miselium A.
niger-GFP.
Pengaruh pH Terhadap Pertumbuhan dan
Patogenisitas Cendawan A. niger-GFP.
Cendawan memiliki jangkauan pH yang
luas untuk pertumbuhannya. Sebagian besar
cendawan memiliki pH optimum untuk
pertumbuhan antara pH 5- pH 7 (Moore &
Landecker 1996). Pertumbuhan A. niger-GFP
paling baik pada kultur akuatik dengan pH 7,
karena pH ini bersifat netral dan tidak
menyebabkan stres pada cendawan.
Pada sisi patogenisitas, medium yang ber-
pH 5 dapat meningkatkan daya patogenisitas
cendawan terhadap larva nyamuk sehingga
menghasilkan persen kematian larva paling
tinggi yaitu pada hari ke-7 sebesar 75,55%,
lebih tinggi daripada kontrol yaitu 0% dan
pada pH 7 sebesar 15.56%. Kontrol negatif
perlakuan pH menunjukkan bahwa pH tidak
berpengaruh terhadap kematian larva. Hal ini
terbukti pada kontrol negatif (kultur tidak
diberi inokulasi cendawan) masing-masing
perlakuan pH. Pada seluruh perlakuan kontrol
negatif pH, tidak terdapat larva yang mati
(Tabel 6).
Patogenisitas Cendawan Entomopatogen A.
niger Tipe Liar (tanpa introduksi gen
GFP).
Penelitian sebelumnya yang dilakukan
Oktavani (2007) menunjukkan bahwa A. niger
tanpa induksi gen GFP mampu membunuh
larva A. aegypti lebih cepat dibandingkan A.
niger-GFP. Pada inkubasi 24 jam setelah
pemberian inokulum spora 10
8
spora/l atau
setara 10
7
spora/ml, A. niger mampu
membunuh 6% larva nyamuk instar III (dari
jumlah 50 larva). Hari ke-4, persentase
kematian larva semakin meningkat menjadi
100%. Dapat disimpulkan bahwa A. niger
(tanpa introduksi gen GFP) dapat membunuh
seluruh (100%) larva nyamuk instar III dalam
kurun waktu 4 hari (Oktaviani 2007). Jika
dibandingkan dengan daya bunuh A. niger-
GFP yaitu selama 14 hari, dapat disimpulkan
bahwa telah terjadi penurunan patogenisitas
cendawan A. niger-GFP terhadap larva
nyamuk A. aegypti.
Selain daya patogenisitas yang menurun,
A. niger-GFP juga mengakibatkan larva
nyamuk mengalami penundaan pergantian
cangkang (molting). Pada kondisi normal
molting larva nyamuk dari fase instar III ke
instar IV kemudian menjadi pupa
membutuhkan waktu sekitar 4 hari (Sigit &
Hadi 2006). Penundaan molting ditunjukkan
pada tabel 4, 5 dan 6. Pada tabel tersebut,
waktu inkubasi yang dibutuhkan untuk
membunuh larva adalah 14 hari. Larva yang
mati pada hari ke-2 maupun yang mati pada
hari ke-14, semuanya mati dalam bentuk larva
instar III. Hal ini membuktikan bahwa
cendawan mempengaruhi pertumbuhan larva
dengan cara penundaan proses molting.
Sedangkan pada kontrol negatif masing-
masing perlakuan, sebagian besar larva telah
menjadi nyamuk pada hari ke-5 setelah
inokulasi larva.
`
Uji postulat Koch, Pengamatan Kolonisasi
dan Morfologi Larva Nyamuk Mati.
Uji postulat Koch berfungsi untuk
mengetahui penyebab kematian larva. Uji ini
menunjukkan bahwa cendawan yang tumbuh
pada larva nyamuk yang mati pada media
PDA, memiliki kesamaan ciri dengan A.
niger-GFP. Hal ini menunjukkan bahwa
kematian larva nyamuk diakibatkan oleh A.
niger-GFP yang diinokulasikan ke dalam
kultur. Uji postulat Koch menunjukkan hasil
yang positif untuk setiap perlakuan suhu,
kaporit, dan pH serta kontrol positifnya
masing-masing (Gambar 2,3 & 4).
Buluh pernafasan larva Aedes dalam
keadaan istirahat (sifon) berada di atas
permukaan air sedangkan kepalanya
menggantung ke bagian bawah permukaan air
(Sigit & Upik 2006). Hal ini untuk
memudahkan larva memakan bahan-bahan
organik yang berada pada dasar kolam. Spora
A. niger-GFP yang telah dilarutkan dalam
Tween 80 (1%) akan mengendap di dasar
botol. Spora yang terendap memudahkannya
13
menjadi sumber makanan organik yang
melimpah bagi larva.
Kematian larva nyamuk pada percobaan
kali ini diakibatkan oleh kolonisasi cendawan
entomopatogen A. niger-GFP. Mekanisme
kolonisasi cendawan dimulai saat terjadi
penelanan spora dalam jumlah besar oleh
larva (Oktaviani 2007). Spora yang tertelan
kemudian berkecambah pada bagian ujung
saluran pencernaan larva (Gambar 5).
SIMPULAN
Faktor abiotik suhu, pH dan kaporit
mempengaruhi pertumbuhan cendawan A.
niger-GFP dalam air. Semakin lama waktu
inkubasi, viabilitas spora cendawan dalam air
semakin menurun.
Daya patogenisitas cendawan terhadap
larva nyamuk dipengaruhi oleh faktor abiotik,
waktu inkubasi dan interaksi antara faktor
abiotik dan waktu inkubasi. Pada umumnya
sebagian besar larva nyamuk mati pada
inkubasi hari ke-14, namun kecepatan daya
patogenisitas A. niger-GFP terhadap larva
pada setiap perlakuan berbeda-beda.
Kematian larva nyamuk diakibatkan oleh
cendawan entomopatogen A. niger-GFP
sesuai dengan uji postulat Koch. Kematian
larva nyamuk diakibatkan oleh mekanisme
penelanan spora dalam jumlah besar oleh
larva, kemudian spora berkecambah pada
saluran pencernaannya.
SARAN
Faktor abiotik yang diujikan hendaknya
dikombinasikan, tidak dilakukan secara
terpisah. Selain itu perlu dilakukannya uji
terhadap faktor abiotik lain seperti
kelembapan, cahaya, bahan kimia seperti
sabun, antibiotik dan pestisida terhadap
pertumbuhan A. niger-GFP dan
patogenisitasnya pada larva A. aegypti.
DAFTAR PUSTAKA
Borror DJ & Richard EW. 2001. A Field
Guide to Insects Americe North of
Mexico. New York: Houghton Mifflin
Company.
Coronel MAR, Gustavo VG, Alan D &
Christopher A. 2003. A novel tannase
from Aspergillus niger with -
glucosidase activity. J Microbiol. 149:
2941-2946.
Foster JW. 1949. Chemical Activities of
Fungi. New York: Academic Press Inc.
Gubler DJ. 1998. Dengue and Dengue
Hemorragic Fever. Clin Microbiol
Review. 11 (3): 480-496.
Lestari DE, Setyo BU, Sunarko, Vyrkyanov.
2008. Pengaruh Penambahan Biosida
Pengoksidasi Terhadap Kandungan
Klorin Untuk Pengendalian
Pertumbuhan Mikroorganisme pada
Air Pendingin Sekunder RSG-GAS.
[Seminar Nasional IV]. Sekolah Tinggi
Teknologi Nuklir-Serpong: BATAN.
Lorang JM, Tuori RP, Martinez JP, Sawyer
TL, Redman RS, Rollins JA, Wolpert
TJ, Johnson KB, Dickman MB and
Ciuffetti LM. 2001. Minireview: Green
fluorescent is lighting up fungal
biology. Appl Environt Microbiol.
67(5): 1987-1994.
Moore E & Landecker. 1996. Fundamental of
The Fungi. Fourth Ed. New Jersey:
Prentice-Hall.
Natalia T, Sukarno N & Hadi UK. 2000.
Isolasi cendawan patogen pada larva
nyamuk demam berdarah (Aedes
aegypti) dan pemanfaatannya sebagai
pengendali hayati. [skripsi]. Bogor:
Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Pertanian
Bogor.
Oktaviani Z. 2007. Isolasi, Identifikasi,
Patogenisitas dan Proses Kolonisasi
Cendawan Entomopatogen pada Larva
Nyamuk Aedes aegypti. [skripsi].
Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Pertanian
Bogor.
Papp L & Darvas B (editor). 2000. Manual of
Pala Eartic (With Special Reference to
Flies of Economic Important). Vol 1
General and Applied Dipterology.
Budapest: Science Herald.
Sigit SH & Hadi UK. 2006. Hama
Permukinan Indonesia; Pengenalan,
Biologi, dan Pengendaliannya. Unit
Pengendalian Hama Pemukiman.
Fakultas Kedokteran Hewan : IPB.